kembalinya rajawali 30

Juni 24, 2010

“Ah, usiaku masih terlalu muda, mana berani berdiri sejajar dengan para
Cianpwe,” ujar Nyo Ko merendah diri.
“Aha, adik cilik, kau salah jika bilang begitu,” seru Ui Yok-su, “Kau kan sudah
pakai julukan “Ong” ( berlaku bebas )? Kalau berdasarkan namamu yang tersohor
dan ilmu silatmu, masakan tidak lebih tinggi daripada Lo-wan-tong?”
Ui Yok-su tahu puterinya (Ui Yong) sengaja tidak menyebut Ciu Pek-thong,
perlunya biar si tua nakal itu tak tahan, lalu muring2 sendiri, maka iapun
sengaja membumbui sekalian.
Nyo Ko pun paham maksud hati ayah dan anak itu, ia saling pandang dengan
Siao-liong-li sambil tersenyum, dalam hati ia berpikir “Julukan “Ong” ini memang
sangat tepat.”
Diluar dugaan Ui Yok-su, sama sekali Ciu Pek-thong tidak ribut malahan, ia
tanya: “Jika Lamceng dan Se-ong sudah ganti merek semua, lalu “Pak-kay”
bagaimana, harus diganti apa?”
“Ksatrta seluruh jagat di jaman ini kalau menyebut Kwe-heng. semuanya sebut
“Kwe-tayhiap padanya,” demikian “Cu Cu-liu ikut buka suara. Selama berpuluh
tahun ini ia mempertahankan Siangyang dengan susah payah, membela tanah air dan
melindungi rakyat, orang gagah perwira seperti dia sejak dulu hingga sekarang
susah juga dicari bandingannya, Maka menurut aku, kalau kita sebut dia
“Pak-hiap” (pendekar dari utara) rasanya semua orangpun akan setuju.
Mendengar itu, segera It-teng Taysu dan Bu Sam-thong dan lain2 bertepuk tangan
memuji nama baik itu.
“Nah, Tang-sia, Se-ong, Lam ceng dan Pak-hiap sudah ada orangnya semua, lalu
yang tengah, siapa yang harus menduduki untuk menggantikan Tiong-sin-thong Ong
Tiong-yang?” ujar Ui Yok-su. Sembari berkata ia sengaja melirik sekejap ke arah
Ciu Pek thong, lalu menyambung pula: “Nyo-hujin (nyonya Nyo, maksudnya Siao
liong-li) adalah ahliwaris satu2-nya dari Kobong-pay, dahulu nama Lim Tiau-eng
menggetarkan Kangouw, meski Ong Tiong-yang sendiri juga jeri padanya. Dengan
ilmu pedang Giok-li-kiam-hoat ciptaan Ko-bong-pay yang khas itu, kalau dahulu
Lim-lihiap juga ikut menghadiri Hoa-san- lun-kiam, jangankan nama Ngo-coat harus
diubah, bisa jadi gelar “juara” yang diperoleh Ong Tiong-yang itu juga sukar
dipertahankan. Kini ilmu silat Nyo Ko berasal ajaran sang isteri, muridnya saja
termasuk “Ngo Coat” baru, gurunya tentu saja tak perlu di-sangsikan lagi, Sebab
itulah Nyo hujin tepat sekali menduduki tempat tengah.”
Namun Siao-liong-li tidak pernah ketarik oleh segala nama pujian itu, dengan
tersenyum ia menjawab: “Ah, sekali2 aku tak berani menerimanya.”
“Jika tidak mau, tentunya harus Yong-ji,” kata Ui Yok-su puIa, “Meski ilmu
silatnya tidak terlalu tinggi, tapi banyak tipu akal, pintar dan cerdik, kalau
dia termasuk satu diantara Ngo-coat juga pantas.”
“Bagus, bagus!” seru Ciu Pek-thong tiba2 sembari bertepuk tangan tertawa. “Terus
terang, kau Ui-losia, Kwe-tayhiap apa segala, semuanya tak pernah bikin hatiku
kagum dan takluk betul, hanya Ui Yong si bocah ini memang cerdik dan licin, asal
Lo-wan tong ketumbuk dia lantas mati kutu. Kalau dia dimasukkan satu diantara
Ngo-coat, itulah memang paling tepat.”
Semua orang jadi tercengang mendengar ucapan itu. Sungguh kalau bicara tentang
ilmu silat, sekalipun Ui Yok-su dan It-teng juga merasa kalah sedikit, sebabnya
nama Ciu Pek-thong tidak di-ungkap mereka sebenarnya melulu ingin bergurau untuk
menggodanya saja.
Siapa tahu dasar pembawaan Ciu Pek-thong memang jujur polos, sedikitpun hatinya
tiada rasa iri dan- dengki meski pembawaannya gemar silat, tapi tak pernah
timbul pikiran cari nama untuk menjagoi dunia, maka sama sekali tidak terpikir
olehnya apakah ia sendiri harus termasuk di dalam Ngo-coat atau tidak.
Maka tertawalah Ui Yok-su, katanya: “Wahai, Lo-wan-tong, kau memang benar2
hebat. Soal “nama” aku Ui Losia memandangnya dingin. It-teng Taysu anggap “
nama” hanya khayalan belaka. Hanya kau, hatimu kosong bersih, hakikatnya tidak
pernah berpikir tentang “nama” segala, nyata kau lebih hebat setingkat lagi dari
pada kami, Haha, Tang-sia, Se-ong, Lam-ceng, Pak-hiap Tiong wan-tong di antara
Ngo coat, kaulah yang tertinggi.
Mendengar sebutan “Tangsia, Se-ong, Lam ceng, Pak-hiap, Tiong wan-tong” itu,
semua orang lantas bersorak memuji, tapi merasa geli pula.
Setelah kedudukan “Ngo Coat” ditetapkan, semua orang lantas gembira ria, dengan
berpencar mereka pergi pesiar sendiri2 menikmati keindahan pegunungan Hoa-san.
Mula2 Kwe Yang ikut di belakang sang ibu, Ui Yong, ia lihat Nyo Ko bergandengan
tangan dengan Siao-liong li dengan mesranya menuju ke arah lain, katanya tiba2
pada, ibunya: “Mak, sekarang boleh aku ikut pergi bersama Nyo-toako dan
Liong-cici dengan bebas, bukan?”
Ui Yong mendadak diam tertegun sejenak, tapi lantas tersenyum penuh arti.
-TAMAT-

kembalinya rajawali 29

Juni 24, 2010

Belasan perajurit pengawal raja segera putar senjata mereka menusuk ke atas,
tapi mendadak Nyo Ko berjumpalitan sekali diudara, tahu2 tubuhnya melayang lewat
di atas senjata2 musuh.
Melihat gelagat jelek, sekali tarik kudanya, segera raja Mongol itu kabur ke
depan dengan cepat.
Kuda tunggangan raja Mongol itu adalah binatang pilihan, larinya begitu cepat
bagai terbang, Namun Nyo Ko tetap mengubernya dengan kencang ilmu entengkan
tubuh yang tinggi. Dan di belakangnya menyusul pula beratus perajurit pengawal
Mongol
Melihat keadaan begitu, pasukan kedua pihak, di atas dan di bawah benteng, untuk
sementara menjadi lupa bertempur dan mereka sama ber-teriak2, pasukan Mongol
berteriak mengharap kuda junjungan mereka berlari lebih cepat, sebaliknya
pasukan Song berteriak membeli semangat pada Nyo Ko agar bisa membekuk raja.
Diam2 Nyo Ko bergirang melihat raja Mongol kabur terpencil sendirian Pikirnya,
betapapun cepat kau kabur, akhirnya pasti akan kutangkap.
Tak terduga kuda tunggangan Monko yang bernama “Hui-hun cuirt atau kuda awan
mengapung itu ternyata luar biasa sedikit mengenjot, sekali melompat lantas
beberapa meter ke depan. Meski Nyo Ko sudah mengudak sekuatnya, tapi malahan
semakin jauh ketinggalan.
Tiba2 Nyo Ko menyamber sebatang tumbak, lalu ditimpukkannya ke punggung Monko
sekuat tenaga, Tampaknya lembing itu meluncur bagai panah dan segera bakal
menancap di punggung orang, saking tegangnya sampai kedua pihak sama ternganga
menahan napas, Siapa tahu mendadak kuda “Hui hun-cui” itu memancal ke depan
hingga lembing itu jatuh satu kaki jauhnya dibelakang punggung raja Mongol itu.
Maka berteriak pula pasukan kedua pihak. pasukan Song merasa sayang, gegetun,
sebaliknya pasukan Mongoi bersyukur girang.
Waktu itu jarak Kwe Cing, Ui Yok-so, Ui Yong Ciu Pek-thong dan Ii-teng semuanya
sangat jauh, mereka hanya ikut berkuatir saja tanpa bisa membantu Nyo Ko.
Sebaliknya perajurit dan perwira Mongol juga melulu bisa ber- teriak2 memberi
semangat saja, walaupun ada maksud berkorban untuk junjungan mereka, tapi mana
dapat menyandak lari-nya “Hui hun cui” yang begitu pesat?
Ketika Monko menoleh ke belakang dan melihat Nyo Ko semakin ketinggalan jauh, ia
menjadi lega, Segera ia belokkan kudanya menuju ke barat, ke pasukannya yang
berada di situ. Maka sambil ber-teriak2 pasukan Mongol itupun maju memapaki.
Dan jika sampai keduanya bergabung, lebih tinggi lagi kepandaian Nyo Ko juga tak
berdaya pula untuk menangkap raja musuh itu.
Melihat usahanya akan gagal, Nyo Ko menjadi gegetun sekali tiba2 bergerak
pikirannya, ia pikir tombak terlalu berat, sukar mencapai jauh,kenapa tidak
pakai batu saja?
Karena itu, cepat ia jemput dua potong batu kecil seadanya, ia gunakan
“Tan-ci-sin-thong” atau ilmu sakti selentikan jari, dua batu itu satu persatu
diselentikan ke depan.
Maka terdengarlah suara mendenging tajam dua kali, suatu tanda betapa pesat
menyambernya batu itu dan keduanya kena pantat kuda “Hui-hun-cui” hingga karena
kesakitan, sembari meringkik, binatang itu berjingkrak terus berdiri menegak.
Monko adalah seorang raja yang tangkas dan gagah perwira, sejak kecil sudah
banyak ikut bertempur dengan kakeknya, yaitu Jengis Khan, Hidup-nya boleh
dikatakan dibesarkan di atas kuda dan di tengah senjata.
Kini meski menghadapi bahaya, tapi sama sekali tidak menjadi gugup, cepat ia
tarik gendewa terus memanah ke belakang sambil kedua kakinya mengempit kencang
kudanya yang menegak itu.
Tapi sedikit menunduk, Nyo Ko hindarkan panah orang, habis itu secepat terbang
ia melompat maju, sedang tangannya sudah dapat meraup sepotong batu lagi, waktu
ia sambitkan sekuatnya, dengan tepat mengenai punggung Monko.
Betapa hebat tenaga sambitan Nyo Ko itu, keruan Monko tak tahan, tulang iganya
patah, orangnya terjungkal dari kudanya dan terbanting binasa.
Melihat raja mereka terguling dari kuda, seluruh pasukan MongoI menjadi kacau,
beramai2 merubung maju dari segala jurusan.
Segera Kwe Cing memberi tanda serangan umum. Begitu pula pasukan Song yang
berada di dalam benteng segera ikut menyerbu keluar. Ditambah lagi barisan 28
bintang yang dipimpin Ui Yok-su lantas menggempur musuh ke sana ke sini.
Dalam keadaan kacau balau, pasukan Mongol saling injak-menginjak, yang mati tak
terhitung banyaknya, sepanjang jalan penuh senjata yang ditinggalkan, akhirnya
kabur tanpa teratur ke utara.
Selagi Kwe Cing memimpin pasukannya mengejar musuh, tiba2 terlihat dari arah
barat muncul lagi sepasukan musuh yang barisannya sangat rajin teratur, dari
panjinya dapat diketahui itu adalah pasukan yang dipimpin adik raja, yaitu
Kubilai.
Akan tetapi sekali pasukan Mongol sudah kalah, keadaannya bagai air bah melanda
dan seketika tak mungkin bisa ditahan, Betapapun Kubilai atur tentara dengan
baik, tetap keterjang pasukan kalah yang mundur bagai arus menerjang itu,
seketika pasukannya ikut kacau.
Melihat gelagat jelek segera Kubilai putar pasukannya, ia sendiri dengan pasukan
pribadinya pelahan2 mundur ke utara dengan teratur.
Sejak terjadi pertempuran antara pasukan Mongol dan kerajaan Song, selamanya
pihak Mongol belum pernah mengalami kekalahan begitu besar, lebih2 raja mereka
gugur dimedan pertempuran, hal ini sangat mempengaruhi semangat tentaranya.
PuIa menurut tradisi bangsa Mongol, takhta kerajaan bukan diteruskan putera
mahkota, tapi di-calonkan oleh suatu dewan yang terdiri dari keluarga raja,
pengeran2, pembesar2 dan panglima yang terkemuka.
Kini Monko sudah mati, buru2 Kubiiai ingin bisa naik takhta, maka iapuu cepat
pimpin pasukannya pulang ke utara. Kelak 13 tahun kemudian, barulah pasukan
Mongol datang menggempur Siangyang lagi.
Ketika Kwe Cing pimpin pasukannya kembali ke kota, tampaklah gebernur Lu
Bun-nwan beserta stafnya lengkap sudah menunggu di pintu gerbang untuk
menyambutnya. Begitu pula rakyat ber-jubel2 diluar benteng sambil membawakan
arak dan segala macam daharan sebagai hiburan bagi pasukan yang menang itu.
Kwe Cing menggandeng tangan Nyo Ko, ia terima secawan arak yang disuguhkan oleh
seorang penduduk tua, tapi ia angsurkan pada Nyo Ko, katanya. “Ko-ji, harini kau
telah berjasa begini besar, namamu akan harum tersiar ke-mana2, ini sudahlah
pasti, seluruh rakyat penduduk kota inipun tiada yang tak berterima kasih
padamu.”
Terharu sekali Nyo Ko oleh pujian Kwe Cing itu, ada sepatah kata yang sudah
tersimpan lebih 20 tahun di dalam hatinya dan belum pernah diucapkan kini tak
tertahan lagi, dengan suara lantang segera ia menjawab: “Kwe pepek, jika waktu
kecil siautit (keponakan) tidak mendapat perawatan dan pengajaranmu, mana
mungkin terjadi seperti hari ini?”
Lalu kedua orang bergandengan tangan masuk kota bersama,terdengarlah suara sorak
sorai rakyat yang gegap gempita menyambut mereka. Tiba2 Nyo Ko teringat kejadian
dulu: “Lebih 20 tahun yang lalu Kwe-pepek juga menggandeng tanganku mengantar
aku ke Cong lam-san untuk belajar silat, perhatiannya padaku hingga sekarang
sedikitpun tidak pernah berubah. Tapi aku sendiri telah berbuat onar, bikin
gara2, mendurhakai guru dan menghianati agama, Coba bila aku terus tersesat ke
jalan yang tak benar, tidak nanti hari ini aku bisa bergandcngan tangan lagi
dengan Kwe-pepek.” Berpikir demikian tanpa terasa Nyo Ko merasa malu sendiri.
Malamnya di dalam kota telah diadakan perjamuan besar untuk merayakan kemenangan
yang gilang gemilang itu. Di tengah suasana yang gembira itu, tiba2 Kwe Cing
berduka sebab terkenang pada Ang Chit-kong. Katanya: “Dahulu kalau bukan Khu
totiang (Khu Ju-ki) dari Coan cin-kau yang berbudi itu dan ketujuh In’su (guru
berbudi) jauh2 mencariku ke Mongol, pula mendapat didikan dari Ang-loinsu, tidak
mungkin aku Kwe Cing bisa berjasa sedikit seperti hari ini? Kini kita bergembira
di sini, di antara para Insu, kecuali Kwa-Ioinsu, selebihnya sudah wafat semua,
kalau ingat beliau2 itu, sungguh aku menjadi berduka.”
Mendengar itu, lt-teng Taysu dan yang lain2 ikut muram,sebaliknya Lu Bun hwan
sama sekali tak mengerti seluk-beluknya, katanya dalam hati: “Orang2 ini benar2
tidak tahu aturan, dalam perayaan yang gembira ria ini malah berbicara tentang
orang mati segala.”
Sementara itu Kwe Cing telah berkata lagi “Kalau urusan di sini sudah selesai,
besok juga aku ingin berangkat ke Hoa-san untuk berziarah ke makam Insu.”
“Kwe-pepek,” sela Nyo Ko, “memangnya aku lagi hendak bilang begitu, Marilah kita
pergi be-ramai2.”
Memang Ui Yok-su, It-teng dan Ciu Pek-thong juga sudah kangen pada sobat tua
yang telah meninggal lebih 20 tahun itu, segera saja mereka menyatakan setuju.
Dan perjamuan itu terus berlangsung dengan meriah hingga jauh malam.
Besok paginya, diam2 Kwe Cing dan rombongannya lantas berangkat menuju ke
Hoa-san. Kesehatan Ciu Pek-thong, Liok Bu-siang, Su-si Hengte dan Su sui Hi-un
belum sembuh betuI, mereka menunggang kuda dan berjalan pelahan.
Baiknya tiada urusan penting, maka perjalanan mereka dilakukan seenaknya saja.
Tidak seberapa hari tibalah mereka sampai di Hoa-san, ketika Ciu Pek-thong cs
sudah sembuh-semuanya. Maka naiklah mereka ke atas gunung itu, Nyo Ko
menunjukkan tempat di mana jenazah Ang Chit-kong dan Auyang Hong di kubur dulu.
Ui Yong sudah membawakan sayur-mayur, ayam daging dan lain2 sesajen, segera ia
membikin tungku dan menyalakan api, ia bikin beberapa macam masakan yang paling
disukai mendiang Ang Chit-kong sebagai sesajen sembahyang, Lalu para ksatria
itupun menjalankan penghormatan dan mengheningkan cipta.
Kuburan Auyang Houg letaknya di samping kuburan Ang Chit-kong, tapi dendam Kwe
Cing pada Auyang Hong boleh dikatakan sedalam lautan, bila ingat beberapa
gurunya yang berbudi, seperti Ju Jong, Han Po-ki dan lain2 terbunuh secara keji,
meski kejadian sudah lewat berpuluh tahun, tapi rasanya masih sangat benci
padanya.
Hanya Nyo Ko saja yang mengingat budi kebaikan Auyang Hong dulu yang mengaku
anak angkat padanya, ia berlutut dan menyembah di hadapan makam ayah angkat itu,
bersama Siao-liong li.
Ciu Pek-thong maju ke depan kuburan Auyang Hong itu, ia membungkuk memberi
hormat, katanya: “Wahai Lo-tok-but (makhluk berbisa tua, julukan Auyang Hong),
hidupmu dulu banyak melakukan kejahatan, sesudah mati kau menjadi tetangga
Lo-kiau-hua (pengemis tua, Ang Chit-kong), boleh dikatakan kau yang beruntung.
Hari ini semua orang datang berziarah ke makam Lo kiau-hua, sebaliknya melulu
dua bocah saja yang menyembah padamu, kalau ditanah baka kau tahu, seharusnya
kau menyesali keganasan semasa hidupmu dulu?”
Mendengar doa sembahyang yang lucu aneh itu, semua orang menjadi geli.
Kemudian semua orang ambil mangkok dan sumpit, mereka hendak dahar di depan
kuburan itu. Tiba2 dari balik gunung sana berkumandang terbawa angin suara
beradunya senjata serta bentak -membentak orang, tampaknya seperti ada orang
sedang berkelahi.
Dasar watak Ciu Pek-tbong paling getol mengenai sesuatu, cepatan saja ia
mendahului berlari ke tempat ramai2 itu, Kemudian semua orangpun menyusulnya.
Lewat dua tanjakan, di suatu tanah datar yang sempit terkumpul 30 – 40 orang
yang beraneka macam bentuknya, tinggi-pendek, gemuk-kurus, tua muda, laki-
perempuan, ada paderi, ada pereman semua bersenjata.
Orang2 itu sedang bertengkar, melihat kedatangan rombongan Ciu Pek-thong dan Kwe
Cing, disangka kaum pelancongan biasa, maka tak digubrisnya.
Terdengar seorang laki2 tinggi besar telah berkata dengan suara lantang. “Diam,
diam! Kita jangan “hantam kromo” tak keruan. Sebutan “juara ilmu silat” tidak
mungkin diperoleh dengan jalan ribut2 begini. Kini para orang gagah sudah
berkumpul semua di sini, kenapa kita tidik saling ukur kepandaian masing2 dengan
ilmu pukulan atau senjata? Barang siapa bisa menangkan seluruh pertandingan,
kita bersama lantas menyerah dan mengangkat dia sebagai juara.”
“Betul,” timbrung seorang Tojin berjenggot panjang bersenjatakan pedang.
“Menurut cerita di kalangan Bu-Iim, dahulu pernah terjadi “Hoa-san-lun-kiam
(pertandingan pedang di Hoa san) sekarang kita juga boleh coba2 bertanding,
lihat saja siapakah gerangannya yang akan menduduki tempat tertinggi?”
Segera semua orang bersorak menyatakan akur, malahan ada beberapa orang
diantaranya tanpa disuruh terus melompat ke tengah sambil berteriak: “Hayolah,
siapa berani maju menghadapi aku?”
Melihat itu, Ciu Pek-thong, Ui Yok-su dan It-teng dan lain2 saling pandang
dengan bingung karena di antara orang2 itu tiada seorangpun yang mereka kenal.
“Hoasan lunkiam” atau pertandingan pedang Hoa-san yang disebut itu, ketika
untuk pertama kalinya diadakan, Kwe Cing sendiripun belum Iahir. Tatkala itu
terjadi berebut sebuah kitab yang bernama “Kiuim-cin-keng”. Untuk itu Tang-sia,
Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong, yaitu nama2 julukan Ui Yok-su.
Auyang Kong, Toan-Ti-hin (lt-teng Taysu sekarang), Ang Chit-kong dan Ong
Tiong-yang telah berkumpul di puncak tertinggi Hoasan untuk mengukur tenaga,
akhirnya Tiong-sin thong Ong Tiong-yang menjagoi tokoh2 lainnya dan dapat
menangkan gelar “Juara.”
25 tahun kemudian, Ong Tiong-yang telah wafat, ketika Ui Yok-su dan lain2 untuk
kedua kalinya mengadakan “Hoasan lun-kiam”, sekali ini kecuali keempat tokoh
yang lama, yaitu Tang-sia, Se tok, Lam te dan Pak-kay, bertambah lagi Ciu
Pek-thong, Kiu Jian yim dan Kwe Cing bertiga, tapi sesudah saling gebrak,
semuanya meiasa kepandaian masing2 belum mencapai tingkatan yang susah diukur,
untuk mendapatkan gelar “Juara” sesungguhnya belum bisa.
Sungguh tak terduga setelah berpuluh tahun kemudian, kini ternyata ada lagi
serombongan tokoh silat kalangan Bu-Iim yang ingin mengadakan “Hoa-san lun-kiam”
ketiga kalinya.
Hal ini tentu saja bila Ui Yok-su dan lain2 rada heran, tapi yang lebih aneh
ialah berpuluh orang di depannya ini tiada yang mereka kenal. Apakah mungkin
karena diri mereka seperti kodok di dalam sumur yang tak tahu di luar langit
masih ada langit orang pandai ada yang lebih pandai.
Sementara itu terlihat beberapa orang itu sudah mulai saling gebrak, tapi baru
beberapa jurus tak tertahan lagi Ui Yok-su dan Ciu Pek-thong akan rasa geli
mereka. Sampai orang alim seperti It-teng juga ikut geli, sejenak pula, saking
tak tahan, Ui Yok-su, Ciu Pek-thong, Nyo Ko dan Ui Yong lantas tertawa ter
pingkal2
Ternyata ilmu silat beberapa orang yang saling labrak itu terlalu rendah,
hakikatnya cuma sebangsa jual jamu di Kangouw saja, entah mengapa merekapun bisa
datang ke Hoa-san dan me-niru2 hendak mengadakan “Hoa-san-lun-kiam” segala.
Ketika mendengar suara tertawa Ciu Pek-thong dan lain2, pertarungan beberapa
orang itu lantas berhenti dan melompat mundur “Hai, manusia tak kenal
mati-hidup! Tuan2 besar sedang bertanding silat di sini, kenapa kalian malah
ter-kekek2 dan peringas-peringas di sini? Hayo, lekas pergi dari sini jika ingin
selamat!”
Tiba2 Nyo Ko bergelak ketawa, begitu keras dan panjang suaranya hingga menggema
angkasa bagai bunyi guntur gemuruh. Mula2 rombongan orang itu berwajah pucat,
menyusul badan gemetar, lalu senjatanya berjatuhan.
“Nah, lekas enyah!” beatak Nyo Ko kemudian
Sesudah terpaku sebentar, mendadak orang itu berteriak ramai, berbareng lari
sipat-kuping ke bawah gunung, saking ketakutan sampai banyak yang jatuh bangun
tak berani menoleh lagi, lapat2 terdengar ada di antaranya berseru: “Lekas lari,
lekas lari! itulah Sin-tiau-tayhiap!”
Dan sekejap saja mereka sudah kabur bersih. Saking gelinya Eng Koh dan Kwe Hu
ter-pingkal2 sembari pegangi perut.
“Manusia yang suka mengelabui orang dan memajukan nama di mana2 selalu ada, tapi
tidak nyana di puncak Hoa-san inipun diketemukan bangsa2 sedemikian ini,” ujar
Ui Yok-su gegetun.
“Dahulu di seluruh jagat terkenal ada “Ngo Coat” (panca mahajana, lima tokoh
terkemuka)”, tiba2 Ciu Pek-thong menyela. “Kini Se-tok, Pak-kay dan Tiong-sin
thong sudah mati, lalu tokoh yang masih hidup di jaman ini ada berapa orang lagi
yang dapat di-disebut “Ngo-Coat”?
Sahut Ui Yong dengan tertawa: “lt-teng Taysu dan ayahku makin hari makin tinggi
ilmunya, dahulu saja sudah termasuk dalam hitungan “Ngo Coat” dan kini lebih2
tak perlu disangsikan. Dan kalau mau bicara secara jujur, suamiku sendiri adalah
murid Pak-kay, iapun dapat termasuk satu di antara “Ngo Coat” itu. Usia Ko-ji
meski muda tapi ilmu silatnya susah diukur, di antara angkatan muda siapa yang
bisa membandinginya, apalagi iapun anak angkat Auyang Hong, jadi Tang dan Lam
adalah orang lama, sedang Se dan Pak harus diteruskan oleh suamiku dan Ko ji.”
“Salah, salah!” sahut Pek-thong tiba2 sambil geleng2 kepala.
“Kenapa salah?” tanya Ui Yong.
“Ya, salah,” kata Pek thong. “Auyang Hong BerjuIuk Se-tok, tapi hati dan tindak
tanduk si Nyo Ko ini sama sekali tidak Tok (racun, artinya kejam), kalau iapun
disebut Se-tok, kan tidak cocok?”
“Benar! Cing-koko juga tidak jadi pengemis pula lt-teng Taysu sekarangpun tidak
menjadi Hongte lagi.” ujar Ui Yong, “Maka menurut aku, julukan kalian sekarang
kudu diperbaharui Tang-sia, julukan ayah, adalah “trade mark” lama, itu tak
perlu diganti, It teng Taysu tidak lagi jadi Hongte, tapi menjadi Hwesio, ia
harus di sebut “Lam-ceng” (paderi diri selatan), Mengenai Ko-ji (Nyo Ko), biar
kuhadiahi dia julukan “Ong” (bebas, tak terkekang), kalian bilang tepat tidak?”
“Bagus!” seru Ui Yok-su per-tama2 menyatakan akur, “Haha, sejak kini, satu
Tang-sia dan yang lain Se-ong, satu tua dan satu muda, kita semua memang
pasangan yang setimpal”

kembalinya rajawali 28

Juni 24, 2010

Ilmu silat yang dilatih kedua orang itu meski berbeda, tapi sama2 lihaynya dan
makin lama makin kuat sementara itu asap tebal dari bawah panggung membuat mata
ketiga orang di atas panggung menjadi pedas.
Walaupun Nyo Ko tak bersenjata, tapi tidak pernah ia terdesak di bawah angin.
Dalam pertarungan sengit itu, Hoat-ong merasa panggung itu rada bergoyang, ia
tahu tentu kaki panggung sudah terbakar, sebentar lagi pasti akan ambruk,
tatkala mana tak terhindarkan dirinya tentu akan gugur bersama dengan Nyo Ko dan
Kwe Yang.
Pula melihat pukulan Nyo Ko makin lama makin aneh, kalau ratusan jurus lagi,
mungkin ia sendiri akan terdesak. Dalam gugupnya, mendadak pikiran jahatnya
timbuI, tiba2 roda besinya ia hantam ke pundak kanan Nyo Ko, selagi orang
mengegos secepat kilat roda tembaganya terus disambitkan ke muka Kwe Yang.
Gadis itu terikat disatu cagak, dengan sendirinya badannya tak dapat bergerak
apalagi hendak menghindari? Keruan Nyo Ko sangat terkejut lekas2 ia melompat
dengan lengan bajunya ia sabet jatuh roda tembaga orang.
Namun jago silat waktu bertarung sebenarnya sedetikpun tak boleh lengah, karena
pikirannya di pusatkan untuk menolong Kwe Yang, penjagaan diri sendiri menjadi
terbuka, Hoat- ong tidak sia2-kan kesempatan itu, tangannya mengulur dan roda
besinya terus mengiris ke paha kiri Nyo Ko.
Dalam keadaan badan terapung, lekas2 Nyo Ko depakkan kaki kirinya ke pergelangan
tangan musuh, namun roda besi Hoat-ong lantas membalik ke bawah. sekali ini Nyo
Ko tak mampu lagi menghindar “cret”, betis kanan terkena roda besi itu dan
mengucurkan darah, lukanya ternyata tidak enteng.
Dalam kagetnya Kwe Yang menjerit kuatir.
Dalam pada itu Hoat-ong sudah mengeluarkan serep rodanya yang masih satu itu,
rodi timah, kembali dengan sepasang roda ia menyerang katapt cuma bukan
diarahkan pada Nyo Ko, tapi selalu mengincar Kwe Yang.
Kiranya ia tahu meski Nyo Ko terluka, tapi hendak mengalahkannya tidak mungkin
terjadi dalam waktu singkat, karena itu ia melulu mengincar Kwe Yang, dengan
demikian Nyo Ko pasti akan berusaha menolongnya dan kedudukan lawan dengan
sendirinya akan berada dipihak terdesak.
“Toakoko, jangan kau urus aku, kau bunuh saja Hwesio jahat ini untuk balaskan
sakit hatiku!” demikian Kwe Yaog berseru.
Tiba2 terdengarlah suara tertahan Nyo Ko, kiranya puodak kirinya terluka oleh
roda musuh lagi, luka ini ternyata lebih berat, hingga tangannya hampir2 tak
bisa diangkat.
Di bawah panggung Siao-liong-li dan Sin tiau bertama Ciu Pek-thong telah
menghalau pemanah2 Mongol bersama agar mereka tak sempat melepaskan panah pada
Nyo Ko dan Kwe Yang. Tapi seluruh perhatian Siao liong li tidak pernah
meninggalkan diri Nyo Ko, di samping putar senjatanya membunuh musuh, saban2 ia
mendongak memandang ke atas panggung.
Ketika mendadak dilihatnya badan Nyo Ko penuh berlepotan darah, hatinya
mencelos, kagetnya tidak kepalang.
Tatkala itu tangga panggung sudah putus terbakar, tiada jalan lagi untuk naik ke
atas buat membantu , pikiran Siao-liong-ii seakan2 kabur, hanya pedangnya masih
diputar membacok dan membabat tapi otaknya seperti kosong plong tak tahu berada
dimana dan sedang melakukan apa?
Menghadapi bahaya, beberapa kali Nyo Ko mengeluarkan ilmu pukulan
“lm-jian-siau-hun-cio” untuk gempur musuh, tapi untuk memainkan ilmu pukulan
ini, jiwa dan raga harus bersatu, padahal sejak ia bertemu kembali dengan
Siao-liong-li, ia menjadi girang dan periang, darimana bisa lagi timbul perasaan
“lm-jian-siau-hun” atau hati muram jiwa merana?
Meski dalam keadaan berbahaya, tetap tiada sedikitpun rasa rindunya seperti
berpisah tcm-po hari, maka setiap gerak serangannya selalu berselisih sedikit
daripada kehendaknya dan tak dapat menunjukkan daya saktinya lagi.
Di sebelah sana Kwe Cing cs. juga sudah melihat keadaan Nyo Ko yang menempur
musuh dengan bertangan kosong dan sudah terluka, tapi jaraknya terlalu jauh,
cara bagaimana mereka bisa membantunya?
Tiba2 pikiran Ui Yong tergerak, ia samber pedang Yalu Ce dan dilemparkan pada
sang suami, sambil berseru: “Lemparkan ke atas panggung kepada Koji!”
Kwe Cing menurut, maka meluncurlah pedang itu di atas busurnya terus
dijepretkan, maka meluncurlah pedang itu dengan pesatnya dengan mengeluarkan
sinar ber-kilau2. Pedang itu cukup berat bentuknya juga berlainan daripada anak
panah biasa, kalau bukan bidikkan tenaga sakti Kwe Cing sukar juga hendak
diluncurkannya ke atas panggung, Maka menyamberlah pedang itu dengan cepatnya ke
punggung Nyo Ko. Ketika sudah dekat, mendadak lengan baju Nyo Ko mengebas
kebelakang hingga dengan tepat dapat melibat batang pedang itu.
Saat itulah kebetulan roda Hoat-ong juga lagi dihantamkan padanya, segera Nyo Ko
tarik pedangnya terus menusuk melalui sela2 kedua roda musuh.
Tak terduga, sebab pundaknya terluka, gerak-geriknya menjadi terganggu, pula
pedang ini bukan Hiantiat-pokiam yang tajam tiada bandingan, maka ketika roda
Hoat-ong menjepit terus memuntir kedua rodanya, “pletak” kembali pedang Nyo Ko
patah.
Menyaksikan itu, semua orang dibawab panggung terkejut luar biasa.
Diam2 Nyo Ko insaf juga bawa hari ini pasti celaka, bukan saja tak dapat menotng
Kwe Yang, bahkan jiwa sendiri akan melayang di panggung ini. Karena itu, dengan
cemas ia memandang sekejap ke arah Siao-liong-li sembari berseru: “Selamat
tinggal, Liong-ji, jagalah dirimu baik2!”
Dan pada saat itu juga, sebuah roda Hoatong telah mengepruk ke atas kepalanya,
Dalam keadaan sudah putus asa, dengan lesu dan kurang semangat Nyo Ko kebas
lengan bajunya menangkis dan sebelah tangannya memukul.
Di luar dugaan, segera terdengar suara “plak” yang keras, pukulannya dengan
tepat mengenai pundak Kim-lun Hoat-ong.
Menyusul itu terdengar Ciu Pek-thong berteriak di bawah panggung: “Bagus sekali
tipu pukulan “to-ni-tay-sui” (berlepotan tanah membawa air) itu!”
Nyo Ko melengak. Tapi lantaran itu pula barulah ia sadar, Kiranya dalam keadaan
putus asa dan lesu, tanpa terasa ia telah keluarkan tipu serangan
“tho-ni-tay-sui”, suatu jurus dari ilmu pukulan im-jian-siau-hun-cio”. ilmu
pukulan ini harus timbul sendirinya dari lubuk hati, dari lubuk hati meneruskan
perasaan ke lengan dan lengan menggerakkan tangan, semuanya tergantung sang
perasaan. Rahasia ini sekalipun Ciu Pek-thong yang serba lengkap mempelajari
ilmu silat macam apapun juga tak mampu memahaminya.
Sejak Nyo Ko bertemu kembali dengan Siao-liong li, ilmu pukulan ciptaannya ini
sudah kehilangan “daya guna” nya, baru pada saat yang paling kritis, dalam hati
merasa akan berpisah untuk selamanya dengan Siao liong-li, pada detik rasa
dukanya itulah tanpa terasa kekuatan daripada ilmu pukulan “lm-jian-siau hun-co”
itu timbul dengan sendirinya.
Dan karena pundaknya kena digebuk sekali, tubuhnya sempoyongan Hoat-ong terkejut
dan heran tapi segera ia menubruk maju pula.
Nyo Ko mengegos mundur, lalu ia memberondongi tiga kali serangan “Uk-
put-ciong-sim” (keinginan ada, tenaga kurang), “To hing-gik-si” (jalan terbalik,
berbuat melawan) dan “Yok-yu-soh-sit” (se-akan-2 kehilangan sesuatu).
Menyusul mana dengan tipu “Heng-si-cau bak” atau mayat berjalan bangkai
bergerak, kakinya segera menendang. Tendangan ini datangnya mendadak dan tak
terduga, tak sanggup lagi Hoat-ong menghindarinya, tepat sekali kena
“Tan-tiong-hiat” dadanya, Sambil menjerit keras2 dan muntahkan darah tegar,
tanpa ampun lagi Hoat-terjungkal ke bawah panggung.
Melihat itu, tanpa berjanji pasukan Song dan pasukan Mongol sama berteriak
berbareng, Bedanya pasukan Song itu bersorak gembira, sebaliknya pasukan Mongol
berteriak kaget.
Saat itu panggung sudah mulai bergoyang mengeluarkan suara “krak-krek” yang
keras, Nyo Ko tahu gelagat jelek, keadaan sudah mendesak, tak sempat lagi untuk
memutus tali ringkusan Kwe Yang maka sekali telapak tanggannya memotong, ia
hantam patah cagak kayu yang mengikat anak dara itu, lalu orangnya bersama
cagaknya diangkatnya sembari berseru: “Tiau-heng, terimalah kami!” Ia incar
baik2 punggung rajawali sakti terus melompat ke atasnya.
Tangkas sekali Sin-tiau itu, meski tak bisa terbang, tapi sekali loncat setinggi
dua-tiga tombak, dengan enteng saja Nyo Ko bersama Kwe Yang jatuh dengan tepat
di atas punggungnya dan pe-lahan2 turun ke tanah.
Dan pada saat itulah, didahului suara gedubrakan yang gemuruh, api dan asap
berhamburan panggung tinggi itu sudah ambruk rata dengan tanah.
Tatkala Kim lun Hoat-ong ditendang terjungkal ke bawah oleh Nyo Ko, walaupun
terluka parah, tapi ia masih berusaha menyelamatkan diri, dengan menahan napas
ia berguling sekali di tanah. Selagi hendak berbangkit kembali tiba2 terdengar
olehnya di belakang seorang sedang ketawa ter-bahak2, tahu2 pinggangnya
dirangkul terus ditahan diatas tanah lagi. Menyusul Hoat-ong merasa seperti
beratus, beribu jarum tajam menusuk masuk semua ke dalam tubuhnya.
Kiranya yang merangkul dan menindihnya itu bukan lain ialah Lo-wan-tong Ciu
Pek-thong, Si tua nakal ini memakai baju kutang berduri landak, benda pusaka Ui
Yok su, benda ini tak mempan segala senjata, sebaliknya penuh berduri lancip
bagai landak.
Memangnya Hoat-ong sudah terluka parah, kini kena dirangkul terus ditindih Lo
wan-tong, keruan jiwanya melayang tanpa ampun.
Ketika panggung tinggi itu ambruk, cepat Ciu Pek thong melompat pergi, sedang
Hoat-ong lantas terkubur dibawah puing panggung berapi itu.
Melihat puteri kesayangan terhindar dari elmaut, saking girangnya hingga Ui Yong
mencucurkan air mata. Sungguh tidak terkatakan rasa terima kasihnya pada Nyo Ko.
sekalipun saat itu ia diharuskan mati untuk Nyo Ko usanya iapun rela, Maka cepat
ia mendekati sang puteri untuk membuka tali pengikatnya.
Segera pula semangat Kwe Cing, Ui Yok su, It-teng Taysu, Kwe Hu dan lain2
terbangun, sebaliknya pasukan Mongol yang mengepung panggung itu melihat
pemimpinnya sudah mati, seketika mereka menjadi kacau-balau, ditambah lagi
diterjang pasukan Song kian-kemari, tentu saja tambah pontang-panting tak
keruan.
“Gempur balik ke Siangyang, bunuh raja itu!” teriak Kwe Cing keras2.
Maka bersoraklah pasukan Song, mereka memutar tubuh terus menerjang pasukan
Mongol yang lagi menggempur benteng itu.
Melihat luka Nyo Ko, Siao-Iiong-li menyobek kain bajunya untuk membalut lukanya,
saking terharunya hingga tangannya gemetar, tapi tak sanggup buka suara.
“Rasa kuatir mu di bawah panggung batu jauh lebih menderita daripada aku yang
bertarung di atas panggung tadi,” ujar Nyo Ko tertawa.
Sementara itu terdengar suara teriakan pasukan Song yang hiruk-pikuk memecah
bumi dan secara gagah berani sedang menerjang musuh.
Dari jauh Nyo Ko melihat formasi pasukan musuh sangat teratur, pula jumlahnya
berlipat ganda daripada pasukan Song, ber-kali2 pasukan Song menyerbu maju bagai
gelombang ombak yang susuI-menyusuI, tapi sama sekali tak bisa memboboIkan
pertahanan pasukan Mongol.
“Liong-ji,” kata Nyo Ko, “meski lawan tangguh sudah mampus, tapi pasukan musuh
belum kalah, Marilah kita menyerbu, Kau letih tidak?”
Betapa bersemangat kata2 Nyo Ko bagian depan itu, sedang kata2 terakhir itu
berubah menjadi begitu halus lembut penuh kasih sayang.
Siao-liong li tersenyum, jawabnya: “Jika kau bilang serbu, hayolah, serbu!”
“Toakoko,” tiba2 suara seorang anak dara berkata di sampingnya, “sungguh cantik
Liong cici seperti dewi kayangan.”
Siao-liong-li berpaling pada Kwe Yang, sahutnya sambil tertawa: “Adik cilik,
banyak terima kasih atas doamu atas pertemuan kembali kami, Toa-kokomu telah
banyak bercerita tentang kebaikanmu, ia sengaja membawa aku ke Siangyang sini
buat bertemu dengan kau.”
“Dan hanya engkaulah yang setimpal berjodohkan dia,” ujar Kwe Yang sambil
menghela napas.
Lalu Siao-liaong-li menggandeng tangan anak dara itu dengan sangat akrabnya,
sebenarnya terhadap siapapun selalu Siao liong-li bersikap dingin, tapi
sepanjang jalan ia mendengar cerita Nyo Ko yang me-muji2 Kwe Yang, pula melihat
dalam usia sekecil anak dara ini, meski menghadapi ancaman elmaut tadi tetap tak
gentar, maka sikap Siao-liong-li menjadi berubah dari pada biasanya.
Sementara itu Nyo Ko telah membawakan beberapa ekor kuda yang tak bertuan lagi,
katanya: “Marilah naik, aku membuka jalan, kita terjang musuh bersama!”
Segera ia mendahului cemplak kudanya dan dilarikan paling depan. Dengan kencang
Siao-liongli dan Kwe Yang mengikut di belakangnya.
Mereka menuju ke selatan, terlihatlah tangga pencakar langit berderet2 bersandar
pada tembok benteng, tentara Mongol bagai semut banyaknya sedang memanjat ke
atas.
Ketika mereka memandang dari suatu tempat yang tinggi, terlihat di sebelah barat
beribu tentara Mongol lagi mengurung Yalu Ce bersama 200 orang anak buahnya.
Tentara Mongol itu semuanya bersenjata golok sepanjang lima kaki dan berbentuk
melengkung, maka satu persatu anak buah Yalu Cc banyak yang kena dibabat
terguling, Kwe Hu kelihatan memimpin sepasukan tentara lain sedang menerjang
hendak menolong suaminya, tapi kena ditahan oleh pasukan Mongol yang berjumlah
ribuan orang.
Suami isteri hanya dapat melihat dari jauh saja, tapi tak bisa berhimpun menjadi
satu.
Menyaksikan perajurit2 di samping suaminya makin lama makin berkurang, hati Kwe
Hu benar2 seperti di-sayat2. ia tahu dalam pertempuran besar demikian, bila
sampai terkepung sendirian, betapapun tinggi ilmu silatnya juga tak terhindar
dari kematian.
Pada saat itulah tiba2 terdengar Nyo Ko ber-seru. “Kwe-toakounio (nona Kwe
besar), asal kau menyembah tiga kali padaku, segera aku menolong suamimu!”
Kalau turuti watak Kwe Hu yang congkak dan tinggi hati, jangankan disuruh
menyembah, sekalipun mati juga ia tak mau kalah mulut pada Nyo Ko. Tapi kini
jiwa sang suami bergantung di ujung rambut, tanpa ragu2 lagi ia keprak kuda
mendekati Nyo Ko, sekali melompat turun, benar saja ia lantas tekuk lutut dan
hendak menyembah sungguh2.
Melihat itu, Nyo Ko malah terkejut, lekas ia menarik bangun orang, ia menyesal
atas katanya tadi yang rendah budi, “Maafkan aku telah salah omong, jangan kau
anggap sungguh Yalu-heng adalah sahabatku yang terbaik, tidak mungkin aku tidak
menolongnya?”
Habis itu, ia mengumpulkan delapan ekor kuda lagi, yang empat ekor ia satu baris
di depan dan empat ekor lain tergandeng satu baris di belakang, dengan dua baris
kuda muka belakang masing2 empat ekor itu, segera ia melompat ke atasnya, dengan
tangan tunggal ia pegang delapan tali kendali, sekali ia bersuit segera ia
terjang pasukan musuh.
Walaupun “tank-kuda” dikendalikan Nyo Ko ini belum terlatih, tapi dengan tenaga
saktinya tidak sukar untuk mengendalikannya, Maka 32 tapak kaki segera
ber-detak2 kedepan hingga debu pasir berhamburan, Nyo Ko sendiri dengan Gin-kang
yang tinggi, melompat ke sana ke sini di atas ke delapan ekor kuda itu.
Ketika tentara Mongol tertegun menyaksikan ilmu menunggang kuda yang aneh
menyerbu ke-dalam pasukan mereka. Sekali lengan baju Nyo Ko mengebas, sebuah
panji segera kena dirampasnya terus di tancapkan di atas pelana.
Dengan mem bentak2 segera perwira dan bintara Mongol hendak merintangi, tapi di
mana panji Nyo Ko rampasan tadi menyabet, sekaligus tiga perwira musuh terguling
dari kudanya.
Ketika itu Yalu Ce kelihatan tinggal tiga tombak jauhnya, segera NyoKo berseru:
“Yalu heng lekas melompat ke atas!”
Berbareng itu, sekali panji diayunkan, segera Yalu Ce melompat tinggi ke udara,
cepat Nyo Ko menggulung dengan panjinya hingga dengan tepat tubuh Yalu Ce
terbungkus oleh kain panji itu Dua orang delapan kuda segera menerjang keluar
kepungan musuh.
“Nyo hengte,” kata Yalu Ce menghela napas lega, “banyak terima kasih atas
pertolonganmu, Tapi anak buahku masih ada yang terkepung, tidak mungkin aku
menyelamatkan jiwa sendiri, Biarlah aku bertempur lagi dan mati bersama dengan
mereka.”
Tiba2 pikiran Nyo Ko tergerak, katanya: “Marilah, kaupun merampas sebuah panji
besar!” Habis ini, ia mengeluarkan geretan dan kain panji di tangannya itu ia
bakar.
“Akal bagus!” seru Yalu Ce. Segera iapun dapat merampas sebuah panji dan
menyulutnya dengan api panji Nyo Ko yang sudah ber-kobar2 itu.
Sambil mem-bentak2, panji berapi itu mereka ubat-abitkan, kembali mereka
menyerbu ketengah pasukan musuh lagi.
Dengan diputarnya kedua panji berapi yang menari kian kemari di udara, asal
sedikit kesenggol siapapun pasti akan kepala gosong dan rambut hangus.
Walaupun pasukan Mongol gagah berani, tapi menghadapi api, tak bisa tidak mereka
harus mundur, sementara itu bawahan Yalu Ce tadi sudah tinggal 50-60 orang saja,
segera mereka menerjang keluar dari kepungan.
Dengan sisa perajuritnya itu, Yalu Ce berkumpul di atas tanah bukit sana sekedar
melepas lelah.
Tiba2 Kwe Hu mendekati Nyo Ko terus menyembah “Nyo-toako, selama hidup aku
selalu tak baik padamu, tapi kau berbudi luhur, kejelekanku kau balas dengan
kebajikan dan kini engkau telah menolong…” Berkata sampai di sini suaranya
menjadi parau dan tenggorokan seakan2 tersumbat.
Memang Beberapa kali Nyo Ko pernah menoIongnya, tapi selalu merasa sirik dan
dengki padanya. Sudah terang orang ada budi padanya, tapi rasa jemunya sukar
dilenyapkan sering ia merasa Nyo Ko terlalu angkuh dan suka agulkan
kepandaiannya yang tinggi serta sengaja pamer.
Dan baru sekarang sesudah Nyo Ko menolong jiwa suami-nya, Kwe Hu benar2 merasa
berterima kasih, baru ia insaf kesalah pahamannya yang duIu2.
Maka lekas2 Nyo Ko membalas hormat orang, sahutnya: “Adik Hu, sejak kecil kita
hidup bersama dan suka cekcok, padahal hubungan kita bagai kakak dan adik, asal
kini kau tidak jemu lagi padaku, itupun aku sudah merasa senang.”
Kwe Hu tertegun oleh sebutan itu, sekilas segala kejadian di masa kanak2
terbayang olehnya.
“Ya, apakah karena aku jemu padanya? Ataukah benci padanya? Bu-si Hengte begitu
baik dan suka me-nyanjung2 padaku, tapi ia selamanya tak gubris diriku, Padahal
asal sedikit turuti kemauanku, sedikit pikirkan diriku, rasanya aku mati
untuknya juga rela.
Sebab apakah aku benci padanya tanpa alasan? Rupanya, diam2 aku suka padanya,
tapi sedikitpun ternyata aku tidak terisi di dalam hatinya,” demikianlah ia
memikir.
Aneh juga, selama 20-an tahun ini, Kwe Hu tidak tahu akan perasaan hatinya
sendiri, setiap ingat Nyo Ko, selalu ia pandang orang sebagai musuhnya, padahal
dalam hati kecilnya, betapa perhatian dan rindunya pada Nyo Ko tidaklah dapat
dilukiskan dengan kata2.
Mungkin itulah yang dikatakan : “Cinta yang dalam, bencinya juga mendalam.”
Sejak kecil sifat Kwe Hu sudah tinggi hati, ia anggap seharusnya Nyo Ko mesti
menjunjungnya seperti kedua saudara Bu yang begitu penurut.
Akan tetapi, sedikitpun Nyo Ko ternyata tidak paham perasaannya, sebaliknya ia
sendiripun juga tidak paham akan perasaan Nyo Ko.
Lebih2 Kwe Cing dan Ui Yong, kedua orang tua ini merasa Kwe Hu dan Nyo Ko ini
dilahirkan sebagai musuh, asal bertemu pasti cekcok, sampai akhirnya lengan Nyo
Ko buntung ditebas Kwe Hu hampir2 urusan meluas sampai batas2 yang sukar
diatasi.
Kini terasa benci dan sirik itu sudah hilang barulah Kwe Hu sadar, kiranya
perasaannya pada Nyo Ko sesungguhnya begitu mesra, begitu mendalam. Waktu ia
menyerbu musuh untuk menolong kakak Ce, sebenarnya hatiku lebih kuatir untuk
siapa kah? inilah aku tak bisa menerangkan. Sudah tentu kini aku tak
mencintainya lagi, tapi dulu, kenapa aku menjadi begitu benci padanya?” demikian
pikirnya.
Begitulah di tengah2 pertempuran yang gegap gempita itu, mendadak Kwe Hu menjadi
jelas akan perasaan hatinya sendiri:
“Pada hari ulang tahun Yang-moay, ia telah memberikan tiga hadiah besar padanya
dan kenapa aku harus begitu benci padanya ? ia membongkar kedok Hotu dan
mendukung Ce-koko menjadi pangcu dari Kay-pang, kenapa diam2 aku malah marah?
Ah, Kwe Hu, Kwe Hu! Nyata kaulagi cemburu pada adik perempuannya sendiri!
Soalnya sedemikian budinya yang manis kepada Yang-moay, tapi selamanya tak
pernah sedikitpun begitu baik terhadapku,”
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia mendongkol dan gusar lagi, dengan
sengit ia melotot sekejap ke arah Nyo Ko dan Kwe Yang, tapi mendadak ia sadar
lagi.
“Ah, kenapa aku pikirkan hal2 ini? Bukankah aku sudah menjadi wanita yang
bersuami, pula kakak Ce juga sangat cinta padaku.”
BegituIah, akhirnya ia menghela napas panjang, walaupun hidupnya tidak
kekurangan sesuatu apa, tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam seakan2
tertinggal semacam rasa penyesalan yang tak terkatakan.
Biasanya apa yang dikehendakinya pasti terpenuhi, tapi sesuatu yang justru
sangat diinginkannya malahan tidak di peroleh. Sebab itulah selama hidupnya ini
terkadang ia sendiripun tidak paham: “Sebab apa sifatnya begitu keras? Sebab apa
diwaktu orang lain sedang bergirang, ia sendiri jus-tru mendongkol dan marah
tanpa sebab?
Wajahnya sebentar marah sebentar pucat, ia terus memikirkan perasaannya yang
aneh itu. Tapi Nyo Ko, Siao-liong li, Yalu Ce dan Kwe Yang es sedang memandang
jauh mengikuti pertempuran dahsyat yang sedang berlangsung di depan benteng
Siangyang,
Terlihat tentara Mongol bagai semut sedang merembet ke atas benteng, Kwe Cing
dan Ui Yok-su cs. dengan perajuritnya sedang menggempur dari belakang musuh itu,
namun jumlahnya sedikit, sukar menggulingkan pasukan besar musuh yang
racnggcmpur benteng itu.
Sedangkan panji kebesaran raja Mongol tertampak pelahan2 mendekati kota, rupanya
pasukan penjaga kota sudah patah semangatnya, tak sanggup lagi menggempur turun
pasukan musuh yang merembes ke atas benteng itu.
Melihat itu, Kwe Yang berseru kuatir: “Toa-koko, bagaimana baiknya? Bagaimana
baiknya ini?”
Diam2 Nyo Ko pikir: “HidupKu ini bisa berjumpa pula dengan Liong ji,
sesungguhnya Thian berlaku murah padaku, harini walaupun harus mati, rasaku
tidak menyesal lagi, Laki2 sejati harus bela tanah air dan berkorban dimedan
bakti, inilah tempat berpulang yang paling tepat bagiku.”
Berpikir itu, seketika semangatnya me nyala2, serunya segera: “MariIah,
Yalu-heng, kita menerjang musuh lagi!”
“Bagus sekali!” sahut Yalu Ce tanpa pikir.
“Maritah kita ikut menyerbu!” Siao liong li dan Kwe Yang pun berseru berbareng.
“Baik,” kata Nyo Ko. “Aku merintis di depan, kalian kumpulkan sebanyaknya tombak
yang panjang dan ikut di belakangku.”
Segera Yalu Ce memberi perintah bawahannya mengumpulkan tumbak2 yang berserakan
di medan pertempuran itu, mereka masing2 membawa beberapa buah juga.
Dengan tumbak di tangan, segera Nyo Ko cemplak kuda menerjang kedepan, Sin-tiau,
Si rajawali sakti selalu mendampingi kudanya, sayapnya yang kuat itu se-akan2
perisai Nyo Ko dan menyampuk panah yang berhamburan datang itu, Siao-liong-li,
Yalu Ce, Kwe Yang berempat mengintil dibelakang dengan kencang.
Ternyata jurusan yang di arah Nyo Ko itu adalah di mana kelihatan panji
kebesaran raja Mongol berkibar.
Keruan Yalu Ce terkejut, ia tahu, sekali raja Morigol berani memimpin tentara
sendiri, tentu penjagaan sudah diatur keras dan rapat sekali, Kini jumlah
pihaknya yang tiada seratus orang ini bukankah cuma antarkan kematian bila
berani menerjangnya? Tapi bila ingat jiwanya yang tadi hampir meliyang, tapi
tertolong oleh Nyo Ko, maka kemana saja diajak, kelautan api atau masuk air
mendidih juga pasti akan diturutnya.
Begitulah dalam sekejap saja mereka sudah menerjang mendekati benteng Siangyang,
Ketika pengawal Monko melihat serbuan rombongan Nyo Ko yang hebat itu, segera
ada 200 orang dikerahkan untuk menahannya.
Tapi sekali Nyo Ko ayunkan tangannya yang tunggal itu, pesat bagai panah
sebatang lembing atau tumbak lantas meluncur ke depan dan menembus dada seorang
perwira musuh, habis itu ia sambut pula sebatang lembing lain dari Yalu Ce terus
ditumpukkan lagi dan kembali perwira musuh kedua terjungkal.
Keruan pasukan Mongol itu menjadi kacau dan rombongan Nyo Ko dengan cepat
menerjang lewat.
Terkejut sekali para pengawal Monko, beramai2 mereka angkat senjata menghadang
maju, tapi tumbak Nyo Ko sekali tusuk, satu orang pasti terguling, siapa yang
merintangi pasti mati.
Harus diketahui tenaga sakti lengan tunggal Nyo Ko itu terlatih di bawah
damparan ombak badai, betapa kuat sambitan lembingnya itu, sekalipun batu cadas
juga tembus, jangankan badan manusia. Setiap lembingnya selalu diincarkan pada
perwira2 yang memakai topi baja yang mudah dikenal, maka sekejap saja 17 tumbak
sudah membunuh 17 perwira Mongol yang perkasa.
Dengan serangan kilat ini, meski berpuluh ribu tentara terhimpun di bawah
benteng, tapi ke mana rombongan Nyo Ko sampai, di situ lantas kacau balau,
sekaligus Nyo Ko telah menerjang sampai di depan raja Mongol.
Dengan mati2an pengawal pribadi Monko maju bertahan. Maiahan beberapa orang di
antaranya terus meng-aling2 di depan junjungan mereka sebagai tameng.
Ketika Nyo Ko membaliki tangannya hendak menerima tumbak lagi dari Yalu Ce.
ternyata mendapat tempat kosong. Kiranya mereka sudah keterjang pasukan musuh
hingga terpisah.
Sementara itu Nyo Ko melihat muka raja MongoI mengunjuk rasa gugup dan kuatir,
kuda-segera diputar lantas hendak kabur. Tiba2 Nyo Ko bersuit panjang, sekali
kaki mengenjot pelana kuda, tubuhnya terus mencelat ke atas dan menubruk ke
sana.

kembalinya rajawali 27

Juni 24, 2010

Lalu Nyo Ko tanya untuk apa anak dara itu datang pula ke Coat-ceng kok. Dengan
terus terang Kwe Yang lantas menceritakan pengalamannya.
Nyo Ko menjadi gusar, katanya: “Kim-Iun Hoat-ong ini benar2 jahat, marilah kita
cari jalan naik ke atas biar Kakak ajar dia hingga setengah mati.”
Pada saat mereka bicara itulah mendadak dari atas jatuh seekor burung raksasa ke
dalam kolam, itulah rajawali jantan, keruan Kwe Yang terkejut, lekas2 mereka
memeriksa rajawali itu yang ternyata terluka amat parah.
Tak lama, menyusul rajawali betina turun ke bawah dan membawa yang jantan ke
atas, ketika untuk kedua kalinya turun pula, Nyo Ko dukung Kwe Yang ke atas
punggung binatang itu. ia sangka tentu rajawali itu akan turun pula untuk
menjemputnya, siapa tahu ditunggu hingga lama sekali masih tiada sesuatu suara.
Sudah tentu tak diketahuinya bahwa saat itu rajawali betina sudah mati
menumbukkan diri pada batu cadas menyusul rajawali yang jantan.
Menunggu hingga lama dan rajawali betina itu tetap tidak datang, lalu Nyo Ko
memeriksa keadaan sekitar kolam itu, tiba2 dilihatnya di atas pohon2 besar
berjajar2 beberapa puluh sarang tawon, sarang tawon ini berlipat ganda besarnya
daripada sarang tawon biasa, pula tawon2 yang meng-aum2 berseliweran itu
ternyata adalah jenis tawon putih yang dulu biasa dipiara Siao liong li di
kuburan kuno itu.
Tanpa terasa Nyo Ko berseru terkejut dan hingga seketika terpaku di tempatnya.
Selang agak lama barulah ia mendekati sarang tawon itu, ia lihat di pinggir
sarang tawon terpoles tanah liat, terang buatan manusia, lapat2 dikenalinya
sebagai karya Siao-liong-li.
Nyo Ko tenangkan semangatnya, ia pikir: “Jangan2 dahulu ketika Liong-ji terjun
ke bawah sini, lalu ia bertempat tinggal di sini?” – tapi ketika ia periksa
sekitarnya, tempat ini melulu dinding tebing curam bagai di dasar sebuah sumur
saja, di atas penuh kabut putih yang menutupi sinar matahari.
Nyo Ko coba ketok2 dan mencari sesuatu tanda pada dinding bata itu, tapi tiada
sesuatu yang mencurigakan hanya ada beberapa pohon yang kulitnya seperti pernah
dikeletek orang, pula ada tetumbuhan seperti pernah dicangkok ketempat lain,
sesaat itu rasa suka duka berkecamuk memenuhi benaknya, hatinya ber-debar2, kini
ia yakin bahwa Siao liong li pun pernah tinggal di sini, cuma sudah lewat 16
tahun lamanya, sampai har iini apakah orangnya masih sehat walafiat, siapa yang
tahu?
Biasanya Nyo Ko tidak percaya setan malaikat segala, tapi, dalam cemasnya ia
berlutut dan komat-kamit berdoa: “Thian yang maha kasih, ber-kahilah aku untuk
bertemu sekali lagi dengan Liong ji.”
Setelah berdoa, Nyo Ko mencari lagi sebentar, tapi tetap tidak ditemukan
sesuatu, ia duduk di atas pohon dan berpikir “Jika Liong-ji sudah mati,
seharusnya tertinggal juga kerangka tulangnya di sini, kecuali kalau tulangnya
tenggelam di dalam kolam.”
Berpikir sampai di sini, mendadak ia melompat turun, ia berkata: “betapapun juga
pasti akan kuselidiki sampai segalanya menjadi jelas, sebelum melihat
tulang-belulangnya, hatiku belum lega.”
Segera ia menerjun ke dalam kolam terus menyelinap ke dasarnya.
Makin dalam makin dingin rasanya di bawah kolam itu, meski Nyo Ko tidak takut
dingin, tapi daya tolak air dibagian bawah terlalu kuat, walaupun beberapa kali
Nyo Ko berusaha menerjang ke bawah, tapi tetap tak bisa mencapai dasarnya,
sedangkan napasnya sudah makin memburu, terpaksa ia apungkan diri keatas,
setelah merangkul sepotong batu besar, kembali ia terjun pula ke dalam kolam.
Sekali ini orangnya berikut batunya terus tenggelam dengan cepat, mendadak
pandangannya terbeliak, pikiran Nyo Ko tergerak, lekas2 ia menyelidiki ke arah
yang terang, tiba2 terasa pusar air yang menggulung tubuhnya terus terhanyut
dengan ketatnya, ternyata di tempat yang terang itu memang ada sebuah gua.
Nyo Ko melepaskan batu besar yang dirangkulnya itu, segera ia menyelam ke gua
itu, ternyata gua itu menembus miring ke atas, cepat Nyo Ko mengapungkan diri
mengikuti lorong gua itu, selang sejenak, tahu2 kepalanya sudah menongol ke
permukaan air, sinar matahari menyorot dengan terangnya, bunga semerbak mewangi,
ternyata di situ terdapat suatu “dunia luar”
Ia tidak lantas mendarat, ia melihat sekitarnya pemandangan menghijau permai,
bunga mekar menarik, tempat itu seperti sebuah taman bunga yang besar, tapi di
sekitarnya tiada suatu bayangan orangpun.
Girang dan kejut Nyo Ko, cepat ia melompat keluar air, kemudian terlihat olehnya
di tempat sejauh beberapa puluh tombak sana terdapat beberapa buah rumah petak.
Nyo Ko berlari ke sana, tapi mendadak ia berhenti pula, lalu selangkah demi
selangkah ia mendekati rumah2 petak itu, dalam hati ia pikir: “Jika dalam rumah2
petak ini tetap tidak diperoleh beritanya Liong-ji, lalu bagaimana baiknya?”
Makin dekat dengan rumah2 itu, jalannya makin lambat, dalam hati ia kuatir
kalau2 harapannya yang terakhir inipun buyar
“Akhirnya sampai juga di depan rumah petak, waktu ia dnogarkan sekitarnya, sunyi
senyap, tiada suara orang, tiada berkicaunya burung, hanya suara mendengungnya
tawon yang pelahan.
Dengan tabahkan diri, Nyo Ko lantai menegur beberapa kali, namun tiada jawaban
dari rumah itu, pelahan Nyo Ko dorong daun pintu rumah, maka terpentanglah pintu
itu dengan mengeluarkan suara kriat-kriut.
Ketika Nyo Ko melangkah masuk, sekilas saja ia pandang ke dalam, tak tahan lagi
sekujur badannya mendadak tergetar ia lihat panjangnya dalam rumah sangat
sederhana, tapi rajin dan resik luar biasa.
Di tengah ruangan hanya sebuah meja dua sebuah kursi, lain tidak. Tapi letak
meja kursi itu ternyata sudah sangat dikenalnya, serupa benar dengan keadaan
meja kursi diruangan batu dalam kuburan kuno.
Tanpa pikir Nyo Ko berjalan membelok ke kanan, betul saja di sana adalah sebuah
kamar, lewat kamar ini ada lagi sebuah kamar yang lebih “besar” sebagian
meja-kursi dan pembaringan di dalam kamar ini sama saja seperti apa yang
terdapat di kamar tidur Nyo Ko di kuburan kuno dahulu, cuma perabot rumah di
kuburan kuno itu seluruhnya terbuat dari batu, sedangkan yang di sini terbikin
dari kayu.
Sesudah masuk kedalam kamar itu, sambil me-rabai alat2 perabot kamar itu, air
mata Nyo Ko sudah mengembeng, kini tak dapat ditahan !agi, air matanya meleleh
membasahi pipinya.
Tiba2 terasa sebuah tangan yang halus lemas tetesan2 membelai rambutnya, lalu
suatu suara lemah lembut telah menanya padanya: “Ko-ji urusan apakah yang
membuat kau sedih?”
Suara itu, lagunya, cara membelai rambutnya, seluruhnya mirip benar dengan cara
Siao-liong-ii dahulu bila sedang menghiburnya, Mendadak Nyo Ko membalik tubuh,
maka tertampaklah di depannya berdiri seorang perempuan berbaju putih, kulit
badannya putih bagai salju, mukanya cantik bagai bunga sedang mekar, siapa lagi
dia kalau bukan Siao-liong li yang dirindukannya siang dan malam selama 16 tahun
ini?
Kedua orang saling menjublek sekian saat, lalu sama2 berseru pelahan terus
saling rangkul. Sungguh2. atau mimpikah ini? Benar2 ataukah khayal? Yang jelas
rasa rindu selama 16 tahun ini seketika itu tak bisa diutarakan seluruhnya?
Lewat agak lama barulah Nyo Ko berkata: “Liong-ji wajahmu masih tetap cantik
molek, tapi aku sudah tua.”
“Tidak, kau tidak tua,” sahut Siao liong li dengan pandangan penuh arti. “Tapi
aku punya Ko-ji kini sudah dewasa,”
Sebenarnya umur Siao-liong-It banyak lebih tua daripada Nyo Ko, tapi sejak kecil
ia sudah berdiam di Ko bong atau kuburan kuno dan belajar Lwekang dari gurunya,
segala cita rasa dan napsu sudah di hilangnya jauh2, sebaliknya Nyo Ko sejak
kecil sudah kenyang menderita dan banyak berduka, maka ketika keduanya kawin,
wajah mereka tampaknya sepadan.
Dan setelah menikah hingga berpisah selama 16 tahun, Nyo Ko merana dan merantau
kemana2, siksaan batin itulah yang membikin rambut di kedua pelipisnya sudah
mulai memutih, sebaliknya Siao liong-Ii yang tinggal di tengah jurang, walaupun
tidak kurang derita rindunya, tapi latihan selama berpuluh tahun di masa
kecilnya itu tidaklah percuma, malahan ia kembali berlatih Lwekang ajaran
gurunya dahulu tidak banyak berpikir dan sedikit urusan, seorang diri tinggal di
dalam jurang rasanya juga tidak begitu sunyi, kini mereka bersua kembali, Nyo Ko
malahan tampaknya lebih tua.
Sudah 16 tahun Siao-liong li tidak berbicara, kini meski sangat girang hatinya,
tapi rasanya menjadi tidak lancar hendak ber-cakap2. Tapi bicarapun tidak perlu
buat mereka, hanya saling pandang sambil tersenyum penuh arti, sampai akhirnya
Nyo Ko menarik tangan Siao-Liong li dan diajaknya keluar.
“Liong ji, alangkah girangku!” kata Nyo Ko kemudian, mendadak ia jumpalitan
beberapa kali bagai anak kecil.
Memang waktu kecilnya Nyo Ko suka berjumpalitan seperti ini dan Siaoliong-li
suka gunakan tangannya untuk mengusap keringat di jidatnya, kini tanpa terasa
iapun keluarkan saputangan mengusap beberapa kali di jidat Nyo Ko, walaupun
sebenarnya Nyo Ko tidak berkeringat.
Waktu Nyo Ko periksa sapatangan itu, ia lihat terbuat dari serat kulit pohon
yang kasar, karena itu ia dapat membayangkan betapa menderitanya Siao-liong li
hidup selama 16 tahun di lembah terasing ini, ia menjadi terharu, ia mem-belai2
rambut Siao-liongli dan bertanya: “Liong-ji, sungguh menderita sekali kau
selama 16 tahun ini.”
Siao liong li menghela napas, sahutnya. “jika aku tidak dibesarkan di kuburan
kuno itu, selama 16 tahun ini pasti tak sanggup bertahan.”
Apa yang dikatakan ini memang benar, kalau umpamanya Nyo Ko yang harus tinggal
seorang diri di lembah sunyi ini, sekalipun tinggi ilmu silatnya tak nanti
sanggup hidup sendiri selama 2-3 tahun.
Harus diketahui sejak kecil Siao liong-li dibesarkan didalam istana kuburan
kuno, meski mula2 ada Suhu dan Sun-popo yang merawatnya, dan kemudian
berkawankan Nyo Ko, tapi ia sudah biasa hidup bebas sendirian, sedikit sekali
bersandar pada orang lain.
Dan karena hidup sepi dalam panjang itulah dapat ia bertahan melewatkan
penghidupan ymg tak mungkin ditahan oleh orang lain.
Begitu mereka berdua duduk berendeng diatas batu besar dan saling mengutarakan
rasa rindu selama ini…
Dahulu waktu mengetahui Siao liong-li terlalu mendalam terkena racun dan sukar
disembuhkan lagi, Nyo Ko menjadi putus asa, iapun tidak ingin hidup lagi tanpa
Siao liong li, walaupun ia sendiri jaga terkena racun Coat-hoa atau bunga cinta,
ia sengaja buang separoh obat pil “Coat ceng-tan” yang bisa menyembuhkan racun
yang diidapnya.
Melihat itu, malamnya Siao-liong-li tidak bila tidur, ia pikir pergi datang, ia
tahu kecuali ia sendiri mati dulu untuk melenyapkan harapan Nyo Ko barulah ada
kemungkinan menyembuhkan racun Ceng-hoa di dalam badannya.
Tapi kalau ia perlihatkan tanda membunuh diri, itu berarti mempercepat kematian
Nyo Ko juga. ia berpikir terus hingga jauh malam, akhirnya ia mengukir beberapa
baris huruf itu dikarang Toan jong-khe, ia sengaja “menetapkan janji pertemuan
kembali sesudah 16 tahun lagi, habis itu barulah ia terjun ke dalam jurang untuk
membunuh diri.
“Kenapa kau menjanjikan 16 tahun? jika kau berjanji 8 tahun saja, bukankah kita
akan bertemu kembali lebih dari 8 tahun?” tanya Nyo Ko gegetun.
“Aku tahu cintamu padaku terlalu mendalam kalau melulu 8 tahun yang singkat itu,
pasti takkan padamkan watakmu yang kesap bagai api,” sahut Siao-liong-li.
“Ai, siapa nyana meski sudah 16 tahun, akhirnya kau tetap terjun kemari.”
“Ya, itulah tandanya orang lebih baik cinta murni,” ujar Nyo Ko tertawa. “Umpama
rasa rindu ku padamu menjadi dingin, paling banyak aku menangis di atas karang,
lalu pergi, dengan begitu kita menjadi takkan bertemu lagi untuk
selama-lamanya.”
Siao-liong li menghela napas panjang oleh nasib mereka yang diluar dugaan ini.
Mereka terdiam agak lama, kemudian Nyo Ko tanya pula: “Dan sesudah kau terjun ke
dalam kolam ini, lantas bagaimana?”
“Dalam keadaan sadar-tak-sadar aku jatuh ke dalam kolam, ketika mengapung ke
atas lantas terbawa oleh pusaran air masuk gua es itu dan terhanyut sampai di
sini, sejak itu aku lantas hidup sendirian” tutur Siao liong li.
“Di sini tiada burung maupun binatang, tapi di dalam kolam itu tidak sedikit
terdapat ikan, juga buah2an disekitar sini tidak pernah habis, cuma tiada kain,
terpaksa harus mengupas kulit pohon untuk ditenun menjadi baju.”
“Tatkala itu bukankah kau terkena racun “Peng-pek-gin-ciam” dan racunnya sudah
meresap, di dunia ini tiada obat yang bisa menyembuhkan lagi, tapi kenapa bisa
menjadi baik di dasar lembah ini?” tanya Nyo Ko.
“Waktu aku sampai di sini, beberapa hari kemudian racun dalam badan lantas
bekerja hebat, seluruh tubuh se akan2 dibakar, kepala sakit hendak pecah,
rasanya tidak tahan lagi, tapi lantas teringat waktu malam pernikahan kita di
kuburan kuno itu kau telah mengajarkan cara duduk diatas ranjang kemala dingin
untuk menjalankan aliran darah secara terbalik, meski tidak dapat menolak keluar
racun, tapi rasa menderita banyak berkurang,” demikian tutur Siao liong-li.
“Namun di sini tiada ranjang kemala dingin, yang ada hanya es beku yang entah
berapa tuanya di dasar kolam air itu, aku, lantas menyelam kembali ke dasar
kolam dan masuk gua es itu, aku berdiam sebentar di sana.
Kadang2 akupun datang ke tepi kolam ketika terjatuh mula2 itu, aku menengadah ke
atas dengan harapan bisa memperoleh sedikit kabarmu. Pada suatu hari, tiba2
kulihat beberapa ekor tawan terbang turun menembus kabut yang menutupi permukaan
jurang itu, terang itulah tawon tinggalan Lowan-tong yang dibawanya main2 ke
Coat-ceng-kok itu, aku menjadi ketarik, segera aku buatkan sarang dan
memeliharanya.
BeIakangan makin banyak tawon yang datang dan setiap kali aku minum madu tawon
yang aku unduh, rasa sakit badanku lantas banyak berkurang, sungguh tidak nyana
kasiat madu tawon ini ternyata sangat mujarab untuk memunahkan racun.
Begitulah aku meminum madu tawon dalam jangka panjang, kumatnya racun dalam
badan juga berkurang, mula2 setiap hari kumat, lalu beberapa hari kumat sekali,
kemudian hingga beberapa bulan sekali, paling akhir selama 5-6 tahun ini, satu
kali saja tak pernah kumat lagi, agaknya sudah sembuh.”
“Ah, itulah tandanya orang berhati baik tentu dibalas baik,” ujar Nyo Ko senang.
“Coba kalau dahulu kau tidak hadiahkan tawon pada Lo-wan-tong dan ia tak
membawanya ke Coat ceng-kok, tentu penyakitmu pun takkan bisa sembuh.”
“Dan sesudah sembuh penyakitku…” demikian Siao-liong-li melanjutkan “aku jadi
sangat rindu padamu, tapi sekitar jurang itu tingginya beratus tombak dan
terdiri dari dinding2 tebing yang curam, cara bagaimana bisa naik ke atas? Maka
dengan duri bunga aku menisik enam huruf “Aku berada didasar Coa ceng-kok” di
atas sayap tawon putih itu dengan harapan sesudah tawon itu terbang ke atas akan
diketemukan orang.
Selama beberapa tahun ini sudah beribu ekor tawon yang kutisik tulisan di atas
sayapnya, tapi tetap tiada kabar berita yang dibawanya kembali, makin lama aku
semakin putus asa, aku merasa hidup ini takkan bisa melihat kau lagi.”
“Ah. akupun terlalu ceroboh, kalau begitu,” seru Nyo Ko mendadak sambil tepuk
paha penuh menyesal “Setiap kali kudatangi Coat ceng-kok, selalu aku melihat
tawon putih, tapi selamanya tak pernah menangkapnya seekor untuk diperiksa.”
“Sebenarnya hal itupun timbul dari pikiranku yang sudah kehabisan akal,” sahut
Siao-liong-Ii tersenyum, “Padahal siapa bisa menduga bahwa di atas badan
binatang sekecil itu tertisik tulisan? Begitu lembut tulisan itu, sekalipun
beratus tawon itu terbang lewat di depan matamu juga takkan kau perhatikan.
Harapanku hanya kalau2 kebetulan ada seekor tawon itu masuk jaring lahan2 dan
Thian menaruh belas kasihan sehingga dapat kau lihat serta menolongnya, tatkala
itu tentu tulisan di atas sayapnya akan dapat kau baca.”
Ia tidak tahu bahwa tulisan disayap tawon itu akhirnya dapat diketahui oleh Ciu
Pek-teng yang suka main2 piara tawon itu dan arti tulisan itu kena diterka oleh
Ui Yong yang kecerdasannya melebihi orang biasa.
Begitulah, setelah lama ber-cakap2, akhirnya menjadi lapar, Siao liong-li
mengajaknya masuk rumah dan menyuguhkan senampan ikan, ada pula buah2an dan madu
tawon.
Setelah kenyang makan barulah ganti Nyo Ko menceritakan pengalamannya selama 16
tahun ini. Siao-liong-li sendiri biasanya tidak banyak menghiraukan soal2
keduniawian, yang diharap asal dia dapat bertemu kembali dengan Nyo Ko dan
rasanya sudah puas, maka sekalipun cerita Nyo Ko itu kadang2 mengenai kejadian
aneh dan hal2 lain yang mendebarkan hati, paling2 Siao-liong li hanya tersenyum
saja, cerita2 itu bagai angin lalu saja di-tepi telinganya. sebaliknya Nyo Ko
terus menerus bertanya tentang segala sesuatu selama Siao-liong-li tinggal di
dasar jurang ini.
Sepanjang malam mereka pasang omong hingga hari sudah hampir pagi barulah mereka
tidur.
Waktu mendusin, hari sudah lewat lohor, kata Nyo Ko: “Liong ji, kita akan hidup
sempai tua di sini atau berdaya kembali kedunia fana di atas sana!”
Menurut pendapat Siao-liong-li, ia lebih suka hidup aman tenteram dengan Nyo Ko
di jurang ini, tapi Nyo Ko suka keramaian, betapapun cintanya pada
Siao-liong-li, tetap tak biasa hidup sunyi terpencil.
Maka kata Nyo Ko pula: “Lebih baik kita berusaha naik saja, kalau di atas sana
tidak menyenangkan nanti kita kembali ke sini lagi, cuma… cuma untuk naik ke
atas kiranya sangatlah sulit,”
Ia menyelam lagi ke tepi kolam melalui gua es itu, maka tertampaklah dari atas
menjulur seutas tambang yang sangat panjang, di tepi kolam terdapat bekas2 kaki
orang, malahan ada segunduk api unggun yang apinya masih belum sirap sama
sekali”
“Ah, ada orang datang mencari kita, malahan sudah menyelam ke dalam kolam,” kata
Nyo Ko.
Ia mengitari tepi kolam itu, tiba2 dilihatnya ada batang pohon besar terdapat
ukiran dua baris tulisan yang berbunyi: It-teng, Pek-thong, Eng Koh, Yong, Eng,
Bu – siang, ke sini mencari Nyo Ko tidak ketemu dan pulang dengan masgul.”
Nyo Ko menjadi sangat terharu, katanya: “Mereka ternyata tak pernah melupakan
diriku!”
“Ya siapapun tiada yang lupa padamu,” ujar Siao-liong-Ii
“Mereka telah melorot ke bawah sini dengan tambang panjang ini, meski sudah
menyelam, tapi karena tidak melompat dari tempat setinggi ratusan tombak, daya
tenggelamnya tidak dalam, maka gua es itu tak mereka lihat,” kata Nyo Ko. “Coba,
kalau akupun turun dengan memakai tambang, tentu takkan dapat menemukan kau.”
“Ya, makanya aku bilang segala apa memang sudah takdir,” sahut Siau-liong-li.
“Tidak, ini namanya di mana ada kemauan, batupun akan luluh karenanya,” kala Nyo
Ko.
Lalu ia mencoba tarik tambang itu dan ternyata sangat kuat, maka katanya pula:
“Biar aku naik dulu, entah Kimlun Hoat-ong itu di atas tidak, Tapi kalau It-teng
Tay-su dan Lo-wan-tong sudah kesitu agaknya Hoat-ong sudah kabur pergi.”
Habis ini ia bertanya lagi: “Liong-ji, ilmu silatmu telantar tidak? jika tak
dapat kau memanjat, biar kupanggul kau.”
“Meski selama 16 tahun tiada kemajuan, tapi apa yang dulu kupelajari rasanya
masih tetap,” sahut Siao-liong li.
Nyo Ko berpaling sambil tertawa, lalu ia pegang tambang panjang itu, sedikit ia
gunakan tenaga, cepat ia melompat ke atas lebih setombak tingginya. Meski
lenganya tinggal sebelah, tapi dibantu kedua kakinya, tidak lama ia sudah panjat
sampai di-atas jurang, Menyusut Siao-liong li pun merambat naik dengan tali
tambang itu.
Kedua orang berdiri sejajar di depan karang Toan jong-khe, sambil memandangi dua
baris tuIisan-yang diukir Siao-liong-Ii dahulu didinding batu itu, sungguh
mereka merasa seperti baru hidup kembali.
Mereka tertawa saling pandang, betapa suka ria hati mereka saat itu, rasa
penderitaan selama 16 tahun ini sudah buyar seluruhnya bagai asap ter-tiup
angin.
Nyo Ko memetik setangkai bunga merah “Liong-li-hoa” dan disuntingkan pada
sanggulnya, bunga merah di atas kulit badan yang putih, seketika sukar diketahui
apakah bunga merah itu yang menambah kecantikan orangnya atau wajah orang yang
cantik itu yang menambah keindahan bunganya?
* * *
Kembali berceritera tentang Kim lun Hoat-ong yang membangun sebuah panggung
tinggi diluar kota Siangyang dan hendak membakar Kwe Yang untuk memaksa Kwe Cing
takluk pada pihak Mongol dan Ui Yok-su bilang akan mengatur suatu “barisan 28
bintang2 untuk menempur musuh.
Kwe Cing telah melaporkan hal itu pada gubernur militer kota Lu Bun-hwan agar
memberi mandat, supaya Ui Yok su dapat mengatur siasat dan membagi tugas pada
para perwira dan prajurit.
Tatkala itu para ksatria yang hadir sudah bubar sebagian besar, yang masih
tinggal di situ seluruhnya adalah pahlawan2 yang berjiwa patriot, maka semuanya
berkumpul di lapangan militer menunggu perintah.
“Mereka mengerahkan 40 ribu orang untuk mengepung panggung, kalau kita pakai
orang yang banyak, jika kita menang rasanya juga tidak mengherankan ,” kata Ui
Yok-su, “Maka kitapun hanya perlu 40 ribu orang, menurut Sun Cu, yang penting
mahir mengatur, satu lawan satu, apa susahnya?”
Maka Ui Yok-su lantas naik ke atas podium panglima, katanya pula: “Barisan
bintang2 kita ini seluruhnya terbagi dalam lima kesatuan menurut hitungan
pancabuta.”
“Habis ini, segera ia kumpulkan semua komandan pasukan, ia memberi petunjuk dan
penjelasan seperlunya, katanya lagi: “Perubahan2 kita yang sangat ruwet ini
seketika sukar dipahami, tapi pertempuran hari ini harus dipimpin oleh lima
tokoh silat terkemuka yang paham perobahan pancabuta, komandan pasukan harus
menurut petunjuk kelima pemimpin dan menjalankan perintahnya.”
Maka pergilah para komandan pasukan itu dengan menerima perintah itu.
Lalu Ui Yok-su mulai membagi tugas, katanya: “Kesatuan tengah tergolong bumi,
dipimpin oleh Kwe Cing dengan jumlah prajurit delapan ribu orang, pasukan ini
harus mengarah bagian tengah musuh, tujuannya menolong Kwe Yang, tidak perlu
harus menghancurkan musuh. Setiap prajurit membawa kantong pasir, begitu
menyerbu sampai di bawah panggung, segera gunakan pasir untuk menyirapkan api
yang berkobar untuk menolong anak dara di atas panggung itu.”
Kwe Cing terima tugas itu dan berdiri ke samping.
“Dan kesatuan jurusan selatan tergelong api,” demikiin Ui Yok-su melanjutkan
“Harap It-teng Taysu yang memimpin delapan ribu orang. pasukan ini yang seribu
orang melindungi pimpinan, tujuh ribu orang lainnya terbagi menjadi tujuh regu,
masing2 dipimpin oleh Cu Culiu, Bu Sam-thong, Su-sui Hi-un, Bu Tun-si dan Bu
Siu-bun serta kedua isteri mereka, Yalu Yan dan Wanyen Peng.”
It-teng Taysu dan Cu Cu-liu cs. juga menerima perintah itu dan pergi mengatur
tentaranya masing2.
Lalu kata Ui Yok-su pula: “Barisan utara tergolong air, di bawah pimpinan Ui
Yong dengan delapan ribu orang, seribu diantaranya mengawal pimpinan, tujuh ribu
orang lainnya terbagi di bawah Yalu Ce, Nio Tianglo, Kwe Hu dan para Tianglo
lain dari Kay-pang.”
Ui Yong pun menerima perintah itu dengan baik, Kesatuan ini terdiri dari anak
murid Kaypang sebagai kekuatan inti, rata2 orangnya berkepandaian tinggi.
Sesudah membagi ketiga kesatuan tadi, kemudian Ui Yok-su meneruskan “Dan jurusan
timur tergolong hawa, kesatuan ini biar aku Tang-sia Ui Yok-su sendiri yang
memimpinnya, jumlah orangnya juga delapan ribu.”
Semua orang pikir, jurusan timur dipimpin Tang sia, Lam-te mengepalai selatan,
sedang anak murid Pak-kay menduduki utara. Kwe Cing adalah panglima pusat,
memangnya dia juga murid keturunan Ong Tiong-yang, cara mengatur Ui Yok su itu
memang tepat. Tapi masih ada jurusan barat, gerangan siapakah yang akan
mengepalai jurusan ini?
Sementara terdengar Ui Yok-su berkata pula:
“Dan jurusan barat akan dipimpin oleh pejabat ketua Coan-cin-kau, Li Ci-siang.”
Mendengar ini, semua orang merasa baik soal kepandaian maupun tenarnya nama,
pimpinan jurusan ini jauh lebih lemah daripada yang lain2.
Pada saat itulah tiba2 terdengar seorang ber-teriak: “Hai, Ui-Iosia, kenapa kau
jadi lupa padaku?”
Waktu dipandang, kiranya yang bersuara itu adalah Lo-wan-tong Ciu Pek-thong.
“Ciu-heng,” sahut Yok-su, lukamu belum sembuh, belum dapat bekerja berat,
sebenarnya jurusan barat ini harus kau pimpin, tapi…”
“Ah, hanya luka kecil saja, kenapa dipikirkan?” sahut Pek thong cepat “Biarlah
aku memimpin jurusan barat itu saja, He,Ci-siang, apa kau berani berebut dengan
aku?”
“Tecu tak berani,” sthut Li Ci-siang sambil memberi hormat.
“Emangnya aku sudah tahu kau takkan berani” ujar Pek-thong tertawa. Habis itu
segera ia ambil panah tanda tugas dari tangan Li Ci-siang.
Terpaksa kata Ui Yok-su kemudian: “jika begitu, hendaklah Ciu heng suka ber
hati2 Kaupun memimpm delapan ribu orang, seribu di antaranya harap Eng Koh suka
memimpinnya untuk mengawal kau, tujuh regu lain biar dipimpin masing2 oleh Li
Ci-siang dan anak murid Coan cin kau yang lain.”
Habis membagi tugas, lalu Ui Yok-su memerintahkan semua prajurit menerima
perlengkapan seperlunya ke gudang, bila kemudian bendera kebesarannya memberi
tanda, 40 ribu orang terbagi dalam 5 jurusan timur, barat, utara selatan dan
tengah.
Dengan suara lantang ia memberi petuah agar parajurit2 itu bertempur mati2an
menghancurkan musuh. Segera anjuran itu disambut dengan sorak-sorai yang
bergemuruh penuh semangat Ketika meriam berdentum tiga kali, empat pintu benteng
terbuka, lima pasukan itu lantas keluar berbareng.
Perubahan barisan bintang2 ini ternyata aneh sekali, pasukan timur itu setiap
orangnya menggendong sepotong kayu cagak yang panjang, ketika sudah menyerbu
mendekati sebelah timur panggung, seribu perajuritnya lantas gunakan perisai
untuk menahan panah musuh, sedang tujuh ribu orang lainnya segera gunakan cagak
kayu dan dipasang disitu menurut petunjuk Ui Yok-su yang telah mengaturnya
menurut perhitungan Pat-kwa dan pancabuta, maka sekejap saja bagian timur
panggung itu sudah tertutup.
Pasukan jurusan barat berinti anak murid Coancin-kau, para Tosu itu memang
sudah paham barisan bintang2, maka terlihatlah sinar pedang gemerlapan hingga
terpaksa perajurit MongoI menghamburkan panah untuk mencegah lajunya.
Mendadak terdengar suara teriakan bergemuruh di bagian utara, itulah Ui Yong
yang memimpin anak murid Kaypang dengan membawa banyak sekali pipa air terus
semprotkan air berbisa ke tubuh perajurit musuh.
Racun air yang disemprotkan itu ternyata sangat jahat, seketika sangat sakit
tubuh yang terkena, sebentarpun melepuh dan bernanah, karena tak tahan,
perajurit Mongol lari tunggang langgang mundur ke selatan.
Tapi tiba2 terlibat bagian selatan asap mengepul tinggi Kiranya It-teng Taysu
bersama delapan ribu anak buahnya telah melakukan serangan dengan api,
menggunakan sebangsa belerang dan bahan lain yang mudah terbakar, api menyembur
terus dari bumbung besi yang khusus mereka bawa.
Melihat gelagat jelek, segera perajurit Mongol mundur ke bagian tengah.
Namun Kwe Cing sudah siap, ia pimpin delapan ribu orangnya dan maju pelahan,
ketika dilihatnya keadaan pasukan musuh kacau, segera ia mengerahkan pasukannya
menerjang ke tengah menuju ke panggung.
Pada saat itulah tiba2 terdengar disamping panggung itu suara tiupan tanduk,
sekali berteriak dari dalam parit yang sengaja digali itu menongol keluar
berpuluh ribu topi baja.
Kiranya pimpinan pihak Mongol juga pandai mengatur siasat, kecuali di sekitar
panggung jelas kelihatan 40 ribu orang, tapi di dalam tanah galian itu
bersembunyi lagi beberapa puluh ribu perajurit Iain.
Dari jauh Kwe Cing menyangka itu hanya parit biasa yang digali musuh, siapa tahu
justru di situlah tersembunyi kekuatan cadangan musuh.
Karena itulah, terdesaknya pasukan Mongol tadi segera berubah, meski barisan
bintang2 itu dapat menerjang kacau pasukan musuh, tapi kalau hendak membasminya
jelas tak bisa lagi.
Maka terdengarlah genderang dipukul dengan kerasnya, pasukan Song dan Mongol
telah saling tempur, pasukan penjaga disamping panggung lantas menghamburkan
panah hingga beberapa kali Kwe Cing terpaksa harus mundur kembali.
Setelah hampir sejam kedua pihak bertempur dengan sengitnya, mendadak Ui Yok-su
mengibarkan bendera hijau, se-konyong2 pasukan sebelah timur berganti menyerang
keselatan, pasukan barat menggempur ke utara, karena perubahan barisan ini,
kembali pasukan musuh menjadi kacau lagi.
Meski perajurit Song hanya 40 ribu orang, tapi pertama karena barisan bintang2
ini sangat hebat, kedua dipimpin oleh jago2 silat terkemuka pada jaman ini,
ketiga, setiap perajurit Song merasa berterima kasih pada Kwe Cing suami-isteri,
mereka bertekad akan menolong puteri kesayangannya. Oleh sebab itulah meski
jumlah orang Mongol berlipat ganda namun tidak sanggup menahannya.
Sesudah berlangsung agak lama, mendadak Ui Yok-su bersiul panjang dan keras,
bendera isyarat mengebas beberapa kali, pasukan berpanji hijau mundur ke tengah,
pasukan panji merah menuju ke sebelah barat, pasukan panji kuning berganti ke
utara, panji putih menggempur bagian timur, panji hitam mengarah ke slatan,
kembali barisan berubah lagi.
Dari atas panggung Kim-lun Hoat-ong dapat menyaksikan pertempuran hebat di bawah
panggung itu, dalam hati diam2 ia terperanjat sekali, Pikirnya: “Sungguh tidak
nyana di daerah Tionggoan ternyata terdapat orang kosen seperti ini, sejak kini
tak berani lagi aku memandang sepele orang Tionggoan.”
Sementara itu dilihatnya perajurit2 Mongol yang mati atau luka makin lama makin
banyak, pasukan panji kuning terus mendesak ke panggung itu, walaupun ia gunakan
Kwe Yang sebagai sandera, tapi toh tidak tega benar2 membakarnya, ia menoleh dan
memandang anak dara itu, ia lihat meski kedua kaki dan tangan terikat, tapi
kepala anak dara mendongak, sikapnya gagah tak gentar sedikitpun.
“Kwe Yang cilik,” seru Hoat-ong, “lekas kau minta ayahmu menyerah, aku akan
menghitung dari satu sampai sepuluh, jika ayahmu tidak takluk, segera aku
memberi perintah membakarmu.”
“Apa kehendakmu boleh sesukamu. jangankan satu sampai sepuluh, kau boleh
menghitung satu sampai seribu atau sejuta juga aku tak peduli,” sahut Kwe Yang
dingin.
“Hm, apa kau kira aku tak berani membakar kau?” Hoat ong menjadi gusar.
“Haha, sungguh kasihan kau ini,” jengek Kwe Yang tiba2.
“Kasihan apa kau bilang?” bentak Hoat ong.
“Ya,kasihan. Sebab kau tak sanggup melawan ayahku, tak sanggup menandingi
Gwakongku Ui-losia, tak lebih unggul dari pada Itteng Taysu, tak berani pada
Toakokoku Nyo Ko, paling2 kau hanya mampu meringkus aku disini,” demikian Kwe
Yang meng-olok2.
“Caramu ini, biarpun seorang perajurit Siangyang kami juga tidak sudi melakukan
ini Hoat-ong,aku justeru ingin menasehatkan kau.”
“Apa? Nasihat?” seru Hoat-ong sengit
“Ya,” sahut Kwe Yang. “Manusia hidup seperti kau ini apa artinya? Ada lebih baik
kau terjun ke bawah panggung dan membunuh diri saja!”
Kwe Yang tidak pikirkan mati-hidupnya lagi, sejak kecil memang tajam kata2nya,
selamanya tak pernah kalah adu muIut, keruan kini Hoat-ong kewalahan saking
gusarnya serasa dadanya akan meledak.
“Wahai, dengarlah Kwe Cing!” segera ia berteriak keras2.
“Aku akan menghitung dari satu sampai sepuluh, apabila kau masih belum mau
takluk, segera ku perintahkan membakar panggung ini.”
“Boleh kau lihat apakah aku Kwe Cing manusia yang suka takluk atau bukan?” sahut
Kwe Cing.
“Wahai, Kim lun Hoat-ong!” tiba2 Ui Yok-su menyambung.
“Kau salah menaksir musuh, inilah ketidak pintaranmu, Kau menghina seorang dara
cilik, ini namanya tidak berbudi.”
“Kau tak berani bergebrak terang2an dengan kami untuk menentukan menang atau
kalah, ini namanya tidak berani.”
“Manusia yang tidak pintar, tidak berbudi, tiada keberanian tapi masih berani
kau bicara tentang pahlawan dan ksatria segala? Kau tertangkap oleh kami di Coat
ceng-kok. untuk menyelamatkan jiwamu kau telah menyembah “ping-pitulikur”
(27-kali) kepada Kwe Yang cilik, kemudian kau di-ampuninya. Haha, manusia takut
mati dan tamak hidup semacam kau ini ternyata masih ada muka untuk menjadi Koksu
(iman negara MongoI) segala?”
Sebenarnya tentang menyembah minta ampun kepada Kwe Yang segala tiada pernah
terjadi, tapi Ui Yok-su sengaja gembar-gembor di hadapan umum, di depan pasukan
MongoI, agar Hoat-ong serba salah, hendak mendebat, sulit, tidak mendebat, juga
salah.
Bangsa Mongol justru paling menghormati orang gagah berani dan pandang hina pada
manusia pengecut, kini mendengar gemboran Ui Yok-su itu tanpa terasa banyak yang
menengadah ke atas panggung dengan pandangan hina.
Ui Yok-su sudah berpikir panjang, sebelum berangkat ia sudah minta Ui Yong
menterjemahkan kata2 untuk meng-olok2 Hoat-ong ini ke-dalam bahasa Mongol. Kini
digemborkaanya dihadapan berpuluh ribu perajurit yang sedang bertempur itu
sehingga terdengar jelas.
Dan karena mendengar pemimpin dipihak sendiri adalah manusia rendah dan hina,
tanpa terasa pasukan Mongol menjadi kurang semangat, sebaliknya perajurit Song
semakin gagah menyerbu musuh.
Melihat gelagat jelek, Kim-Iun Hoat-ong yang berada di atas panggung itu segera
berteriak lagi: “Wahai, Kwc Cing, dengar kau, aku akan menghitung dari satu
sampai sepuluh, apabila kata2 “sepuluh” terucapkan, puteri kesayanganmu segera
akan terbakar menjabi arang. Nah, satu., . . .. dua. . . …tiga…. empat…
lima…”
“Begitulah setiap kata2 diucapkan ia sengaja berhenti sejenak dengan harapan Kwe
Cing yang tak tahan oleh desakan itu akan menyerah atau sedikitnya juga akan
patah semangat, lalu tak berani bertempur lagi.
Dilain pihak, Kwe Cing, Ui Yok-su, It-teng Taysu, Ui Yong, dan Ciu Pek-tong yang
memimpin lima pasukan, ketika mendengar Hoat ong mulai menghitung, sedangkan di
bawah panggung beratus serdadu Mongol sudah mengangkat obor mereka tinggal
menunggu komando. bila tanda diberikan segera panggung itu akan dibakar
Karena itu Kwe Cing dan lain2 menjadi kuatir dan gusar, mati2an mereka menerjang
ke depan panggung buat menolong Kwe Yang.
Tapi barisan pemanah bangsa Mongol yang terkenal tangkas itu sudah siap, di
bawah hujan panah itu segera terlihat Su-sui Hi-un, Nio tianglo, Bu Siu-bun cs,
terluka panah semua, malahan ada beberapa anak murid Kay pang dan Coan-cin-kau
yang gugur.
Sebelumnya Ui Yong sudah suruh Kwe Hu meminjamkan “Nui-wi-ka” atau kutang
berduri landak kepada kakeknya, Ui Yok-su, sebab pertempuran ini berbahaya luar
biasa, apabila karena ingin menolong Kwe Yang, tapi jiwa ayahnya harus berkorban
atau terluka, hal ini benar2 akan membuat Ui Yong menyesal selama hidup.
Karena maksud baik sang puteri itu sukar di tolak, terpaksa Ui Yok-su
menerimanya, tapi diam2 ia pinjamkan baju pusaka itu kepada Ciu Pek-thong. Sebab
itulah meski luka Pek-thong belum sembuh, tapi ia sudah berani terobosan kian
kemari di bawah hujan panah dan senjata musuh tanpa luka.
Malahan ketika melihat panah musuh yang mengenai tubuhnya jatuh semua, hati si
tua nakal itu menjadi riang, terus saja ia menyerbu maju, di mana tangannya
tiba, di situlah segera musuh menggeletak.
Sementara itu terdengar Hoat-ong sudah menghitung sampai . . . . delapan. . . .
. sembilan. sepuluh! Baik, bakarlah!” Dan sekejap saja asap lantas ber-guIung2,
api berkobar dengan hebat.
Walaupun sebenarnya delapan ribu perajurit panji kuning semuanya membawa kantong
pasir, tapi karena tak sanggup menyerbu sampai di dekat panggung, terpaksa
mereka tiada bisa berbuat apa2.
Pikiran Ui Yong menjadi butek ketika dilihatnya api menjilat dengan hebatnya,
mukanya pucat dan orangnya sempoyongan. Lekas Yalu Ce memayang ibu mertua itu
dan katanya: “Hendaklah Gakbo mengaso dulu ke garis belakang, sekalipun jiwaku
harus berkorban, Yang-moay pasti akan kutolong.
Pada saat itulah se-konyong2 terdengar suara teriakan gemuruh hebat memecah
bumi, dari garis belakang pasukan MongoI mendadak menyerbu tiba dua pasukan
berkuda dan langsung menggempuf benteng kota Siangyang.
Terdengarlah teriakan “Ban swe, Banswe!” yang hiruk-pikuk, panji kebesaran raja
Mongol, Monko, tertampak di angkat tinggi2 dan cepat sekali sudah sampai di
bawah benteng Siangyang, di bawah pimpinan sang raja mereka, pasukan Moagol itu
bertambah semangat menggempur benteng.
Di lain pihak, tatkala itu Kwe Cing dengan satu tangan membawa perisai dan
tangan lain bertombak, sebenarnya tinggal ratusan tindak dari panggung,
betapapun barisan pemanah menghujam panah tetap tak bisa melukainya.
Tampaknya sebentar lagi ia pasti dapat melompat ke atas panggung, tiba2 di
dengarnya di bagian belakangnya keadaan menjadi kacau, ia terkejut, pikirnya:
“Celaka, terperangkap oleh tipu musuh “memancing harimau tinggalkan gunung”.
Sedangkan gubernur kota lemah dan penakut walaupun kekuatan tentara cukup, tapi
tiada pimpinan, mungkin urusan bisa runyam.”
Sebenarnya ke-40 ribu tentara dari barisan bintang2 ini kuat menandingi beratus
ribu patukan Mongol melawan dengan gigihnya, sedangkan raja Mangol tanpa
pikirkan. pertempuran besar yang sedang berlangsung itu terus memimpin sendiri
pasukan lain untuk menggempur benteng Siangyang.
Tiba2 Kwe Cing berganti pikiran, ia membatin. “Urusan anak soal kecil,
pertahanan kota lebih penting! Karena itu, segera ia berteriak: “Gakhu, kita
jangan urus anak Yang gagal lagi, lekas kembali menggempur bagian belakang
musuh!”
Waktu Ui Yok-su memandang, ia lihat api ber-kobar2 tambah hebat, Hoat-ong lagi
turun setindak demi setindak dari tangga panggung itu. Kini di atas panggang
melulu tinggal Kwe Yang saja yang teringkus. Sudah, tentu Ui Yok-su juga bisa
berpikir, ia mengerti seorang Kwe Yang tidak dapat dibandingkan dengan hancur
atau selamatnya kota Siang-yang.
Karena itu, ia menghela napas panjang dari berkata: “Sudahlah, Lalu ia kibarkan
panji hijau dan menarik pasukannya kembali ke selatan.
Kwe Yang yang teringkus di atas panggung itu menyaksikan ayah-bunda dan
Gwakongnya tak berdaya menolongnya, sedangkan atap tebal dan api menganga
membakar dengan hebatnya mengitari panggung, ia tahu, sebentar lagi dirinya
bakal terbakar mati.
Mula2 iapun takut sekali, tapi akhirnya ia menjadi tenang malah, ia memandangi
jauh ke depan, ia pikir: “Sebentar lagi aku akan mati, tapi entah saat ini
Toakoko berada di mana, apakah sudah naik kembali dari jurang itu?”
Begitulah, memandangi lereng2 gunung yang jauh itu, ia menjadi terkenang pada
waktu berkumpul dengan Nyo Ko walaupun hanya beberapa hari saja, Meski
selanjutnya tiada harapan buat bertemu pula, tapi rasanya sudah puas hidup ini.
Pada saat itulah, tiba2 terdengar sesuatu suara nyaring yang sayup2 terbawa
angin, begitu tajam suara itu hingga suara gemuruh pertempuran beratus ribu
perajurit itu seakan2 tenggelam di bawah pengaruh suara itu.
Terkesiap hati Kwe Yang, Suara itu mirip benar dengan suara siulan Nyo Ko
tatkala dulu menggetarkan kawanan binatang2 buas. Waktu ia menoleh ke arah
datangnya suara itu, ia lihat pasukan MongoI di arah barat-laut itu
tunggang-langgang tersiak minggir ke dua samping hingga terbelah menjadi satu
jalan, dua orang tampak sedang datang dengan cepat bagai bahtera laju didorong
angin buritan, di depan kedua orang itu sebagai pembuka jalan adalah seekor
burung raksasa, kedua sayapnya terpentang menyabet ke kanan dan ke kiri hingga
panah yang menghujam terpental pergi semua.
Burung raksasa ini tangkas dan ganas luar biasa, nyata itulah Sin-tiau atau
rajawali sakti kawan Nyo-Ko itu, betapa kuat kedua sayapnya ternyata tiada
satupun panah yang bisa melukainya.
Girang luar biasa Kwe Yang, waktu ia mengawasi kedua orang yang datang itu satu
berkopiah hijau berbaju kuning, siapa lagi kalau bukan Nyo Ko dan di sebelahnya
seorang wanita cantik berbaju putih mulus, Keduanya sama2 menggunakan pedang
yang diputar kencang sambil menyusul di belakang Sin-tiau terus menerjang ke
arah panggung.
“Toakoko, apakah wanita inilah Siao-liong-li?” demikian saking ingin tahu Kwe
Yang lantas berteriak menanyakan.
Memang tidak salah wanita di samping Nyo Ko itu adalah Siao-liong-li, cuma
jaraknya terlalu jauh, maka teriakan Kwe Yang itu tidak terdengar oleh Nyo Ko.
Begitulah dengan tangkas si rajawali sakti menyampuk semua anak panah yang
berhamburan, bila ada pcrajurit atau perwira Mongol yang berani merintangi,
segera Nyo Ko dan Siao-liong-li menggulingkan mereka dengan pedang.
Dengan saling melindungi, tidak antara lama mereka sudah menerjang sampai di
depan panggung itu.
“Jangan kuatir, adik cilik, aku datang menolong kau!” seru Nyo Ko.
Sementara itu sebagian tangga panggung itu sudah terbakar, tapi sekali enjot,
Nyo Ko melompat ke undukan tangga bagian tengah terus memanjat ke atas.
Pada saat itulah mendadak dari atas angin pukulan yang maha dahsyat telah
menghantamnya, nyata itulah Kim-lun Hoat-ong yang melontarkan pukulan saktinya.
Lekas2 Nyo Ko baliki tangannya menyambut maka terdengar suara “plak” yang keras
kedua tenaga raksasa saling bentur, tubuh masing2 terguncang semua, tangga
panggung itupun ikut ter-goyang2 hampir patah.
Sekali jajal saja kedua orang sama2 terkejut, sungguh tidak terduga, 16 tahun
tidak bertemu, kepandaian lawan ternyata sudah banyak lebih maju.
Melihat keadaan sangat genting, tak mungkin mengadu tenaga di tengah2 tangga
itu, mendadak Nyo Ko angkat pedangnya menusuk ke atas, susul-menyusul ia
membabat kaki orang terus menusuk perut lawan.
Berada diatas Kim lun Hoat-ong dapat mengeluarkan senjata rodanya buat menempur
Nyo Ko, tapi roda bentuknya pendek, terpaksa ia harus membungkuk untuk bisa
menghantam orang, hal ini sangat tidak leluasa, maka terpaksa ia mundur ke atas
panggung.
Karena itu, bertubi2 Nyo Ko mengirim beberapa kali tusukan lagi ke arah punggung
Hoat-ong, namun Hoat-ong tidak menoleh, hanya gunakan kepandaian
“thing-hong-piao gi” atau mendengarkan angin membedakan senjata, ia ayun roda ke
belakang buat menangkis, punggungnya seakan2 bermata, tiap tangkisannya sangat
tepat
“Bangsat gundul, hebat juga!” mau-tak-mau Nyo Ko memuji ketangkasan orang.
Ketika Hoat-ong sudah menginjak di atas panggung, sekali membalik, segera roda
emasnya me-ngepruk kepaia Nyo Ko. Syukur Nyo Ko sempat mengegos ke samping,
berbareng itu pedangnya menegak ke atas, tubuhnya mencelat dan selagi terapung
di udara. ia menubruk ke bawah dengan pedang menusuk kemuka musuh.
Lekas2 Hoat-ong angkat roda emas buat menangkis, sedang roda perak di tangan
lain lantas mengetok ke batang pedang Nyo Ko.
Tadi mereka sudah saling gebrak di atas tangga, Nyo Ko merasa tenaga Hoat-ong
sangat kuat dan berat, belum pernah seumur hidupnya ketemukan lawan setangguh
ini, maka diam2 ia sangat heran, ia pikir dengan gemblengannya di tengah ombak,
tenaganya cukup kuat untuk melawan gelombang ombak, 16 tahun yang lalu Hoat-ong
sudah bukan tandingannya tapi tadi ketika ia menghantam hampir2 saja dirinya tak
sanggup menahannya malah?
Karena pikiran itu, demi nampak kedua roda orang maju berbareng, ia tidak
menghindarinya melainkan pedang disendal, ia sengaja hendak menjajal tenaga
Hoat-ong yang sebenarnya.
Maka terdengarlah suara gemerincing keras, kalau orang lain pasti takkan tahan
oleh tenaga sendalan Nyo Ko ini, tapi Hoat-ong punya “ilmu sakti bertenaga naga
dan gajah” dan sudah terlatih sampai tingkatan ke-11, ketika kedua tenaga
raksasa kembali berbentur, maka- terdengarlah suara “kletak”, pedang Nyo Ko yang
kalah, patah menjadi beberapa potong, sedang sepasang roda Kim-lun Hoat-ong juga
terlepas dari cekalan, terpental jatuh ke bawah panggung, sial bagi tiga pemanah
Mongol, kepala mereka pecah terketok oleh roda2 itu.
Setelah gebrakan ini, kedua orang sama2 melompat mundur, tangan mereka merasa
pedas kesemutan. Namun Hoat ong masih belum kehabisan senjata ia masih mempunyai
serep, segera roda besi dan roda tembaga dikeluarkannya terus menubruk maju
pula.
Sebaliknya Nyo Ko tiada mempunyai senjata lain, terpaksa lengan baju kirinya
mengebas, ia balas menghantam dengan tangan kanan.
“Hai, hai, Hwesio besar, memangnya aku sudah bilang kau tak mampu menandingi
Toakokoku, sekarang benar tidak?” demikian Kwe Yang lantas ber-teriak2, “Ha,
masih berani kau berlagak pandai, kenapa sekarang kau bersenjata untuk melawan
dia yang bertangan kosong?”
Tapi Hoat-ong hanya menjengek saja, ia tidak menjawab, permainan kedua rodanya
makin kencang.
Tatkala itu Ui Yok-su, Kwe Cing dan Ui Yong cs. lagi pimpin pasukannya kembali
menolong kota Siangyang, ketika mendadak melihat Nyo Ko, Siau-liong li dan
Sin-tiau muncul terus menyerbu keatas panggung, tentu saja semangat mereka
terbangkit. Segera Ui Yok- su geraki panji komandonya, ia menarik kelima
pasukannya masing3 empat ribu orang menjadi berjumlah 20 ribu orang untuk
menggempur bagian belakang musuh yang sedang menyerang benteng kota itu, sisanya
20 ribu orang tetap diformasi semula, tetap mengepung panggung untuk membantu
Nyo Ko.
Walaupun pasukan Song sudah berkurang se-paroh, tapi demi nampak Nyo Ko sudah
naik ke atas panggung, mereka menjadi gagah berani, dengan 1 lawan 10 mereka
bertempur mati2an. Cuma pasukan pemanah Mongol berjaga terlalu rapat dan kuat
hingga beberapa kali pasukan Song menyerbu maju dan selalu kena di desak mundur
lagi.
Dalam pada itu di bawah benteng Siangyang pertempuran juga sedang berjalan
dengan sengitnya antara yang menggempur dan yang bertahan, gubernur militer
kota, Lu Bnn-hwan, dengan uniform lengkap, tidak berani memimpin sendiri ke atas
benteng melainkan mengkeret sembunyi di dalam kamar dengan dua selir
kesayangannya, dengan badan gemetar sebentar2 menyebut sabda Buddha, lalu saat
bertanya kuatir bagaimaaa suasana pertempuran di luar?
Pada saat itulah dengan bertangan kosong dan berlengan tunggal Nyo Ko telah
menempur kedua roda besi dan tembaga Kim-lun Hoat-ong hingga lebih dari 400
jurus.

kembalinya rajawali 26

Juni 24, 2010

“Kau bilang sayang Ltong-jio pan-yok-kang tiada ahli warisnya, kenapa tidak kau
turunkan saja padaku, kemudian kau boleh bunuh diri,” sahut Pek-thong tertawa.
Tapi sebelum Hoat ong buka suara pula, tiba2 terdengar suara rajawali betina
yang telah membawa rajawali jantan dari dalam jurang, kedua rajawali itu sama
basah kuyup, agaknya di dalam jurang itu adalah sebuah kolam air.
Rajawati jantan itu bulunya serawutan tak keruan, napasnya sudah kempas kempis,
tapi cakarnya masih mencengkeram kopiah emas Hoatong dengan kencang.
SeteIah meletakkan yang jantan, rajawali betina mendadak terjun lagi ke bawah
jurang, ketika naik pula, di atas punggungnya menunggang satu orang ternyata
adalah Kwe Yang yang disangka sudah mati itu.
Keruan Ui Yong terkejut bercampur girang, cepat ia berseru: “Yang-ji…
Yang-ji!” – ia memburu maju untuk menurunkan puterinya itu dari punggung
rajawali betina.
Melihat Kwe Yang ternyata tak kurang suatu apapun, Hoat-oag juga tercengang,
Waktu Ciu Pek thong masih menahan tangan Hoat-ong, sekali si tu nakal ini kedipi
It-teng dan Ui Yok-su, segera Tang sia dan Lam-te turun tangan berbareng, dengan
cepat ketiak kanan dan dan kiri Hoat-ong sekalian kena ditutuk.
Menyusul itu Ciu Pek-thong menambahi sekali gebuk pada “Ci-yang-hiat” di
punggungnya sambil tertawa: “Nah, tidurlah sebentar!” Maka lemaslah kedua kaki
Hoat-ong, ia lantas deprok terduduk.
It-teng bertiga saling pandang dengan tercengang, sungguh Hwesio ini lihay luar
biasa, beruntun tubuhnya kena ditutuk dan digebuk tapi masih tidak roboh
menggeletak.
Lalu merekapun mendekati Kwe Yang untuk menanya keadaannya.
“Mak,” demikian anak dara itu menutur,” ia berada di bawah… di bawah… lekas
menolongnya …. lekas menolongnya…” saking cemas dan kuatir hanya beberapa
kata2 itu saja dapat diucapkannya, lalu jatuh pingsan.
“Tidak apa,” ujar It-teng sesudah pegang nadi Kwe Yang. Segera ia memijit
beberapak kali pinggang anak dara itu, selang tak lama, Kwe Yang siuman.
“Di manakah Toakoko, apakah dia sudah naik?.” tanyanya segera setelah anak dara
itu menenangkan diri.
“Apakah Nyo Ko juga berada di bawah sana?” tanya Ui Yong cepat.
Kwe Yang mengangguk, sahutnya pelahan: “Ya, Tentu…” Dalam hati iapun berkata:
“Jika ia tidak di bawah, untuk apa aku ikut terjun ke sana?”
Melihat badan puterinya basah kuyup, ” Ui Yong menanya lagi: “Apakah di bawah
adalah sebuah kolam air?”
Kwe Yang mengangguk saja, ia pejamkan matanya, tak sanggup lagi buka suara,
hanya menunjuk ke bawah jurang.
“Kalau Nyo Ko memang berada di bawah sana, terpaksa suruh Tiau-ji mengambilnya
naik,” ujar Ui Yong, Lalu ia bersuit buat memanggil rajawali betina tadi.
Tapi aneh, sudah berapa kali ia bersuit rajawali betina itu masih tidak
menggubrisnya. Ui Yong menjadi heran, sudah berpuluh tahun kedua rajawali ini
sangat penurut, kenapa sekarang anggap angin perintahnya?
Maka kembali ia ulangi suitannya, ia lihat2 rajawali betina itu pentang sayap
dan terbang lagi2, sesudah mengitar beberapa kali dan bersuara memilukan,
mendadak burung itu menjungkal ke bawah secepat batu meteor.
“Celaka!” keluh Ui Yong dalam hati, segera iapun berteriak: “Tiau-ji”
Akan tetapi sudah terlambat, rajawali itu tertumbuk batu cadas hingga kepala
pecah dan sayap patah terus mati.
Semua orang terkejut, waktu memeriksa binatang itu, kiranya rajawali jantan
sudah dingin beku dan sudah lama mati. Semua orang menjadi terharu oleh jiwa
setia sehidup semati sepasang burung itu, Ui Yong paling berduka hingga hampir
mencucurkan air mata.
“Suhu, Suci, jika Nyo-toako berada di bawah jurang, cara bagaimana kita harus
menolongnya naik?” kata Thia Eng kemudian.
“Yang-ji” tanya Ui Yong sambil mengusap matanya yang basah, “Sebenarnya
bagaimanakah keadaan di dalam jurang sana?”
Sementara Kwe Yang sudah pulih kembali semangatnya, maka tuturnya: “Begitu aku
jatuh ke bawah, dengan cepat ku tenggelam ke dasar kolam, dalam keadaan gugup
akupun kemasukan beberapa cegukan air Kemudian entah… entah mengapa aku
terapung ke permukaan air dan dan Nyo toako telah menjambak rambutku terus
diangkat ke atas…”
Ui Yong rada lega mendengar itu, katanya. “Apakah di tepi kolom itu ada guanya
yang dapat dibuat berdiri?”
“Ya, di tepi kolom itu banyak pepohonan” sahut Kwe Yang.
“Oh,” kata Ui Yong “Dan sebab apa kau terjun kebawah?”
“Waktu aku diangkat ke atas, Nyo toako juga menanya aku seperti itu,” tutur Kwe
Yang. “Aku lantas keluarkan jarum emas dan serahkan padanya, kataku : “Aku
meminta agar engkau menjaga dirimu dan janganlah mencari pikiran pendek.”
Tanpa berkedip ia memandangi aku, tak lama kemudian rajawali jantan itu jatuh ke
bawah, menyusul yang betina lantas datang membawa kawannya ke atas, lalu datang
lagi membawa aku.
Kuminta Nyo- toako juga naik, tapi ia tidak membuka suara dan aku dinaikkan nya
keatas punggung rajawali Mak, suruhlah rajawali itu turun kebawah lagi untuk
menjemputnya.”
Sementara Ui Yong tak mau memberi tahu tentang kematian kedua rajawali, ia
tanggalkan baju luarnya sendiri untuk menutupi badan sang puteri yang basah itu.
“Tampaknya sementara Ko-ji tidak berbahaya, lekas kita pintal seutas tambang
panjang untuk menjemputnya naik!” kata Ui Yoog kemudian kepada kawan2nya.
Be ramai2 semua orang lantai mengelotoki kulit pohon untuk dibikin tali,
Kecuali Hoat-ong yang tertutuk jalan darahnya, Kwe Yang belum pulih dari
letihnya, selebihnya ikut kerja keras.
Meski mereka adalah jago silat terkemuka, namun untuk mengikal tambang tidaklah
lebih pandai daripada tukang yang biasa, maka sibuk sampai hari sudah gelap baru
ratusan tombak tambang itu dapat mereka, pilin, tampaknya masih jauh dari cukup.
Thia Eng mengikat sebuah batu pada ujung tambang itu dan diturunkan ke bawah
jurang, ujung tambang yang lain diikat pada dahan sebuah pohon, tali itu terus
dipilin dan makin panjang terus menurun ke bawah.
Satu malam suntuk mereka kerja terus, sampai besok paginya, Kwe Yang juga ikut
membantu dan tambang itupun terus bertambah panjang, Tapi Nyo Ko yang katanya
berada di bawah jurang itu sama sekali tak mengirimkan sesuatu tanda atau
berita.
Ui Yok-su mulai kuatir, ia keluarkan serulingnya terus ditiup dengan tenaga
dalamnya yang hebat, suara seruling begitu nyaring merdu tersiar ke dalam
jurang, kalau Nyo Ko mendengar suara seruling itu pasti akan bersiul panjang
untuk menjawabnya. Siapa tahu keadaan masih tetap sunyi saja.
Sesudah berpikir sejenak, Ui Yong memotong sepotong kayu, dengan ujung pedang ia
ukir beberapa huruf di atas kayu itu, bunyinya singkat: “Apa selamat? Harap
jawab!” – Lalu batang kayu itu dilemparkan ke dalam jurang, Namun sudah lama
sekali, tetap tiada sesuatu suara di dalam jurang sana hingga semua orang
menjadi kuatir.
Meski jurang sangat dalam, tapi panjang tambang agaknya sudah mencapai dasarnya,
biarlah ku turun melihatnya,” kata Thia Eng.
“Aku saja yang turun!” seru Ciu Pek-thong tiba2, dan tanpa menunggu jawaban
orang lain, cepat saja ia merosot turun dengan tambang itik hanya sekejap saja
orangnya sudah menghilang menembus kabut yang mengapung di permukaan jurang.
Agak lama kemudian, secepat kera Ciu Pek-thong merembet naik lagi, rambut dan
jenggotnya berlepotan lumut, ber-ulang2 si tua ini menggeleng kepala dan
berkata: “Sedikitpun tiada bayangannya, mana ada Nyo Ko segala?”
Karena itu, semua orang memandangi Kwe Yang dengan rasa sangsi.
“Tadi Toakoko berada di bawah, kenapa bilang tidak ada?” kata Kwe Yang pasti,
“la duduk di atas pohon besar di tepi kolam.
Thia Eng tidak mau banyak bicara, “Segera ia merosot turun dengan tambang,
menyusul Liok Bu-siang ikut turun dan ber-turut2 Eng Koh selanjutnya Ui Yok Su
dan It teng Taysu juga ikut turun ke bawah. Bagi mereka pertama-tama kuatirkan
keselamatan Nyo Ko, kedua tertarik dan ingin mengetahui apa macamnya pemandangan
di bawah jurang itu.
Ui Yong yang turun paling belakang memberi pesan pada sang puteri: “Yang ji,
kesehatanmu belum puIih, jangan kau ikut turun. jika Nyo- toako berada di bawah,
dengan kawan2 begini banyak kita pasti dapat menolongnya ke atas”
Meski perasaan sangat kuatir. tapi Kwe Yang mengiakan dengan mengembeng air
mata.
Ui Yong pandang pula Hoat-ong yang deprok di tanah itu, ia kuatir kalau2 Lwekang
terlalu lihay hingga dapat melepaskan tutukan yang sebenarnya harus lewat 12 jam
baru bisa punah sendirinya maka ia mendekatinya dao menu pula dipunggung, dada
dan kedua lengannya di tempat2 yang melumpuhkan, habis itu baru ia menyusul
melorot kebawah jurang.
Daya merosotnya makin lama makin cepat, dalam sekali jurang itu hingga lama
barulah sampai dibawah. Ia lihat dibawah jurang itu memang benar ada sebuah
kolam yang berair biru ke hijau-hijauan, Ui Yoksu cs berdiri di tepi kolam lagi
memeriksa dengan teliti, tapi jejak Nyo Ko tidak terlihat dikiri kolam sana, di
atas pohon terdapat lebih 30 buah sarang tawon, terdengar suara mendengungnya
tawon yang mengitari sarang2 nya, nyata itulah tawon putih.
Tergerak pikiran Ui Yong, katanya cepat: “Ciu-toako, lekas kau tangkap seekor
tawon itu, coba kita lihat apakah disayapnya juga terdapat tulisan.”
Ciu Pek-thong menurut, ia tangkap seekor tawon itu, tapi tiada terdapat sesuatu
tulisan. “
Waktu Ui Yong memeriksa sekitar jurang itu ternyata empat penjuru melulu dinding
tebing yang beratus2 tombak tingginya, terang tiada jalan tembusan lain, pohon2
besar di tepi kolam berbentuk fiftfa2 daQ tak diketahui apa namanya, waktu m’en
(Sigak, kab,ui rapat menutupi permukaan jurang ibmgga tak tertembus sinar
matahari.
Sedang ia ter-menung2, mendadak terdengar Ciu Pek-thong berseru: “Hai, seekor
ini ada tulisan-nya!”
Lekas Ui Yong mendekatinya dan benarlah kedua sayap tawon itu tertisik tulisan,”
bunyinya tetap “Aku berada didasar, Coat-ceng kok.”
Di antara orang2 yang hadir sekarang, Ui Yong sendiri yang paling pandai
menyelam, tanpa disuruh lagi ia ringkaskan bajunya, ia telan sebutir pil “Kiu
hoa-giok-loh-wan” untuk menjaga kemungkinan ular air berbisa dan lain2, habis
itu ia terjun ke dalam kolam.
Cepat Ui-Yong menyelam ke bawah, makin dalam air kolam itu semakin dingin hingga
serasa menusuk tulang, Diam2 Ui Yong terkejut melihat air hijau berlumut se
akan2 membeku itu. Tapi ia belum putus asa, sesudah menongol kepermukaan air
buat hirup udara, lalu ia menyelam lebih mendalam lagi.
Ketika sampai tempat yang sangat dalam, dari dasar kolam itu dengan sendirinya
timbul semacam daya penolak yang kuat, sekalipun Ui Yong sudah berusaha
sebisanya juga tak sanggup menyelam sampai dasar kolam.
ApapuIa dinginnya tak tertahan, sekitarnya juga tiada tanda2 yang aneh, terpaksa
ia timbul kembali ke atas
Melihat Ui Yong kedinginan hingga bibirnya ke biru2an, rambutnya mengkilat
putih, ternyata terbeku selapis es tipis, sungguh semua orang ter-kejut sekali.
Lekas2 Thia Eng dan Liok Bu-siang mengumpulkan kayu kering dan membakar api
unggun untuk menghangatkan badan Ui Yong.
Sementara itu Kwe Yang yang ditinggalkan di atas jurang sana sedang berpikir:
“Walaupun Toa-koko tak dapat naik, pasti Gwakong dan ibu akan menyeretnya dengan
paksa. Kenapakah ia membunuh diri? Apakah Siao-liong-Ii benar2 sudah mati?
selamanya takkan bertemu lagi dengan dia?”
Begitulah selagi ia ter-mangu2, tiba2 didengarnya suara rintihan Kim-Iun
Hoat-ong.
Waktu Kwe Yang berpaling, ia lihat urat daging di muka orang berkerut2 seperti
kejang, terang sedang menderita sekali “Hm, ini namanya kualat, makanya jangan
suka membunuh orang?” demikian jengek anak dara itu.
Tapi Hoat-ong masih terus meng aduh2 semakin keras, sorot matanya mengunjuk rasa
minta dikasihani.
Betapapun memang hati Kwe Yang bajik dan welas-asih, ia menjadi tak tega
akhirnya, maka tanyanya: “Kenapa? Sangat sakitkah?”
“lbumu telah tutuk ” Leng-tay-hiat” dan ” Ki koat-hiat” dipunggung dan dadaku,
maka seluruh badanku serasa digigit beratus ribu semut, sakit dan gatal luar
biasa, kenapa ia tak mau tutuk sekalian aku punya ” Tan-tiong-hiat” dan “
Giok-cim-hiat?” sahut Hoat-ong,
Kwe Yang terkesiap, ia sudah pernah belajar ilmu Tiamhiat dengan ibunya dan tahu
tempat2 “Tantiong” dan “Giok-cin” adalah jalan darah penting di tubuh manusia,
asal sedikit terluka saja bisa terbinasa, maka katanya: “lbuku tidak
menghabiskan jiwamu, kau tidak berterima kasih, masih cerewet apa?”
“Kalau ia tutuk kedua jalan darahku itu, rasa pegal kesemutanku akan banyak
berkurang,” kata Hoat-ong sungguh2 “Begini tinggi ilmu kepandaian-ku, masakah
hanya sekali tutuk bisa bikin jiwaku melayang?”
Akan tetapi Kwe Yang tak percaya, “Ah, jangan kau bohong,” jengeknya. “Kata ibu,
tempat “Tan tiong dan Giok-cim” sedikit tertutuk lantas jiwa melayang. Kau hanya
pegal kesemutan, bolehlah bersabar sebentar, segera ibu dan lain-lainnya akan
kembaii.”
Nona Kwe.” kata Hoat-ong pula, ” sepanjang jalan bagaimana aku memperlakukan
dirimu?”
“Baik juga,” sahut Kwe Yang. “Cuma kau telah membunuh Tiang jiu-kui dan
Toa-thau-kui, pula membunuh kedua rajawaliku, lebih baik lagi kau padaku juga
aku tidak mau terima.”
“Baiklah, bunuh orang ganti jiwa, sebentar kau boleh, bunuh aku untuk balas
sakit hati kawanmu,” jelas Hot-ong, “Tapi sepanjang jalan aku begitu baik
padamu, apa balas budimu?”
“Coba katakan cara bagaimana membalasnya?” tanya Kwe Yang.
“Harap kau tutuk Tan-tiong dan Giok-cim di punggung dan dadaku masing2 sekali,
biar mengurangi penderitaanku, itupun sudah membalas budi padaku” kata Hoat ong.
Namun Kwe Yang geleng2 kepala, “Tidak, kau ingin aku membunuhmu, hm, mana mau
aku melaksanakannya!” sahutnya.
“Hayolah, tutuklah tak nanti aku mati” pinta Hoat-ong. “Sebentar bila ibumu
datang, malahan aku ingin minta ampun padanya, tidak nanti aku mati secara
begini mudah.”
Mendengar orang bicara dengan sungguh2, Kwe Yang menjadi ingin coba2, maka
dengan pelahan ia tutuk dada orang sekali.
“Ehm, segar rasanya, tutuklah lebih keras,” kata Hoat-ong sambil menarik napas
dalam2
Segera Kwe Yang tutuk lebih kuat, ia lihat Hoat-ong bersenyum, sedikitpun tidat
menderita, mukanya dari merah berubah pucat, lalu merah lagi.
Habis itu Hoat-ong berkata: “Nah, lebih keras lagi sedikit….!”
Kwe Yang menurut, ia pakai ilmu menutuk yang dipelajarinya dari ayah-bundanya
dan menutuk pula sekali di “Tan tiong-hiat” di dada orang.
“Ah, baiklah sekarang, dadaku tidak pegal lagi! Nah, aku tidak mati, bukan?”
kata Hoat-ong.
Kwe Yang sangat heran oleh kekebalan orang, katanya kemudian “Sekarang aku
menutuk lagi Giok-cim-hiat.”
Mula2 iapun tutuk pelahan seperti tadi, lalu tambahi sedikit lebih keras.
“Banyak terima kasih, banyak terima kasih!” ujar Hoat-ong. Lalu ia pejamkan mata
menghimpun tenaga, mendadak ia melompat bangun sambil membentak “Marilah pergi!”
Keruan terperanjat luar biasa Kwe Yang, “Kau… kau…” tapi tak sempat ia
berkata lebih banyak, sekali Hoat ong mencekal, pergelangan tangannya dipegang
terus diseret pergi.
Nyata ilmu melancarkan jalan dan membuka tempat tutukan justeru adalah Lwekang
khas yang sangat hebat bagi golongan pertapaan di Tibet. Ketika Kwe Yang menutuk
“Tan-tiong” dan “Giok-cim” kedua tempat jalan darah, diam2 Hoat-ong sudah
menghimpun tenaga melancarkan kembali aliran darahnya. Kalau Kwe Yang kuatir
tutukannya itu akan menewaskan orang, padahal justeru malah membuka jalan
darahnya.
BegituIah sambil menyeret Kwe Yang, segera Kim-lun Hoat-ong berlari pergi, tapi
baru beberapa tombak jauhnya, tiba2 timbul pikiran jahatnya. ia lihat tambang
yang terikat didahan pohon itu, ia pikir asal tambang ini diputuskan, Ciu
Pek-thong, It-teng, Ui Yok-su dan lain2 pasti akan terbinasa di dalam jurang
itu, maka cepat ia melompat ke sana terus hendak memutuskan tali tambang itu.
Tentu saja Kwe Yang terkejut, tanpa pikir sikutnya menyodok pinggang Hoat-ong di
tempat Nan-ik.hiat”
Salah Hoat-ong sendiri, ia terlalu panjang sepele anak dara itu, maka sikutan
itu dengan tepat mengenai jalan darah itu hingga sebagian tubuhnya sesaat lemas
tak bertenaga.
Segera Kwe Yang meronta melepaskan cekalan orang, kedua tangannya memegang
punggung Hoat-ong dan berkata: “Aku dorong kau ke dalam jurang, biar kau
terbanting mampus!”
Terkejut sekali Hoat-ong, diam2 ia pusatkan tenaga dalam buat punahkan jalan
darah sikutan anak dara tadi, sedang lahirnya tidak menjadi gugup, ia ter babak2
dan menggertak: “Hahaha, melulu sedikit kepandaianmu yang tak berarti-ini
masakah mampu mendorong diriku?”
Gertakan ini ternyata bikin Kwe Yang menjadi ragu2, Padahal saat itu Hoat-ong
belum terlepas jalan darahnya, asal sedikit ia dorong, tentu akan terjerumus ke
dalam jurang, atau dengan lain jalan, umpama menutuk pula beberapa kali jalan
darahnya yang lain, tentu Hoat ong akan lumpuh.
Cuma tadi tutukannya malah bikin Hoat-ong berbangkit kembali, maka Kwe Yang
pikir, tiada gunanya menutuknya lagi, sebab itulah ia melompat pergi dan berlari
ke tepi jurang.
“Lebih baik aku mati bersama2 dengan ibu saja!” katanya tiba3 terus hendak
terjun ke dalam-jurang.
Terkejut Hoat-ong melihat anak dara itu telah menjadi nekat, saat itulah tutukan
dapat dipunahkannya, tak sempat lagi ia putuskan tambang tadi, tapi cepat
menubruk ke arah Kwe Yang.
Cepat Kwe Yang berlari pula, ia melompat kian kemari di antara batu2 cadas dan
menyusuri pohon2 besar.
Jika di tempat datar, sekali lompat saja pasti Hoat-ong bisa menangkapnya
kembali, tapi di puncak karang Toan jong-khe ini penuh batu2 besar dan pohon2,
Kwe Yang sengaja menyusup ke sana dan mengumpet ke sini, makin lari makin jauh,
seperti orang lagi main kucing2an dengan Hoat-ong.
Sesudah lama, akhirnya sekali menubruk dapatlah tangan Kwe Yang dipegang
Hoat-ong.
Ketika main umpet2an dengan Hoatong, Kwe Yang sudah mulai melupakan apa yang
terjadi tadi, kini sesudah kepegang barulah ia sadar akan gelagat jelek, cepat
ia berteriak. Tapi secepat itu pula Hoat-ong sudah dekap muIutnya.
Pada saat itulah terdengar berkumandang suara Liok Bu-siang sedang menanyai “He,
Kwe Yang ci -iik telah lari kemana?”
Diam2 Hoat-ong gegetun, karena telah kehilangan kesempatan baik, maka ia tutuk
jalan darah yang membikin gagu, Kwe Yang diseret pergi Padahal saat itu baru
Liok Bu-siang saja yang naik keatas, kalau Hoat-ong mau mengulangi memutuskan
tambang masih keburu, sebab melulu Liok Bu siang seorang tak mungkin bisa
menahannya. Tapi karena ia sudah rasakan betapa lihaynya It-teng Tay-su, Ciu
Pek-thong dan Ui Yok-su, nyalinya sudah ciut, ia bersyukur dapat menyelamatkan
diri, mana berani lagi ia mencari penyakit?
Kiranya sesudah memeriksa dan mencari di bawah, jurang dan tidak mendapatkan
sesuatu tanda, Ui Yong dan lain2 menduga Nyo Ko tidak menemukan sesuatu bahaya,
maka sesudah berunding, mereka memutuskan untuk naik kembali ke atas.
Orang yang pertama naik itu adalah Liok Bu-siang, menyusul Thia Eng dan Eng Koh.
Ketika Ui Yong sudah naik, segera didengarnya Thia Eng bertiga sedang
ber-teriak2 memanggil: “Kwe Yang cilik, di mana kau?”
Melihat puterinya dan Hoat ong telah menghilang semua, sungguh tidak kepalang
cemasnya Ui Yong. Ketika Ui Yok-su, Ciu Pek-thong dan Itteng ber-turut2 sudah
naik pu!a, mereka telah mencari ke segala pelosok lembah gunung itu, tapi
bayangan Hoat-ong dan Kwe Yang sama sekali tidak tertampak.
Sampai di mulut lembah, tiba2 diketemukan sebelah sepatu anak dara itu.
“Ah, tak perlu kuatir, Suci.” ujar Thia Eng. “Tentu Hoat-ong yang menggondol
Yangji ke selatan, Yang ji sengaja tinggalkan sepatunya agar diketahui kita.
Sungguh bocah ini sangat cerdik, tidak kalah dari ibunya.”
Bila Ui Yong ingat cerita Kwe Yang bahwa Hoat-ong berniat paksa anak dara itu
menjadi murid ahliwarisnya, ia pikir untuk sementara mungkin tidak berbahaya,
maka rasa kuatirnya banyak berkurang.
Segera rombongan mereka balik ke selatan, sepanjang jalan merekapun mencari tahu
jejak Hoat-ong dan Kwa Yang. Tidak beberapa hari, mereka mendengar berita
pasukan Mongol mengepung Siang yang dan sudah terjadi pertempuran besar di luar
kota itu, kedua pihak sama2 ada kalah menangnya, kedudukan Siangyang sangat
genting.
Musuh telah menggempur Siangyang, kita harus lekas kembali ke sana, urusan
Yang-ji uutuk sementara terpaksa tak bisa dipikirkan lagi,” kata Ui Yong dengan
kuatir.
Semua orang menyatakan benar dan bersedia ikut pergi. walaupun sebenarnya
It-teng Taysu, Ui Yok su dan Ciu Pek-thong cs. tidak ingin mengurus soal2
keduniawian lagi, tapi mati-hidup dari Song besar tergantung hancur atau utuhnya
Siang-yang, pertempuran yang menentukan ini tidak memungkinkan mereka berpeluk
tangan.
Begitulah mereka lantas percepat perjalanan maka tiada seberapa hari mereka
sudah sampai di luar kota Siangyang Dipandang dari jauh, panji ber-kibar2,
senjata gemilapan, suara tiupan tanduk meng-huk2 sahut-menyahut, derap kuda kian
kemari Siangyang tampak terkurung rapat2 oleh pasukan Mongol.
Walaupun sudah banyak berpengalaman, melihat situasi demikian ini, merekapun
terperanjat.
“Kekuatan musuh terlalu besar, meski kita berilmu silat tinggi juga sukar
mendekati benteng kota, terpaksa menanti hari gelap nanti baru cari jalan lain”
demikian kata Ui Yong.
Mereka sembunyi di dalam hutan, kccuali-Ciu Pek-thong yang selalu periang, yang
lain2 berhati sedih semua. Sampai dekat tengah malam, dengan Ui Yong sebagai
pembuka jalan, mereka bertujuh lantas menerjang ke dalam perkemahan musuh.
Betapapun tinggi ilmu silat ketujuh orang ini namun begitu besar tentara Mongol,
perkemahan berderet2 tak terhitung panjangnya, baru setengah jalan mereka
menerjang sudah diketahui patroli musuh, sekali gembreng ditabuh ber-talu2,
seketika terkepung, walaupun begitu keruan yang lain ternyata tenang2 saja tidak
kacau, suatu tanda betapa disiplin dan terlatihnya pasukan Mongol.
Ui Yong menjadi kuatir, begitu hebat pasukan musuh, untuk mematahkan kepungan
musuh atas Siangyang kali ini rasanya tidak mudah, sementara itu Ciu Pek-thong
telah berhasil merampas dua tombak panjang terus mendahului membuka jalan, Ui
Yok-su dan It teng jalan mungkur untuk menahan kejaran musuh, empat wanita
ter-apit di-tengah2 dan menyerbu terus ke depan.
Baiknya di dalam pasukan tentara yang besar, karena kuatir kena kawan sendiri
maka perajurit Mongol tak berani melepaskan panah, kalau di tanah lapang dan
dihujani panah, betapapun tangkas Ciu Pek-thong dan Ui Yok-su cs, juga tak mampu
menahannya.
Sambil bertempur mereka maju terus, sedang pasukan musuh makin lama makin
banyak, berpuluh2 tombak selalu menusuk ke arah mereka bergantian.
Tapi di mana angin pukulan Ciu Pek-thong, Ui Yok-su dan It-teng Taysu sampai, di
situ segera senjata2 musuh patah dan orangnya terluka atau mampus, sungguhpun
demikian tentara Mongol itu ternyata pantang mundur.
“Ui-Iosia, kita bertiga tua bangka ini tampaknya hari ini akan mampus disini,”
kata Lo-wan tong tiba2 dengan tertawa, “Masa paling baik kan berdaya agar empat
anak dara ini saja ditolong keluar.
“Fui,” semprot Eng Koh. “Omong tidak-genah, masakan aku sudah nenek2 dianggap
anak dara? Hendak mati biarlah kita mati bersama, tiga anak dara ayu inilah yang
harus ditolong.”
Diam2 Ui Yong berkuatir, pikimya: “Selamanya Lo wan-tong tidak pernah kenal
takut, kenapa sekarang tiba2 bilang jiwanya bakal melayang di sini, tampaknya
alamat tidak baik!”
Tapi tentara musuh merubung bagai semut, kecuali melawan mati2an, hakekatnya tak
berdaya lain.
Sesudah beberapa deret perkemahan musuh di tembus lagi, tiba2 Ui Yong melihat di
sebelah kiri sana terdapat dua kemah besar berwarna hitam, ia pernah ikut Jengis
Khan menggempur ke benua barat, ia tahu kemah demikian ini biasanya dipakai
sebagai gudang rangsum.
Tiba2 pikirannya tergerak, Mendadak ia melompat ke samping dan berhasil merampas
sebuah obor seorang perajurit musuh terus berlari ke kemah gudang rangsum itu.
Segera perajurit Mongol ber-teriak2 mengejarnya, tapi Ui Yong sangat sebat,
sekali menyelusup, segera ia masuk ke kemah itu, obornya diangkat, segala benda
dibakarnya. Maka sekejap saja dua kemah besar itu sudah kebakaran beberapa
tempat, habis itu Ui Yong menerobos keluar lagi bergabung dengan rombongan Ciu
Pek-thong.
Benda yang tertumpuk didalam kemah itu tidak sedikit terdiri dari barang yang
mudah terbakar, maka cepat saja api sudah menjilat dengan hebatnya.
Lo-wan-tong menjadi tertarik, iapun takmau ketinggalan dari perajurit musuh ia
dapat merampas dua obor, iapun pergi menyulut api ke mana2, malahan tanpa
sengaja suatu kandang kuda kena dibakarnya, keruan seketika kacau balau oleh
lari-kuda2 yang tunggang-langgang, maka pasukan Mongol menjadi kalang kabut.
Waktu itu Kwe Cing berada di kota Siangyang dan mendengar pasukan musuh di utara
benteng kacau-balau, ia memeriksa ke atas benteng dan melihat api menjulang
tinggi di tengah perkemahan musuh, ia tahu ada orang mengaduk di perkemahan
pasukan Mongol itu, maka cepat ia kirim 2000 perajurit dan memerintahkan Bu
Tun-si dan Bu Siu-bun berdua menggempur keluar benteng.
Waktu kedua saudara Bu itu sudah beberapa li di luar kota, terlihatlah Ui Yok-su
memayang Liok Bu-siang, It-teng Taysu mendukung Ciu Pek-thong tujuh orang dengan
menunggang lima ekor kuda sedang mendatangi dengan cepat.
Kedua saudara Bu tak berani menyongsong maju, tapi pasukan yang dipimpinnya itu
lantas tersebar ambil kedudukan untuk menahan kejaran tentara musuh, dengan
begitu, barisan belakang dijadikan barisan depan untuk melindungi rombongan Ui
Yong masuk ke kota.
Kwe Cing sudah menanti di atas benteng, melihat ayah mertua, isteri tercinta, It
teng Taysu, Lo-wan-tong datang semua ia sangat girang dan lekas2 membuka pintu
benteng menyambut keluar.
Ia lihat pinggang Liok Bu-siang terluka tombak musuh, punggung Ciu Pek thong
kena tiga panah, jenggot dan alisnya kelimis terbakar, luka kedua orang ternyata
tidak enteng.
Ui Yong sendiri, Thia Eng dan Eng Koh juga terluka kena panah, cuma tidak
berbahaya.
It teng dan Ui Yok-su sama2 mahir ilmu pertabiban, setelah memeriksa luka Liok
Bu-siang dan Lo wan-tong, mereka mengkerut kening dan bermuka muram tanpa
berkata.
“Toan hongya, Ui-losia, kalian tak perlu sedih, Lo-wan-tong sudah dapat firasat
dan yakin takkan mampus,” demikian tiba2 Ciu Pek-thong buka suara dengan
tertawa. “Maka paling baik kalian curahkan perhatian untuk menyembuhkan si anak
dara Bu siang saja.”
Begitulah Lo-wan-tong masih terus berkelakar dengan Ui Yok-su, tapi terhadap
It-teng Taysu ia sangat menghormatinya, bahkan rada2 takut, meski lt-teng sudah
lama menjadi Hwesio, namun sebutan “Toan-hongya” masih terus dipakainya.
Melihat Lo wan-tong sanggup menahan sakit dan masih berkelakar, Ui Yok-su dan
It-teng menjadi sedikit tega, Hanya keadaan Liok Bu-siang yang menguatirkan,
gadis ini masih tak sadarkan diri. Thia Eng terus menunggui di tepi ranjangnya
dan diam2 mengucurkan air mata.
Besok paginya baru terang tanah, diluar kota sudah terdengar tiupan tanduk
disertai genderang yang bertalu2 pasukan Mongol telah mulai menyerang besar2an.
Pembesar Siangyang yang resmi, gubemur Lu Bun-hwan memimpin pasukan menjaga di
empat penjuru pintu benteng. Kwe Cing dan Ui Yong mengawasi dari atas benteng,
terlihat pasukan musuh membanjir datang bagai semut.
Di antara serangan pasukan Mongol beberapa kali ke Siangyang, persiapan sekali
inilah yang paling lihay, Baiknya Kwe Cing pernah lama tinggal dalam pasukan
Mongol di masa mudanya, sehingga paham siasat apa yang dipakai tentara Mongol
untuk menggempur benteng, segala serangan musuh2 selalu digagalkan, pertarungan
sengit itu berlangsung sampai hari sudah petang, perajurit Mongol tewas lebih
2000 jiwa, tapi dari belakang masih terus membanjir dan menggempur benteng
dengan gagah berani.
Di dalam kota Siangyang kecuali beberapa puluh ribu perajurit ada pula ratusan
ribu penduduk sipil, semua orang tahu mati-hidup mereka bergantung pada
pertahanan kota ini, maka setiap orang muda2 yang masih kuat, semua memanggul
senjata memenuhi kewajiban pertahanan kota, sekalipun yang tua, wanita dan
anak-2 juga tak mau ketinggalan dan membantu di garis belakang.
Maka seketika di dalam maupun di luar kota menjadi gegap-gempita, panah
berseliweran di atas udara bagai belalang terbang.
Kwe Cing sendiri dengan tangan menghunus pedang memimpin pertahanan kota di atas
benteng. Ui Yong berdiri di sampingnya dan menyaksikan pertempuran yang semakin
sengit itu.
Tiba2 terdengar perajurit Mongol di bawah benteng berseru: “Banswee
(Dirgahayu)!Banswe! Ban-banswe!”
Suara itu dari jauh mendekat bagai gelombang ombak saja, sampai akhirnya beratus
ribu perajurit berteriak berbareng sehingga se-akan2 langit ambruk dan menggempa
bumi, Laiu tertampaklah sebuah.panji besar berkibar tinggi, beberapa perwira
mengiringi seorang dengan payung kencana, Sesudah dekat, ternyata raja Monko
sendiri yang maju ke garis depan.
Melihat raja mereka datang sendiri, perajurit Moogol menjadi tambah bersemangat.
Ketika panji merah berkibar, satu pasukan beijumlah 20 ribu orang terus
menggempur pintu benteng utara dengan mati2an, ini adalah pasukan cadangan raja
Mongol yang terlatih dan paling tangkas, pula semua perajurit ingin berjasa
dihadapan rajanya, maka begitu tangga bersandar tembok benteng segera bagai
semut berebut naik ke atas.
“MariIah saudara2, hari ini biar raja musuh melihat sendiri betapa gagah
perwiranya rakyat Song kita yang jaya!” teriak Kwe Cing sambil mengangkat
tangannya.
Begitu keras suara Kwe Cing hingga perajurit Song serentak terbangkit
semangatnya, semuanya bertempur mati2an mengenyahkan penjajah.
Mayat perajurit Mongol yang menggempur benteng itu tampak makin lama makin
banyak dan bertambah tinggi tertumpuk, tapi bala bantuan masih terus membanjir
tiada putus2nya.
Kurir yang selalu berada di samping raja Monko tampak mondar-mandir meneruskan
perintah.
Tatkala itu tiba2 terdengar petugas itu berteriak “Dengarlah para perajurit dan
bintara! Titah raja,” barang siapa yang paling dulu menginjak ke atas benteng,
siapa lantas dianugerahi pangkat walikota Siangyang.”
Mendengar itu, bersoraklah perajurit Mongol, segera ada beberapa orang yang tak
takut mati terus merangsang ke atas benteng.
Kurir itu membawa panji merah dan wira-wiri meneruskan perintah sang raja. Kwe
Cing menjadi gusar, ia pentang busur terus memanah, pesat amat panah itu dan
tepat menembus dada petugas musuh itu hingga terjungkal dari kudanya.
Perajurit Mongol ber-teriak2 lagi, sesaat semangat mereka sirap, tapi hanya
sebentar, kembali sepasukan cadangan baru tiba pula dibawah benteng.
Dengan tombak panjang di tangan Yalu Ce berlari kehadapan Kwe Cing dan berkata:
“Gakhu, Gakbo (ayah dan ibu mertua), musuh sukar digempur mundur, biarlah anak
keluar benteng menerjangnya.”
“Baik, bawalah 3000 perajurit, cuma harus hati2″ sahut Kwe Cing.
Cepat Yalu Ce turun dari benteng, tidak lama kemudian, genderang dipukul riuh
sckali, begitu pintu benteng terbuka, 1000 anggota Kay-pang dan 2000 tentara
negeri di bawah pimpinan Yalu Ce dengan tombak dan tameng terus menerjang ke
depan.
Di bagian pintu utara pasukan Mongol sedang menggempur benteng, ketika mendadak
melihat pasukan Song menerjang keluar, cepat mereka putar tubuh terus lari
mundur, Segera Yalu Ce pimpin pasukannya memburu, tapi mendadak terdengar tiga
kali suara meriam, dua pasukan MongoI telah mengepung dari kanan kiri hingga
3000 orang yang dipimpin Yalu Ce terkepung di-tengah2..”
Pasukan Mongol itu berjumlah lebih 20 ribu orang, keruan tiga ribu orangnya Yalu
Ce terkepung rapat, namun mereka tak gentar, terutama seribu anggota Kay-pang
itu semuanya berilmu silat bagus dan sanggup satu lawan sepuluh, mereka
bertempur dengan mati2an. sedang sepasukan tentara Mongol yang lain kembali
memasang tangga menggerapah ke atas benteng lagi.
Melihat sebagian pasukan Mongol sudah tertahan oleh Yalu Ce, segera Kwe Cing
memberi perintah pada kedua saudara Bu agar membiarkan perajurit Mongol menyerbu
masuk dari gugusan benteng, Sesudah kedua Bu terima perintah itu dan undakan
pasukannya, sekejap saja beratus dan beribu perajurit Mongol berhasil merangkak
sampai di atas benteng.
Melihat itu, Lu Bun hwan menjadi ketakutan hingga mukanya pucat lesi, badannya
gemetar, mulut ternganga.
Namun Kwe Cing tenang2 saja, ia biarkan perajurit Mongol naik kira2 lima ribu
orang, tiba2 panji kuning mengebas, se-konyong2 genderang berbunyi, Cu Cu-liu
dan Bu Sam-thong masing2 memimpin sepasukan tentara cadangan segera menyerbu
keluar dari tempat sembunyi mereka, seketika saja gugusan benteng yang bobol
tadi tertutup rapat, perajurit Mongol yang lain tak dapat naik Iagi. sedang lima
ribu orang musuh yang berada di dalam benteng itu terjeblos ke dalam kepungan.
Begitulah, jika di luar benteng pasukan Song terkepung, sebaliknya di atas
benteng pasukan Mongol juga terkurung, Sedang pertempuran di ketiga pintu
benteng yang lain masih berlangsung dengan sengit luar biasa.
Betapa gagah berani perlawanan pasukan Song itu sungguh sangat mengagumkan raja
Mongol, diam2 ia memuji dan insaf salah duga atas kekuatan lawan, sementara itu
sudah tengah malam, sinar bulan purnama, langit bersih, angin silir2 sejuk,
sebaliknya di permukaan bumi saat itu beratus ribu manusia sedang bertempur
mati2an.
Pertempuran ini berlangsung sejak pagi hingga tengah malam, kerugian masing2
pihak sama besarnya. Pasukan Song menang pada tempat, sebaliknya pasukan Moogol
menang jumlah lebih banyak, Selang agak lama, tiba2 sepasukan tentara Song
menyerang ke tanah bukit sana, lekas2 pasukan pengawal raja Mongol yang berada
di tanah bukit itu melepaskan panah.
Di tempat tinggi raja MongoI dapat melihat jelas dalam pasukan Song itu ada
seorang panglima setengah umur. bersenjata sepasang tumbak, menunggang seekor
kuda besar sedang terjang ke sana ke mari tak tertahankan meski panah
berhamburan seperti hujan ke arahnya, tapi seluruhnya kena di tangkis dan
disampuk oleh tumbak2nya.
“Orang yang gagah ini, siapakah dia?” tanya Monko pada bawahannya.
“Lapor Sri Baginda, orang ini Kwe Cing adanya,” kata seorang panglima tua di
sampingnya.
“Ai, kiranya dia, benar2 gagah perkasa, namanya bukan omong kosong belaka!” puji
Monko tak tertahan.
Mendengar raja mereka memuji musuh, ada empat perwira merasa kurang senang,
sekali berte-riak, be-ramai2 mereka lantas menerjang maju memapak Kwe Cing.
Akan tetapi betapa tangkas dan besar tenaga sakti Kwe Cing, mana keempat perwira
itu sanggup melawannya, hanya sekali dua gebrakan saja, keempat perwira itu
ber-turut2 sudah dibinasakan.
Maka perwira2 Mongol yang laih menjadi jeri, tiada yang berani pamer lagi di
hadapan raja mereka, hanya dari jauh mereka menghujani panah. Kwe Cing keprak
kuda hendak menerjang ke atas bukit itu, tapi beratus senjata perajurit musuh
rapat menghadangnya, beberapa kali ia berusaha merangsang maju. tapi selalu
terdesak mundur.
Mendadak kudanya terkena panah hingga meringkik terus roboh. Perajurit2 Mongol
bersorak senang terus merubung maju, Tak terduga mendadak Kwe Cing melompat
bangun, sekali tumbaknya menusuk, ia binasakan seorang bintara musuh dan
mencemplak keatas kuda rampasan ini, dengan putar tumbak dan menghantam dengan
tangan dari dekat, dalam sekejap saja belasan perwira dan perajurit musuh kena
dimatikan pula.
Melihat di antara sekian banyak perajuritnya ternyata tiada seorangpun yang
mampu mendekati Kwe Cing, diam2 ia mengerut kening, Tiba2 ia memberi perintah:
“Barang siapa bisa membunuh Kwe Cing akan diberi hadiah selaksa tahil emas dan
kenaikan pangkat tiga tingkat sekaligus.”
Karena janji yang menarik ini, serentak pasukan Mongol lantas membanjir maju.
Nampak keadaan rada gawat, pula dirinya tidak mampu mendekati raja musuh,
mendadak Kwe Cing hantam mundur beberapa pengeroyoknya, lalu mementang busur dan
melepaskan panah ke arah Monko. Begitu pesat anak panah itu meluncur secepat
kilat terus menyamber ke muka raja itu.
Terkejut para pengawal Monko, dua bintara yang berdiri di sampingnya cepat
mengadang di depan junjungan mereka, maka tidak ampun lagi panah itu menembus
bintara yang pertama, bahkan terus menembus dada bintara yang kedua yang berdiri
dibelakangnya hingga mirip sujen sate.
Metihat betapa hebat serangan panah itu, muka Monko menjadi pucat, di bawah
iring2an pengawalnya cepat mundur ke bawah bukit, Padas saat itulah kembali
pasukan MongoI ber-teriak sepasukan Song menerjang datang pula, seorang paling
depan memutar sepasang gayuh besi sedang menghantam dan menpepruk dengan
hebatnya, kiranya dia Su-sui Hi-un, si nelayan dari sungai Su itu muridnya
It-teng Taysu.
Rupanya Ui Yong menjadi kuatir karena melihat sang suami seorang diri terkepung
musuh, maka Su-sui Hiun diperintahkan memimpin dua ribu tentara untuk
memapaknya. Dalam pada itu, karena melihat raja mereka mengundurkan diri,
semangat perajurit Mongol rada terguncang, barisan merekapun kelihatan rada
kacau.
Keadaan itu dapat dilihat jelas oleh Ui Yong yang mengawasi di atas benteng,
cepat ia memberi perintah: “Be-ramai2 kita berteriak bahwa raja Mongol sudah
mati!”
Maka gegap gempitalah suara teriakan perajurit Song yang menyorakkan: “Hura,
raja Mongol sudah mati! Raja Mongol sudah mati!” Bahkan di antara perajurit yang
fasih bercakap bahasa Mongol segera berteriak dalam bahasa itu.
Mendengar teriakan itu, para perajurit Mongol menoleh ke belakang dan melihat
panji kebesaran raja mereka benar2 sedang mundur ke belakang, di sekitar panji
itu kelihatan pula kacau-balau, mereka menyangka raja benar2 sudah tewas,
seketika semangat tempur mereka patah dan beruntung mundur dengan cepat.
Segera Ui Yong memberi perintah mengejar, pintu benteng segera terpentang, tiga
puluh ribu perajurit cadangan terus menerjang keluar, tiga ribu orang yang
dipimpin Yalu Ce sudah gugur hampir se-paroh, sisanya kini sekalian ikut
menguber musuh.
Tapi pasukan Mongol, sudah banyak pengalaman bertempur, meski kalah, formasi
mereka tidak buyar, mereka mundur teratur ke utara, maka pasukan Song juga tidak
berani terlalu mendesak.
Hanya lima ribu orang Mongol yang menyerbu kedalam benteng tadi tiada seorangpun
yaug tersisa hidup.
Setelah pasukan musuh mundur seluruhnya, sementara itu hari sudah terang tanah,
pertempuran sengit ini bertarung tidak kurang daripada 12 jam, mayat
bergelimpangan bertumpang tindih, darah menggenang bagai air sungai, tombak
patah, golok putus, panji sobek, semuanya berserakan memenuhi jalan sepanjang
berpuluh Ii.
Dalam pertempuran ini pihak Mongol kehilangan lebih 30 ribu perajurit
pilihannya, sedangkan pihak Siangyang gugur belasan ribu jiwa, Semenjak bangsa
Mongol menjajah ke selatan, pertempuran inilah yang terdahsyat dan paling banyak
menelan korban.
Setelah mengundurkan pasukannya sejauh 40 li, Monko memerintahkan berkemah.
Teringat keadaan berbahaya tadi, dalam hati masih tak tenteram rasanya.
Tak lama kemudian, adik raja, Kubilai, datang menghadap dan menyampaikan sembah
bakti pada Sri Baginda.
“Adikku,” kata Monko pada Kubilai, “mendiang ayah kita suka memuji akan gagah
perwiranya Kwe Cing, setelah aku menyaksikan sendiri tadi barulah aku benar2
kagum dan putus asa pula.”
“Kakak Baginda tak perlu kuatir, hamba sudah mempunyai suatu akal yang pasti
akan bikin Kwe Cing menyerah tanpa berkutik dan Siangyang dengan cepat akan
bobol,” kata Kubilai.
Girang sekali Monko, cepat ia tanya apa tipu akal itu.
Kubilai tidak lantas menjawab, ia menoleh kepada pengawalnya dan berkata:
“Silakan Koksu (imam negara) masuk!” – Nyata datangnya Kubilai disertai Kim-lun
Hoat-ong.
Dalam pada itu, sesudah pasukan Siangyang dapat menggempur mundur musuh, seluruh
kota di mana2 terdengar suara tangisan yang memilukan, ada ibu bertangis
kehilangan anak, ada isteri menangisi suami, suasana tenggelam dalam keadaan
berduka cita.
Tanpa mengaso segera Ui Yong pergi memeriksa dan menghibur bawahannya, lalu
pergi memeriksa keadaan lukanya Ciu Pek-thong dan Liok Bu siang, ternyata luka
mereka sudah baikan. malahan Lo-wan-tong sudah tak sabar lagi rebah di
pembaringan, ia sudah keluyuran ke taman. Melihat muka orang yang kini kelimis,
Kwe Cing dan Ui Yong merasa geli.
Besok paginya, selagi Kwe Cing hendak berunding situasi militer dengan Lu
Bun-hwan. tiba2 ada laporan, katanya ada sepasukan tentara Mongol sekira 10 ribu
orang sedang menuju ke arah pintu benteng utara, Lu Bun-hwan terkejut bahwa
musuh berani datang lagi, Kwe Cing juga segera naik ke atas benteng untuk
memeriksa.
Maka tertampaklah pasukan musuh itu ambil kedudukan di tempat 3-4 li jauhnya
dari kota dan tidak menyerang, Selang tak lama, beribu tukang telah mendatangkan
batu dan mendirikan cagak terus membangun sebuah panggung yang tingginya belasan
tombak.
Tatkala itu Ui Yok-su, Ui Yong, It teng Taysu dan Cu Cu-liu juga sudah naik ke
atas benteng, demi melihat tentara Mongol tiba2 mendirikan panggung, mereka
menjadi heran dan bingung.
“Jika panggung itu oleh musuh akan digunakan untuk mengintai keadaan dalam
benteng, tempatnya tidak seharusnya begitu jauh, apalagi kalau tentara kita
memanahnya dengan api, segera bisa terbakar lalu apa gunanya?” demikian pendapat
Cu liu,
Ui Yong pun tak mengerti akan maksud tujuan musuh itu meskipun sudah coba
menyelami.
Dan sesudah panggung itu berdiri, beberapa ratus serdadu Mongol dengan kereta2
kuda tampak mengangkut datang kayu2 bakar terus ditumpuk di sekitar panggung
tampaknya panggung itu seperti hendak dibakar.
Cu-liu semakin heran, katanya: “Apakah musuh hendak pakai ilmu gaib? Atau hendak
bersembahyang?”
“Sudah lama aku tinggal di tengah pasukan Mongol, tapi selamanya tak pernah
melihat cara aneh ini,” ujar Kwe Cing.
Tengah bicara, kembali tertampak beribu serdadu Mongol lagi ayun cangkul dan
sekop, sedang menggali sebuah parit yang lebar dan dalam di sekitar panggung,
Tanah yang digali itu menggunduk melingkari parit itu hingga berwujud seperti
pagar.
“Haha, kota Siangyang adalah bekas kediaman Cukat Liang di jaman Samkok, tapi
bangsa asing ini berani main kayu di depan rumah nabi, sungguh terlalu menghina
bangsa kita?” demikian jengek Ui Yok-su dengan gusar.
Dalam pada itu di tengah bunyi genderang ber-turut2 datang pula empat pasukan
musuh terus melingkari keempat penjuru panggung tadi dengan macam2 senjata siap
di tangan, panggung itu menjadi terkurung rapat.
Mendadak terdengar dentuman meriam sekali, suara genderang lantas berhenti,
keadaan sunyi senyap, dari jauh dua penunggang kuda berlari kebawah panggung
itu. Kedua penunggang itu turun dari kuda terus bergandengan tangan naik keatas
panggung.
Karena jaraknya jauh dari benteng, maka muka kedua orang itu tak jelas
kelihatan, hanya lapat2 seperti seorang pria dan seorang perempuan.
Sedang semua orang ter-hcran2, se-konyong2 Ui Yong menjerit kaget, terus roboh
ke belakang dan pingsan. Lekas semua orang menolongnya siuman dan sama menanya
sebab apakah?”
Dengan wajah pucat Ui Yong berkata dengan suara gemetar “ltulah Yang-ji, itulah
Yang-ji!”
Terkejut semua orang dan saling pandang. “Apakah jelas kau melihatnya,
Kwe-hujin?” tanya Cu liu.
“Meski tidak terang melihat mukanya, tapi menurut dugaan, pastilah dia,” kata Ui
Yong. “Musuh tak berhasil membobol benteng, sekarang ternyata pakai akal keji,
sungguh rendah dan tidak tahu malu.”
Mendengar penuturan itu, segera Ui Yok-su dan Cu Cu-Iiu paham duduknya perkara,
merekapun sangat gusar sebaliknya Kwe Cing masih belum mengerti tanyanya:
“Kenapa Yang ji bisa berada diatas panggung itu? Tipu keji apa yang akan dipakai
musuh?”
“Cing koko,” kata Ui Yong dengan bersemangat, “Tak beruntung Yang ji jatuh dalam
cengkeraman musuh, mereka sengaja bikin panggung dan taruh Yangji di atasnya
sebagai umpan, tipuannya memaksa kau menyerah jika kau tak menyerah mereka akan
bakar panggung itu agar kita berdua ngenas dan berduka, hilang semangat dan
pikiran kacau, dengan begitu mereka bisa menggempur lebih leluasa tanpa
perlawanan kita.”
“Sebab apa Yang ji jatuh di tangan musuh?” tanya Kwe Cing terkejut dan gusar.
“Ya, karena kesibukan militer beberapa hari ini, kukuatir pencarkan perhatianmu
maka tidak kuceritakan padamu,” sahut Ui Yong.
Lalu iapun menceritakan pengalamannya di Coatceng-kok, di mana Kwe Yang kena
digondol Kim lun Hoat-ong.
Mendengar Nyo Ko menghilang dalam jurang, ber-ulang2 Kwe Cing menanya lebih
jelas, betapa perhatiannya pada Nyo Ko kelihatan sekali pada wajahnya.
Betapa tinggi budi luhur Kwe Cing, tanpa pikirkan puteri sendiri yang menghadapi
bahaya dibakar, tapi tanya dulu keselamatan Nyo Ko, sungguh bikin semua orang
sangat mengaguminya.
Scsudah selesai mendengarkan penuturan Ui Yong, dengan mengkerut kening kata Kwe
Cing: “Yong-ji, inilah kesalahanmu mati hidup Ko-ji belum diketahui, kenapa kau
meninggalkannya pergi?”
Selamanya Kwe Cing sangat menghormat dan cinta isterinya, tak pernah mencelanya
dihadapi orang luar, kini celaan itu diucapkannya dengan sungguh2, Ui Yong
menjadi merah mukanya.
“Kwe hujin sudah menyelam ke dalam telaga hingga hampir beku kedinginan dan
keadaan Nyo Ko juga sudah kami selidiki memang betul2 tidak berada dijurang itu,
pula nona Kwe jatuh di tangan musuh, maka be-ramai2 kami mengusulkan mengejar
kembali, hal ini tak bisa menyalahkan Kwe hujin” demikian It teng Taysu
menjelaskan
Karena itu, terpaksa Kwe Cing tak berani bilang apa2 lagi, hanya dengan gemas ia
berkata pula: “Anak dara ini selalu bikin gara2 saja, kalau sampai Ko-ji terjadi
apa2, hati kita apakah bisa tenteram? Hari ini biarlah dia dibakar mati musuh
saja beres!”
Dengan cemas diam2 Ui Yong turun dari benteng, Mendadak pintu benteng dibuka,
dengan menunggang kuda sendirian cepat ia kabur ke utara, Keruan semua orang
sangat terkejut Be-runtun2 Kwe Cing, Ui Yok-su, It-teng, Cu Cu-liu dan lain-nya
cemplak kuda menyusulnya.
Setiba di depan panggung tinggi tadi, mereka berhenti dalam jarak yang tak
dicapai panah musuh, maka terlihatlah di atas panggung berdiam dua orang yang
satu berjubah kuning, ialah Kim-lun Hoat-ong, sedang lainnya adalah gadis remaja
dengan kedua tangannya diikat pada sebuah cagak. Siapa lagi dia kalau bukan Kwe
Yang.
Meski gusar karena anak dara itu suka timbulkan onar, tapi kasih-sayang ayah,
mau-tak-mau Kwe Cing menjadi kuatir, teriaknya keras2: “Yang-ji, jangan kuatir,
ayah-ibu datang buat menolong kau!?”
Betapa kuat tenaga dalamnya, suara teriakannya itu dengan jelas terkirim sampai
di atas panggung itu, Waktu itu Kwe Yang sudah dalam keadaan sadar-tak-sadar
terpanggang sinar matahari yang terik, ketika mendadak mendengar suara ayah-nya,
segera iapun ber-teriak2. “Ayah, ibu!”
Cuma panggung itu terlalu tinggi, jaraknya juga jauh, maka suaranya tak
terdengar oleh ayah-bundanya.
Sementara itu Kim-lun Hoat ong sedang tertawa ter-bahak2, katanya lantang:
“Kwe-tayhiap, tidaklah sulit jika kau ingin aku membebaskan puterimu, soalnya
tergantung apakah kau punya keberanian tidak?”
Selamanya Kwe Cing sangat tenang, makin berbahaya keadaan yang dihadapi, makin
tenang pikirannya, kini mendengar kata2 Hoat-ong itu, sama sekali ia tidak
gusar, jawabnya: “Ada persoalan apa,-” silakan Hoat-ong menunjukkan”
“Kalau memang kau mempunyai rasa cinta kasih seorang ayah terhadap puterinya,
segera kau naik panggung sini dan menyerahkan diri, kita satu tukar satu,
puterimu segera kubebaskan,” demikian kata Hoat-ong.
Nyata ia tahu Kwe Cing sangat tinggi budi, tidak nanti untuk seorang puterinya
mau mengorbankan jiwa penduduk seluruh kota Siangyang, oleh sebab itu ia sengaja
keluarkan kata2 pancingan supaya Kwe Cing masuk perangkap sendiri.
Tak terduga Kwe Cing ternyata tak dapat ditipu, jawabnya lantang: “Jika musuh
asing itu tidak takut padaku, kenapa kalian tawan puteriku? Dan kalau musuh
takut padaku, suatu tanda Kwe Cing bukanlah manusia tak berguna, kenapa mesti
mati tanpa arti?”
“Hm, orang berkata ilmu silat Kwe-tayhiap lihay, gagah perkasa, tapi nyatanya
hanya seorang manusia takut mati dan tamak hidup,” demikian jengek Hoat-ong.
Kata2 pancingan ini bila dipakai terhadap orang lain mungkin akan berhasii, tapi
Kwe Cing memikul tanggung jawab atas keselamatan seluruh penduduk kota, ia
anggap sepi saja kata2 orang dan diganda tersenyum belaka tanpa menggubris. Tapi
Bu Sam-thong dan Su-sui Hi un menjadi murka, segera mereka hendak menerjang
maju, namun It-teng Taysu keburu mencegah mereka.
“Kwe-tayhiap,” terdengar Hoat-ong berseru pula, “puterimu pintar dan cerdik,
sebenarnya aku sangat menyukainya dan berniat menjadikan dia murid ahliwarisku.
Tapi Hongsiang ada titah, bila kau tidak takluk, segera anak dara ini akan
dibakar di atas panggung ini. jangankan kau sakit hati atas puterimu yang malang
ini, sekalipun aku sendiri juga merasa sayang, maka harap kau suka memikirkannya
dalam2.”
Kwe Cing menjengek tanpa menjawab, ia lihat berpuluh serdadu musuh sudah siapkan
obor disamping tumpukan kayu bakar di bawah panggung itu, asal sekali Hoat-ong
memberi perintah, segera api akan disulut.
Berpuluh ribu serdadu musuh mengepung panggung dengan rapat, hanya manusia biasa
saja mana mampu menembusnya? Pula sesudah dekat, kalau api sudah menjilat
panggung itu, cara bagaimana bisa menolong puteri kecil itu?
Waktu Kwe Cing mendongak, ia lihat muka puterinya pucat lesu, tak tahan hatinya
bagai disayat. Cukup lama Kwe Cing ikut di dalam pasukan Mongol, dahulu ia kenal
serdadu Mongol yang kejam tak kenal ampun, sehari saja tidak segan membunuh
beratus ribu wanita maupun kanak2, apalagi kini hanya Kwe Yang, mirip saja
seekor semut yang tak berarti.
Karena itu, dengan mengertak gigi ia berteriak: “Wahai, Yang-ji, dengarlah, ayah
bundamu berjuang untuk negara dan bangsa, mati-hidup tidak terpikir. Kau adalah
puteri ibu pertiwi, kau harus berani berkorban dengan gagah perwira, dan jangan
takut. Hari ini bila ayah-ibu tak bisa menolong kau, kami kelak pasti akan
membunuh paderi jahat ini untuk membalas sakit hatimu. Mengertikah kau?”
Dengan mengembeng air mata Kwe Yang mengangguk teriaknya dari jauh: “Ya, ayah
dan ibu, anak tak gentar!”
“ltulah puteriku sejati!” seru Kwe Cing.
Habis ini, ia tanggalkan gandewa dari pinggangnya, panah dipasang terus
dijebretkan beruntun2 tiga kali, kontan tiga serdadu musuh yang memegang obor di
bawah panggung itu terjungkal tiga panah itu ternyata menembus dada mereka.
Harus diketahui ilmu memanah dan menunggang kuda Kwe Cing diperoleh dari ahli
panah Caepo yang tersohor di MongoI waktu Kwe Cing tinggal disana dahulu,
ditambah lagi tenaga dalamnya yang luar biasa kini, serdadu Mongol lantas
berteriak2 sambil angkat perisai untuk melindungi tubuh.
“Marilah kembali” kata Kwe Cing kemudian pada rombongannya terus putar kuda dan
kembali ke kota.
Setiba di atas benteng lagi, Ui Yong ter-mangu2 memandangi panggung di mana
puterinya terikat, pikirannya kacau tak terlukiskan.
“Yong ji, mari kita pakai barisan 28 bintang untuk menempur musuh,” kata Ui
Yok-su tiba2
Ui Yong terkesiap, sahutnya: “Tapi meski menang kalau musuh lantas bakar
panggung itu, lantas apa daya kita?”
“Asal kita bunuh musuh sekuat tenaga, mati-hidup Yang ji kita serahkan pada
takdir,” sela Kwe Cing tiba2 dengan bersemangat “Gakhu, mohon tanya, barisan 28
bintang itu cara bagaimanakah mengaturnya?”
“Perubahan barisan bintang2 ini sangat ruwet”, sahut Yok su tertawa “Aku
menciptakan barisan 28 bintang2 ini, sebab dahulu menyaksikan
“Thiankeng-pak-tau-tin” kaum Coan cin-kau, tujuanku hendak menandingi imam2
Coan-cin itu.”
“Bagus, dalam hal ilmu pasti dan segala ilmu mujijat lainnya, Ui-Iosia memang
menjagoi seluruh kolong langit, sekalipun Ong Tiong-yang hidup kembali juga tak
lebih unggul daripadamu, barisan bintang2 ciptaanmu ini pasti sangat hebat,”
demikian It-teng ikut bersuara.
Yok su tidak lantas menjawab, ia berpikir sejenak, lalu katanya “Barisanku ini
tujuannya melulu untuk bertempur dengan jumlah beberapa puluh orang jagoan
Bu-lim saja, sebenarnya tak pernah terpikir akan dipakai dalam pertempuran
melawan beratus ribu tentara ini. Tapi kalau diubah sedikit rasanya masih dapat
dilakukan. sayangnya sekarang kekurangan satu orang dan sepasang rajawali kita.”
“Cobalah memberi penjelasan lebih lanjut,” pinta It-teng.
“Kalau kedua rajawali itu tidak dibinasakan paderi keparat itu, bila barisan
kita dikerahkan segera kedua binatang itu disuruh terbang ke atas panggung untuk
menolong Yang-ji, tapi sekarang hal itu tak mungkin lagi,” demikian kata Ui
Yok-Su.
“Tentang barisan 28 bintang ini, hanya menurut perubahan “pancabuta” (unsur lima
macam,” api, air, bumi hawa dan eter) saja, harus dipimpin lima jagoan tinggi,
kita sudah mempunyai empat orang untuk empat jurusan: timur, selatan, utara, di
tengah, tapi barat, Se-tok Auyang Hong sudah mati dan tiada penggantinya, pula
Lo-wan-tong terluka, jika ada Nyo Ko di sini, orang ini cerdik pandai ilmu
silatnya tidak di bawah mendiang Auyang Hong, tapi kini ke mana harus
mencarinya? pimpinan untuk jurusan barat ini sungguh membikin aku rada ragu2″
Mendengar nama Nyo Ko disebut, Kwe Cing memandang jauh ke utara melampaui
panggung tinggi musuh itu dan bergumam: “Ya, mati atau hidup-kah Koji sekarang
sungguh bikin orang sangat berkuatir.”
“Ya, sebab apakah Nyo Ko yang katanya bertemu Kwe Yang didasar jurang, tapi
mengapa rombongan Ui Yong tidak menemukannya? Sebab apa dalam waktu tiada satu
hari Nyo Ko menghilang tanpa bekas?
Kiranya saking berduka dari putus asa karena merasa takkan berjumpa pula dengan
Siao liong-li, maka Nyo Ko telah terjun kedalam jurang dengan anggapan pasti
akan hancur lebur tubuhnya untuk menghabisi riwayatnya.
Tak terduga sampai lama melayang ke bawah, akhirnya terdengar suara “plung” yang
keras, tubuhnya tercemplung masuk kolam air. Betapa tinggi ia terjun dari atas,
dengan sendirinya daya tekanan itu amat kerasnya, maka ia tenggelam lurus ke
bawah entah berapa dalamnya, mendadak matanya terbeliak, lapat2 seperti
dilihatnya ada sebuah gua air, selagi ia hendak menegasi, daya tolak air kolam
yang keras luar biasa telah mengapungkan tubuhnya ke atas lagi, pada saat itulah
Kwe Yang pun ikut kecemplung ke dalam kolam.
Karena kejadian aneh yang susul menyusul itu, maka tanpa pikir Nyo Ko menunggu
Kwe Yang mengambang ke atas air, lalu menyeretnya ke tepi serta menanyai “Adik
cilik, kenapa kau terjatuh ke bawah sini?”
“Melihat kau terjun, aku lantas ikut terjun ke sini,” sahut Kwe Yang.
“Tobat! ampun!” kata Nyo Ko geleng2 kepala, “Apakah kau tak takut mati?”.
“Kau tak takut mati, akupun tak takut,” sahut Kwe Yang pula dengan tersenyum.
Hati Nyo Ko jadi tergerak pikirnya diam2: “Apakah mungkin usia semuda ini
ternyata sudah mendalam cintanya padaku?” Berpikir demikian, tanpa merasa kedua
tangannya rada gemetar.
Tiba2 Kwe Yang mengeluarkan sebuah jarum emas, ia angsurkan pada Nyo Ko dan
bertanya: “Toakoko, dahulu waktu kau memberikan tiga jarum padaku, kau bilang
setiap jarum ini berlaku bagiku mengajukan sesuatu permintaan padamu dan engkau
pasti takkan menolak. Kini aku memohonpadamu: Tidak peduli apakah Liong-cici
dapat bertemu kembali denganmu atau tidak, janganlah sekali-sekali kau mencari
pikiran pendek.”
“Apakah jauh2 kau datang dari Siangyang, perlunya melulu untuk memohon hal ini
padaku?” tanya Nyo Ko dengan suara ter-putus2 sambil memandangi jarum emas itu.
“Ya, benar,” sahut Kwe Yang penuh girang. “laki2 sejati sekali berkata harus
dapat dipercaya, apa yang kau pernah sanggupkan padaku, jangan kau mungkir
janji.”
Nyo Ko menghela napas panjang sekali. seorang hidup ingin mati, tapi dari mati
kembali hidup melalui suatu proses tertentu, betapapun tadinya ia berkeras ingin
mati, tak mungkin untuk sekali lagi mencari mati, hal ini adalah kelaziman
manusia tanpa kecuali.
Kini demi dilihatnya sekujur badan Kwe Yang basah kuyup, kedinginan hingga
giginya gemertak saling beradu, tapi rasa girang pada wajahnya tidak tertutup
oleb semua itu, lekas Nyo Ko mengumpulkan kayu kering hendak menyalakan api,
tapi ketikan api yang mereka bawa sudah ikut basah semua, tak bisa digunakan
lagt, terpaksa ia berkata: “Adik cilik, kau latihan Lwekang dulu dua kali,
supaya hawa dingin tidak menyerang badanmu hingga menimbulkan sakit.”
“Marilah kita berdua berlatih semua,” sahut Kwe Yang.
Lalu merekapun duduk berendeng menjalankan darah dan mengatur napas, Sejak kecil
Nyo Ko sudah digembleng tidur di atas batu kemala dingin di dalam kuburan kuno
di Cong-lam-san itu, maka sedikit hawa dingin ini bukan apa2 baginya, ia ulur
tangan memegang punggung Kwe Yang, maka mengalir hawa hangat melalui
“Sin-tong-hiat” dipunggung anak dara itu dan pelahan2 merata ke seluruh
tubuhnya.
Tidak lama kemudian, Kwe Yang merasa seluruh badannya hangat kembali dan lebih
segar.

kembalinya rajawali 25

Juni 24, 2010

Namun baru “lm jian siau hunjio” Nyo Ko itu dimainkan sampai tengah jalan,
Loh-eng-cio-hoat” Ui Yok-su sudah tampak di bawah angin. Waktu itu secepat panah
tubuh In Kik-si menubruk kearahnya, Yok-su menaksir tenaganya tak cukup untuk
melawan tenaga dorongan Nyo Ko sekali ini, segera ia gunakan jarinya untuk
menyentik, “crit”, terdengar suara lirih tajam, suatu kekuatan halus tapi kuat
terus meluncur ke depan dan seketika tenaga pukulan Nyo Ko itu terpatahkan.
Be runtun2 Ui Yok-su menyelentik tiga kali, maka tiga kali gedebukan, tubuh
Siau-sing-cu: It Kik-si dan lelaki muka hitam itu terbanting semua di atas papan
loteng dan semaput.
Kalau “Loh cng cio hoat” sedikit kalah kuat daripada tenaga Nyo Ko, tapi tenaga
sakti jarinya “Tan-ci sin-thong” ternyata sama kuatnya, siapapun tiada yang
lebih unggul.
Maka bergelak ketawalah kedua orang itu, mereka kembali ke tempat duduk masing2,
menuang arak dan pasang omong pula.
“llmu pukulan adik ini, kalau soal tenaga, hanya “Hang liong-sip pat ciang”
menantuku Kwe Cing yang dapat menandingi, sedangkan Loh-eng-cio Lohu masih kalah
setingkat demikian kata Ui Yok-su kemudian.
Ber-ulang2 Nyo Ko menyatakan terima kasih dengan rendah hati. Lalu tanyanya:
“Konon kabarnya Lociaopwe pernah mendapat petunjuk Lam-hay Sin-ni dan dapat
mempelajari sejurus Cio-hoat (ilmu pukulan), entah dapatkah Wanpwe melihatnya
untuk menambah pengalaman?”
“Ltm-hay Sin-ni? siapakah dia? selamanya belum pernah aku mendengar namanya,”
sahut Ui Yok-su heran.
Seketika berubah air muka Nyo Ko, ia berdiri, dengan suara gemetar ia menegas:
“Apakah di dunia ini hakikatnya tiada seorang Lam-hay Sin-ni”
Melihat perubahan wajah orang yang aneh itu, Ui Yok-su rada terkejut juga, maka
jawabnya dengan ragu2: “Apakah mungkin seorang kosen yang belum lama ini baru
terkenal. Lohu suka hidup menyendiri, maka belum kenal akan namanya.”
Terpaku Nyo Ko berdiri, begitu cemas perasaannya, serasa hatinya akan melompat
keluar dari rongga dadanya, katanya dalam hati: “Dengan jelas Kwe-pekbo
menyatakan bahwa Liongji telah ditolong pergi oleh Lam hay Sin-ni, siapa tahu
semua itu bohong belaka dan sengaja mendustai aku!”
Berpikir sampai di sini, tiba2 ia berteriak sambit menengadah, suaranya
menggetar sukma, air mata pun meleleh.
“Ada kesulitan apakah Laute, dapatkah kau jelaskan, boleh jadi Lohu dapat
membantu sebisa-nya,” tanya Yoksu.
Tapi Nyo Ko lantas memberi hormat sambil berkata dengan suara parau: “Perasaan
Wanpwe kacau luar biasa hingga tindak tanduk kurang wajar harap dimaafkan.”
Habis itu, lengan bajunya mengebas ia putar tubuh terus turun ke bawah,
terdengarlah tuara “krak-krak” beberapa kali, beberapa undak tangga telah hancur
kena diinjaknya.
Ui Yok-su menjadi bingung, ia menggumam sendiri: “Lam-hay Sin-ni, Lam-hay
Sin-ni? siapakah gerangannya?”
Sementara itu Nyo Ko telah berlari pergi seperti kerasukan setan, ia lari dan
lari terus, dalam beberapa hari tanpa makan tanpa tidur, ia pikir hanya mati
letih barulah takkan ingat Siao liong li, sebenarnya kelak masih dapat bertemu
tidak, saat itu sama sekali tak berani dibayangkannya.
Tidak berapa lama, tibalah ia di tepi sungai besar, Nyo Ko tak tahan lagi oleh
hancurnya perasaan itu, ketika dilihatnya ada sebuah perahu menepi segera ia
melompat naik, ia berikan sepotong perak pada si tukang perahu dan tanpa menanya
kemana perahu itu bakal berlayar, segera ia rebah di situ terus tidur.
Air sungai mengalir dengan derasnya, perahu layar yang ditumpangi Nyo Ko itu
terus laju, setiap kota dagang pasti kapal itu berlabuh beberapa hari buat
bongkar-muat barang, agaknya itu adalah sebuah kapal barang yang hilir-mudik di
sungai Tiang-kang itu.
Hati Nyo Ko saat itu se-akan2 kosong blong, ke manapun serupa baginya, maka
iapun tidak perduIi kapal itu akan berlayar atau berlabuh, ia lewatkan hari2 itu
dengan minum arak, di malam hari ia suka bersiul panjang dan ter-menung2 tanpa
kenal waktu.
Si tukang perahu dan saudagar yang mencarter” kapal itu tampak akan uang Nyo Ko
yang bayar tanpa tawar itu, mereka menyangka dia adalah pengelana sinting, maka
siapapun tiada yang mengurusnya.
Suatu hari, tibalah kapal itu di Kang-im, seorang saudagar sekapal telah mohon
diri pada Nyo Ko dan bilang akan pergi ke Ka-hin dan Lim-an untuk membeli
sutera.
Mendengar kata2 Ka hin”, mendadak Nyo Ko terkejut dan berpikir “Dahulu ayahku
tewas secara mengenaskan oleh Ui Yong di kelenteng Ong-uat jiang dalam kota
Ka-hin, entah di manakah kuburannya? Aku tak bisa mengubur jenazah ayat secara
baik2 benar2 aku seorang anak tak berbakti.”
Berpikir akan itu, segera ia tinggalkan perahu itu dan mendarat terus menuju ke
Ka-hin. Tatkala itu sudah masuk musim dingin, meski di daerah Kanglam tidak
sedingin daerah utara, tapi di mana2 juga salju bertebaran, Nyo Ko memakai
mantel ijuk dan bertopikan caping, menujulah dia ke Ka hin.
Sampai di kota itu, cuaca sudah gelap, ia mencari suatu rumah makan serta tanya
jalan ke kelenteng Ong tiat jiang, di bawah hujan salju yang lebat ia pergi
kesana.
Ketika sampai di kelenteng itu, waktu sudah dekat tengah malam, salju masih
terus turun, gelap gulita keadaannya, Tapi Nyo Ko sanggup melihat dimalam gelap,
ia lihat Tiat jiang-bio atau “keIenteng tombak besi” itu sudah bobrok, pintu
sudah lapuk, sedikit didorong lantas roboh.
Nyo Ko masuk ke dalam, di-mana2 terlihat penuh debu dan galagusi-bersinggasana,
suatu tanda tiada penghuninya, ia berdiri ter mangu2 di tengah ruangan
kelenteng, terbayang olehnya ketika ayahnya tewas di situ dahulu hingga sejak
lahirnya tiada pernah melihat muka ayahnya sendiri, sungguh nasib malang itu
jarang terdapat di dunia-ini, ia menjadi berduka hingga makin menambah pilu
hatinya.
Ia periksa sekitar kelenteng itu, ia pikir sudah lebih 30 tahun ayahnya
meninggal dengan sendirinya tiada meninggalkan sesuatu tanda apa2. ia pergi ke
belakang kelenteng, ia lihat di bawah apitan dua pohon ada dua kuburan, di depan
kuburan2 itu masing2 berdiri sebuah batu nisan yang penuh tertutup oleh salju.
Ketika Nyo Ko kebas lengan bajunya hingga salju berhamburan oleh angin
kebasannya itu, maka tertampaklah pada batu nisan sebelah kiri tertulis “Kuburan
Bok-si dari keluarga Nyo”.
Diam2 Nyo Ko pikir siapakah gerangan wanita Se Bok ini? Waktu batu nisan sebelah
lain dipandangnya, seketika tak tahan lagi rasa gusarnya.
Kiranya batu nisan itu tertulis: “Kuburan mu-id durhaka Nyo Khong”, dan
dipinggirnya tertulis ebaris huruf kecil yang berbunyi “Guru tak beriImu Khu
Ju-ki”
Pikir Nyo Ko dengan gusar: “lmam tua ini benar2 tak berbudi, ayahku sudah
meninggal kenapa harus mendirikan batu nisan untuk mencela kelakuannya? Dalam
hal mana ayahku durhaka? Hm kalau aku tidak pergi ke Coan cin kau dan mengobrak
abriknya, rasanya hatiku tidak puas”
Habis itu, tangannya diangkat terus hendak menghantam batu nisan itu.
Tapi selagi tangan hendak digablokkan, tiba2 terdengar dari arah barat sana
berkumandang datang suara tindakan kaki yang cepat, suaranya begitu aneh,
seperti beberapa tokoh dunia persilatan yang hebat, tapi juga mirip jalannya dua
ekor binatang, sewaktu kaki menginjak tanah, sebelah kiri antap dan sebelah
kanan enteng sungguh aneh luar biasa.
Nyo Ko mendengar suara itu justru menuju ke kelenteng ini, maka cepat ia masuk
kembali keruangan tengah kelenteng dan sembunyi di belakang patung malaikat yang
sudah doyong, hendak dilihatnya mahluk aneh apakah yang datang itu?
Sebentar saja suara tindakan kaki itu sudah sampai di depan kelenteng, tapi
lantas berhenti tak bergerak lagi, agaknya seperti kuatir kalau di dalam
kelenteng sudah ada sembunyi musuh, selang sejenak, barulah masuk.
Ketika Nyo Ko mengintip keluar, hampir saja ia tertawa geli.
Kiranya yang masuk kelenteng ini seluruhnya empat orang, kaki kiri keempat orang
ini sudah putus semua, masing orang memakai sebatang tongkat dan di pundak kiri
masing2 dirangkai seutas rantai besi yang saling terkunci, sebab itulah waktu
berjalan, empat tongkat menutul tanah berbareng, lalu empat kaki keempat orang
juga melangkah maju bersama.
Orang yang paling depan berkepala gundul pelontos, tangan kiri sudah buntung,
kaki kiri putus separoh, sudah cacat bertambah cacat, Orang kedua jidatnya
jendul, terdapat tiga uci2 yang besar. Orang ketiga bertubuh kecil pendek dan
orang keempat adalah Hwesio berbadan tegap.
Nyo Ko ter-heran2, macan orang2 apakah dan kenapa saling dirantai tanpa
terpisahkan?
Lalu terdengarlah suara gemerantang yang nyaring, si gundul tadi mengeluarkan
geretan api dan menyalakan sepotong sisa lilin.
Maka jelaslah sekarang Nyo Ko melihatnya ternyata kecuali orang pertama yang
gundul ini, tiga orang lainnya berlubang mata, tapi tiada biji matanya.
Karena itu barulah ia mengerti persoalannya, kiranya ketiga orang buta itu
menggunakan si gundul ini sebagai penunjuk jalan mereka.
Kemudian si gundul mengangkat lilin dan memeriksa sekitar kelenteng, maka
keempat orang itu menjadi seperti berbaris beriring2an, jarak mereka masing2
tidak lebih tiga kaki. Namun Nyo Ko yang sembunyi di belakang patung tak
diketahui mereka.
Sesudah memeriksa, keempat orang itu masuk lagi ke ruangan dalam, lalu si gundul
itu berkata : “Kwa lolhau tidak membocorkan jejak kita, jika ia mengundang bala
bantuan, tentu sudah disembunyikannya di sini dahulu.”
“Ya, benar, ia sudah berjanji sekatapun takkan dibocorkan pada orang lain, orang
semacam dia ini selamanya berpambekan tinggi, dalam hal “kepercayaan” sangatlah
di beratkan, “demikian ujar orang ketiga.
Tapi orang yang ber-uci2 itu lantas berkata: “Soa toako, kau kira si tua she Kwa
itu akan datang atau tidak?”
“ltulah sukar kukatakan, kurasa ia takkan datang, masakah dia begitu bodoh
sengaja mengantarkan kematian?” ujar orang pertama tadi.
“Tapi Kwa-lolhau ini adalah orang yang pertama dari Kanglam chit-koay, dahulu
mereka bertaruh dengan imam keparat Khu Ju-ki dan jauh2 tanpa kenal lelah pergi
ke Mongol memberi pelajaran silat kepada Kwe Cing, hal ini ketika tersiar di
Kangouw, semuanya memuji akan janji emas Kanglam chit-koay, sekali berkata,
pasti pegang janji. Kita justeru mengingat hal ini barulah melepaskan dia
pergi.”
Jelas terdengar perjakapan mereka itu oleh Nyo Ko, diam2 ia pikir: “Eh, kiranya
mereka sedang menantikan Kwa-kongkong di sini?”
Dalam pada itu orang kedua yang jendul ber-kata: “Tapi aku bilang dia pasti
takkan datang, Peng-toako, beranikah kau bertaruh, coba lihat…”
Tapi belum habis ucapannya, tiba2 terdengar suara tindakan orang datang dari
arah timur, juga langkah yang sebelah antap dan sebelah lagi enteng, ada orang
datang lagi menggunakan tongkat, cuma sekarang seorang diri saja.
Sejak kecil Nyo Ko sudah lama tinggal bersama Kwa Tin ok di Tho-hoa-to, maka
begitu dengar segera ia tahu orang tua itulah yang datang.
Terdengarlah si orang ketiga yang kecil kurus tadi bergelak-tawa, katanya: “Nah,
Kau laute, Kwa-lothau benar2 telah datang, masih berani kau bertaruh tidak?”
“Keparat, benar2 tak takut mati dia, sungguh aneh,” orang kedua tadi mengomel.
Lalu terdengar suara ketokan nyaring beberapa kali, suara ketokan tongkat besi,
Hui thian pian hok Kwa Tin-ok tampak masuk ke dalam kelenteng, terus berdiri
tegak di tengah ruangan.
“Kwa Tin ok telah datang menurut janji, inilah Kim hoa-giok loh wan buatan Tho
hoa-to, seluruhnya berjumlah 12 butir, setiap orang makan tiga butir,” demikian
katanya.
Berbareng tangannya mengayun, sebuah botol kecil lantas ditimpukkan ke arah
sikakek gundul tadi.
“Terima kasih!” sahut si gundul girang, ia sambuti botol kecil yang dilemparkan
kepadanya itu.
“Urusan pribadi Lohu sudah selesai, sekarang sengaja datang buat terima
kematian,” tiba2 Kwa Tin-ok berkata, ia tegak leher berdiri di tengah ruangan,
jenggotnya yang sudah putih ter-gerak2, sikapnya sewajarnya saja.
“Soa-toako, karena dia sudah memberikan Kiu -hoa-giok-loh-wan pada kita hingga
luka dalam kita bakal sembuh, tua bangka inipun tiada permusuhan apa2 dengan
kita, biarlah kita ampuni dia saja,” kata siorang kedua yang kepala barjendul
itu.
“Ha, Kau-laute.” jengek si orang ketiga, “kata peribahasa “piara harimau cari
penyakit”, hatimu yang lemah ini mungkin kita berempat nanti harus jadi korban
semua, Kini meski ia belum membocorkan rahasia kita, tapi siapa berani menjamin
ia akan tutup mulut selamanya?”
Habis itu mendadak ia membcntak: “HayoIah, turun tangan!”
Dan keempat orangpun melompat bangun cepat dan berdiri diempat sudut, dengan
tepat Kwa-Tin-ok terkurung di-tengah2.
“Kwa-Iothau,” kata si kakek gundul dengan suara serak, “lebih 30 tahun yang lalu
kita telah menyaksikan bersama kematian Nyo Khong di sini, sungguh tidak nyani
har iini kaupun menyusulnya, ini namanya sudah suratan nasib.”
Tapi mendadak Kwa Tin-ok ketok keras2 tongkatnya kelantai, dengan gusar katanya,
“Nyo Kong itu terima mengaku musuh sebagai ayah, jual tanah air untuk kenikmatan
sendiri, ia seorang rendah yang tak tahu malu, sedang aku Kwa Tin-ok adalah
laki2 sejati yang dapat mempertanggung jawabkan segala tindak-tandukku kepada
negara maupun bangsa, mengapa kau bandingkan aku Hui-nian-pian-hok dengan
manusia rendah itu?”
“Hm, kematianmu sudah di depan mata, masih berlagak pahlawan gagah?” jengek si
pendek, orang ketiga tadi.
Habis itu, mereka sama2 menghantamkan setelah tangan ke atas kepala Kwa Tin-ok.
Merasa dirinya bukan tandingan keempat lawan ini, Tin-ok berdiri tegak dengan
tongkatnya tanpa menangkis.
Maka terdengarlah suara menyambarnya angin yang keras, menyusul suara “blung”
dibarengi berhamburnya debu pasir, keempat orang itu merasa tmpat yang terkena
pukulan mereka itu rasanya tidak betuI, bukannya mengenai tubuh manusia.
Segera si kakek gundul itu dapat melihat jelas dalam lingkaran yang mereka
kepung itu Kwa Tinok sudah menghilang, tempat dimana orang berdiri tadi sudah
tertukar patung bobrok dari kelenteng itu.
Dan karena pukulan keempat orang itu kena kepala patung, maka seketika hancur
menjadi bubuk.
Keempat orang itu tiga diantaranya adalah buta, tapi si kakek gundul itu bermata
tajam, namun hanya sekejap saja tahu2 Kwa Tinok bisa berubah menjadi patung, hal
ini sunggun bikin terkejut tidak kepalang, empat orang itu sekaligus membalik ke
beIakang.
Maka terlihatnya seorang laki2 berumur 30-an berlengan tunggal sudah berdiri
disitu dengan wajah gusar, Kwa Tin-ok tercengkeram tengkuknya dan terangkat
tinggi.
“Berdasar apa kau berani mencaci-maki ayah-ku?” demikian lelaki buntung itu
membentak Tin-ok.
“Siapakah saudara?” tanya Tin-ok tak gentar.
“Aku puteranya Nyo Khong, Nyo Ko ada-nya,” sahut Nyo Ko. “Ketika tinggal di
Tho-hoa-to dulu, tidaklah jelek kau terhadapku tapi kenapa dibelakang kau memaki
dan memfitnah mendiang ayahku?”
“Hm,” jengek Tin-ok dingin, “sejak dahulu-kala, manusia yang mati meninggalkan
nama, tapi ada juga orang yang turunkan nama busuk, baik atau busuk semuanya
perbuatan manusia, mana bisa menyumbat mulut orang agar tidak menyebutkannya?”
Melihat orang sedikitpun tidak gentar, Nyo Ko tambah gusar, ia angkat tubuh
Tin-ok dan dibanting kelantai sambil membentak: “Cobalah katakan, kenapa ayahku
rendah dan kotor?”
Melihat begini hebat dan tangkasnya Nyo Ko, si kakek gundul tadi diam2 menarik
tiga kawannya terus hendak mengeluyur pergi, Namun sedikit Nyo Ko melesat tahu2
sudah mengadang diambang pintu, “Hmm kalau tidak bicara yang jelas, siapapun
tidak akan hidup keluar dari kelenteng ini,” demikian bentaknya.
Mendadak keempat orang itu menggertak sekaligus dan memukul ke depan.
“Bagus!” sambut Nyo Ko, iapun dorong sebelah tangannya.
Belum lagi tangan beradu tangan, tahu2 keempat orang itu sudah merasa suatu
tenaga pukulan yang maha besar menindih ke arah mereka.
Tanpa ampin lagi mereka terjengkang kebelakang dan menerbitkan suara gedubrakan
yang keras, tubuh keempat orang menindih di atau patung tadi hingga patung itu
remuk ber-keping2.
Di antara empat orang itu, siorang kedua yang punya tiga uci2 di batok kepala
itu berkepandaian paling lemah, justru kepalanya tepat menumbuk dada patung itu,
keruan seketika ia semaput
“Kalian berempat ini siapa? Kenapa terantai menjadi satu begini dan kenapa bisa
berjanji untuk bertemu dengan Kwa Tin-ok di sini?” tanya Nyo Ko.
Kiranya kakek, gundul ini adalah Soa Thong-thian, orang kedua yang ber-uci2 itu
adalah Sute-nya, Kau Hay-thong, yang pendek kecil adalah Peng Lian-hou dan
Hwesio yang tinggi besar itu adalah Lian-ti Siang jin.
Lebih 30 tahun yang lalu mereka tertangkap oleh Lo wan-tong Ciu Pek-thong dan
diserahkan pada Khu Ju-ki dan Ong Ju-it untuk mengurung mereka dalam Tiong-yang
kiong di Cong-Iam-san, kalau mereka sudah insaf baru akan dibebaskan.
Akan tetapi keempat orang ini sukar mengubah watak jahat mereka, dengan segala
jalan mereka berusaha melarikan diri, tapi setiap kali kena dibekuk kembali.
Ketika untuk ketiga kalinya mereka hendak merat, Peng Lian Iiou, Kau Thong-hay
dan Ling-ti Siangjin bertiga telah membunuh beberapa anak murid Coan-cin kau
yang menjaga mereka, setelah tertangkap kembali, sebagai hukuman yang setimpal
mereka telah dikutungi sebelah kaki dan mata mereka dibutakan, hanya Soa
Thong-thian yang tidak mencelakai jiwa manusia, selamat kedua matanya.
Ketika Nyo Ko belajar silat di Tiong-yang-kiong, karena waktunya tidak lama,
pula selalu menderita, maka keempat orang hukuman itu tak dikenalnya, Sampai 16
tahun yang lalu, ketika jago2 Mongol membakar Tiong-yang-kiong, dalam keadaan
kacau-balau itu dapatlah Soa Thong-thian berempat meloloskan diri.
Dan karena ketiganya buta, terpaksa bergantung pada Soa Thong thian sebagai
penuntun jalan. Peng Lian-hou kuatir kalau orang tinggal pergi sendiri, maka ia
berkeras tidak mau tanggalkan rantai yang masih mengikat tubuh mereka berempat.
Sesudah lari dari Tiong-yang-kiong, Soa Thong thian cs. masih kuatir kalau2
dapat dibekuk kembali oleh orang2 – Coan-cin pay, maka diam2 mereki lari ke
daerah Kanglam dan selalu sembunyi menyepi dipedusunan.
Hari itu kebetulan mereka ke pergok Kwa Tin-ok, ilmu silat Tin-ok jauh bukan
tandingan keempat orang itu, maka sekali gebrak sudah kalah, ketika ditanya
barulah diketahui Kwa Tin-ok ada keperluan dan tiada maksud mencari mereka.
Meski mereka tiada permusuhan atau dendam tapi pendirian berbeda, pula kuatir
orang membocorkan tentang jejak mereka, maka Soa Thong thian cs. bermaksud
membunuh Tin ok.
Waktu itu Tin-ok berkata bahwa ia harus pergi ke Leng-oh-tin di daerah Siangcu.,
bila urusan selesai ia sendiri akan datang kembali buat terima kematian, kalau
keempat orang itu bersedia memberi hidup lebih lama beberapa hari padanya, ia
akan mengambilkan beberapa pil “Kiu hoaJnok loh-wan yang sangat mujarab untuk
luka2 dalam, obat buatan Ui Yok-su dari Tho-boa-tot sebagai balas budi itu.
Memangnya keempat orang itu sejak kakinya dipatahkan selalu menderita sakit
encok yang jahat, kini mendengar Tin-ok bersumpah takkan membocorkan tempat
sembunyi mereka, juga takkan mengajak pembantu, barulah kemudian mereka tetapkan
harinya untuk bertemu kembali di kelenteng Ong- tiat-jiang di Ka hin ini.
BegituIah sehabis menutur kejadian2 itu, lalu Soa Thong-thian berkata:
“Nyo-kongcu, waktu ayahmu masih hidup, kami semuanya adalah tamu undangannya,
Sampai ia meninggal, kami sedikitpun tidak salah padanya, maka haraplah suka
mengingat kebaikan dulu2 itu dan membiarkan kami pergi!”
Dahulu Soa Thong-thian cs. adalah jago2 kelas tinggi di kalangan Kangouw,
sekalipun golok mengancam ditengkuknya juga tak nanti gentar, tapi sejak mereka
dikurung lama, kaki buntung, mata buta, jiwa mereka menjadi melempem, semangat
jantan hilang, kini tanpa segan2 mohon ampun pada Nyo Ko.
Tapi Nyo Ko tak menggubris mereka, katanya pula pada Kwa Tin-ok: “Kau pergi ke
Leng-oh tin, apakah untuk menemui Thia Eng daa Liok Bu siang taci beradik? Dan
untuk urusan apa?”
Tiba2 Tio-ok menengadah tertawa panjang, katanya. “Wahai Nyo Ko, Nyo Ko, kau
bocah ini benar2 tak tahu urusan!”
“Kenapa aku tak tahu urusan?” lahut Nyo Ko gusar.
“Aku Hui-thian-pian-bok (kelelawar terbang di langit, julukan Tin-ok) sudah
tidak pikirkan jiwa lapuk ini lagi, sekalipun di masa muda, aku KwaTin-ok juga
tak pernah takut pada siapapun, betapa tinggi ilmu silatmu paling banyak hanya
dapat me-nakut2i sebangsa manusia2 yang takut mati dan tamak hidup, tapi Kanglam
chit-koay apa kau kira kena digertak orang?” demikian sahut Tin ok.
Melihat sikap orang yang gagah berani, tanpa terasa Nyo Ko menaruh hormat, maka
katanya tagi: “Kwa-Iokongkong, ya, akulah yang salah tapi lantaran kata2-mu tadi
menghina mendiang ayahku, terpaksa aku berlaku tidak sopan. Nama Kwa kongkong
terkenal diseluruh jagat, Nyo Ko sejak kecil juga sangat kagum, selamanya tak
berani kurangajar.”
“Beginilah baru pantas,” ujar Tin-ok, “Aku melihat kelakuanmu tidak jelek, pula
telah berjasa besar di Siangyang, maka aku anggap kau adalah tokoh kelas satu.
Tapi kalau macam ayahmu dahulu, sekalipun berbicara saja aku merasa mual.”
Amarah Nyo Ko berkobar lagi oleh olok2 itu, dengan suara keras ia tanya:
“Sebenarnya ayahku berbuat salah apakah, coba terangkan.”
Harus diketahui bahwa di antara kawan2 yang pernah dikenal Nyo Ko tidak sedikit
orang yang ibu seluk beluk ayahnya dahulu, tapi karena sungkan mengolok2 ayah
seorang “Sin-tiau-hiap” maka semua orang sungkan membicarakannya, sekalipun
ditanya Nyo Ko sendiri.
Namun dasar Kwa Tin-ok selamanya pandang kejahatan sebagai musuh, wataknya keras
jujur, ia tak urus apakah ceritanya nanti akan menyinggung perasaan Nyo Ko atau
tidak, segera saja ia ceritakan seluruhnya dari awal sampai akhir, tentang
bagaimana Nyo Khong tak kenal budi, malahan sekongkoI dengan Auyang Hong hingga
lima kawannya dari Kanglam-chit-koay terbinasakan dan akhirnya menggaplok
punggung Ui Yong, tapi senjata makan tuan, duri landak kutang Ui Yong yang tanpa
sengaja tertempel racun ularnya Auyang Hong itu malah membinasakan Nyo Khong
sendiri.
“Kejadian pada malam itu, beberapa orang inipun menyaksikannya, Soa Thong thian,
Peng Lian hou, coba kalian katakan, apakah aku Kwa-Iothai pernah berbohong?”
demikian kata Tin-ok akhirnya.
Beberapa perkataan paling akhir ini diucapkannya dengan sangat keras hingga
bikin kaget beberapa puluh ekor burung gagak yang berada di menara kelenteng itu
terbang ke udara dengan suara yang berisik.
“Ya, malam itu juga terdapat burung2 gagak begini…” tutur Soa Thong-thian.
“Nih, tanganku ini justru karena digaruk sekali oleh Nyo-kongcu, kalau
Peng-hengte ini tidak cepat bertindak tanganku ini terus ditabasnya, mungkin
jiwaku akan dan melayang pada malam itu juga.”
Sungguh tidak kepalang rasa pedih dan pilu Nyo Ko pada saat itu, ia memegangi
kepalanya dan duduk termangu2 dengan muka muram, sekali2 tak diduganya bahwa
ayahnya ternyata seorang yang begitu jahat dan keji, sekalipun namanya dan
perbuatannya sendiri sekarang lebih cemerlang juga sukar mencuci bersih noda
ayahnya itu.
Begitulah, untuk sesaat di dalam kelenteng menjadi sunyi, keenam orang tiada
yang buka suara, hanya suara gaok masih terus berisik tiada hentinya.
Selang agak lama, berkatalah Kwa Tin-ok, “Nyo-kongcu, kau telah berjasa besar di
Siangyang, betapapun dosa ayahmu juga sudah tertutup semua, Di alam baka pasti
ia akan senang karena kau bisa tebus kesalahan orang tua.”
Nyo Ko coba merenungkan segala apa yang dialaminya selama ini, sejak ia kenal
suami isteri Kwe Cing, selalu Ui Yong menaruh prasangka padanya, segala kesalah
pahaman dulu2 semuanya disebabkan ayahnya itu. Tapt kalau tiada ayah darimanakah
datangnya dirinya ini? Namun banyak kematian dan rasa kesalnya selama ini
sesungguhnya juga gara2 perbuatan mendiang ayahnya. Tanpa terasa ia menghela
napas panjang oleh segala suka duka itu.
“Kwa-lokongkong,” tanyanya kemudian, “Apakah Thia Eng dan Liok Bu-siang berdua
taci beradik baik2 saja?”
“Ya, mereka menjadi begitu girang ketika mendengar kau membakar gudang
perbekalan musuh di Sinyang dan membasmi dua ribu pasukan perintis Mongol,”
sahut Tin-ok, “la tanya pula tentang keadaanmu selama ini dan berita
Siao-liong-Ii, nyata kedua taci-beradik itu sangat terkenang padamu,”
“Ai, kedua adik ini juga sudah 16 tahun aku tak melihatnya,” kata Nyo Ko
kemudian habis itu mendadak ia menoleh terus membentak pada Sa Thong thian:
“Nah, Kwa-kongkong sudah berjanji hendak serahkan jiwanya pada kalian, ia orang
tua selamanya sekali bicara tidak pernah pungkir janji, sekarang kalian lekas
turun tanganlah, dan sesudah kalian membunuhnya baru aku membunuh juga kalian
berempat anjing ini untuk membalaskan sakit hatinya.”
Soa Thong thian dan Peng Lian-bou menjadi tertegun, sungguh mereka tidak pernah
dengar ada bunuh membunuh cara demikian. Maka kata So Thong thian kemudian:
“Nyo-tayhiap, kami tuli tahu hingga berlaku kurangajar pada Kwa lohiap (pendekar
tua Kwa), harap kalian berdua suka memaafkan kami.”
“Jika begitu, nah, ingat baik2, kalian sendiri yang tidak menepati janji dan tak
inginkan jiwa Kwa-kongkong,” kata Nyo Ko.
“Ya, ya,” sahut Soa Thong thian cepat, “Terhadap budi luhur Kwa-lohiap kami
selamanya juga sangat kagum.”
“Nah, sekarang lekas enyah, lain kali jangan ke tumbuk lagi ditanganku,” bentak
Nyo Ko.
Keruao Soa Thong-thian cs. seakan2 mendapat lotere, sesudah memberi hormat,
dengan cepat mereka lari keluar kelenteng itu.
Nyo Ko menolong jiwa Kwa Tin-ok itu sangatlah menjaga kehormatannya sebagai
seorang ksatria, tentu saja Kwa Tin-ok berterima kasih. Dan sesudah membersihkan
pecahan patung di ruangan itu, lalu mereka berduduk untuk omong2.
“Aku pergi ke Leng-oh-tio adalah sebab urusan Kwe-ji-kohnio,” demikian tutur
Tin-ok.
“Ha,” Nyo Ko rada terkejut “Ada apakah nona kecil ini?”
“Kedua puteri Kwe Cing itu masing2 punya kenakalannya sendiri2, sungguh bikin
orang kepala pusing,” ujar Tin-ok. “Entah mengapa, tiba2 Kwe Yang si anak dara
itu meninggalkan rumah tanpa pamit entah ke mana, Sudah tentu orang tuanya
menjadi kelabakan, ke-mana2 orang dikirim untuk mencarinya, tapi sama sekali
tiada kabar beritanya, karena aku si buta ini tiada pekerjaan apa2 di Siangyang,
maka aku juga keluar untuk mencarinya. Jurusan timur, utara dan barat sudah ada
orang yang pergi, aku lebih paham keadaan daerah Kanglam maka aku lantas ke
selatan sini.”
“Dan apakah sudah mendapatkan beritanya?” tanya Nyo Ko.
“Beberapa hari yang lalu secara kebetulan aku mendengar percakapan dua orang
kurir bangsa Mongol, katanya puteri kecil Kwe-tayhiap dari Siang-yang telah
tertawan ke dalam pasukan Mongol mereka.
“Haya! Apakah kabar ini betul atau bohong?”
“Kedua kurir Mongol itu berbicara dalam bahasa mereka dan menyangka tiada orang
lain yang paham, tak tahunya aku pernah tinggal belasan tahun di negeri Mongol,
tentu saja semuanya kudengar dengan jelas,” kata Tin-ok pula.
“He, kalau begitu jadi berita ini tidaklah bohong?” tanya Nyo Ko terkejut.
“Ya, maka dalam gusarku segera kupersen ke-dua kurir Mongol itu masing2 sebiji
“Tok-cit-le” dan hendak kulapor ke Siangyang, siapa tahu di tengah dan kepergok
empat setan tadi,” tutur Tin-ok
“Aku pikir jiwaku tidak jadi soa!, tapi berita nona Kwe Yang harus disampaikan
makanya aku minta mereka memberi kelonggaran beberapa hari, kupergi jke Leng-oh
tin yang berdekatan dan memberitahukan pada Thia Eng dan Liok Bu siang.
Mendengar berita itu, segera kedua nona itu berangkat ke utara dan aku menepati
janji datang kemari mengantarkan kematian.
Sungguh tidak nyana sekarang ke empat setan jahat ini sendiri tak dapat
dipercaya, sampai saat terakhir mereka tidak berani – turun tangan. Haha,
hahaha!”
“Apakah Kwa-kongkong pernah mendengar cerita kedua kurir Mongol itu tentang cara
bagaimana tertawannya nona Kwe dan apakah berbahaya jiwanya?” tanya Nyo Ko
sesudah pikir sejenak.
“ltulah aku tidak mendengar,” sahut Tin-ok,
“Urusan ini sangat gawat, sekarang juga boanpwe pergi ke sana dan berusaha
menolong sebisanya,” kata Nyo Ko pula, “Dan Kwa-kongkong sendiri bolehlah
menyusul belakangan saja.”
“Baiklah, ada kau yang pergi menolongnya, hatiku akan merasa lega, biarlah aku
menunggu kabar baik saja di Siangyang,” sahut Tin ok.
Nyata sejak menyaksikan apa yang dilakukan Nyo Ko di Siangyang tempo hari, hati
orang tua ini sudah sangat kagum atas kemampuannya.
“Tapi Wanpwe ada sesuatu permintaan aku mohon bantuanmu Kwa-kongkong.” pinta Nyo
Ko “Yalah sukalah kau mengganti sebuah batu nisan kuburan ayahku, tulislah
puteranya Nyo Ko yang mendirikannya.”
“Baiklah, pasti akan kukerjakan dengan baik,” sahut Tin ok.
Dan berangkatlah Nyo Ko segera sesudah memberi hormat pad orang itu. ia membeli
dua ekor kuda dulu di Ka-hin dan sepanjang jalan bergantian kuda terus menuju ke
Sin-yang tanpa berhenti Maka tidak seberapa hari sudah dekatlah dengan
perkemahan pasukan Mongol.
Kiranya raja Mongol yang pimpin pasukan hendak menggempur Siangyang ini, ketika
tanpa tahu sebab musababnya kedua pasukan perintisnya terbasmi di Sinya dan
Tengciu, ia menjadi ragu2 akan kekuatan pasukan Song yang sebenarnya, maka
pasukan induknya berkemah di antara Lamyang, kedua pihak belum pernah bertempur.
Maka terlihatlah panji2 ber-kibar2, senjata gemerlapan, perkemahan yang
ber-deret2 memanjang tak kelihatan ujungnya.
Menunggu sesudah malam, Nyo Ko menyelundup ke perkemahan musuh untuk
menyelidiki, ia lihat penjagaan sangat keras, disiplin sangat baik.
Kekuatan tentara Mongol itu memang sangat hebat. Lebih2 kemah di mana raja
berdiam, penjagaan lebih ketat lagi. Meski tinggi ilmu silat Nyo Ko, tapi di
ketahuinya tidak sedikit orang2 gagah dalam pasukan musuh, betapapun tangkas
sukar juga melawan orang banyak, maka iapun tak berani sembarangan unjuk diri.
Malam itu ia hanya dapat menyelidiki perkemahan bagian timur, besoknya
dilanjutkan bagian selatan dan lain hari perkemahan barat, ber-turut2 empat
malam empat bagian pertengahan musuh itu selesai diintainya, tapi masih belum
memperoleh kabar berita Kwe Yang itu.
Akhirnya Nyo Ko menawan seorang perwira musuh, di bawah ancaman perwira itu
telah mengaku terus terang bahwa sesungguhnya tidak pernah terdengar tentang
puteri Kwe Cing dari Siangyang.
Namun Nyo Ko masih ragu2, ia selidiki lagi beberapa hari, kemudian baru percaya
memang Kwe Yang tidak disekap di situ, Pikirnya: “Againya Kwe-pepek sudah dapat
menolong puterinya pulang, atau mungkin kedua kurir Mongol itu juga mendengar
dari orang lain jadi hanya berita bohong-belaka.
Sementara itu musim scmi sudah tiba, bunga mekar mewangi. janji Siao-liong-Ii 16
tahun yang lalu sudah hampir tiba, maka Nyo Ko lantas menuju ke utara, pergi ke
Coat-ccng-kok atau lembah putus cinta.
* * * *
Mengenai Kwe Yang hari itu setelah disaksikannya Kim-Iun Hoat-ong secara keji
membinasakan Tiang-jiu kui dan Toa-thau-kui berdua, dalam hati ia menjadi
berduka, iapun insaf takkan bisa lolos dari cengkeraman elmaut, maka dengan
tegak ia menantang: “Hayolah, bunuhlah aku, tunggu apalagi?”
“Hendak membunuh kau adalah terlalu mudah?” sahut Kim lun Hoat-ong tertawa “Tapi
hari ini aku sudah membunuh dua orang, sudah cukup, lewat berapa hari lagi nanti
akan kusembelih kau. Sekarang lekas turut aku pergi.”
Kwe Yang pikir percuma saja hendak membangkang, biarlah nanti tunggu kesempatan
untuk meloloskan diri, Maka iapun cempIak ke atas kuda dan jalan pelahan.
Tentu saja Kim-Iun Hoat-ong sangat senang, pikirnya: “Hongsiang dan Hongte (raja
dan adik Raja) ingin sekali mencabut jiwa Kwe Cing, tapi selama ini tidak
berdaya, Hari ini aku dapat menawan puteri kesayangannya, dengan sandera ini mau
tak mau Kwe Cing harus tunduk kepala dan turut perintah, seumpama Kwe Cing tak
mau takluk, pelahan kita siksa lahir batin nona ini dibawah benteng dihadapan
Kwe Cing, biar dia ngenas dan kacau pikiran, tatkala itu sekali gempur pasti
Siangyang akan bobol.
Sampai hari sudah malam, mereka mondok di-rumah tepi jalan, Tapi penghuni rumah
sudah kabur, rumah itu kosong melompong. Hoat-ong mengeluarkan rangsum kering
dan diberikan sedikit pada Kwe Yang, anak dara itu disuruh tidur di dalam kamar,
ia sendiri duduk sila bersemedi di ruangan luar.
Kwe Yang gulang-guIing dipembaringannya tak bisa pulas. Sampai tengah malam,
secara berindap-indap ia mengintip ke ruangan tengah, ia lihat Hoat-ong masih
duduk sila menghadap tembok, sayup2 terdengar suara mendengkurnya pelahan,
agaknya sudah tertidur.
Girang sekali Kwe Yang, pelahan2 ia melompat keluar jendola, ia robek kain
buntalannya menjadi empat buat bungkus telapak kaki kuda, lalu binatang itu
dituntunnya pelahan, Sesudah agak jauh dan melihat Hoat ong tidak mengejar
barulah ia cemplak kuda dan dilarikan secepat terbang.
Ia pikir kalau Hoat ong mengetahui dirinya sudah lari, maka akan mengejarnya
kearah Siangyang, jadi ke selatan, tapi sekarang ia sengaja berlari ke jurusan
barat laut, betapapun dia takkan menemukan aku, Begitulah ia keprak kudanya
sekaligus berlari lebih satu jam, karena binatang itu sudah payah, barulah ia
lambatkan setindak demi setindak, sepanjang jalan ia selalu menoleh kalau2
Hoat-ong mengejarnya, sampai hari sudah terang tanah, kira2 sudah beberapa puluh
li jauhnya, hati anak dara ini barulah lega.
Sementara itu ia telah memasuki suatu jalan kecil pegunungan yang menanjak,
makin lama makin tinggi, setelah membelok ke sana, tiba2 terdengar suara ngorok
orang tidur sekeras guntur, seorang terlentang melintang di tengah jalan lagi
mendengkur. Ketika Kwe Yang mengawasinya hampir saja ia merosot jatuh dari
kudanya.
Ternyata orang yang malang melintang di tengah jalan itu berkepala gundul dan
berjubah kuning siapa lagi dia kalau bukan Kim-lun Hoat-ong, sungguh sukar
dimengerti cara bagaimana orang tahu2 sudah berada dibagian depannya malah.
Lekas2 Kwe Yang memutar kudanya terus lari ke bawah bukit, ketika ia menoleh,
Hoat-ong tertampak masih enak2 tidur tak mengejarnya.
Sekali ini ia tidak menuju ke jalan tadi, tapi ke arah tenggara, ke tempat yang
sepi, Setelah setanakan nasi, tiba2 terlihat di atas suatu pohon di depan sana
ada seorang menjungkir, kedua kakinya menggantoI pada dahan pohon dan sedang
menyengir padanya, Kurangajar! Siapa lagi dia kaku bukan Hoat-ong?
Namun Kwe Yang tidak lagi terkejut, sebaliknya ia menjadi gusar, damperatnya:
“Hwesio keparat, kau mau mencegat boleh cegat saja, kenapa mesti permainkan
nonamu?” Habis berkata, ia keprak kudanya ke depan, ketika sudah dekat, mendadak
pecutnya disabetkan ke muka orang.
ia lihat Hoat ong sama sekali tidak berkelit, tepat sekali ujung pecut mengenai
mukanya, Pada saat itu juga kuda tunggangan Kwe Yang sudah nelewati tubuh
Hoat-ong yang tergantung itu, ketika Kwe Yang menarik pecutnya, mendadak suatu
tenaga maha besar telah melibatnya hingga tanpa kuasa tubuhnya mencelat ke
udara.
Kiranya ketika pecut sampai dimuka Hoat-ong, secepat kilat Hoat-ong buka mulut
dan gigit kening2 ujung pecut, karena tubuhnya tergantung menjungkir, maka ia
terayun tinggi ke atas hingga Kwe Yang ikut terangkat.
Meski tubuh di atas udara, namun Kwe Yang tidak menjadi gugup, ketika dilihatnya
Hoat ong hendak mengayunnya kembali, cepat ia lepaskan pecutnya terus terlepas
ke bawah.
Hoat-ong terkejut, ia kuatir anak dara itu terbanting luka, maka cepat melompat
turun dulu dan menangkapnya sambil berseru: “Awas!”
Tapi Kwe Yang juga tidak kurang cerdiknya, ia sengaja ber-teriak2: “Tolong!” -
Dan ketika tubuhnya sudah dekat Hoat-ong, mendadak kedua tangannya memukul
berbareng, tepat sekali dada Hoat-ong kena digenjotnya.
Serangan Kwe Yang ini cepat sekali lagi di luar dugaan, sekalipun ilmu silat
Hoat-ong sangat tinggi, orangnya juga cerdik, namun tak sanggup berkelit lagi,
kedua kakinya menjadi lemas dan orangnya terkulai ke tanah, kaku tak berkutik
Tidak tersangka oleh Kwe Yang bahwa sekali akan berhasil, karuan ia kegirangan
cepat ia angkat sepotong batu besar terus hendak dikepruk ke atas kepala
Hoat-ong yang gundul itu. Tapi selamanya belum pernah ia membunuh orang, meski
ia benci orang telah membunuh dua kawannya, namun ketika hendak turun tangan
hatinya menjadi tak tega, ia tertegun sejenak, lalu batu besar itu diletakkannya
kembali.
Sebagai gantinya ia tutuk “Thian-teng-hiat” di tengkuk Hoat-ong,
“Peng-hong-hiat” dipunggung, “Sin-hong-hiat” di dada, “Jing ling-hiat” di lengan
dan “Hok-hou-hiat” di atas mata, sekaligus tanpa berhenti ia tuluk tiga belas
tempat jalan darah orang, anak dara ini masih belum puas, ia angkat empat potong
batu yang beratnya hampir beratus kati, batu2 itu ia tindih di atas badan
Hoat-ong.
“Wahai, Hwesio jahat, hari ini nona tidak ingin membunuh kau, maka selanjutnya
harus kau perbaiki diri dan jangan mencelakai orang lain lagi,” demikian kata
Kwe Yang kemudian.
Habis itu, ia kebut2 bajunya yang berdebu, lalu cemplak kudanya hendak tinggal
pergi.
Namun kedua mata Kim-lun Hoat ong yang ber-kilau2 terus memandanginya, tiba2
katanya dengan tertawa: “Hati nona cilik ternyata berprikemanusiaan, Hwesio tua
sangat suka padamu.” Lalu terdengarlah suara keras beberapa kali, beberapa
potong batu tadi telah membal semua, lalu orangnya melompat bangun, aneh, entah
mengapa, ke-13 tempat jalan darah yang ditutuk Kwe Yang tadi sudah terlepas
semua.
Dalam terkejutnya hingga Kwe Yang ternganga tanpa bisa buka suara.
Kiranya meski Hoat-ong terkena pukulannya tadi, dadanya terasa sakit juga, tapi
selisih kepandaian mereka terlalu jauh, mana mungkin dua kali pukul itu Kwe Yang
merobohkan Hoat-ong? Apalagi hendak menutuknya hingga tak berkutik? ia hanya
pura2 saja dan hendak melihat apa yang hendak diperbuat anak dara itu.
Ketika melihat Kwe Yang tak jadi mengepruknya dengan batu, diam2 ia merata suka
akan kebaikan hati anak dara itu, pintar dan cerdik, jauh lebih baik daripada
murid2 yang pernah ia terima.
Tanpa terasa timbul keinginan Hoat-ong akan menjadikan Kwe Yang sebagai
muridnya, apalagi mengingat usianya sudah lanjut, sedang muridnya yang dulu
seperti Darba, orangnya jujur, bertenaga raksasa, tapi otaknya kurang tajam
untuk bisa memahami intisari pelajaran Lwekang yang tinggi, sering Hotu orangnya
tak berbudi, dalam keadaan berbahaya tidak segan2 selamatkan diri dan
menjerumuskan guru malah. Karena itu, kadang2 Hoat-ong menjadi sedih, kuatir
ilmu kepandaiannya itu akan terpendam begitu saja.
Kini melihat Kwe Yang berbakat bagus, boleh dikatakan susah dicari, walau puteri
musuh, tapi usianya masih muda. tidaklah sukar untuk mengubahnya, asal diajarkan
ilmu kepandaian hebat padanya, lama2 dengan sendirinya anak dara itu akan
melupakan segala persoalan yang Ialu.
Justeru orang2 Bu-lim atau kalangan persilatan pada umumnya sangat pandang berat
soal murid dan keturunan, sekali Hoat ong timbul pikiran begitu, untuk sementara
soal2 menggempur Siangyang memaksa Kwe Cing menyerah dan lain2, telah
di-kesampingkannya semua.
Melihat biji mata orang mengerling tajam, tapi tidak buka suara, segera Kwe Yang
melompat turun dari kudanya dan katanya: “Kepandaian Hwesio tua memang hebat,
sayangnya, tidak mau berbuat baik.”
“Kalau kau kagum kepandaianku, asal kau angkat guru padaku, aku lantas ajarkan
seluruh kepandaianku ini padamu,” ujar Hoat-ong tertawa.
“Cis” semprot Kwe Yang, “Guna apa aku mempelajari kepandaian Hwesio? Toh aku
tidak ingin menjadi Nikoh?”
“Apakah belajar kepandaianku harus menjadi Nikoh?” sahut Hoat-ong tertawa, “Kau
menutuk jalan darahku, aku bisa meIepaskan diri. Kau menindih badanku dengan
batu2 besar, batu2 itu bisa terpental sendirinya. Kau lari menunggang kuda,
tahu2 aku sudah tidur di depanmu, apakah semua kepandaian ini tidak menarik?”
Kwe Yang pikir kepandaian2 itu memang menarik juga, tapi Hwesio tua ini adalah
orang jahat mana boleh mengangkat guru padanya? Pula ia sendiri buru2 hendak
mencari Nyo Ko, tiada tempo buat mengobrol maka katanya sambil geleng kepala:
“Lebih tinggi lagi kepandaianmu juga tak mungkin kuangkat sebagai guru.”
“Darimana kau tahu aku orang jahat?” tanya Hoat ong.
“Sekali hantam kau telah membinasakan Tiang jiu-kui dan Toa thau-kui, apakah itu
tidak jahat?” sahut Kwe Yang, “Mereka tiada dendam dan tidak bermusuhan dengan
kau, kenapa kau turun tangan begitu keji?”
“Itu justru karena aku hendak mencari kuda untukmu, mereka sendiri yang
menyerang aku lebhih dulu, kau sendiri menjadi saksi tadi.” kata Hoat ong.
“Coba, bila kepandaianku sedikit rendah, mungkin aku sudah mati dihantam mereka.
seorang Hwesio harus welas-asih, kalau tidak terpaksa, tidak nanti membunuh
orang.”
Tapi Kwe Yang menjengek tak percaya, Katanya: “Dan bagaimana kehendakmu
sehenarnya? Kalau kau orang baik2, kenapa aku tak boleh pergi?”
“Bila aku larang kau pergi?” sahut Hoat-ong. “Kau menunggang kuda ke timur,
tidak larang, ke barat, aku juga tidak mencegah, aku hanya tidur di tengah
jalan, apakah aku menghalangi kau?”
“Jika begitu, kau lepaskan aku pergi mencari Nyo Ko, Nyo toako, dan jangan
mengikuti aku,” kata Kwe Yang.
“Itu tak boleh” ujar Hoat-ong geleng kepala. “Kau harus mengangkat guru padaku.
belajar silat 20 tahun dengan aku, habis itu, kemana kau pergi, siapa ingin kau
cari, boleh sesukamu.”
“Kau Hwesio ini kenapa begini tak tahu aturan, aku tidak suka angkat guru
padamu, kenapa kau paksa?” damprat Kwe Yang.
“Kau anak dara cilik inilah yang tidak kenal adat, guru pandai seperti aku,
kemana bisa kau cari di seluruh jagat?” sahut Hoat-ong pula. “Sekalipun orang
lain menyembah tiga kali padaku dan mohon dengan sangat agar aku menerimanya
sebagai murid, belum tentu aku mau. Tapi kini kau diberi kesempatan bagus, kau
malah berlagak jual mahal, sungguh aneh?”
“Tak malu, hm, tak malu,” tiba2 Kwe Yang meng olok2. “Macam guru apakah kau ini?
Paling banyak kau bisa menangkan aku seorang gadis cilik, apanya harus
diherankan? Tapi apa kau bisa menangkan ayah-ibuku? Bisa menangkan Gwakong ku Ui
Yok-su? jangankan mereka seumpama Toakoko Nyo Ko saja, kau tak sanggup
melawannya!”
“Siapa bilang? Siapa bilang aku tak sanggup melawan Nyo Ko si anak ingusan?”
tanya Hoat ong cepat tanpa pikir.
“Semua ksatria, setiap pahlawan di kolong langit ini semua bilang begitu,” sahut
Kwe Yang. “Tempo hari waktu ada pertemuan besar para pahlawan di Siangyang,
semuanya juga bilang bahwa tiga orang Kim lun Hoat-ong takkan mampu menangkan
seorang Sin-tiau-tayhiap Nyo Ko yang berlengan tunggal.”
Sudah tentu apa yang dikatakannya memang untuk bikin marah Kim-lun Hoat-ong
saja, namun yang omong tidak sengaja, yang mendengar justru kena. Sebab belasan
tahun yang lalu memang benar2 beberapa kali Kim-lun Hoat-ong dikalahkan oleh Nyo
Ko, ia sangka ini kejadian benar2 selalu dibuat buah tutur semua ksatria
diseluruh jagat.
Keruan tidak tahan api amarahnya, bentaknya segera: “Jika Nyo Ko si anak busuk
itu berada di sini, biar dia mengicipi lihaynya aku punya “Liong- jio
pan-yok-kang” (ilmu sakti tenaga naga dan gajah), setelah dia tahu rasa barulah
akan ketahuan sebenarnya dia Nyo Ko lebih hebat atau aku Kim-lun Hoat-ong yang
lebih lihay.”
Pikiran Kwc Yang jadi tergerak melihat orang benar2 penasaran maka katanya pula:
“Ah, sudah terang kau tahu Toakoko ku sekarang tidak berada disini, lantas kau
meniup harga diri setinggi langit, coba kalau kau bernyali besar, kenapa tak kau
pergi mencarinya untuk bertanding? Kau punya ilmu sakti tenaga babi dan
anjing..!.”
“llmu sakti naga dan gajah!” demikian Hoat-ong memotong membetulkan.
“Kalau kau menangkan dia, barulah naga dan gajah, tapi kalau kau tak tahan
sekali gebuk, paling banyak hanya jadi babi dan anjing saja!” ujar Kwe Yang,
“Jika ilmu silatmu bisa menangkan dia, tak perlu kau paksa aku, dengan
sendirinya aku menyembah kau sebagai guru, Cuma aku yakin mungkin kau tak berani
mencari dia, maka percuma soal ini dibicarakan. Menurut aku, boleh jadi melihat
bayangannya saja kau sudah ketakutan dan lari ter birit2.”
Hoat-ong adalah seorang cerdik, sudah tentu iapun tahu akan kata2 pancingan Kwe
Yang. Tapi selama hidupnya ia sangat tinggi menilai dan lantaran pernah
dikalahkan Nyo Ko, maka sekarang “ilmu sakti bertenaga naga dan gajah-nya sudah
dilatihnya hingga tingkatan ke-11, memangnya ia sudah mencari Nyo Ko buat tuntut
balas ketika dahuIu, Kini mendengar kata2 Kwe Yang itu, tak tahan ia menyahut
keras2: “Tadinya aku bilang Nyo Ko berada di mana, itu melulu untuk membohongi
ktu, sayangnya aku jusleru tak tahu anak itu mengumpat di mana, bila tahu, ha,
ajaklah kalau aku tidak meluruk ketempatnya dan menghajarnya hingga dia
me-nyembah2 minta ampun!”
“Hahahaha,” tiba2 Kwe Yang ter-kekeh2, tembangnya bertepuk tangan: “Hwesio
gundul membual anggap diri tiada bandingan, sekali melihat Nyo Ko datang, tancap
gas lari tunggang Ianggang!.
Hoat ong menjengeknya sekali lalu membisu tanpa berkata.
“Ya, meski aku tidak tahu sekarang Nyo Ko berada di mana sekarang, tapi lewat
sebulan lagi pasti ia akan datang ke suatu tempat, hal itu aku malah tahu,” kata
Kwe Yang kemudian.
“Datang ke mana?” tanya Hoat-ong.
“Percuma juga kukatakan padamu? Toh kau lak berani pergi menemuinya. jangan2
nanti bikin kau tak ?nak makan tak nyenyak tidur,” kala Kwe Yang,
Hoat-ong menjadi gemas kena di kili2, “Katakan, coba katakan!” teriaknya sengit.
“la akan datang ke Coat ceng kok, di atas jurang Toan-jong-ke, ia akan bertemu
kembali dengan isterinya, Siao-liong-li,” kata Kwe Yang. “Tapi, Hwesio besar,
ada lebih baik jangan kau antar kematian ke sana, seorang Nyo Ko saja bikin hati
terkejut dan daging kedutan, apalagi ditambah seorang Siao-Iiong li.”
Memangnya selama belasan tahun ini Kim-lui Hoat-ong giat berlatih “ilmu sakti
bertenaga nagi dan gajah” justru maksudnya ingin melawan “Giok
li-soh-sim-kiam-hoat” yang dimainkan Nyo Ko dan Siao-liong-li bersama, kalau dia
tidak yakin akan satu dapat mengalahkan dua, tak nanti ia datang ke daerah
Tionggoan lagi, Kini kena di kili2 Kwe Yang, ia menjadi semakin murka, dari
murka iapun tertawa maIah.
“Ya, marilah sekarang juga kita pergi ke Coat-ceng-kok, kalau aku dapat
mengalahkan Nyo Ko dan Siao-Iiong-li berdua, lalu bagaimana nanti?” tanyanya
segera.
“Jika benar2 ilmu silatmu begitu tinggi, hm, masakah aku tidak cepatan
mengangkat guru pada-mu? Bukankah itu sukar dicari?” sahut Kwe Yang. “Cuma
sayang, Coat-ceng-kok itu tempatnya jauh dan sepi, tidak mudah hendak
mencarinya.”
“Kebetulan aku pernah ke sana, tak perlu kau kuatir,” ujar Hoat-ong tertawa,
“Dan kini waktunya masih cukup lama, mari kau ikut kupergi ke perkemahan pasukan
Mongol dulu, setelah selesai kan beberapa urusan, lantas kita pergi ke Coat
ceng-kok.”
Mendengar orang mau pergi ke Coat-ceog-kok untuk bertanding dengan Nyo Ko, dalam
hati Kwe Yang menjadi sangat lega, pikirnya diam2: “Kuatirku kalau kau tak mau
pergi kesana, Kini kau mau pergi sendiri, ha, tahu rasa kau nanti! Kau Hwesio
jahat ini tampaknya garang, nanti kalau sudah ketemu Toakoko, mungkin kau akan
mcngkerel seperti celurut.”
Maka iapun pergilah ikut Hoat-ong ke tengah pasukan Mongol.
Waktu itu yang dipikir oleh Hoat-ong hanya ingin menjadikan Kwe Yang sebagai
murid ahliwaris-nya, ia yakin asal dapat menaklukkan hati anak dara ini, kelak
tentu akan menjadi muridnya yang terkemuka, Mata sepanjang jalan ia sangat ramah
tamah pada si nona.
Harus diketahui, dalam kalangan Bu-lim, guru pandai susah dicari, tapi murid
berbakat juga sukar didapatkan, murid harus pilih guru, guru juga ingin pilih
murid.
Begitulah sepanjang jalan Hoat-ong selalu ajak bicara dan bergurau dengan Kwe
Yang, ia semakin merasakan anak dara ini sangat pintar, otaknya tajam, diam2 ia
sangat girang. Kadang2 bila Kwe Yang berduka oleh kematian Toa-thau-kui dan
Tiang-jiu-kui dan mencela kekejian Hoat ong, selalu Hoat-ong anggap sepi saja
tanpa gusar, malahan ia anggap anak dara ini seorang berperasaan tidak seperti
Hotu yang rendah budi.
Pasukan Mongol di mana Hoat-ong membawa Kwe Yang ke sana adalah perkemahan
pasukan bagian selatan yang dipimpin Kubilai, adik raja Mongol tatkala itu,
sebaliknya tempat yang dicari Nyo Ko adalah pasukan utara yang dipimpin Monko,
si raja sendiri, Soalnya karena percakapan kedua kurir Mongol yang didengar Kwa
Tin-ok itu kurang lengkap hingga Nyo Ko buang2 tempo percuma padahal waktu Nyo
Ko berangkat ke Coat-ceng kok, tidak lama Hoat-ong dan Kwe Yang juga lantas
berangkat seperti sudah direncanakan itu.
Jarak mereka tiada ratusan li, tapi jalan Nyo Ko lebih cepat, pula tidak sabar
karena ingin lekas bertemu dengan Siao liong li, maka ia tiba lebih dulu
beberapa hari daripada Hoat-ong dan Kwe Yang.
Di lain pihak, sejak minggatnya puteri bungsunya itu, siang malam Kwe Cing dan
Ui Yoc sangat berkuatir. Belasan hari kemudian, beberapa anak murid Kay-pang
yang ditugaskan pergi mencari kabar juga pulang dengan tangan hampa.
Selang beberapa hari pula, mendadak Thia Eng dan Bu siang datang di Siangyang
dan membawa kabar buruk berasal dari Kwa Tin-ok itu bahwa Kwe Yang telah
tertawan oleh pasukan Mongol.
Keruan Kwe Cing dan Ui Yong sangat terkejut. Malam itu juga Ui Yong bersama Thia
Eng lantas menyelidiki ke perkemahan musuh, tapi serupa saja seperti Nyo Ko,
merekapun tidak memperoleh suatu tanda2.
Bahkan malam ketiga mereka kcpergok patroli Mongol hingga Ui Yong dan Thia Eng
terkepung beberapa puluh perwira, syukur Ui Yong dan Thia Eng bukanlah orang
lemah, dengan ilmu silat mereka yang hebat akhirnya dapat lolos dari kepungan
musuh.
Melihat gelagatnya, Ui yong menduga puteri kecil itu tentu tiada di dalam
pasukan Mongol itu, tapi sedikitpun belum mendapatkan beritanya, inilah bukan
alamat baik, maka sesudah berunding dengan Kwe Cing, ia putuskan akan keluar
kota mencari sendiri ia membawa sepasang rajawali putih piaraannya itu itu untuk
menjaga bila perlu dapat dibuat mengirim surat.
Thia Eng dan Liok Bu siang berkeras ingin ikut serta, kebetulan bagi Ui Yong
bisa mendapat dua pembantu yang kuat, maka mereka bertiga lantas mengitari kemah
pasukan Mongol terus menuju ke barat laut.
Menurut taksiran Ui Yong, kepergian Kwe Yang itu adalah hendak menasehatkan Nyo
Ko supaya jangan mencari pikiran pendek. Dahulu bertemunya mereka ada di sekitar
tambangan Hongleng, sekali ini tentunya si nona akan pergi ke sana pula, karena
itu bila lebih dulu ke Hongleng, besar kemungkinan akan mendapat jejaknya.
Ketika mereka bertiga berangkat dari Siang-yang, saat itu masih musim dingin,
sepanjang jalan mereka mencari kabar dan setiba di tambangan Hongleng, sementara
sudah masuk musim semi, salju sudah cair, sungai sudah mengalir normal.
Ui Yong bertiga mencari keterangan selengan harian di kota tambangan itu, tukang
perahu, pengurus hotel, tukang kereta, kuli pikul, semuanya bilang tidak melihat
nona seperti yang ditanyakan itu.
“”Suci (kakak guru),” kata Thia Eng pada Ui Yong. “hendak lah kau tak perlu
kuatir. Ketika Yang-ji lahir, hari itu juga lantas digondol lari oleh Kim-lun
Hoat ong dan Li Bok-chiu, dua momok yang paling disegani itu, Kalau dulu tidak
apa2, rasanya sekarang juga tak ada bahaya”
Ui Yong hanya menghela napas tanpa menjawab. Mereka meninggalkan kota tambangan
itu dan menuju kejurusan pegunungan sepi.
Suatu hari, sang surya memancarkan sinarnya yang hangat, angin selatan silir2
sejuk, tetumbuhan sudah banyak mekar berbunga, musim semi semakin menarik.
“Suci,” kata Thia Eng tiba2 sambil menunjuk bunga Tho yang menarik kepada Ui
Yong sekedar menghiburnya, “musim semi di daerah utara belum lagi mulai, tapi di
sini bunga Tho sudah mekar dengan indahnya, malahan pohon Tho dipulau Tho hoa-to
kita biasanya sudah lama berbuah!”
Sembari berkata Thia Eng memetik juga sekuntum bunga Tho yang indah itu.
Pada saat itulah, tiba2 terdengar suara ngung-aungnya tawon, seekor tawon besar
terbang mengitari bunga Tho yang dipegang Thia Eng, itu, kemudian lantas hinggap
dan menyelusup masuk ke dalam kelopak bunga itu untuk menghisap sari bunganya.
Melihat tawon itu berwarna putih kelabu, badannya berlipat ganda daripada tawon
umumnya, hati Ui Yong jadi tergerak. Agaknya ini adalah Giok hong (tawon putih)
piaraan Siao-liong li, kenapa bisa muncul di sini?” demikian katanya heran.
“Ya.” sahut Liok Bu siang, “Marilah kita menguntit tawon ini terbang menuju ke
mana?”
SeteIah selesai menghisap sari bunga, kemudian tawon itu terbang mengitari udara
beberapa kali, lalu menuju ke barat-laut.
Lekas2 Ui Yong mengikutinya dengan ilmu en tengi tubuh yang cepat.
Agak lama tawon itu terbang, ketika ketemukan tumbuhan bunga, kembali berhenti,
kemudian terbang lagi dan berhenti pula beberapa kali, akhirnya bertambah lagi
dengan dua ekor tawon lain.
Menjelang petang, mereka bertiga telah menguntit sampai di suatu lembah gunung
yang indah sekali pemandangannya, di tanah disektar sana terdapat beberapa
sarang tawon terbuat dari kayu, Sampai di situ, ketiga ekor tawon tadi lantas
menyusup ke dalam sarangnya.
Ketika mereka memandang pula, di tanah datar sebelah lain terdapat tiga-empat
buah rumah ada dua rase kecil sedang bermain.
Tiba2 pintu rumah gubuk yang tengah terpentang dan keluarlah seorang tua bermuka
merah bercahaya, rambut hitam ke putih2-an, nyata dialah Lo-wan-tong Ciu
Pek-thong.
Keruan Ui Yong sangat girang, segera ia berteriak “Hai, Lo-wan-tong, lihatlah,
siapa ini yang datang?”
Melihat Ui Yong, Ciu Pek-thong juga ketawa gembira, Segera ia berlari maju
menyambut, tapi baru beberapa langkah, mendadak selebar mukanya merah jengah,
lalu putar tubuh terus menyelinap masuk rumah lagi, pintu digabrukkan dan
terkunci rapat.
Ui Yong menjadi heran oleh kelakuan si tua nakal itu, ia gedor pintu rumah
sambil berseru. “Hayo, Lo-wan-tong, kenapa kedatangan tamu malah bersembunyi?”
“Tidak buka, tidak buka!” sahut Ciu Pek-thong dari dalam.
“Haha, kau tak mau buka, sebentar kubuka ruang kucingmu ini,” kata Ui Yong
dengan tertawa.
Pada saat lain, tiba2 pintu rumah sebelah sana juga terpentang, seorang menyapa
dengan tertawa. “Haha, pegunungan sunyi telah kedatangan tamu agung, Hwesio tua
mengaturkan selamat datang!”
Ketika Ui Yong menoIeh, terlihatlah lt teng taysu berdiri di depan pintu dengan
bersenyum simpul dan sedang memberi hormat. Segera Ui Yong membalas hormat orang
dan menyapa juga:
“Eeh, kiranya Taysu telah menjadi tetangga Lo wan-thong, sungguh tidak nyana,
Dan entah mengapa mendadak Lo wan-tong menutup pintu dan tidak terima tamu?”
lt-teng ter-bahak2 mendengar itu, katanya: “Jangan urus dia! Mari;ah silakan
masuk kemari!”
Lalu merekapun masuk ke rumah It-teng Taysu itu dan disuguh teh oleh tuan rumah.
“Kwe-hujin, coba kau menerkanya, siapakah penghuni di rumah gubuk sebelah kanan
itu?” kata It-teng kemudian
Ui Yong ingat kelakuan Ciu Pek-thong tadi yang tiba2 bermuka merah jengah,
segera pikirannya bergerak, tahulah dia sebab musababnya, maka jawabnya dengan
bersajak.
Ia mengucapkan sebuah sajak gubahan Lau-kuhui alias Eng-koh sekarang, yang
merindukan kekasih. Karena itu It-teng Tay-su tertawa memuji: “Kwe-hujin sungguh
hebat, segala apa tak terlepas dari dugaanmu.”
Lalu ia melongok keluar dan rncmanggil: “Eng-koh, Eng-koh, marilah menemui kawan
cilik kita.”
Tidak lama, datanglah Eng-koh membawa senampan minuman beserta makanan manisan,
buah2 an, kacang dan lain2. Segera Ui Yong memberi hormat dan kelima orang
lantas pasang omong dengan meriah.
Kiranya It-teng Tay-su, Eng-koh dan Ciu Pek-thong setelah menyelesaikan
suka-duka selama berpuluh tahun, lalu mereka tinggal bersama menyepi di lembah
beribu bunga ini sambil bercocok tanam piara tawon dan lain2, segala kejadian
yang merikuhkan dahulu sudah terlupa semua.
Walaupun begitu, ketika mendadak Ciu Pek-ong melihat Ui Yong, tanpa terasa ia
menjadi kikuk, maka ia lantas sembunyi dan tutup pintu rapat2, meski sembunyi di
dalam rumah, namun ia tetap pasang kuping mendengarkan percakapan kelima orang
itu, ketika didengarnya cerita Ui Yong tentang pertemuan besar kaum ksatria di
Siangyang, kemudian tentang terbongkarnya kedok Hotu yang menyamar bagai Ho
Su-ngo, sampai tempat yang mengasyikkan, tiba2 Ui Yong sengaja membelokkan
ceritanya, maka Pek-thong tak tahan, ia menerobos ke rumah langsung tanya Ui
Yong:
“Lalu bagaimana dengan keparat Hotu itu? Apakah ia berhasil lolos?”
Begitulah malamnya Ui Yong bertiga lantas menginap di rumah Eng-koh, Bcsok
paginya, ketika Ui Yong keluar, dilihatnya tangan Ciu Pek-thong membawa seekor
tawon putih sedang ber jingkrak2 kegirangan.
“Lo-wan tong, ada apakah begitu gembira?” tanya Ui Yong tertawa.
“Haha, Ui Yong cilik, kepandaianku makin lama makin tinggi, kau kagum tidak?”
demikian sahut Pek-thong.
Ui Yong sudah kenal sifat si tua nakal itu. Selama hidupnya melulu ada dua
kesenangan kesatu ilmu silat dan kedua ialah main2 dan menerbitkan onar.
Ia menduga tentu Ciu Pek thong telah menciptakan semacam ilmu silat aneh, maka
ia menjadi ingin melihatnya juga, jawabnya segera: “IImu silat Lo-wan tong sudah
sangat kukagumi sejak dulu, hal ini tak perlu ditanya lagi. Tapi selama beberapa
tahun ini apa ada ciptaan ilmu silat baru lagi yang aneh2 dan bagus?”
“Bukan, bukan ilmu silat.” sahat Ciu Pek-thong menggeleng kepala, “llmu silat
paling hebat terakhir yang kulihat adalah “lm-jian-siau-hun-cio” ciptaan si
bocah Nyo Ko, Lo-wan-tong sudah mengaku kalah, Maka soal ilmu silat jangan
dibicarakan lagi.”
Diam2 Ui Yong heran, pikirnya: “Hebat benar Nyo Ko ini, yang kecil seperti Kwe
Yang, yang tua ada juga Lo Wan-tong yang begitu kesemsem padanya. Entah ilmu
pukulan Im jian-siau-hun-cio” itu bagaimana macamnya?”
Maka kemudian iapun tanya Ciu Pct-ihoDg: “Lalu kau bilang makin lama makin
pandai. ilmu sakti apakah itu?”
Ciu Pek thong angkat tinggi2 tangannya, ia tidak lantas menjawab, ia unjukkan
tawon putih iti dengan rasa bangga lalu katanya. “ialah mengenai kepandaianku
memiara tawon,”
“Tawon ini adalah pemberian Siao-liong li padamu, apanya yang mengherankan?”
ujar Ui Yong.
“lnilah kau tidak paham,” kata Pea-thoMg “Tawon yang Siao liong-li berikan
padaku memang betul adalah jenis yang sangat bagus, tapi sesudah Lo-wan-tong
memelihara lebih giat, kini dapat kuperoleh sejenis bibit tawon yang tiada
bandingan di seluruh jagat, Bctapapun hebat orang pandai juga tiada yang bisa
menciptakannya, mana bisa Siao-liong-li dibandingkan aku lagi.”
“Hahaha” Ui Yong tertawa, “Makin tua Lo-wan-tong makin bermuka tebal, pandai
sekali kau me-niup2 diri sendiri setinggi langit, se akan2 di jagat ini tiada
bandingannya.”
Namun Pek-thong tidak marah, malahan dengan ter-kekeh2 ia berkata lagi. “Ui Yong
cilik, coba aku ingin tanya. Manusia adalah makhluk tercerdik dari segala
makhluk hidup, tubuh orang banyak yang suka dilisik dengan gambar dan tulisan.
Tapi kecuali manusia, di antara tubuh binatang apakah ada yang terdapat
tulisan?”
“Harimau ada yang Ioreng2, macan tutul ber-tutul2, kupu2 dan ular berbisa, badan
mereka semuanya berlipat ganda lebih mengherankan daripada tisikan gambar di
atas badan manusia segala,” ujar Ui Yong.
“Ya, tetapi pernahkah kau melihat di badan sebangsa serangga dan penyengat ada
tulisannya?” kata Pek-thong.
“Apa kau maksudkan dari pembawaannya” Memang belum pernah,” sahut Ui Yong.
“Baik, nah, ini biar kutunjukkan,” kata Pek thong sembari ulur tangannya kedepan
mata Ui Yong.
Maka tertampaklah tawon besar di tengah2 telapak tangannya itu pada kedua
sayapnya benar2 terdapat tisikan tulisan, Waktu Ui Yong menegasi, ia lihat pada
sayap kiri tawon putih itu tertulis huruf “Aku berada di” dan di sayap kanan
juga ada tiga huruf “Coat-ceng-kok”, Setiap hurufnya sebesar beras menir, tapi
tulisannya jelas, terang dibuat dengan tisikan jarum yang paling lembut.
Ui Yong jadi ter-heran2, ia menggumam sendiri: “Aku berada di Coat-ceng-kok, Aku
berada di Coat-cengkok.” -Diam2 ia pikir pula:”Andai keenam huruf ini pasti
bukan pembawaan, tapi ada orarg sengaja menisiknya. Kalau menuruti tabiat
Lo-wan-tong, tak mungkin ia melakukan pekerjaan yang makan tempo dan harus
sabar-
Tapi segera ia berpendapat lain lagi, katanya dengan terlawa: “AIi begini saja
kenapa bilang aneh? Kau minta Eng koh tisikkan enam huruf ini, masakan kau mampu
membohongi aku?”
Muka Pek-thong menjadi merah sahutnya: “Kau boleh tanya Eng koh apakah aku minta
dia menisik tulisan di sini?”
“Tentu saja dia akan membela kau, jika kau bilang matahari dari barat, tentu
saja ia akan berkata: “Ya, ya, benar, matihari muncul dari arah barat”!” ujar Ui
Yong tertawa.
Selebar muka Lo-wan-tong semakin menjadi merah, merahnya maIu2, rasa kikuk dan
terasa penasaran pula.
Karena itu ia lepaskan tawon ditangannya itu, lalu tangan Ui Yong ditariknya
sambil berkata: “Mari, mari, biar kutunjukan, boleh kau periksa sendiri.”
Ia seret Ui Yong ke suatu sarang tawon di tanah datar sebelah sana, Sarang tawon
itu berdiri sendiri jauh dari yang lain2. Ketika Pek-thong gerakkan tangannya,
segera dua ekor tawon dapat ditangkapnya.
“Nih, lihat!” katanya.
Waktu Ui Yong meng-amat2-i, benar juga pada kedua sayap tawon2 itu juga ada
tulisannya dan serupa tadi terdiri dari enam huruf, yang kiri “Aku berada di”
dan yang kanan “Coat-ceng kok.”
Heran sekali Ui Yong, pikirnya diam2: “Betapa-pun aneh pencipta makhluk juga tak
mungkin menciptakan tawon seperti ini. Pasti di balik ini ada sebab2nya.
Maka katanya puIa: “Cobalah. Lo-wan tong, kau tangkap lagi beberapa ekor!”
Segera Pek-thong menangkap empat tawon pula dua diantaranya bersih sayapnya,
tapi dua ekor lainnya ada pula tisikan enam huruf serupa itu.
Melihat Ui Yong ter-mangu2, terang sudab mengaku kalah. Pek-thong menjadi
senang, katanya dengan tertawa “Nah, apa yang bisa kau katakan lagi? Hari ini
kau kalah tidak dengan Lo-wan-tong?”
Ui Yong tidak menjawab, tapi ia menggumam huruf itu: “Aku berada di Coat-ceng
kok”
Sesudah beberapa kah ia ulangi, tiba2 ia melompat dan berseru: “Ya, tahulah aku
sekarang itu harus dibaca menjadi “Aku berada didasar Coat-ceng-kok!, siapakah
yang berada di dasar Coat ceng-kok? jangan2 Yang-ji?”
Segera ia tanya Ciu Pek-thong: “Lo-wan-tong tawon2 ini bukan kau yang piara
sendiri, tapi datang dari lain tempat, betul tidak?”
Kembali wajah Pek-thong merah lagi,sahutnya: “Eh, aneh, darimana kau tahu?”
“Tentu saja aku tahu,” kata Ui Yong, “Tawon ini sudah berapa hari bersarang di
sini?”
“Tidak terhitung hari lagi, tapi sudah beberapa tahun!” sahut Pek-thong. “MuIa2
aku tidak perhatikan bahwa di sayap tawon2 ini ada tulisannya, baru beberapa
hari yang lalu dapat kulihat.”
“Benar2 sudah beberapa tahun?” desak Ui Yong, “Ya, kenapa kudustai kau?” jawab
Pek-thong, Ui Yong ter-menung2 scjenak, segera ia kembali ke rumah sebelah sana
dan berunding dengan It-teng Taysu, Thia Eng dan Liok Bu-siang, semuanya juga
merasa di dasar Coat ceng-kok pasti ada apa2nya.
Karena kuatirkan puterinya, segera Ui Yong bersama Thia Eng dan Liok Bu-siang
mohon diri hendak berangkat ke sana, Segera pula I-teng menyatakan ikut serta.
Melihat kawan2 pada pergi, sudah tentu Lo-wan-tong tak mau kesepian, ia berkeras
mengajak Eng Koh juga turut.
Ui Yong menjadi lega dengan bertambahnya pembantu tiga tokoh terkemuka itu, ia
pikir dengan enam orang baik mengadu pikiran maupun adu kekuatan, mungkin
diseluruh jagat ini tiada tandingan lagi, sekalipun Yang ji jatuh dicengkeraman
orang jahat, tentu dapat ditolong keluar.
Maka enam orang bersama sepasang rajawali lantas menuju kearah barat
beramat-ramai.
* * **
Kembali tentang Nyo Ko karena janji pertemuan kembalinya dengan Siao-liong li
sudah hampir tiba, maka ia tak berani ayal, ia jalan terus siang-malam menuju
Coat-ceng kok atau Iembah putus cinta.
Setiba di tempat tujuan, menurut perhitungan masih kurang lima hari daripada
hari yang di janjikan Siao liong-li 16 tahun yang lalu.
Lembah ini sepi nyenyak, gedung2 megah yang dahulu dibangun suami-istri Kongsun
Ci dan anak muridnya yang berbaju hijau sudah ambruk atau bobrok.
Sejak 16 tahun yang lalu Nyo Ko tinggalkan lembah itu, setiap beberapa tahun
sekali pasti ia dalang dan tinggal lagi di lembah itu dengan harapan kalau2
Lam-hay Sin-ni menaruh belas kasihan dan mendadak memulangkan Siao liong-li,
Walaupun setiap kali ia harus kembali dengan tangan hampa dan lesu, tapi setiap
kali selalu beberapa tahun lebih dekat dengan waktu yang dijanjikan itu.
Kini ia mengunjungi tempat lama pula, ia lihat keadaan sunyi penuh semak
belukar, sedikitpun tiada tanda2 pernah diinjak manusia.
Segera ia berlari ke Toan jong-khen atau karang patah hati, ia melalui jembatan
batu yang melulu terdiri dari selonjor batu panjang, kemudian me-raba2 tulisan
di atas dinding tebing yang ditinggalkan Siao liong li dahulu.
Dengan jarinya ia masukkan ke dekukan tulisan itu dan mengkorek keluar lumut2
yang menutupi huruf2nya, maka segera ter-tampaklah kedua baris tulisan dengan
jelas.
Pelahan Nyo Ko membacanya: “Siao-Iiong li sampaikan pesan pada suamiku Nyo Ko,
hendaklah jaga diri baik2, harus sabar menanti untuk berkumpul kembali.”
BegituIah sehari penuh ia termenung2 memandangi kedua batu tulisan itu, malamnya
ia tidur di atas pohon dengan ranjang tali seperti dahulu. Besoknya ia pesiar ke
seluruh lembah itu, ia lihat tanaman Ceng-hoa atau bunga cinta yang dulu dibabat
olehnya bersama Thia Eng dan Liok Bu- siang itu kini tidak berkembang lagi, tapi
bunga merah yang olehnya diberi nama “Liong-Ii-hoa” atau bunga puteri Liong,
sedang mekar dengan indahnya.
Maka ia petik seikat bunga merah itu dan ditaruh didepan tebing yang terdapat
tulisan Siao-liong-li itu, BegituIah, dengan perasaan tertekan ia lewatkan hari,
sampai tanggal 7 bulan tiga, Nyo Ko sudah dua hari dua malam tidak pernah tidur.
Sampai itu, ia tak mau berpisah setengah langkahpun dari karang patah hati itu.
Sejak pagi ia menanti, dari pagi hingga siang dan siang berganti sore, setiap
ada angin meniup atau pohon bergerak, segera ia melompat bangun melongak-longok
sekitarnya, tapi bayangan Siao-liong-li tetap tidak tertampak?
“Sejak Nyo Ko mendengar kata2 Ui Yok-su tempo hari, ia lantas tahu tentang
“Lam-hay Sin-ni” adalah hanya karangan Ui Yong belaka, tapi tulisan di tebing
itu jelas adalah tulisan tangan Siao-liong li yang tak bisa dipalsukan. Maka ia
tetap berharap sang isteri akan penuhi janji dan bisa berkumpul kembali.
Sementara itu sang surya sudah silam, hati Nyo Ko juga tenggelam mengikuti
silamnya sang petangnya, Ketika matahari tertutup oleh puncak gunung, Nyo Ko
menjerit dan berlari ke atas puncak.
Di tempat setinggi itu, bola merah membara kembali tertampak bulat lagi, hatinya
menjadi sedikit lega, asal sang surya belum menghilang, berarti tanggal 7 bulan
tiga itupun belum lagi lalu.
Namun demikian akhirnya sang surya tetap silam di ufuk barat sana, Nyo Ko masih
terpaku di puncak gunung itu, keadaan sunyi dan kosong belaka, hawa dingin
menusuk tulang, cuaca remang2 sudah mulai, ia berdiri terpaku, lama sekali tetap
tidak bergerak.
Lewat agak lama, bulan sabit pelahan2 tampak tergantung di tengah cakrawala,
bukan saja hari tanggal 7 sudah akan lalu, bahkan malam inipun akan lalu dengan
cepat. Tetapi Siao liong-li masih tetap tidak muncul,
Bagai patung saja semalam suntuk Nyo Ko berdiri terpaku di puncak gunung itu
sampai sang surya muncul di sebelah timur indah perrnai suasana pagi di
pegunungan, burung berkicauan merdu, bunga mekar mewangi, sungguh memabukkan
orang musim semi ini.
Namun hati Nyo Ko waktu itu dingin bagai es, lapat2 suatu suara seperti
mendenging ditepi telinganya “Tolol! Sudah lama ia mati, 16 tahun yang lalu ia
sudah mati, ia tahu dirinya kena racun tak dapat sembuh dan kaupun takmau hidup
sendirian, maka ia telah bunuh diri dan mendustai kau untuk menunggu 16 tahun
padanya, Tolol, begitulah cintanya padamu, apakah sampai hari ini masih kau
tidak mengerti akan jalan pkirannya?”
Pelahan Nyo Ko turun dari puncak gunung itu dengan raga tanpa jiwa,
sehari-semalam ia tidak makan minum, ia merasa mulutnya kering, ia datang ketepi
sungai kecil dan meraup air untuk diminum, ketika menunduk, mendadak terlihat
bayangan dirinya di dalam air, tertampak kedua pelipisnya telah ke-putih2an.
Kini ia berusia 36 tahun, mestinya seutas rambut putihpun tiada, tapi kini
mendadak kedua pelipisnya tertampak putih, mukanya kotor, hampir ia tak
mengenali dirinya sendiri.
Mendadak ia melompat menuju ke depan karang Toan keng khe, ia pandang kedua
baris tulisan guratan Siao liong li itu, tiba2 ia berteriak keras: ” 16.tahun
kemudian, bertemu lagi di sini, cinta kasuh suami isteri, janganlah ingkar
janji! Tapi, Siao-liong-Ii, wahai, Siao liong li, tulisan yang kau ukir sendiri
ini, kenapa sekarang kau malah tidak menepati janji?”
Suaranya begitu keras menggema di angkasa raya, seluruh lembah gunung se-akan2
tergetar, dari empat penjuru berkumandang kembali suara- “Kenapa kau tidak
menepati janji? Tidak menepati janji? Tidak menepati janji?”
Dasar pembawaan Nyo Ko memang berwatak keras dan mudah tersinggung, kini segala
harapannya sudah hampa belaka, pikirnya: “Jika Liong-ji sudah meninggal 16 tahun
yang lalu, sungguh tiada artinya bagiku hidup sendiri selama ini.”
Ia memandangi jurang Toan jong khe yang entah berapa dalamnya itu, ia mengguman
pelahan: “Dahulu mendadak kau menghilang tanpa bekas, agaknya kau telah terjun
ke dalam jurang ini, Selama 16 tahun ini, apakah kau tidak kesepian ?”
Begitulah tiba2 pandangannya terasa kabur, bayangan Siao-liong-ii seakan2 muncul
di kelopak matanya, sayup2 seperti terdengar pula suara Siao-liong-li sedang
memanggilnya didasar jurang: “Nyo-long, Nyo-Iong! janganlah berduka janganlah
berduka!”. Tiba2 Nyo Ko pejamkan mata dan tubuhnya melayang ke depan, ia terjun
ke dalam jurang.
* * * *
Kembali mengenai Kim-lun Hoat-ong yang membawa Kwe Yang menuju ke Coat ceng-kok
ini.
Hoat-ong benar2 adalah manusia aneh, di waktu ganas, kejamnya melebihi binatang
berbisa, tapi karena ia sudah ambil ketetapan akan menerima Kwe Yang sebagai
ahliwarisnya, sepanjang jalan ia menjadi begitu memperhatikan diri anak dara
itu, begitu sayang bagai puteri sendiri saja. Sebaliknya karena benci pada
Hoat-ong yang telah membinasakan Tiang jiu-kui dan Toa-thau-kui secara keji,
maka Kwe Yang selalu bersikap dingin.
Hari itu, mereka tiba sampai di Coat ceng-kok “. tiba2 terdengar suara teriakan
orang yang sangat keras: “Kenapa kau tidak menepati janji?” suara itu penuh rasa
penasaran, putus asa dan menderita sekali.
Ketika kemudian suara yang menggema itu berkumandang kembali dari balik lembah
gunung, Kwe Yang terkejut, scrunya: “Ha, itulah suara Toakoko, lekas kita
mencarinya ke sana.” – Sembari berkata segera ia mendahului memburu ke lembah
pegunungan itu.
Mendengar lawan besar sudah dekat, semangat Kimlun Hoat ong terbangkit seketika,
segera dari buntalannya ia keluarkan “panca-roda”, senjatanya yang istimewa,
yaitu lima roda yang terdiri dari lima macam logam: emas, perak, tembaga, besi
dan timah.
Walaupun sekarang ilmu sakti tenaga naga dan gajah sudah dilatih hingga
tingkatan ke-11, namun seIama 16 tahun ini ia yakin Nyo Ko dan Siao-liong-li
pasti juga tidak melewatkan waktu percuma, maka Hoat-ong sedikitpun tak berani
meremehkannya.
Begitulah Kwe Yang berlari menuju tempat datangnya suara, tak lama “jurang patah
hati” itu sudah dekat, terlihatlah waktu itu Nyo Ko masih terdiri di atas
karang, belasan tangkai bunga merah bergerak2 di sekitarnya.
Melihat jurang itu sangat curam, Kwe Yang lidak berani melayang ke sana, maka
serunya: “Toa-koko, aku telah datang!”
Namun Nyo Ko sudah hancur luIuh hatinya, ternyata tidak mendengar seruan anak
dara itu.
Dari jauh melihat kelakuan orang agak aneh, cepat Kwe Yang berteriak: Toakoko,
aku masih menyimpan sebuah jarum emas pemberianmu kau harus dengar kata-ku,
jangan kau bunuh diri!”
Sembari berkata, tanpa pikir lagi ia berlari hendak mendekati Nyo Ko melalui
belandar batu jurang itu, Namun sampai di tengah jalan, terlihatlah Nyo Ko telah
terjun ke bawah jurang yang tak terperikan dalamnya.
Keruan kejut Kwe Yang tidak kepalang dan terasa sukmanya terbang ke awang2,
sesaat itu juga entah terpeleset karena terkejut atau sebab berpikir hendak
menolong Nyo Ko, atau mungkin juga karena sudah mendalam cintanya dan rela
menyusulnya ke alam baka, mendadak anak dara itu pun ikut terjun ke bawah
jurang.
Tatkala itu Kim-iun Hoat ong kira2 ketinggalan beberapa tombak di belakang,
melihat Kwe Yang jatuh ke bawah, cepat ia melesat maju buat menolong.
Betapa pesat ilmu entengi tubuh Hoat ong ini seperti anak panah terlepas dari
busurnya, namun toh masih terlambat sedikit, ketika memburu sampai di tepi
jurang, tubuh Kwe Yang sudah terjerumus ke bawah.
Tanpa pikir lagi Hoat-ong gunakan gerakan “To-kwa kim-kau” atau kaitan emas
gantung terbalik, dengan kakinya menggantoI di tepi jurang, tubuhnya merosot ke
bawah untuk menuj Kwe Yang.
Cara Hoat-ong ini sesungguhnya sangat berbahaya, kalau sedikit meleset, bcleh
jadi ia sendiripun akan tergelincir masuk jurang, Maka terdengarlah suara
“bret”, kain baju Kwe Yang sobek sebagian sedang tubuh anak dara itu masih terus
tenggelam ke bawah jurang, kabut tebal yang menutupi dari jurang itu segera
menelan Kwe Yang tanpa bekas Hoat ong menghela napas gegetun, ia menjadi lesu,
sepotong kain baju masih dipeganginya, ia ter-mangu2 memandang ke dalam jurang.
Selang agak lama, tiba2 didengarnya di seberang sana ada seorang menegurnya:
“Hai, Hwesio, apa yang kau lakukan di sini?”
Hoat-ong menoleh, ia lihat di atas gunung sana berdiri enam orang, yang paling
depan seorang tua bermuka muda, ialah Ciu Pek-thong. Di samping-nya berdiri tiga
wanita yang dikenalnya sebagai Ui ong, Thia Eng, dan Liok Bu-siang.
Dan di belangnya adalah seorang Hwesio tua beralis jenggot putih dan seorang
wanita tua berbaju hitam mulus, dua orang terakhir ini tak dikenalnya, yakni
It-teng Taysu dan Eng Koh.
Sudah beberapa kali Hoat-ong kenal kepandaian-Ciu Pek-thong. ia tahu ilmu silat
si tua ini luar biasa lihaynya, selamanya iapun rada jeri padanya, apalagi kini
bertambah Ui Yong yang merangkap pelajaran Tang-sia dan Pak-kay, orangnya cerdik
isinya banyak.
Lebih2 dalam keadaan berduka atas kematian Kwe Yang, sesungguhnya tiada niat
lagi buat bermusuhan, maka katanya kemudian dengan muram: “Nona Kwe Yang telah
terjun ke dalam jurang ini?”
“Ha?” semua orang terkejut. Terutama Ui Yong sebagai ibu, ia paling tergoncang
hatinya, dengan suara gemetar ia menegas: “Apa benar katamu?”
“Untuk apa aku dusta? Bukankah ini kain baju nya?” sahut Hoat ong sembari
menggeraki sobekan baju Kwe Yang yang masih dipegangnya itu.
Melihat kain itu memang benar2 adalah sobekan baju puterinya, seketika Ui Yong
menggigil se-akan2 terjerumus ke dalam jurang es dan tak sanggup buka suara.
Segera Ciu Pek thong menjadi gusar, damperat nya: “Hwesio busuk, kenapa kau
membunuh nona cilik itu? Hatimu benar2 kejam amat!”
“Bukan aku yang membunuhnya,” sahut Hoat ong.
“Tanpa sebab kenapa ia bisa terjun ke dalam jurang?” debat Pek-thong “Kalau
bukan kau mendorongnya, tentu kau yang memaksanya!”
“Tidak temua,” sahut Hoat-ong geleng kepala. “Aku malah bermaksud menerimanya
sebagai murid ahliwarisku, mana mau sembarangan aku membunuhnya?”
“Fui,” mendadak Ciu Pek-thong meludahi orang dengan riak kental. Lalu
damperatnya: “Kentut, kentut! Engkongnya adalah Ui losia, ayahnya Kwe Cing dan
ibunya Ui Yong, siapa di antara mereka yang lebih hebat daripada kau Hwesio
busuk ini? Mana sudi mengangkat guru padamu untuk mewarisi ilmumu yang apek?
Huh, melulu aku Lo-wan-tong saja jika mau mengajarkan beberapa jurus padanya
juga lebih hebat daripada segala gelangmu yang rombengan ini?”
“Jarak Pek thong dengan Hoat-ong cukup jauh, tapi riak kental yang disemprotkan
itu bagai sebutir peluru saja mengarah kemukanya, Lekas2 ia mengegos dan diam2
kagum.
Sebaliknya Lo-wan-tong bertambah senang karena orang tak berani menjawab
damperatannya tadi, dengan suara keras ia mendesak pula: “Nah, tentunya dia tak
sudi mengangkat guru padamu, bukan? Dan kau berkeras hendak menerimanya sebagai
murid?”
Hoat-ong mengangguk.
“Nah, apa yang perlu dikatakan lagi, bukankah karena itu lantas kau mendorongnya
ke dalam jurang?” teriak Pek-thong pnla.
Namun perasaan Hoat-ong masih cemas oleh kematian Kwe Yang ia menghela napas dan
menyahut: “Aku tidak mendorong dia. Tapi sebab apa ku tidak mengerti !”
Sementara itu Ui Yong sudah agak tenang, sekali ia kertak gigi, pentung bambu
diangkat terus menubruk kearah Hoat-ong. Dengan gaya “bong” mengurung, bayangan
pentungan berkelebat kian kemari, seketika tubuh Hoat ong dikurung oleh
pentungnya.
Karena ingin membalas dendam puterinya, di atas belandar batu yang lebarnya
hanya satu dua kaki itu Ui Yong meluncurkan tipu2 serangan mematikan secara ber
tubi2.
Meski ilmu silat Hoat-ong sebenarnya lebih tinggi daripada Ui Yong, tapi tak
berani juga ia mengadu jiwa, melihat permainan pentung orang sangat hebat, kalau
ia terlibat sedikit saja hingga Ciu Pek-thong maju membantu, pula ditempat yang
berbahaya, tentu ia akan sulit melawannya.
Mendadak ia tutul kakinya melompat mundur, habis itu ia bersiul panjang, tahu2
ia melayang Iewat di atas kepala Ui Yong.
Cepat Ui Yong angkat pentungnya menyodok ke atas, tapi kena di tangkis oleh roda
perak Hoat-ong. Ketika Ui Yong membalik tubuh, saat itu Ciu Pek thong sudah
memberondongkan pukulan dan tendangan, sudak bergebrak dengan Hoat-ong.
Mengingat dirinya saorang guru besar suatu aliran silat tersendiri melihat
lawannya tak bersenjata, Hoat ong menyelipkan rodanya ke pinggang juga, lalu
dengan tangan kosong ia layani Pek-thong.
Dalam pada itu Ui Yong sudah memburu datang, pentungnya terus menyodok ke
punggung Hoat-ong.
Sejak Hoat-ong berhasil melatih “Liong jio-pio-yok-kang” hingga tingkatan ke-11,
selamanya belum pernah digunakan, kini ketemu lawan tangguh, kebetulan baginya
untuk mencobanya. Ketika melihat jotosan Ciu Pek-thong tiba, cepat iapun balas
menjotos dengan kepalan lawan kepalan.
Pek-thong terperanjat ia tahu tenaga kepalan orang tentu hebat, maka tak berani
keras lawan keras, Sedikit ia tekan ke bawah, digunakannya pukulan
Khong-bing-kun” atau pukulan “terang-terang kosong.
Tenaga pukulan Hoat-ong itu beratnya melebihi ribuan kati, meski tidak sekuat
naga atau gajah, tubuh manusia tak mungkin sanggup menahan-nya, tapi ketika
saling beradu dengan tenaga pukulan Ciu Pek-thong, tiba2 terasa mengenai tempat
kosong, diam2 Hoat ong heran, menyusul cepat tangan kiripun dihantamkan.
Sementara itu Lo-wan-tong sudah dapat mengetahui tenaga Hoat-ong ternyata besar
luar biasa. Tapi dasar pembawaannya “gila silat”, asal mengetahui siapa
mempunyai semacam kepandaian istimewa, pasti ia ingin jajal.
Tapi selama hidupnya tenaga pukulan sebesar Hoat-ong ini belum pernah
didengarnya, apalagi melihat. Seketika ia menjadi bingung macam apakah ilmu
silat orang ini? segera ia keluarkan 72 jurus Khong-bing-kun yang “terang-terang
kosong” itu untuk melawan tenaga pukulan orang yang maha kuat.
Dengan begitu, tenaga raksasa Hoat-ong menjadi tak berguna, Beberapa kali
Hoat-ong melontarkan serangan, tapi tidak mencapai sasarannya, keruan ia menjadi
kesal tidak kepalang, ilmu sakti yang sudah dilatihnya, belasan tahun baru
sekali keluar ternyata sudah tidak berguna.
Pada saat lain tiba2 didengarnya samberan angin dari belakang, pentung bambu Ui
Yong kembali menutuk lagi ke “Ling-tay-hiat” di punggungnya, tanpa pikir ia
menyampuk ke belakang, “krak”, seketika pentung bambu Ui Yong itu kena
disampuknya remuk, bahkan sisa tenaganya menggoncangkan debu pasir hingga
berhamburan.
Ui Yong melompat pergi terkejut, ia kenal kelihayan Hoat-ong, tapi kepandaian
orang sekarang ternyata jauh lebih hebat daripada dulu, sekali gaplok bikin
remuk pentung bambunya, ilmu pukulan apakah itu?
Nampak Ui Yong terdesak, cepat Thia Eng dan Liok Bu siang mengerubut maju dari
kanan-kiri, yang satu bersenjata seruling kemala dan yang lain berpedang.
“Awas.” segera Ui Yong memperingatkan kepada mereka.
Betul saja, menyusul terdengarlah suara “krak-krak” dua kali, seruling dan
pedang sudah patah semua.
Oleh karena berduka oleh kematian Kwe Yang yang mengenaskan Hoat-ong tidak ingin
mencelakai nyawa manusia lagi, maka ia hanya mcmbentak: “Minggir!”  Dan tidak
mendesak Thia Eng dan Bu-siang lebih jauh.
Ilmu kepandaian Eng Koh sebenarnya belum setinggi Ui Yong, tapi ilmu “Ni
jiu-kang” atau ilmu belut, sangat tepat untuk berkelit dan mengegos, ketika
dilihatnya Hoat-ong hendak angkat kaki, segera iapun maju menyerang.
Namun sekali Hoat-ong menangkis, berbareng terus memotong ke pinggang Eng Koh.
Ketika mendadak terasa sesuatu tenaga maha besar menubruk pinggangnya, lekas2
Eng Koh mengegal-egolkan tubuhnya seperti belut, dan terhindarlah tenaga pukulan
Hoat-ong itu.
Hoat-ong tidak tahu kepandaian Eng Koh sebenarnya belum mencapai tingkatan kelas
wahid, tapi beberapa kali menghantam selalu dapat di hindarkan orang dengan gaya
yang sangat aneh, ia sangat terkejut, ilmu sakti yang sangat ia aguI-kan untuk
menjagoi kolong langit ini ternyata seorang wanita saja tak mampu merobohkannya,
mau -tak-mau ia menjadi jeri, ia tak berani terlibat lebih lama lagi, sekali
tubuhnya melesat, cepat ia menyingkir ke kiri.
“Jangan Iari!” bentak Pek thong sambil mengudak.
Selagi Hoat ong hendak membaliki tangan menyerang, tiba2 terdengar suara
mencicit pelahan, suatu hawa hangat tahu- menyerang mukanya, itulah “lt yang-ci”
atau ilmu jari betara surya, ilmu kepandaian khas It-teng Taysu, yang telah
mencegat larinya.
Sejak tadi Hoat-ong tidak memperhatikan paderi tua ini, siapa duga tenaga
tutukan jarinya ini ternyata sedemikian hebatnya.
Tatkala itu ilmu “lt-yang-ci” It-teng Taysu, sudah mencapai puncak
kesempurnaannya, tenaga tutukannya meski tampaknya lambat dan halus, tapi
sebenarnya kuat luar biasa tak tertahankan.
Dalam terkejutnya Hoat-ong cepat berkelit, habis itu barulah ia balas menyerang
sekali. “Melihat tenaga pukulan Hoat-ong keras luar biasa, It-teng Taysu juga
tak berani menyambutnya dari depan, dengan enteng ia melangkah mundur beberapa
tindak.
Yang satu adalah paderi berilmu dari selatan dan yang lain adalah orang kosen
dari benua barat, sesudah saling gebrak sekali, masing2 tiada yang berani
memandang rendah lawannya lagi.
Ciu Pek-thong ingin menjaga harga diri, ia tidak mau mengerubuti melainkan
berdiri mengawasi saja di samping.
Jarak antara It-tcng dan Hoat-ong tadinya tiada beberapa kaki, tapi sesudah
serang menyerang, yang satu menutuk, yang lain memukuI, akhirnya jarak mereka
makin jauh hingga lebih dua tombak, masing2 mengeluarkan tenaga sepenuhnya dan
menyerang dari jauh.
Kepala It-teng Taysu tampak mulai menguap, terang sekali sedang pusatkan seluruh
Lwekangnya, Ui Yong jadi kuatir, usia It-teng sudah tua hingga tak sanggup
melawan Hoat-ong pula hatinya sedih oleh kematian putrinya, sebenarnya ia tiada
niat adu jiwa dengan musuh, tapi bila melihat serang menyerang kedua orang masih
begitu dasyatnya, ia tidak berani sembarangan menerjang maju.
Selagi ia tak berdaya, tiba2 terdengar suara mencuitnya rajawali di udara,
pikirannya tergerak, segera ia bersuit sambil menunjuk Hoat-ong.
Melihat itu, sekali bercuit, sepasang rajawali tu lantas menubruk turun ke atas
kepala Hoat-ong.
Jika Sin-tiau kawan Nyo Ko itu yang datang mungkin Hoat-ong akan jeri, tapi
sepasang rajawali mi hanya badannya yang besar, tetap burung biasa saja, mana
bisa menakuti Hoat-ong? Cuma saat itu ia lagi pusatkan pikiran dan tenaga buat
melawan It-teng Taysu, sedikitpun tak berani ayal, kini mendadak disergap kedua
rajawali dari atas, terpaksa ia ayun tangan kirinya ke atas, dengan tenaga
pukulan kuat menghantam sepasang rajawali.
Karena tak tahan, cepat rajawali itu terbang ke atas lagi, Dan karena godaan
itu, keadaan It teng Taysu lantas di atas angin. Lekas2 Hoat-ong kerahkan tenaga
baru kemudian bisa mengimbangi lagi.
Sepasang rajawali itu sudah lama dipiara U Yong dan sudah pintar, ketika
mendengar suitan Ui Yong yang mendesak terus, padahal musuh terlalu lihay,
meteka tak berani menubruk lagi seperti tadi, melainkan hanya menyamber kian
kemari di atas kepala Hoat ong saja, walaupun tidak bisa melukainya, tapi
perhatian Hoat ong banyak terkacau.
Sebenarnya tenaga pukulan Hoat-ong masih lebih unggul daripada lt teng, tapi
kalau soal ilmu kebatinan ia jauh kalah, ditambah kini ia merasa gegetun oleh
matinya Kwe Yang, semangatnya memang sudah tak tenang kena dikacau lagi oleh
rajawali itu, keruan ia menjadi gopoo. Segera hal ini diketahui It-teng. Sambil
tersenyum It-teng lantas mendesak maju setengah langkah.
Ui Yong sendiri meski sangat berduka akan kematian puterinya, tapi kecerdikannya
tidak pernah berkurang ketika melihat It-teng melangkah maju, mendadak iapun
menggertak: “Kwe Cing, Nyo Ko, kebetulan kedatangan kalian, lekas tangkap dia
be.ramai2!”
Padahal tidak mungkin Ui Yong menyebut nama sang suami, teriakannya ini melulu
gertak sambel belaka untuk mengejutkan Hoat-ong, sebab bila ia bilang
“Cing-koko” itu, dan kalau sempat berpikir, rasa kaget itupun akan berkurang.
Benar saja, ketika tiba2 Hoat-ong mendengar suara “Kwe Cing dan Nyo Ko” berdua,
ia terperanjat, pikirnya “Jika kedua jago ini dalang juga. “Melayanglah jiwaku!”
Pada saat itulah, kembali It teng mendesak maju setengah langkah pula.
Rupanya kedua rajawali di atas udara itupun melihat ada kesempatan, mendadak
rajawali yang betina bercuit keras terus menubruk cepat ke bawah untuk mencakar
biji mata Hoat ong.
“Binatang!” damperat Hoat-ong sengit, berbareng sebelah tangannya
digablokkannya.
Tak terduga sergapan rajawali betina itu hanya pura2 belaka, ketika dekat
mukanya mendadak membelok ke atas lagi, sebaliknya rajawali yang jantan diam2
malah menyerang dari samping, ketika Hoat-ong mengetahui namun cakar rajawali
itu sudal menyentuh kepalanya yang gundul.
Terkejut dan gusar sekali Hoat-ong, sehelai tangannya menyampuk ke atas, “plok”,
segera bulu-bulu bertebaran, rajawali jantan itu berhasil mencengkeram kopiah
emas Hoat-ong terus terbang pergi tapi sampukan Hoat-ong itupun sangat keras,
rajawali jantan itu sudah terbang sampai ditengah udara akhirnya tak tahan dan
mendadak terjungkal terjerumus ke dalam jurang yang tak terkirakan dasarnya.
Ui Yong, Thia Eng, Liok Bu siang dan Eng Koh menjerit kaget, sedang Ciu Pek
thong menjadi gusar, “Hwesio apek,” segera ia memaki, “Lo-wan-tong tak mau pakai
aturan Kangouw lagi segala, mungkin harus dua lawan satu sekaligus.” Habis itu,
secara bertubi2 ia kirim hantaman ke punggung Kim-Iun Hoat-ong.
Dalam pada itu si rajawali betina melihat yang jantan terjerumus ke dalam
jurang, sekali bercuit panjang, tahu2 yang betina inipun ikut menerjun ke bawah
hingga lama sekali tak nampak naik kembali. Karena dikeroyok dari muka belakang,
mau tak-mau Kim-lun Hoat-ong menjadi jeri sekalipun tinggi ilmu silatnya, mana
mungkin melawan keroyokan dua jago tertinggi ini?
Maka ia tak berani terlibat lebih lama, Mendadak terdengar suara gemerantang,
roda2 emas dan perak menyamber sekaligus, yang depan menahan tutukan “lt-yang
ci” dan bagian belakang menolak serangan “Khong-bing-kun”, tubuhnya terus
mencelat pergi dan cepat sekali sudah melintasi tanah bukit sana, dengan
mem-bentak2, segera Ciu Pek-thong mengudak.
Sesudah berhasil meloloskan diri, Hoat-ong terus lari dengan cepat, ia tahu bila
kena ditahan lagi oleh Ciu Pek-thong, mungkin beberapa ratus jurus takkan bisa
ketahuan unggul atau ator, tatkala itu It-teng Taysu tentu akan menyusul tiba
dan jiwanya boleh jadi akan melayang di lembah sunyi ini.
Tiba2 dilihatnya di depan membentang hutan vang lebat, ia menjadi girang, cepat
ia berlari ke sana. Tak terduga mendadak terdengar suara mendenging yang cepat
sebutir batu kecil tahu2 menyamber keluar dari dalam hutan.
Jarak hutan itu dengan Hoat-ong masih ada beratus tindak, tapi entah tenaga
sakti apa yang menyambitkan batu sekecil itu, dari suara mendenging nya
teranglah keras luar biasa dan mengarah badan Hoat-ong.
Lekas Hoat-ong angkat rodanya menyampuk dibarengi suara benturan, batu itu pecah
berantai hingga muka Hoat-ong sendiri keciprat beberap butir krikil.
Terkejut Hoat-ong, pikirnya “Batu sekecil ini disambitkan dari tempat jauh, tapi
rodaku kena ke bentur mundur, nyata tenaga orang ini tidak di bawah Lo wan-tong
dan Hwesio tua tadi, sungguh tidak nyana di jagat ini masih terdapat jago
sebanyak ini.”
Sedang ia tertegun, terlihatlah dari dalam huti muncul seorang tua berjubah
hijau.
Ciu Pek-thong menjadi girang, segera ia berseru: “Ui losia! Hwesio apek itu
telah membinasakan cucu perempuanmu, lekas kau ikut menangkapnya.
Orang yang muncul dari hutan itu memang Tho-hoa-to-cu Ui Yok-su adanya.
Sejak ditinggalkan Nyo Ko, ia meneruskan pengembaraannya lagi ke utara, satu
hari ketika singgah minum di suatu pedusunan, tiba2 terlihat sepasang rajawali
terbang lewat, ia tahu kalau bukan Ui Yong, tentulah Kwe Hu atau Kwe Yang yang
berada di sekitar sini, maka diam2 ia menguntit hingga sampai di Coat ceng kok
ini.
Karena tidak ingin dilihat puterinya, ia hanya menguntit dari jauh saja, sampai
akhirnya dilihatnya It-teng Taysu dan Ciu Pek-thong ber-turut2 bergebrak melawan
Kim-lun Hoat-ong, ia merasa paderi asing ini benar2 seorang lawan tangguh yang
jarang diketemukan, ia menjadi ketarik dan ikut turun tangan.
Maka berkatalah Hoat-ong sembari gosok2 kedua rodanya hingga mengeluarkan suara
nyaring: “Apakah kau ini Tang-sia Ui Yok-su?”
“Betul,” sahut Yok-su mengangguk. “Ada petunjuk apakah Taysu?”
“Waktu berada ditempatku, kudengar di daerah Tionggoan terdapat Tang-sia, Se
tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong. lima orang lihay. Hari ini beruotung
bisa bertemu dan ternyata memang bukan omong kosong belaka,” demikian sahut
Hoat-ong, “Dan di manakah yang empat orang itu?”
Tiong sin-thong (Ong Tiong-yang), Pak-kay dan Se-tok sudah lama meninggal,” kata
Yok-su, “Paderi agung inilah Lam te yang kau tanya, sedang yang ini adalah
Ciu-heng, Sutenya Tiong-sin-thong,”
“Jika Suhengku masih hidup, hm, tak nanti kau mampu menahan 10 jurus
serangannya,” kata Pek-thong.
Tatkala itu mereka bertiga telah mengepung Hoat-ong di tengah2, Dalam keadaan
begitu Hoat-ong menjadi serba susah, ia pandang It-teng Taysu, lain saat melihat
Ciu Pek thong dan sebentar2 ia memandang Ui Yok-su puIa.
Habis itu mendadak ia menghela napas panjang, lima rodanya dilempar ke tanah,
lalu katanya: “Jika satu lawan satu, siapapun tiada yang kutakuti.”
“Betul,” kata Pek-thong. “Tapi hari ini kita buka bertanding untuk rebut gelar
juara segala, siapa ingin main satu lawan satu denganmu? Hwesio apek kau sudah
terlalu banyak melakukan kejahatan, dan sekarang kau lekas bunuh diri saja.”
“Lima tokoh besar Tionggoan, dua diantaranya sudah kulihat kini, meski aku mati
ditangan kalian bertiga juga tidak kecewa,” sahut Hoat ong. “Cuma layang ilmu
Liong-jio pan-yok-kang terputus sampai di tanganku, selanjutnya di jagat ini
tiada ahli warisnya lagi.”
Habis berkata, sebelah tangannya diangkat terus hendak menabok batok kepalanya
sendiri.
Ketika mendengar kata2 “Liong-jio-pan-yok-kang”, mendadak Ciu Pek-thong jadi
ketarik, secepat kilat ia melompat maju dan menangkis tangan Hoat-ong itu dan
bcrkata: “Nanti dulu!”
“Aku lebih suka mati daripada dihina, apa yang kau inginkan lagi?-” kata
Hoat-ong mendongkol

kembalinya rajawali 24

Juni 24, 2010

“Bukan,” sahut Pek-wi menggoyang kepala, “Tapi hadiah ini adalah berkat usaha
Sin-tiau hiap bersama beratus tokoh Kangouw, tenaga yang mereka keluarkan
sungguh tidaklah sedikit,”
Habis berkata ia lantas buka kantong kulit yang dipeganginya, Ketika Kwe Yang
memeriksa isinya mendadak ia berteriak dan terkejut: “He, kuping!”
“Betul,” sahut Pek-wi, “Kedua kantong kulit ini isinya adalah 2000 pasang daun
kuping prajurit Mongol.”
Kwe Yang belum paham akan maksud itu, maka dengan terkejut ia tanya: “Daun
kuping-perajurit Mongol sebanyak ini, untuk apa diberikan padaku?”
Kwe Cing dan Ui Yong mendengar jelas percakapan itu, maka merekapun berbangkit
dan mendekati Su Pek-wi serta melongok isi kantong kulit itu. Segera pula
teringatlah apa yang dilaporkankedua pengintai tadi, tak tertahan lagi mereka
terkejut dan ter-heran2.
“Su-toako, kiranya sendadu Mongol di kota Sinya dan Tengciu itu adalah
Sintiau-hiap beserta kawannya yang membunuh?” tanya Ui Yong.
Kelima saudara Su itu memberi hormat pada, Kwe Cing dan Ui Yong yang segera pula
membalas hormat itu. Kemudian barulah Su Pek-wi menjawab: “Kata Sin-tiau hiap,
nona Kwe berada di Siangyang, tapi pasukan2 Mongol berani datang dan harus
dibunuh, cuma kekuatan musuh terlalu besar dan tidak bisa sekaligus dibunuh
semua, maka bersama beberapa pahlawan hanya membunuh dulu dua ribu pasukan
perintis musuh.”
“Di manakah Sin tiau-tayhiap sekarang berada, dapatkah aku menemuinya untuk
mengaturkan terima kasih atas nama segenap penduduk kota,” kata Kwe Cing.
Hendaklah diketahui bahwa selama belasan tahun ini Kwe Cing selalu mencurahkan
tenaga dan pikirannya untuk pertahanan kota Siangyang, maka terhadap urusan2
Kangouw sudah lama tak ikut campur, sedangkan Nyo Ko mengasingkan diri dan ganti
nama, pergaulannya juga dengan orang yang aneh2 sehingga Kwe Cing tidak
mengetahui bahwa “Sin-tiau-hiap” itu adalah Nyo Ko.
Maka jawablah Su Pek-wi: “Beberapa hari ini Sin-tiau-hiap lagi sibuk menyiapkan
hadiah ulang tahun nona Kwe, maka belum sempat datang menjumpai Kwe-tayhiap dan
Kwehujin, haraplah di-maafkan.”
Pada saat itulah tiba2 suara suitan berbangkit pula di kejauhan, suara seorang
telah berteriak: “Se-san-it-khut-kui mendapat perintah Sin tiau hiap datang
memberi selamat ulang tahun pada nona Kwe dan membawakan hadiah Shejit.”
Suara ini lembut tajam, seperti terputus2, tapi terdengar jelas oleh setiap
orang.
Melihat hadiah yang pertama tadi sesungguhnya hebat sekali, maka lekas2 Kwe Cing
berseru menyahut “Kwe Cing menantikan kedatangan kalian dengan hormati – Lalu
iapun menuju kepintu masuk alon2 itu buat menyambut
“Kau kira Sin-tiau-hiap ini siapa? “tanya Ui Yong berbisik ketika berdiri
menyanding sang suami.
“Entahlah, aku tak tahu,” sahut Kwe Cing.
“lalah Nyo-Ko!” kata Ui Yong.
“Apa? Nyo Ko?” Kwe Cing menegas dan tercengang, namun segera iapun bergirang.
“Aha, hebat, sungguh hebat! ia berjasa begini besarnya, sungguh ditakdirkan
membantu Song kita.”
“Kau terka hadiah Shejit-nya yang kedua itu apa?” tanya Ui Yong.
“Kepintaran Koji luar biasa, hanya kau yang bisa melebihi dia dan melulu kau
yang bisa menerka pikirannya,” sahut Kwe Cing tertawa.
“Tapi sekali ini tak bisa menerkanya,” ujar Ui Yong sambil menggeleng.
Tidak lama kemudian, Tiang fi kui Hoan It ong beserta delapan setan lainnya
telah sampai di-lapangan terus memberi hormat pada Kwe Cing suami isteri, lalu
mereka mendekati Kwe Yang dan berkata: “Selamat hari ulang tahun nona, semoga
hidup tenang bahagia Sin-tiau-hiap menyuruh kami mengantarkan hadiahnya yang
kedua ini.”
“Terima kasih, banyak terima kasih,” segera Kwe Yang berseru.
Maka terlihatlah setiap orang Se-san it- khut-kui membawa sebuah kotak, Karena
kuatir mereka kembali memberi hadiah sebangsa daun kuping atau batang hidung
manusia, cepat Kwe Yang berkata lagi: “jika barang tak baik dilihat, janganlah
dibuka.”
“Ha, sekali ini justru sangat indah untuk dilihat,” sahut Toa-thau-kui tertawa.
Ketika Hoan It-ong membuka kotaknya, dikeluarkan nya sebuah mercon roket yang
sangat besar, ketika sumbunya disulut, secepat kilat mercon roket itupun
meluncur tinggi kelangit. Kemudian waktu mercon itu meletus ditengah udara, maka
terlihatlah gemerlapan bintik2 sinar diudara tiba2 terbentuk menjadi suatu
tulisan, menyusul itu Tiau si kui juga melepaskan sebuah bunga api yang iain dan
merupakan suatu huruf lagi, setelah bergiliraa Se-san-it-khut-kui melepaskan
bunga api masing2, huruf bunga api yang gemerlapan itu kalau diurut menjadi
berbunyi “Dengan hormat mendoakan semoga nona Kwe panjang umur dan banyak
rejeki.”
Sepuluh huruf sepuluh warna tergantung tinggi diangkasa hingga lama barulah
buyar. Bunga api ini adalah ciptaan ahli terkenal yang bernama Wi It-bau, betapa
indah bunga api buatannya pada jaman itu dianggap sebagai semacam kepandaian
khas yang tiada bandingannya.
Kwe Cing tersenyum senang melihat suasana itu, pikirnya dalam hati: “Memang anak
perempuan paling suka dengan permainan aneh2 ini, sungguh pintar Koji bisa
mencari ahli pembuat bunga api terkenal ini.”
Tapi baru saja sepuluh buraf bunga api ini buyar, tiba2 di udara sebelah utara
sana meluncur sebuah mercon yang jaraknya beberapa li dari lapangan ini,
menyusul mana di bagian utara lebih jauh lagi menjulang tinggi pula sebuah
meteorit yang lain.
“Cara memberi tanda pakai meteor seperti ini dalam sekejap saja bisa tersambung
sampai beratus li jauhnya, entah apa yang telah diatur Nyo Ko, rasanya hadiahnya
yang kedua ini sekali2 bukan melulu membakar bunga api untuk membikin senang
Yang-ji saja,” demikian Ui Yong berpikir.
Lalu iapun perintahkan menyediakan meja dan daharan untuk Su si Hengte serta
Se-san-it-khut-kui. Tapi belum selesai perjamuan itu diaiapkan, terdengarlah
dari jauh di utara sana berkumandang suara gemuruh bagai guntur melempem, namun
suara itu susul menyusul mengguruh terus tiada berhenti cuma jaraknya terlalu
jauh, maka suara gemuruh itu kedengaran enteng saja.
Sebaliknya demi mendengar suara itu, mendadak Su si Hengte dan
Se-san-it-ihut-kui berjingkrak girang, sambil ber-teriak2: “Berhasil, berhasil
sudah!”
Para pahlawan menjadi bingung entah berhasil apa yang dimaksud itu, Toa-thau kui
menuding ke utara dan berteriak: “Bagus, bagus!” .
Tatkala itu udara gelap gulita, tapi di ujung langit sebelah utara itu ternyata
bercahaya merah.
Terkejut Ui Yong, tapi segera iapun bergirang, “Ah, Lamyang telah terbakar!”
serunya kemudian.
“Ya, benar, itulah Lamyang!” Kwe Cing ikut berteriak sambil tepuk paha.
“Dapatkah kami mendapat sedikit keterangan?” tanya Ui Yong pada Hoan It-ong.
“ltulah hadiah ulang tahun kedua yang Sin-tiau-hiap berikan pada nona Kwe, yaitu
rangsum pasukan Mongol yang berjumlah dua ratus ribu jiwa itu telah dibakarnya,”
kata Hoan It-ong.
Memangnya Ui Yong sudah menduga akan itu, kini mendengar dugaannya ternyata
tepat, ia saling pandang dengan sang suami dengan girang.
Kiranya pasukan Mongol yang menggempur Siangyang itu menggunakan Lamyang sebagai
kota perbekalan, beberapa tahun yang lalu sudah mendirikan gudang dikota itu
secara besar2an, lalu dari mana2 didatangkan rangsum dan disimpan di situ.
Beberapa kali Kwe Cing mengirim pasukannya menggempur kota rangsum musuh itu,
tapi pertahanan pihak Mongol terlalu kuat hingga tidak pernah berhasil, siapa
nyana kini Nyo Ko melulu gunakan waktu semalam saja dapat membakar ludes
perbekalan musuh itu.
Menyaksikan sinar api yang ber-kobar2 diarah itu makin lama semakin besar,
akhirnya Kwe Cing menjadi kuatir malah. Tanyanya pada Hoan It ong: “Para
pahlawan yang berjuang disana itu apakah dapat kembali dengan selamat semua?”
Diam2 Hoan It ong harus mengakui memang benarlah Kwe Cing seorang berbudi luhur,
tidak tanya hasil pembakaran itu, tapi lebih dulu tanya keselamatan orang-nya,
Maka jawabnya: “Terima kasih atas perhatian Kwe-tayhiap, hal itu Sin-tiau-hiap
sudah mengaturnya dengan baik. Yang ikut membakar Lamyang itu adalah Seng-in
Suthay, Liong-ah Thauto, Thio It-bin dan Pek-cau sian cs. yang semuanya
tergolong jago kelas wahid, seluruhnya ada 81 orang, rasanya perajurit maupun
perwira Mongol yang biasa saja tak nanti bisa mencelakai mereka.”
Tiba2 Kwe Cing menjadi paham, katanya pada Ui Yong: “Lihatlah, Ko ji telah
mengundang pahlawan2 begitu banyak, kiranya bertujuan mendirikan pahala luar
biasa ini, jika bukan jago2 terkemuka ini sekaligus turun tangan berbareng,
memangnya tidaklah mudah hendak menghancurkan 2000 perajurit musuh.”
“Kami telah mendapat berita bahwa pasukan Mongol akan menggempur Siangyang
dengan meriam dan obat peledak lain, maka di gudang bawah tanah Lamyang sana
telah penuh tersimpan beratus libu kati obat pasang,” demikian tutur Hoan It-ong
pula.
“Sebab itulah ketika melihat bunga api selamat ulang tahun yang kami bakar tadi,
segera 81 jago2 angkatan tua yang sudah siap dikota Lamyang itu turun tangan
berbareng, membakar obat peledak dan menghancurkan rangsum musuh, sekali ini
pasukan musuh pasti akan kelaparan.”
Mendengar keterangan itu, Kwe Cing saling pandang dengan Ui Yong, diam2 mereka
terkesiap
Dahulu mereka pernah mengikuti Jengis Khan menjelajah ke barat dan menyaksikan
sendiri tentara Mongol menggunakan meriam menggempur benteng musuh, betapa
dahsyatnya meriam itu benar2 seperti gugur gunung, cuma saja obat pasang dan
peluru meriam nya sukar diperoleh, maka beberapa kali pasukan Mongol yang
mengerang Siangyang belum pernah menggunakan meriam.
Tapi sekali ini rajanya sendiri, Mooko, yang memimpin pasukan, sudah tentu
membawa alat penggempur benteng yang paling lihay pada jaman itu. jika bukan apa
yang dinyatakan Nyo Ko ini, dapat dipastikan penduduk Siangyang bakal tertimpa
malapetaka besar, Apalagi bisa menghancurkan 2000 perajurit musuh dan membakar
rangsum musuh yang terhimpun selama beberapa tahun di Lamyang itu, dalam keadan
serba kurang lengkap, pasti pasukan musuh terpaksa mundur.
Dan jasa itu sungguh besar luar biasa, maka suami isteri itu lantas mengaturkan
terima kasih pada Su si Hengte dan Se-san it-kui. Dalam pada itu suara ledakan
obat pasang masih terus terdengar cuma terlalu jauh, maka kedengarannya se-akan2
kabur, mendadak terdengar letusan beberapa kali lebih keras, menyusul tanah
sedikit tergoncang. Maka berteriaklah Hoan Ii-ong: “Ah, gudang obat pasang yang
terbesar itupun sudah meledak.”
Segera juga Kwe Cing memanggil Bu-si Hengte menghadap dan berkata pada mereka:
“Kalian lekas memimpin 2000 pemanah dan merunduk ke Lam-yang. jika pasukan musuh
dalam formasi teratur, maka tak usah turun tangan, tapi kalau musuh kacau gugup,
segera hujani anak panah dan basmi mereka.”
Maka pergilah kedua saudara Bu itu dengan cepat, Karena kejadian hebat yang
datangnya susul-menyusul itu seketika ramailah orang membicarakan kegagahan dan
memuji akan budi luhur Sin-tiau-hiap.
Sebaliknya Kwe Hu yang melihat suaminya sudah menjagoi di atas panggung dan
kedudukan Pangcu sudah terang tergenggam di tangan, siapa tahu mendadak terjadi
hal2 yang menyimpang, dan belum Nyo Ko muncul orangnya atau suaranya sudah
merobohkan nama sang suami.
Meski kejadian2 membakar rangsum musuh dan membasmi pasukan permtis Mongol
adalah berita kemenangan yang menggirangkan tapi dasar Kwe Hu ini berjiwa
sempit, maka ia menjadi kurang senang apalagi didengarnya bahwa apa yang terjadi
itu menurut Su si Hengte dan Se-san it-khut-kui adalah hadiah ulang tahun Nyo Ko
untuk adik perempuannya, kalau dibandingkan terang ia sendiri semakin merosot
pamornya.
Berpikir sampai di sini, ia menjadi gusar, pikirnya. “Bagus, keparat Nyo Ko ini
dendam padaku karena kutabas buntung lengannya dan sekarang sengaja datang
menghilangkan mukaku!”
Nio tianglo dan Yalu Ce serta Kwe Hu bersama satu meja, orang tua ini melihat
semua orang sama riang gembira, hanya Kwe Hu saja tampak bersungut.
Setelah ia pikir, segera ia tahu sebab2nya, maka katanya tertawa: “Ah, aku
benar2 sudah pikun, karena kegirangan oleh datangnya berita kemenangan ternyata
urusan di depan mata menjadi terlupa.”
Habis ini, segera ia melompat ke atas panggung lagi dan serunya lantang. “Para
hadirin, pasukan musuh berulang kali mengalami kehancuran sudah tentu kita
merasa amat girangnya. Tapi masih ada pula sesuatu yang menambahi kegirangan
kita, yaitu tadi Yalu-toaya telah mengunjuk ilmu silatnya yang tinggi dan semua
orang sangat mengaguminya, sekarang juga kita mengangkat Yalu-toaya sebagai
Pangcu kami, Apakah diantara pahlawan2 yang hadir ini ada yang menyanggah? Dan
anak murid perkumpulan kita sendiri, apakah ada yang tidak setuju?”
Sesudah ditanya tiga kali dan di bawah panggung tetap tiada sahutan, maka
Nio-tianglo melanjutkan: ” jika begitu, silakan Yalu Ce naiklah kemari!”
Segera Yalu Ce melompat ke atas panggung, ia merangkap kepalan memberi hormat
sekeliling panggung, selagi ia hendak buka suara dengan kata2 yang merendah
diri, tiba2 di bawah panggung seseorang berteriak: “Nanti dulu, hamba ada
sesuatu pertanyaan perlu minta penjelasan Yalu-toaya!”
Yalu Ce tercengang, dilihatnya suara itu keluar dari gerombolan anak murid
Kay-pang sendiri, maka cepat iapun menjawab: “Katakanlah, silakan!”
Lantas terlihat di antara anak murid Kay-pang sana telah berdiri satu orang dan
berseru: “Ayah YaIu-toaya sangat agung menjabat perdana menteri dinegeri Mongol,
kakaknya juga pernah menjadi pembesar tinggi, walaupun sudah meninggal semua,
tapi Kay-pang kita adalah musuh Mongol, dengan riwayat Yalu toaya yang
menimbulkan curiga itu, apakah dapat menjadi Pangcu perkumpulan kita?”
“Mendiang ayahku, Yalu Cucay meninggal di racun ibu suri raja Mongol dan
mendiang kakakku Yalu Cin dibunuh raja Mongol yang sekarang, hamba sendiri
dengan raja Mongol yang kejam itu mempunyai dendam yang tiada taranya,” demikian
sahut Yalu Ce dengan sengit.
“Meski begitu katanya, tapi kematian ayahmu sesungguhnya kurang jelas, tentang
diracun hanya berita angin belaka dan belum ada sesuatu bukti nyata,” kata
pengemis tadi pula, “Dan kakakmu melanggar perintah serta dihukum mati adalah
pantas, dendam ini tak perlukah dibalas, sebaliknya sakit hati Kay-pang kita
inilah yang belum terbalas.
Mendengar orang berani menyindir suaminya, Kwe Hu menjadi murka, ia tak tahan
lagi, ia membentak: “Siapa kau? Berani mengaco-belo disini? Kalau berani,
hayolah naik ke atas panggung!”
“Hahaha, bagus, bagus!” sahut pengemis itu terbahak “Pangcu belum tentu jadi,
tapi calon nyonya Pangcu sudah unjuk lagak.”
Habis itu, tanpa bergerak, tahu2 orangnya sudah berada di atas panggung.
Menyaksikan ilmu entengi tubuh orang ini, semua orang terkesiap. “Hebat benar
ilmu silatnya, siapakah dia?” demikian semua orang sama bertanya. seketika
pandangan beribu pasang mata terpusat atas diri pengemis ini.
Pengemis ini memakai baju hitam yang longgar dan compang camping, tangan kanan
membawa sebatang tongkat yang bulat tengahnya sebesar cawan arak, rambutnya
serawutan, mukanya kuning ke-gemuk2an seperti orang berpenyakit beri2,
dekak-dekuk seperti bekas koreng, dipunggungnya menggemblok lima kantong kain,
kiranya dia adalah anak murid Kay pang berkantong lima.
Sebenarnya dalam kaum jembel itu tidaklah kurang orang yang bermuka jelek, tapi
kejelekan orang ini luar biasa. Anggota2 Kay-pang kenal dia bernama Ho Su-ngo,
orangnya pendiam, tapi giat, sedikit bicara, banyak bekerja.
Sebab belasan tahun selalu giat berjuang untuk tugas perkumpulan dengan setia
tanpa kenal capek, maka lambat-laun telah naik tingkat menjadi kantong lima,
cuma silatnya dikenal rendah, kedudukan juga rendah, maka siapapun tidak
memperhatikannya, orang menduga sesudah naik sampai tingkatan kantong lima tak
mungkin lagi naik lebih tinggi, siapa tahu orang bodoh dan rendah demikian ini
mendadak bisa naik panggung dan mendebat Yalu Ce, malahan ilmu silatnya juga
diluar dugaan, semua orang sama membatin:
“Ho Su ngo ini darimana berhasil mencuri belajar ilmu silat yang demikian
bagusnya?”
Sungguhpun Ho Su-ngo orangnya sepele, tapi karena mukanya yang jelek hingga
membikin siapa yang melihatnya sukar melupakannya, maka Yalu Ce juga kenal
padanya, segera ia rangkap tangan dan menegur “Entah Ho-heng ada pendapat apa
lagi, silakan memberi petunjuk.”
“Bilang memberi petunjuk, itulah aku tak berani,” sahut Ho Su-ngo tertawa
dingin. “Cuma hamba ada dua soal yang belum jelas, maka naik sini dan ingin
bertanya.”
“Dua soal apa?” tanya Yalu Ce..
“Pertama,” kata Ho Su-ngo, “Pangcu baru dan lama kalau mengadakan timbang
tcrima, selalu menggunakan “Pak-kau-pang” (pentung pcmukul anjing) sebagai tanda
penyerahan kekuasaan Hari ini Yalu Ce-toaya hendak menjadi Pangcu, entah pusaka
kita itu, Pak-kau pang, berada dimana? sungguh hamba ingin sekali melihatnya.”
Mendengar pertanyaan ini, seketika para anggota Kay-pang berkata dalam hati:
“Hebat benar pertanyaan ini.”
Sementara terdengar Yalu Ce telah menjawab: “Loh pangcu tewas dibokong musuh,
Pak-kau pang itupun hilang dirampas penjahat itu, Memangnya ini adalah noda
perkumpulan kita yang harus dicuci bersih, siapa saja asal anak murid kita
berkewajiban mencari kembali pentung pemukul anjing itu.”
“Dan,” kata Ho Su-ngo lagi,” soal kedua yang hamba tidak jelas dan ingin tanya,
yalab sakit hati Loh-pangcu sebenarnya harus dibalas atau tidak?”
“Loh- pangcu dicelakai Hotu, hal ini semua orang tahu, orang2 gagah di jaman ini
semuanya ikut berduka dan penasaran, kita sudah mencari dan menyelidiki dan
belum nampak jejak si bangsat Hotu ini,” demikian sahut Yalu Ce Iagi.
“Tapi ini adalah tugas penting perkumpulan kita, sekalipun ke ujung langit juga
akan kita bekuk keparat Hotu itu untuk membalaskan sakit hati Loh-pangcu,”
“Hm,” tiba2 Ho Sit-ngo tettawa dingin pula. “Pertama, pentung pemukul anjing
belum diketemukan kedua pembunuh Loh pangcu belum didapatkan, bila urusan ini
belum selesai sudah ingin menjadi Pangcu, rasanya agak terlalu kesusu.”
Pertanyaan yang tepat dan tegas ini membikin wajah Yalu Ce menjadi merah padam
tak sanggup menjawab.
Maka cepat2 Nio tianglo menyela “Apa yang dikatakan Ho-laute ada benarnya juga,
tapi anak murid perkumpulan kita meliputi beratus ribu jumlahnya dan tersebar
diseluruh pelosok tak dapat tiada pemimpinnya, sedang urusan mencari pentung dan
menuntut balas dendam lebih2 memerlukan pimpinan, sebabnya kita buru2 ingin
mengingkat seorang Pangcu baru, justeru inilah alasannya.”.
“Kata2 Nio tianglo ini salah besar, boleh dikatakan memutar-balikkan persoalan,”
tiba2 Ho Su-ngo menjawab dengan geleng2 kepala…”
Keruan Nto-tianglo menjadi gusar, ia adalah tertua dalam kalangan Kay-pang, tapi
seorang anak murid berkantong lima saja berani mencelanya di-hadapan umura,
sungguh besar amat nyalinya.
“Di mana letak kata2ku yang salah?” segera Nio tianglo bertanya dengan gusar.
“Menurut pendapat Tecu,” demikian Ho Su-ngo menjawab, “barang siapa yang bisa
menemukan Pak kau-pang dan siapa mampu membunuh Hotu untuk balas sakit hati
Loh-pangcu, siapa lantas kita angkat menjadi Pangcu, Tapi kalau cara seperti
sekarang ini, ilmu silat siapa yang pating kuat lantas dia menjadi Pangcu, jika
umpama mendadak Hotu datang kemari dan ilmu silatnya menangkan Yalu-toaya,
apakah kitapun lantas mengangkatnya menjadi Pangcu?”
Debatan ini seketika bikin orang saling pandang dan merasa apa yang dikatakan
ada benarnya juga.
Namun Kwe Hu sudah lantas ber-kaok2 dibawah panggung, teriaknya: “Ngaco-belo,
ilmu silatnya Hotu mana bisa menangkan dia?”
“Hm, meski ilmu silat Yalu toaya sangat tinggi, tapi belum berarti seluruh jagat
tiada tandingan, hamba hanya seorang murid kantong lima, tapi belum pasti kalah
daripadanya,” sahut Ho Su-ngo dengan tertawa dingin.
Kwe Hu sangat mendongkol dengan kata2 orang kurangajar itu, kini mendengar orang
bersedia saling gebrak, itulah kebetulan, maka cepat ia menggembor lagi:
“Ce-koko, hajarlah manusia congkak yang kurangajar itu!”
“Nio-tianglo,” kata Ho Su-ngo pula, “jika Tecu bisa menangkan Yalu-toaya,
jabatan Pangcu ini lantas menjadi bagian Tecu, bukan? Atau mesti menunggu ada
orang lain menemukan pentung dan membalas dendam baru akan diangkatnyn menjadi
pemimpin kita?”
Melihat sikap orang makin lama semakin kurangajar, Nio-tianglo menjadi gusar
sungguh2.
“Tidak peduli siapa,” demikian sahutnya segera, “jika tak mampu menangkan para
ksatria, tak mungkin bisa diangkat Pangcu, kelak kalau ia tak mampu ketemukan
pentung dan membalas dendam, pasti ia akan malu menduduki jabatan ini. jika
Yalu-toaya menjadi pangcu kita, kedua tugas itu tak nanti tak dilaksanakannya,
kalau dia tak mampu menang-kan Ho-laute, tak mungkin juga ia bisa menjadi
Pangcu?”
“Tepat perkataan Nio-tianglo,” seru Ho Su-ngo, “biarlah hamba segera belajar
kenal dulu dengan kepandaian Yalu-toaya, kemudian barulah pergi mencari pentung
dan membunuh musuh.” – Di balik kata2 itu nyata benar se-akan2 pertandingan ini
9/10 bagian sudah pasti Yalu Ce akan kalah.
Biasanya Yalu Ce sangat sabar dan berjiwa besar, tapi mendengar kata2 Ho Sungo
ini, tanpa terasa iapun mendongkoI, maka jawabnya: “Siaute berkepandaian rendah,
memangnya tak berani menjadi Pangcu, tapi kalau Hoheng suka memberi pelunjuk,
itulah sangat beruntung.”
“Tak perlu merendah,” kata Ho Su-ngo, habis itu pentung besi yang dibawanya itu
ditancapkan diatas panggung, lalu sekali pukul, segera ia merangsang maju.
Tenaga pukulan itu tidak terlalu keras, tapi sasarannya meliputi tempat yang
sangat luas, tatkala itu Nio-tianglo belum lagi mundur, hingga angin pukulan Ho
Su-ngo yang hebat itupun membikin pipinya terasa pedas.
Yalu Ce tak berani ajal, tangan kiri menangkis, segera tangan kanan memukul
dengan tipu “jin cong-yok-bi (tersembunyi seperti kosong), satu tipu pukulan
hebat dari 72 jurus “Khong-bin kun” ajaran Ciu Pek-thong, segera saja
pertarungan kedua orang berlangsung dengan seru di atas panggung.
Tatkala itu sudah lewat tengah malam, di sekitar panggung terdapat beberapa
puluh obor besar, maka pertarungan kedua orang itu dapat disaksikan semua orang
dengan jelas.
Setelah belasan jurus, Ui Yong melihat anak menantunya sedikitpun belum di atas
angin, ia coba meneliti gerak ilmu silat Ho Su-ngo, tapi tidak bisa mengenali
dari aliran manakah itu, hanya terlihat orang sangat ulet, sedikitnya sudah
mempunyai latihan selama 40 tahun, maka diam2 ia berpikir.
“Belasan tahun terakhir ini hanya secara kebetulan kubaca nama Ho Su-ngo karena
bekerja giat telah dinaikkan tingkatannya, tapi selamanya tiada orang menyebut
tentang ilmu silatnya, kini melihat gerak-geriknya terang bukan baru2 saja
mendapat guru pandai atau penemuan aneh hingga ilmu silatnya maju mendadak,
padahal di dalam Kay-pang selama ini ia merendah diri, dan tak terkenal, apakah
tujuannya memang untuk hari ini?”
Setelah berlangsung lebih 50 jurus, lambat-laun Yalu Ce terkejut, tidak peduli
bagaimana ia ganti gerak tipu serangan selalu kena dipatahkan lawan secara mudah
saja, sungguh Ho Su-ngo merupakan lawan tangguh yang jarang diketemukannya
selama ini. Tapi anehnya justru orang juga tidak ambil kesempatan untuk balas
menyerang, se-akan2 sengaja piara tenaga biar lawan roboh sendiri..
Yalu Ce sendiri sudah bertempur melawan beberapa orang kecuali Nu Thian-ho tadi,
selebihnya biasa saja tidak banyak membuang tenaga kini melihat Ho Su ngo
bergerak secara enteng dan tak tertentu seakan2 orang tua menggoda anak kecil,
Yalu Ce menjadi tak sabar, mendadak dari kepalan ia ganti menjadi telapak tangan
dan menyerang cepat dengan kedua tangan.
Kiranya meski Yalu Ce muridnya Ciu Pek thong, tapi kepandaian khas Ciu
Pek-thong, yaitu dua tangan mainkan dua macam ilmu silat berbareng tidaklah
mudah mempelajarinya, maka Yalu Ce juga tidak mendapatkan ajaran ilmu silat
hebat itu, ajaran ilmu silat Coan-cin kau, sebaliknya Yalu Ce sudah cukup matang
memahaminya, maka kini setelah dimainkan, seketika saja sumbu belasan obor di
atas panggung itu terdorong memanjang dari ini saja cukup terbukti betapa tenaga
pukulannya.
Maka tertampaklah segera di atas panggung itu dua bayangan orang berkelebat kian
kemari di bawah cahaya obor yang bergoncang.
“Cing-koko,” tanya Ui Yong kepada suaminya, “menurut pandanganmu dari aliran
manakah kepandaian Ho Su ngo ini?”
“Sampai saat ini belum sejurus ilmu silat perguruannya diunjukkannya, terang ia
sengaja menyembunyikan asal usul dirinya,” sahut Kwe Cing. “Tapi bila 80 jurus
lagi lambat laun Ce ji bakal di atas angin, tatkala mana kalau dia tak mau
mengaku kalah, terpaksa harus terbongkar muka aslinya.”
Dalam pada itu pertarungan kedua orang semakin cepat, tidak lama 70-80 jurus
sudah berlangsung, betul juga seperti apa dikatakan Kwe Cing, tenaga pukulan
Yalu Ce sudah mengurung rapat seluruh tubuh lawannya.
Kwe Cing dan Ui Yong penuh perhatian memandangi Ho Su-ngo, mereka tahu dalam
keadaan kepepet, kalau tidak keluarkan kepandaian aslinya dan masih gunakan ilmu
silat dari aliran lain, pasti orang she Ho itu akan celaka.
Rupanya Yalu Ce juga sudah tahu akan kelemahan lawannya, maka tenaga pukulannya
semakin gencar, tapi tidak sembarangan maju, melainkan tetap tenang.
Pada suatu saat, tampaknya tak mungkin bagi Ho Su-ngo tak mengganti tipu
silatnya, se-konyong2 terlihatlah lengan bajunya mengebas, angin menyambar
santar mulur dan mengkerut pula. Karena itu, belasan titik obor yang menyala di
atas panggung itu juga memanjang, lalu menyurut kembali terus sirap.
Seketika keadaan menjadi gelap gulita, menyusul terdengarlah Ho Su-ngo dan Yalu
Ce menjerit bersama, terdengar pula suara gedebukan, ternyata Yalu Ce sudah
berguling ke bawah panggung, sebaliknya Ho Su-ngo telah bergejak tertawa di atas
panggung.
Dalam keadaan terkejut, semua orang tiada yang berani bersuara, dalam keadaan
sunyi itu suara tertawa Ho Su-ngo kedengaran sangat gembira sekali.
“Nyalakan obor lagi!” teriak Nio tianglo segera.
Maka segera beberapa anak murid Kay-pang naik ke panggung dan menyulut obor2
yang padam itu.
Dibawah sinar obor tertampaklah pipi kiri Yalu Ce berlumuran darah terluka
sebesar cangkir, sebaliknya Ho Su-ngo lagi ulur telapak tangan kirinya sambil
tertawa dingin dan berkata: “Ha, baju kutang hebat, baju kutang hebat!” Ternyata
telapak tangannya juga penuh darah.
Kwe Cing dan Ui Yong saling pandang sekejap, mereka tahu Kwe Hu telah pinjamkan
“kutang lemas berduri landak kepada sang suami, maka sewaktu Ho Su-ngo berhasil
menghantam Yalu Ce, sebaliknya tangannya malah terluka oleh duri baju pusaka
yang tajam itu.
Cuma, sebab apa Yalu Ce terluka hingga terguling kebawah panggung, karena
keadaan mendadak menjadi gelap, maka mereka tidak tahu.
Kiranya tadi waktu pertarungan antara Ho Su-ngo dan Yalu Ce sampai titik
menentukan, mendadak Ho Su-ngo mengeluarkan tenaga kebasan lengan bajunya yang
hebat hingga obor2 yang menerangi panggung itu seluruhnya padam. Dalam keadaan
terkesiap, cepat Yalu Ce menghantam ke depan untuk bela diri, tapi mendadak
terasa ujung jarinya seperti menyentuh benda keras sebangsa logam, seketika ia
sadar tentu Ho Su-ngo yang telah bertempur lama dan belum bisa unggul itu kini
tiba2 menggunakan muslihat dan dalam kegelapan telah lolos senjatanya untuk
membokong.
Namun Yalu Ce bukan murid Lo wan tong Ciu Pek-thong jika begitu gampang
kecundang, sekalipun bertangan kosong juga ia tak gentar terhadap musuh yang
bersenjata. Maka segera tipu pukulannya tadi ia ubah menjadi gerak “Kim-na-jiu
hoat” untuk merampas senjata.
Dengan gerak tangkapan itu, tubuhnya berbareng mendekati lawan, sekali tangannya
membalik, gagang senjata musuh sudah kena dipegangnya Bahkan menyusul telapak
tangannya yang lain segera memukul muka orang.
Dengan begitu, mau-tak-mau Ho Su-ngo harus melepaskan senjatanya, Dan dalam
keadaan gelap, benarlah Ho Su-ngo telah miringkan kepalanya mengegos dan
kendorkan tangannya, maka berpindah tanganlah senjatanya ketangan Yalu Ce. Tapi
pada saat yang sama itulah Yalu Ce merasa pipinya kesakitan sekali, terang sudah
terluka, menyusul dadanya kena dihantam pula hingga tak sanggup berdiri tegak
dan tergentak jatuh ke bawah panggung.
Sungguh tak terduga bahwa sedjata lawan ternyata aneh luar biasa, yaitu di
dalamnya terdapat alat rahasia dan terbagi dalam dua potong, setengah potong
kena direbutnya, dan setengah potong lainnya mendadak menyambar dan kena
pipinya.
Cuma saja lukanya ini meski berat, tapi bukan tempat berbahaya, sebenarnya
pukulan mematikan Ho Su-ngo itu terletak pada pukulannya yang mengenai dada Yalu
Ce, syukur Kwe Hu sebelum itu berkeras agar suaminya memakai kaos kutang berduri
landak didalam baju, karena itu pukulan hebat itu tidak melukainya, sebaliknya
telapak tangan Ho Su–ngo sendiri yang tertusuk duri kaos kutang itu hingga
berlumuran darah.
Sementara itu melihat suaminya terjungkal ke kawan panggung, Kwe Hu kuatir dan
gusar cepat ia memeriksanya. Namun Nio-tianglo juga tahu Ho Su-ngo telah
menggunakan muslihat licik, tapi tiada bukti nyata, pula keduanya sama2 terluka
dan berdarah, maka tidak mungkin menyalahkan salah satu pihak melanggar
peraturan melukai lawan, meskipun tampaknya luka kedua orang tidak berat Yalu Ce
terpukul jatuh ke bawah panggung, terang ia sudah kalah dalam pertandingan ini.
Namun Kwe Hu masih penasaran, katanya: “Orang ini berlaku licik, kakak Ce
naiklah keatas lagi untuk menentukan unggul dan asor dengan dia.”
“Tidak,” sahut Yalu Ce menggeleng, “sungguh pun ia gunakan tipu, tapi terang
sudah menang, Apalagi kalau benar2 mengeluarkan kepandaian sejati, aku juga
belum pasti menang,”
Karena pada saat menentukan tadi panggung menjadi gelap, maka Ui Yong dan Kwe
Cing tidak mengetahui Ho Su-ngo menang dengan memakai tipu serangan apa. Segera
Ui Yong memanggil Yalu Ce ke dekatnya dan memeriksa sepotong senjata musuh yang
kena dirampasnya itu.
Ternyata benda itu adalah selonjor baja yang panjangnya lima-enam dim saja,
seperti sebatang ruji kipas, seketika tak teringat olehnya siapakah gerangan
orang Bu – lim yang suka memakai senjata semacam ini.
Pada saat itulah Ho Su-ngo telah berkata sambil menegakkan mukanya yang jelek
dan bengkak itu: “Meski aku telah menangkan Yalu toaya, tapi aku belum berani
menduduki jabatan Pangcu, setelah menemukan Pak-kau-pang dan membunuh Hotu,
tatkala itu barulah terserah keputusan.musyawarah umum untuk menentukannya.”
Mendengar kata2 orang yang ternyata sangat adil dan berjiwa besar, walaupun cara
menangnya itu masih meragukan, tapi ilmu silatnya memanglah sangat tinggi, maka
segera ada beberapa anggota Kay-pang bersorak memuji ucapannya itu.
“Dan ksatria manakah yang sekiranya masih ingin naik panggung buat memberi
petunjuk?” kemudian Ho Su-ngo berseru sambil memberi hormat di depan panggung.
Baru selesai ia bicara, mendadak terdengar Su Pek-wi bersuit sekali, lalu
beratus ekor binatang buas yang mengelilingi sekitar lapangan itu meraung keras
sembari berdiri.
Melulu suara raungan seekor dua-ekor harimau atau singa saja sangat menggetarkan
apalagi kini beratus ekor meraung berbareng, keruan suaranya se-akan2 gugur
gunung dan memecah bumi, mangkok piring di atas meja perjamuan para pahlawan
ikut bergoncang gemerincing suaranya.
Di bawah suara raungan binatang2 buas yang-keras itu, berbareng Se-san
it-khut-kui dan keempat saudara Su lantas meloncat ke samping panggung, senjata
mereka lolos, panggung itu sudah terkepung rapat.
Pada saat itulah dari jalan datang yang diterangi sinar obor tampak masuk
delapan orang dengan obor terangkat diatas tangan. Terdengar mereka berseru
lantang: “Sin-tiau hiap mengaturkan selamat berulang tahun kepada nona Kwe Yang
dan inilah hadiah ketiga yang beliau bawa!”.
Terlihat kedelapan orang itu cepat sekali sudah berada dihadapan Kwe Yang, nyata
orang2 itu telah mengunjukkan betapa tinggi ilmu entengi tubuh mereka yang cepat
dan gesit.
Segera kedelapan orang itu membungkuk memberi hormat pada Kwe Yang dan masing2
memberitahukan namanya sendiri2.
Para pahlawan menjadi kaget demi mendengar nama2 mereka. Ternyata seorang Hwesio
yang paling depan itu adalah Bunsik Siansu, itu pengawas gereja Siau-lim-si,
yang lain2 diantaranya ialah Tio-lokunsu, Jing-ling-cu cs., semuanya adalah
tokoh2 terkemuka angkatan tua dari dunia persilatan yang sangat disegani.
Namun Kwe Yang tidak peduIikan betapa tenar nama orang2 itu, ia hanya berbangkit
membalas hormat dengan ber- seri2, katanya: “Banyak terima kasih para paman dan
mamak2 telah sudi berkunjung kemari. Barang permainan apakah yang kalian bawa
untukku?”
Segera empat orang yang mengangkat empat ujung sebuah kantong besar terus
menarik pelahan, maka terdengarlah suara sobeknya kain, kantong itu pecah
menjadi empat potong dan dari dalam lantas menggelinding keluar seorang Hwesio
berkepala gundul.
Ketika Hvvesio itu menyentuh tanah, cepat orangnya lantas melompat bangun, gerak
tubuhnya ternyata gesit luar biasa, Segera tertampak wajah si Hwesio ini merah
padam saking gusarnya, mulutnya mengomel tiada hentinya dalam bahasa yang tak
dikenal, entah apa yang dia katakan.
Tapi Kwe Cing dan Ui-Yong segera kenal Hwesio ini adalah murid Kim lun Hoat ong,
yaitu Darba, Sungguh aneh, entah cara bagaimana ia telah kena ditawan oleh
Bu-sik Siansu dan Tio lo-kunsu cs.
Mula2 Kwe Yang menyangka dalam kantong itu tentu berisi kado yang menyenangkan,
siapa tahu isinya adalah seorang paderi Tibet yang mukanya kasar jelek, maka ia
rada kecewa. Katanya: “Buat apakah Toakoko mengirimkan hadiah seperti ini
padaku? Aku tidak suka. Dimanakah dia sekarang, kenapa belum datang?”
Namun kedelapan orang itu tidak menjawab-nya, di antaranya Jing-ling-cu sudah
lama tinggal di daerah Tibet dan fasih bicara bahasa Tibet, maka ia mendekati
Darba dan bisik2 ditelinganya. Menyusul itu segera wajah Darba kelihatan
terperanjat, matanya tanpa berkedip memandangi Ho Su-ngo yang berada di atas
panggung.
Lalu Jing-ling-cu berkata lagi dua patah kata bahasa Tibet dengan keras sembari
mengangsurkan gada emas yang dipegangnya kepada Darba.
Gada emas itu adalah senjata Darba sendiri, ia telah dikeroyok oleh kedelapan
tokoh terkemuka itu hingga tertawan, senjatanya pun terampas.
Kini sesudah mendengar kisikan Jing-ling-cu, mendadak ia melompat ke atas
panggung.
“Nona Kwe,” kata Jing-ling-cu kemudian pada Kwe Yang, “Hwesio ini bisa
sunglapan, maka Sin-tiau-hiap suruh dia naik panggung memberi pertunjukan
sunglap, cobalah kau melihatnya.”
“O, kiranya begitu,” sahut Kwe Yang. “Emang-nya aku lagi heran, untuk apa
Toakoko membuang tenaga begitu banyak melulu membawakan seorang Hwesio
kepadaku?”
Sementara itu Darba sedang bicara keras2 terhadap Ho Su-ngo, cuma bahasanya
“kilikuIuk”, sukar dimengerti apa yang dia katakan.
“Hai, Hwesio, kau berkata apa, sedikitpun aku tak paham,” demikian Ho Su-ngo
membentak.
Mendadak Darba jinjing gada emasnya melangkah maju terus mengemplang kepala Ho
Su-ngo.
Ho Su-ngo berkelit, namun Darba ayun gada emas yang gede itu merangsak terus,
dengan bertangan kosong harus melawan senjata yang begitu berat, terpaksa Ho
Su-ngo harus main mundur.
Melihat Hwesio Tibet ini begini garang, seketika anggota2 Kay-pang yang lain
menjadi “solider” pada Ho Su-ngo, mereka sama berteriak begitu pula segera
Nio-tianglo membentak: “Hai, Hwesio, jangan serampangan, kau harus tahu dia
adalah bakal Pangcu perkumpulan kami.”
Namun Darba sama sekali tak menggubris, gadanya berputar begitu cepat hingga
berwujud suatu lingkaran emas dengan samberan angin yang semakin dahsyat.
Karena itu, ada 6-7 anak murid Kay-pang yang tak tahan lagi, mereka melompat ke
pinggir panggung hendak membantu sang kawan, tapi Jing-ling-cu dan rombongannya,
Se san it-khut-kui dan kelima saudara she Su yang seluruhnya berjumlah 23 orang
telah mengepung rapat panggung dan meng-halang2i orang lain naik ke atas
panggung, sekalipun anggota Kay-pang berjumlah banyak, tapi sesaat juga tidak
bisa menerobos lewat.
Sedang keadaan agak kacau, tiba2 Jing-ling-cu melompat ke atas panggung dan
mencabut pentung besi Ho Su ngo yang ditancapkan dipinggir panggung tadi.
Terkejut sekali Ho Su-ngo, cepat ia hendak merebut kembali senjatanya itu, tapi
kena didesak oleh gada emas Darba, selangkahpun ia tak bisa menggeser.
Betapapun Ui Yong yang biasanya sangat cerdik, dalam keadaan demikian ia menjadi
bingung juga dan tidak tahu sebab apa Nyo Ko telah mengirim tokoh2 silat ini
datang mengacau, apakah maksud tujuannya yang sebenarnya.
Kalau mengingat hadiah ulang tahun yang di berikannya pada Kwe Yang yang pertama
dan kedua semuanya sangat berpaedah bagi Siangyang, rasanya hadiah ketiga ini
tidak mungkin bersifat permusuhan.
Sebab itulah, Kwe Cing dan Ui Yong suami-isteri berpeluk tangan saja menyaksikan
perkembangan selanjutnya.
Yalu Ce sendiri meski sudah digulingkan Ho Su-ngo kebawah panggung, tapi ia
ber-cita2 meneruskan usaha ibu mertua dan berniat mati2an membela Kay-pang, kini
melihat Ho Sungo keripuhan didesak Darba, tanpa pikir lagi ia membentak: “Jangan
kuatir, Ho-heng, biar aku membantu kau!”
Tapi ketika ia melompat ke pinggir panggung itu, mendadak seorang telah berseru
padanya: “Siapapun dilarang naik panggung!” Berbareng tangan orang itupun
dipalangkan buat merintangi.
Segera Yalu Ce mcnyampuk tangan orang, tapi sekali membalik, orang itu malah
hendak menangkap tangan Yalu Ce, gerakannya ternyata bagus sekali, betapa besar
tenaga dalamnya juga lain dari pada yang lain.
Keruan Yalu Ce terkejut waktu ia pandang orangnya, kiranya dia adalah Su Siok
kong, tokoh ketiga dari kelima saudara Su.
Beberapa kali Yalu Ce berubah gerak tipu lain, tapi tak mampu mendesak mundur Su
Siok-kong, diam2 ia terkejut dan lieran: “Orang ini hanya anak buah Sm-tiau hiap
saja sudah begini lihay, lalu Sin-tiauhiap yang memerintah dan menyuruh tokoh2
silat yang begini banyaknya, ia sendiri entah tokoh macam apa?”
Sementara itu Ji ling-cu telah angkat tinggi2 petung besi milik Ho Su-ngo yang
dirampasnya tadi dan menggembor “Wahai, para ksatria sekalian, lihatlah, barang
apakah ini?”
Habis itu mendadak ia ayun sebelah tangannya dan membelah ke tengah2 pentung
besi itu, “krak” pentung besi itu pecah oleh belahan telapak tangannya.
Ternyata pentung itu tengahnya bolong, ketika Jing-ling-cu menarik pentung yang
pecah itu, di dalamnya lantas tertampak sebatang pentung bambu yang hijau
mengkilat.
Melihat pentung bambu ini, sesaat anggota2 Kay-pang terdiam, tapi menyusul
be-ramai2 mereka lantas berteriak: “He, itulah Pak-kau-pang milik Pangcu!”
Beberapa anak murid Kay-pang yang lagi bergebrak dengan Su-si Hengte dan
Se-san-it-khut-kui segerapun melompat mundur, mereka menjadi heran. Pak-kau-pang
atau pentung pemukul anjing, pentung simbolis dari Pangcu mereka kenapa
tersembunyi didalam pentung besinya Ho Su-ngo dan kenapa ia merahasiakannya?
Sungguh mereka tidak habis mengerti.
Dalam heningnya itu semua orang menantikan penjelasan Jing- ling-cu, siapa tahu
Jing-ling-cu tidak lagi bicara, ia melompat ke bawah panggung dan menyerahkan
pentung bambu itu kepada Kwe Yang.
Melihat barang itu, Kwe Yang lantas teringat pada orangnya, terkenang olehnya
suara dan wajah tertawa Loh Yu-ka, ia menjadi berduka, dengan khidmat ia
angsurkan pentung bambu itu kepada ibunya.
Tatkala itu tipu serangan gada emas Darba semakin gencar, Ho Su-ngo hanya mampu
berkelit dan mengegos kian kemari, berulang2 ia menghadapi berbagai bahaya.
Tapi kini Ho Su-ngo tidak mendapat simpatik dari siapapun lagi, sesudah orang2
Kay-pang melihat “Pentung pemukul anjing” tadi, mereka menduga sebabnya
Jing-ling-cu menawan Darba kemari untuk menempur Ho Su-ngo tentu ada maksud
tujuannya.
Dalam pada itu belasan jurus berlalu lagi, tampaknya Ho Su-ngo pasti akan binasa
di bawah gada emas, saat itulah mendadak Ui Yong ingat sesuatu.
“Ho Su-ngo telah melukai Ce-ji, sudah terang dalam lengan bajunya tersembunyi
senjata, kenapa detik berbahaya ini masih belum dikeluarkannya buat melawan
musuh?”
Ia lihat waktu itu gada emas Darba telah menyerang dan Ho Su-ngo terpaksa
melompat berkelit. Tapi tiba2 Darba tegakkan gadanya terus menyodok ke atas.
Saat itu Ho Su-ngo terapung diudara, sodokan ini betapapun tiada jalan buat
menghindar terdengarlah suara “creng” nyaring beradunya senjata, berbareng itu
Ho Su-ngo sempat melompat ke samping, ditangannya tahu2 sudah bertambah semacam
senjata yang berbentuk pendek.
Tampak Darba semakin murka, ia mencaci–maki kalang-kabut dan gada emasnya
diputar semakin cepat.
Namun sesudah pegang senjata, keadaan terdesak Ho Su-ngo tadi lantas berubah,
segera iapun “unjuk gigi”, ia menutuk, menjodoh, menusuk dan menghantam,
sungguhpun senjata pcndek, tapi tipu2 serangannya ternyata sangat hebat, keadaan
menjadi sama kuat sekarang.
Setelah menyaksikan sebentar lagi, tiba2 Cu Cu-liu menjadi paham, serunya: “Aha
Kwe-hujin, sekarang tahulah aku siapa dia. Cuma masih ada sesuatu yang aku belum
mengerti.”
Ui Yong terscnyum, rupanya lebih dulu iapun sudah tahu, maka jawabnya: “ltu
karena mukanya dipoles dengan campuran tepung, madu, hm dan lain2 bahan
pelekat.”
Yalu Ce, Kwe Hu dan Kwe Yang waktu itu berdiri disamping sang ibu, tapi mereka
menjadi bingung mendengar percakapan itu.
“Cu-lopek, kau maksudkan siapakah?” tanya Kwe Hu.
“Aku maksudkan Ho Su-ngo yang melukai suamimu itu” sahut Cu-liu.
“Kenapa? Apakah dia bukan Ho Su-ngo? Lalu siapa?” tanya Kwe Hu lagi.
“Coba kau perhatikan senjata apa yang dia pakai?” ujar Cu-liu.
Kwe Hu mencoba mengamat-amati, sejenak kemudian, katanya: “Panjang senjatanya
tiada satu kaki, memang aneh bentuknya, bukan Boan koao-pit, bukan Oo ht-ji,
juga bukan Tiam-biat kut.”
“Kau harus peras otak berpikir dulu,” sela Ui Yong. “Sebab apakah dia tak mau
pakai senjatanya sejak tadi, tapi lebih suka menerima resiko dan selalu berkelit
saja, sampai akhirnya sesudah terdesak benar2 oleh Hwesio itu barulah ia lolos
senjatanya? ia melukai Ce-ji dengan senjata, sebab apa pula harus menyiapkan
obor lebih dulu?”
“Ya, tahulah aku sekarang, tentu ia kuatir ada orang yang hadir ini kenal
senjata dan gerak tipu-nya, maka tidak berani unjuk corak aslinya,” kata Kwe
Yang.
“Bagus, memang Kwe-jisiocia sangat pintar,” puji Cu-liu.
Mendengar adik perempuannya dipuji, dalam hati Kwe Hu menjadi iri, katanya: “Tak
mau unjuk corak asli apa katamu? Bukankah terangan ia berdiri diatas panggung?
Kan siapapun dapat melihatnya?”
Tapi Kwe Yang segera ingat lagi kata-2 sang ibu tadi, maka ia raenyambung pula:
“Ah, kiranya dekak dekuk bekas koreng dimukanya itu semuanya adalah palsu,
Mukanya sungguh menakutkan sekali aku melihatnya, tak sudi melihatnya untuk
kedua kalinya.”
“Ya, semakin jelek dan semakin seram ia menyamar, semakin jejaknya tak diketahui
sebab semua orang jenuh pada mukanya yang jelek hingga sungkan memandang
padanya, dengan begitu, muka palsu itu meski ada sedikit keganjilan juga tidak
mudah diketahui orang”, kata Ui Yong. “Ai menyamar selama 16 tahun, sesungguhnya
bukan suatu pekerjaan mudah.”
“Bentuk muka bisa dipalsu, tapi ilmu silat dan gerak-geriknya tak mungkin
dipalsukan, ilmu kepandaian yang sudah terlatih berpuluh tahun, mana bisa
berubah begitu saja,” ujar Ciu-liu.
“Kalian maksudkan Ho Su-ngo itu palsu? Kalau begitu siapakah gerangannya?” tanya
Kwe Hu. “Adik, kau yang pintar, coba terangkan.”
“Aku sedikitpun tidak pintar, maka sedikitpun tidak tahu,” sahut Kwe Yang
geleng2 kepala.
“Toasiocia (puteri pertama) sendiri sudah pernah melihat dia, tatkala itu
Jisiocia malah belum lahir,” kata Cu-liu tersenyum, ” 17 tahun yang lalu
ditengah perjamuan besar kaum ksatria di Heng-ci-koan, ada seorang telah
menempur aku sampai beratus jurus, siapakah dia?”
“He, dia Hotu?” seru Kwe Hu. “Ah, tidak, bukan dia. Ehm, ia memakai senjata
kipas lempit, senjata inilah agaknya rada mirip, Ya, ya, kipasnya ini tinggal
tulang kipas saja tanpa muka kipas, maka seketika susah dikenali.”
“Pertarunganku dengan dia dahulu itu adalah ialah satu kejadian berbahaya selama
hidupku, maka tipu serangan dan gerak tubuhnya tidak nanti kuIupakan,” ujar
Cu-Iiu pula, “Jika orang ini bukan Hotu, ha, aku she Cu inilah yang bermata
lamur!”
Ketika Kwe Hu memandang keatas panggung pula, ia lihat gerak langkah Ho Su-ngo
kini ternyata sangat gesit, serangannya sangat keji, lapat2 memang benarlah si
Hotu yang pernah dilihatnya dahulu, cuma dalam hati ia masih banyak yang tidak
paham, maka tanyanya pula:
“Tapi jika benar ia adalah Hotu, padahal paderi Tibet ini adalah Suhengnya,
masakan mereka tidak kenal, sebaliknya saling gebrak secara begitu hebat?”
“Justru Darba mengenali orang itu adalah Sutenya, maka ia melabraknya dengan
mati2an,” sahut Ui Yong. “Tahun itu waktu pertarungan sengit di
Tiong-yang-kiong, Cong-lam-san, dengan sebilah “Hian-tiat-kiam” (pedang besi
murni) Nyo Ko telah menindih Darba dan Hotu ke bawah, melihat jiwa terancam,
mendadak Hotu gunakan akal licik, ia mengkhianat buat selamatkan jiwa sendiri,
kejadian ini disaksikan orang banyak, tentunya kaupun mendengar cerita orang?”
“O, kiranya begitulah hingga Darba benci padanya,” ujar Kwe Hu.
Mendengar ibunya bercerita tentang Nyo Ko dengan sebilah pedang menindih Hotu
dan Darba ke bawah, Kwe Yang jadi terbayang betapa gagah perwiranya Nyo Ko
dimasa dahulu, tanpa terasa ia kesemsem.
“Dan kenapa ia berubah menjadi pengemis? Sebab apa pula Pak-kau-pang bisa berada
ditangan-nya?” Kwe Hu menegas.
“Bukankah itu sangat sederhana?” jawab Ui Yong. “Hotu telah mendurhakai Suhu dan
khianati Suheng, sudah tentu ia takut dicari mereka, maka ia sengaja menyamar
dan ganti corak menyelundup ke Kay-pang, sedikitpun tidak menimbulkan curiga dan
lambat laun meningkat hingga anak murid ber-kantong lima, dengan begitu orang2
Kay-pang tiada yang curiga, Kim-lun Hoat ong lebih tak bisa menemukannya.
Tapi manusia jahat yang berhati dengki tidak mungkin mau terpendam begitu saja
hidupnya, bila ada kesempatan, segera ia jalankan muslihatnya lagi, Hari itu
ketika Loh pangcu meronda keluar kota, diam2 ia sembunyi di sana dan tiba2
membokongnya, tapi cara turun tangannya telah membongkar rahasianya, pula ia
tinggalkan murid Kay-pang yang masih bernyawa itu agar menyampaikan bahwa yang
membunuh Loh Yu ka adalah Hotu.
Sesudah Pak-kau-pang dapat direbut-nya, lalu disembunyikan dalam pentungnya, ia
menunggu saatnya pemilihan pangcu lantas muncul ikut memperebutnya. Dengan ilmu
silatnya yang memang tinggi, sudah tentu tidak terlalu susah baginya untuk
merobohkan para ksatria, malahan ia sengaja kemukakan syarat tentang “menemukan
pentung pemukul anjing”, suatu syarat yang memang menjadi peraturan Kay-pang
turun-temurun, dengan sendirinya tiada yang bisa mendebatnya. Ai, keparat Hotu
ini benar2 pintar berpikir panjang.”
“Tapi ada Kwe-hujin disini, meski dapat mengelabuhi orang untuk sementara,
akhirnya juga tak bisa mendustai kau,” ujar Cu Cu-liu tertawan.
Ui Yong tersenyum tak menjawabnya, dalam hati ia berkata: “Kalau ia menyelundup
ke Kay-pang dan tidak unjuk sesuatu tanda mungkin masih bisa mengelabuhi aku,
tapi kalau ingin menjadi Pangcu itulah terlalu meremehkan-aku Ui Yong”
“Dan si Nyo Ko juga hebat benar, ternyata dapat diketahuinya muslihat Hotu ini,
pentung pemukul anjing dapat direbutnya kembali, kedok Hotu juga kena
dibongkarnya dan dihadiahkan pada Kwe jisoacia sebagai kado ulang tahun, sungguh
hadiah ini tidak kecil,” ujar Cu-liu.
“Hm,” kukira itupun kebetulan saja dapat di-ketahuinya,” jengek Kwe Hu.
Tapi Kwe Yang lantas ingat sesuatu, katanya: “Hotu ini sengaja menyamar sebagai
pengemis muka jelek dalam Kay pang dan sengaja mengacau, Su -samsiok dari kelima
saudara Su itupun pernah di-lukainya, mungkin sekali Su-samsiok sengaja
mencarinya untuk membalas sakit hati dan akhirnya telah menemukan jejaknya.”
“Benar,” sahut Ui Yong, mengangguk, “dikalangan Kangouw sering kah diketahui
jejak Hotu, orang lain sekali2 tak pernah menyangka bahwa Ho Su-ngo dari
Kay-pang adalah orang yang sama dengan dia. Tapi seorang yang terlalu tinggi
hati, pada suatu hari pasti terjungkal dan terbuka kedoknya.”
“Tapir” sela Kwe Hu, “sebab apa dia sendiri bilang akan membunuh Hotu? Bukankah
itu sangat bodoh?”
“ltu hanya kata2 untuk menutupi kedoknya saja supaya orang iain tak
mencurigainya,” kata Ui Yong.
Dilain pihak Kwe Yang sedang komat-kamit perlahan: “Tentu hari itu ia telah
mendengar semua perkataanku ketika aku menyembahyangi arwah Loh-pepek di
kelenteng Yo-tayhu. Karena tahu hatiku berduka sebab Loh pepek terbunuh musuh,
maka ia lantas mencari pembunuhnya ini. Dan dia sendiri, kenapa masih belum
datang?”
Tengah bicara, pertarungan Darba dan Hotu di atas panggung semakin sengit. Kedua
orang berasal dari satu guru, masing2 cukup kenal kepandaian lawan, Darba menang
dalam hal tenaga lebih besar, tapi Hotu lebih unggul akan kecepatan dan
kegesitan, maka sudah ratusan jurus keduanya masih seimbang saja.
Mendadak sontak Darba menggertak, gada emasnya ditimpukkannya ke arah Hotu
secepat kilat Gada emas ini beratnya lebih 30 kati, ditimpukkan lagi, gaya
meluncurnya menjadi lihay sekali.”
Terkejut Hotu, selamanya belum pernah melihat gerak serangan sang Suheng ini.
lekas2 ia mengegos, tapi Darba sudah memburu maju, telapak tangannya mendorong
dan mendadak gada emas itu memutar arah terus memburu Hotu puIa.
Sungguh tidak kepalang terperanjat Hotu, barulah sekarang ia tahu selama belasan
tahun ini sang Suheng sudah banyak mendapat tambahan ilmu Lwekang lagi dari sang
Suhu, kepandaian menimpuk gada ini persis gayanya seperti Kim-lun Hoat-ong
meluncurkan kelima rodanya yang terbikin dari “Panca logam” itu, melihat tenaga
timpukan gada itu sangat keras, se-kali2 tak sanggup ditangkis dengan kipas,
terpaksa Hotu berkelit pula, Gada itu menyamber lewat dua tiga senti di atas
kepalanya.
Namun makin ditimpuk dan didorong, gada emas Darba itu semakin cepat, obor yang
menyala di sekitar panggung itu sampai ter-goncang2 oleh angin samberan hingga
sebentar terang, sebentar gelap, Hotu tak berani ajal, ia melompat ke sana
kemari, di bawah ancaman gada yang me-nyamber2, melihat keadaan yang
menggetarkan itu, semua orang yang menyaksikan ikut terperanjat.
Sampai timpukan yang ke-18 mendadak Darba membentak keras, gada emasnya bagai
panah meluncur ke depan Hotu tak sanggup-berkelit lagi, terdengarlah segera
suara benturan yang keras, dada dan badannya terus lemas terkulai di atas
panggung tak berkutik lagi.
Sesudah ambil kembali gada emasnya, Darba menggerung menangis tiga kali, lalu ia
duduk sila di depan mayat Sute itu membacakan doa, habis ia melompat turun dan
mendekati Jing-ling-cu, gada emas itu diangkat tinggi2 hendak dikembalikan pada
orang.
Tapi Jing ling-cu tak menerimanya, katanya “Selamat, kau berhasil cuci bersih
sampah perguruanmu, Sin-tiau-hiap telah mengampuni kau, supaya kau-pulang ke
Tibet dan selanjutnya tak boleh menginjak daerah Tionggoan lagi.”
“Banyak terima kasih pada Sin-tiau-tayhiap, hamba menurut perintahnya.” sahut
Darba, Lalu ia memberi hormat dan pergi.
Melihat Hotu menggeletak mati di atas panggung, mukanya bengkak seram, tapi Kwe
Hu masih tak mau percaya muka demikian ini adalah palsu.
Tiba2 ia cabut pedangnya dan melompat ke atas panggung, dengan ujung pedang ia
hendak iris batang hidung Hotu, serunya: “Biarlah kita melihat muka asli bangsat
ini bagaimana macamnya?”
Tak terduga, mendadak terdengar Hotu membentak sekali, tahu2 melompat tinggi,
kedna telapak tangannya terus menghantam dengan ganasnya.
Kiranya oleh sodokan gada tadi, meski terluka parah sekali, tapi seketika
jiwanya masih belum melayang. Dasar Hotu memang licik maka ia sengaja tak
berkutik, ia menunggu kalau2 Darba mendekatinya dan hendak membalasnya dengan
sekali hantam pada saat sebelum ajalnya, agar gugur bersama..
Siapa tahu Darba hanya membacakan doa supaya arwahnya menuju alam baka, lalu
turun panggung sebaliknya Kwe Hu yang datang mengiris hidungnya.
Hantaman Hotu ini boleh dikata seluruh sisa tenaga yang masih ada telah
dikeluarkan seluruhnya. Keruan Kwe Hu terkejut sekali, sesaat ia menjadi lupa
mengayun pedang buat menahan serangan musuh, pula kutang berduri landak sudah
dipinjamkan suaminya, tampaknya jiwanya sekejap saja pasti akan melayang oleh
hantaman kedua tangan Hotu.
Dalam terkejutnya Kwe Cing, Ui Yong dan Yalu Ce berbareng hendak melompat keatas
panggung.
Untuk menolongnya tapi terang tak keburu lagi.
Pada detik berbahaya itulah, tiba2 terdengarlah suara mencicit dua kali, tahu2
dari udara menyambar datang dua senjata rahasia dengan pesat sekali dari
kanan-kiri dan sekaligus mengenai dada Hotu.
Kedua senjata rahasia itu bentuknya sangat lembut, tapi tenaganya luar biasa
besarnya, tanpa ampun lagi tubuh Hotu terjengkang merosot ke bawah panggung
mulutnya memuntahkan darah dan benar2 binasalah sekarang.
Dengan ternganga kaget semua orang coba memandang ke arah darimana datangnya
senjata rahasia itu, tapi tertampak bintang suram, bulan guram, langit gelap,
lebih dari itu suasana sunyi senyap saja.
Di depan panggung tegak berdiri dua tiang bendera yang besar dan tingginya
beberapa tombak, agaknya senjata rahasia itu disambitkan masing2 dari kedua
talang tiang bendera yang tinggi itu.
“Melihat suara menyambernya senjata rahasia tadi, Ui Yong menduga kecuali
kepandaian “tan-ci sin-thong” atau ilmu jari maha sakti yang dari ayahnya, Ui
Yok su, rasanya tiada orang lain lagi yang memiliki kepandaian setinggi itu.
Cuma kedua tiang bendera jaraknya masing2 belasan tombak, kenapa dari kedua
tiang bendera itu berbareng ditumpukkan senjata rahasia? Masakah ada dua orang.
Tapi saking girangnya iapun tidak banyak pikir lagi, segera ia berseru
memanggil: “Apakah ayah yang datang, bukan?”
Terdengarlah dari lalang tiang bendera sebelah kiri ada suara seorang tua
tertawa ter-bahak2 sambil berkata “Kawan cilik Nyo Ko, marilah kita turun
bvrbareng!”
“Baik,” sahut seorang dari talang sebelah kanan. Menyusul itu, dari dalam talang
tiang bendera masing2 melompat turun satu orang.
Di bawah sinar bintang dan bulan yang guram, baju kedua orang itu me-lambai2
ketika melompat turun, seorang berjubah hijau berambut putih, yang lain berbaju
biru berlengan tunggal, nyatalah mereka memang Ui Yok-su dan Nyo Ko.
Kedua orang itu melompat turun ke arah panggung, Ui Yok-su menarik tangan kiri
Nyo Ko selagi masih terapung di udara, kemudian keduanya turun berbareng di atas
panggung, Betapa mengagumkan cara melayang turunnya kedua orang itu. Bila semua
orang tidak mendengar suaranya dahulu, boleh jadi akan menyangka mereka adalah
malaikat yang turun dari khayangan.
Lekas Kwe Cing dan Ui Yong melompat ke atas panggung memberi hormat pada Ui
Yok-su.
Begitu pula Nyo Ko lantas menyembah dihadapan Kwe Cing dan Ui Yong suami-isteri
sambil menyapa.
“Tit-ji (keponakan) Nyo Ko memberi hormat kepada Kwe pepek dan Kwe-pekbo.”
Cepat Kwe Cing membangunkannya dan katanya dengan tertawa: “Ko ji, ketiga macam
hadiah-mu ini sungguh… sungguh…” tapi saking terharunya, pula memang tidak
pandai bicara muluk2, maka “sungguh” apa, tak bisa dikatakannya
Sebaliknya Kwe Hu yang dengki, kuatir kalau dirinya disuruh mengaturkan terima
kasih atas pertolongan Nyo Ko tadi, lekas2 mendekati Ui Yok-su sambil memanggil
Engkong.
Nyo Ko tersenyum, ia kenal watak orang, ia melompat kehadapan Kwe Yang dan
sapanya dengan tertawa. “Adik cilik, aku datang terlambat.”
Berdebar2 hati Kwe Yang saat itu, wajahnya jengah. jawabnya dengan suara lirih:
“Ah, kau telah bawakan tiga nucam hadiah besar ini, sungguh… sungguh bikin
capek kau saja.”
“”Hanya sekedar meramaikan hari ulang tahun adik cilik saja, tiada yang perlu
dipuji,” sahut Nyo Ko tertawa.
Habis itu, ketika ia memberi tanda, segera terdengar Toa thau-kui berteriak
“Bawa semua ke sini!” – Segera pula dipintu masuk lapangan sana ada orang
meluruskan perintah itu: “Bawa semua ke mari-dan begitu pula seterusnya suara
itu dilanjutkan hingga jauh.
Selang tak lama dari Iuar lapangan itu membanjir serombongan orang, ada yang
membawa leng-long dan obor, ada yang memikul dan menjinjing tenggok, terus
tersebar disekitar lapangan dan mematok cagak mendirikan panggung, sementara
orang yang datang semakin banyak tak ter-putus2, namun secara beraturan, tiada
seorangpun bicara, hanya bekerja keras.
Semua orang sudah saksikan ketiga hadiah besar yang dibawa Nyo Ko tadi, maka
siapapun merasa kagum padanya mereka pikir orang2 yang di bawanya kemari ini
tentu ada gunanya.
Tak lama kemudian, di sebelah barat daya lapangan itu satu panggung sudah
berdiri, gembreng berbunyi dan genderang ditabuh, nyata itula sebuah panggung
wayang “po te-hi” yang melakonkan “Pat sian-cok- siu” atau delapan dewa memberi
selamat ulang tahun.
Menyusul mana satu panggung yang disudut lain mempertunjukan opera yang
melakonkan cerita Kwe Cu-gi berulang tahun, dewa- dewi datang memberi selamat
padanya, Dalam sekejap saja di-ujung lainpun ada wayang orang yang memulai
pertunjukan hingga seketika suasana meriah sekali.
Sungguh hebat usaha Nyo Ko ini, sekalipun keluarga bangsawan yang paling mampu
juga tidak selengkap dan seramai sekarang ini.
Betapa girang Kwe Yang atas kebaikan Nyo Ko, saking terharu matanya mengembeng
air mata dan tak sanggup bersuara, .
Kwe Hu jadi ingat apa yang dikatakan adiknya tempo hari bahwa ada seorang
ksatria besar akan datang memberi selamat ulang tahun padanya, kini ternyata
betul2 terjadi, ia gusar dan mendongkol dalam keadaan serba kikuk ia pura2
menarik tangan Ui Yok-su menanyakan ini dan itu, terhadap keramaian disekitarnya
ia berlagak tidak tahu.
“Ayah, apakah sebelumnya kau telah berjanji dengan Ko-ji akan sembunyi didalam
talang tiang bendera itu?” tanya Ui Yong kemudian pada ayahnya.
“Bukan, bukan,” sahut Ui Yok-su tertawa, “Satu hari, ketika aku pesiar di
Tong-teng-oh di malam bulan purnama, tiba2 aku mendengar suara orang berseru
mencari Yan-po Tio-so (si kakek tukang mancing), katanya ada seorang bernama
Sin tiau hiap mengundangnya ke Siangyang, Kepandaian Yan-po Tio-so itu tidaklah
rendah, cuma tabiatnya sangat aneh, Maka aku menjadi kuatir kalau diam2 mereka
akan melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan puteri dan menantuku sayang,
diam2 aku lantas datang kemari. Siapa tahu kalau Sin-tiau-hiap ini ternyata
adalah kawan cilik Nyo Ko, bila tahu, tak perlu lagi aku ikut2 capekan diri.”
Dari lagu perkataan orang, Ui Yong tahu sang ayah meski mengembara ke mana2,
tapi dalam hati senantiasa masih merindukannya. maka dengan tertawa ia berkata:
“Tia (ayah), sekali ini janganlah kau pergi lagi, marilah kita hidup berkumpul
saja dengan bahagia.”
Namun Ui Yok-su tidak menjawabnya, tiba2 Kwe Yang dipanggil kedekatnya,
“Marilah, nak, biar Gwakong melihat kau,” demikian katanya.
Memangnya Kwe Yang selama ini belum kenal sang Gwakong atau kakek luar (ayah
ibu), maka lekas2 ia mendekatinya dan memberi hormat.
Segera Ui Yok su memegangi tangan anak dara itu dan mengamat-amati raut mukanya,
tiba2 dengan muram ia berkata: “Sungguh persis, sungguh persis!”
Ui Yong tahu ayahnya menjadi terkenang pada mendiang ibunya, maksudnya muka Kwe
Yang, sangat mirip dengan nenek sewaktu mudanya, Karena kuatir bikin ayahnya
bertambah berduka, maka ia tidak buka suara.
“Sudah tentu persis” sela Kwe Hu tiba2 dengan tertawa, “Engkau berjuIuk “Lo-tong
sia” dan dia dipanggil orang “Siau-tong sia”
“Hu ji,” cepat Kwe Cing membentak, “Dihadapan Gwakong berani tak beraturan?”
Sebaliknya Ui Yok-su menjadi girang, ia tanya Kwe Yang: “Apa benar kau berjuluk
“Siau tong-sia”, Yang-ji?”
Kwe Yang menjadi jengah jawabnya.”Mula2 Cici yung menyebut aku demikian, lama2
orang lainpun ikut- menyebut aku begitu.”
dalam pada itu empat tertua dari Kay-pang sedang merubung Nyo Ko sambil tiada
hentinya mengaturkan terima kasih, dalam hati mereka berpikir. “la telah
menemukan kembali Pak kau-pang dan membongkar kedok muslihat Hotu, jika ia sudi
menjadi pangcu kita, itulah paling baik.”
Sebab ituIah, segera Nio-tianglo berkata: “Nyotoaya, sungguh tidak beruntung
Loh pangcu kami telah wafat…”
Nyo Ko tahu akan maksud hati orang, tanpa menunggu ucapan orang Iebih lanjut,
segera ia memotong: “Kepandaian Yalu toaya serba pintar, bijaksana dan berbudi,
ia juga adalah kawanku sejak duIu, kalau dia yang menjadi Pangcu perkumpulan
kalian, pasti akan bisa meneruskan usaha Ang, Ui dan Loh bertiga Pangcu dahulu.”
Setelah Ui Yok-su menanya sekedar ilmu silat Kwe Yang, ia berpaling dan hendak
memanggil Nyo Ko, tapi demi menoleh, tahu2 Nyo Ko sudah berjalan keluar
lapangan, ia tahu sekali Nyo Ko pergi susah bertemu pula, maka cepat serunya.
“Kawan cilik Nyo Ko, nanti dulu, akupun hendak pergi!”
Ketika lengan bajunya mengebas, sekejap saja ia sudah menyusul sampai di samping
Nyo Ko, seorang tua dan yang lain muda bergandengan tangan menghilang di malam
gelap.
Sebenarnya Ui Yong ada sesuatu hendak dibicarakan dengan ayahnya, cuma dihadapan
orang banyak tak IeIuasa diutarakan, kini orang tua itu ternyata pergi begitu
saja, ia menjadi gelisah dan lekas2 menguber.
Tapi betapa cepat jalannya Ui Yok su dan Nyo Ko, waktu Ui Yong mengejar keluar,
jarak mereka sudah beberapa puluh tombak jauhnya.
“Ayah, Ko ji, marilah tinggal dulu dan berkumpul beberapa hari saja.” teriak Ui
Yong.
“Ah, watak kami berdua suka bebas tak mau dikekang, biarkanlah kami pergi dengan
merdeka!” demikian Ui Yok-su menyahut dengan tertawa.
Nyata suaranya itu sudah jauh sekali, Diam2 Ui Yong mengeluh, tapi apa daya,
terang tak dapat menyandaknya, terpaksa ia kembali pulang, sementara dilapangan
itu suasana masih ramai sekali.
Se-san it khut-kui, Su si Hengte, Jing ling cu dan kawan2nya juga sudah pergi.
Sesudah dirundingkan antara tetua Kay pang, kalau tidak dikacau Hotu tentu Yalu
Ce sejak tadi sudah diangkat jadi Pungcu, Nyo Ko ada budi pada Kay pang, ia juga
mengusulkan Yalu Ce, maka sesuai benar dengan pilihan suara orang banyak.
Karena itulah keempat tertua Kay pang lantas melaporkan kepada Ui Yong, lalu
naik punggung mengumumkan tentang pengangkatan Yalu Ce sebagai Pangcu baru.
Menurut aturan, para anggota ber turut2 harus meludahi tubuh Yalu Ce, sedang
para pahlawan diluar Kay-pang sama naik panggung memberi selamat, suasana
menjadi tambah riang gembira.
Ui Yong suruh orang memberi hadiah seperlunya kepada anak wayang dan seniman
seniwati, pementasan itu terus berlangsung hingga terang tanah barulah bubar.
Melihat kedatangan Nyo Ko sekali ini melulu bicara sejenak dan bersenyum
sebentar, lantas berpisah, dalam hati Kwe Yang merasa kesal tak terkatakan,
semakin dipikir semakin masgul, ia lihat encinya sedang suka ria berdiri di
samping sang suami menerima ucapan selamat dari semua orang, ia sendiri menjadi
sunyi rasanya, maka ia putar tubuh hendak meninggalkan lapangan itu.
Tapi belum bebetapa langkah ia bertindak, tiba2 Ui Yong menyusulnya, tangan si
anak dara dipegangnya dini dengan suara lembut Ui Yong bertanya: “Yang ji, ada
apakah? Apakah merasa kurang gembira?”
“Ah, tidak, aku justru sangat gembira,” sahut Kwe Yang. Habis berkata ini,
segera iapun menunduk, air matanya ber linang2 hampir menetes.
Sudah tentu Ui Yong mengerti perasaan puterinya itu, tapi ia sengaja bicara
tentang cerita2 lucu yang dilihatnya di panggung sandiwara dengan maksud
memancing Kwe Yang agar tertawa.
Pelahan2 ibu dan anak itu pulang ke rumah, Ui Yong mengantar puteri kecilnya itu
kembali kamar “Yangji, apa kau lelah?” tanyanya penuh rasa kasih sayang.
“Tidak, mak. Kau sendiri semalam suntuk tidak tidur, haraplah pergi mengaso.”
sahut Kwe Yang.
Namun Ui Yong menarik tangan anak dara itu pula dan duduk sejajar di tepi
ranjang, rambut puterinya itu di-belai2nya, katanya dengan suara lembut:
“Yangji, urusan Nyo toako selamanya tak pernah kuceritakan padamu, ceritanya
memang terlalu panjang, apabila kau tidak letih, biarlah ku ceritakan padamu
sekarang.”
Seketika semangat Kwe Yang terbangkit, “Ceritakanlah, mak,” pintanya cepat.”
“Kisah ini dimulai dari engkongnya,” tutur Ui Yong. Laiu iu menceritakan
bagaimana dahulu Kwe Siau thian (ayah Kwe Cing) dan Nyo Thi sim (engkongnya Nyo
Ko) mengangkat saudara dan saling mengikat janji berbesan selagi isteri kedua
orang masih mengandung.
Kemudian Nyo Khong (ayah Nyo Ko) mengaku musuh (Wanyan Liai ) sebagai ayah
hingga akhirnya mati secara mengenaskan, Tentang waktu keciInya Nyo Ko pernah
tinggal di Tho hoa-to sampai Kwe Hu menabas buntung lengannya, bagaimana
berpisah dengan Siao liong-li di Coat ceng kok, semua dituturkannya.
Sungguh sama sekali Kwe Yang tidak menduga bahwa “Toakoko” yang siang dan malam
di-rindukannya itu ternyata mempunyai hubungan begitu rapat dengan keluarganya
sendiri, lebih2 tak menduga bahwa lengannya yang buntung itu justeru encinya
yang mengutunginya, sedang menghilangnya Siau liong li juga disebabkan terkena
jarum berbisa yang disambitkan cicinya.
Mula2 ia menyangka Nyo Ko hanya seorang ksatria muda yang dikenalnya secara
kebetulan, karena orangnya cakap ganteng hingga hati kecilnya kesemsem selalu,
siapa tahu di dalamnya terdapat suka duka yang begitu panjang meliputi tiga
turunan, Maka ketika ibunya mengakhiri ceritanya, rasa anak dara ini se-akan2
mabuk, pikirannya kacau.
“Semula aku telah salah menduga,” demikian kata Ui Yong pula menghela napas,
“kusangka perkenalannya dengan kau mengandung maksud jahat. Ai, tapi melihat
ketiga hal yang dilakukan Nyo-toakomu semalam, jangankan dia sebenarnya tiada
pikiran serong, sekalipun memang tiada maksud baik, sesudah kita terima budi
yang tak sedikit, sesungguhnya kitapun harus berterima kasih tak habis2
padanya.”
“Mak, kau bilang Nyo-toako tidak bermaksud baik apa, kenapa berpikiran serong?”
tanya Kwe Yang heran.
“Ya, muIa2 aku salah duga,” sahut Ui Yong, “Aku kira saking bencinya pada
keluarga Kwe kita, maka ia hendak membalas dendam melalui dirimu.”
“Mana bisa?” ujar Kwe Yang menggeleng kepala. “Jika ia mau bunuh aku untuk
membalas dendam, hal itu mudah sekali seperti membaliki tangan sendiri saja,
ketika di daerah Soasay, asal sekali jarinya menutuk saja segera aku bisa
dibinasakannya.”
“Kau masih kanak, tidak paham,” kata Ui Yong, “Jika ia sengaja bikin kau
menderita dan membuat kita selalu berduka dan masgul, sudah tentu ia mempunyai
caranya yang lebih keji daripada membunuh orang, Ai, biarlah, jangan dibicarakan
lagi, saat ini akupun sudah tahu tak nanti hal itu diperbuatnya. Cuma dalam
hatiku masih tetap kuatirkan sesuatu hingga merasa tak enak.”
“Kau kuatirkan apa, mak?” tanya si gadis, “Tampaknya kejadian2 dahulu yang harus
disesalkan itu, Nyo- toako sudah tidak mengingatnya lagi dalam hati, tidak lama
iapun akan bersua kembali dengan Toaso ( kakak ipar ), tatkala itu saking
senangnya segala kejadian dahulu pasti akan lenyap dalam ingatannya.”
“Tapi yang kukuatirkan justru kalau dia takkan bisa bersua lagi dengan Siao
liong li,” kata Ui Yong gegetun.
Kwe Yang melengak oleh kata2 itu, “Apa? Mana bisa? Toakoko sendiri berkata
padaku bahwa karena lukanya, Liong-cici telah ditolong pergi Lam hay Sin-ni dan
berjanji 16 tahun kemudian akan berjumpa pula. Betapapun cinta kasih suami
isteri mereka, sudah sekian lamanya saling tunggu masakah takkan bersua
kembali?”
Namun Ui Yong mengkerut kening sambil bersuara tak acuh.
“Kata Toakoko,” sambung Kwe Yang pula. “Liong-cici telah mengukir tulisan
ditebing gunung yang berbunyi: “l6 tahun kemudian bertemu lagi di sini, cinta
kasih suami isteri, harap jangan salah janji, Apakah mungkin ukiran tulisan itu
palsu belaka?”
“Tulisan itu memang tulen, sedikitpun iak palsu,” sahut Ui Yong “Cuma yang
kukuatirkan justeru karena cinta Siao-liong li terhadap Nyo Ko terlalu mendalam,
hingga sebab itu Nyo Ko takkan bisa melihat dia lagi untuk selamanya.”
Kwe Yang menjadi bingung, dengan tercengang ia pandang sang ibu penuh tanda
tanya.
“16 tahun yang lalu,” demikian tutur Ui Yong, “Nyo toakomu suami- isteri terluka
parah semua, Nyo-loako masih ada obat yang bisa menyembuhkannya, tapi racun
jarum yang mengenai Siao liong -li sudah meresap tulang, menyaksikan isteri
tercintanya itu sukar disembuhkan lagi, Nyo-toakomu itupun tidak ingin hidup
sendirian, maka sekalipun ia diberi obat dewa juga ia takmau meminumnya.” -
berkata sampai di sini suaranya berubah halus, katanya puIa:
“Ai, masih banyak hal lain, karena usiamu masih kccil, sementara ini kau takkan
paham.”
Kwe Yang ter mangu2 oleh cerita itu, selang se-jenak barulah ia menjungat dan
berkata: “Mak, jika kujadi Liong-cici, kuakan pura2 sudah sehat dan minta dia
minum obat untuk menyembuhkan lukanya.”
Sungguh Ui Yong tak menyangka puterinya yang masih kecil itu bisa berpikir
demikian untuk orang lain, maka sesaat itu ia tertegun, “Ya, benar, makanya aku
kuatirkan Siao-liong li tatkala itu juga berpikir seperti pendapatmu ini dan
sengaja meninggalkan Nyo Ko,” kata Ui Yong kemudian, “la mengukir tulisan di
tebing batu dan berjanji akan bertemu pula 16 tahun lagi, waktu itu aku lantas
menduga menghilangnya Siaoliong-li secara mendadak boleh jadi demi kepentingan
Nyo toakomu agar bertahan hidup selama 16 tahun untuk menantikannya Ai. rupanya
ia menyangka setelah lewat 16 tahun yang Iama itu, cinta Nyo-toakomu padanya
tentunya akan mendingin, dengan begitu, sekalipun dalam hati masih berduka, tapi
pasti akan sayang juga pada badan sendiri dan takkan membunuh diri lagi.”
“Jika begitu, bagaimanakah tentang cerita Lam-hay Sinni itu?” tanya Kwe Yang.
“Lam hay,Sinni itu justeru adalah karanganku. Maka hakikatnya tidak pernah ada
seorang tokoh seperti itu,” sahut Ui Yong,
“Ha, tidak ada tokoh Lam hay Sinni?” Kwe Yang menegas terkejut.
“Ya, sebab waktu itu aku melihat keadaan Nyo Ko yang sedih dan merana, hatiku
tak tega, lantas aku mengarang nama Lam hay Sinni untuk menghiburnya agar suka
menanti selama 16 tahun ini,” sahut Ui Yong. “Aku katakan padanya bahwa Lam-hay
Sinni tinggal di pulau Tati, padahal dijagad ini hakikatnya tidak pernah ada
pulau itu. Akupun bilang Lam hay Sinni pernah mengajarkan sejurus ilmu pukulan
pada Gwakongmu, dengan begitu supaya dia bertambah percaya. Sebab si Nyo Ko ini
sangat cerdik, kalau aku tidak bicara se-akan2 benar dan hidup, tak nanti ia mau
percaya. Dan kalau ia tak percaya, maksud baik Siao liong li itupun akan sia2.”
“Apakah ibu maksudkan Liong cici sudah meninggal dan janji 16 tahun bertemu lagi
hanya untuk membohonginya saja?” tanya Kwe Yang.
“Tidak, tidak, boleh jadi Siao-liong-li masih hidup, sampai hari yang dijanjikan
nanti bila betul2 ia datang berkumpul kembali dengan Nyo Ko, maka kita harus
berterima kasih pada yang maha kuasa,” sahut Ui Yong cepat. “Dia adalah
ahliwaris Ko-bong-pay satu2nya, cakal bakal Ko bong pay, Lim Tiau eng, lelah
menurunkan ilmu kepandaian yang maha hebat padanya, rasanya Siao liong li takkan
meninggal secara begitu saja.”
“Ya, memangnya akupun berpikir, Liong cici adalah orang yang begitu baik, Nyo
toako juga sedemikian cinta padanya, pasti ia takkan mati selagi muda,” demikian
kata Kwe Yang dengan hati rada lega.
“Dan bila sampai hari yang dijanjikan itu Nyo-toako tak bisa menjumpainya
kembali, bukankah pukulan ini akan membuatnya menjadi gila?”
“Makanya kedatangan Gwakong-mu sekarang sebenarnya akan kuminta agar suka
membantu membulatkan bualanku tentang Lam hay Sinni itu,” kata Ui Yong.
Kwe Yang menjadi kuatir “Ya, saat ini tentu Nyo toako berada bersama dengan
Gwakong dan ia akan tanya tentang Lam hay Sin-ni, Tapi Gwa-kong tak tahu
duduknya perkara tentu akan bilang tak kenal, dengan begitu lantas terbongkarlah
rahasia itu, lantas bagaimana baiknya?”
“Jika benar2 Siao liong li dapat bersua kembali dengan dia, itulah yang kita
harapkan dan segalanya akan menjadi beres,” kata Ui Yong “Tapi bila sampai
saatnya ia tidak melihat Siao-liong-li, turuti wataknya yang tak terkendali itu,
entah keonaran apa yang akan diperbuatnya, Tentu ia akan dendam karena aku
membohonginya dan bikin susah dia menunggu selama 16 tahun ini!”
“Mak, hal itu tak perlu kau kuatirkan,” ujar Kwe Yang, “Kau membohongi dia demi
kebaikannya. Kau bermaksud menolong jiwanya.”
“Hubungan kekeluargaan selama tiga keturunan tidaklah perlu dibicarakan, melulu
diri Ko-ji saja, beberapa kali ia telah menolong jiwa ayahmu, ibumu dan encimu,
hari ini ia berjasa pula begitu besar untuk kota Siangyang, seandainya kita ada
sedikit budi padanya juga tidak cukup untuk membalasnya,” kata Ui Yong.
“Ai, hidup Ko-ji selama ini menderita sebatangkara, umurnya svdah lebih 30, tapi
saat bahagia yang pernah ia kenyam rasanya juga tiada beberapa hari saja.”
Kwe Yang menjadi muram, ia menunduk, dalam hati ia pikir: “Kalau Toakoko tak
bisa berjumpa kembali dengan Liong cici, mungkin ia bisa gila benar?”
“Nyo-toakomu itu adalah seorang perasa dan beradab, cuma sejak kecil sudah
banyak mengalami pukulan hidup, maka wataknya menjadi rada aneh, tindak
tanduknya selalu diiuar dugaan orang,” ujar Ui Yong.
“Ya, dia dan Gwakong dan aku, semuanya golongan aneh.” kata Kwe Yang tertawa
tawar.
“Benar, ia adalah orang baik, hanya bersifat rada latah,” kata Ui Yong sungguh2
“Makanya, bila tak beruntung Siao liong-li sudah meninggal, selanjutnya sekali2
jangan kau bertemu dia lagi.”
Terkejut sekali anak dara itu, sama sekali tak diduganya ibunya bisa berkata
begitu. “Sebab apa? Kenapa tak boleh bertemu dengan Nyo toako lagi?” tanyanya
cepat.
Ui Yong menggenggam tangan puterinya itu dan berkata pula: “Jika akhirnya ia
bisa bertemu kembali dengan Siao liong li, biar kau ikut mengembara ke ujung
langit sekalipun aku takkan keberatan. Tapi kalau Siao liong-li tak bersua lagi
dengan dia, Yang ji, kau belum kenal sifat Nyo toakomu, bila ia sudah gila,
segala apa dapat diperbuatnya”
“Mak,” tanya Kwe Yang gemetar, “jika Liong cici tak dapat dijumpainya lagi,
tentu ia akan sangat berduka, kita harus menghiburnya baik2.”
“la takkan mendengar hiburan orang,” kata Ui Yong menggeleng kepala.
“Mak.” tanya Kwe Yang lagi setelah merandek sejenak, “Sesudah menunggu 16 tahun
dengan sia2, dalam berdukanya nanti apakah ia akan membunuh diri?”
Ui Yong merenung sejenak, kemudian baru ja-wabnya: “Pikiran orang lain dapat aku
menerkanya, tapi Nyo-toakomu itu sejak kecil aku tak dapat meraba pikiran apa
yang terkandung dalam otaknya, justeru sebab itulah maka aku melarang kau
bertemu lagi dengannya, kecuali kalau ia datang bersama Siao liong li, itulah
lain perkara.”
Kwe Yang termenung dan tak menanya lebih jauh.
“Yang-ji,” kata Ui Yong pula, “ibu hanya berpikir untuk kebaikanmu, jika kau tak
turut nasihat ibu, kelak pasti akan menyesal”
Habis itu, ia lantas ceritakan kejadian dulu, dimana puteri angkat Nyo Thi-sim
yang bernama Bok Liam cu, dalam suatu pertandingan sayembara Bok Lam cu
dikalahkan Nyo Khong, meski Nyo Khong banyak melakukan kejahatan tapi cinta Bok
Liam cu padanya tetap kekal hingga kemudian Bok Liam-cu gugur menyusul
kekasihnya di kelenteng Ong-tiat-jiang.
“Bok Liam-cu sesungguhnya wanita baik yang sukar dicari, tapi karena salah
menyerahkan cintanya hingga berakhir secara mengenaskan demikian” kata Ui Yong.
“Mak.” kata Kwe Yang tiba2. “ia menyukai Nyo-sioksiok, betapapun Nyo-sioksiok
berbuat salah pun, ia akan suka padanya sampah akhir jaman.”
Ui Yong terkesima memandangi muka sang puteri yang mungil itu, dalam hati ia
pikir: “Usia sekecil ini, darimanakah bisa paham begini banyak?”
Dilihatnya anak dara itu sudah letih dan arip, segera ia tarik selimut dan
menyuruhnya tidur sambil dinina-bobokkannya. Memangnya semalam suntuk Kwe Yang
tidak tidur, maka sebentar saja ia sudah pulas, Ui Yong lantas kembali kekamar
sendiri.
Sore harinya, kedua saudara Bu yang ditugaskan ke Lam-yang itu telah mengirim
berita bahwa gudang rangsum musuh memang benar telah terbakar habis, malahan api
masih belum terpadam, pasukan MongoI telah mundur ke utara sejauh ratusan li dan
berkemah di sana.
Mendengar kabar itu, seluruh penduduk kota Siangyang menjadi girang, nama “Sin
tiau-tayhiap” yang sengaja mem bumbu2i dengan pujian setinggi langit:
Malamnya lagi Kwe Cing suami isteri diundang oleh Lu Bun hwan untuk merundingkan
soal pertahanan kota hingga sampai jauh malam baru pulang.
Besok paginya, seperti biasa Yalu Ce, Kwe Hu dan Kwe Boh-lo datang memberi
selamat pada orang tua, tapi sampai lama Kwe Yang tak kelihatan muncul.
Ui Yong menjadi kuatir, segera pelayan di -suruhnya melihat ke kamar puteri
kedua itu apakah lantaran sakit, Tapi tak lama pelayan itu dan dayang pribadi
Kwe Yang sudah kembali melapor, katanya: “Semalam Jisiocia tidak kembali ke
kamar”
Keruan Ui Yong terkejut “Kenapa semalam tidak lantas melapor?” tanyanya segera.
“Semalam Hujin pulang larut malam, hamba tak berani mengganggu pula kuatir
sebentar Jisiocia akan kembali kamar, tak tahunya menunggu sampai sekarang masih
belum kelihatan,” tutur pelayan pribadi Kwe Yang itu.
Sesudah merenung sebentar segera Ui Yong memeriksa kamar anak dara itu, ia lihat
baju se-hari-2, senjata dan uang semuanya tiada yang dibawa anak dara itu Tengah
ia heran, tiba2 dilihatnya di bawah bantal puterinya itu menongol ujung secarik
kertas.
Segera Ui Yong menduga jelek, diam2 ia mengeluh, cepat kertas itu disambernya
dan dibaca, ternyata surat itu tertulis:
Ayah dan ibu tercinta,
Anak pergi mencegah Nyo-toako agar jangan sekali2 berpikiran pendek, Bila sudah
dapat mencegahnya, segera anak akan pulang.
Hormat puterimu,
Yang
Sesaat Ui Yong mematung tak bersuara, dalam hati ia pikir: “Anak dara ini benar2
ke-kanak2an. Macam apakah orangnya Nyo Ko itu, kecuali Siao-liong-Ii, siapa lagi
yang bisa bikin dia menurut? ia bukanlah Nyo Ko jika begitu gnnpang mau
mendengar kata2 orang Iain.
Niat Ui Yong hendak mencari puteri kecil itu, tapi mengingat situasi sangat
genting, setiap saat pasukan MongoI bisa dikerahkan menyerang Siangyang mana
boleh karena urusan anak2 harus menjelajah Kangouw lagi? Maka sesudah berunding
dengan Kwe Cing, segera ia tulis empat pucuk surat dan suruh empat anak murid
Kay-pang yang dapat dipercaya pergi mencari Kwe Yang agar anak dara itu bisa
lekas pulang.
Kiranya hari itu sesudah Kwe Yang mendengar cerita sang ibu, ia lantas tertidur.
Tapi mimpi buruk datang terus menerus sebentar dilihatnya Nyo Ko menabas buntung
lengannya yang tinggal satu itu, lain saat terbayang Nyo Ko terjun ke jurang
yang beribu tombak dalamnya hingga hancur lebur.
Karena impian buruk itu, Kwe Yang terjaga bangun dengan keringat dingin, ia
terduduk dipinggir ranjang dan ter-menung2 “Toakoko telah beri tiga jarum emas
padaku dan sanggup menerima tiga permohonanku yang pasti akan dilakukan untukku.
Kini jarum emas tinggal sebuah saja padaku, justru dapat kugunakan untuk mohon
dia jangan cari jalan ” pendek (bunuh diri), ia adalah seorang pendekar, seorang
jantan, apa yang dikatakan tentu di pegang janjinya, biar sekarang juga aku
pergi mencarinya.”
Lantas ia tinggalkan sepucuk surat singkat pada orang tuanya, lalu pergilah ia
keluar kota.
Tapi Nyo Ko bersama Ui Yok-su tatkala itu entah sampai dimana, sesungguhnya
sukar untuk dicari. Setelah 30 40 li Kwe Yang menempuh perjalanan tanpa tujuan,
ia mulai merasa lapar, ia pikir harus tangsal perut dulu pada suatu rumah makan.
Tapi di luar kota Siangyang penduduknya yang takut datangnya pasukan musuh sudah
lama mengungsi, jangankan rumah makan, bahkan rumah penduduk satupun tiada
isinya.
Selamanya Kwe Yang belum pernah keluar rumah sendirian, sama sekali tak terduga
olehnya orang melawat jauh sesungguhnya sulit seorang diri ia duduk termenung2
diatas batu ditepi jalan sambil bertopang dagu.
Ia berduduk sebentar, ia pikir tiada rumah makan, cari sedikit buah2an untuk
sekedar tangsal perut juga lumayan, Tapi ketika memandang sekelilingnya,
beberapa li sekelilingnya hanya tanah tandus tanpa suatu pohon, apalagi buah2an.
Selagi ia rada bingung, tiba2 terdengar derapan kuda ber-detak2, seorang
penunggung kuda berlari cepat duri timur ke barat, ketika sudah dekat
terlihatlah penunggangnya adalah seorang Hwesio tua yang berperawakan tinggi
kekar, memadai jubah kuning, kasa bersemampir dipundaknya, diatas kepalanya
memakai sebuah kopiah bundar yang bercahaya emas mengkilat.
Kuda itu lari dengan cepat sekali, sekejap saja sudah lewat, tapi tiba2 paderi
itu putar kuda kembali dan mendekati Kwe Yang dengan rasa heran.
“Nona cilik, siapakah kau?” demikian tanyanya “Kenapa seorang diri kau berada di
sini?”
Melihat sorot mata orang tajam bagai kilat, hati Kwe Yang rada terkesiap, segera
ia teringat pada It-teng Taysu yang pernah dilihatnya di tambak Hek-liong-tam,
diam2 ia pikir: “lt-teng Taysu itu sangat welas nsiii, tentu paderi beralis
putih inipun orang baik.”
Maka jawabnya: “Aku bernama Kwe Yang, baru datang dari Siangyang, hendak cari
seseorang.”
“Kau hendak mencari siapa?” tanya paderi tua itu.
Kwe Yang tersenyum sambil miringkan kepalanya dan katanya: “Hwesio tua suka
campur urusan orang lain, aku tak mau beritahukan padamu.”
“Cobalah kau terangkan siapakah orang yang hendak kau cari, boleh jadi di tengah
jalan tadi aku melihatnya bukankah bisa kuberi petunjuk padamu,” ujar paderi
tua.
Betul juga pikir Kwe Yang, maka jawabnya: “Orang yang kucari itu sangat mudah
dikcnali, ialah seorang laki2 muda tanpa lengan kanan. ia mungkin berada bersama
dengan seekor rajawali raksasa, boleh jadi berada sendirian puIa.”
Kiranya paderi tua ini bukan lain ialah Kim-lun Hoat-ong. Mendengar orang yang
dimaksud kan Kwe Yang itu ternyata Nyo Ko adanya, ia terkejut, tapi pada
lahirnya ia tenang2 saja dan pura-bergirang.
“He, orang yang hendak kau cari itu she Nyo bernama Ko, bukan?” katanya cepat.
Kwe Yang menjadi girang: “Ya, kau kenal dia?”
“Tentu saja aku kenal, kami adalah sobat lama,” demikian kata Kim-lun Hoat-ong
dengan tertawa: “Scwaktu kami berkenalan, boleh jadi kau masih belum lahir.”
Muka Kwe Yang yang cantik sedikit merah, tapi tanyanya pula: “Toahwesio,
siapakah nama gelaranmu?”
“Aku bernama Cumulangmah,” sahut Kim lun Hoat ong.
“Apa Cumi? Mamah? Ah, begitu panjang, susah diucapkan.” kata Kwe Yang dengan
tertawa.
“Cu mu Iang- mah” Hoat-ong mcnegas sekata demi sekata,
“O, Cumulangmah, Apakah kau tahu dimana Toakokoku berada?” tanya si anak dara
lagi.
Kiranya Kim-lun Hoat-ong sengaja bilang namanya Cumulangmah, nama puncak
tertinggi dipegunungan Himalaya, yaitu terkenal juga dengan nama Mount Everest,
dengan nama samaran ini Hoat-ong se-akan2 anggap ilmu silatnya di seluruh jagat
tiada bandingannya.
Maka jawabnya: “Kau punya Toakoko? Siapa dia?”
“lalah Nyo Ko,” sahut Kwe Yang,
“Ha, kau panggil Nyo Ko sebagai Toakoko, katanya kau she Kwe?” tanya Hoat ong.
Kwe Yang rada jengah, namun jawabnya: “Ya, kami adalah pamili turun temurun,
waktu kecil ia pun tinggal di rumahku.”
Tergerak hati Hoat-ong, segera ia tanya, “Aku mempunyai seorang kenalan baik, ia
berilmu silat sangat tinggi, namanya terkenal di seluruh jagat, juga she Kwe,
namanya Cing, Entah nona kenal padanya tidak?”
Terkejut Kwe Yang, dalam hati ia membatin : “Aku telah minggat dari rumah, kalau
dia adalah sobat ayah, mungkin sekali aku akan diseret pulang, lebih baik tak
kukatakan saji.” – Maka jawabnya kemudian: “Apakah kau maksudkan Kwe Ciog,
Kwe-tayhiap? ia adalah angkatan tua dari keluarga Kwe kami. Apakah Touhwesio
hendak berkunjung padanya?”
Kim lun Hoat-ong adalah seorang yang sangat pintar dan ccrdik, pula sudah
kenyang asam garam, sikap Kwe Yang yang aneh ini segera dapat dilihatnya.
Maka katanya pula dengan menghela napas: “Aku dan Kwe tayhiap menang sobat
kental dan sudah lebih 20 tahun tak berjumpa, tempo hari di laerah utara aku
mendengar berita buruk, katanya Kwe-tayhiap telah meninggal, aku menjadi sedih,
maka cepat datang kemari, Ai, seorang pahlawan besar tidak diberkahi umur
panjang, sungguh Thian tidak adil.”
Berkata sampai di sini air matanya benar bercucuran membasahi jubahnya.
Kiranya Lwekang Kim-Iun Hoat-ong sudah terlatih amat tinggi, seluruh otot daging
tubuhnya dan pernapasan dapat diatur sesuka hatinya, untuk menghentikan denyutan
jantung sementara saja tidak sukar, apalagi hanya mencucurkan air mata bikinan.
MeIihat orang menangis sungguhan, walaupun Kwe Yang tahu jelas ayahnya tidak
pernah mati, namun soalnya mengenai ayah dan anak mau-tak-mau hatinya ikut pilu
juga, maka cepat katanya: “Toahwesio, kau tak perlu berduka, Kwe tayhiap tidak
pernah meninggal.”
“Ah, jangan ngaco, ia benar2 sudah meninggal anak perempuan mana tahu akan
urutan orang tua?” sahut Hoat-ong sambil menggeleng kepala.
“Aku baru saja keluar dari Siangyang, masakah aku tak tahu, malahan baru kemarin
aku melihat muka Kwe-tayhiap,” kata Kwe Yang.
Tanpa ragu2 lagi sekarang Hoat-ong, saking girangnya ia menengadah dan
bergeIak-tawa. “Ah, kiranya kau adalah puteri Kwe tayhiap,” katanya kemudian,
Namun mendadak ia geleng2 kepala Iagi: “Salah, salah! puteri Kwe tayhiap itu
kukenal, namanya Kwe Hu, umurnya sekarang sedikitnya sudah lebih 3O puluh
tahun.”
Tak tahan akan pancingan kata2 orang, segera Kwe Yang menegaskan “lalah cnciku,
ia bernama Kwe Hu dan aku bernama Kwe Yang.”
Girang luar biasa hati Hoat-ong, ia membatin. “Hari ini benar2 Thian
memberkahiku, rejeki ini telah menubruk sendiri padaku.” – Maka segera ia-pun
berkata: “Jika begitu, jadi Kwe-tayhiap memang benar tidak meninggal.”
Melihat orang benar2 bergirang, Kwe Yang menyangka paderi ini berhati bajik dan
senang karena mendengar ayahnya masih segar-bugar, ia menegaskan lebih jauh:
“Aku bilang tidak meninggal tentu tidak meninggal dia adalah ayahku, masakah aku
mendustai kau?”
“Batk, baik, baik! Aku percaya, nona Kwe, malahan akupun tak perlu pergi ke
Siangyang lagi, Sudilah kau sampaikan pada ayahmu bahwa kawan lama Cumulangtnah
mengirim salam pada nya,” kata Hoat ong.
ia tahu pasti sebentar Kwe Yang akan tanya tentang urusan Nyo Ko, maka ia
sengaja memberi hormat, lalu menarik kudanya terus hendak pergi, Betul saja
segera terdengar Kwe Yang berteriak: “Hai, hai! Toahwesio, kenapa kau tak tahu
aturan?”
“Tidak tahu aturan?” Hoat-ong menegas pula tak mengerti.
“Bukankah aku sudah beritahukan keadaan ayahku, tapi kau belum juga ceritakan
keadaan Nyo Ko, sebenarnya dimanakah dia?” tanya Kwe Yang.
“Ah, benar, aku menjadi lupa!” ujar Hoat-ong. “Kemarin dulu baru saja aku
ber-omong2 sama dengan dia di lembah pegunungan sebelah utara Sinyang, ia sedang
berlatih pedang di sana, saat ini mungkin nusih belum pergi, bolehlah kau
mencarinya ke sana.”
Kwe Yang mengkerut kening oleh penjelasan itu. “Lembah gunung begini banyak,
cara bagaimana aku bisa menemukannya? Terangkanlah lebih jelas,” pintanya.
Hoat ong pura2 berpikir, lalu katanya: “Baiklah, sebab aku juga akan ke utara,
biarlah kubawa kau ke sana.”
Keruan Kwe Yang berjirang, “Ah, sungguh terima kasih,” katanya,
Lalu Hoat-ong menuntun kudanya ke hadapan anak dara itu dan katanya: “Silakan
nona cilik menunggang, paderi tua berjalan kaki.”
“Ah, mana boleh jadi.” sahut Kwe Yang.
“Tidak apa,” kata Hoat-ong tertawa. “Empat kaki kuda ini belum tentu lebih cepat
daripada kedua kaki paderi tua.”
Selagi Kwe Yang hendak cemplak keatas kuda, tiba2 ia berseru: “Ai, sialan!
Toahwesio, aku merasa lapar, kau memhawa makanan tidak?”
Dari buntalannya Hoat-ong mengeluarkan sebungkus rangsum kering, walaupun Kwe
Yang tidak biasa dengan makanan begitu, apa lagi panganan kaum paderi, namun
sudah lapar, terpaksa dimakannya sebagian sekedar menangsal perutnya, lalu ia
keprak kuda berangkat diikuti Hoat ong yang berjalan di sampingnya.
Tiba2 anak dara itu ingat pada kata2 orang tadi bahwa “Empat kaki kuda ini belum
tentu lebih cepat daripada kedua kaki paderi tua.” Maka mendadak ia pecut
kudanya sambil berseru: “Toa-hwesio, kutunggu kau di depan sana.” – Habis itu,
secepat terbang ia larikan kudanya.
Kuda itu sangat bagus dan tangkas, sekali ber-lari, Kwe Yang merasa tetumbuhan
di tepi jalan sekejap saja sudah jauh tertinggal di belakang. sebentar saja
belasan li sudah ditempuhnya, ketika, ia menoleh dan berkata dengan tertawa:
“Toahwesio, dapatkah kau menyusul aku?”
Namun ia menjadi heran dan terkejut, ternyata Kim lun Hoat-ong tak kelihatan
bayangannya, sebaliknya mendadak ia lantas mendengar suara seorang berseru di
dalam hutan di depan sana: “Nona Kwe, kudaku itu kurang cepat, kau harus
memecutnya lekas.”
Kwe Yang menjadi tambah heran “Kcnapa ia malah sudah berada di depan?”
Segera ia keprak kuda pula, maka terlihatlah Kim-Iun Hoat-ong lagi berjalan
dengan “Ienggang-kangkung” seenaknya di depan, ia pecut kudanya agar berlari
lebih kencang, tapi jaraknya selalu belasan tombak di belakang Hoat-ong, Di
tanah datar utara Siangyang itu debu selalu bertebaran oleh larinya kuda, tapi
Hoat ong yang berjalan di depan itu seakan2 kaki tak menempel tanah, debu
sedikitpun tidak mengepul.
Diam2 Kwe Yang sangat kagum, pikirnya: “Jika dia tidak memiliki ilmu silat
setinggi ini memangnya juga tidak sesuai menjadi sobat kental ayah.” Dan dari
kagum itu ia menjadi hormat, maka serunya lantas: “Hai Toahwesio, kau adalah
orang tua, lebih baik kau yang menunggang kuda saja.”
“Buat apa kita mesti banyak buang tempo di tengah jalan, tidakkah lebih cepat
bertemu dengan Toakoko-mu akan lebih baik?” sahut Hoat-ong menoleh sambil
tertawa.
Tatkala itu kuda tunggangan Kwe Yang sudah mulai payah, larinya tidak secepat
mula2 lagi maka jaraknya dengan Hoat-ong semakin jauh.
Pada saat itulah, tiba2 dari arah utara ada suara derapan kuda puIa, dua
penunggang kuda secepat terbang sedang mendatangi
“Marilah kita tahan kuda-2 mereka ini, dengan menukar kuda ini tentu kau bisa
berlari lebih cepat,” demikian kata Hoat ong.
Tak lama kemudian, kedua penunggang kuda itu sudah datang dekat.
“Marilah turun dulu!” bentak Hoat-ong mendadak sambil kedua tangannya terpentang
mengadang di tengah jalan.
Kedua kuda itu terkejut hingga meringkik sambil berdiri menegak, Tapi
penunggangnya ternyata sangat mahir, tubuhnya masih tetap menempel di atas
pelana tak sampai terjatuh.
“Siapa kau? Apa cari mampus?” bentak serang di antaranya dengan gusar. Berbareng
itu, pecutnya diayun terus menyabet.
“Hai, Tua-thau kui, Tian-jing-kui, kawan sendiri semua, jangan berkelahi!” seru
Kwe Yang cepat.
Ternyata kedua orang itu memang benar adalah si setan berkepala besar dan setan
berjenggot panjang dari Se-san it-khut kui,
Tapi saat itu tangan kiri Hoat-ong sudah meraih pecut Toa thau-kau yang menyabet
tadi terus ditarik kuat2. Tak terduga, meski Toa-thau-kui orangnya ceboI, namun
bertenaga raksasa pembawaan, pula pecut itu adalah bikinan kulit sampi yang
sangat ulet, tenaga tarikan Hoat-ong yang beratus kati itu ternyata tidak
membikin pecut itu menjadi putus, juga tidak terlepas dari tangan Toa thau-kui.
“Bagus!” seru Hoat-ong, Diam2 ia tambahi tenaga, Dan karena saling betot itulah,
segera terdengar suara “peletak” yang keras, yang kalah adalah kuda tunggangan
Toa thau-kui yang patah tulang punggungnya terus terkulai ke tanah.
Toa thau-kui menjadi murka, sekali melompat turun, segera hendak menubruk maju
dan melabrak Hoat-ong.
“Nanti dulu,” teriak Tiang jiu-kui tiba2, Lalu tanyanya pada Kwe Yang:
“Jisiocia, kenapa kau berada bersama dengan Kim-lun Hoat-ong?”
Dahulu Kim lun Hoat ong bersama Nyo Ko pernah datang ke Coat-ceng-kok, itu
lembah tempat bersemayamnya Kongsun Ci, maka Tiang jiu-kui Hoan Jt-ong kenal
padanya,
“Ah, kau telah salah kenali orang ia bernama Cumulangmah, sobat baik ayah,”
sahut Kwe-Yang tertawa. “Padahal Kim-lun Hoat-ong itu adalah musuh bebuyutan
ayah, ucapanmu ini kan “kepala sampi tidak cocok dengan mulut kuda-” (maksudnya
salah wesel)?”
“Di mana kau ketemu dengan Hwesio ini?” tanya Tiang jiu Iau.
“Baru saja kami bertemu,” sahut Kwe Yang “Hwesio besar ini bilang ayah sudah
meninggal, coba, lucu bukan? Dan sekarang ia hendak membawa aku pergi mencari
Toakoko.”
“Jisiocia, lekas kembali, Hwesio ini bukan orang baik2, ia mendustai kau,” seru
Toa-thau-kui.
Tapi Kwe Yang masih ragu2, ia mendustai aku?” tanyanya.
“Ya,” sahut Toa-thau-kui. “Siu tiau hiap berada di selatan sana, kenapa ia
membawa kau ke utara?”
Kim lun Hoat-ong hanya tersenyum saja walaupun kedoknya terbongkar katanya
tiba2. “Dua orang cebol ini suka mengacau-belo.” – Habis itu sedikit tubuhnya
bergerak, cepat sekali mendekati kedua “setan” itu terus menghantam batok kepala
mereka dengan kedua tangan.
Belasan tahun ini Hoat ong telah giat berlatih “Liong jio-pan yok-kang” (ilmu
sakti tenaga naga dan gajah), semacam ilmu kebatinan tenaga gaib, “Liong jio pan
yok-kang” ini seluruhnya bertingkat tiga belas, konon selama ini tiada pernah
satu orangpun yang sanggup melatih diri hingga lebih dari tingkat sepuluh.
Namun Kim-lun Hoat-ong adalah orang berbakat luar biasa, dengan telaten dan giat
akhirnya ia dapat menembus ke atas tingkat sepuluh dan kini sudah mencapai
tingkatan kesebelas.
DahuIu ia dikalahkan Nyo Ko bersama Siao-liaong-Ii, hal mana dirasakannya
sebagai suatu noda besar dalam hidupnya, kini ilmu kepandaiannya sudah maju
berlipat ganda, pada kesempatan raja Mongol memimpin pasukan sendiri ke selatan,
sekalian iapun ikut serta dengan tujuan hendak balas dendam mematikan Nyo Ko dan
Siao-liong-li berdua dengan ilmu pukulannya yang maha sakti ini.
Kembali tadi, ketika kedua tangan lawan memukul, cepat Toa-thau-kui menangkis,
tapi segera terdengar suara “krak”, seketika tangannya patah, menyusul batok
kepalanyapun pecah, tanpa menjengek sedikitpun terus binasa.
Kepandaian Tiang-jiu-kui lebih ulet, ia tahu pukulan musuh sangat lihay, maka
dengan sekuat-nya ia angkat kedua tangannya buat menahan, maka terasalah suatu
kekuatan yang maha besar menindih tubuh, seketika pandangannya menjadi gelap,
orangnyapun terus roboh.
Terkejut sekali Kwe Yang, “Hai, kedua orang ini adalah kawanku, berani kau
mencelakai mcreka?” bentaknya gusar.
DaIam pada itu, meski roboh dan muntah darah, mendadak Tiang-jiu-kui melompat
bangun terus merangkul kedua kaki Hoat-ong erat2 sambil ber-seru: “lekas lari
nona Kwe, Iekas!”
Segera Hoat-ong mencengkeram punggung Tiang jiu kui dan hendak mengangkatnya
untuk dibanting, tapi mati2an Tiang-jiu kui ingin melindungi Kwe Yang, kedua
tangannya bagai gelang besi saja memegang erat2 kedua kaki orang, sekalipun
tenaga Hoat-ong sangat besar, untuk sesaat juga sukar menariknya lepas.
Terkejut dan gusar sekali Kwe Yang, usianya kecil, tapi pembawaannya berbudi
luhur, kini ia pun sudah tahu Hoat ong tidak bermaksud baik padanya. tapi ia toh
tidak mau lari meninggalkan Tiang jiu-kui.
Segera ia bertolak pinggang, dengan suara keras bentaknya: “Hai, Hwesio jahat,
kenapa kau begini keji? Lekas lepaskan Tiang-jiu-kui, biar nona ikut kau pergi.”
“Lekas lari, nona, jangan…” demikian seru Tiang jiu-kui tapi belum lagi habis
ucapannya jiwanya ternyata sudah melayang.
Mayat Tiang-jiu kui kemudian diangkat Hoat-ong dan dibuang ke tepi jalan, lalu
katanya dengan menyeringai bengis “Nah, kalau mau lari, kenapa tidak lekas naik
kuda?”
Selama hidup Kwe Yang tak pernah benci pada siapapun, meski diketahuinya Loh
Yu-ka dibunuh Hotu, tapi ia tidak menyaksikan sendiri, ia hanya berduka dan
tidak dendam, tapi kini melihat Hoat-ong begini kejam, tanpa terasa ia menjadi
benci padanya, maka dengan melotot ia pandang orang tanpa gentar sedikitpun
“Nona cilik, kau tidak takut padaku?” tanya Hoat- ong.
“Takut apa?” sahut Kwe Yang sengit “Mau bunuh, lekas kau bunuh aku.”
Namun Hoat-ong lantas unjuk jempolnya dan memuji: “Hebat, memang hebat, ayah
ksatria tidak nanti melahirkan puteri pengecut.”
Dengan benci Kwe Yang memandang Hoat ong sekejap lagi, pikirnya hendak mengubur
jenazah kedua kawannya, tapi tak ada alat penggali disitu, sesudah berpikir, ia
angkat mayat Tiang jiu kui dan Toa thau-kui ke atas kuda, tali pelana dibalik
untuk mengikat mayat itu, lalu ia depak pantat kuda dan berkata: “Kuda, kuda,
lekas antar majikanmu pulang.”
Karena sakit didepak, kuda itu lantas berlari pergi ke arah mendatang tadi.
* * * *
Bercerita tentang Ui Yoksu dan Nyo Ko, keduanya bergandengan tangan dengan
cepat menuju ke selatan, maka sekejap saja beberapa puluh li sudah mereka
tcmpuh, mendekati lohor, sampailah mereka di kota Swansia.
Mereka masuk kesuatu restoran besar, pesan daharan dan saling menceritakan
pengalaman masing2 selama ini.
Ketika Ui Yok-su menyinggung diri Thia Eng dan Liok Bu biang berdua, selama
belasan tahun ini mereka hidup menyepi dikediaman leluhur, yaitu Leng oh, daerah
Siangciu, hanya Sah-koh, itu cucu murid Ui,Yok-su yang gendeng, tinggal bersama
dengan mereka.
Mendengar itu, Nyo Ko menghela napas panjang.
Setelah minum beberapa cawan arak, kemudian Nyo Ko bertanya: “Ui tocu, selama
belasan tahun ini Wanpwe selalu mencari engkau orang tua, sebab ingin sekali
menanya sesuatu padamu, barulah hari ini harapanku terkabul.
Watakku makin tua makin aneh, entah adik hendak tanya apa padaku?” sahut Ui Yok
su tertawa.
Selagi Nyo Ko hendak buka suara pula, tiba2 terdengar suara tangga berdetak, ada
orang naik ke atas loteng restoran itu, seluruhnya tiga orang.
Ketika mendengar suara tindakan orang, segera Ui Yok Su dan Nyo Ko menduga
orang2 yang datang ini berilmu silat sangat tinggi, Kemudian setelah melihat
orangnya, segera Nyo Ko kenal satu di antaranya ialah Siau siang cui, orang
kedua bermuka hitam, ia tak kenal, sedang orang ketiga ialah In Kik-si, itu
saudagar bangsa Persi yang berkepandaian lihay.
Dalam pada itu Siau-siang-cu dan In Kik-si juga sudah melihat Nyo Ko, mereka
menjadi ter-kesiap dan berhenti, keduanya saling mengedip mata, lalu hendak
turun kembali ke bawah.
“Eeeh, sobat lama bertemu lagi, kenapa buru2 lantas hendak pergi?” sengaja Nyo
Ko menegur dengan tertawa ejek.
“Baik2kah Nyo-tayhiap selama ini?” segera In Kik si menyapa dan soja…
Sebaliknya Siau siang cu masih dendam karena dulu di Cong lam-san lengannya
dipatahkan Nyo Ko, selama belasan tahun ini kepandaiannya juga sudah banyak
maju, namun ia tahu masih bukan tandingan Nyo Ko. maka tak ia gubris teguran Nyo
Ko, juga tidak menoleh,.lalu hendak melangkah turun.
Orang bermuka hitam yang datang bersama mereka itu juga seorang jago terkemuka
di bawah Kubilai, selamanya sangat tinggi hati, bersama In Kik-si dan Siau-siang
cu mereka keluar mencari berita, siapapun tidak terpandang sebelah mata
oleh-nya.
Kini melihat kedua kawannya begitu jeri pada Nyo Ko, ia melirik hina ke arah Nyo
Ko, lalu berteriak: “Nanti dulu, Siau-heng, kalau ada orang jahat berani
merintangi kesenangan kita, biar Siaute mengusirnya pergi.” Hubis berkata,
sebelah tangannya yang terpentang lebar segera mencengkeram ke pundak Nyo Ko
dengan maksud mencekalnya untuk dilemparkan ke jalan umum.
Melihat telapak tangan orang lapat-2 bersemu hitam biru, Nyo Ko tahu orang tentu
berlatih “Tok-joa-cio” atau ilmu pukulan pasir beracun, tiba2 pikirannya
tergerak, “Ya, kenapa aku tidak gunakan tenaga orang ini untuk tanya
Ui-Iocianpwe tentang Lam-hay Sinni?” demikian pikirnya.
Tatkala itu tangan orang bermuka hitam itu sudah hampir menyentuh pundaknya,
mendadak Nyo Ko baliki tangannya menyampuk, “plak-plak” tahu2 orang itu malah
kena ditempeleng dua kali olehnya.
Terperanjat Ui Yok-su menyaksikan itu. “Cepat benar pukulannya ini!” diam2 ia
memuji.
Dan melulu sekali serangan ini saja sudah terlihatlah ilmu silat ciptaan Nyo Ko
sendiri telah menjadi suatu aliran terkemuka.
Sementara terdengar lagi suara “plak plak” dua kali, kedua pipi Siau-siang-cu
telah dipersen tamparan pula. Hanya In Kik-si yang bebas dari tempelengan itu,
karena Nyo Ko melihat orang tadi berlaku sopan.
“Nyo-laute, ilmu pukulan ciptaanmu ini sungguh hebat sekali, lohu (aku yang tua)
ingin sekali melihat keseluruhannya, entah dapat tidak?” kata Ul Yok-su dengan
tertawa.
“Justru ingin kuminta petunjuk Locianpwe,” sahut Nyo Ko. Segera tubuhnya
bergerak cepat, ia mainkan ilmu pukulan “lm-jiau siau-hun-cio hoat” yang hebat
itu.
Maka tertampaklah lengan bajunya me-lambai2 telapak tangannya naik turun, tiba-
tipu serangan “Bu tiong-seng yu”, lain saat gerakan “Ki jin yu-:hian”, ia
mengurung S’au-siang-cu, In Kik-si dua praog bermuka hitam itu di tengah2 angin
pukulannya.
Ketiga orang itu serasa terombang ambing di tengah2 gelombang badai, ter huyung2
dan sempoyongan terbawa oleh angin pukulan Nyo Ko, jangankan melawan sedang
untuk berdiri tegak saja susah.
“Sungguh hebat,” puji Ui Yok su. “Hari ini lohu dapat menyaksikan ilmu pukulan
Iaute ini sambil minum arak, sungguh hidupku ini tidak kecewa.”
“Locianpwe sukalah memberi petunjuk “sejurus!” teriak Nyo Ko mendadak, Ketika
telapak tangan-nya mendorong, tahu2 Siau-siang cu “dikirim” ke hadapan Ui
Yok-su,
Tak berani ayal Ui Yok-cu, cepat telapak tangan kirinya menyurung juga ke depan,
tubuh Siau-siang cu dikembalikan ke sana, Tapi segera tertampak lelaki muka
hitam itu menubruk datang lagi, cepat Vi Yok su angkat cawannya menenggak arak
sambil ayun tangan mendorongnya pergi puIa.
Melihat gerak pukulan orang memang sangat kuat dan hebat, tapi juga tidak
terlalu luar biasa. dalam hati Nyo Ko berpikir “Agaknya kalau aku tidak
menggunakan seluruh tenaga takkan dapat memancing ilmu pukulan yang dia pelajari
dan Lam-hay Sin-ni.”
Maka ia pusatkan napasnya dan himpun tenaga pukulannya secara cepat Siau
siang-cu, In Kik-si dan lelaki muka hitam itu silih berganti didorongnya ke
depan Ui Yok su.
Terpakia Ui Yok-su mengembalikan lagi, tapi terasa daya tekanan serudukan ketiga
orang itu semakin berat dan susul menyusul bagai datangnya gelombang ombak, satu
lebih kuat dan lebih tinggi dan yang lain.
“Tenaga pukulan bocah ini makin lama makin kuat, sungguh bakat yang susah dicari
dalam dunia persilatan!” demikian diam2 Ui Yok-su membatin.
Dan pada saat itu juga, orang bermuka hitam itu kembali melayang datang, bahkan
kedua kakinya terus menjejak kemukanya. Cepat Ui Yok-su menyampuknya pergi pula
namun tanpa terasa sedikit tergoncang itulah arak dalam cawannya terciprat
keluar beberapa tetes, menyusul mana In Kik-si dan Siau-siang-cu juga telah
menubruk datang lagi, yang satu dari depan dan yang lain dari samping.
“Bagus!” seru Ui Yok- su, ia letakkan cawan araknya, dengan kedua tangannya ia
dorong ke depan. Begitulah, kedua orang – Nyo Ko dan Ui Yok-su – lantas saling
oper-mengoper dari jarak beberapa tombak bagai orang main bola basket, Siau
siang cu bertiga bagai bola saja terombang-ambing di antara tenaga pukulan kedua
orang itu se akan2 terbang kian kemari di udara.

kembalinya rajawali 23

Juni 24, 2010

Sekejap Eng-koh memandang Cu-in, lalu berkata dengan lirih: “Jika bukan lantaran
dia, selama hidup ini mungkin aku tak dapat berjumpa pula dengan kau, apalagi
orang mati tak dapat dihidupkan kembali, biarlah kita merayakan pertemuan kita
ini dan melupakan dendam masa lalu saja,”
“Betul juga ucapanmu, baiklah kita mengampuni dia,” ujar Pek-thong.
Keadaan Cu-in sangat parah, dia bertahan dengan sisa tenaganya dengan harapan
akan mendapat pengampunan dari Eng-kob, kini mendengar sendiri Ciu Pek-thong dan
Eng-koh bersedia mengampuni dosanya itu, hatinya sangat terhibur, katanya dengan
lemah kepada It-teng:
“Banyak terima kasih atas penyempurnaan Suhu!” Lalu iapun mengucapkan terima
kasih pada Nyo Ko, habisi itu ia lantas menutup mata untuk selamanya.
It-teng menunduk dan membacakan doa bagi kepergian Cu-in, habis itu bersama Nyo
Ko dan Kwe Yang mereka mengubur Cu in di situ, Memandangi kuburan Cu-in itu, Nyo
Ko menjadi terharu, teringat olehnya ketika dia dan Siao-liong li baru saja
menikah dan memergoki Cu-in yang kumat di puncak gunung bersalju itu, tak
tersangka tokoh yang termashur dengan telapak tangan besi itu kini sudah kembali
ke asalnya.
Eng-koh dan Ciu Pek-thong saling pandang dengan penuh rasa haru, banyak sekali
ingin mereka bicarakan, tapi entah cara bagaimana harus mulai. Kemudian Ehg-koh
mengeluarkan kedua ekor rase kecil itu, katanya: “Nyo-kongcu, budi pertolonganmu
sukar kubalas, kedua ekor binatang ini bolehlah kau ambil saja.”
Tapi Nyo Ko hanya menerima seekor saja, katanya: “Cukup seekor saja dan terima
kasih!”
Tiba2 It-teng berkata: “Nyo-kongcu, boleh kau bawa kedua ekor rase itu, tidak
perlu kau membunuhnya, cukup membelih pahanya dan ambil darahnya secangkir kecil
setiap hari, kukira luka kawanmu itu dengan cepat dapat disembuhkan.”
Nyo Ko dan Eng-koh sangat girang, kata mereka: “Kalau jiwa rase dapat
diselamatkan adalah paling baik.”
Segera Nyo Ko terima kedua ekor rase itu dan mohon diri pada It-teng, Eng-koh
dan Ciu Pek-thong.
“Sehabis ambil darahnya, lepaskan saja disana, tentu kedua rase itu akan pulang
sendiri ke sini,” pesan Eng-koh.
Mendadak Ciu Pek-thong menyela: “Eh, Toan-hongya dan Eng-koh, silakan kalian
tinggal beberapa hari di Pek-hoa-kok sana. Adik Nyo, setelah menyembuhkan luka
kawanmu, silakan juga bersama adik kecil itu bermain ke tempatku.”
Nyo Ko menerima undangan itu dengan baik, ia berjanji kalau urusannya sudah
beres tentu akan berkunjung ke sana. Habis itu ia lantas melangkah pergi bersama
Kwe Yang, ia merasa sangat gembira karena sekaligus dapat membuat Ciu Pek-thong
dan Eng-koh berkumpul kembali sehingga Cu-in juga dapat mati dengan tenteram,
pula dengan mudah mendapatkan kedua ekor rase kecil itu.
Setiba kembali di Ban-siu-san-ceng, kelima saudara Su sangat girang melihat Nyo
Ko berhasil membawa pulang kedua ekor rase yang diharapkan itu, ber-ulang2
mereka mengucapkan terima kasih kepada Nyo Ko. Segera mereka mulai mengambil
darah rase dan diminumkan kepada Su Siok-kang.
Malamnya diadakan perjamuan besar dan Nyo Ko diangkat sebagai tamu kehormatan
utama. Ma-cam2 santapan lezat, terutama yang sukar diperoleh dan biasanya
dianggap santapan yang mewah di restoran jaman kini, seperti bibir singa, paha
harimau, telapak kaki beruang dan belalai gajah, biasanya sejenis makanan
seperti itu saja sukar diperoleh, sekarang sekaligus ada belasan macam yang
dihidangkan.
Su-si-hengte dan Gerombolan Setan Se-san tidak mengutarakan terima kasih mereka
lagi kepadi Nyo Ko, yang pasti di dalam hati mereka sudah menganggap Nyo Ko
sebagai tuan penolong mereka, kelak kalau ada urusan dan memerlukan tenaga
mereka, biarpun di suruh terjun ke jurang jugi mereka takkan menolak.
Di tengah perjamuan yang meriah itu, semua asyik bicara tentang pengalaman
masing2 serta kejadian2 menarik di dunia Kangouw, Hanya Kwe Yang saja yang duduk
termenung tanpa bicara, padahal anak dara ini biasanya sangat gembira ria,
rupanya ia sedang bersedih mengingat dalam waktu tidak lama lagi harus berpisah
dengan Nyo Ko.
Tidak lama kemudian, tiba2 di sebelah sana berkumandang suara melengking seekor
kera, menyusul suara kera yang lain juga lantas membalas sehingga ributlah
suasana. Air muka Su-si-bengte tampak berubah. Su Beng-ciat lantas minta maaf
lan mohon diri sebentar untuk memeriksa keadaan di sana.
Semua orang tahu tentu di luar hutan sana ada musuh yang datang, Toa-thau-kui
berkata:
“!Paling baik yang datang itu adalah pangeran Hotu, biar kita labrak dia untuk
membalas sakit hati Su-samko”
Belum habis ucapannya, tiba2 terdengar Su Beng-ciat membentak di luar sana:
“Siapa itu malam2 berkunjung ke sini? Silakan berhenti!”
Lalu suara seorang perempuan menjawab:
“lAdakah seorang cebol berkepala besar di sini? ingin kutanya dia kemana dia
membawa adik perempuanku?”
Kejut dan girang Kwe Yang mendengar suara Kwe Hu itu, ia coba melirik Nyo Ko dan
melihat sorot matanya berkedip aneh, diam2 ia heran, seketika ia tidak jadi
berseru memanggil “Cici”
“Hei, kau tahu aturan tidak, mengapa tidak menjawab pertanyaanku, sebaliknya kau
terobosan sesukamu?” demikian terdengar Su Beng-ciat mendamperat.
Segera terdengar Kwe Hu membentak: “Menyingkir!” – Menyusul lantas terdengar
suara nyaring beradunya senjata, agaknya nona itu hendak menerjang masuk, tapi
dirintangi Beng-ciat dan kedua orang itu lantas bergebrak.
Sejak berpisah dengan Kwe Hu di Coat-ceng-kok dahulu, sudah belasan tahun Nyo Ko
tidak pernah berjumpa dengan nona itu, kini mendadak mendengar suaranya,
seketika macam2 perasaan berkecamuk dalam benaknya. Didengarnya suara benturan
senjata sudah mulai menjauh, agaknya Su Beng-ciat berhasil memancing Kwe Hu ke
tempat lain.
“Yang dicarinya adalah diriku, biar kutemui dia,” seru Toa-thau-kui sambil
berlari keluar Menyusul Su Ki-kiang dan Hong It-ong juga ikut ke sana.
Tiba2 Kwe Yang berbangkit dan berkata kepada Nyo Ko: “Toakoko, ciciku datang
mencari diri-ku, kini aku harus pulang.”
Nyo Ko terkejut: “Jadi dia. . .. . dia itu cicimu?”
“Ya, jawab Kwe Yang, “Kuingin melihat Sin-tiau-tayhiap, paman Toathau kui
lantas membawaku ke sini menemuimu, Aku… aku sangat senang…” belum habis
ucapannya mendadak kepalanya menunduk terus berlari pergi.
Sekilas Nyo Ko melihat dua tetes air mata meleleh di pipi anak dara itu, tiba2
terpikir olehnya, “Dia ingin menemui aku, tentu adaurusan penting, mengapa
sekarang pergi begitu saja tanpa bicara apa2?” – Segera ia menyusul ke sana dan
berseru: “Adik cilik, jika kau ada kesulitan, boleh katakan saja padaku.”
Kwe Yang tersenyum dan menjawab: “Ah, tidak, aku tiada kesulitan apa2.”
Di bawah cahaya bulan muda yang remang2 Nyo Ko dapat melihat wajah si nona yang
putih bersih itu masih basah air mata, dengan suara lembut ia lantas berkata
pula: “Kiranya kau adalah anak dara Kwe Tayhiap dan Kwe-hujin, apakah Tacimu
nakal padamu?”
Menurut perkiraan Nyo Ko, tidak mungkin puteri Kwe- tayhiap yang termashur itu
mengalami kesulitan, besar kemungkinan Kwe Hu yang suka se-wenang2 itu telah
menghina atau memukuli adik perempuan nya ini.
Ternyata Kwe Yang menjawab dengan tertawa: “Sekalipun Cici nakal padaku juga aku
tidak takut padanya, kalau dia mengomel aku lantas adu muIut dengan dia,
betapapun dia juga tak berani memukuli aku.”
“”Habis untuk apa kau mencari aku? Silakan bicara terus terang saja.”
“Di tempat penyeberangan sana kudengar orang bercerita tentang tindakanmu yang
baik budi dan yang sangat terpuji itu, hatiku menjadi sangat kagum dan sangat
ingin melihat wajahmu, selain itu tiada sesuatu maksudku yang lain lagi. Dalam
perjamuan tadi aku teringat kepada pameo yang mengatakan:
“Tiada pesta yang tidak bubar di dunia ini. Hatiku menjadi sedih, siapa tahu
pesta tadi Selum bubar dan aku. . . . .aku harus segera pergi,” sampai di sini
suara Kvve Yang menjadi rada tersendat.
Tergetar hati Nyo Ko, teringat olehnya waktu anak dara ini dilahirkan, beberapa
saat kemudian dirinya lantas memondongnya dan membawanya.
Ketika dikejar oleh Kim-lun Hoat-ong, malah kemudian terjadi perebutan beberapa
kali antara dirinya dengan Kim-lun Hoat-ong dan Li Bok chi, juga pernah
menangkap induk harimau tutul untuk dijadikan mak inangnya yang menyusuinya,
akhirnya dibawanya lagi ke kuburan kuno itu dan dipelihara sekian lamanya di
sana. Tak tersangka sekarang dapat bertemu pula di sini dan jabang bayi dahulu
itu kini telah berubah menjadi gadis remaja yang molek.
Tanpa terasa Nyo Ko berdiri ter-mangu2 mengenangkan kejadian di masa lampau di
bawah sinar bulan yang remang2 itu.
Selang sejenak, Kwe Yang berkata puIa: “Toa-koko, aku harus pergi sekarang, Aku
hanya ingin minta tolong sesuatu padamu.”
“Katakan saja,” ujar Nyo Ko.
“Bilakah engkau akan bertemu dengan isterimu?”
“Antara musim dingin tahun ini,”
“Setelah engkau berjumpa dengan isterimu, sukalah engkau mengirim kabar padaku
di Siang-yang agar aku ikut bergirang bagimu.”
Nyo Ko sangat berterima kasth, ia pikir meski anak dara ini dilahirkan dari ibu
kandung yang sama dengan Kwe Hu, tapi tabiat keduanya ternyata sangat berbeda,
Segera ia bertanya pula: “Apakah ayah-ibumu sehat2 semua?”
“Ayah dan ibu semua baik2 saja.” jawab Kwe Yang. Tiba2 timbul suatu pikirannya,
cepat ia memyambung pula: “Toakoko, setelah engkau berjumpa dengan isterimu,
maukah kalian datang ke Siangyang dan menjadi tamu kami? Ayah-ibu dan kalian
suami-isteri sama2 kesatria besar jaman ini, tentu kalian akan sama cocok satu
sama lain.”
“Hal ini biarlah kita lihat dulu keadaan nanti,” jawab Nyo Ko, “Eh, adik cilik,
tentang pertemuan kita ini sebaiknya jangan kau ceritakan pada Cicimu, kukira
juga tidak perlu diceritakan pada ayah-ibumu.”
“Sebab apa?” Kwe Yang menjadi heran, Tiba2 teringat olehnya ketika orang2 sama
mengobrol di kota tambangan itu, tampaknya Cici kurang senang dengan
Sin-tiau-hiap yang di-sebut2 itu, bisa jadi diantara mereka pernah terjadi
sengketa apa2. Maka ia lantas menambahkan: “Baiklah, takkan kuceritakan pada
mereka.”
Dengan mata tak berkedip Nyo Ko memandangi anak dara itu, dalam benaknya
terbayang wajah kecil si orok yang pernah dipondongnya 15 tahun yang lalu itu.
Karena dipandangi sedemikian rupa, Kwe Yang menjadi rada malu dan menunduk.
Timbul pikiran Nyo Ko ingin membela dan melindungi anak dara di depannya
sekarang ini sama halnya seperti perlindungannya kepada jabang bayi yang lemah
pada masa belasan tahun yang lalu itu. Segera ia berkata pula: “Siaumoaycu,
(adik perempuan cilik), ayah-ibumu adalah pendekar besar masa kini dan dihormati
siapapun juga, jika kau ada kesulitan kiranya juga tidak perlu bantuanku Namun
kejadian di dunia ini seringkali ber-ubah2, suka duka sukar diduga. Andaikah kau
mempunyai sesuatu persoalan yang tidak ingin dikatakan kepada ayah-ibumu dan
perlu bala bantuan, maka bolehlah kau mengirim berita padaku, aku berjanji akan
membereskannya bagimu dengan se-baik2nya.”-
Kwe Yang tertawa manis, katanya: “Engkau sungguh sangat baik padaku, Cici sering
pamer di depan umum bahwa dia adalah puteri Kwe-tayhiap dan Kwe-hujin, terkadang
aku merasa risi dan kikuk bagi ucapannya itu, Betapapun termasyhurnya ayah dan
ibu kan tidak pantas kalau hal itu selalu ditonjolkan. Tapi nanti kalau
kukatakan kepada orang bahwa Sintiau- tayhiap adalah Toakokoku, maka Cici pasti
takdapat menirukannya.”
Meski ucapan Kwe Yang ini setengah bergurau, namun jelas tampak rasa bangganya
karena dapat berkenalan dengan Nyo Ko.
“Ah, cicimu mana menghargai orang macam diriku ini?” ujar Nyo Ko dengan
tersenyum. Setelah merandek sejenak sambil meng-hitung2 dengan menekuk jari,
lalu ia berkata pula: “Tahun ini kau sudah berusia 15, ya, bulan sepuluh,
tanggal 22, 23, 24 ya, kau lahir pada tanggal 24 bulan sepuluh, betul tidak?”
Kwe Yang ter-heran2, serunya: “He! Memang benar, darimana kau tahu?”
Nyo Ko tersenyum dan tidak menjawab, katanya pula: “Kau dilahirkan di Siangyang,
makanya kau diberi nama Yang, betul tidak?”
“He, jadi kau tahu semuanya, tadi pura2 tidak kenal padaku,” seru Kwe Yang,
“Engkau pasti sahabat baik ayahku.” .
Seperti melamun, Nyo Ko tidak menjawabnya, tapi berkata pula dengan menengadah:
“Pada hari itu, pertarungan hebat melawan Kim-lun Hoat-ong, Liong-ji memondong
anak itu…”
Kwe Yang tidak paham apa yang digumamkan Nyo Ko itu, sayup2 ia dengar suara
benturan senjata di sebelah sana, ia menjadi kuatir kalau cicinya dilukai Su
Beng-ciat, segera ia berkata: “Toakoko, aku benar2 akan pergi sekarang.”
Nyo Ko masih menggumam: “Tanggal 24 bulan sepuluh, sungguh cepat sekali, 16
tahun sudah hampir lalu.” Mendadak ia tersadar karena teguran Kwe Yang tadi dan
berkata: “Ah, kau hendak pergi… Ehm, pada tanggal 24 bulan sepuluh nanti,
katamu akan sembayang dan berdoa untuk mengemukakan tiga buah nazar pada Thian.”
Rupanya ia jadi teringat pada ucapan Kwe Yang tadi bahwa waktu sembayang dan
berdoa, anak dara itu akan memohon Thian memberi berkah supaya dia lekas bertemu
kembali dengan Siao-Iiong-li.
Tiba2 Kwe Yang berkata pula: “Eh, Toakoko, jika kelak akupun mohon tiga soal
padamu, apakah engkau dapat menyanggupi?”
“Asalkan dapat kukerjakan sekuat tenagaku tentu akan kuterima,” jawab Nyo Ko
tegas, Lalu dari sakunya ia mengeluarkan sebuah kotak kecil, dikeluarkannya tiga
buah jarum lembut yang biasa digunakan Siao-liong-li sebagai senjata rahasia itu
dan diberikannya kepada Kwe Yang, katanya “Jika kulihat jarum ini nanti, sama
saja seperti kulihat wajahmu. Kalau kau tak dapat menemui aku sendiri, boleh kau
suruh orang membawa jarum ini untuk menyampaikan keinginanmu padaku dan tentu
akan kulaksanakannya bagimu.”
“Terima kasib,” ucapan Kwe Yang sambil menerima jarum2 itu, lalu berkata puIa:
“Sekarang akan kukemukakan keinginanku yang pertama.” – segera ia mengembalikan
sebuah jarum itu kepada “Nyo Ko dan menambahkan “Kuminta engkau menanggalkan
kedokmu agar aku dapat melihat wajah aslimu “
“Soal ini terlalu kecil dan mudah dilaksanakan karena aku tidak ingin dikenali
kawan lama, maka sengaja memakai kedok,” kata Nyo Ko dengan tertawa, “Tapi
caramu sembarangan menggunakan sebuah jarum emas ini, apakah tidak sayang?”
“Jika muka aslimu saja tidak kuketahui mana dapat dikatakan kukenal kau? ini
sekali2 bukan soal kecil,” ujar Kwe Yang.
Harus diketahui bahwa kaum pendekar jaman dahulu paling taat pada janji yang
pernah diucapkan, karena sudah menyanggupi, dengan menyerahkan jarum itu
sekalipun Kwe Yang minta Nyo Ko berbuat sesuatu yang maha sulit juga akan
dilakukannya tanpa pikir, Karena itu juga iapun tak dapat menolak permintaan si
nona yang pertama ini, “Baiklah,” katanya sambil menanggalkan kedoknya.
Seketika pandangan Kwe Yang terbeliak, di depannya muncul seraut wajah yang
cakap dengan alis panjang tebal dan mata besar bercahaya cuma sudah lama
memakainya, air mukanya agak pucat dan kekurus2an. “Ahhh!” terasa Kwe Yang
berteriak.
“Kenapa?” tanya Nyo Ko.
Muka Kwe Yang menjadi meraj, “O, tidak apa2,” jawabnya, Tapi dalam hatinya
berkata: “Sungguh tidak nyana engkau begini cakap.”
Setelah tenangkan diri, kembali Kwe Yang menyerahkan pula jarum kedua dan
berkata: “Sekarang ini kukatakan cita2ku yang kedua.”
Nyo Ko tersenyum dan berkata: “Katakau saja beberapa tahun lagi juga belum
terlambat. Anak gadis belum tahu urusan, yang kau ucapkan hanya cita2 kanak2
saja.” Karena itulah ia tidak lantas menerima jarum kedua itu.
Tapi Kwe Yang lantas menaruh jarum digenggaman tangan Nyo Ko dan berkata:
“Cita2ku yang kedua ini adalah pada tanggal 24 bulan sepuluh yang akan datang,
yakni pada hari ulang tahunku nanti, hendaklah kau datang ke Siangyang daa
menemui aku untuk ber-cakap2 sebentar.”
Meski permintaannya yang kedua ini lebih repot, daripada permintaan yang
pertama, namun bersifat ke-kanak2an. Maka dengan tertawa Nyo Ko menjawab
“Baiklah, kusanggupi memangnya apa susahnya? Cuma aku hanya menemui kau sendiri
saja, ayah-ibu dan Cicirnu takkan kutemui.”
“Terserah padamu,” ujar Kwe Yang dengan tertawa, jari tangannya yang lentik dan
putih halus itu memegangi jarum ketiga yang berkilau di bawah cahaya bulan,
katanya pula: “Tentang permintaanku yang ketiga ini…”
Nyo Ko meng-geleng2 kepala, pikirnya: “Busyet! Memangnya aku Nyo Ko begini mudah
berjanji pada orang? sungguh nona cilik yang tidak tahu urusan, janjiku
dianggapnya seperti permainan anak kecil saja.”
Mendadak wajah Kwe Yang tampak merah jengah, katanya dengan tertawa: “Cita2ku
yang ketiga ini sementara belum terpikir olehku, biarlah kelak akan kukatakan
padamu.” – Habis ini ia membalik dan lari ke sana sambil ber-teriak2: “Cici!
Cici!”
Kwe Yang terus menuju ke arah datangnya pertempuran dilihatnya Kwe Hu sedang
bertempur sengit melawan Su Beng-ciat dan Toa-thau kui. Hoan It-ong dan Su Ki
kiang mengikuti pertarungan itu di samping dengan siap siaga.
“Cici, inilah aku,” seru Kwo Yang, “Beberapa orang ini adalah teman sendiri.”
Selama ini Kwe Hu banyak mendapat petunjuk dari ayah-ibunya, suaminya yaitu Yalu
Ce juga tokoh silat pilihan, maka kepandaiannya sekarang sudah berbeda jauh
dengan daripada belasan tahun yang lalu.
Cuma wataknya berangasan dan tidak telaten berlatih sebab itulah tingkat ilmu
silatnya selalu berkisar antara kelas dua atau tiga saja meski ayah-bunda dan
suami nya terhitung tokoh terkemuka. Kini meski dia sanggup menempur kerubutan
Su Beng-ciat dan Toa-thau-kui dengan sama kuatnya, tapi lama2 tentu dia akan
kewalahan dan terdesak di bawah angin.
Tengah gelisah karena takdapat mengalahkan lawan dengan cepat, tiba2 Kwe Hu
mendengar seruan sang adik, segera ia membentak “Lekas kemari, Moaymoay!”
Su Beng-ciat mendengar sendiri Kwe Yang memanggil Nyo Ko sebagai Toakoko, kini
didengarnya pula Kwe Hu menyebut Kwe Yang sebagai Moaymoay atau adik perempuan,
seketika ia terkesiap dan ragu2 apakah wanita ini adalah isteri atau adik
Sin-tiau-tayhiap? Karena itulah serangannya yang sedang dilontarkannya pada saat
itu segera ditarik kembali, berbareng iapun melompat mundur.
Kwe Hu sendiri tahu lawan sengaja mengalah, tapi hatinya sudah kadung mendongkol
tanpa pikir pedangnya terus menasuk, “sret” dengan tepat dada Su Beng-ciat
tertusuk.
Keruan Toa-thau kui terkejut dan berseru: “Hei, mengapa kau…”
Tapi sekali pedang Kwe Hu lantas berkelebat, tahu2 lengan Toathaukui juga
terluka.
Dengan pongahnya Kwe Hu lantas membentak pula: “Nah, rasakan lihaynya nyonyamu
ini!”
“He, Cici, kubilang orang2 ini adalah teman sendiri.” seru Kwe Yang pula.
Kwe Hu menjadi gusar dan membentak: “Lekas pulang bersamaku! Siapa kenal temanmu
yang tidak keruan ini?”
Luka di dada Su Beng-ciat itu ternyata tidak ringan. dia ter-huyung2 dan jatuh
tersungkur. Cepat Kwe Yang memburu ke sana dan membangunkannya sambil bertanya:
“Su-goko, bagaimana lukamu?”
Darah segera mengucur dari dada Su Beng-ciat hingga baju Kwe Yang berlepotan
lekas anak dara itu merobek ujung bajunya untuk membalut luka orang.
Sementara itu Kwe Hu sedang mendesak pula: “Hayo lekas berangkat lekas! setiba
di rumah nanti kulaporkan kepada ayah dan ibu, mustahil kau tak kan dipukuli
hingga kau minta2 ampun.”
Dengan gusar Kwe Yang menjawab: “Kau sembarangan melukai orang, akan kulaporkan
juga kepada ayah dan ibu.”
Melihat muka Kwe Yang merah padam dan mengembang air mata, Su Beng-ciat
menghiburnya dengan tertawa yang di paksakan: “jangan kuatir, nona cilik, lukaku
ini takkan membuatku mati.”
Di samping Su Ki-kiang memegangi gadanya dengan napas ter-engah2, seketika ia
menjadi ragu2 apa mesti melabrak Kwe Hu atau menolong adiknya dahulu.
Mendadak Kwe Hu menjerit kaget, kiranya dari depan dua ekor harimau loreng telah
mendekatinya secara diam2, segera ia hendak menyingkir ke kiri, tapi terlihat
pula dua ekor singa jantan sudah mendekam di situ, waktu ia menoleh, di sebelah
kanan bahkan berdiri empat ekor macan tutul. Rupanya dalam sekejap itu Su
Tiong-beng sudan memimpin kawanan binatang buas itu dan mengepung rapat Kwe Hu.
Keruan muka Kwe Hu menjadi pucat dan hampir2 jatuh kelengar, Syukur pada saat
itu juga suara seorang di dalam hutan hutan berseru: “Gote, bagaimana lukamu?”
“Mendingan, tidak begitu parah!” sahut Su Beng-ciat.
“Oh, perintah Sin-tiau-hiap agar kedua nona ini dibiarkan pergi saja,” kata
orang itu.
Segera Su Ki-kiang bersuit beberapa kali, kawanan binatang buas itu lantas
memutar tubuh dan menghilang ke dalam semak2.
“Su-goko, atas nama Ciciku kuminta maaf padamu,” kata Kwe Yang.
Sesungguhnya luka Su Beng-ciat itu membuatnya sangat sakit, dengan meringis ia
menjawab:
“Mengingat Sin tiau-tayhiap, sekalipun Cicimu membunuh aku juga tidak menjadi
soal.”
Kwe Yang hendak bicara pula, tapi Kwe Hu lantas menariknya sambil membentak:
“Hayo pulang!” Berbareng anak dara itu terus diseret berlari keluar hutan.
Melihat kedua kakak beradik itu sudah per-gi, Su-si hengte dan Gerombolan Setan
lantas berlari keluar untuk memeriksa keadaan Su Beng ciat dan Toa-thau- kui,
be-ramai2 mereka mencela tindakan Kwe Hu yang tidak pantas itu, cuma ucapan
merekapun tidak berani kasar kerena belum mengetahui ada hubungan apa antara Kwe
Hu dan Nyo Ko.
Dengan gemas Su Ki-kiang berkata: “Nona cilik itu sangat baik hati, tapi
kakaknya ternyata begitu galak, sudah jelas adik Ciat mengalah pada-nya, tapi
dia malah melukainya secara keji, Coba kalau tusukannya masuk sedikit lagi tentu
jiwa adik Ciat sudah melayang.”
“Marilah kita tanya kepada Sin-tiau-hiap tentang asal usul perempuan itu,” kata
Toa thau-kui. “Di tempat penyeberangan sana ber-ulang2 dia juga mengeluarkan
kata2 yang tidak baik terhadap Sin tiau- hiap.”
Pada saat itulah dari balik pohon sana muncul seorang dan berkata, “Syukurlah
luka Su-goko tidak terlalu parah. Tindak-tanduk perempuan itu memang semberono
dan cerohoh, ketahuilah bahwa lenganku ini justeru ditebas kutung olehnya.”
Melihat yang bicara itu adalah Nyo Ko, semua orang sama melengak dan tak dapat
bicara lagi, setiap orang sama sangsi dan ingin tahu, tapi tidak berani
bertanya.
Begitulah Kwe Hu telah membawa Kwe Yang kembali ke tempat penyeberangan,
sementara itu air sungai Kuning yang membeku itu sudah cair, kakak beradik
bertiga dapat menyeberang dan pulang ke Siangyang, sepanjang jalan Kwe Hu masih
terus mengomeli Kwe Yang yang dianggap suka berkeluyuran dengan orang2 yang
tidak keruan.
Tapi Kwe Yang berlagak tuli saja dan tidak menggubris omelan sang Taci, mengenai
pertemuannya dengan Nyo Ko juga sama sekali tak disinggungnya.
Setiba di Sianyang, per-tama2 Kwe Hu lantas melapor kepada ayah-bundanya bahwa
Kwe Yang dalam perjalanan tidak mau tunduk padanya dan banyak menimbulkan
keonaran, lalu iapun menceritakan apa yang terjadi selama Kwe Yang menghilang
dua hari dua malam, tentu saja ia bumbui-bumbui pula, tambahi kecap dan imbuhi
sambel.
Kwe Cing sendiri sedang pusing kepala oleh situasi militer beberapa hari
terakhir ini, maka ia tambah marah demi mendengar laporan Kwe Hu itu, segera ia
bertanya: “Yang-ji, benar tidak laporan cici ini?”
Kwe Yang mengikik tawa, katanya: “Ah, cici memang suka geger, aku ikut seorang
teman pergi melihat keramaian, kenapa sih mesti diributkan?”
“Teman apa? Siapa namanya?” taaya Kwe-Cing.
Kwe Yang melelet lidah, lalu menjawab: “Ah, lupa kutanyai namanya, cuma kudengar
orang memanggil dia Tea-thau-kui begitu.”
“Seperti orang dari “Gerombolan Setan Se-san,” tukas Kwe Hu.
Kwe Cing juga dengar nama “Gerombolan Setan Se-san” itu, meski tak dapat
dikatakan gerombolan penjahat, tapi juga bukan kaum ksatria yang baik, maka ia
tambah marah demi mendengar anak perempuan itu bergaul dengan orang2 macam
begitu, Cuma perangainya memang sabar dan pendiam, biarpun marah ia hanya
mendengus geram saja dan tidak berkata lagi, sedangkan Ui Yong lantas mengomeli
Kwe Yang.
Malamnya Kwe Cing suami-isteri mengadakan perjamuan keluarga untuk menghibur
pulangnya Kwe Hu dan Kwe Boh-Io, tapi sengaja tidak menyediakan tempat duduk
bagi Kwe Yang. Yalu Ce berusaha membujuk kedua mertuanya, tapi malah diomeli Kwe
Cing agar sebagai kakak ipar seharusnya ikut mendidik adiknya, Karena itulah
terpaksa Yalu Ce tak berani mengusik lagi.
Kiranya Kwe Cing dan Ui Yong merasa pernah terlalu memanjakan Kwe Hu sehingga
banyak menimbulkan petaka, maka sekarang caranya mendidik Kwe Yang dan Kwe
Boh-lo telah berubah sama sekali.
Sejak kecil diawasi dengan keras, sifat Kwe Boh-lo pendiam seperti sang ayah
sehingga tak menjadi soal, tapi Kwe Yang sejak kecil sudah suka berbuat hal2
yang aneh dan sukar di-jajaki jalan pikirannya, lahirnya ia menurut, tapi di
dalam hati ia memberontak
Ketika ia diberitahu oleh pelayan bahwa Tuan dan Nyonya mengadakan perjamuan
keluarga dan Ji siocia (puteri kedua) sengaja tidak diundang, keruan Kwe Yang
menjadi marah, bahkan ia lantas mogok makan sekalian selama dua hari.
Sampai hari ketiga, Ui Yong jadi kasihan sendiri, di luar sang suami ia membuat
beberapa macam daharan lezat, disertai menghibur dan membujuk barulah anak
perempuan bungsu itu mau makan dan gembira lagi. Tapi dengan demikian, maksud
orang tua mendidik anaknya dengan keras kembali luntur dan sia2 pula.
Sementara itu pasukan Mongol sudah berhasil menyerbu ke negeri Tayli di daerah
Hunlam (Yu-nan), sesudah menduduki kerajaan kecil selatan itu, pasukan induk
beralih pula ke utara, sedangkan pasukan Mongol yang lain dari utara juga
menerobos ke selatan sehingga dua induk pasukan telah bergabung hendak
menggempur Siangyang untuk akhirnya melalap kerajaan Song sekaligus.
Waktu pasukan Mongol mulai menyerbu Tayli, Kwe Cing menyebarKan Eng hiong-tiap
(kartu undangan para ksatria) agar para pahlawan berkumpul di Siangyang untuk
merundingkan siasat menghadapi musuh, keberangkatan Kwe Hu dan kedua adiknya ke
utara itu adalah mengemban tugas yang diberikan sang ayah itu.
Tak terduga gerak cepat pasukan Mongol ternyata luar biasa, dalam waktu singkat
Tayli sudah ditumpas, sebab itulah ketika para pahlawan mulai berkumpul di
Siangyang, sementara itu kekuatan pasukan Mongol juga mulai mendekati kota itu.
Eng-hiong-tay hwe atau musyawarah besar para pahlawan ditetapkan pada tanggal 15
bulan sepuluh dan direncanakan berlangsung selama 10 hari. Hari ini baru tanggal
13, jadi masih dua hari sebelum hari rapat, sementara itu para pahlawan dan
ksatria dari segenap penjuru ber-bondong2 telah tiba di Siangyang.
Kwe Cing dan Ui Yong sibuk mengurusi tugas pertahanan, maka urusan menyambut
tamu telah diserahkan kepada Loh Yu-ka dan Yalu Ce. Di antara tamu2 yang sudah
tiba itu ada Cu Cu-liu, Su-sui Hi-un dan Bu Sam-thong, kedua Bu cilik bersama
Yalu Yan dan Wanyan Peng juga sudah datang, begitu pula Hui-thian-pian-hok Kwa
Tin-ok.
Pejabat ketua Coan-cin-kau waktu itu, Li Ci siang, dengan 16 murid utama
Coan-cin-pay juga sudah tiba, begitu pula para tertua Kay-pang serta tokoh2
pengemis yang berkantong tujuh dan delapan.
Seketika kota Siangyang penuh dengan jago2 silat terkemuka. Banyak di antara
tokoh2 persilatan yang jarang muncul di dunia Kangouw kini juga hadir mengingat
pertemuan Siangyang sekali ini menyangkut nasib negara dan bangsa, pula mereka
kagum pada budi pekerti Kwe Cing suami isteri, maka hampir semua orang yang
menerima kartu undangan pasti hadir.
Malam hari tanggal 13 bulan sepuluh, Kwe Cing suami-isteri mengadakan perjamuan
kecil pribadi di di kediamannya dan mengundang Cu Cu-liu, Bu Sam-thong dan
beberapa kenalan lama untuk beramahtamah.
Loh Yu-ka juga diundang, tapi sampai malam ketua Pangcu itu belum tampak hadir,
semua mengira dia sibuk oleh pekerjaan sehingga tidak menyangka sesuatu.
Tengah mereka bersuka ria dan berbincang macam2 kejadian Bu-lim selama belasan
tahun terakhir ini, Yalu Ce, Kwe Hu dan anak2 muda yang bersatu meja tersendiri
juga asyik bercengkerama, tiba2 datang seorang murid Kay-pang berkantong delapan
dan ber-bisik2 kepada Ui Yong, seketika air muka Ui Yong tampak berubah dan
berkata dengan suara gemetar: “Bisa terjadi demikian?”
Semua orang sama berpaling memandang nyonya rumah itu. Terdengar Ui Yong berkata
pula kepada anggota Kay-pang itu: “Yang hadir di sini adalah orang kita sendiri,
boleh kau bicara saja, bagaimana awal mula kejadian ini?”
Segera anggota Kay-pang itu menutur. “Lewat lohor tadi, Loh-pangcu membawa tujuh
murid kantong tujuh patroli ke utara kota, siapa tahu sampai malam tiba beliau
belum nampak pulang, Tecu menjadi kuatir dan bersama teman2 lain terbagi dalam
beberapa kelompok keluar kota untuk mencarinya, akhirnya di kelenteng Yo-tayhu
di kaki gunung Hian diketemukan jenazah Loh-pangcu.”
Mendengar kata2 “jenazah”, tanpa terasa semua orang sama menjerit kaget. Sampai
di sini, suara anggota Kay-paog itupun ter-sendat2. Maklumlah meski ilmu silat
Loh Yu-ka tidak terlalu tinggi, tapi orangnya berbudi dan bijaksana sehingga
mendapat dukungan luas di kalangan anggota.
Murid Kay-pang tadi melanjutkan penuturannya: “Kedua murid tujuh kantong yang
mengiringi pangcu itupun menggeletak di samping beliau, seorang sudah tewas yang
lain belum putus napasnya sehingga sempat memberi keterangan bahwa mereka
kepergok pangeran MongoI yang bernama Hotu. Pangcu yang kena sergap lebih dulu,
kedua murid kantong tujuh itu bertempur mati2an dan akhirnya juga dicelakainya.”
“Hehe, jadi Hotu, Hotu!” demikian gumam Kwe Cing saking menahan gusarnya, ia
jadi menyesal dahulu telah memberi ampun kepada pangeran Mongol itu di
Cong-lam-san, tahu begini tentu waktu itu sudah dibinasakan.
“Apakah Hotu itu meninggalkan ucapan apa?” tanya Ui Yong.
“Tecu tidak berani omong,” kata anggota Kay-pang itu.
“Kenapa lidak berani omong,” tukas Ui Yong. “Tentunya dia bilang supaya Kwe Cing
disuruh lekas menyerah kepada pihak mongol, kalau tidak, maka contohnya ialah
Loh Yu-ka itu, begitu bukan?”
“Hu jin sungguh hebat, memang begitulah ucapan keparat Hotu itu,” jawab si
anggota Kay-pang.
Be ramai2 semua orang lantas pergi memeriksa jenazah Loh Yu-ka, terlihat
punggungnya terkena sebatang tulang2 kipas buatan dari baja, tulang iganya juga
patah, jelas lebih dulu Hotu menyergapnya dengan senjata rahasia, habis itu
menghantamnya pula dengan tenaga dahsyat hingga binasa, semua orang menjadi
gusar dan berduka pula menyaksikan itu.
Saat itu di Siangyang berkumpul be-ribu2 anggota Kay-pang, maka suasana menjadi
sedih ketika kabar tewasnya Loh Yu-ka disiarkan.
Se-hari2nya Kwe Yang sangat akrab dengan Loh Yu-ka, sering ia menyeret orang tua
itu diajak ke tempat sepi seperti kelenteng Yo-tayhu itu untuk minum arak sambil
merecoki orang itu menceritakan kejadian2 menarik di dunia Kangouw, kalau sudah
begitu, maka acapkali berlangsung hingga hampir sehari suntuk dan kedua orang
tua dan muda itu sama2 gembiralah.
Kelenteng Yo-tayhu itu tidak jauh di luar kota, ketika mendengar kawan tua itu
meninggal di kelenteng itu, Kwe Yang ikut berduka, segera ia membawa satu Holo
(buii2) berisi arak penuh serta menjinjing sebuah keranjang sayur, seperti
biasanya ia terus menuju ke kelenteng itu.
Saat itu sudah hampir tengah malam, Kwe Yang mengeluarkan dua pasang sumpit dari
keranjangnya dan diatur secara berhadapan, dituangnya dua cawan arak pula, lalu
berkata: “Paman Loh, setengah bulan yang lalu kita baru saja makan-minum dan
mengobrol di sini, siapa duga sekarang engkau telah mengalami malapetaka,
apabila arwahmu mengetahui, silakan kemari minum arak lagi bersamaku ini.”
Habis berkata, ia siram secawan arak itu di lantai, ia sendiri lantas menenggak
habis secawan. Teringat kepada teman karib yang kini telah tiada itu, ia menjadi
berduka katanya sambil mencucurkan air mata: “Paman Loh, marilah kita habiskan
pula secawan!” – ia menyiram lagi secawan arak di lantai dan ia sendiri kembali
menghabiskan secawan.
Kemampuan minum arak Kwe Yang sebenarnya sedikit sekali, cuma sifatnya yang
terbuka dan suka bergaul dengan orang2 Kangouw, maka iapun ikut2an minum arak
dan bicara seperti orang dewasa. Kini setelah menghabiskan dua cawan,
mau-tak-mau mukanya menjadi merah, kepala rada pening.
Dalam kegelapan tiba2 seperti ada bayangan orang berkelebat di luar pintu
kelenteng sana, ia terkejut dan bergirang, disangkanya arwah Loh Yu-ka benar2
telah datang, segera ia berseru: “Apakah paman Loh? marilah kita minum dan
mengobrol”
Hatinya ber-debar2, tapi juga sangat ingin melihat arwah halus Loh Yu ka. Tapi
segera didengarnya seorang menegurnya: “Tengah malam buta kau main gila apa di
sini? ibu mencari kau, lekas pulang!” secepat itu pula seorang lantas menyelinap
masuk, kiranya Kwe Hu adanya.
Kwe Yang sangat kecewa, katanya: “Aku sedang memanggil arwah paman Loh untuk
bertemu di sini, dengan gangguanmu ini mana dia mau datang lagi? Cici, silakan
kau pulang dahulu, segera aku menyusul.”
“Kembali kau mengaco belo lagi, dalam benakmu yang kecil itu selalu berpikir
hal2 yang tidak karuan. Mana bisa arwah Loh Yu-ka mau menemui kau?”
“Biasanya dia sangat akrab denganku, apalagi sudah kusanggupi akan
memberitahukan sesuatu padanya sudah kujanjikan akan kuberitahu pada hari ulang
tahunku. Siapa tahu, dia tidak dapat menunggu lagi,” sampai di sini, anak dara
itu menjadi berduka lagi.
“Sekejap saja kau lantas menghilang, segera ibu menduga kau datang ke sini dan
ternyata tepat dugaan ibu,” kata Kwe Hu. “Hm, se-nakal2nya monyet kecil macammu
ini masakah dapat mengelabuhi perhitungan ibu? Kau benar2 teramat bandel, ibu
sangat marah, coba kalau Hotu itu bersembunyi di sekitar sini, sedangkan tengah
malam buta kau sendirian berada disini, kan sangat berbahaya?”
Kwe Yang menghela napas, katanya “Aku terkenang kepada paman Loh sehingga tidak
memikirkan bahaya lagi, O, Cici yang baik, temanilah duduk sebentar di sini,
boleh jadi arwah paman Loh akan datang benar2 menemui aku. Cuma engkau jangan
bersuara agar tidak mengejutkan dia.”
Biasanya Kwe Hu kurang menghormati Loh Yu-ka, menurut anggapannya bisanya Loh
Yu-ka diangkat menjadi Pangcu adalah karena dukungan ibunya, maka ia pikir kalau
betul arwah Loh Yu-ka akan datang juga tidak perlu ditakuti, iapun tahu watak
kepala batu adiknya itu, sekali sudah menyatakan hendak menunggu di situ, maka
sukar-lah disuruhnya pulang begitu saja kecuali kalau ayah-ibu datang sendiri
dan mengomelinya.
Maka ia lantas berduduk, katanya dengan gegetun: “Ji-moay, usiamu makin
menanjak, tampaknya kau semakin ke-kanak2an. Tahun ini kau sudah 16 tahun,
selang dua-tiga tahun lagi juga akan punya mertua, memangnya sesudah di rumah
mertua kau juga akan angin2an seperti ini?”
“Memangnya apa bedanya?” ujar Kwe Yang. “Setelah kau menikah dengan Cihu (kakak
ipar, suami kakak), bukankah kaupun tetap bebas merdeka seperti waktu masih
gadis?”
“He, mana boleh kau membandingkan Cihu-mu dengan orang Iain?” jawab Kwe Hu
dengan bangga, “Dia adalah ksatria sejati jaman kini, pengetahuan dan
pandangannya sudah tentu jauh lebih daripada orang lain, dengan sendirinya dia
takkan mengekang kebebasanku.
Bakat seperti Cihumu itu jasanya jarang ada bandingannya di antara jago2
angkatan muda sekarang. Kelak kalau bakal suamimu ada setengah kepandaiannya
saja, kukira ayah-ibu sudah cukup merasa puas.”
Mendengar ucapan sang Taci yang sombong itu, Kwe Yang balas mcncibir, katanya:
“Sudah tentu Cihu adalah tokoh yang hebat, cuma aku tidak percaya bahwa di dunia
ini tiada orang lain yang melebihi dia.”
“BoIeh lihat saja nanti kalau kau tidak percaya” ujar Kwe Hu.
“Aku justeru mempunyai seorang kenalan yaog berpuluh kali lebih hebat daripada
Cihu,” kata Kwe Yang.
Keruan Kwe Hu menjadi gusar, teriaknya: “Siapa dia? Hayo katakan lekas!”
“Untuk apa kukatakan? Asalkan aku sendiri tahu di dalam hati saja, kan cukup?”
jawab Kwe Yang.
“Huh, apakah kau maksudkan Li-samte? atau Ong Kiam bu? Atau Tio Si-kong?” jengek
Kwe Hu-Yang disebutnya itu adalah beberapa ksatria muda yang ganteng kenalan
mereka.
Namun Kwe Yang menggeleng, katanya: “Bukan, bukan! Memadai Cihu saja mereka
tidak dapat, mana bisa dikatakan lebih hebat berpuluh kali daripada nya?”
“Habis siapa?” Kwe Hu menegas-, “Ya, kecuali Gwakong kita, atau ayah dan ibu
atau paman Cu Cu-liu dan beberapa ksatria angkatan tua,”
“Tidak, orang yang kumaksud itu justeru lebih muda daripada Cihu, wajahnya juga
lebih cakap, sedangkan ilmu silatnya jauh lebih tinggi daripada Cihu, hakikatnya
bedanya seperti langit dan bumi, sama sekali tak dapat dibandingkan….”
Setiap kalimat diucapkan Kwe Yang, setiap kali pula disambut oleh Kwe Hu dengan
mencemoohkan: “Cis, cis, cis!”
Tapi Kwe Yang tidak peduli, ia menyambung pula: “Jika kau tidak mau percaya, ya
terserah padamu, Pokoknya orang itu sangat baik budi, siapapun yang ada
kesukaran, tak peduli kenal atau tidak selalu dia suka memberi pertolongan.”
Bicara sampai akhirnya, wajahnya yang cantik itu tampak memandang kesima ke
depan seperti mengenangkan sesuatu yang sukar dilupakannya.
Dengan gusar Kwe Hu lantas berkata: “Dalam benakmu yang kecil ini selalu
berkhayal saja. Baik-lah, setelah matinya Loh Yu-ka, jabatan Pangcu menjadi
lowong, tadi ibu mengatakan, mumpung para pahlawan berkumpul di sini, maka
kesempatan ini sebaiknya digunakan mengadakan pemilihan Pangcu. Biarlah orang
banyak ikut bertanding, siapa yang berkepandaian paling tinggi, dia yang
diangkat menjadi Pangcu, dengan begitu persengketaan antara Ut-ih-pay (aliran
baju kotor) dan Ceng-ih-pay (aliran baju bersih) dalam Kaypang dapat
dihindarkan.
Kalau orang yang kau anggap hebat itu benar2 lihay, nah boleh kau suruh dia maju
dan bertanding dengan Cihumu untuk memperebutkan kedudukan Pangcu.”
“Hihi, belum tentu dia kepengin menjadi Pangcu kaum jembel begitu,” ujar Kwe
Yang dengan tertawa.
“Hm, kau berani meremehkan kedudukan Pang-cu?” semprot Kwe Hu dengan marah.
“Dahulu kedudukan itu pernah di jabat Ang Jit-kong, ibu kita juga pernah
menjabatnya, masakah kau berani menghina Ang- lokongkong dan ibu?”
“Baik aku pernah menghina beliau2 itu, kan kau sendiri yang bilang? Kau
sendiripun tahu aku sangat akrab dengan paman Loh dan bergaul baik dengan kaum
jembel lain,”
“Baiklah, boleh kau suruh pahlawanmu itu bertanding dengan Cihumu,” kata Kwe Hu
pula. “Sementara ini para ksatria sama berkumpul di Siangyang, lihat saja nanti,
siapa pahlawan dan siapa kerbau, sekali gebrak segera akan ketahuan.”
“Cici, bicaramu memang suka melamur tak genah, bilakah kubilang Cihu adalah
kerbau? Kalau dia kerbau, bukankah engkaupun menjadi hewan? Padahal kita
dilahirkan dari satu ibu, kan aku ikut kurang terhormat?”
Kwe Hu menjadi serba runyam, ya dongkol dan geli, ia lantas berbangkit dan
berkata: “Aku tidak ada waktu buat ribut dengan kau. Hayolah pulang, jangan2
nanti aku ikut didamprat”
Kwe Yang bersifat lincah dan pintar bicara, biasanya memang suka adu mulut
dengan sang Ta-ci, segera ia ber-olok2 pula: “Ai, engkau kan nyonya muda yang
sudah menikah, biasanya ayah dan ibu juga paling sayang padamu, engkau juga
isteri calon pangcu, siapakah gerangannya yang sudah makan “hati harimau
sehingga berani mendamperat kau?”
Mendengar adiknya menyebutnya “isteri calon Pangcu”, hati Kwe Hu menjadi senang,
katanya: “Sekian banyak kaum ksatria berkumpul di sini, siapa orangnya yang
tidak ingin menjadi Pangcu? Cihumu juga belum tentu akan terpilih, sebaiknya kau
jangan bicara muluk2 dahulu agar tidak ditertawakan orang.”
Kwe Yang termangu2 sejenak pula, dilihatnya bulan setengah bulat itu menghiasi
cakrawala yang kelam, suasana sunyi sepi, katanya kemudian dengan gegetun:
“Tampaknya arwah paman Loh takkan datang, Cici, mengapa begini cepat mengangkat
Pangcu? pengganti paman Loh kan dapat ditunda sementara waktu agar kita dapat
lebih lama mengenangkan jasa beliau.”
“Kembali kau bicara seperti anak kecil,” ujar Kwe Hu “Kay-pang adalah organisasi
terbesar di dunia Kangouw, naga tanpa kepala, mana boleh jadi?”
“Ibu bilang kapan akan diadakan pemilihan Pangcu?” tanya Kwe Hu.
“Tanggal 15 adalah hari pembukaan Eng-hiong-tay-hwe dengan acara utama bagaimana
menghimpun para pahlawan dari segenap penjuru untuk bersama2 melawan Mongol.
Musyawarah itu bisa berlangsung hingga lima enam hari atau bisa juga 8-9 hari.
Jadi pemilihan ketua Kay-pang itu kukira baru dapat diselenggarakan pada tanggal
23 atau 24 nanti.”
“Ahhhh!” Kwe Yang bersuara tertahan “Ada apa?” tanya Kwe Hu.
“Tidak apa2,” jawab Kwe Yang, “Soalnya tanggal 24 adalah bertepatan dengan hari
ulang tahun-ku, Karena kesibukan kalian dalam pemilihan pangcu itu, tentunya ibu
menjadi tidak sempat merayakan hari ulang tahunku nanti.”
“Hahahaha!” Kwe Hu bergelak tertawa, “Cuma hari ulang tahun anak dara seperti
kau ini memangnya begitu penting? Mana boleh kau anggap urusan penting pemilihan
pangcu itu justeru mengganggu hari ulang tahunmu? Haha, kalau didengar orang
bisa jadi gigi orang akan rontok menertawakanmu, Ai, mungkin di dunia ini hanya
kau saja yang selalu ingat kepada urusan tetek bengek begitu?”
Dengan muka merah padam Kwe Yang menjawab: “Umpama ayah tidak ingat ibu pasti
ingat. kau bilang urusan tetek bengek, aku justeru bilang ini urusan penting,
Sekali ini ulang tahunku genap berusia 16. kau tahu tidak?”
Kwe Hu tambah geli dan ber-oIok2: “Ya, ya! Pada hari itu nanti, berpuluh ksatria
dan pahlawan yang berada di Siangyang ini akan hadir memberi selamat kepada
Kwe-jisiocia kita, setiap orang akan menyumbangkan kado padamu, sebab tahun ini
Kwe-jisocia kita genap berusia 16 dan bukan lagi anak dara melainkan sudah nona
besar, Hahahaha!”
“Orang lain mungkin takkan ambil pusing, tapi paling sedikit ada seorang
pahlawan besar pasti ingat kepada hari ulang tahunku, dia sudah berjanji akan
datang menemui aku,” kata Kwe Yang dengan rasa bangga.
“Ah, pahlawan besar apakah? Ya, tahulah aku, tentu pahlawan yang jauh lebih
hebat daripada Cihumu itu,” ujar Kwe Hu. “lngin kukatakan padamu, pertama, di
dunia ini hakikatnya tiada tokoh nomor satu begituan, hanya benakmu sendiri yang
berkhayal seperti itu. Kedua, seumpama ada orang begitu, betapa banyak urusan
penting yang harus dilakukannya, mana dia mau datang memberi selamat kepada anak
dara seperti kau ini. Kecuali dia juga menghadiri Eng-hiong-tay-hwe, kalau tidak
masakah dia datang ke Siangyang ini.”
Hampir2 menangis Kwe Yang oleh olok2 sang taci, sambil banting2 kaki ia berseru:
“Dia sudah berjanji padaku, dia sudah berjanji. Dia takkan menghadiri Eng-hiong
tay-hwe dan juga tak ikut berebut pangcu segala.”
“Dia bukan Enghiong, dengan sendirinya ayah takkan mengirim Eng-hiong-tiap
padanya,” kata Kwe Hu. “Sekalipun dia ingin menghadiri pertemuan besar ini
kukira juga belum memenuhi syarat.”
Kwe Yang mengusap air matanya dengan sapu-tangan kecil, katanya. “Jika begitu
akupun takkan hadir pada pertemuan kalian itu, masa-bodoh kalian hendak
mengangkat Pangcu segala, betapapun ramainya juga aku takkan meiihatnya.”
“Aduh, jika Kwe-jisiocia kita tidak hadir, lalu bagaimana jadinya
Eng-hiong-tay-hwe itu nanti?” demikian Kwe Hu ber-olok2 pula. “Yang terpilih
menjadi Pangcu nanti juga kurang gemilang, mana boleh kau tidak hadir.”
Sambil menutupi kedua telinganya Kwe Yang terus berlari keluar kelenteng, Tapi
mendadak bayangan berkelebat tahu2 diambang pintu kelentertg telah berdiri
seorang dan mengalang jalan keluarnya, keruan Kwe Yang kaget, cepat ia melompat
mundur sehingga tidak bertubrukan dengan pengadang-nya itu.
Di bawah cahaya bulan tertampak perawakan orang itu sangat jangkung, mukanya
hitam, anehnya tubuh bagian atas ternyata sangat cekak, hanya bagian pinggang ke
bawah yang teramat panjang. Setelah diawasi lebih teliti baru tahu jelas,
rupanya kedua kaki orang itu buntung, kedua ketiaknya di sanggah dengan sepasang
tongkat yang panjangnya-hampir dua meter, karena itulah lengan celananya menjadi
bsrgoyang-gontai di bagian bawah, orang pendek memakai egrang sehingga menjadi
orang jangkung.
“He, kau, Nimo Singh!” seru Kwe Hu terkejut.
Kiranya orang ini memang betul Nimo Singh adanya. Sekali ini raja Mongol
memimpin sendiri pasukannya ke selatan, maka segenap jago silat benua barat dan
Mongol telah dikerahkan, setiap orang sama berharap dapat memamerkan
kemahirannya dalam pertempuran nanti untuk mendapatkan pahala dan kedudukan.
Meski kedua kaki Nimo Singh sudah buntung, tapi ilmu silatnya belum punah,
selama gembleng belasan tahun itu, sepasang tongkat penyanggah tubuhnya itu
dapat dimainkan terlebih lihay daripada sebelum buntung kakinya.
Sementara ini pasukan Mongol masih ratusan li di utara Siangyang, tapi para
pengintai yang terdiri dari jago2 silat pilihan seperti Nimo Singh dan lain2
sudah tiba lebih dulu di sekitar Siangyang.
Malam ini maksudnya hendak menginap di kelentong Yo-tayhu ini tak terduga
didengarnya percakapan Kwe Hu berdua, keruan ia menjadi kegirangan, ia tahu
berhasilnya Siangyang dipertahankan sekian lama oleh kerajaan Song adalah berkat
perjuangan Kwe Cing, kalau sekarang kedua puteri kesayangannya ini ditawan,
andaikan tak dapat memaksa Kwe Cing menyerah, sedikitnya juga dapat mengacaukan
semangatnya dan sungguh suatu jasa besar baginya bila dilaporkan kepada raja
Mongol.
Karena itulah ia lantas menjawab: “Eh, nona Kwe, sungguh bagus daya ingatanmu,
ternyata kau tidak pangling padaku, Baiklah, supaya tidak membikin susah kedua
pihak, silakan kalian ikut padaku saja.”
Gusar dan kuatir pula Kwe Hu, ia tahu ilmu silat orang Hindu ini sangat lihay,
sekalipun dirinya kakak beradik maju sekaligus juga bukan tandingannya. Tanpa
terasa ia melotot gusar pada Kwe Yang, pikirnya: “Semua ini gara2mu, coba cara
bagaimana harus menghadapi bahaya di depan mata sekarang?”
Sebaliknya Kwe Yang telah berkata pada Nimo Singh: “Eh, kenapa kedua kakimu itu
begitu aneh? Sebelum buntung dahulu apakah juga sepanjang itu?”
Nimo Singh hanya mendengus saja dan tidak menggubrisnya, tapi lantas berkata
pula kepada Kwe Hu: “Kalian berjalan di depan, jangan sekali2 timbul pikiran
hendak melarikan diri.” – Nyata dia telah anggap kakak beradik itu sebagai
tawanannya yang sudah berada dalam genggamannya.
Kwe Yang lantas berkata pula: “He, cara bi-caramu ini sungguh aneh, tengah malam
buta kau suruh kami kakak beradik pergi ke mana?”
“Jangan banyak bicara, lekas ikut pergi!” bentak Nimo Singh, ia kuatir
kedatangan musuh yang kini banyak berkumpul Siangyang dan usahanya ini mungkin
bisa gagal, maka ingin lekas2 pergi.
“Jimoay, si cebol ini adalah jagoan pihak Mongol, kepandaiannya cukup lihay,
marilah kita mengerubutnya dari kanan dan kiri,” bisik Kwe Hu kepada adiknya.
Habis barkata, “sret”, segera ia melolos pedang terus menusuk ke pinggang musuh.
Kwe Yang tidak membawa senjata, ia lihat Nimo Singh tidak mempunyai kaki,
bisanya berdiri adalah berkat tongkatnya saja, sekarang sang Taci menyerangnya,
apakah dia bisa menangkisnya?
Dasar hati Kwe Yang memang welas asih, maka ia berbalik berseru: “He, Cici,
orang ini harus dikasihani jangan dilukai!” .
Tak terduga, belum lenyap suaranya, mendadak Nimo Singh menyangga tubuhnya
dengan tongkat kiri, tongkat kanan terus menyabet, “trang” tongkat membentur
pedang Kwe Hu dan memercikkan lelatu api dalam kegelapan, pedang Kwe Hu hampir
saja terlepas dan cekalan.
Seketika Kwe Hu merasa tangannya kesemutan dan dada sakit Cepat ia menggeser ke
samping dan menyerang pula, ia mainkan “Wat-li-kiam hoat” dan menempur Nimo
Singh dengan sengit.
Wat li-kiam hoat atau ilmu pedang gadis cantik diajarkan Kwe Cing kepada
puterinya ini untuk mengenang salah seorang gurunya dari Kanglam-jit-koay, yaitu
Han Siao-eng yang tewas secara mengenaskan di Mongol.
ilmu pedang ini mengutamakan kelincahan dan kegesitan, akan tetapi karena
terbatas oleh tenaga, betapapun Kwe Hu memang bukan tandingan Nimo Singh.
Melihat cara Nimo Singh menggunakan kedua tongkatnya dengan bergantian, yang
satu digunakan menyangga tubuh, yang lain lantas digunakan menyerang, gerak
geriknya cepat dan gesit tiada ubahnya seperti orang yang berkaki, apalagi kedua
tongkatnya itu sangat panjang, dari atas menggempur ke bawah, daya serangannya
menjadi lebih hebat, jelas sang Taci tidak sanggup melawannya, baru sekarang Kwe
Yang merasa kuatir.
Sesungguhnya kepandaian Nimo Singh memang jauh lebih tinggi daripada Kwe Hu,
hanya kepandaian nona itu adalah ajaran Kwe Cing dan Ui Yong yang lihay, maka
dapatlah Kwe Hu bertahan sekian lama, tapi dirasakannya tekanan tongkat musuh
semakin berat sehingga sukar ditangkis lagi.
Nampak kakaknya terdesak, tanpa pikir lagi Kwe Yang lantas menubruk maju dengan
bertangan kosong.
“Kena!” mendadak Nimo Smgh berteriak tongkat kiri menutul lantai, tubuhnya
mengapung ke atas, kedua tongkat digunakan sekaligus untuk menyerang, tongkat
yang satu kena menutuk bahu kiri Kwe Yang, tongkat lain tepat menutuk Hiat to di
dada Kwe Hu.
Kwe Yang tergeliat sempoyongan dan mundur beberapa tindak. sedangkan Kwe Hu
cukup berat ditutuk oleh tongkat lawan, ia tidak tahan dan “bluk”, jatuh
terduduk.
Gesit luar biasa Nimo Singh, cepat lagi keji, begitu tongkatnya menutul pelahan,
segera ia mendesak maju ke depan Kwe Hu sambil menjengek: “Nah, sudah kukatakan
ikut saja padaku…”
Di luar dugaannya, mendadak Kwe Hu sambil berseru: “Jimoay, lekas lari ke
belakang!”
Nimo Singh terkejut, sudah jelas Hiat-to di dada Kwe Hu kena ditutuknya dengan
ujung tongkat, mengapa nona itu masih dapat bergerak dengan bebas? ia tidak tahu
bahwa Kwe Hu memakai baju wasiat berduri landak (Nui-wi-kah) pemberian sang ibu,
disangkanya keluarga Kwe punya ilmu kekebalan yang tidat mampu ditutuk dan tidak
mempan dilukai.
Padahal setelah terkena tutukan tongkat tadi, meski tidak beralangan apa2, namun
rasa sakitnya juga tidak kepalang, dan kurang leluasa lagi buat bergerak. Tapi
Kwe Yang lantas memainkan ilmu pukulan “Lok-eng-ciang-hoat” dan melindungi di
belakang sang Taci sambil berseru: “Cici, engkau saja lari lebih dulu!”
Namun sebelum mereka angkat kaki, tahu2 Nimo Singh melayang lewat di atas mereka
dan mengadang di depan Kwe Hu sambil membentak “jangan bergerak!”
Kwe Yang menjadi gusar dan mendamperat: “Tadinya kau harus dikasihani tak
tahunya kau begini jahat!”
“Hahaha!” Nimo Singh bergelak tertawa. “Anak dara, rupanya kau belum kenal
kelihayan kakek sebelum tahu rasa.”
Habis ini, kedua tongkatnya bergantian melangkah maju sehingga menerbitkan suara
“tok-toktok” yang keras, dengan muka menyeringai selangkah demi selangkah ia
mendesak maju. Keruan Kwe Hu dan Kwe Yang melangkah mundur dengan ketakutan.
Selama hidup Kwe Yang belum pernah melihat wajah orang sebengis ini, dilihatnya
kedua mata Nimo Singh melotot, mukanya beringas dan muIutnya menyeringai iblis,
tampak pula taringnya yang runcing putih, se-akan2 drakula yang akan menerkam
dan menggigit lehernya, saking takutnya ia menjerit ngeri.
Pada saat itulah tiba2 Kwe Yang mendengar suara halus berkata di belakangnya:
“Jangan takut, serang dia dengan Am-gi (senjata rahasia)!”
Dalam keadaan gawat begitu, tak berpikir lagi oleh Kwe Yang siapa yang bicara
itu, segera ia meraba bajunya, tapi lantas disadarinya dia tidak membawa senjata
apapun juga, katanya dengan cemas: “Aku tidak membawa Am-gi.”
Sementara itu Nimo Singh telah mendesak maju Iagi, ia menjadi bingung dan
terpaksa kedua tangannya disodorkan ke depan dengan gaya membela diri.
Tak terduga baru saja tangannya menjulur ke depan, se-konyong2 dari belakang
se-akan2 ditiup serangkum angin, lengannya terasa tergetar pelahan, sepasang
gelang untiran emas yang dipakainya itu tahu2 terlepas dari pergelangan
tangannya dan melayang ke depan, “tring-tring”, sepasang gelang emas itu
membentur kedua tangan Nimo Singh.
Tampaknya benturan itu sangat pelahan, tapi entah mengapa, Nimo Singh ternyata
tidak sanggup memegangi lagi kedua tongkatnya dan mendadak ia terlempar keras ke
belakang, “blang-blang” dua kali kedua tongkat membentur dinding dan membikin
debu pasir sama rontok.
Karena tongkat penyangganya terlepas dari cekalan, tubuh Nimo Singh lantas
jatuh, tapi si cebol ini memang lihay juga, baru punggungnya menempel lantai,
sekali melejit, tahu2 ia meloncat lagi ke atas, sepuluh jarinya yang berkuku
panjang tajam itu terus menubruk ke arah Kwe Yang.
Dalam kagetnya tanpa pikir Kwe Yang cabut tusuk kundai kemala hijau yang
dipakainya itu terus disambitkan ke depan, terasa angin meniup pula lari
belakangnya, tusuk kundai itu disurung cepat ke depan.
Melihat samberan tusuk kundai itu sangat aneh, cepat kedua telapak tangan Nimo
Singh memapak ke depan, tapi terdengarlah dia bersuara tertahan, lalu jatuh
terdukuk pula dan tidak bergerak lagi.
Kuatir musuh main akal licik, cepat Kwe Yang melompat ke samping Kwe Hu dan
berseru dengan-suara gemetar: “Cici, le…. lekas lari!”
Tapi mereka melihat Nimo Singh tetap diam saja tanpa bergerak sedikitpun
ditunggu lagi sejenak juga tetap begitu, Kwe Hu menjadi berani katanya: “Apakah
dia kena penyakit angin duduk dan mati mendadak?”
Segera ia membentak “Nimo Singh, kau main gila apa?”
Kwe Hu pikir musuh sudah kehilangan tongkat dan tidak leluasa bergerak, tentunya
tidak perlu ditakuti lagi, dengan pedang terhunus ia lantas mendekatinya.
Dilihatnya kedua mata Ntmo Singh mendelik dengan penuh rasa ketakutan, mulut
ternganga lebar ternyata sudah mati sejak tadi.
Kejut, heran dan girang pula Kwe Hu, cepat ia menyulut lilin pada altar
sembahyangan, “belum lagi ia sempat memeriksa lebih jauh, tiba2 terdengar suara
orang berteriak di luar kelenteng. “Hu-moay Jimoay, apakah kalian berada di
dalam kelenteng? Nyata itulah suaranya Yalu Ce.
Dengan girang Kwe Hu lantas menjawab: “Lekas kemari, kakak Ce, sungguh kejadian
sangat aneh!”
Sejenak kemudian Yalu Ce berlari masuk dengan dua anggota Kay-pang berkantong
enam, Iapun terkejut melihat Nimo Singh tewas menggeletak di situ, ia tahu ilmu
silat Nimo Singh sangat tinggi, sekalipun dirinya juga bukan tandingannya, tapi
kini jagoan Hindu itu ternyata bisa dibunuh oleh isterinya, sungguh sangat di
luar dugaan.
Segera ia mengambil tempat lilin dari tangan Kwe Hu dan mendekati Nimo Singh,
setelah diperiksanya, ia tambah keheranan Ternyata kedua telapak tangan Nimo
Singh sama berlubang, sebuah tusuk kundai kemala hijau tepat menancap pada
Sin-ting-hiat di batok kepalanya.
Padahal tusuk kondai kemala itu sangat mudah patah, namun dapat menembus telapak
tangan seorang jago silat kenamaan dan dan sekaligus membinasakannya maka betapa
lihay kepandaian pemakai tusuk kundai ini sungguh sukar diukur dan dibayangkan
Yalu Ce lantas berpaling dan tanya Kwe Hu:
“Apakah Gwakong datang ke sini? Lekas pertemukan aku dengan beliau.”
Kwe Hu menjadi heran, jawabnya: “Siapa yang bilang Gwakong datang ke sini?”
“Bukan Gwakong?” Yalu Ce menegas, mendadak ia menjadi girang dan menambahkan
“Aha, jika begitu Guruku yang datang!”
Lalu ia memandang sekeliling situ, namun tidak dilihatnya sesuatu jejak Ciu
Pek-thong, gurunya itu jenaka dan suka bergurau bisa jadi sengaja sembunyi untuk
membuatnya kaget, Cepat ia berlari keluar kelenteng dan melompat ke wuwungan
untuk memeriksa sekitar, namun tiada sesuatupun yang ditemukannya, terpaksa ia
melompat turun kembali.
“He, apa2an kau bilang Gwakong dan Suhu segala?” tegur Kwe Hu dengan bingung.
Yalu Ce lantas bertanya cara bagaimana mereka kepergok Nimo Singn dan mengapa
orang itu bisa tewas begitu saja?
Kwe Hu lantas menceritakan apa yang terjadi tadi, tentang tusuk kundai adiknya
itu dapat menancap mati Nimo Singh, ia sendiripun tidak dapat menjelaskan.
“Di belakang jimoay pasti ada seorang kosen yang membantu secara diam2,” ujar
Yalu Ce. “Ku kira orang yang memiliki kepandaian setinggi ini jaman kini selain
ayah mertua hanyalah Gwakong kita Uitocu, guruku, It-teng Taysu serta Kim-lun
Hoat-ong saja berlima.
Kim-lun Hoat-ong adalah Koksu Mongol, tentunya dia takkan membunuh kawan
sendiri, sedangkan It teng Taysu tidak sembarangan mau melanggar pantangan
membunuh, maka kukira kalau bukan Gwakong tentulah guruku, Jimoay, coba
jelaskan, siapakah gerangan orang yang membantumu itu?”
Kelika menyambitkan tusuk kundainya tadi dan membinasakan Nimo Singh, Kwe Yang
segera menoleh dan tidak melihat bayangan seorangpun, maka diam2 ia meresapi
ucapan “jangan takut, serang dia dengan Am-gi”, ia merasa suara itu sudah
dikenalnya, ia menjadi sangsi apakah Nyo Ko adanya? Maka waktu ditanya Yalu Ce,
seketika ia tak dapat menjawab karena dia masih kesima merenungkan suara itu.
“He, kenapa kau, Jimoay?” seru Kwe Hu sambil menarik lengan adiknya, ia kuatir
jangan2 adiknya itu menjadi Iinglung karena kejadian yang menakutkan tadi.
Tiba2 air muka Kwe Yang berubah menjadi merah dan menjawab: “O, tidak apa2.”
“Cihu bertanya padamu siapa yang membantu tadi, kau dengar tidak?” kata Kwe Hu
dengan mendongkol.
“O, siapakah yang membantuku membinasakan orang jahat ini? Ah, sudah tentu dia!
Kecuali dia siapa lagi yang memiliki kepandaian setinggi ini?” kata Kwe Yang.
“Dia? Dia siapa?” Kwe Hu menegas. “Apakah pahlawan besar yang kau katakan itu?”
“O, tidak, tidak! Kumaksudkan arwah halus paman Loh,” jawab Kwe Yang cepat.
“Cis!” semprot Kwe Hu sambil mengipatkan tangan adiknya itu.
“Memangnya apakah kau melihat sesuatu bayangan orang?” kata Kwe Yang pula,
“Pastilah paman Loh yang melindungi aku secara diam2. Kau tahu, semasa hidupnya
paman Loh sangat karib denganku.”
Sudah tentu Kwe Hu menyangsikan cerita Kwe Yang itu, namun memang nyata tadi
dirinya tidak melihat sesuatu bayangan orang dan tahu2 Nimo Singh sudah mati.
Sementara itu Yalu Ce sedang memeriksa kedua tongkat Nimo Singh, katanya dengan
gegetun: “Kepandaian sehebat ini, sungguh sangat mengagumkan.”
Waktu Kwe Hu dan Kwe Yang ikut meneliti, tertampak setiap tongkat itu terbingkai
sebuah gelang emas untiran. Padahal gelang itu cuma terbuat dari untiran emas
yang halus, tapi orang dapat mendorongnya dengan tenaga dalam yang dahsyat dan
membentur jatuh kedua tongkat Nimo Singh, pantasIah kalau Yalu Ce merasa gegetun
dan kagum tidak kepalang.
“Marilah kita perlihatkan pada ibu, siapakah sebenarnya orang yang membantu
jimoay secara diam2 itu, tentu ibu mengenalnya,” ujar Kwe Hu.
Nimo Singh dan sepasang tongkatnya segera dibawa kedua anak murid Kay pang dan
ikut Yalu Ce pulang ke kota.
Ketika Kwe Cing dan Ui Yong mendengar cerita Kwe Hu dan membayangkan betapa
berbahaya kejadian itu, mau tak-mau Kwe Cing terperanjat.
Semula Kwe Yang menyangka keonaran yang diterbitkannya ini pasti akan mendapat
persen damperatan, tapi Kwe Cing justeru gembira oleh keberanian dan tinggi budi
puteri kecil yang menurunkan gaya sang ayah itu, ia tidak mendamperat, malah
menghiburnya. Begitu pula demi nampak sang suami tidak gusar, maka Ui Yong
segera saja merangkul puteri kecil itu dengan penuh sayangnya.
Tapi kemudian setelah dilihatnya mayat Nimo Singh serta keadaan kedua
tongkatnya, Ui Yong ter-menung2, kemudian ia baru tanya Kwe Cing: “Cing-toko,
siapakah orangnya menurut kau?”
“Tenaga dalam orang ini mengutamakan keras dan kuat, setahuku,selamanya hanya
ada dua orang” sahut Kwe Cing.
“Ya, tapi guru berbudi kita Ang Jit-kong sudah lama wafat, pula bukan kau
sendiri,” ujar Ui Yong.
Ia coba menanya lebih jelas tentang kejadian di kelenteng itu, namun tetap tak
bisa diterkanya.
Sesudah Kwe Hu dan Kwe Yang kembali ke-kamar masing2, segera Ui Yong berkata
lagi pada sang suami: “Cing-koko, kau tahu tidak puteri ke-dua kita ada apa2
yang membohongi kita.”
“Membohong? Membohong apa?” tanya Kwe Cing heran. Nyata wataknya sangat
sederhana dan jujur, maka tidak pernah ia mencurigai orang lain.
“Sejak kembalinya dari utara mengantar kartu undangan,” demikian tutur Ui Yong,
“seorang diri ia selalu ter-menung2, cara bicaranya malam ini juga sangat aneh.”
“Ia terkejut, sudah tentu pikirannya tidak tenang,” ujar Kwe Cing.
“Bukan, bukan,” sahut Ui Yong, “la sebentar malu2 kucing, lain saat tersenyum
kecil, itu sekali2 bukan karena terkejut,.tapi, dalam hatinya justeru merasa
senang tak terkatakan.”
“Anak kecil mendadak mendapat bantuan orang kosen, sudah tentu akan terkejut
serta kegirangan, apapun tak perlu dibuat heran,” kata Kwe Cing Iagi.
Ui Yong tersenyum, ia tidak buka suara pula, tapi dalam hati ia berkata:
“Perasaan anak perempuan yang dirundung asmara, waktu mudamu saja kau tak paham,
sampai tua juga kau tetap tak mengerti!”
Karena itu, lalu iapun belokkan pokok percakapan mereka tentang siasat2 yang
harus digunakan, untuk menghadapi musuh serta acara2 penyambutan tamu dalam
perjamuan ksatria besok.Habis itu masing2pun pergilah mengaso.
Tapi di atas ranjang Ui Yong sukar pulas, sebentar2 ia terbayang oleh sikap
puteri kecil yang aneh itu, pikirnya: “Pada waktu anak perempuan ini baru lahir
lantas mengalami kesukaran, selama ini aku selalu berkuatir hidupnya akan banyak
terjadi alangan, tapi syukurlah selama 16 tahun ini telah dilewatkan dengan
selamat, apakah mungkin sekarang inilah bakal terjadi sesuatu atas dirinya?”
Apabila teringat olehnya musuh sudah dekat, malapetaka yang akan datang bakal
dihadapi oleh setiap penduduk kota, jika sebelumnya bisa diketahui, sedikit apa2
yang bakal terjadi juga ada gunanya untuk ber jaga2.
Namun tabiat puteri kecil ini sangat aneh, apa yang tak ingin dikatakannya tetap
tak dikatakan, betapapun orang tua membujuk dan mendamperatnya, ia tetap bungkam
dalam seribut basa, dalam keadaan begitu orang tua jadi kewalahan.
BegituIah makin dipikir perasaan Ui Yong semakin tak enak, diam2 ia berbangkit
dan menuju ke pintu kota, ia suruh penjaga benteng membukakan pintu terus menuju
ke kelcmeng Yo-tayhu di barat kota.
Tatkala itu sudah jauh lewat tengah malam, bintang guram dan rembulan suram.
Ui Yong keluarkan ilmu entengi tubuhnya yang tinggi berlari ke sana. Ketika
dekat kelenteng Yo-tayhu itu, tiba2 terdengar di belakang tugu “Tui-lui pi ada
suara percakapan orang, Lekas2 Ui Yong mendekam ke tanah dan merunduk maju
pelahan, setelah beberapa tombak dari tugu itu, ia mengumpet di belakang pohon
besar.
Terdengar seorang berkata: “Sun-toako, In kong (tuan penolong) suruh kita
menanti dibelakang Tui-lui-pi (tugu mencucurkan air mata) ini. Sebab apakah tugu
ini diberi nama yang begini menyedihkan, bukankah ini alamat jelek?”
“lnkong agaknya selalu hidup kurang senang, oleh sebab itu bila mendengar nama2
tentang Tui-pi (mengucurkan air mata),” Yu-jiu” (bersedih) dan lain2 yang
menyedihkan lantas mudah teringat akan nasibnya,” demikian sahut orang she Sun
itu.
“Ah, orang berkepandaian tinggi seperti Inkong, seharusnya tiada urusan sulit
baginya,” ujar orang yang duluan, “Tapi kulihat wajahnya senantiasa bermuram
durja. Tui-lui-pi” ini mungkin sekali dia sendiri yang menamakannya.”
“ltulah bukan,” sahut orang she Sun, “Aku pernah mendengar cerita kuno bahwa
kelenteng Yo-taybu ini didirikan orang di kaki bukit Hian, ini untuk memperingat
seorang menteri bernama Yo Koh yang sangat cinta pada rakyat di daerah sekitar
sini, maka telah didirikan pilar (atau tugu) sebagai tanda jasanya.
Rakyat yang melihat pilar ini lantas ingat pada kebaikannya dan saking terharu
banyak yang menangis, sebab itu pilar ini disebut Tui-lui-pi (tugu mencucurkan
air mata), Tan lakte, hidup manusia kalau bisa seperti Yo tayhu ini barulah
boleh dikata seorang laki2 sejati.”
“lnkong selamanya membela keadilan di Kangouw hingga banyak dipuji orang, bila
ia menjadi pembesar negeri di Siangyang, boleh jadi namanya akan lebih cemerlang
daripada Yo tayhu nya orang she Tao.”
“Benar,” sahut si orang she Su, “malahan Kwe-tayhiap yang namanya terkenal
diseluruh jagat memiliki kebaikan yang meliputi apa yang dipunyai Yo-tayhu dan
Inkong kita.”
Mendengar kedua orang itu memuji suaminya, sudah tentu diam2 Ui Yong senang,
tapi ia lantai berpikir juga: “Siapakah gerangannya Inkong (tuan penolong) yang
mereka maksudkan itu? Apakah mungkin orang yang diam2 menolong Yang-ji itu?”
Sementara itu terdengar si orang she Sun berkata pula. “Kita berdua dahulu
bermusuhan dengan Inkong, tapi kemudian jiwa kita malah dia yang menolong.
Caranya menghadapi musuh seperti kawan sendiri. sungguh boleh dikata melebihi Yo
Koh, Yo-tayhu. Menurut cerita kuno, dijaman Sam Kok waktu itu, Yo Koh menjaga
Siangyang dan bertempur melawan panglima Tang Go yang bernama Liok Gong, sewaktu
Yo Koh menyerbu daerah Tang Go, waktu perlu memotong tanaman rakyat untuk
rangsum pasukannya, ia berkeras mengganti kerugian penduduk setempat Waktu Liok
Gong sakit, ia malah mengirim obat untuknya dan Liok Gong pun sama sekali tidak
curiga terus mcminumnya, sesudah minum obat itu ternyata lantas sembuh sakitnya.
Begitulah betapa tinggi martabat Yo Koh sebagai manusia, sampai musuh sekalipun
sangat menghormati dan segan padanya,”
“Sewaktu Yo Koh meninggal, perwira dan tentara Tang Go yang menjadi musuhnya
juga ikut menangis sedih, Caranya menaklukkan hati manusia berdasarkan kebajikan
itulah baru benar2 disebut Enghiong (pahlawan sejati).”
“He, Sun samko,” tiba2 si orang she Tan berseru, “kau sebut2 Yo Koh, bukankah
nama ini sama suaranya dengan nama Inkong kita. . …”
“Sssst, diam, ada orang datang!” mendadak orang she Sun itu mendesis.
Ui Yong terkejut, benar segera terdengar dari bawah bukit ada suara orang
berlari mendatangi dalam hati iapun berpikir: “Nama yang sama suaranya dengan
“Yo Koh”,, apakah mungkin adalah Nyo Ko? Ah, tidak, tidak mungkin, Sungguhpun,
ilmu silat Ko-ji banyak maju juga tak nanti meningkat sampai tarap yang susah
diukur itu.” ..
Selang tak lama, orang yang datang itu tepuk2 tangan tiga kali, lantas orang she
Sun itu membalas tepuk tangan, orang yang datang itu mendekati tugu Tui-lui-pi,
lalu katanya: “Sun dan Tan berdua saudara, Inkong suruh kalian tak usah
menunggunya lagi, Tapi disini ada dua kartu nama Inkong agar kalian berdua lekas
mengirimkannya. Sun-samte mengirimkan kartu ini kepada Tio-lokunsu di Sin-yang,
HoIam, Sedang Tan-lakte hendaklah mengirimkan kartu yang ini kepada Liong-ah
Thauto di Oh-ah-san. Katakanlah pada mereka bahwa mereka berdua diminta
berkumpul di sini dalam waktu sepuluh hari.”
Maka terdengarlah orang she Sun dan Tan itu menyahut dengan hormat dan menerima
kartu undangan itu.
Percakapan orang2 itu membikin Ui Yong semakin heran dan terkejut.
Kiranya Tio-lokunsu atau si guru silat tua sho Tio yang disebut itu adalah
keturunan lurus dari kerajaan Song, ilmu pukulan 32 jurus Tiang kun dan 18 jurus
permainan toyanya sangatlah terkenal. Sedang Liong-ah Thauto atau si paderi
berambut bisu dan tuli dari Oh-ah-san adalah jago silat pendaman yang sangat
tersohor di daerah Ohlam. Cuma sejak kecilnya bisu dan tuli, meski ilmu silatnya
sangat tinggi, namun selamanya tiada hubungan dengan orang luar.
Karena adanya Eng-hiong-tay-hwe atau perjamuan besar kaum ksatria, Kwe Cing dan
Ui Yong tahu kedua orang itu suka menyepi dan pasti tidak suka tampil ke dunia
ramai, tapi untuk menghormati nama mereka, toh kartu undangan tetap dikirim,
namun betul juga, kedua orang itu membalas dengan surat, dengan alasan halus
mereka menolak untuk hadir.
Tapi kini “lnkong” yang disebut itu apakah benar2 begitu hebat hingga melulu
berdasarkan secarik kartu namanya lantas kedua tokoh terpendam itu sudi datang
dalam waktu 10 hari yang ditentukan? Demikian Ui Yong berpikir penuh tanda
tanya.
Tapi bila ia pikir pula, tiba2 ia menjadi kuatir. Besok perjamuan besar kaum
ksatria sudah akan dibuka, kini ada seorang sedang mengumpulkan tokoh2 Kangouw
ternama ke Siangyang, apakah tujuannya? jangan2 hendak membantu pihak Mongol?
Namun bila mengingat watak Tio-lokunsu dan Liong-ah Thauto yang khas, agaknya
bukanlah sebangsa manusia khianat, pula “lnkong” yang disebut itu bila benar
orang yang membantu Yang-ji membunuh Nimo Singh itu, maka jelas pula orang itu
adalah kawan pihak sendiri.
Begitulah selagi Ui Yong mengasah otak sendiri, sementara itu terdengar ketiga
orang tadi sedang bisik2 pula sebentar, namun jaraknya sudah jauh, maka tak
terdengar jelas, hanya sayup2 terdengar si orang she Tan itu bilang:
“selamanya Inkong tak memberi tugas pada kita, sekali ini kita harus
melakukannya dengan baik…. kita harus menaikkan pamornya… kado kita esok….
kata2 lain tak yang jelas.
“Baiklah, sekarang juga kita berangkat, kau jangan kuatir, rencana Inkong pasti
takkan kapiran,” demikian lantas terdengar si orang she Sun mengiakan. Habis
itu, ke tiga orang lantas turun bukit dengan cepat.
Sesudah orang pergi jauh, Ui Yong masuk kelenteng itu dan memeriksanya, tapi
tiada sesuatu tanda2 aneh yang dilihatnya.
Bangunan kelenteng itu sangat megah dan kuat tapi karena pasukan musuh telah
mendekat, maka penghuninya sudah lama lari ke kota hingga tiada seorang pula.
Sungguhpun Ui Yong orang pintar, tapi seketika juga bingung oleh orang yang
disebut “lnkong” atau tuan penolong itu, iapun tak ingin “mengeprak rumput
mengejutkan ular” dengan menangkap ke tiga orang itu untuk ditanyai, maka sampai
fajar menyingsing, barulah ia kembali ke kota.
Ketika sampai disimpang jalan dekat pintu barat kota, tiba2 dilihatnya ada dua
penunggang kuda secepat terbang menyerempet lewat, cepat Ui Yong menyingkir
kepinggir jalan, waktu diawasinya, ternyata kedua penunggang itu adalah laki2
kekar semua.
Setiba disamping jalan itu, seorang memutar kuda ke barat-laut dan yang lain
membalik ke barat-daya.
Ketika hendak berpisah, terdengar seorang diantaranya berseru: “lnsat, jangan
lupa bilang pada Thio-toagocu bahwa dalang, pesinden dan penabuh-nya harus dia
sendiri yang membawanya dan pula jangan lupa membawa tukang pembuat bunga api!”
“Ah, tak perlu kau mengingatkan aku terus menerus, kau sendiri disuruh pergi
memanggil tukang isak yang kesohor itu, jika terlambat sehari, kau akan diomeli
orang banyak,” sahut kawannya itu. Habis itu, cepat sekali kedua orang itu
lantas berpisah.
Perlahan Ui Yong masuk ke kota dalam hati ia tambah heran, nama Thio-toagocu (si
selendang besar she Thio) sudah dikenalnya sebagai seorang berpengaruh di
Hanggau, masakah ada seorang secara begitu mudah bisa memanggilnya datang,
apakah ini juga suruhan “lngkong” yang disebut itu. Mereka main secara besar2an,
sebenarnya apakah maksudnya?
BegituIah penuh tanda tanya dalam hati Ui Yong. Mendadak hatinya terkesiap,
katanya: “Ya… ya, sekarang tahulah aku, pasti inilah sebabnya.”
Cepat ia kembali ke rumah serta menanyai sang suami: “Cing-koko, apakah tamu
undangan kita ada yang ketinggalan dikirim kartu?”
“Ketinggalan mengirimkan undangan?” tanya Kwe Cing heran “Tapi kita sudah
memeriksanya beruIang kali, rasanya tiada yang ketinggalan.”
“Memangnya akupun berpikir begitu,” ujar Ui Yong, “Karena kuatir ada yang
ketinggalan tak di undang, maka orang gagah mana saja, walaupun tidak terlalu
dikenal juga kita kirimkan kartunya. Tapi apa yang kulihat tadi jelas sekali ada
seorang tokoh besar yang merasa sakit hati hingga akan mengadakan suatu
perjamuan besar kaum ksatria untuk mengkonkireni kita.”
Namun Kwe Cing yang berjiwa luhur dan berhati terbuka, bukannya iri, sebaliknya
ia girang, katanya. “Aha, itulah kebetulan jika ada seorang Enghiong yang
bercita2 sama, itulah paling baik. Kita akan mendukung dia sebagai Bengcu (ketua
perserikatan) dan biar dia memimpin para ksatria untuk melawan MongoI, kita
sendiri tunduk pada perintahnya saja.”
Namun Ui Yong lantas mengkerut keningnya, katanya: “Tapi melihat
tindak-tanduknya, tidak mirip hendak melawan musuh, ia telah kirim undangan
kepada Tio-lokunsu di Sinyang, Liong-ah Thauto di Oh-ah-san, Thio-toagocu dan
lain-lain lagi.”
Tapi Kwe Cing malahan bertambah girang, ia tepuk meja serta berseru: “Ha, jika
orang ini sanggup mengundang Tio-lokunsu, Liongah Thauto dan Thio toagocu ke
Siangyang, pasti kekuatan kita akan bertambah bcsar. Yong-ji, tokoh2 seperti
itu, kita harus bersahabat baik2 dengan mereka.”
Namun Ui Yong tidak menyahut lagi, sementara itu petugas memberitahu bahwa tamu2
telah datang hingga terpaksa Kwe Cing dan Ui Yong sibuk menyambut.
Saking sibuknya harus menyambut tetamu yang datang ber-bondong2 dari segala
pelosok itu, terhadap pengalamannya semalam sementara tak sempat dipikirkan lagi
oleh Ui Yong.
Esok harinya adalah Eng-hiong-tay-hwe, pertemuan besar ksatria itu tidak kurang
disediakan 400 meja perjamuan, komandan militer kota pemerintah Song, Lu
Bun-hwan, telah menyuguh sendiri arak kehormatan kepada para ksatria atau
pahlawan itu.
Dalam perjamuan, ketika semua orang berbicara tentang keganasan serdadu Mongol
yang membunuh rakyat dan merebut tanah airnya, semua orang merasa murka sekali,
be-ramai2 semua orang akan bertempur matian melawan musuh -”
Dan malam itu juga dengan suara bulat Kwe Cing dipilih sebagai Bengcu atau ketua
perserikatan, semuanya bersumpah dengan darah dan berjanji melawan musuh hingga
titik darah penghabisan.
Di lain pihak sesudah hari itu Kwe Yang bertengkar dengan sang Taci di kelenteng
Yo-taybu serta menyatakan takkan ikut hadiri perjamuan besar ksatria itu, betul
juga ia tak menampakkan diri melainkan makan-minum sendirian dikamarnya, katanya
pada dayang yang melayaninya: “Taci pergi menghadiri perjamuan ksatria itu, aku
sendirian enak2 makan-niinum, masa kalah gembiranya daripada dia?”
Kwe Cing dan Ui Yong sendiri lagi pusatkan pikiran untuk menghadapi musuh, sudah
tentu mereka tak sempat menilik kelakuan anak dara yang lagi ngambek itu, Kwe
Cing boleh dikatakan sama sekali tak tahu menahu.
Ui Yong pernah juga menanyakan, tapi iapun tahu adat puteri kecil itu memang
aneh, maka ia hanya ganda tersenyum saja.
Dalam perjamuan besar itu kebanyakan para pahlawan adalah jago minum, sesudah
banyak minum hingga pengaruh alkhohol sudah bekerja, lantas saja banyak yang
lupa daratan, ada juga yang lantas memamerkan ilmu silat mereka sebagai
selingan.
Betapapun juga akhirnya Ui Yong terkenang pada puteri kecilnya itu, maka katanya
pada Kwe Hu: “Coba kau pergi memanggil adikmu itu keluar untuk melihat keramaian
ini, perjamuan seperti ini, selama hidup orang belum tentu dapat menyaksikannya
satu kali.”
“Ah, aku justeru tak mau mengundangnya,” sahut Kwe Hu. “Adik memangnya lagi
ngambek dan ingin mencari gara2 padaku, bukankah aku cari penyakit bila pergi
kesana.”
“Biar aku saja menyeret Ji-ci kemari,” ujar Kwe Boh-lo. Lalu iapun berbangkit
dan menuju kebelakang.
Tapi tak lama Boh-lo telah kembali sendirian, belum lagi ia buka suara atau Kwe
Hu sudah mendahului berkata: “Gimana? Aku kan sudah bilang ia takkan datang
sekarang betul tidak?”
Melihat wajah puteranya itu penuh rasa keheranan segera Ui Yong bertanya: “Apa
yang dikatakan Ji-ci?”
“Sungguh aneh, mak!” sahut Boh-lo.
“Sebab apa?” tanya sang ibu.
“Kata Ji-ci, di kamarnya sedang diadakan perjamuan kecil kaum ksatria, maka
takkan menghadiri perjamuan besar ksatria ini!” demikian Boh-lo menerangkan.
Namun Ui Yong hanya tersenyum, katanya: “Ji-cimu itu memang suka berpikir yang
tidak2, biarkanlah.”
“Mak, tapi di kamar Ji-ci benar2 ada tetamunya,” kata Kwe Bob-lo lagi.
“Diantaranya lima laki2 dan dua wanita, semuanya lagi minum arak bersama Ji-ci.”
Dengar itu, mau tak-mau Ui Yong mengkerut kening, ia pikir anak dara ini makin
lama semakin berani, masakah kamar seorang perawan memasukkan orang laki2 untuk
makan-minum sesukanya? sungguh nama julukan Siau-tong-sia yang diberikan orang
benar2 tidak salah.
Tapi hari ini semua orang lagi bergembira, tidak pantas untuk soal sekecil ini
puteri itu harus didamperat hingga menghilangkan kegembiraan semua orang.
“Cobalah kau pergi mengundang teman2-adikmu itu agar minum arak ke ruangan besar
ini, biar ramai2 bergembira bersama,” demikian katanya kepada Kwe Hu, Nyata ia
mengira Boh-lo tak pandai menghadapi tamu, maka puteri sulung ini yang di
suruhnya sekarang.
Kwe Hu sendiri memang juga heran dan ingin mengetahui kamar adiknya itu
kedatangan tamu siapakah, ia cukup kenal watak sang adik yang tak pedulikan adat
perbedaan laki2 perempuan segala macam dan lapisan masyarakat suka bergaul, ia
pikir teman yang lagi minum arak bersamanya itu tentu sebangsa orang2 tak
keruan.
Kini mendengar perintah sang ibu segera iapun berbangkit menuju ke kamar Kwe
Yang.
Ketika hampir dekat kamar adiknya itu, terdengarlah suara anak dara itu lagi
berseru: “Hai, Gin-koh, suruhlah koki membawakan lagi dua guci arak!”
Pelayan yang disebut itu menyahut sekali, lalu terdengar Kwe Yang menambahkan:
“Dan pesan pula koki lekas masak dua paha kambing serta memotong 20 kati daging
rebus yang hangat2.”
Maka pergilah pelayan menerima perintah itu.
Kemudian terdengar suara seorang seperti bunyi gembreng pecah berkata pula:
“Kwe-jikohnio (nona Kwe kedua) benar- bertangan sangat terbuka, sayang aku
Jin-tu-cu tidak kenal sejak dulu, kalau tahu, sudah lama aku berkawan dengan
kau.”
“Berkawan sekarang juga belum terlambat,” sahut Kwe Yang tertawa.
Mendengar percakapan itu, Kwe Hu mengkerut kening, waktu ia mengintip melalui
sela2 jendela, terlihatlah dalam kamar adiknya itu terletak sebuah meja pendek,
delapan orang berduduk dilantai, diatas meja sendok-piring simpang siur tak
ter-atur, perjamuan sedang berlangsung dengan meriahnya.
Yang duduk menghadap kemari terlihat adalah seorang gemuk gede, simbar dada
hingga bulu dadanya yang hitam lebat itu kelihatan, disebelah kirinya adalah
seorang sastrawan berjenggot cabang tiga, pakaiannya rajin bersih. Dan
sebelahnya lagi adalah seorang wanita setengah umur, cuma mukanya penuh codet
bekas luka, sedikitnya berpuluh tempat.
Dan yang duduk disebelahnya lagi adalah segarang thauto berambut memakai sebuah
ikat rambut emas yang berkilau2, ia sedang menggerogoti sepotong ayam panggang
dengan lahapnya:
Sedang tiga orang lainnya duduk mungkur, maka tak jelas muka mereka, agaknya
yang dua adalah kakek2 yang beruban rambutnya dan seorang lagi adalah Nikoh
(paderi wanita) berbaju hitam.
Kwe Yahg sendiri duduk diantara orang2 itu, wajahnya yang cantik itu sudah
bersemu merah, suatu tanda pengaruh alkohol, tapi anak dara ini asyik beromong
tak pernah diam, nyata sekali hatinya sangat bergembira.
Tidak lama kemudian koki telah antarkan masakan yang diminta tadi, maka semuanya
orang makan se-puas2nya pula, malahan yang minum dan makan paling banyak adalah
si Nikoh berbaju hitam itu.
Diam2 Kwe Hu pikir, melihat betapa gembiranya mereka, seumpama diundang
keruangan besar di depan sana juga mereka tak mau pergi.
Dalam pada itu terlihatlah seorang kakek2 beruban diantaranya telah berdiri,
lalu berkata: “perjamuan ini rasanya sudah mencukupi delapan bagian, biarlah
hari ini kita sampai di sini saja, kelak kalau hari ulang tahun nona, pasti kami
akan makan minum lebih besar pula, Kini orang tua ada sedikit hadiah. harap saja
nona Kwe jangan mencela!”
Habis berkata, dikeluarkannya sebuah kotak terbungkus sutera dan diletakkan di
meja.
“Pek-cau-siao hadiah apakah yang kau berikan itu, hayolah perlihatkan.” segera
kakek yang lain berteriak. Sembari berkata iapun ulur tangan membuka kotak itu
sendiri. Tapi segera ia berseru tertahan: “Ah, ini adalah “Jian-lian-swat-som”
(Kolesom salju berumur ribuan tahun), dari mana kau memperolehnya?” – Lalu benda
mestika itupun dijemputnya dan di-amat2i.
Dari sela2 jendela dapatiah Kwe Hu melihat jelas kakek itu memegangi sebatang
Jin-som seputih salju yang panjangnya kira2 satu kaki, bentuknya menyerupai
benar anak orok, kepala, tubuh dan anggota badan semuanya lengkap, malahan
kulitnyapun bersemu merah, sungguh semacam benda mestika yang sukar didapatkan
saking kagumnya hingga semua orang ber-keplok2 memuji.
Tampaknya kakek yang dipanggil Pek-cau sian atau Dewa Seratus Rumput itu menjadi
senang, katanya: “Jian-lian-swat-som ini manjur menyembuhkan penyakit yang
paling berat dan untuk memunahkan segala racun, boleh dikata khasiatnya dapat
menghidupkan yang masti dan menyambung umur yang hidup. Bahwa nona hidup bahagia
hingga berumur seabad, memangnya tak memerlukannya. Tunggu saja sampai hari
ulang tahun seabad, ambil Jim som ini dan meminumnya agar nona panjang umur lagi
seratus tahun, bukan kah sangat bagus.”
Semua orang bertepuk tangan sambil tertawa, mereka memuji kakek itu pandai
mengucapkan kata2 pujian.
Dalam pada itu orang gemuk gede yang bernama Jin-tuicu (si jagal orang) lantas
mengeluarkan sebuah kotak besi juga, katanya dengan tertawa: “Nah, aku
menghadiahi nona semacam mainan, hanya untuk bikin tertawa nona saja, tapi tak
bisa dibandingkan dengan benda mestika hadiah Pek Cau-sian-ong tadi.”
Dan ketika kotak besi itu dijeplakkan, mendadak dari dalam kotak meloncat keluar
dua Hwe-sio gemuk terbuat dari besi, panjangnya masing2 kira2 tujuh dim, lalu
yang satu memukul dan yang lain menendang terus saling serang-menyerang.
Betapa lucu boneka besi itu hingga semua orang tertawa geli, Ternyata dari gerak
gerik pukulan2 kedua boneka besi itu adalah ilmu pukulan “Siau-limlo-han-kun”
yang terkenal, tak lama kemudian, sesudah alat putaran (pergas) dalam boneka
besi itu habis barulah mendadak kedua boneka itu berhenti dengan berdiri tegak,
gayanya mirip jago silat kelas satu.
Melihat ini semua orang tidak sanggup tertawa lagi, sebaliknya mereka berwajah
kuatir.
“Jin-tu-cu,” tiba2 wanita yang bermuka codet itu berkata, “jangan kau jaga
mukamu, tapi malah mendatangkan penyakit bagi nona Kwe. Thi-lo-han” (orang2an
besi) ini adalah milik Siau-lim-si, darimana kau dapat mencurinya?”
“Hehe,” sahut Jin-tu-cu tertawa, sungguhpun aku Jin-tu-cu bernyali sebesar
langit juga tak berani coba2 gerayangi Siau-lim-si, Tapi ini justeru adalah
Bu-sik Siansu, itu paderi utama ruangan Lo-han-tong dari Siau-lim-si yang
menyuruh aku membawanya kemari, ia bilang tepat pada hari ulang tahun nona pasti
akan sampai di Siangyang untuk memberi selamat. Nah, yang inilah baru benar2
adalah hadiahku sendiri yang tak berarti!”
Habis berkata, ia buka lapisan bawah kotak besi itu hingga tertampaklah sepasang
gelang kemala hitam.
Gelang hitam itu tertampak ber-kilat2, bentuknya tidak menarik, mendadak
Jin-tu-cu melolos sebilah golok terus membacok gelang kemala itu, maka
terdengarlah suara “trang” yang nyaring, golok itulah yang membal ke atas,
sebaliknya gelang kemala tak kurang apapun.
Maka bersoraklah memuji semua orang, Menyusul itu lantas si sastrawan, Nikoh,
Thau-to dan si wanita muka codet masing2 juga memberi kado kepada Kwe Yang,
semuanya barang aneh dan mestika yang jarang dilihat. Tentu saja Kwe Yang
kegirangan, dengan senyum simpul semua kado itu diterimanya.
Menyaksikan itu Kwe Hu semakin terperangah sekali putar tubuh, segera ia lari
kembali keruangan depan dan ceritakan semua apa yang dilihatnya kepada sang ibu.
Mendengar itu kejut Ui Yong melebihi Kwe Hu, segera ia mengajak Cu Cu-liu dan
bertiga masuk ke ruangan dalam. Lalu Ui Yong tuturkan apa yang dilihat Kwe Hu
tadi kepada Cu-Iiu, itu murid tertua dari It-teng Taysu.
Cu Cu-liu ikut ter heran2, katanya: “Jin-tuicu dan Pek cau-sian? Mengapa mereka
bisa datang ke Siangyang sini? si Nikoh berbaju hitam itu mungkin sekali adalah
Coat hou-jiu Seng-in Suthay yang membunuh orang tak berkesip, sedang kipas
lempit si sastrawan itu terlukis satu setan Bu-siang (setan gentayangan), ehm,
apakah mungkin ialah Coan-lun-ong Thio It bin?”
Sembari berkata Ui Yong ber-ulang2 mengangguk sebaliknya Cu-liu sendiri geleng2
kepala, katanya: “Tapi hal ini teranglah tak mungkin. berapakah usia nona Kwe,
kecuali akhir2 ini pernah keluar sekali, selain itu belum pernah kakinya
menginjak tempat lebih jauh 10 li di luar Siangyang, mana bisa ia kenal orang2
kosen dari segala pelosok itu?
Pula, Bu-sik siansu dari Siaulim-si itu sudah berpuluh tahun tak pernah turun
gunung, orang lain sengaja mohon bertemu saja ditolak, mana mungkin sekarang ia
malah datang ke Siangyang melulu untuk memberi selamat ulang tahun kepada
seorang nona? Menurut pendapatku, tentu nona cilik ini sengaja bersekongkol
dengan kawannya dan membesarkan segalanya untuk menggoda encinya.”
“Tapi nama2 seperti Seng-in Suthay, Thio It-bin dan lain2 jarang kita sebut2,
darimana Yang-ji bisa kenal mereka, hendak main2 juga tidak selengkap itu,” ujar
Ui Yong ter-mangu2.
“Marilah kita coba menemui mereka menurut aturan, jika mereka adalah teman
Kwe-jikohnio kedatangan mereka ke Siangyang ini pasti tiada maksud jahat,” kata
Cu-Iiu kemudian.
“Akupun berpikir begitu,” sahut Ui Yong. “Cuma Seng-lo Suthay, Coan-lun-ong Thio
It-biti dan lain2 itu biasanya lurus2 serong tak tertentu, walaupun kita tak
jeri, tapi kalau terlibat permusuhan, rasanya cukup akan bikin kepala pusing,
kini pasukan musuh dekat didepan mata, betapapun tak boleh lagi memencarkan
perhatian untuk melayani manusia2 aneh ini…”
Sampai di sini, mendadak terdengar suara seorang bergelak ketawa di luar jendela
dan berkata. “Kwe-hujin, kami datang ke Siangyang melulu untuk memberi selamat
ulang tahun dan tiada maksud jahat lain, kenapa harus menjadi pusing kepala?”
Ketika mengucapkan “tiada maksud jahat, kenapa harus pusing kepala,” ternyata
suara itu sudah menjauh.
Cepat Ui Yong, Cu Cu-Iiu dan Kwe Hu memburu ke pinggir jendeia, terlihatlah satu
bayangan berkelebat diatas pagar sana, gerak tubuh itu cepat luar biasa, hingga
sekejap saja sudah menghilang.
Sedianya Kwe Hu hendak mengudak, tapi Ui Yong telah menariknya “Jangan sembrono,
tak mungkin kau bisa menyandaknya!”  Dan ketika ia mendongak tiba2 terlihat di
atas dahan pohon diluar itu tertancap sebuah kipas putih yang terpentang.
Kipas itu tingginya empat tombak lebih, Kwe Hu menduga dirinya tak mampu sekali
loncat meraihnya, maka serunya: “Mak!”
Ui Yong meogangguk, dengan enteng saja ia meloncat, tangan kirinya menahan
pelahan disuatu dahan terus mencelat naik pula keatas dan kipas itupun dapat
dicabutnya turun.
Ketika mereka periksa kipas itu dibawah sinar lampu di dalam rumah, terlihatlah
disebelah kipas itu terlukis setan Bu-siang putih yang lidahnya melelet panjang
dengan muka ber-seri2, kedua tangannya terangkap mengunjuk hormat, disampingnya
tertulis 14 huruf besar yang berbunyi.
“Selamat hari ulang tahun nona Kwe kedua, semoga hidup seabad dan berumur
panjang”
Waktu Ui Yong membalik kipas itu, disebelahnya juga tertulis kata2.
“Hek-ih-ni Seng-in, Pek- cau-sian, Jin tu-cuw Kiu-su-sing, Kau-bak Thauto, Han
Bu hou dan Thio It-bin, menyampaikan salam hormat kepada Kwe-thayhiap serta
Kwehujin, selamat hari ulang tahun puteri kesayangan kalian, kedatangan kami
yang lancang ini tak berani lagi tinggal lebih lama, haraplah maaf, maaf.”
Beberapa baris tulisan itu belum kering tinta-nya, tulisannya kuat dan bergaya,
Cu Cu-Iiu adalah ahli seni-tulis, maka segera ia memuji: tulisan bagus, tulisan
bagus!”
“Nah, teranglah sekarang, marilah kita pergi melihat Yang-ji,” kata Ui Yong
kemudian.
Waktu mereka sampai dikamar anak dara itu, pelayan sedang membersihkan sisa
daharan dan mangkok piring kotor
“Mak, Cu-pepek, Cici, lihatlah kalian, inilah kado yang kuterima dari tetamu,”
demikian kata Kwe Yang segera.
Menyaksikan benda2 seperti Jin-lian-swat-som, Tiat-lo-han kembar, gelang kemala
hitam serta kado2 lain hadiah Coat-hou-jiu Seng-in Suthay dan Coan-luo-ong Thio
It-bin cs., sudah tentu Ui Yong dan Cu-liu sama merasa heran sekali.
Ketika Kwe Yang menjeplak alat penggerak hingga sepasang boneka besi itu
bersilat saling pukul puIa, tampaklah anak dara itu amat girangnya.
Ui Yong menunggu selesai kedua boneka itu memainkan “Lo-han-kun” dari
Siau-lim-si itu, lalu tanyanya: “Yang-ji, sebenarnya apakah yang terjadi, coba
ceritakanlah pada ibu.”
“Ah, biasa saja, beberapa kawan baru mengetahui aku Shejit (hari ulang tahun),
maka mereka memberikan kado padaku,” sahut Kwe Yang tertawa.
“Darimana kau kenal orang2 ini?” tanya sang ibu.
“Juga baru hari ini kukenal mereka.” sahut Kwe Yang. “Tadi waktu aku seorang
diri minum arak didalam kamar, tiba2 terdengar Han-cici, itu enci yang bernama
Han Bu hou, menyapa diluar jendela, katanya: “Adik cilik, kami be-ramai2
mengiringi kau minum, mau tidak?”
Aku menyahut: “Baik sekali! Marilah masuk, marilah masuk!” -Dan merekapun
melompat masuklah dari luar, malahan mereka menyatakan pada tanggal 24 tepat
hari ulang tahun ku nanti mereka akan datang pula memberi selamat. Ya, entah
dari mana mereka tahu saat hari ulang tahunku. Mak, apakah mereka kenalanmu dan
ayah. Bila tidak, kenapa mereka beri kado begini banyak padaku?”
“Ayahmu dan aku tidak kenal mereka,” sahut Ui Yong, “Tentunya mereka datang atas
undangan seorang sobatmu yang aneh, bukan?”
“Aku tidak punya sobat aneh, kecuali Cihu,” sahut Kwe Yang tertawa.
“Ngaco, Cihu-mu kenapa kau katakan aneh?” semprot Kwe Hu.
Kwe Yang me-Ielet2 lidah, sahutnya tertawa. “Sesudah menikahi kau, tidak anehpun
Cihu ber-ubah aneh.”
Segera Kwe Hu angkat tangannya hendak memukul namun sambil terkikik Kwe Yang
sembunyi di belakang sang ibu
“Sudahlah, taci-adik jangan bergurau Iagi,” ujar Ui Yong, “Coba, Yang-ji,
jawablah, tadi Coan-lun-ong dan Pek-cau-sian itu me-nyebut2 tentang Eng
hiong-tay-hwe yang akan kita adakan itu tidak?”
“Tidak,” sahut Kwe Yang. “Hanya kedua kakek yang bernama Pek-cau-sian dan
Kiu-su-sing itu bilang sangat mengagumi ayah.”
Sesudah Ui Yong tanya lagi dan melihat Kwe Yang benar2 tidak membohongi apa2,
lalu katanya: “Baiklah, lekas tidurlah!” – Bersama Cu Cu-liu dan bersama Kwe Hu
merekapun keluar dari kamar anak dara itu.
“Mak,” tiba2 Kwe Yang menyusul keluar kamar. “lni Jian-lian-swat-som agaknya
sangat berfaedah, harap ibu memakannya separah dan ayah separoh.”
“Bukankah itu kado Pek-cau-sian untuk ulang tahunmu?” sahut Ui Yong.
“Aku sudah terlahir dan juga sudah besar, tapi tiada sedikit jasapun, tapi
ibulah yang selama ini benar2 terlalu capek,” ujar Kwe Yong.
Ui Yong pikir janganlah mengecewakan maksud baik puteri kecil ini, maka Jin-som
itu diterimanya, bila terkeuang olehnya pada hari Kwe Yang dilahirkan lantas
banyak mengalami hal2 yang berbahaya tanpa terasa ia menghela napas.
Ketika Kwe Cing kembali ke kamar dan bercerita pada sang isteri tentang semangat
para ksatria yang bersatu padu dan siap berjuang sepenuh tenaga untuk melawan
musuh, tampaknya ia menjadi luar biasa girangnya.
Ui Yong menceritakan juga tentang kehadiran Seng in Suthay dan Pek-cau sian cs.
dalam perjamuan Kwe Yang, seketika Kwe Cing melengak. “Bisa terjadi hal begitu?”
demikian ia menegas.
Ketika ia periksa Jian-lian-swat-som itu, ternyata memang benda mustika yang
sukar diperoleh.
“Ha, nona cilik kita agaknya pengaruhnya jauh melebihi orang tuanya,” ujar Ui
Yong tertawa.
Tapi Kwe Cing tak bersuara, ia menunduk memikirkan tindak-tanduk orang2 sebangsa
Seng in Suthay, Coan lun ong dan Han Bu hou itu.
“Cing-koko,” kata Ui Yong pula, “urusan pemilihan Pangcu apa lebih baik
dimajukan beberapa hari, bila tidak, sampai hari ulang tahun Yang-ji dan Bu-sik
siansu cs. benar2 datang rasanya terlalu banyak campur aduk orang2 luar, mungkin
akan terjadi hal2 di luar dugaan.”
“Tapi aku malah ada suatu pikiran,” ujar Kwe Cing, “Kita justeru tunggu sampai
tanggal 24 baru mulai memilih pangcu agar suasana bertambah semarak. Bila Bu-sik
siansu dan Liong-ah Thauto benar2 hadir, kita lantas minta mereka agar suka
bersatu padu melawan musuh penjajah, bukankah demikian ini menjadi lebih baik?”
Namun aku kuatir kalau2 mereka hanya pura2 datang memberi selamat saja, tapi
tujuannya hendak mengacau,” sahut sang isteri, “Coba kau pikir, ada hubungan
apakah mereka dengan Yang-ji yang masih kecil ini, masakah mereka datang melulu
untuk memberi selamat Shejit padanya? Sejak dahulu kala yang lurus dan yang
serong tidak pernah berdiri sejajar, mungkin masih ada sebagian besar ahli silat
didunia ini yang tak suka kau diangkat menjadi Bu-lim Bengcu (ketua himpunan
persilatan).”
Tiba2 Kwe Cing berdiri dan ter-bahak2. “Yong-ji,” katanya, “perbuatan kita asal
tidak merugikan negara dan bangsa, tentang Bu-lim Bengcu ini siapapun yang
menjabatnya bagiku serupa saja, Apalagi yang serong takkan menangkan yang lurus,
jika mereka benar2 bermaksud jahat, biar kita melayani mereka.
Kau punya “Pak-kau-pang hoat” (ilmu permainan pentung penggebuk anjing) dan aku
punya “Hang-liong-sip-pat-ciang” (18 jurus ilmu pukulan penakluk naga) sudah ada
belasan tahun tak pernah dipertunjukkan dan agaknya tidaklah perlu jeri pada
orang”
Melihat semangat sang suami masih me-nyala2 tidak kurang daripada masa dahulu,
maka kata Ui Yong dengan tertawa: “Baiklah aku menurut saja pada keputusan
pimpinan. Dan minumlah Jin-som salju dari Yang-ji ini, agaknya khasiatnya cukup
membandingi latihan selama lima-enam tahun”
“Ah, tidak”" sahut Kwe Cing, “kau sudah melahirkan tiga anak, kekuatanmu
tentunya banyak berkurang, kaulah yang perlu tambah jamu kuat.
Nyata cinta kasih antara suami isteri itu benar2 kekal, sesudah tolak menolak
akhirnya Kwe Cing berkata: “Sudanlah, biar Jin-som ini kita simpan saja.
Beberapa hari lagi dalam pertarungan ksatria2 tentu ada kawan kita yang terluka,
dan benda ini kita simpan untuk menolong jiwa mereka.”
Besok paginya perjamuan besar kaum ksatria itu masih terus dilangsungkan dan di
kamar Kwe Yang perjamuan “kecil kaum ksatria juga tetap diadakan.
Sudah siang2 Ui Yong pesan koki agar memasak se-baik2nya untuk tetamu puteri
kecilnya itu.
Kwe Hu sendiri sedang mencurahkan seluruh perhatiannya untuk persiapan
kemungkinan sang suami, yaitu Yalu Ce, yang bakal merebut kedudukan Pangcu
Kay-pang. Maka terhadap urusan tamu2 aneh sang adik itu sama sekali tak
dihiraukannya.
Beberapa hari keadaan demikian itu telah berlangsung dalam pertemuan para
ksatria itu sudah selesai dirundingkan dan ditetapkan siasat cara bagaimana
menggalang seluruh kekuatan kaum patriot dan cara mengacaukan bala bantuan
Mongol serta pertahanan kota. Para pahlawan sama menggosok2 kepalan penuh
semangat menanti datangnya musuh untuk bertempur.
Akhirnya tibalah tanggal 24, pertemuan besar sudah selesai, acara selanjutnya
adalah pemilihan pangcu atau ketua Kay-pang, persatuan kaum jembel. sehabis
makan siang, beramai2 para ksatria lantas menuju ke alun2 di selatan kota.
Di tengah alun2 itu terlihatlah satu panggung tinggi megah sudah dipasang, di
atas panggung itu kosong bersih tanpa sebuah bangkupun.
Hal ini memang sudah menjadi peraturan Kay-pang turun temurun, tak perduli
pertemuan besar rapat kecil, selamanya mereka duduk ditanah sebagai tanda tidak
meninggalkan adat asli kaum jembel atau pengemis.
Hanya di sebelah timur panggung teratur beberapa ratus kursi itu melulu
disediakan untuk para tamu undangan yang tidak termasuk anggota Kay-pang.
Belum lohor, disekitar panggung itu sudah berjubel lebih dua ribu anggota
Kay-pang, semuanya adalah anggota lama dan tergolong tokoh, paling rendah
tingkatannya adalah anak murid berkantong empat.
Kedua ribu anggota Kay pang itu tadinya berada di bawah pimpinan empat orang
Tianglo atau tertua, yakni yang mula2 terdiri dari Loh-tianglo, yaitu Loh Yu-ka,
lalu Kan tianglo, Kho-tianglo dan Peng-tianglo.
Loh-tianglo naik pangkat menjadi Pangcu, sekarang mati dibokong musuh.
Peng-tianglo telah mengkhianat dan terbunuh oleh Cu-in, Kan-tianglo mati tua dan
kini tinggal seorang Nio-tianglo saja yang merupakan tertua satu2nya. Sedang
lowongan ketiga Tianglo yang lain itu telah diisi oleh murid berkantong delapan
yang dinaikkan pangkatnya.
BegituIah anggota2 Kay-pang itu sama duduk di tanah mengitari panggung itu
menurut daerah masing2, sedang beribu ksatria itu duduk dikursi tempat peninjau.
Yalu Ce suami-isteri, Bu Tun si dan Yalu Yen, Bu Siu-bun dan Wanyen Peng cs,
karena termasuk angkatan muda, mereka duduk dibarisan kursi yang paling
belakang.
Sesudah berlatih giat selama belasan tahun ini, mereka merasa sudah banyak maju,
maka diam2 sama memikirkan cara bagaimana nanti akan unjuk kepandaian mereka
dihadapan orang banyak.
Kwe Boh lo waktu itu berduduk disamping sang Cici, Kwe Hu, pemuda ini menjadi
kegirangan melihat suasana yang begitu ramai, katanya:
“Ji-ci benar2 aneh, suasana seramai ini ternyata tak mau menonton.”
“Ah, hati si kecil aneh itu memang sukar menerkanya,” sahut Kwe Hu menjengek.
Dalam pada itu terlihatlah disebelah timur sana seorang anak murid Kaypang
berkantong delapan telah berdiri dan menempelkan sebuah kulit keong besar
kemulutnya dan ditiupnya hingga mengeluarkan suara “hauk-bauk”, kiranya telah
tiba waktunya antara pukul satu lewat Iohor.
Segera Ui Yong melompat ke atas panggung, ia memberi hormat kepada hadirin, lalu
dengan suara hutang berkata, “Perkumpulan kami hari ini mengadakan rapat besar,
berkat para pahlawan dan ksatria angkatan tua sudi mengunjungi serta banyak
kawan muda yang sudi hadir sebagai peninjau, sungguh segenap anggota perkumpulan
kami merasa bangga dan berterima kasih-”
Habis ini ia memberi hormat lagi hingga para ksatria di bawah panggung sama
berdiri membalas hormatnya.
“Mendiang Loh-pangcu kami” demikian Ui Yong melanjutkan kata pembukaannya,
“selama hidupnya selalu berbudi dan berjuang untuk kepentingan rakyat dan negara
secara tak kenal lelah. Sayang kemarin dulu telah dicelakai bangsat Hotu di
kelenteng Yo-tayhu di bukit Hiansan. Dendam ini tidak terbalas, sungguh
merupakan suatu noda yang memalukan bagi perkumpulan kita…”
Sampai di sini para anggota Kay-pang yang ingat pada kejujuran dan kebaikan budi
Loh Yu ka, segera banyak yang ter-guguk2 menangis dan ada pula yang mengertak
gigi mengumpat maki si bangsat Hotu.
“Tapi pasukan Mongol yang mengarah ke kota Siangyang kita ini dalam waktu
singkat ini sudah akan datang.” demikian Ui Yong melanjutkan “maka persoalan
pribadi jangan dipikir, urusan perkumpulan kami untuk sementara ditangguhkan,
nanti saja dibicarakan lagi setelah musuh kita gempur mundur.”
Seketika bersoraklah para hadirin memuji kebijaksanaan Ui Yong yang mengutamakan
kepentingan umum daripada urusan pribadi.
“Cuma saja anggota perkumpulan kami yang beratus ribu banyaknya tersebar luas
diseluruh pelosok…” demikian Ui Yong menyambung. “ibarat naga tanpa kepala,
maka perlu harus diangkat dulu-seorang pangcu baru. Dan pada kesempatan inilah
kita memilih seorang yang memenuhi syarat, seorang patriot komplit sebagai
Pangcu perkumpulan kita. Adapun caranya memilih baiklah silakan Nio-tianglo saja
untuk menerangkannya.”
Segera Nio tianglo melompat ke atas panggung, Walaupun Nio-tianglo sudah tua,
rambutnya penuh beruban, tapi dadanya membusung, semangatnya me-nyala2, gaya
lompatnya juga gesit dan cekatan, suatu tanda betapa tinggi ilmu silatnya, maka
semua orangpun bersorak memuji.
Menunggu setelah suara sorak sorai itu mereda barulah kemudian Nio-tianglo buka
suara keras2: “Kepintaran bekas Ui-pangcu tiada bandingannya, apa yang dia
katakan barusan pasti tidak salah. Tapi beliau sendiri merasa sungkan hingga
kami yang terdiri dari empat Tianglo serta delapan murid berkantong delapan
telah disuruh berunding untuk memutuskan. Kini sesudah kami berunding setengah
harian, akhirnya dapat juga dikemukakan suatu usuI.”
Seketika suasana dibawah panggung menjadi sunyi senyap, semua orang sama ingin
mendengarkan apa yang akan diumumkan tertua Kay-pang itu.
“Menurut pendapat kami,” demikian Nii tianglo melanjutkan “anak murid Kay-pang
tersebar diseluruh jagat, walaupun bukan orang pandai dan tiada berguna, tapi
jumlah orangnya tidak sedikit, hendak memimpin sejumlah orang ini, tepat seperti
apa yang dikatakan bekas Ui-pangcu tadi bahwa harus dipilih seorang
“patriot-komplit”.
Kini yang hadir disini semuanya adalah orang gagah terkenal di Kangouw, siapa
saja yang sudi menjadi pemimpin perkumpulan kami pasti akan kami sambut dengan
gembira. Cuma para ksatria terlalu banyak untuk memilih juga susah, sebab itulah
kami 12 orang lantas menentukan suatu cara yang bodoh,” yakni silakan para
ksatria suka unjuk kepandaian di atas panggung, siapa lebih kuat dan mana yang
lemah biar kita saksikan bersama.
Cuma harus dijelaskan lebih dulu bahwa pertandingan nanti hendaklah berakhir
asal salah sepihak sudah tertutuk saja, sebab bila sampai ada orang terluka atau
jiwa melayang sungguh perkumpulan kami yang akan berdosa dan bikin perasaan
tidak enak.. Oleh sebab itulah, bila diantara saudara2 ada yang dendam segala,
se kali2 tak boleh diselesaikan diatas panggung sini, bila ketentuan ini tidak
diturut, itu berarti sengaja mengacau perkumpulan kami, tatkala itu hendaklah
jangan menyalahkan kami jika terpaksa diambil tindakan.”
Ketika berkata sampai terakhir ini, sinar mata Nio tianglo menyorot tajam
kesekitar hadirin sekalian. Nio-tianglo tahu bahwa dalam keadaan bertanding dan
saling unjuk kemahiran masing2 tentu tak mau saling mengalah hingga bakal ada
yang terluka atau mati.
Tapi kini saatnya lagi genting menghadapi musuh dari luar, bukankah berbalik
bila terjadi saling bunuh dulu diantara bangsa sendiri? Sebab itulah Nio-tianglo
memperingatkan sungguh2 dengan maksud agar orang jangan ambil kesempatan itu
untuk balas dendam perseorangan itu. bila terjadi, tentu be-ramai2 orang akan
mengerubutnya.
Mendengar uraian Nio-tianglo itu, keadaan di bawah panggung menjadi sunyi.
Kiranya umumnya jago tua tentunya sudah lama punya kedudukan ketua atau pemimpin
aliran masing2 dan tidak mungkin tampil kemuka untuk rebut jabatan Pangcu dari
Kay-pang, hanya orang2 muda dibawah umur 40 usianya yang ber-debar2 ingin sekali
coba2 mengadu tenaga diatas panggung.
Tapi mengingat harus bertanding dihadapan beribu orang itu dan harus menundukkan
anggota2 Kay-pang yang beribu2 banyaknya itu, sesungguhnya bukanlah suatu hal
yang mudah.
Karena itulah, sehabis Nio-tianglo bicara tiada seorangpun yang tampak melompat
keatas panggung.
“Kecuali beberapa tokoh Locianpwe, ksatria seluruh jagat dan orang2 kosen
semuanya berada disini, asal ada yang berminat terhadap perkumpulan kami,
bolehlah silakan naik panggung,” demikian Nio tianglo berseru lagi dengan suara
keras.
“Dan diantara enam murid perkumpulan kita sendiri bila ada yang merasa yakin
kepandaiannya tahan diuji, beleh juga naik panggung, sekalipun seorang murid
berkantong empat, boleh jadi selama ini ia sengaja menyembunyikan diri hingga
tiada yang mengetahui kegagahannya”
Setelah Nio tianglo mengulangi beberapa kali undangannya itu, kemudian barulah
terdengar suara bentakan seorang yang keras bagai guntur. “Akulah yang dalang!”
Menyusul itu, cepat sekali seorang melompat keatas panggung.
Setelah melihat jelas orang itu, seketika para hadirin terkejut, ternyata tubuh
orang ini kekar tegap luar biasa, berat badannya sedikitnya ada 300 kati. Saking
beratnya ketika naik keatas panggung, papan panggung yang dipasang sangat kuat
itupun terasa tergetar.
Orang itu berjalan ke depan panggung, tanpa pakai menghormat segala, sebaliknya
kedua tangannya menolak pinggang terus berkata: “Aku bernama Tong Tay-hai,
berjuluk Jian-kio-tong (wajan seribu kati), jabatan pangcu aku tidak kepingin,
tapi siapa yang ingin bergebrak dengan aku boleh silakan naik sini.”
Mendengar itu, hati semua orang menjadi senang, dari lagak- lagu nya teranglah
seorang tolol atau dogol.
“Tong-toako,” segera Nio-tianglo menyapa, panggung yang kita buka hari ini
bukanlah panggung Lui-tay (panggung bertanding silat). jika sekiranya Tong-toako
tidak suka menjadi pangcu perkumpulan kami, harap turun saja.”
“Tidak sudah terang ini adalah Lui-tay, kenapa bilang bukan?” sahut Tong Tay hai
menggeleng kepala, “Jika kau melarang berkelahi kenapa kau tadi ber kaok2 suruh
orang naik panggung?”
Selagi Nio-tianglo hendak menjelaskannya, tiba2 Tong Tay- hai berkata lagi:
“Baiklah, jika yang hendak berkelahi dengan aku juga boleh.”
Habis ini, kepalannya segera menjotos ke muka Nio tianglo.
Lekas Nio-tiangto melompat mundur menghindarkan serangan itu, dengan tertawa
katanya: “Ah, beberapa tulangku yang tua ini mana sanggup menahan sekali
hantaman Tong-toako?”
“Memangnya aku sudah menduga kau tak berguna, maka lebih baik lekas menyingkir,”
ujar Tong Tay-hai dengan tertawa.
Namun belum habis suaranya, tiba2 suatu bayangan berkelebat diatas panggung
tahu2 sudah berdiri seorang pengemis yang berbaju compang-camping.
Pengemis ini berusia 30-an, dibelakang punggungnya menggemblok enam buah kantong
kain, ialah cucu murid Nio-tianglo, Biasanya si jembel ini sangat menghormat
pada kakek-guru itu, kini melihat Jian-kin-teng Tong Tay-bai berani kurang ajar
terhadap kakek-gurunya, tak tahan lagi rasa gusarnya dan segera melompat keatas
panggung, segera ia berkata dengan dingin: “Kakek-guruku tak nanti sudi
bergebrak dengan seorang angkatan muda, Tong-toaco, lebih baik aku menjajal kau
tiga kali jotosan saja!”
“Bagus!” sambut Tong Tay-hai. Dan tanpa bertanya nama orang lagi, kepalannya
sebesar mangkok itu terus saja menghantam ke dada orang sambil membentak: “Awas,
pukulan!”
Tak terduga mendadak pengemis itu memutar tubuh dan melangkah setindak kedepan,
karena itu pukulan Tong Tay-hai itu tepat mengenai kantong kain yang berada
dipunggungnya hingga mengeluarkan suara “bluk”.
Ketika pukulannya mengenai-isi kantong orang hingga rasa kepalannya mengenai
barang licin dan lunak, Tong Tay-hai menjadi heran. “Barang apakah di dalam
kantongmu itu?” segera ia membentak.
“Biasanya kaum pengemis suka menangkap apa?” sahut si jembel itu dingin.
Seketika Tong Tay-hai terkejut dan berseru: “Hah! Ular… ular…”
“Ya, memang benar ular!” sahut pengemis itu.
Membayangkan kepalannya tadi, tanpa terasa Tong Tay-hai menjadi ngeri, maka
waktu pukulan kedua dilontarkan sekarang ia mengarah muka orang…
Siapa tahu pengemis itu lantas melompat ke atas dan memutar tubuh sedikit habis
itu, turunnya ke bawah kembali ia sodorkan punggung ke depan orang.
Karena kuatir kepalan sendiri kena digigit ular yang terisi dalam kantong lawan
atau pakaiannya mengenai taring ular yang berbisa, maka Tong Tay-hai cepat
menarik kembali pukulannya itu, ia berganti tipu dan mendadak menendang
keselangkangan lawan.
Melihat orang jeri, si jembel itu diam2 geli, sengaja ia jatuhkan diri dan
sedikit membalik hingga kembali kantongnya yang disodorkan pada kaki orang.
Keruan Tong Tay-hai ketakutan, ia berseru kaget sambil berjingkrak. padahal ular
yang berada dalam kantong itu sangat jinak, taring berbisa juga sudah dicabut.
Dan pada saat itulah mendadak pengemis itu melompat maju dan secepat kilat dada
Tong Tay-hai dicengkeram nya terus diangkat tinggi2 ke atas sambil berteriak:
“Nah, ini namanya Cohpa-ong (nama seorang raja yang kuat) mengangkat Jian kie
teng!”
Dalam keadaan gugup tadi Tong Tay-hai telah kena dicengkeram “ci kiong-hiat” di
dadanya, seketika tubuhnya menjadi lemas tak bisa berkutik, sungguhpun rasa
gusarnya tidak kepalang, tapi tak dapat berbuat apa2.
Tong Tay-hai berjuluk Jian-kin-teng (wajan seribu kati), tapi kini “wajan” itu
diangkat orang tinggi2, maka seketika pecahlah gelak-tawa penonton.
“Lekas lepaskan, jangan kurang sopan!” cepat Nio-tianglo membentak cucu-muridnya
itu.
Maka cepat si jembel itu meletakkan Tong Tay hai ke atas panggung, lalu melompat
turun ke bawah dan menghilang di antara orang banyak.
Dasar Tong Tay-hai ini memang dogoI, dengan muka merah padam ia menuding ke
bawah panggung sambil mencaci-maki: “Pengemis bangsat, hayolah jika berani maju
lagi! Main sembunyi2, termasuk orang gagah macam apa? Hayolah maju pengemis
busuk? pengemis sialan!”
Terus menerus ia memaki pengemis, padahal di bawah panggung itu terdapat beribu
anggota Kay-pang, tapi karena merasa lucu, maka tiada orang menggubrisnya.
Pada saat itulah mendadak bayangan seorang melayang ke atas panggung dengan
enteng sekali ketika kaki kirinya menancap tepi panggung,tiba2 tubuh orang itu
ter-huyung2 se-akan2 merosot jatuh.
sungguhpun orangnya dogol tapi hati Tong tai-hai ternyata baik, ia berveru.”Eh,
hati2…!”
Dia berlari maju hendak menarik orang, tapi ternyata melesetlah dugaannya, ia
tidak tahu bahwa orang itu sengaja pamerkan ilmu silatnya yang tinggi dihadapan
orang banyak, ketika tangan Tong Tay-hay memegang lengan kiri orang itu,
mendadak orang itu mcmbaliki tangan terus diayun dengan gerakan Kim-na-jiu-hoat
(ilmu mencekal dan raenawan) hingga tanpa kuasa lagi tubuh Tong Tay-hai segede
kerbau itu melayang keluar panggung dan jatuh terbanting di tanah.
Waktu semua orang mengamati orang itu, ternyata pakaiannya rajin bersih, alisnya
panjang dan matanya jeli, kiranya adalah muridnya Kwe Cing, Bu Siu-bun adanya.
Menyaksikan muridnya mengunjukkan tipu gerakan yang meski gayanya sangat bagus,
tapi terlalu sombong, se-kali2 bukan, perbuatan seorang jujur, maka dalam hati
Kwe Cing menjadi kurang senang.
Betul saja, dibawah panggung segera banyak suara gerondelan orang yang tidak
setuju, berbareng dari kanan-kiri bergema tiga suara orang: “Kepandaian bagus!
Marilah kita belajar kenal berapa jurus!”
“Macam apakah cara itu?”
“Orang bermaksud baik menarik kau tapi kau malah membantingnya, benar2 kurang
pantas!”
Dan berbareng itu tiga orang sudah melompat keatas panggung.
ilmu silat Bu Siu-bun adalah ajaran Kwe Cing dan Ui Yong, pula mempunyai dasar
kepandaian, yaitu mendapat pelajaran dari sang ayah, Bu Samthong serta
It-yangci” yang diperolehnya dari sang Susiok, Cu Cu-liu, Kini kepandaiannya
dalam angkatan muda sudah boleh dikatakan kelas terkemuka.
Melihat tiga lawan datang sekaligus, diam2 ia bargirang, pikirnya: “Ha,
kebetulan aku kalahkan tiga orang ini barulah dapat menunjukkan betapa lihay
ilmu silatku.”
Kuatir ketiga orang itu akan menempurnya secara bergiliran, maka tanpa berkata
lagi segera ia mendahului bergerak, dalam sekejap saja ia sudah melontarkan
serangan masing2 sekali kearah tiga lawan itu.
Ketiga orang itu belum lagi berdiri tegap di atas panggung, tapi datang2 lantas
diserang, dalam gugupnya lekas2 mereka menangkis, namun kerepotan juga.
Siu-bun tidak tunggu lawan ada kesempatan berpikir, cepat kedua tangannya
susul-menyusul menyerang pula hingga satu mengurung tiga di-tengah2, ia sendiri
berada dilingkaran luar mengitar kian kemari secepat terbang, sebaliknya ketiga
orang yang tergencet di-tengah2 menjadi saling desak hingga gerak-gerik mereka
kurang leluasa.
Menyaksikan itu, para pahlawan di bawah panggung seketika terkejut, semuanya
berpikir “Nyata nama Kwe tayhiap yang menggetarkan kolong langit ini memang
bukan omong kosong belaka, buktinya muridnya saja sedemikian lihaynya.”
Ketiga orang yang terkurung ditengah ini satu-sama-lain tidak kenal, lebih2 tak
paham dari aliran mana ilmu silat masing2, kini kena dikurung Siu bun, seketika
mereka susab bergerak dan tak dapat saling membantu, sebaliknya malah terasa
saling merintangi.
Berapa kali ketiga orang itu hendak menerjang keluar, tapi selalu tertahan oleh
pukulan2 Bu Siu-bun yang ber tubi2 bagai hujan.
Melihat sang suami sudah berada diatas angin, tentu saja dalam hati Wanyan Peng
sangat girang, sebaliknya Kwe Hu lantas berkata: “Ah, tiga orang goblok ini
sudah tentu bukan tandingan engkoh-Bu kecil, padahal buat apa dia pamer
kegagahannya sekarang hingga banyak membuang tenaga saja, kalau sebentar ada
jago kuat naik panggung, bukankah akan susah menandinginya?”
Wanyen Peng berperangai halus, maka ia hanya tersenyum saja tanpa menjawab.
Sebaliknya Yalu-Yen adalah seorang berhati lugu dan tidak pantang omong, meski
Kwe-Hu adalah enso (isteri kakaknya), tapi kedua orang sering adu mulut, kini
mendengar kata2 enso ini, dapatlah ia menduga maksud hati orang, maka katanya:
“Kalau adik ipar sudah membereskan dulu sebagaian lawan dan nanti Tuh-si juga
maju membereskan sebagian lawan Iagi.
Paling akhir barulah Koko sendiri naik panggung mengalahkan semua pahlawan maka
kau akan menjadi nyonya Pangcu secara aman, bukankah lebih baik begitu?”
Wajah Kwe Hu menjadi merah, jawabnya: “Ah, begini banyak orang gagah yang hadir
disini. Siapa yang tidak ingin menjadi Pangcu? Mnsa bisa dikatakan sudah “aman”
segala?”
“Ya, sebenarnya Koko-ku juga tak perlu naik panggung,” kata Yalu Yen lagi.
“Maksudmu?” tanya Kwe Hu heran.
“Bukankah tadi Nio-tianglo bercerita bahwa dahulu dalam usia belasan tahun Subo
(ibu guru) sudah menjadi Pangcu dengan mengandalkan sebatang pentung bambu. Kata
pribahasa, ada sang ibu pasti ada sang puteri, Maka menurut aku, Enso, paling
baik kalau kau yang naik panggung daripada Kokoku.”
“Bagus, kau sengaja ber olok2 diriku, ya?” omel Kwe Hu sembari ulur tangannya
hendak mengitik-itik ketiak orang.
Tapi cepat Yalu Yen mengumpet kebelakang Yalu Ce sambil berseru tertawa: “Tolong
Pangcu, belum2 nyonya Pangcu sudah akan membunuh orang!”
Begitulah, meski waktu itu usia Kwe Hu dan Bu-si Hengte sudah lebih tiga puluh,
tapi sejak kecil sudah biasa bergurau, sungguhpun Yalu Yen dan Wanyen Peng juga
sudah punya putra-putri, namun bila bertemu masih suka berkelakar seperti waktu
muda.
Tatkala itu Ui Yong berduduk disamping Kwe Cing sambil kadang2 memandang jauh ke
sekelilingnya, ia ingin mengamat-amati kalau2 ada orang asing menyelundup masuk
diantara orang banyak Disekitar alun2 itu juga sudah diatur penjaggaan oleh anak
murid Kay-pang agar bila ada sesuatu yang mencurigakan harus segera melapor.
Betapapun ia kuatir kalau2 Seng-in Suthay, Han Buhou, Thio It-bin cs datang
mengacau, tapi tampaknya kini sudah mendekat sore, keadaan masih tenang2 saja
seperti biasa, diam2 ia pikir: “Ada apakah kedatangan mereka ke Siangyang sini?
Kalau dibilang ada sesuatu tujuan, kenapa belum lagi kelihatan sesuatu tanda?
jika melulu untuk memberi selamat pada Yang-ji, rasanya tidaklah masuk akal.”
Ketika ia memandang ke atas panggung, ternyata sekali pukul Bu Siu-bun sudah
menjatuhkan dua lawannya kebawah, tinggal seorang lagi yang masih bertahan
mati2an, tapi dapat diduga dalam lima jurus pasti akan dikalahkan juga.
“Hari ini para pahlawan dari segenap pelosok berada disini untuk berebut jabatan
Pangcu dari Kay-pang, akhirnya nanti entah siapa yang unggul dan menduduki
jabatan itu?” demikian diam2 Ui Yong membatin.
“Begitu pula hati beratus pahlawan di bawah panggung saat itupun mempunyai
pikiran seperti itu. Tapi ditaman bunga, dibelakang rumah keluarga Kwe itu
ternyata ada seorang yang sama sekali tidak memikirkan kejadian luar biasa
dikota sekarang ini.
Yang sedang dipikirkan adalah: “Hari itu telah kuserahkan sebuah jarum emas,
padanya dan kukatakan agar hari ini ia datang menemui aku karena hari ini adalah
hari ulang tahunku yang ke 16. Tatkala itu ia sendiri sudah menyanggupi tapi
kenapa sampai saat ini masih belum datang?”
Begitulah anak dara itu sedang duduk ditengah gardu di dalam taman yang
dilingkungi bunga beraneka warna, anak dara itu bersandar pada hek gardu dan
ter-menung2 sambil menyaksikan sang betara surya lambat-laun menggeser kebarat.
Dalam hatinya berpikir pula “Hari sudah larut sekalipun sekarang juga ia datang,
hanya tinggal waktu tiada setengah hari saja untuk berkumpul”
Sambil memandangi bayang2 tetumbuhan di tanah, tangannya memegangi sebuah jarum
emas satu2 nya itu sambil menggumam pelahan lagi: “Ya, aku masih dapat mengharap
sesuatu darinya…. tapi boleh jadi sama sekali ia sudah melupakan diriku hingga
lupa datang menjenguk daku, lalu harapan ketiga ini apa bisa kuutarakan lagi?”
Kemudian gumamnya pula: “Ah, tak mungkin, pasti tak mungkin ia adalah pendekar
besar di jaman ini, tentu pegang janji, mana bisa menjilat kembali apa yang
sudah pernah dikatakannya? Lewat sebentar lagi, ya, sebentar lagu tentu akan
datang menyambangi aku”
Teringat segera akan bertemu, tanpa terasa pipinya lantas bersemu merah, jarinya
yang memegangi jarum emas itu rada gemetar.
Begitulah kalau di taman bunga, si cilik Kwe Yang lagi dirundung rindu, adalah
di tengah alun2 Ui Yong justru sedang menyelami perasaan puteri kecilnya itu.
Ia pikir, “Menurut apa yang dialami kedua puterinya di kelenteng Yo-tayhu,
dimana ada orang kosen diam2 telah menolongnya. Kata Cing-koko, selamanya hanya
ada dua orang memiliki tenaga dalam sekuat itu, yaitu kalau bukan Ang Chit-kong
almarhum, tentunya Cing-koko sendiri. Tapi guru berbudi luhur itu sudah wafat,
Cing-koko lebih2 tak mungkin.
Kalau begitu apakah orang yang mengundang manusia2 aneh dari segala tempat untuk
memberi selamat pada Yang-ji itu adalah seorang kosen lain lagi? Jika
Lo-wan-tong Ciu Pek-thong, si tua nakal itu tabiatnya memang-suka main gila tapi
tindak-tanduknya tidak begitu rapi.
It-teng Taysu orangnya prihatin, tidak nanti suka buang waktu percuma, sedang
Se-tok Auyang Hong dan Cu-in Hwesio alias Kiu-Jianyim sudah mati semua, lalu
apakah mungkin ialah Ayah?
Memang tindak tanduk Ui Yok Su yang aneh2 dan sukar diraba itu rada2 mirip
dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.” PuIa Ui Yok-su memang terkenal dengan
nama “Tang-sia” atau manusia aneh dari timur yang namanya menggetarkan Kangouw
beberapa puluh tahun yang lalu, kalau dia yang tampil kemuka mengundang tokoh2
silat itu, rasanya orang pasti akan memenuhinya.
Walaupun tidaklah patut orang tua itu main2 dengan puteri dan cucunya, tapi
siapa bisa menduga akan kelakuannya yang terkenal aneh itu, atau bukan mustahil
didalamnya ada pula maksud tujuan lain?
Berpikir sampai disini, segera Ui Yong menggapai Kwe Hu agar mendekatinya, lalu
dengaa berbisik ia menanya: “Adikmu menghilang sehari semalam di kota tambangan
Hong-leng, ketika kembali pernah tidak ia bicara, tentang Gwakong?”
Kwe Hu tercengang oleh pertanyaan tiada ujung-pangkal ini. “Gwa Kong?” ia
menegas, “Ooh tidak. Bahkan muka Gwakong saja adik belum pernah kenal.”
“Coba kau meng-ingat2nya, ketika ia ikut pergi si setan Se-san di tambangan
Hongleng itu, pernah ia me-nyebut2 siapa lagi tidak?” desak Ui Yong.
“Tidak, tak pernah dia sebut2,” sahut Kwe Hu. ia tahu kepergian adiknya tempo
hari justeru ingin melihat Nyo Ko, tapi dihadapan ayah-bundanya paling
ditakutinya bila bicara menyangkut namanya- Nyo Ko, sebab bila mendengar nama
itu, sang ibu masih mendingan, tapi sang ayah seketika akan menarik muka hingga
beberapa hari tak bicara padanya, sebab itulah, kalau adiknya tidak sebut, iapun
lebih suka tutup mulut, apalagi urusan sudah lalu, untuk apa nama orang- itu
di-ungkat2 buat cari penyakit sendiri?
Tapi Ui Yong adalah wanita cerdik dan pandai, sedikit melihat air muka puteri
sulung itu berubah, segera ia menduga pasti tersembunyi sesuatu.
Maka dengan sungguh2 segera ia mendesak lagi. “Apa yang bakal terjadi didepan
mata ini bukanlah main2, coba katakan, apa yang pernah kau dengar, lekas kau
katakan terus tarang padaku.”
Melihat wajah sang ibu sungguh2, tak berani lagi Kwe Hu membohongi maka katanya:
“Ketika dalam perjalanan mendengar orang mengobrol tentang apa yang disebut
Sin-tiau-rayhiap, ialah… ialah Nyo… Nyo Ko, adik lantas bilang ingin pergi
melihatnya.”
Terkesiap hati Ui Yong, “Lalu dapat dilihatnya tidak?” tanyanya.
“Pasti tidak,” kata Kwe Hu. “Jika sudah, menurut watak adik masakah tidak terus
dibuat bahan cerita?”
“Ah, Ko ji, benar2 Ko-ji, benar2 dia!” demikian diam2 Ui Yong berkata dalam
hati. Segera ia tanya lagi. “Dan menurut pendapatmu orang yang diam2 membantu
kalian membunuh Nimo Singh dikelenteng Yo tayhu itu, dia atau bukan?”
“Mana mungkin?” sahut Kwe Hu. “Nyo… Nyo toako mana bisa memiliki ilmu silat
begitu bagus?”.
“Apa saja yang kau percakapkan dengan adikmu dikelenteng itu, coba ceritakan
seluruhnya, satu patah katapun tak boleh melompat,” desak Ui Yong.
“Juga tiada apa2 yang kami bicarakan memang sudah biasa adik suka adu mulut
dengan aku,” sahut Kwe Hu. Lalu iapun tuturkan tentang adik perempuannya itu
menyatakan takkan menghadiri Eng-hiong-tay-hwe, takkan menyaksikan pemilihan
pangcu serta bilang pada Shejitnya nanti bakat ada seorang ksatria muda yang
gagah perkasa akan datang menyambanginya.
Habis menuturkan semuanya itu, akhirnya ditambahkannya dengan tertawa: “Dan
betul juga tidak sedikit sobatnya telah datang, cuma kalau bukan sebangsa Hwesio
atau Nikoh, ternyata adalah kakek2 dan nenek2, sedangkan ksatria muda gagah
perkasa entahlah?”
Mendengar sampai disini, tidak ragu2 lagi Ui Yong, ia yakin orang yang
dimaksudkan Kwe Yang itu tentulah Nyo Ko. ia menaksir tentunya Kwe Yang dan Nyo
Ko sudah berjanji untuk bertemu dikelenteng Yo-tayhu, tapi kena dikacau oleh
datangnya Kwe Hu, untuk membela kehormatan Kwe Yang, lalu Nyo Ko mengundang
tokoh2 Kangouw yang banyak itu untuk memberi kado serta memberi selamat hari
ulang tahunnya.
“Tapi, untuk apa ia korbankan begitu banyak tenaga dan pikiran untuk Yang ji?”
demikian pikirnya pula, Apabila teringat olehnya selama beberapa hari ini puteri
kecil itu selalu lesu, pikiran tak tenteram kadang2 pipinya merah jengah
mendadak tanpa terasa Ui Yong menarik napas dingin: “Celaka, jangan2 selama
menghilang sehari semalam itu ditambangan Hongleng Yang-ji telah berbuat hal
tidak senonoh dengan, dia?”
Menyusul itu lantas terpikir pula olehnya: “Nyo Ko sakit hati karena aku
membinasakan ayahnya, ia benci pula Hu-ji yang mengutungi lengannya dan melukai
Siao-liong li dengan jarum berbisa, Ah, janji Siao liong-li yang akan bertemu
padanya lagi sesudah 16 tahun, tahun inilah tahun ke-16 itu. Ha, kalau begitu,
agaknya Nyo Ko datang untuk membalas dendamnya.”
Teringat akan kata2 “Nyo Ko datang untuk membalas dendam”, tanpa terasa Ui Yong
menjadi ngeri, ia cukup kenal kepintaran Nyo Ko meski belum melebihi dirinya,
tapi orang ini sejak kecil tindak tanduknya sudah sangat lihay, cintanya
terhadap Siao liong-li sangat mendalam dan murni, setelah menunggu selama 16
tahun ini, tapi tidak bersua kembali, tentulah penasaran itu akan dicari pangkal
pokok yang menyebabkannya dan tentu akan benci luar biasa pada-keluarga Kwe.
Dan dendam selama 16 tahun ini kalau menuruti sifat Nyo Ko yang luar biasa itu
tak nanti puas hanya sekali hantam membinasakan Kwe Hu saja, tapi pasti akan
menggunakan tipu akal yang paling keji untuk membalas sakit hati itu secara
besar2-an.
“Apakah ia sengaja hendak memancing Yangji masuk perangkapnya, membikin anak
ini jatuh hati dan menyerah padanya, lalu menyiksanya lahir batin, mati tidak,
hidup tidak? Ah, ya, ya, benar, kalau turuti watak Nyo Ko memang benar akan
dilakukannya,” demikian pikir Ui Yong pula.
Biia teringat semua ini, perasaan tertekan selama beberapa hari segera menjadi
buyar, ia menduga sebabnya Nyo Ko mau bunuh Nimo Singh untuk menolong Yang-ji
dan mengundang begitu banyak tokoh2 silat untuk datang memberi selamat padanya,
semua ini bertujuan untuk menarik hati anak dara itu.
Diam2 Ui Yong menghitung lagi dan berpikir. Tapi ada sesuatu yang tidak benar!
Hari ini tepat adalah ulang tahun Yang-ji, Enam belas tahun yang lalu ketika
Yang ji lahir, lewat beberapa bulan kemudian barulah ia berpisah dengan
Siao-liong-li di lembah Coat-ceng-kok, layaknya kalau dia mau balas dendam juga
harus menunggu genap 16 tahun, yalah sesudah lewat janjinya bertemu dengan
Siao-liong-Ii.
Meski janji bertemu 16 tahun kemudian itu sukar dipercaya, tapi tulisan yang
ditinggalkan itu jelas tulisan Siao liong li, siapa tahu kalau mereka suami
isteii benar2 akan berkumpul pula? Apakah mungkin ayahku…. atau mungkin bualan
tentang Lam-hay Sin-ni?”
Begitulah makin dipikir perasaannya mulai tak enak, “Ah, biarlah apapun jadinya,
jika Yang-ji bertemu lagi dengan dia pastilah terlalu banyak risikonya, Sifat
Yangji masih polos kekanak2an, mana bisa memahami hati manusia yang kejam dan
keji?”
Pada saat itulah tiba2 terdengar suara jeritan, kiranya Bu Siu-bun telah
merobohkan lagi lawannya yang tinggal satu tadi.
Lalu Ui Yong mendekati suaminya dan membisikinya: “Kau mengawasi di sini, biar
aku pergi menjenguk Yang-ji.”
“Yang ji tidak datang?” tanya Kwe Cing.
“Ya, biar aku sendiri memanggilnya, budak cilik ini memang aneh,” sahut sang
isteri.
Ketika sampai di kamar puteri kecil itu, ternyata Kwe Yang tidak di kamar, ia
tanya pelayan, katanya puteri kecil itu berada di taman bunga dan melarang orang
mengganggunya.
Ui Yong terkejut, pikirnya: “Ah, Yang-ji tidak mau menonton pertandingan ramai
di alun2, tentu karena dia sudah ada janji dengan Nyo Ko.”
Segera ia kembali ke kamar sendiri, ia bawa senjata rahasia seperlunya dan
menyelipkan sebilah pedang pendek, lalu membawa lagi pentung pendek terus menuju
ke taman bunga di belakang rumah.
Ia tahu ilmu silat Nyo Ko sekarang tentu lain daripada dulu, sesungguhnya lawan
yang menakutkan, sebab itu tak berani ia ayal, ia tidak melalui jalanan taman
yang ber-batu2 kecil itu, tapi memutar dari belakang gunung2an. Ketika hampir
dekat gardu bunga, tiba2 terdengar Kwe Yang menghela napas.
Ui Yong sembunyi di belakang gunung2an itu, terdengarlah puterinya itu lagi
menggumam sendiri pelahan: “Kenapa sampai sekarang masih belum datang, Ai,
benar2 bikin orang tidak sabar!”
Hati Ui Yong menjadi terhibur “Ah, kiranya ia belum tiba, kebetulan bisa
mencegatnya di tengah jalan”, demikian pikirnya.
Sementara itu terdengar Kwe Yang berkata pula: “Setiap hari ulang tahunku, ibu
selalu menyuruh aku menyebut tiga angan2. Kini di sini tiada orang lain, biarlah
aku katakan pada Tuhan.”
Sebenarnya Ui Yong hendak unjuk diri, tapi ketika mendengar gumaman puterinya
itu, tiba2 ia tarik kembali kakinya, ia ingin mendengarkan dulu apakah ketiga
angan2 yang akan dikatakan puteri kecil itu.
Selang sejenak, terdengar Kwe Yang bcrkata:, “O, Thian (Tuhan) yang maha
pengasih, berkatilah permohonanku ini, angan2ku yang pertama ialah semoga
ayah-ibu memimpin pasukannya membunuh habis atau mengusir semua pasukan Mongol
yang menyerbu datang itu, agar rakyat Siangyang dapat melewatkan hari2 yang aman
sentosa.”
Diam2 Ui Yong menghela napas lega dan bersyukur akan hati sang puteri yang luhur
itu.
sementara terdengar anak dara itu berkata lagu “Dan harapanku yang kedua, semoga
ayah ibu berbadan sehat, berumur panjang, segala sesuatu yang dikerjakannya
berjalan baik tak kurang suatu apapun.”
Waktu Kwe Yang dilahirkan, Kwe Cing dan Ui Yong berdua lantas banyak mengalami
peristiwa2 berbahaya hingga kemudian bila teringat selalu merasa ngeri, sebab
itulah tanpa terasa mereka tidak begitu sayang kepada Kwe Yang seperti sang
enci, tapi kini setelah mendengar beberapa kata hati-nurani anak dara itu, tak
tertahan matanya menjadi basah, rasa kasih sayangnya seketika bertambah
Dan harapan ketiga Kwe Yang seketika ternyata sukar diucapkannya, lewat agak
lama barulah terdengar ia buka suara: “Dan harapanku yang ketiga ini ialah
semoga Sin-tiau tayhiap Nyo Ko…”
Memang Ui Yong sudah menduga harapan puteri kecil yang ketiga ini tentu ada
hubungannya dengan Nyo Ko, namun demikian ketika mendengar nama Nyo Ko disebut,
hatinya terkesiap juga.
Sementara terdengar anak dara itu sedang meneruskan: “…bisa lekas2 berkumpul
kembali dengan isterinya, Siao-liong-li dan selanjutnya hidup aman dan bahagia.”
Sungguh kata2 terakhir ini sama sekali diluar dugaan Ui Yong, Mula2 ia menyangka
Nyo Ko akan memancing puterinya dengan menggunakan kata2 manis dan putar lidah
dengan segala macam omongan palsu, diluar dugaan ternyata puterinya itu malah
sudah mengetahui persoalan Nyo Ko dan Stao-liong-Ii, juga tahu Nyo Ko senantiasa
menanti saat berjumpa pula dengan Siao-liong-li, maka diam2 anak dara itu berdoa
untuknya.
Namun segera terpikir lagi olehnya: “Ai, celaka, cara Nyo Ko ternyata sangat
licin, justeru semakin ia menyatakan tak pernah melupakan kekasihnya dahulu,
semakin Yang-ji merasa dia berhak seorang berbudi dan akan lebih jatuh hati
padinya.”
Nyata saking pintarnya Ui Yong, hingga segala sesuai selalu dipikirnya secara
jauh, pula selama ini ia suka berperasangka terhadap Nyo Ko, ditambah
perhatiannya atas diri sang puteri, maka pikirannya menjadi kacau dan diam2
berkuatir.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara keresekan sekali, tahu2 dari pagar
tembok sana melompat turun satu orang, Terlihatlah orang ini berkepala besar,
tapi tubuhnya pendek, bentuknya sangat Iucu.
Demi nampak si cebol ini, seketika Kwe Yang melonjak girang, “Hai, Toa thau kui,
apakah dia… dia sudah datang?”
Memang si cebol berkepala besar ini adalah Toa-thau-kui atau setan kepala besar,
satu di antara Se-san it-khut kui (gerombolan setan Se-san).
Sesudah masuk kedalam gardu bunga itu, segera Toa thau kui memberi hormat pada
Kwe Yang, sikapnya ternyata sangat merendah sekali.
“Ai paman Toi-thau-kui, kenapa kau menjadi begini sungkan2 padaku?” tegur Kwe
Yang dengan tertawa.
“Jangan nona panggil aku paman segala, panggil saja “Tho-thau kui sudah cukup,”
sahut Toa thau kui. “Aku mendapat perintah Sin-tiau-tayhiap agar memberitahukan
nona..”
Mendengar sampai disini, Kwe Yang tampak kecewa, matanya menjadi basah. “Toakoko
bilang ada “urusan dan tak dapat datang, bukan?” demikian menyela. “tapi dia
sudah berjanji…”
“Tidak… tidak!” berulangkali Toa-thau-kau menggeleng kepalanya yang benar
bagai gantang itu.
“Kenapa tidak? Apa yang kau ketahui?” omel Kwe Yang cepat. “Justeru ia sudah
berjanji padaku.” Dan karena cemasnya hampir2 anak dara ini mengucurkan air
mata.
“Aku tidak bilang Ia tak berjanji padamu, tapi ingin kukatakan ia tidak
bermaksud takkan mengunjungi kau.”
Mendengar ini barulah Kwe Yang tertawa. “Lihatlah, bicara saja tak genah, bukan
ini. tidak itu, tak karuan” omelnya.
“Ya, Sin-tiau-tayhiap bilang bahwa karena beliau sendiri harus menyiapkan tiga
macam kado untuk hari ulang tahunmu, maka kedatangannya nanti agak terlambat.”
demikian tutur Toa thau kui kemudian.
Maka senanglah hati sigadis, katanya: “Sudah begini banyak orang membawa kado
untukku, segala apa akupun sudah punya. Haraplah sampaikan pada Toakoko bahwa
tak perlu lagi ia membawa kado apa segala.”
“Tapi.” ujar Toa thau-kui sambil goyang2 kepala, “ketiga macam hadiah itu, yang
pertama sudah disediakannya, yang kedua Sin tiau-tayhiap beserta para saudara
juga sedang menyiapkannya, besar kemungkinan kini sudah selesai.”
“Ai. aku lebih suka ia lekas datang daripada buang2 waktu mengadakan kado
segala.” sahut Kwe Yang.
“Dan mengenai hadiah yang ketiga itu, Sin tiau-tayhiap bilang harus diserahkan
sendiri kepada nona ditengah rapat besar Kay-pang di-alun2 sana,” kata
Toa-thau-kui lagi. “Sebab itulah nona Kwe silahkan ke sanalah, agaknya waktunya
sudah dekat sekarang.”
“Sebenarnya aku dongkoI pada Cici dan sudah bilang tak mau hadir ke sana, tapi
kalau Toakoko ingin begitu, baiklah, biar kita pergi bersama sekarang juga,”
sahut Kwe Yang.
Toa thau-kui mengangguk, lalu ia bersuit, tiba2 dari luar pagar tembok sana
melompat masuk sesuatu makhluk besar, waktu ditegasi, kiranya adalah Sin-tiau
atau si rajawali sakti itu.
Melihat Sin tiau, segera Kwe Yang merangkul lehernya seperti berjumpa dengan
sobat lama saja, Sebaliknya rajawali itu malah melangkah mundur dua tindak
sambil berdiri dengan angkuh dan melirik seperti sama sekali tidak pandang
sebelah mata pada Kwe Yang.
“Ha, Tiau-toako ini sangat angkuh, ia tak gubris padaku, tapi aku justeru ingin
kau menggubris.” kata Kwe Yang tertawa, Habis itu kembali ia melompat terus
merangkul leher Sin tiau lagi, sekali ini binatang itu tidak menghindar, tapi
kepalanya tetap berpaling ke arah lain, seolah seorang ayah yang kereng
menghadapi anak yang nakal dan aleman.
“Marilah Tiau toako, kaupun ikut, nanti aku memberi makanan enak padamu, kau
minum arak tidak?” kata Kwe Yang.
“Ha, jika kau menyuguh Sin tiau minum arak, itulah paling disukanya,” ujar Toa
thau-kui tertawa.
“Bagus, kau tunggu sebentar,” seru si gadis terus berlari ke dapur, sebentar
saja ia sudah kembali dengan seguci arak pilihan.
Segera Toa-thau-kui membuka tutup guci hingga bau-harum arak seketika menusuk
hidung, cepat saja setan kepala besar itu angkat guci itu terus ditenggak
dahulu.
“Ketika- ia sodorkan arak itu kepada Sin-tiau, sekali binatang ini mencocok
dengan paruhnya, maka berlubanglah guci itu, segera Sin-tiau masukkan paruhnya
kedalam guci dan sekejap saja seluruh isinya sudah terhirup habis.
“Anak dara ini benar2 harus-diajar, sembarangan memberikan “Kiu-hoa-giok-ioh-ciu
buatanku kepada seekor binatang,” demikian diam2 Ui Yong mendamperat.
Kiranya cara pembuatan arak itu tidaklah mudah, Ui Yong membikinnya berdasarkan
resep cara ayahnya meracik obat “Kiu-hoa-giok-loh wan”, yakni mengumpulkan sari
bunga mawar dicampur berbagai racikan obat lain ke dalam arak simpanan, kalau
bukan sobat kental biasanya Ui Yong tidak sembarangan mengeluarkan arak itu.
“Wah kekuatan minum Tiau-toako sungguh hebat, marilah berangkat,” kata Kwe Yang,
kemudian dengan tertawa. Lalu dua orang dan satu rajawali lantas, menuju ke
alun2
Ketika memasuki Iapangan, melihat badan Sin-tiau itu-begitu kekar, tapi rupanya
jelek dan aneh, para pahlawan sama merasa heran. Lalu Kwe Yang membawa
Toa-thau-kui dan Sin-tiau itu duduk pada suatu tempat yang sepi.
Anak murid Kay-pang yang bertugas menyambut tamu merasa Toa thau kui belum
dikenalnya, segera mereka datang menyapa sambil menanyakan namanya.
Namun Toa-thau-kui telah menjawab: “Aku tak punya nama segala apapun tak tahu,
nona Kwe yang mengajak aku kemari, maka aku lantas ikut kemari.”
Sementara itu pertandingan di atas panggung sudah silih berganti Bu Tun-si dan
Bu Siu-bun berdua sudah dijatuhkan orang, begitu pula keponakan Cu Cu-liu dan
tiga anak murid, Su-sut hiun serta, beberapa anak murid Kay-pang ber-turut2
juga sudah kalah, yang tinggal di atas panggung tatkala itu ialah Yalu Ce dengan
72 jurus “Khong beng-kun”, (ilmu pukulan “terang terang-kosong) ajaran Ciu
Pek-thong, ia sedang menempur seorang laki2 kekar setengah umur.
Orang ini bernama Na Thianho, seorang suku Miau di propinsi Kuiciu, waktu
kecilnya ketika ia mencari bahan obat di pegunungan telah bertemu seorang kosen
dan mendapat ajaran semacam ilmu pukulan yang Iihay.
Gerak serangan Yalu Ce mengutamakan kelemasan, enteng tanpa suara, hingga sukar
diduga lawan.
BegituIah satu keras dan yang lain lemas terus saling gebrak dengan sama
kuatnya.
Meski tenaga pukulan Na Thian-ho sangat keras, tapi angin tidak selamanya
meniup, hujan tidak selamanya turun, betapapun tak bisa tahan lama. walaupun
setiap pukulan yang dilontarkannya masih membawa samberan angin yang santar,
namun tenaga dalamnya sudah mulai berkurang.
Sebaliknya tipu gerakan Yalu Ce tidak lebih cepat juga tidak menjadi lambat
daripada tadi, ia bergerak enteng saja, setiap serangan lawan selalu
dipatahkannya dengan baik, ia tahu pertandingan iui bukanlah pertandingan
satu-dua orang saja, tapi lawan yang akan naik panggung lagi dan lebih kuat
tentu masih banyak, maka perlu simpan tenaga.
Akhirnya Na Thian-ho mulai tak sabar, selama berpuluh tahun didaerah barat daya
belum pernah ada lawan yang sanggup menahan sampai 30 jurus serangannya, tapi
harini ia tak bisa apa2 menghadapi seorang muda didepan pahlawan2 yang begini
ba-nyak, bukankah ini sangat memalukan?
Sebab itulah, ia kerahkan tenaga dalamnya terus menambahi tenaga pukulannya.
Setelah beberapa puluh jurus berlangsung pula, mendadak Na Thian-ho melihat
kesempatan baik.
“Kena!” bentaknya cepat, berbareng dengan tipu “Kiu-kui-tt-senglu (sembilan
setan mencapai bintang) ia hantam dada Yalu Ce.
Ia sangat girang karena dilihatnya dada lawan terbuka tak terjaga, serangan ini
yakin akan mengenai sasarannya, Dan betul saja, “bluk”, pukulannya tepat
mengenai tempat yang diarah.
Melihat itu, berseru kaget sebagian besar penonton dibawah panggung hingga sama
berdiri. Mendengar suara terpukulnya itu, dapat diduga Yalu Ce kalau tidak mati
pasti terluka parah. Padahal tadi Nio-tianglo sudah memperingatkan agar berhenti
bila tubuh masing2 sudah ketutul, sekarang kalau sekali pukul Na Thian-ho
tewaskan Yalu Ce, sedangkan orang adalah menantu kesayangan Kwe-tayhiap dan
Kwe-hujin, dapat diduga segera urusan akan bertambah meluas.
Siapa tahu, begitu berhasil memukul, seketika air muka Na Thianho malah pucat
lesi, lalu ter-huyung2 mundur beberapa tindak.
“Kagum, kagum!” katanya tiba2″ sambil kiong ciu pada Yalu Ce, lalu balik
berjalan kedepan panggung dari teriaknya dengan lantang: “Yalu-toaya sengaja
berlaku murah hati mengampuni jiwaku, benar2 seorang ksatria berbudi luhur,
sungguh aku merasa kagum dan terima menyerah.”
Habis berkata, segera iapun melompat turun panggung.
“Keruan penonton saling pandang dengan bingung karena tak mengerti apa sebabnya.
Waktu mereka pandang Yalu Ce, pemuda itu bersenyum saja seperti biasa, Sudah
terang terlihat Yalu Ce kena dihantam Na Thian-ho, tapi kenapa malah Yalu Ce
yang dikatakan mengampuni jiwa Na Thian-ho, sekalipun Lwekangnya memang tinggi,
tapi juga sukar menang dengan kepandaian itu? Demikian semua orang tidak habis
mengerti.
Kiranya tadi ketika tangannya mengenai dada Yalu Ce, mendadak Na Thiao-ho merasa
tangannya se-akan2 mengenai tempat kosong, tapi toh bukannya hampa sama sekali,
hanya seperti tangan masuk ke dalam air saja, seperti kosong dan seperti ada
barangnya, se-olah2 ada semacam kekuatan yang melengket yang menahan tangannya
itu.
Kejut Na Thian-ho tidak kepalang, ia kumpulkan tenaga menarik sekuatnya, tapi
tangannya terasa melengket saja, dapat ditarik tapi tak bisa terlepas.
Ia jadi ingat waktu belajar dahulu sang guru pernah memperingatkan bahwa ilmu
silatnya itu: “Hong-lui-cio-hoat” (ilmu pukulan angin dan guntur) bila ketemukan
ahli Lwekang harus hati2 sebab bila terserang tenaga dalam lawan hingga masuk ke
perut, maka biarpun tidak mati seketika, sedikitnya akan cacat untuk selamanya.
Namun selama tiga puluh tahun belum pernah ia ketemukan lawan tangguh, maka
kata2 sang guru itu sudah lama terlupa, Siapa tahu kini benar2 ketemukan seorang
lihay yang berkepandaian seperti dikatakan gurunya, sekilas peringatan itu
terbayang olehnya hingga ia pejamkan mata dan menanti ajalnya.
Sama sekali tak tersangka mendadak daya jengkel tangannya itu terasa lenyap,
menyusul itu hawa mendidih di dalam perutnya pelahan2 buyar juga, ketika Na
Thian-ho geraki tangannya, terasa kepandaiannya sedikitpun tidak teralang,
terang Yalu Ce telah sengaja mengampuni jiwanya, sebab itulah dalam keadaan malu
dan berterima kasih tak lupa ia mengucapkan beberapa patah kata di hadapan orang
banyak.
Pertarungan sengit diantara kedua orang itu telah disaksikan semua orang, betapa
hebat ilmu pukulan Na Thian bo, tapi akhirnya dikalahkan Yalu Ce secara
menakjubkan, maka bagi orang yang punya sedikit pengalaman tiada yang berani
lagi coba2 naik ke panggung.
Disamping itu Yalu Ce adalah anak menantu Kwe Cing dan Ui Yong yang rapat
hubungannya dengan Kay pang, dengan sendirinya anak murid Kay-pang lebih suka
kalau pemuda ini jadi pangcu mereka.
Pula ia adalah murid Ciu Pek-thong yang tergolong tokoh tertua Coancin-pay
dengan sendirinya anak murid Coan-cin-pay dan anak murid Tang-sia atau Lam-te
juga sungkan bertanding dengan dia. Hanya ada dua -tiga orang yang sembrono
masih coba2 naik panggung, tapi hanya beberapa gebrak saja sudah dikalahkan .
Melihat sang suami menjagoi panggung, sudah tentu rasa senang Kwe Hu tak
terkatakan, Tapi ketika sekilas dapat dilihatnya ada seekor rajawali raksasa
yang aneh dan jelek beserta si cebol berkepala besar yang dilihatnya ditambangan
Hongleng sedang duduk di sisi adik perempuannya, tanpa tertahan iapun
tercengang.
Tadi waktu Kwe Yang bersama Taa-thaokiu dan Sia tiau masuk lapangan, saat itu
Yalu Ce lagi seru menempur Na Thian-ho, seluruh perhatian Kwe Hu sedang
dicurahkan pada diri sang suami maka ia sama sekali tidak melihatnya. Kini
sesudah keadaan mereda barulah ia melihat datangnya sang adik yang katanya tidak
mau datang, kenapa sekarang telah hadir?
Tapi lantas terpikir lagi sesuatu olehnya, diam2 ia berkita: “Celaka, Nyo Ko
menyebut dirinya sebagai “Sin-tiau-tayhiap”, tentunya rajawali besar jelek ini
adalah Sin tiau yang dimaksudkan itu. Dan kalau Sin-tiau sudah datang, pasti Nyo
Ko juga sudah berada disekitar sini, Kalau dia datang untuk rebut kedudukan
Pangcu…. ya, kalau dia datang untuk perebutan Pangcu”
Begitulah sesaat itu dari rasa girangnya segera berubah kuatir sebab betapa
tinggi ilmu kepandaian Nyo Ko yang pernah dirasakannya cukuplah diketahui, apa
artinya jika benar2 orang telah datang untuk maksud berebut Pangcu.
Namun waktu ia memandang sekitarnya, jejak Nyo Ko sama sekali tak tertampak,
sementara itu hari sudah petang, beruntun Yalu Ce telah mengalahkan tujuh orang
dan tiada yang berani naik panggung lagi, Majulah Nio-tianglo ke depan dan
berkata dengan suara lantang: “Yalu Ce-toaya ber-kepandaian serba lengkap Bu dan
Bun (silat dan surat ), kita sudah lama mengaguminya, kini kalau beliau bisa
menjadi Pangcu kita, sudah tentu kami mendukungnya”
Berkata sampai di sini, para anggota Kaypang yang berada di bawah panggung
serentak berdiri dan bersorak-sorai.
Lalu Nio-tianglo menyambung pula: “Dan entah ada tidak ksatria lain yang masih
ingin naik panggung buat bertanding lagi?”
Setelah berulang kali ia tanya dan bawah panggung sepi saja tiada jawaban. Diam2
Kwe Hu girang, pikirnya: “Nyo Ko tidak datang pada saat ini, hilanglah
kesempatannya! Asal Ce-koko sudah menerima jabatan Pangcu, sekalipun ia hendak
mem-persulit juga tiada gunanya.”
Pada saat itu juga, tiba2 terdengar suara derapan kuda yang cepat, dua orang
penunggang kuda secepat terbang mendekati Mendengar suara derapan kuda yang riuh
itu terang penunggangnya sangat ter-gesa2.
“Akhirnya datanglah dia!” pikir Kwe Hu.
Dalam pada itu, kedua penunggang kuda itu sudah masuk lapangan, semuanya memakai
baju-abu2, kiranya dua pengintai yang Kwe Cing untuk mencari berita pasukan
musuh.
Meski Kwe Cing terus mengikuti pertandingan di atas panggung tapi setiap saat
selalu ia pikirkan situasi militer, kini melihat kedua pengintainya kembali
dengan begitu cepat, katanya dalam hati: “Ha, akhirnya datanglah!”
Dalam hati Kwe Cing dan Kwe Hu berdua sama2 berkata: “Akhirnya datanglah, tapi
yang dimaksudkan sang puteri ialah Nyo Ko, sedang sang nyali maksudkan pasukan
musuh, orang Mongol.
Sesudah dekat, segera kedua pengintai itu menghadap Kwe Cing dan memberi hormat.
Pada umumnya, baik atau buruk situasi militer yang akan dilaporkan, dari air
muka pengintai biasanya sudah kelihatan. Kini terlihat wajah kedua pengintai itu
menunjuk rasa bingung tapi penuh girang, seperti ketemukan sesuatu kejadian yang
di luar dugaan.
“Lapor Kwe tayhiap, pasukan perintis Mongol dari jurusan kanan berjumlah seribu
jiwa sudah sampai di Sin-ya,” demikian salah seorang pengintai itu melapor.
Diam2 Kwe Cing terkejut “Cepat benar majunya,” katanya dalam hati, Lalu
terdengar pengintai yang lain juga buka suara: “Lapor, pasukan perintis Mongol
barisan kiri seribu orang sudah tiba sampai di Tengciu-”
Harus diketahui bahwa jarak antara Tengciu dan Sin-ya dengan Siangyang hanya
seratus li lebih, jalan kedua tempat itu seluruhnya jalan datar, jika pasukan
gerak cepat Mongol itu maju pesat, tidak sampai satu hari pasti akan sampai
Siangyang.
Namun pengintai yang kedua tadi dengan berseri lantas berkata lagi: “Cuma ada
suatu kejadian aneh, seribu pasukan Mongol diluar kota Tengciu itu seluruhnya
menggeletak mati, tiada satupun yang hidup.”
“Bisa terjadi begitu?” tanya Kwe Cing heran.
“Ya, apa yang hamba lihat di Sin-ya juga begitu,” sela pengintai satunya,
“seribu tentara perintis Mongol yang lain juga seluruhnya sudah menjadi mayat,
yang paling aneh ialah setiap mayat perajurit Mongol itu daun telinga kirinya
telah diiris orang.”
“Benar, perajurit Mongol yang di Tengciu juga begitu, daun telinga kanan mereka
sudah Ienyap,” sambung pengintai kedua tadi.
Mendengar itu, Kwe Cing dan Ui Yong hanya saling pandang dengan rasa heran dan
girang yang bercampur-aduk.
Mereka heran siapakah yang mendadak kirim pasukan penggempur lihay hingga kedua
pasukan musuh itu kena dihancurkan semua, walaupun hanya 2000 orang musuh dari
beratus ribu lainnya, namun bila berita ini disiarkan tentu akan besar
membangkitkan semangat tentara sendiri.
“Dan bagaimana pasukan pertahanan kita di kota Sinya dan Tengciu?” tanya Kwe
Cing.
“Kedua kota itu tertutup rapat, mungkin kematian pasukan Mongol diluar kota itu
hingga kini belum diketahui panglima penjaga kota2 terse-but,” sahut kedua
pengintai itu.
“Lekas kalian laporkan kepada Lu-tayswe, tentu kalian akan diberi hadiah,” ujar
Ui Yong.
Maka pergilah kedua pengintai itu dengan cepat
Ketika berita itu diumumkan di atas panggung, seketika bersorak sorailah seluruh
hadirin.
“Kay-pang memilih pangcu adalah urusan besar, tapi lebih besar lagi adalah
berita tentang hancurnya pasukan musuh ini?” kata Ui Yong pula. “Maka Nio
tianglo, lekas suruh orang menyiapkan perjamuan, kita harus merayakannya
kemenangan secara besar2an.”
Memangnya daharan sudah disiapkan, yakni untuk merayakan Pangcu pilihan baru.
Kini berita kemenangan itu membuat semua orang bertambah gembira. Hanya Bu
Siubun dan Bu tun-si yang kalah bertanding tampak kesal, tapi yang gembira
banyak dan yang kesal satu-dua orang, tentu saja tidak pengaruhi suasana
gembira-ria itu.
Sebentar saja suara saling memberi selamat terdengar gemuruh diselingi suara
beradunya cawan arak.
Kemenangan mendadak itu disangka para pahlawan tentu perangkap yang telah diatur
Kwe Cing dan Ui Yong, maka ber-bondong2 mereka datang memberi selamat Namun Kwe
Cing tegas menyatakan bukanlah jasanya, sudah tentu semua orang tak mau percaya,
sebab memang sudah menjadi watak Kwe Cing yang suka rendah hati.
“Memang kejadian ini rada aneh, Cing-koko!, biarlah kita tunggu kabar lebih
lanjut baru bisa mengetahui duduknya perkara,” ujar Ui Yong.
Kiranya ketika mendapat laporan itu, Ui Yong tahu di dalamnya tentu ada sesuatu
mencurigakan maka cepat ia mengirim delapan anak murid Kay-pang yang pandai dan
cerdik menyelidik ke Sinya dan Tengciu.
Dalam pada itu Kwe Yang, Toa-thau kui dan Sin-tiau sedang duduk bersama di suatu
tempat, melihat rupa Sio-tiau yang aneh dan hebat hingga tiada orang yang berani
mendekatinya.
“Kenapa Toakoko masih belum datang?” demikian Kwe Yang terus menanyakan Nyo Ko.
“la sudah bilang akan datang, pastilah datang nanti,” sahut Toa-thau-kui. Dan
belum lenyap suaranya, mendadak ia sambung pula: “Tuh, dengarlah suara apakah
itu?”
Ketika Kwe Yang mendengarkan dengau cermat, maka terdengarlah dari jauh
berkumandang suara meraungnya binatang2 buas. ia bergirang. “Ah, Su-si Hengte
telah datang!” demikian katanya.
Tak lama kemudian, suara raungan binatang itu semakin dekat, para pahlawan yang
berada di-alun2 itu terkejut, be-ramai2 mereka lolos senjata sambil berdiri,
seketika suasana lapangan itu menjadi kacau dan ramai dengan suara orang:
“Darimanakah datangnya binatang buas begini banyak?”
“He, singa! Ah, juga harimau!”
“Awas! Ber-jagalah diserang serigala, begitu juga awas terhadap macan tutul!”
Hanya sikap Kwe Cing saja yang sangat tenang, ia pesan Bu Siu-bun: “Kau kembali
ke kota dan menyampaikan perintahku agar dikirim 2000 pemanah kemari.”
Bu Siu- bun mengiakan selagi hendak pergi, tiba2 dari jauh terdengar suara
seruan orang yang panjang: “Ban-siu-san-ceng Su-si Hengte diperintahkan
Sin-tiau-hiap datang memberi selamat Shejit kepada nona Kwe Yang serta
menghantarkan hadiah ulang tahun.”
Suara itu bukan teriakan satu orang tapi keluar dari mulut Su-si Hengte berlima.
lwekang mereka beraliran tersendiri walaupun bukan jagoan kelas wahid, tapi
suara teriakan mereka berbareng seakan2 paduan suara yang me-mekak telinga.
Ui Yong memberi tanda agar Bu Siu-bun tetap pergi melaksanakan perintah sang
suami tadi, sebab meski begitu dikatakan Su-si Hengte, namun tiada jeleknya
kalau ber-siap2 untuk segala kemugkinan lain. Maka pergilah Siu-bun dengan cepat
mencemplak kudanya.
Selang tak lama, pasukan pemanah pertama sudah datang dan tersebar disamping
alun2.
Dan baru saja pasukan pemanah itu mengambil kedudukan ber-siap2, terlihatlah
seorang laki2 berbaju kulit macan telah sampai diluar lapangan itu, dengan
membawa seratus ekor harimau, Siapa lagi dia kalau bukan Pek-hia san-kun Su Pek
wi. Seratus ekor harimau itu secara rajin berbaris mendekam ditanah.
Menyusul itu Koah-kian-cu Su TioDg-bing membawa seratus ekor macan tutul,
Kim-ka-say-org rnefjggiring seratus ekor singa, Tai-lik-sin Su Kui kiang
memimpin seratus ekor gajah, Pat-jiu-sian-kau Su Beng-ciat dengan seratus ekor
monyet besar. semuanya berbaris dengan rajin diiuar lapangan. Meski binatang2
itu buas dan tiada hentinya mengeluarkan suara raungan, tapi barisannya rajin
tanpa kacau sedikitpun.
Para pahlawan yang hadir itu semuanya sudah banyak berpengalaman tapi mendadak
melihat datangnya binatang2 buas begini banyak, mau-tak-mau sama berkuatir juga.
Kemudian Su si Hengte masing2 membawa sebuah kantong kulit terus berjalan
kehadapan Kwe Yang, dengan membungkuk badan mereka berkata: “Selamat hari ulang
tahun nona, semoga panjang umur dan tetap awet muda.”
“Banyak terima kasih atas doa restu kelima paman Su,” sahut Kwe Yang.
“Dan inilah hadiah ulang tahun pertama yang Sin-tiau-hiap kirim pada nona,” kata
Su Pek-wi sambil menunjuk kelima kantong kulit yang mereka bawa.
“Ah, benar2 aku tak berani menerimanya. Barang apakah itu?”, demikian sambut Kwe
Yang, “Ehm, aku menerka dalam kantong kulitmu itu tentu berisi seekor anak
harimau kecil, ya bukan?”

kembalinya rajawali 22

Juni 24, 2010

Pada saat itu pula suara sayup2 terputus2 tadi berkumandang pula: “Gerombolan
setan dari Se-san sepuluh sudah datang sembilan, Hong-thian-lui, wahai
Hong-thian-lui, arwahmu tidak muncul, orang sudah Iama menunggu!”
Suara itu kedengaran sangat jauh, tiba2 seperti sangat dekat dan mengiang di
kanan-kiri sehingga membuat merinding orang.
Kwe Yang sudah bertekad harus bertemu dengan Sin-tiau-hiap sekalipun nanti akan
kepergok setan iblis, maka segera ia menjawab: “Baiklah, Cian-pwe, bawalah aku!”
Berbareng ia terus melompat ke sana dan menerobos keluar melalui lubang dinding
yang dibobol si cebol tadi.
“He, kau!” seru Kwe Hu sambil meraih tangan sang adik, tapi luput, cepat iapun
melompat ke sana hendak mengejar keluar melalui lubang dinding.
Siapa tahu baru saja tubuhnya hendak menerobos keluar, mendadak lubang dinding
itu menghilang. Untung kepandaian Kwe Hu kini sudah cukup sempurna dan dapat
mengendalikan tubuh sendiri sesuka hati, cepat ia anjiok ke bawah sehingga daya
terobosnya tadi dihentikan seketika, begitu kakinya menyentuh lantai, ternyata
dirinya tepat berdiri di depan dinding, jaraknya cuma belasan senti saja. Waktu
ia dapat melihat jelas, hampir saja ia menjerit kaget.
Ternyata tubuh si cebol tadi dengan tepat terisi di lubang dinding itu,
kepalanya yang besar dan bahunya yang lebar itu persis seperti dicetak pada
dinding itu. Kwe Hu berdiri berhadapan dengan makhluk aneh bermuka buruk itu,
malahan tadi mukanya hampir mencium muka si cebol, keruan saja ia terkejut,
cepat ia melompat mundur lagi
Segera terasalah angin dingin meniup, dinding itu kembali berlubang bentuk tubuh
manusia cebol lagi, tapi si cebol sendiri sudah menghilang.
“Jimoay, kembali!” seru Kwe Hu sambil menerobos keluar, didengarnya suara
tertawa keras di kejauhan, mana ada bayangan si Kwe Yang cilik?
Rupanya setelah si cebol menggertak mundur Kwe Hu, segera pula ia melompat
keluar dan mendekati Kwe Yang, katanya: “Bagus, nona cilik sungguh pembrani!”
Segera ia pegang tangan Kwe Yang dan diajak melompat ke depan, sekali lompat
dua-tiga meter jauhnya, jangan dikira orang cebol itu kakinya cekak, lompatannya
ternyata sangat jauh dan cepat lagi, yang digunakan ternyata adalah Ginkang yang
lain daripada yang lain, seperti katak saja ia terus melompat2 ke depan, biarpun
membawa serta Kwe Yang, namun gerak-geriknya tetap sangat lincah dan enteng.
Tangan Kwe Yang yang digenggam si cebol itu rasanya seperti dijepit oleh tanggam
sehingga terasa sakit, hatinya menjadi berdebar kuatir, entah dirinya hendak
dibawa ke mana oleh orang cebol ini?
Sejak kecil Kwe Yang langsung mendapat didikan dari Kwe Cing dan Ui Yong,
dasarnya anak dara itu pintar dan cerdik, semula ia masih sanggup mengikuti
lompatan orang cebol itu, tapi lama2 ia menjadi lelah dan perlu ditarik dan
diangkat baru dia dapat sama naik dan sama turun dengan si cebol.
Setelah berlompatan begitu beberapa li jauhnya, tiba2 dari balik bukit sana ada
orang tertawa dan berkata dengan suara halus: “Hai, Hong-thian-lui, mengapa kau
datang terlambat? Eb, malahan kau membawa anak dara secantik itu!”
“Nona cilik ini adalah puteri Kwe Cing dan ingin melihat Sin-tiau-hiap, maka aku
membawanya kemari,” kata si cebol.
“Puteri Kwe Cing?” orang tadi menegas dengan melengak.
Dari bukit sana suara seorang lagi berkata: “Sudah lewat tengah malam, lekas
berangkat!” Menyusul mana terdengarlah suara derapan kuda lari yang riuh, dari
balik bukit lantas muncul belasan ekor kuda.
Sementara itu salju masih terus turun dengan lebatnya, dari pantulan cahaya
salju itu dapatlah Kwe Yang melihat belasan ekor kuda itu seluruhnya ada
sembilan penunggang kuda yang berlainan bangun tubuh masing2, ada yang tinggi
dan ada yang pendek, ada lelaki dan juga ada perempuan, sebagian besar kuda itu
tanpa penunggang malah.
Si cebol tadi mendekat ke sana dan menuntun dua ekor kuda, seekor diserahkannya
kepada Kwe Yang, ia sendiri menunggang seekor, lalu membentak: “Hayo berangkat!”
Sekali bersuit, ber-bondong2 belasan ekor kuda itu terus membedal cepat ke arah
barat laut.
Dari bentuk tubuh kesembilan orang itu Kwe Yang melihat jelas dua di antaranya
adalah perempuan, yang satu kelihatan sudah tua renta, seorang lagi berpakaian
merah membara sehingga sangat menyolok di tanah salju yang putih bersih itu.
Wajah ketujuh orang lainnya tidak jelas, hanya perawakan seorang di antaranya
sangat tinggi kurus sehingga mirip tiang bendera terpancang di atas pelana kuda.
Rombongan mereka terus mengaburkan kuda dengan cepat, setelah belasan li mereka
lantas berganti kuda tunggangan agar kuda yang pertama dapat mengaso.
Diam2 Kwe Yang membatin: “Dari suara sayup2 yang terdengar tadi katanya
gerombolan setan Se-san sepuluh sudah datang sembilan, kini termasuk si cebol
tadi jumlah mereka memang sepuluh, Tampaknya mereka inilah yang disebut
gerombolan setan dari Se-san.
Menurut Song-toa siok tadi, katanya besar bahayanya jika aku ikut mereka dan si
cebol terus hantam paman Song itu hingga sekarat, kelihatannya orang2 ini sangat
kejam.
Tapi orang cebol itu mengatakan hendak membawaku menemui Sin-thay-hiap, agaknya
ucapannya juga tidak dusta, Kalau mereka kenal Sin-tiau-hiap, kukira mereka
pasti bukan orang jahat.”
Dalam sekejap saja belasan li sudah berlalu pula, orang yang paling depan
mendadak bersuara dan belasan ekor kuda itu serentak berhenti Orang di depan itu
lantas melarikan kudanya ke suatu tempat yang tinggi, lalu memutar balik,
Kwe Yang menjadi terkejut dan geli pula melihat wajahnya. Kiranya orang ini juga
seorang cebol, tubuh yang berada di atas kuda tidak lebih daripada setengah
meter, tapi jenggotnya yang panjang itu ada satu meteran sehingga melambai ke
bawah perut kuda, mukanya berkeriput kedua alis terkerut seperti orang yang
selalu bersedih.
“Dari sini ke To-ma-peng tidak lebih 30 li saja,” terdengar orang tua itu
berkata, “konon ilmu silat Sin-tiau-hiap itu sangat tinggi, sebaiknya kita
berunding dahulu agar gerombolan setan dari Se-san tidak kehilangan pamor.”
“Silakan Toako memberi petunjuk saja,” ujar si perempuan tua tadi.
“Apakah kita harus bertempur secara bergiliran dengan ia atau mengerubutnya
sekaligus?” tanya orang tua cebol berjenggot panjang itu.
Kwe Yang terkejut pula, dari nada pembicaraan orang2 ini jelas mereka hendak
memusuhi Sin-tiau -hiap.
Terdengar perempuan tua tadi berkata: “Sebenarnya Sin-tiau-hiap itu memang
mempunyai kepandaian sejati atau cuma bernama kosong belaka? Dalam hal ini,
Jit-te, hanya kau yang pernah berjumpa dengan dia, coba kau memberi keterangan
sekedarnya!”
Seorang laki2 tinggi besar lantas berkata: “Meski pernah kulihat dia, tapi aku
tidak sampai bergebrak dengan dia kukira…. kukira dia memang rada2…”.
“Jit-ko,” tiba2 perempuan berpakaian merah ikut bicara, “sebab apa kau sampai
bermusuhan dengan Sin-tiau-hiap, hendaklah kau jelaskan lebih dulu agar nanti
kalau bertarung juga kita sudah mempunyai pegangan.”
“Gerombolan setan dari Se-san selamanya sehidup-semati, kalau Sin-tiau-hiap itu
sudah mengeluruk ke sini, apakah kita harus mengkeret dan menyingkir?”
Lelaki yang bertubuh tinggi kurus seperti lidi itu berkata: “Siapa yang bilang
menyingkir? Andaikan Kiu-moay (adik kesembilan) tidak tanya juga, aku ingin tahu
apa sebabnya kau bermusuhan dengan dia, soalnya kita kan tidak merasa bersalah
dan mengapa dia sesumbar hendak mengusir gerombolan setan Se-san keluar wilayah
Soasay ini?”
“lni, coba lihat, dia telah memotong sepasang daun telingaku, kalau sakit hati
ini tidak dibalas, lalu persaudaraan apalagi diantara kita?” teriak lelaki besar
tadi dengan gusar, berbareng ia terus menarik kopiahnya sehingga kelihatan kedua
sisi kepalanya itu halus licin tanpa kuping.
Kesembilan orang yang lain dari “Gerombolan setan Se-san” itu menjadi gusar,
beberapa diantaranya lantas mengumpat, ada yang berjingkrak murka dan menyatakan
hendak melabrak Sin-tiau-hiap dengan mati-matian.
“Jit-ko,” si perempuan baju merah berkata pula, “sebab apa dia memotong daun
telingamu? Apa kesalahanmu? Tentunya kau menggoda wanita keluarga baik2 lagi,
bukan?”
Seorang yang berwajah selalu tertawa berkata dengan gusar: “Sekalipun Jit-ko
memang menggoda wanita keluarga baik2 juga tidak perlu diurusi orang lain.”
Wajah orang ini sangat aneh, meski sedang gusar toh air mukanya yang tertawa itu
tidak menjadi berubah. Waktu Kwe Yang mengamati lebih teliti, kiranya bibir
orang itu menjengkit ke atas, kedua matanya kecil, maka biarpun sedang sedih
atau menangis juga tampaknya sedang tertawa riang.
Lelaki tadi menjawab: “Tidak, tidak! Soalnya waktu itu isteriku bercekcok dengan
keempat gundikku mengenai urusan tetek-bengek, dari ribut mulut akhirnya saling
cakar2an dan main pisau segala,
KebetuLan apa yang disebut Sin-tiau-hiap itu lalu, dasar orang itu memang suka
ikut campur urusan orang lain, dia berusaha melerai pertengkaran itu.
Sungguh brengsek, gundikku yang ketiga itu tersenyum padanya.
“O, tahulah aku, Jit-ko lantas cemburu, bukan?” tukas si perempuan berbaju
merah.
“Cemburu gimana? Soalnya aku tidak ingin urusan rumah-tanggaku dicampur-tangani
orang luar,” kata lelaki itu, “Sekali jotos tiga gigi gundikku itu kurontokkan,
lalu si buntung sialan itu lantas kusuruh enyah.”
Sampai di sini, Kwe Yang takdapat menahan rasa dongkolnya, segera ia menanggapi:
“He, maksudnya kan baik, mengapa kau berlaku kasar padanya? jelas dalam urusan
ini kau yang salah.”
Semua orang berpaling memandang anak dara, itu, sama sekali mereka tidak menduga
nona secilik itu berani ikut bicara.
Lelaki itu menjadi rnarah dan membentak.
“Sialan! kau anak sekecil ini juga berani menggurui aku? Go-ko, anak dara ini
apamu?”
“Dia ingin melihat Sin-tiau-hiap dan aku membawanya ke sana, urusan lain aku
tidak peduli,” jawab si cebol kepala besar tadi.
“Baik, jika begitu akan kuajar adat padanya,” kata lelaki kekar itu, tarrrr,
segera cambuknya menyabet kepala Kwe Yang,
Cepat Kwe Yang menangkis dengan cambuknya sehingga kedua cambuk terlibat menjadi
satu. Waktu lelaki itu membetot sekuatnya, seketika Kwe Yang merasa ditarik oleh
suatu tenaga yang dahsyat dan terpaksa melepaskan pegangannya. setelah berhasil
merampas cambuk Kwe Yang, segera cambuk lelaki tadi hendak disabetkan lagi.
Syukur si cebol berjenggot panjang tadi lantas berseru: “Jit-te, kita harus
cepat berangkat, untuk apa mengurusi seorang anak kecil?”
Lelaki itu merandek, cambuk yang sudah terangkat ke atas itu tidak jadi
dihantamkan. Si kakek jenggot panjang lantas menjengek: “Hm, gerombolan setan
dari Se-san adalah tokoh yang tidak gentar pada langit dan takut pada bumi,
betapapun nyaring tersohornya Kwe Cing dan Ui Yong juga tak dapat menggertak
kami. he, anak dara, jika kau berani banyak omong lagi segera kami sembelih
kau.”
Lalu dia berpaling dan berkata pula, “Jit te, lelaki sejati berani berbuat
berani tanggung jawab, kalau jatuh harus cepat merangkak bangun, Jenggot ku yang
panjang ini dahulu juga pernah dipotong orang, Kedua kupingmu itu cara bagaimana
dipotong orang?”
“Ketika kusuruh Sin-tiau-hiap itu enyah, dia juga tidak membantah. ia malah
tertawa saja terus melangkah pergi,” demikian tutur lelaki kekar tadi, “Sungguh
sialan, tiba2 gundikku yang keempat berteriak2 dan menangis, katanya dia kupaksa
menjadi gundik dan hidup tersiksa, kini dianiaya pula oleh isteri tua, mendengar
itu mendadak Sin-tiau-hiap memutar balik dan tanya padaku: “Apakah benar
perkataannya itu?”
“Dengan mendongkol kujawab: “Kalau betul mau apa dan kalau tidak betul lantas
bagaimana? Aku berjuluk Sat-sin-kui (setan elmaut), selamanya membunuh orang
tanpa kenal ampun, tahu tidak kau?”
Dengan kurang senang dia berkata: “Jika kau suka padanya, mengapa sudah kawini
dia lalu mengambil lagi perempuan lain? Kalau tidak suka padanya, mengapa
tadinya kau menikahi dia?”
“Aku bergelak tertawa dan berkata: “Semula memang suka padanya, sesudah bosan
lantas tidak suka lagi, Lelaki mempunyai tiga isteri atau empat gundik adalah
kejadian biasa, kenapa mesti heran? Hahaha, malahan aku hendak mengambil tiga
gundik lagi.”
Dia lantas mengomel “Jika manusia tak berbudi dan tidak setia macam kau
bertambah banyak lagi di dunia ini, bukankah semua perempuan di dunia ini akan
kecewa terhadap kaum lelaki?” -
Habis berkata mendadak ia menubruk maju dan melolos belatiku, sekaligus kedua
kupingku dipotong, lalu belati mengancam di depan dadaku dan membentak ” Akan
kukorek hatimu, ingin kulihat warna apakah hatimu ini!”
Tentu saja aku mati kutu… untunglah isteri dan para gundikku itu lantas
berlutut dan memohonkan ampun padanya, malahan gundik ketiga dan keempat itu
menangis me-raung2. Hm, sungguh memalukan, benar2 memalukan Aku menjadi gusar
dan berteriak:
“Lekas kau turun tangani jika kau membunuh aku, arwah gerombolan setan Se-san
pasti senantiasa akan mengisari kau.”
Dia mengerut kening dan berkata kepada perempuan2ku itu: “Manusia tak berbudi
begini, masakah kalian malah mintakan ampun baginya?”
Perempuan2ku itu tidak msnjawab melainkan terus menyembah, Dia lantas berkata
pula: “Baiklah! sekarang kuam-puni kau. Tapi akupun tidak gentar terhadap
gerombolan setan dari Se-san itu. Pada akhir bulan ini akan kunantikan kalian di
To-mo-peng, boleh kau undang seluruh gerombolan itu untuk menemui aku di sana.
Kalau tidak berani datang, sekaligus kalian harus enyah dari wilayah Soasay dan
tak oleh kembali ke sini selamanya.”
Selesai lelaki kekar itu menutur, semua orang sama terdiam. selang sebentar
barulah perempuan tua tadi bertanya: “Senjata apa yang digunakannya? Dari aliran
manakah ilmu silatnya?”
“Lengan buntung sebelah, dia tidak memakai senjata apa2,” tutur si lelaki tadi,
“Mengenai aliran ilmu silatnya, tampaknya… tampaknya sukar diketahui.”
Perempuan tua tadi berkata pula: “Toako, sekali gebrak saja orang itu lantas
membikin jit-te tak bisa berkutik. tentu kepandaiannya sangat lihay, Kita harus
mengerubutnya saja, Toako menghadapi dari depan, biarlah aku dan Go-te menyerang
dari samping, dengan tiga lawan satu masakah kita kalah? sebaiknya kita harus
menyerang dengan cepat sekaligus membinasakan dia.”
Kakek jenggot panjing merenung sejenak, katanya kemudian: “Nama Sin-tiau-hiap
itu sangat termashyur, pertarungan nanti sungguh luar biasa, Biarlah kita
mengerubutnya secara ber-ramai2 dan mengerahkan segenap tenaga dan senjata yang
kita punyai.
Selama gerombolan kita bersatu belum melabrak orang dengan maju sepuluh orang
sekaligus dan baru sekarang terjadi untuk pertama kali ini, kalau sudah begitu
kita masih belum dapat membinasakan dia, maka biarlah kita bersepuluh ini dari
setan bayangan menjadi setan sungguhan saja.”
Tiba2 si kakek cebol kepala besar tadi ikut bicara: “Toako, kita bersepuluh
mengeroyok dia seorang, kalau menang rasanya juga kurang terhormat, jika tersiar
juga akan ditertawakan orang2 Kangouw.”
“Bila Sin-tiau-hiap itu dapat kita bunuh, kecuali anak dara ini kukira tiada
orang lain lagi yang tahu,” ujar si nenek tadi. Baru selesai uca-pannya, dengan
pelahan iapun mengangkat tangannya.
Cepat si cebol kepala besar mengadang di depan Kwe Yang sambil mengebaskan
lengan baju-nya, menyusul dari lengan bajunya dicabutnya sebuah jarum lembut,
katanya:
“Jici, aku yang membawa anak dara ini kemari, janganlah mencelakai dia.” Lalu ia
berpaling dan berkata kepada Kwe Yang. “Nona Kwe, jika kau ingin melihat
Sintiau-hiap, kejadian malam ini jangan sekali2 kau ceritakan kepada orang
lain, Kalau tidak, boleh kau pulang sekarang saja.”
Ngeri dan gusar pula Kwe Yang, ia pikir nenek itu sungguh amat keji, kalau bukan
paman cebol itu menoIongnya, mungkin dirinya sudah binasa tertusuk oleh jarum
yang lembut dan tanpa suara itu. Segera iapun menjawab “Baiklah, takkan
kuceritakan kepada siapapun juga. “
Lalu ditambahkannya: “Kalian bersepuluh, masakah Sintiau-hiap sendiri tidak
mempunyai pembantu?”
Si cebol kepala besar bergelak tertawa, katanya: “Sudah belasan tahun
Sin-tiau-hiap itu berkecimpung di Kangouw dan tak pernah terdengar dia membawa
pembantu, yang ada cuma seekor rajawali yang senantiasa mendampingi dia.”
Habis berkata, “tarrr!” cambuknya menggeletar di udara dan membentak: “Hayolah
berangkat!”
Setelah berlari sekian jauhnya, orang cebol itu berkata pula kepada Kwe Yang:
“Sebentar kalau sudah saling gebrak, jangan sekali2 kau menjauhi aku.”
Kwe Yang mengangguk ia tahu gerombolan setan dari Se-san ini ada sebagian sangat
jahat dan tidak kenal ampun, bisa jadi mendadak dirinya diserang dan si cebol
kepala besar ini tidak sempat menolongnya.
Diam2 iapun berkuatir bagi Sin tiau-hiap yang akan dikerubut kesembilan orang
ini, betapapun tinggi kepandaian pendekar rajawali sakti itu apakah sanggup satu
lawan sepuIuh? ia pikir kalau ayah- ibunya berada di sini tentu segalanya akan
beres, beliau2 pasti takkan tinggal diam saja menyaksikan pertarungan yang tidak
adil ini.
Tengah mereka melarikan kuda dengan cepat, tiba2 dari dalam hutan di depan yang
gelap gulita sana berkumandang suara auman harimau, beberapa ekor kuda sama
berjingkrak kaget dan takut. ada yang terus berdiri diam dan ada yang malah
terus putar haluan hendak kabur.
Si jangkung tadi segera mengayun cambuknya beberapa kali dan mendahului
menerjang kedalam hutan. Si nenek juga mengomeli kudanya: “Binatang tak berguna,
memangnya takut dicaplok kucing liar begitu? “- – Be-ramai2 mereka terus
menghalau kawanan kuda mereka dan ikut menerobos ke dalam hutan.
Setelah membedal lagi beberapa puluh meter jauhnya, tiba2 seseorang membentak di
depan: “Siapa itu berani terobosan di Bii-iiu-san-ceng malam2 begini?”
serentak Gerombolan setan Se san itu menahan kuda mereka, tertampaklah seorang
mengadang di tengah jalan, kedua sisinya masing2 mendekam seekor harimau loreng.
Mendengar suara raungan harimau yang kereng itu, kembali kawanan kuda
ber-jingkrak ketakutan.
Setelah menguasai kembali kudanya, si kakek cebol jenggot panjang lantas memberi
hormat dan berkata “GeromboIan Setan Se-san kebetulan lewat di sini dan tidak
sempat berkunjung harap suka memaafkan.”
Orang yang menghadang di depan itu menjawab: “O, kalian inikah Gerombolan Setan
dari Se-san? jadi saudara ini Tiang-si-kui (setan jenggot panjang) Hoan-ya (tuan
Hoao)?”
“Betul” jawab si kakek jenggot panjang, “Ada urusan penting kami harus menuju
To-ma-peng, kembalinya nanti kami akan mampir untuk mohon maaf lagi.”
Rupanya iapun tahu orang Ban-siu-san-ceng (perkampungan berlaksa binatang) sukar
dilawan, pula mereka sekarang harus mencurahkan segenap perhatian untuk
menghadapi Sin-tiau-hiap, maka bicaranya sangatlah rendah hati.
“Coba kalian menunggu sebentar,” kata orang itu, lalu ia berteriak: “Toako,
inilah Gerombolan Setan Se-san yang hendak pergi ke To-ma-peng katanya
kembalinya nanti akan datang untuk minta maaf.”
Kawanan “Setan” itu merasa kurang senang mendengar ucapannya itu mereka
mengatakan kembalinya nanti akan mampir untuk minta maaf, kata2 ini tidak lebih
hanya sebagai basa-basi saja, masakah dianggapnya Gerombolan Setan Se-san benar2
gentar kepada pihak Ban-siu-san-ceng?
Maka terdengarlah suara seorang menjawab dengan lagak tuan besar di dalam hutan:
“Minta maaf sih tidak perlu, suruh mereka pergi dengan mengitar hutan saja.”
Serentak kawanan setan– itu menjadi gusar, si jangkung tadi lantas mendengus:
“Hm, selamanya Gerombolan Setan Se-san kalau berjalan tidak pernah main
mengitari”
Habis berkata segera ia melarikan kudanya terus menerjang ke depan.
Tapi sehati orang yang mengadang itu memberi aba2, serentak kedua harimau di
sampingnya terus menubruk maju. Karena kaget dan takut, kuda si jangkung
berjingkrak berdiri. Tampaknya si jangkung sangat menguasai kuda tunggangannya,
sambil tetap menempel di atas pelana, “sret”, cepat kedua tangannya mengeluarkan
senjatanya yang berbentuk sepasang tumbak pendek dan kontan menikam ke arah
kedua ekor harimau.
Harimau yang sebelah kiri cepat melompat minggir, sedangkan cakar harimau
sebelah kanan sempat merobek perut kuda si jangkung, tapi binatang buasnya
itupun meraung keras, rupanya juga terluka oleh tikaman tumbak.
Segera si jangkung melompat turun dan membentak “HayoIah keluarkan senjatamu!”
Berba-reng ia terus pasang kuda2 dan siap tempur.
Orang di depan sana menjengek: “Hm, kau berani melukai kucing piaraanku,
andaikan sekarang kau mau mengitar hutan juga tidak kuidzinkan lagi Bu-siang-kui
(setan gentayangan), tinggalkan saja tumbakmu!”
Si jangkung melengak juga karena julukannya dengan tepat disebut lawan,
jawabnya: “siapakah kau? Selama ini Ban–siu-san-ceng berada di Se keng, mengapa
sekarang pindah ke sini? Kau ingin kutinggalkan tumbakku, hah, memangnya begitu
gampang?”
“Kediaman Ban siu-san-ceng memang berada di Se-keng, tapi kalau kami ingin
pindah tempatkan tidak perlu lapor dulu kepada kawanan setan macam kalian toh?”
ujar orang itu.
“Bahwa Toako kami suruh kalian lewat mengitar hutan sudah cukup ramah, soalnya
Samko kami sedang sakit dan tidak suka diganggu orang, kau tahu tidak?”
Berkata sampai di sini, mendadak tangan kirinya meraih ke depan, tahu- gagang
tumbak yang dekat dengan ujung tumbak si Bu-siang-kui kena dipegang olehnya.
Sama sekali Bu siang-kui tidak menduga gerakan tangan lawan sedemikian cepatnya,
cepat ia menarik sekuatnya, Tapi orang itupun membetot dan ditekuk pula sehingga
terdengar “pletak” dua kali.sepasang tumbak pendek itu patah semua.
Padahal tumbak2 itu terbuat dari besi, karena tenaga kedua orang sama kerasnya
hingga tumbak itu tak dapat menahan tenaga tarikan mereka dan akhirnya patah.
Kejadian ini membuat Gerombolan Setan Se-san melengak. Si kakek jenggot panjang
yang berjuluk “Setan jengot panjang” lantas berkata: “Rupanya saudara inilah Pat
jiu-sian-kau (kera sakti bertangan delapan) Apakah Kim kah-say-ong (raja singa
bersisik emas) kurang sehat? Saat ini kami ada urusan lain, biarlah kita bertemu
lagi di sini besok pada saat yang sama.”
Kiranya Ban-siu-san-ceng itu dipimpin oleh lima bersaudara, Toako atau kakak
tertua Pek-hia san-kun ( raja gunung dahi putih ) Su Pek-wi, Jiko atau kakak
kedua Koan-kian-cu (si bumbung perak ) Su Tiong beng, Samko ( kakak ketiga )
Kim-kah-say-ong Su Siokkang, Suko ( kakak ke-empat ) Tay-lik-sin ( malaikat
bertenaga raksasa ) Su ki-kiang dan saudara yang terkecil ialah Pat-jiu-sian-kau
Su Beng-ciat ini.
Turun temurun keluarga Bu itu hidup sebagai penjinak binatang, sampai di tangan
kelima bersaudara ini bahkan tambah maju kepandaian mereka, bukan saja cara
menjinakkan binatang terlebih lihay, bahkan dari gerak gerik setiap binatang
buas yang mereka lihat setiap hari itu dipelajari dan dipahami menjadi gerakan
ilmu silat yang khas, jadi binatang2 buas se-akan2 menjadi guru kelima
bersaudara itu sehingga jadilah mereka memiliki ilmu silat yang tinggi.
Waktu Su Siok kang, yaitu kakak ketiga yang berjuluk Kim-kah-say-ong itu berumur
20-an, suatu hari ketika sedang berburu, secara kebetulan dia bertemu dengan
orang kosen dan berhasil meyakinkan pula Lwekang yang tinggi, sepulangnya di
rumah ia mengajarkan Lwekang itu pula kepada saudara2nya.
Begitulah semakin banyak mereka memiara binatang buas semakin tinggi pula ilmu
silat yang mereka yakinkan Nama Ban-siu-san ceng juga mulai terkenal di dunia
Kanguow, maka orang- Bu-lim telah memberikan julukan kepada kelima bersaudara ha
sebagai “Hou-pa-say jio-kau” (harimau, macan tutul, smga, gajah dan kera). Di
antara mereka berlima Kim kah say-ong. si singa berbaju emas, terkenal paling
lihay.
Maka Tiang-si-kui merasa lega demi mendengar Su Siok-kang sedang sakit,
betapapun lihaynya musuh juga kawanan “Setan” mereka tidak gentar, apalagi
sekarang pihak lawan berkurang tokoh utama-nya, maka ia lantas menetapkan malam
besok untuk pertarungan yang menentukan.
“Baik,” segera Pak-jiu-sian-kau Su Beng-ciat menjawab “besok malam kami
bersaudara akan menunggu kalian di sini.” Habis berkata, sekali tangan bergerak,
“pIok-plok”, kedua potong tumbak patah yang dirampasnya tadi menyamber dan
menancap batang pohon di sebelah Tiang-si-kui.
Diam2 Tiang Si-kui terkesiap dan heran mengapa pihak lawan tetap tidak
memperbolehkan mereka lewat menerobos hutan, ada pekerjaan apa kelima saudara Su
itu di sini? Segera ia memberi salam: “Baiklah kami mohon diri!”
Kedua kakinya mengempit kencang, segera ia melarikan kudanya ke depan.
“He, tunggu dulu!” kembali Su Beng-ciat berteriak mencegah, “Toako kami menyuruh
kalian lewat mengitar hutan, apakah kalian tidak berkuping atau memang tuli?”
Tiang-si-kui menahan kudanya dan baru mau menjawab, terdengarlah di kanan kiri
depan sana dua orang tertawa ter-bahak2, menyusul asap tebal lantas mengepul,
dua orang berteriak berbarengi
“Main gila apa di dalam hutan? Mana Gerombolan Setan Se-san dapat dikelabui?”
Rupanya secara diam2 Song-bun-kui dan Siau-bin-kui, setan sialan dan setan muka
ketawa, yaitu setan ke-8 dan ke-10 menurut urut2an mereka, telah memutar ke
belakang sana untuk menyalakan api ketika Su Beng-ciat sedang bicara dengan
Tiang si kui.
Tapi baru saja api mulai berkobar, menyusul lantas terdengar Songbun-kui dan
Siaubin-kui menjerit kaget dan berlari kembali seperti memergoki sesuatu
makhluk yang mengerikan.
“Ada apa?” janya Tiang-si-kui.
“Macan! Harimau! ada seratus, dua ratus ekor…” seru Song-bun-kui:
Su Beng-ciat kelihatan sangat murka melihat api mulai menjilat pepohonan, ia
berteriak sekeras-nya: “Toako, Jiko, yang penting padamkan api duiu, biarkan
gerombolan setan ini pergi saja, masakah kelak kita takdapat menemukan mereka?”
Pada saat itulah se-konyong2 pandangan semua orang serasa bureng, seekor
binatang sebesar anjing kecil mendadak menerobos keluar dari hutan dan sekejap
saja sudah kabur ke sana. Tubuh binatang itu tidak besar, tapi keempat kakinya
sangat panjang warna bulunya putih mulus, hanya bagian ekor saja berwarna hitam,
bentuknya mirip kucing dan mem-per anjing.
“Hm, Kau-twe-Ieng-fccu kabur!” seru Su Beng-ciat dan segera ia mengidak ke sana.
Suara teriakannya itu penuh mengunjuk rasa kaget, cemas dan kuatir.
Mendadak pula terdengar pula suara raungan yang keras di dalam hutan, suara
raungan yang menyerupai raungan harimau dan mirip pula auman singa, malahan
seperti suara teriakan orang namun suara manusia seyogianya tidak sekeras dan
senyaring itu.
Terdengar suara raungan itu, diam2 Kwe Yang rada merinding. Setelah suara
raungan itu, serentak be-ratus2 binatang buas juga lantas mengaum di segenap
penjuru, suara singa, harimau, macan tutul, serigala, gajah, kera, gorila dan
entah binatang buas apalagi dan sukar dibedakan.
Menyusul terdengarlah suara gemuruh, be-ratus2, bahkan be-ribu2 binatang buas
itu ber-bondong2 lari keluar hutan,
Seorang lantas berseru: “Toako ke sebelah timur, Ji-ko sebelah barat, Site (adik
keempat) ke tenggara…” jelas ada suara orang ini sama dengan suara raungan
tadi.
Sekilas Kwe Yang melihat beberapa sosok bayangan orang berkelebat keluar hutan
lebat itu, walaupun tahu bahaya, tapi ia tak dapat menahan rasa ingin tahunya,
cepat iapun melarikan kudanya menyusul keluar hutan.
Cepat si cebol kepala besar yang berjuluk Toa-thau-kui (setao kepala besar) tadi
berteriak: “He, nona Kwe, jangan pergi!” Segera iapun keprak kudanya
menyusulnya.
Begitu berada di luar hutan, seketika Kwe Yang menyaksikan pemandangan aneh.
Dilihatnya lima orang sama2 memimpin segerombolan binatang sedang mengurung ke
bagian tengah di tanah datar yang berselimutkan salju itu, tampaknya kawanan
binatang buas itu sudah terlatih, mereka tidak saling cakar dan bertengkar
sendiri, tapi kesana kemari, cara lari mereka sangat teratur.
Kwe Yang merasa takut tapi juga sangat tertarik untuk menonton, Dilihatnya
lingkaran kelima barisan binatang buas itu semakin menciut sehingga di tengah2
kelihatan sebuah bundaran, tapi mendadak sesosok bayangan putih berkelebat,
binatang kecil yang menyerupai anjing tadi lari menerobos keluar dari kepungan
binatang buas, secepat angin binatang kecil itu melayang lewat di depan Kwe
Yang.
“Kiu-bwe-leng-hou! Di sana, lari ke sana!” terdengar kelima bersaudara she Su
itu ber- teriak2, menyusul gerombolan binatang buas itu lantas menerjang tiba
seperti gugur gunung dahsyatnya.
Cepat Kwe Yang menarik kudanya menyingkir ke pinggir, tapi kuda itu menjadi
ketakutan melihat binatang buas sebanyak itu, saking takutnya hingga kaki lemas
terus jatuh mendeprok. Keruan Kwe Yang terkejut, kalau gerombolan binatang itu
menerjang ke arahnya, tentu tubuhnya akan ter-injak2 hancur lebur.
Lekas2 ia melompat turun dari pelana kudanya dan berlari ke samping sana.
Terendus olehnya bau amis, kawanan binatang buas itu terus mengalir lewat di
sebelahnya laksana air bah dan sejenak saja sudah menjauh.
Sementara itu Gerombolan Setan Se-san juga sudah berada di luar hutan, si kakek
jenggot panjang berkata: “Betapapun tinggi kepandaian keluarga Su juga kita
tidak gentar, hanya kawanan binatang itulah yang sukar dihalau. Malam ini kita
tidak perlu cari perkara lagi, kita harus piara tenaga untuk menghadapi
Sin-tiau-hiap. Marilah kita berangkat!”
Si nenek juga berkata: “Ya, malam ini kita bunuh Sin-tiau-hiap, besok kita pesta
panggang daging harimau dan singa!” – Habis itu ia terus menarik kudanya dan
hendak meneruskan perjalanan dengan mengitari hutan.
Pada saat itulah mendadak suara raungan binatang buas tadi terdengar gemuruh
pula, gerombolan binatang itu datang lagi dari berbagai arah.
Sekali ini suara raungan bnatang itu tidak begitu buas, larinya juga tidak cepat
Namun Tiang-si-kui menjadi kuatir, katanya: “CeIaka! Lekas kita pergi!”
Namun sudah terlambat, di sekeliling mereka terkepung, Cepat Tiang-si kui
bersuit, sepuluh orang lantas melompat turun dan berdiri pada lima sudut dengan
senjata terhunus menantikan serangan musuh.
“Nona Kwe,” kata Toa-thau-kui, si setan kepala btsar, “lekas pulang saja kau,
tidak perlu ikut menyerempet bahaya di sini.”
“Tapi mana Sin-tiau-hiap? Kau sudah berjanji akan membawaku untuk menemuinya,”
kata Kwe Yang.
“Apakah kau tidak melihat binatang buas sebanyak ini?” ujar Toa-thau-kui dengan
mengernyitkan kening.
“Bicaralah secara baik2 dengan majikan gerombolan binatang itu, katakan kalian
ada janji dengan Sin-tiau hiap dan tiada waktu tertahan lama di sini,” ujar Kwe
Yang.
“Hm, Gerombolan Setan Se-san tidak pernah bicara secara baik2 dengan siapapun
juga,” kata Toa-thau-kui.
Tengah bicara, sementara itu kelima bersaudara Su itu sudah muncul. Mereka sama
memakai jubah kulit binatang, sesudah berhadapan dengan Gerombolan Setan, tetap
Su Beag-ciat yang menjadi juru bicara, katanya: “Selamanya Ban-siu-san ceng
tidak pernah bermusuhan dengan Kawanan Setan, mengapa kalian membakar hutan dan
menghalau lari Kiu-bwe-leng-hou (rase cerdik berekor sembilan)?”
Dari nada ucapan orang, Kwe Yang merasakan orang she Su itu sangat gusar dan
gemas sekali Pikirnya: “walaupun binatang kecil tadi sangat menyenangkan tapi
tampaknya juga tiada sesuatu yang istimewa, mengapa mesti marah2 begitu rupa?
jelas binatang itu cuma punya sebuah ekor, mengapa disebut rase berekor
sembilan?”
Maka terdengar perempuan yang berpakaian serba merah dari pihak Gerombolan Setan
menjawab: “Peristiwa ini awal mulanya adalah gara2 tindakan kalian sendiri,
selamanya Ban-siu-san-ceng berdiam di wilayah Sa-keng, mengapa mendadak muncul
di daerah Soasay sini dan di tengah malam buta melarang orang lain lewat di
jalan umum ini. Sikap kalian yang tidak se-mena2 ini masakah kalian malah
menyalahkan pihak lain?”
“Persoalan sekarang ini tidak perlu dibicarakan pokoknya tiada seorangpun di
antara kalian dapat hidup lagi,” mendadak Pek-hia-san-kun Su Pek-wi membentak.
Sekali mengaum murka, dengan bertangan kosong ia terus menubruk ke arah
Tiang-si-kui, kedua telapak tangannya tergenggam laksana cakar harimau segera
mencengkeram, begitu hebat dan dahsyat, sekalipun harimau benar2 juga tidak
seganas itu.
Cepat Tiang-si-kui melangkah mundur terus menggeser, “serrr”, senjatanya yang
panjang terus menyapu pinggang lawan. Tanpa menghindar, cakar harimau Su Pek-wi
lantas mencengkeram ujung senjata lawan, kiranya senjata Tiang-sin-kui itu
adalah sebatang tongkat baja yang besar dan berat.
Belum lagi cengkeraman Su Pek-wi itu mengencang, mendadak tangan terasa panas,
cepat ia lepaskan kembali tangannya sambil disampuk ke sam-ping. Untung dia
dapat bergerak dengan cepat sehingga dadanya terhindar dari sodokan tongkat.
Diam2 Su Pek-wi terkesiap, baru sekarang ia tahu Gerombolan Setan Se-san itu
memang bukan orang sembarangan pantas nama mereka akhir2 ini semakin menanjak,
ia tidak berani gegabah lagi “creng”, segera iapun mengeluarkan senjatanya,
yakni Hoa-thau-kau (kaitan dengan ujung berukir kepala harimau), sepasang kaitan
baja itu beratnya ada 30 kati dan merupakan senjata yang tajam dan lihay.
Begitulah dua larik sinar kuning berkelebat kaitan itu lantas menempur sengit
tongkat baja si Setan jenggot panjang.
Sementara itu Kaan-kian-cu Su Tiong-beng dengan senjatanya yang berupa sepasang
bumbung atau pipa perak juga telah melabrak Jui beng-kui setan pencabut nyawa,
yang bersenjatakan golok dan tombak si Song-bun-kui.
Sedangkan Tay-lik-sin Su Ki-kiang juga menempur Tiau-si kui (setan gantung)
yaitu si nenek, yang bersenjatakan seutas tali panjang lagi lemas sehingga sukar
diraba, ia hanya meraung2 murka saja dan sukar mengembangkan tenaga raksasa yang
dimilikinya.
Di sebelah sana Pat-jiu-sian-kau Su Beng ciat juga menghadapi Toa thau-kui, si
Setan Kepala Besar” dengan senjatanya yang berwujut godam persegi delapan.
Su Beng-ciat bersenjata sepasang Boan koan-pit, potlot baja berujung runcing,
serangannya hebat, tenaganya kuat, Toa-thiiu kui rada kewalahan cepat
Siau-yau-kui, Setan Cantik, yaitu perempuan berbaju serba merah, segera menubruk
maju membantunya dengan senjata golok.
Di tanah salju itu terjadilah pertarungan sengit sepuluh orang terbagilah
menjadi empat partai, bunga salju bertebaran. namun pertempuran belum dapat
menentukan kalah dan menang.
Pihak Gerombolan Setan masih ada empat orang belum ikut turun tangan, sebalnya
pihak lawan hanya Kim-Kah-say ong saja yang belum bergerak. Terlihat dia
bersandar pada tubuh seekor singa jantan tampaknya menderita sesuatu penyakit
lemas lunglai.
Melihat situasi pertarungan ini, jelas pihak Gerombolan Setan lebih untung
karena berjumlah lebih banyak, tapi kalau persaudaraan Su itu berseru memberi
komando, seketika kawanan binatang buas itu pasti akan menerjang dan Gerombolan
Setan itu pasti akan celaka.
Siau-bian kui, si setan muka tertawa juga merasa kebat kebit menyaksikan kawanan
binatang buas yang siap menunggu perintah itu, ia pikir sebentar harus
menggunakan kabut racun untuk merobohkan sebagian binatang itu baru dapat
menerjang keluar kepungan.
Sementara itu pertarungan sengit sudah berlangsung sekian lama, Tiang- si-kui
dan Su Pek- wi tetap sama kuatnya, Tiau si-kui, si nenek dapat memainkan talinya
yang panjang itu dengan cara yang aneh dan ujung tali selalu berubah menjadi
lingkaran jiratan, kalau Su Ki-kiang meleng, mungkin lehernya bisa terjirat.
Tapi karena dia memiliki tenaga raksasa, mau tak-mau Tiau-si-kui juga rada jeri.
Toa-lhau-kui dan Siau-kui bahu-membahu menghadapi Su Beng-ciat, mereka dapat
bekerja sama dengan baik, Tapi gerak serangan Su Beng ciat cepat lagi aneh,
mereka terus berputar, terdengar suara Toa-thau-kui meng-guruh2, sedangkan si
Setan cantik tertawa ngikik, tujuan mereka memancarkan perhatian musuh, namun Su
Beng ciat anggap tidak mendengar dan menempur mereka dengan sengit.
Di sebelah sana Ji Beng-kui dan Song-bun-kui ternyata tidak mampu menandingi
pipa perak Su Tiong-beng, Pipa perak yang digunakan sebagai senjata itu lebih
pendek daripada toya dan kosong bagian tengah, gaya serangannya juga aneh.
Suatu ketika Song-bun-kui menusuk dengan tumbaknya, tapi Su Tiong-beng justeru
mengincar ujung tumbak lawan dan pipanya juga ditusukkan kedepan, pipa itu terus
menyelongsong ke bawah sehingga gagang tumbak terkunci di dalam pipa.
Keruan Song-bun-kui terkejut dan cepat menarik tumbak kirinya itu, tumbak terus
diputar untuk menjaga diri.
Melihat kawannya terancam bahaya, cepat To-ceh-kui, si Setan Penagih Utang,
menubruk untuk membantu, senjatanya yang berbentuk sepotong pelat besi segera
memotong ke pipa Su Tiong heng.
Kiranya senjata To-ceh-kui itu terdiri dari lima potong pelat besi sehingga
berbentuk buku utang-piutang sesuai namanya sebagai tukang tagih utang, Tepi
pelat besi itu tajam sehingga merupakan sejenis senjata aneh dan lihay.
Sebenarnya GeromboIan Setan Se san itu masing2 mempunyai nama asli sendiri2,
tapi sejak nama “Gerombolan Setan Se-san” terkenal di dunia Kangouw, mereka
lantas membuang nama aslinya dan menggunakan julukan Setan sebagai tanda
pengenal.
Apalagi tindak tanduk dan bentuk tubuh dan wajah mereka bersepuIuh memang juga
aneh dan ber-beda2. Misalnya si To-ceh kui, Setan penagih utang, dia menggunakan
senjata lima helai pelat besi sehingga menyerupai buku utang piutang, soalnya
dia memang juga pendendam, sakit hati sekecil apapun juga pasti akan
dituntut-balasnya, tiada seorangpun dapat lolos jika pernah menyakiti hatinya.
Sebab itulah dia diberi julukan setan tukang tagih utang. Tapi dia malah senang
dengan nama poyokan itu, senjata pelat besi di ubahnya menjadi seperti halaman
buku, tipis dengan tepinya sangat tajam, bahkan pelat besi itu diukir nama
musuhnya dengan kesalahannya, kalau sakit hati itu sudah dibereskan barulah nama
musuh itu dicoret.
Pipa perak adalah senjata aneh, tapi buku besi itu terlebih aneh, lima halaman
besi itu saling bergesek dan mengeluarkan tuara nyaring, Dengan bertiga setan
menempur Su Tiong beng barulah ke adaan mereka rada mendingan.
Kwe Yang terus mengikuti pertempuran itu di samping, dilihatnya cuaca sudah
mulai remang2 fajar sudah hampir tiba, tapi pertarungan itu masih berlangsung
dengan sengitnya, ia pikir janji pertemuan kesepuluh setan itu dengan
Sin-tiau-hiap sudah lewat waktunya, mungkin tidak sabar menunggu dan pendekar
sakti itu sudah pergi sendiri, ia menjadi gelisah dan kecewa karena maksudnya
melihat Sin-tiau-hiap tak tersampai, untuk melerai pertempuran orang2 itupun ia
tak mampu.
Dilihatnya kawanan binatang buas itu sama mendekam di tanah dalam suatu
tingkatan yang rapat, seumpama Gerombolan Setan itu dapat membinasakan kelima
saudara Su juga sukar menerjang keluar kepungan kawanan binatang buas itu.
Keadaan demikian juga disadari oleh GeromboIan Setan itu. Maka si nenek, yaitu
setan gantung, berhasrat menangkap Tay-lik-sin Su Ki-Kiang dengan tali
jiratannya yang panjang itu. asalkan lawan berhasil ditawan tentu dapat
digunakan sebagai sandera untuk memaksa Su- si hengte (saudara keluarga Su)
membubarkan kepungan binatang buasnya.
Namun kepandaian Su Ki kiang sendiri lebih tinggi daripada Tiau-si kui si setan
gantung, hanya saja senjata tali memang aneh dan sukar dilayani, makanya
kedudukan mereka menjadi sama kuat, tapi untuk menangkapnya jelas tidaklah
mudah.
Siau-bian-kui, si setan muka tertawa tahu keadaan sangat berbahaya, ia pikir
tiada jalan lain terpaksa harus menggunakan akal licik. Segera ia berseru:
“Jici, biar kubantu kau!” Segera ia melolos senjatanya dan menerjang ke arah Su
Ki-kiang.
Su Ki-kiang tidak gentar ketambahan seorang lawan, “Bagus!” serunya menyambut
terjangan musuh, berbareng senjatanya gada baja terus mengepruk kepala orang.
Cepat Siau-bian-kui mengegos sambil menangkis dengan sepasang ruyung “Prak,
krek”, senjata saling beradu dan kedua ruyung seketika patah. Tapi dari bagian
yang patah itu lantas mengepul asap putih kemerahan Su Ki-kiang melengak,
langkahnya rada sempoyongan terus roboh terjungkal.
Tanpa ayal tali jirat si setan gantung terus di-lempar ke depan dan tepat
menjirat kedua kaki musuh.
Kiranya gagang ruyung Siau bin-kui itu kopong dan tersimpan bubuk racun, pada
gagang ruyung-nya terpasang pesawat rahasia, sekali ditekan segera bubuk racun
akan tersembur untuk mencelakai musuh.
Tapi tenaga Su Ki-kiang teramat besar, sekali hantam ia patahkan ruyung lawan.
Tapi meski senjatanya patah tetap Siau-bin-kui dan Tiau si kui berhasil menawan
Su Ki kiang.
“He, he! Apa2an kalian ini? Merobohkan lawan dengan cara licik, terhitung orang
gagah macam apa?” seru Kwe Yang.
Melihat saudaranya tertawan musuh, Su Pek-wi, Su Tiong-beng dnn Su Beng-ciat
juga terkejut dan murka, Tapi apa daya, mereka sendiri terlibat dalam
pertempuran dan sukar memberi bantuan.
Kwe Yang sendiri sebenarnya tidak membela manapun, cuma dilihatnya cara Siau
bian-kui merobohkan Su Ki-kiang itu kurang “sportip”, maka dia berseru
mencelanya.
Pada saat itu juga tiba2 terdengar suara rating-an di sebelah sana, terlihat Kim
kah-say-ong Su Siok-kang berbangkit pelahan, lalu membentak dengan suara berat:
“Lepaskan saudaraku!”
Su Ki-kiang tidak sadarkan diri, Tiau-si kui meringkusnya dengan tali, bahkan
menambahkan beberapa kali tutukan pada Hiat-to yang penting agar takdapat
berkutik bila nanti sudah siuman, ia menjawab: “Silakan kau menyingkirkan
kawanan binatang ini dan memberi jalan, segera kami membebaskan saudaramu.”
Dilihatnya kedua mata Su Siok kang cekung, mukanya pucat, jalannya sempoyongan,
jelas sedang sakit parah, maka kawanan setan itu tidak merasa gentar.
simpatik Kwe Yarg beroda pada Su Siok-kang, melihat orang dalam keadaan sakit
toh tetap hendak menolong saudaranya, cepat ia berseru. “He engkau sakit, jangan
ikut bertempur.”
Su Siok-kang mengangguk padanya dan mengucapkan terima kasih, tapi langkahnya
tidak berhenti, ia masih terus mendekati Su Ki-kiang yang menggeletak teringkus
musuh itu.
Siau-bian kui mengedipi Tiau-si-kui, kedua orang lantas menubruk dari kanan dan
liri, mereka hendak menangkap sekaligus lawan yang tampaknya sakit tebese ini.
Begitu sudah dekat, keempat tangan mereka terus mencengkeram.
Tapi mendadak Su Siok-kiang meraung seperti singa, tangan kirinya menabok pundak
Tiau-si-kui dan tangan kanan menyodok dada Siau-bin-kui, seketika kedua “setan”
itu merasa ditekan oleh suatu tenaga maha dahsyat, langkah mereka menjadi
terhuyung dan hampir saja terperosot jatuh.
Cepat mereka melompat mundur, untunglah Su Siok-kiang tidak mengejar maju,
Keruan mereka saling pandang dengan kaget dan sama berkeringat dingin, sama
sekali tak mereka duga bahwa orang yang tampaknya sakit tebese itu ternyata
sedemikian lihaynya.
Su Siok-kiang lantas melepaskan Hiat-to saudaranya yang tertutuk itu, sekali
tarik, tali Tiau-si-kui yang meringkus Su Ki-kiangitu lantas putus menjadi
beberapa potong. Namun Su Ki-kiang belum lagi sadar karena dia kena asap
beracun.
Sambil mengerut kening Su Siok-kang membentak “Berikan obat penawarnya!”
“Bubarkan dulu kepungan binatang buas kalian dan segera kuberikan obat penawar,”
jawab Siau-bin-kui.
Su Siok-kiang mendengus, lalu melangkah ke arah Siau-bin-kui dengan sempoyongan.
Siau-bin kui tidak berani melawannya, cepat ia mengelak ke samping. Rupanya
karena sakit sehingga gerak-geriknya tidak leluasa, namun Su Siok -kang masih
terus melangkah ke arah Siau-bin-kui.
Sudah tentu sisa keempat “setan” yang masih menganggur itu tidak tinggal diam,
segera mereka mengerubut maju, Siau-hin-kui juga lantas memutar balik untuk ikut
mengeroyok. Gerak serangan Su Siok-kang sangat lamban, tapi tenaga pukulannya
amat kuat, kelima setan itu mengepungnya di tengah sambil melancarkan serangan
dengan golok dan tumbak, namun tidak berani terlalu mendekat
Diam2 Kwe Yang menaruh kasihan kepada Su Ki-kiang yang dirobohkan lawan dengan
akal licik dan belum sadar itu, segera ia mencomot sepotong salju dan
di-usap2kan di dahi Su Ki-kiang, lalu secomot kecil bunga salju dijejalkan ke
mulutnya.
Rupanya asap racun tadi takdapat bertahan terlalu lama, Su Ki-kiang sendiri
sehat dan kuat, begitu kepala terasa dingin dan mulut dicekoki es batu, segera
pikirannya jernih kembali, pelahan ia lantas merangkak bangun dan mengucek-ucek
matanya, ia menjadi murka demi melihat kakak ketiganya dikerubut lima orang, ia
berteriak: “Mundur dulu, Samko!” Berbareng ia terus menubruk maju dan merangkul
pinggang Siau-bin-kui.
Di sebelah Iain Su Pek-wi yang sedang menempur sengit Tiang-si-kui itu menjadi
girang melihat Su Ki-kiang sudah siuman kembali, segera ia bersuit panjang,
serentak kawanan binatang buas yang sejak tadi hanya mendekam di atas tanah itu
berdiri semua demi mendengar suitan itu dan ber-siap2 hendak menubruk musuh.
Ketika Su Pek-wi menggertak lagi dengan suara keras, serentak kawanan binatang
itupun mengaum buas,
Meski GoromboIan Setan Se-san itu sudah banyak berpengalaman di medan
pertempuran, tapi menyaksikan suasana yang mengerikan ini mau-tak-mau mereka
menjadi kuatir, Benar saja, belum lenyap suara raungan kawanan binatang itu, di
sana sini berbagai jenis binatang buas sudah lantas menerjang maju dan menerkam
ke sepuluh “setan” itu.
Kwe Yang menjerit kaget dengan muka pucat.
Syukur Su Siok-kang lantas menyadari keadaan anak dara itu, cepat ia mendorong
seekor harimau yang sedang menubruk ke arah Kwe Yang, menyusul ia tanggalkan
kopiah kulit sendiri dan dipasang di kepala anak dara.
Agaknya kawanan binatang buas itu sudah ter-latih, begitu melihat Kwe Yang
memakai kopiah kulit, mereka tidak menubruknya lagi melainkan terus membelok ke
sana dan menyerang Gerombolan Setan.
Macam2 binatang buas, ada harimau, singa, serigala, makan tutul, gorila, beruang
dan sebagainya serentak menerjang ke sepuluh Setan itu, namun Gerombolan Setan
itu juga bertahan mati2an belasan ekor binatang buas itupun dapat mereka
binasakan.
Tapi lantaran Su-si-hengte terus memberi aba2 di samping sana, pula jumlah
binatang buas itu teramat banyak, hanya sekejap saja Gerombolan Setan itu sudah
terluka semua, baju robek dan darah mengucur, tampaknya dalam waktu singkat
mereka pasti akan dilalap habis oleh kawanan binatang buas itu.
Ketika itu Kwe Yang melihat tiga ekor singa jantan sedang mengkerubuti
Toa-thau-kui, si Setan Kepala besar, godam besar yang merupakan senjata
andalannya itu sudah terjatuh, lengan kanannya tergigit seekor singa dan tak
dilepaskan.
Hanya tangan kiri saja yang masih terus menghantam serabutan dan sekadar
bertahan mati2-an terhadap terkaman kedua ekor singa yang lain.
Teringat oleh Kwe Yang bahwa Toa-thau kui itulah yang membawanya ke sini,
sekarang orang terancam bahaya, ia menjadi tidak tega, tanpa pikir ia lantas
menanggalkan kopiah kulit yang dipakainya itu serta dilemparkan ke atas kepala
Toa-thau-kui, Kopiah kecil di atas kepala besar, tentunya menggelikan rampaknya,
bahkan kopiah itu ber-goyang2 hendak jatuh ke bawah.
Rupanya di waktu melatih kawanan binatang itu kelima saudara Su itu selalu
memakai kopiah kulit, serentak ketiga ekor singa itu tidak menubruk dan
menggigitnya lagi dan terus menyingkir pergi.
Dalam pada itu Kwe Yang sendiri telah terkepung oleh empat ekor macan tutul,
Keruan ia, ketakutan dan men-jerit2.
Saat itu Su Siok-kang sedang berusaha merampas tongkat baja si Tiang-si-kui agar
tongkat itu tidak banyak mengambil korban kawanan binatang buas, Demi mendengar
jeritan Kwe Yang ia menoleh dan terkejut, tapi jaraknya dengan anak dara itu
agak jauh dan sukar memberi pertolongan.
Aneh juga, begitu keempat ekor macan tutul itu mendekati Kwe Yang, mereka tidak
menerkam dan mencakamya, sebaliknya seperti anjing piaraan saja mereka mengitari
Kwe Yang sambil mengendusnya disertai meng-gesek2kan tubuhnya pada anak dara
itu, tampaknya seperti sudah kenal dengan akrab sekali.
Kwe Yang sebenarnya sudah ketakutan dan pasrah nasib, ia menjadi terkesiap
ketika melihat macan tutul itu tidak bermaksud jahat padanya, segera ia teringat
kepada cerita ibu dan kakaknya bahwa waktu bayinya dahulu dirinya pernah menetek
pada induk harimau tutul, agaknya keempat macan tutul itu mencium bau aneh pada
tubuhnya tehingga menganggapnya sebagai kaum sejenisnya.
Dengan takut2 girang Kwe Yang lantas berjongkok dan merangkul leher dua ekor
macan tutul, dua ekor yang lain lantas menjilati tangannya dan mukanya. Keruan
Kwe Yang merasa kerih dan tertawa terkikik.
Selama menjadi pelatih dan penjinak binatang buas, belum pernah kelima saudara
Su itu menyaksikan adegan aneh itu, keruan mereka melongo heran.
Meski Toa-thau-kui sendiri dapat terhindar dari bahaya berkat kopiah kulit, tapi
melihat kesembilan saudara angkatnya sukar lolos dari renggutan elmaut,
betapapun ia takdapat mencari selamat sendiri, Tanpa pikir ia terus memegang
kopiah kulit dan dilemparkan kepada Siau-kui, si perempuan berbaju serba merah,
sambil berseru: “Kiu-moay, pakailah kopiah ini dan lekas menyelamatkan diri!”
Siau-kui menangkap kopiah itu dan dilemparkan kepada Tiang-si kui, serunya:
“Toako, engkau saja menerjang keluar dahulu, kelak berusaha lagi menuntut balas
bagi kita!”
Tapi Tiang-si-kui juga lantas melangsir kopiah itu kepada Siau bin-kui sembari
berteriak: “Capte (adik kesepuluh), menuntut balas biarpun sepuluh tahun lagi
juga belum kasip, Engkau saja lekas lari, kakakmu ini sudah cukup umur dan sudah
bosan hidup!” Ternyata di antara mereka sangat setia satu sama lain, siapapun
tiiak mau meninggalkan kawannya untuk menyelamatkan diri sendiri.
Karena dikerubuti lima ekor serigala Siau-bin-kui tidak sempat mengoper
kopiahnya kepada saudara yang lain, sedangkan serigala terkenal rakus dan buas,
sekali merasakan darah, betapapun tidak mau tinggal pergi, meski Siai-”nn-kui
memegang kopiah itu, serigala2 itu masih belum mau meninggal kan mangsanya itu.
Tentu saja Siao-bin-kui mencaci maki dengan gusar, namun wajahnya tetap
tersenyum simpul.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara suitan nyaring di atas, seorang
berseru lantang: “Gerombolan Setan Se-san ingkar janji, aku menunggu semalaman
secara sia2, kiranya kalian sedang ribut dengan kawanan binatang di sini!”
Girang sekali Kwe Yang mendengar ucapan itu, pikirnya: “Aha, Sin-tiau-hiap sudah
datang” Waktu ia mendongak, terlihat seorang berduduk di atas dahan pohon, di
sebelahnya menangkring pula seekor rajawali besar dan buruk rupa.
Orang itu memakai jubah panjang warna putih, lengan baju kanan terselip pada
ikat pinggang, nyata memang buntung lengannya, Waktu memandang wajahnya,
seketika Kwe Yang bergidik, air mukanya ternyata pucat kaku seperti mayat,
hakikatnya bukan air muka manusia hidup.
Banyak juga orang bermuka buruk dan menakutkan, misalnya para Gerombolan Setan
Se-san itu juga semuanya berwajahj penjahat, tapi tidak seburuk dan menyeramkan
seperti ini.
Sebelum ini dalam hati kecil Kwe Yang membayangkan wajah Sin-tiau-hiap itu pasti
cakap ganteng, kini ia menjadi sangat kecewa melihat kejelekan mukanya itu,
Tanpa terasa ia memandang sekejap lagi padanya, terlihat sorot matanya
memancarkan sinar tajam. Sinar mata tajam itu sekilas mengerling ke arahnya dan
tiba-2 terhenti sejenak seperti rada menimbulkan rasa herannya.
Tanpa terasa wajah Kwe Yang menjadi merah jengah dan tanpa kuasa menunduk malu,
samar2 ia merasa sang Sin-tiau-hiap toh tidak terlalu buruk.
Sin tiau-hiap dihadapan Kwe Yang ini memang betul Nyo Ko adanya, Selama 16 Tahun
ini dia menunggu dengan menderita akan bertemu kembali dengan Siao-liong-li, ia
telah berkelana ke segenap penjuru dan memberikan darma baktinya bagi sesamanya,
karena dia selalu ditemani rajawali sakti itu, maka didapatkanlah nama julukan
“Sin-tiau-hiap”.
Ia merasa berdosa waktu mukanya telah banyak digilai anak perempuan seperti
Kongsun Lik-oh lelah binasa demi menolong jiwanya, Thia Eng dan Liok Bu siang
hidup merana karena patah hati ia pikir kalau mukanya buruk, tentu takkan
menarik perhatian anak perempuan itu. Sebab itulah sekarang ia memakai kedok
muka pemberian Ui Yok-su dahuIu untuk menutupi wajah aslinya.
Malam ini dia mestinya ada janji bertemu dengan Gerombolan Setan Se-san di
Te-ma-peng, tapi pihak lawan ternyata ingkar janji dan tidak datang, sebab
itulah ia lantas mencarinya malah dan kebetulan dilihatnya apa yang terjadi di
hutan ini.
Jiwa kesepuluh setan itu sebenarnya sudah terancam di tengah kerubutan kawanan
binatang buas sebanyak itu, kini mendadak Nyo Ko membuka suara pula sehingga
bertambah lagi satu musuh tangguh bagi mereka, keruan mereka menjadi putus asa
dan yakin sekali ini jiwa mereka pasti akan melayang semuanya.
Dalam pada itu terdengar Nyo Ko berkata pula dengan suara lantang: “Beberapa
saudara ini mungkin adalah Su-si hengte dari Ban-siu san-ceng? Silakan kalian
berhenti dulu dan dengarkanlah perkataanku.”
“Kami memang she Su,” jawab Su Pek-wi, “Dan siapakah tuan?” Tapi segera ia
menambahkan “Ah, maaf agaknya tuan inilah Sin-tiau-hiap?”
“Terima kasih, memang betul Cayhe adanya,” sahut Nyo Ko. “Harap kalian lekas
menghentikan amukan kawanan binatang buas itu, kaiau terlambat sebentar lagi
mungkin para setan gadungan ini akan berubah menjadi setan sungguhan.”
“Ya, biar jadi setan sungguhan barulah kami bicara denganmu,” ujar Su Pek wi.
Nyo Ko mengernyitkan kening, katanya: “Tapi Gerombolan Setan itu sudah ada janji
pertemuan denganku lebih dulu, kalau binatang kalian membinasakan mereka. lalu
kepada siapa aku harus bicara lagi?”
Mendengar ucapan Nyo Ko mulai kasar, Su Pek wi menjengek, ia malah memberi aba2
agar kawanan binatang menyerang lebih ganas,
“Kalau kau sudah tahu aku ini Sin-tiau-hiap, mengapa kau tidak ambil pusing
kepada perkataanku?” bentak Nyo Ko.
“Memangnya kalau Sin-tiau hiap lantas bagaimana?” jawab Su Pek-wi dengan
tertawa, “Kalau mampu boleh kau menghentikan serangan kawanan binatang kami
ini,”
“Baik,” kata Nyo Ko. “Marilah, Tiau-heng, kita turun!”
Habis berkata, bersama rajawali raksasa itu mereka lantas melompat ke bawah.
sebelum Nyo Ko dan rajawali itu menyentuh tanah, kawanan binatang sudah lantas
meraung dan menubruk maju, Tapi sekali sayap rajawali itu menyabet ke kanan dan
menyampuk ke kiri, kontan beberapa ekor binatang yang lebih kecil seperti
serigala dan sebagainya lantas berjungkal, Seekor singa dan seekor harimau
mengaum murka dm menubruk tiba, kembali sayap rajawali menyabet, bukan main
kekuatannya, singa dan harimau itu sama terguling dan tak mampu mendekati lagi.
Menyusul sayap yang lain menyabet pula, kontan kepala seekor macan tutul hancur
berantakan. Melihat kesaktian rajawali itu, kawanan binatang buas yang lain
menjadi ketakutan dan tak berani menyerang pula, semuanya mendekam di kejauhan
sambil mengeluarkan suara menggereng.
Su Pek-wi menjadi gusar, segera iu memapaki Nyo Ko, tangannya seperti cakar
macan itu terus mencengkeram ke dada lawacu Namun Nyo Ko telah sedikit mengebas
lengan baju kanan yang kopong itu, “bluk”, dengan tepat kedua pergelangan tangan
Su Pck-wi tersabet dan menimbulkan rasa sakit tidak kepalang seperti dipotong
pisau, tanpa tertahan ia menjerit.
Dengan langkah tertahan Su Siok-kang mendekati Nyo Ko, kedua tangannya menyodok
lurus ke depan.
“Bagus!” sambut Nyo Ko sambil tersenyum dan menjulurkan telapak tangan kiri
untuk memapak serangan lawan, ia hanya menggunakan tiga bagian tenaganya saja.
Maklumlah, selama belasan tahun dia menggembleng diri di tengah amukan ombak
sanudera, kalau dia mengeluarkan tenaga penuh, jangankan tubuh manusia,
sekalipun batang pohon dan dinding tembok juga akan runtuh dihantamnya.
Namun Su Siok kiang juga pernah mendapat ajaran orang koscn, tenaga dalamnya
juga lain daripada yang lain, begitu beradu tangan, tubuhnya tergeliat, tapi
tidak tergerar mundur.
“Awas!” seru Nyo Ko memperingatkan sambil mengerahkan tenaga.
Seketika pandangan Su Siok-kang menjadi gelap dan mengeluh jiwanya sekali ini
pasti melayang.
Untung pada saat gawat itulah tiba2 Nyo Ko berkata: “Ah, kau sedang sakit!” –
Berbareng itu tenaga yang maha dahsyat seketika hilang sirna.
Lolos dari renggutan elmaut, Su Siok-kang menjadi melenggong dan tak dapat
berkata apa2.
Su Pek wi, Su Tiong beng dan lain2 mengira Su Siok-kang terluka dan tak bisa
bergerak, mereka menjadi cemas dan gusar, serentak mereka menerjang Nyo Ko.
Tepat pada waktu yang sama seekor harimau juga menubruk dari sebelah sana. Tapi
sekali meraih, dapatlah Nyo Ko mencengkeram leher raja hutan itu, binatang buas
ini lantas digunakan sebagai senjata untuk menangkis serangan pipa perak Su
Tiong-beng dan gada baju Su Ki-kiang. sedangkan cakar macan malah terus mencakar
muka Su Pek-wi dan Su Beng-ciat.
Belasan tahun yang lalu Nyo Ko sudah pernah menggunakan pedang yang beratnya
lebih 70 kati, sekarang memegangi tubuh harimau yang besar, beratnya paling2
juga cuma seratusan kati, maka enteng saja baginya.
Karena lehernya terpegang, harimau itu menjadi rnurka dan tidak kenal lagi sang
majikan, cakarnya terus menggaruk dan mulutnya menggigit, Dalam keadaan demikian
Su Pek-wi dan Su Beng-ciat menjadi kelabakan juga meski biasanya selalu berkawan
dengan binatang buas.
Menyaksikan pertarungan itu, Kwe Yang bersorak gembira, teriaknya. “Hebat sekali
Sintiau-hiap!” Nah, kalian mengaku kalah tidak, Su-keh-hengte?”
Nyo Ko memandang sekejap pada anak dara itu, ia tidak tahu siapakah Kwe Yang
ini, anehnya anak dara itu berkawan dengan macan tutul, tapi sekarang mengolok
dan mengejek kelima saudara Su pula.
Sementara itu Su Siok-kang telah mengatur pernapasannya dan terasa lancar tanpa
gangguan apapun, ia tahu Sin-tiau-hiap ini sengaja bermurah hati dan tidak ingin
melukainya tadi, diam2 iapun mengakui kalau berdasarkan kepandaian sejati
biarpun mereka berlima mengerubutnya sekaligus juga bukan tandingannya.
Saat itu kelihatan keempat saudaranya sedang mengerubuti Nyo Ko, segera ia
berseru: “Para kakak dan adik, lekas berhenti, kita harus tahu diri.”
Mendengar itu, Koan-kian-cu Su Tiong-beng mendahului menarik kembali pipanya dan
melompat mundur sedangkan Tay-Iik-sin Su Kt-kiang adalah orang yang lebih
sembrono, ia anggap sepele seruan saudaranya itu.
“Tahu diri apa? Rasakan dulu gadaku ini!” demikian ia pikir, segera kedua tangan
memegang gada terus. mengepruk kepala Nyo Ko dengan gaya “Ki-siang-kay-san” atau
gajah raksasa menggugur gunung, jurus ini ditirunya dari cara gajah menggunakan
belalainya menghantam sesuatu benda, pukulan dahsyatnya dapatlah dibayangkan.
Namun Nyo Ko juga tidak menghindar ia lenparkan harimau yang dipegangnya itu,
tangan kiri terus membalik ke atas, sekali meraih dapatlah ujung gada belalai
gajah lawan ditangkapnya, kata-nya: “Marilah kita coba-2 tenaga siapa lebih
kuat?” Sekuatnya Su Ki-kiang berusaha menekan ke bawah, tapi gada itu berhenti
di atas kepala Nyo Ko dan tidak dapat menurun lagi.
“Berhenti, Site! jangan kurang adat!” seru Su Siok-kang pula.
Sekuatnya Su Ki-kiang lantas membetot dengan maksud hendak menarik kembali
gadanya, namun gada itu seperti mclengket saja di tangan Nyo Ko, sedikitpun tak
bisa bergerak, Ber-ulang2 Su Ki-kiang membetot dan tetap tidak berhasil.
Nyo Ko merasa tenaga tarikan lawan sangat kuat, pikirnya, “Kalau tidak
kuperlihatkan tenaga sakti, orang dogol ini tentu tidak mau takluk.”
Mendadak ia mengerahkan tenaga dan dipelintir ke atas, tapi Su Ki-kiang tetap
memegangi gadanya sekuat-kuatnya, keruan gada yang menyerupai belalai gajah itu
lantas bengkok.
“Bagus!” bentak Nyo Ko terus ditekuk balik ke bawah, karena ditekuk ke atas dan
ke bawah, gada itu tidak tahan, “pletak”, patah menjadi dua, Tangan Su Ki-kiang
tergetar hingga lecet berdarah. Tapi dia benar2 kuat dan kepala batu, gada patah
itu masih dipegangnya dengan kencang.
Nyo Ko bergelak tawa sambil membuang bagian gada patah yang dirampasnya itu,
kontan setengah gada itu ambles ke dalam tanah bersalju itu, padahal tebal salju
tiada satu kaki, sedangkan gada patah itu panjangnya lebih tiga kaki, namun
menghilang tanpa bekas ke dalam tanah, betapa hebat tenaga sakti Nyo Ko sungguh
sangat mengejutkan.
Dilihatnya Su Siok-kang, Su Beng-ciat dan lain2 sedang membentak2 menghentikan
serangan kawanan binatang buas, tapi sekali kawanan binatang itu mengamuk dan
melihat darah, sukarlah untuk dikendalikan begitu saja.
Cepat Nyo Ko memberi tanda kepada Kwe Yang agar nona cilik itu menutup
telinganya dengan tangan, walaupun tidak tahu apa tujuannya tapi Kwe Yang
menurut saja, segera ia mendekap rapat kedua kupingnya. Segera Nyo Ko berteriak
dengan keras, begitu nyaring suaranya hingga seperti bunyi guntur yang
menggelegar.
Meski telinganya sudah ditutupi, tergetar juga jantung Kwe Yang hingga
ber-debar2 dan rada pening, untung sejak kecil Lwe-kangnya tertumpuk cukup kuat
sehingga suara Nyo Ko itu tidak sampai membuatnya roboh.
Suara Nyo Ko itu masih terus menggelegar hingga lama sekali, air muka semua
orang sama berubah, kawanan binatang buas juga sama roboh, menyusul Gerombolan
Setan Se-xan dan Su-si-hengte juga terguling, hanya tersisa belasan ekor gajah
serta Su Siok-kang dan Kwe Yang saja yang masih tetap berdiri, sedangkan si
rajawali sakti tampak berdiri dengan bersitegang leher, kelihatannya sangat
umuk, sombong.
Melihat Su Siok-kang sanggup berdiri, Nyo Ko pikir tenaga dalam orang sakit ini
juga hebat, tapi kalau suaranya dikeraskan lagi sedikit sehingga Su Siok-kang
dirobohkan, mungkin dia akan terluka dalam dengan parah, Maka ia lantas
menghentikan suara suitannya.
Selang tak lama, semua orang dan kawanan binatang itu baru dapat berdiri
kembali, tapi sebagian binatang kecil sebangsa serigala dan sebagainya ada yang
pingsan dan belum sadar kembali malahan di mana2 banyak terdapat kotoran
binatang, rupanya saking ketakutan, kawanan binatang itu banyak yang
ter-kencing2 dan ter-berak2.
Dan begitu bangun, kawanan binatang itu terus lari ke dalam hutan dengan
mencawat ekor tanpa menunggu lagi komando Su si-hengte.
Sudah tentu Su-si-hengte dan gerombolan Se-tan Se-san itu tidak pernah
menyaksikan perbawa sehebat ini. Mereka sama berdiri kesima dan tidak tahu apa
yang harus dilakukan.
Maka berkatalah Nyo Ko: “Maaf jika Cayhe telah mengganggu soalnya Cayhe ada
janji dengan Gerombolan Setan Se-san, terpaksa harus kuhentikan pertarungan
kedua pihak ini, nanti kalau persoalan Cayhe sudah selesai, bolehlah silakan
melanjutkan pertikaian kalian ini dan pihak manapun Cayhe takkan membantu selain
menonton saja di samping.”
Lalu dia berpaling kepada Sat-sin-kui, si setan elmaut: “Nah, bagaimana kalian?
ingin satu persatu bergiliran menempur aku atau sepuluh orang maju bersama
sekaligus?”
Karena pengaruh suitan Nyo Ko tadi, sampai sekarang perasaan Sat-sin-kui belum
lagi tenang, seketika ia tak dapat menjawab pertanyaan Nyo Ko:
Segera Tiang-si-kui membeli hormat dan ber-kata: “Sin-tiau-tayhiap, kepandaianmu
dengan kami bedanya seperti langit dan bumi, mana Gerombolan Setan Se-san berani
bermusuhan lagi dengan engkau? jiwa kami tadi telah diselamatkan olehmu,
selanjutnya engkau ada perintah apapun pasti akan kami laksanakan. Jika engkau
suruh kami harus keluar dari wilayah Soasay ini, maka segera kami akan pergi,
sedetikpun tak berani tertahan di sini.”
Dari bentuk tubuh serta jenggotnya yang panjang itu sejak tadi Nyo Ko merasa
kakek cebol ini seperti pernah dikenalnya, setelah mendengar suaranya, segera ia
bertanya, “Bukankah kau ini she Hoan bernama It-ong?”
Kiranya Tiang-si-kui ini memang betul adalah Hoan It-ong, yaitu murid tertua
Kongsun Ci di Coat-ceng-kok, setelah jiwanya diampuni Nyo Ko, dia lantas
mengasingkan diri, sepuluh tahun kemudian baru berkecimpung pula di dunia
Kang-ouw, berkat kepandaiannya yang lumayan itulah dia berhasil mengepalai
Gerombolan Setan Se-san.
Dulu Nyo Ko dikenalnya sebagai pemuda yang cakap dan berkepandaian tinggi, kini
tangan Nyo Ko buntung sebelah, pakai kedok lagi, dengan sendirinya Hoan It-ong
pangling padanya.
“Ya, hamba memang Hoan It-ong adanya dan siap menerima pesan Sin-tiau-tayhiap.”
demikian jawab Tiang-si-kui dengan munduk2.
Nyo Ko tersenyum, katanya: “Jika kalian mau tunduk pada perkataanku, maka kalian
juga tidak perlu keluar dari wilayah Soasay, Sat-sin-kui, cukuplah asalkan kau
membebaskan saja keempat gundikmu itu.”
Sat-sin-kui mengiakan setelah terdiam sejenak, katanya: “Jika keempat perempuan
hina itu tidak mau angkat kaki, biar kuhalau mereka dengan pentung.”
Nyo Ko jadi melengak malah, teringat olehnya ketika kelima isteri dan gundik
Sat-siu-kui sama menyembah padanya dan mintakan ampun bagi sang suami, sikap
mereka yang sungguh2 itu tampaknya memang setia dan mencintai suaminya, kalau
perempuan2 itu mau ikut dia, sekarang dia malah diharuskan mengusir keempat
gundiknya itu, bisa jadi tindakan ini malah akan melukai hati mereka.
Maka dengan tertawa Nyo Ko lantas menambahkan “Usir sih tidak perlu, Kalau
mereka ingin pergi, maka kau tidak boleh menahan mereka, sebaliknya kalau mereka
suka ikut kau, ya. apa mau dikatakan lagi? Tapi kau bilang mau ambil lagi empat
orang gundik, apakah betul ucapanmu ini?”
“Ah, persoalan perempuan itu sudah membikin repot Sin-tiau-tayhiap, malahan jiwa
para saudaraku ini hampir ikut melayang, masakah hamba beradi ambil isteri lagi,
Andaikan berani, rasanya Toako kami ini juga takkan mengidzinkan.”
Serentak “Setan” yang lain tertawa geli mendengar ucapan Sat-sin-kui itu.
“Baiklah, sekarang urusanku sudah selesai, kalian boleh mulai bertempur lagi,”
kata Nyo Ko, lalu ia mundur ke sana bersama rajawali sakti dan membiarkan
Su-si-hengte dan Gerombolan Setan itu bertarung lagi.
Segera Hoan It-ong melangkah maju dan berkata kepada Su Pek-wi: “Gerombolan
Setan Se-san sudah sama babak belur, biarkan sementara ini kami mohon diri saja,
Kami hanya ingin tahu selanjutnya Ban-siu-san-ceng tetap bercokol di sini atau
akan kembali ke Se-keng? Harap dijelaskan supaya kelak kami dapat menemukan
alamat kalian secara tepat.”
Dari nada ucapan itu, Su Pek-wi paham kelak orang bermaksud mencarinya untuk
menuntut balas, maka dengan angkuh iapun menjawab: “Kami akan menanti kedatangan
kalian di Se-keng saja, Jika Samte kami akhirnya… akhirnya takkan disembuhkan
maka tanpa kunjungan kalian juga kami berempat saudara akan mendahului
berkunjung kepada kalian.”
Hoan It-ong melengak, katanya: “Memangnya Susamko sedang sakit, apa
sangkut-paut sakitnya dengan kami, untuk ini mohon diberi penjelasan?”
Su Pek-wi menjadi murka, dengan muka merah padam ia berteriak: “Samte…”
Belum lanjut ucapannya, tiba2 Su Siok-kang menghela napas panjang dan menyela:
“Toako, urusan ini tidak perlu disebut lagi, Kukira Gerombolan Setan Se-san juga
tidak sengaja, mungkin sudah ditakdirkan nasibku harus begini, maka tidak perlu
banyak mengikat permusuhan lagi.”
“Baik!” seru Su Pek-wi dengan menahan amarahnya, lalu dia memberi salam kepada
Hoan liong dan berkata. “Selama gunung tetap menghijau dan air tetap mengalir,
kelak kita pasti bertemu lagi.” Kemudian dia berpaling dan bertanya kepada Nyo
Ko: “Sin-tiau-tayhiap. kami bersaudara terjungkal di tanganmu, sungguh kami
merasa sangat kagum. Rasanya meski kami berlatih lagi 20 tahun juga tetap bukan
tandinganmu, sengketa ini jelas kami tidak berharap dapat membalasnya, kamipun
tidak berani lagi bertemu dengan engkau, pokoknya ke mana engkau datang di sana
pula kami lantas mendahului menyingkir.”
“Ah, ucapan Su-toako teramat berlebihan,” ujar Nyo Ko- dengan tertawa.
“Hayolah, kita berangkat” kata Su Pek- wi sambil mendekati Su Siok-kang. ia
memapah saudaranya yang sakit itu dan diajak pergi,
Hoan It-ong merasa ucapan Su Pek-wi itu banyak yang sukar dipahami, cepat ia
berseru pula: “Tunggu dulu, Su-toako. Tadi Su-samko mengatakan tindakan kami
tidak disengaja, Padahal seingat kami kecuali terobosan di tempat kediaman
kalian ini, rasanya tiada pernah berbuat kesalahan lain. Apabila memang benar
kami telah berbuat sesuatu kesalahan di luar sadar kami, sedangkan kepala
dipenggal saja Gerombolan Setan Se-san tidak gentar, apalagi menyembah dan mohon
maaf kepada kalian bersaudara?”
Su Pek-wi tadi sudah menyaksikan cara Gerombolan Setan Se-san itu saling
melempar kopiah kulit milik Su Siok-kang tadi dan tiada satupun yang ingin
menyelamatkan diri sendiri, rata2 adalah ksatria yang tidak takut mati, hal ini
tidak perlu disangsikan lagi.
Maka dengan rasa pedih ia menjawab “Kalian telah menyebabkan larinya
Kiu-bwe-leng-hou sehingga luka dalam Samte kami tak dapat diobati lagi,
sekalipun kau menyembah seratus kali atau seribu kali kepada kami juga tiada
gunanya.”
Hoan It-ong terkejut baru teringat olehnya tadi kelima saudara Su memimpin
kawanan binatang menguber seekor binatang kecil mirip kucing dan anjing, kiranya
itu yang disebut Kiu-bwe-leng-hou (rase atau musang cerdik berekor sembilan),
masakah binatang kecil mempunyai kegunaan yang sangat penting?
Tiba2 Sat-sin-kui menimbrung: “Memangnya untuk apa sih rase kecil itu? Tapi
kalau binatang kecil itu menyangkut kesehatan Su-samko, maka marilah kita
be-ramai2 memburu dan menangkapnya lagi. Hanya seekor rase kecil begitu apa sih
artinya?”
“Apa artinya, katamu hm?” teriak SuKi-kiang, “kalau kau mampu menangkap rase
kecil itu, biarlah nanti aku menyembah seratus kali, bahkan seribu kali padamu
juga kurela.”
Hoan It-ong terkesiap, pikirnya: “Keluarga Su ini terkenal mahir menjinakkan
binatang, rasanya di dunia ini tiada yang lebih pandai daripada mereka, kalau
mereka menyatakan betapa sulitnya menangkap rase itu, lalu siapa lagi yang
sanggup?” – Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia memandang Nyo Ko.
Kwe Yang tidak tahan, segera ia menyelutuk: “Sejak tadi kalian hanya bicara
saja, mengapa kalian tidak mohon bantuan Sin-tiau-hiap?”
Su Tiong-beng terhitung paling banyak tipu akalnya, dia adalah motor penggerak
di antara kelima saudara Su itu, ia pikir ilmu silat Sin-tiau–hiap ini memang
sukar diukur, bisa jadi beliau mau memberi pertolongan.
Maka ia lantas berkata: “Ah-, nona cilik tahu apa? Kukira selain malaikat dewata
yang turun ke bumi ini tiada seorang lagi yang sanggup menangkap
Kiu-bwe-long-hou itu.”
Nyo Ko hanya tersenyum saja, ia tahu orang sengaja hendak memancing reaksinya,
namun dia tidak menanggapinya.
“Sesungguhnya rase kecil itu mempunyai kemujijatan apa? Coba ceritakan” kata Kwe
Yang.
Su Tiong-beng menghela napas sedih, katanya kemudian “Akhir tahun yang lalu,
karena membela keadilan di daerah Hengciu, samte kami telah bergebrak dengan
orang, tapi pihak lawan memakai akal licik sehingga Samte kami kena diselomoti
musuh dan terluka parah.”
“Aneh, Su-samsiok ini jelas sangat tinggi kepandaiannya siapa lagi yang begitu
lihay dan mampu melukainya?” ujar Kwe Yang heran.
“Ah, nona memuji sedikit kepandaianku yang tak berarti ini, bukankah akan
ditertawai Sin-tiau-hiap?” kata Su Siok-kang dengan suara lemah.
Kwe Yang melirik Nyo Ko sekejap katanya:
“Dia! Sudah tentu dia di luar hitungan. Yang kumaksud adalah orang lain.”
“Yang melukai Samte kami adalah seorang Mongol,” tutur Su Tiong-beng lebih
lanjut, “namanya Hotu kalau tidak salah, Konon dia adalah murid Kim-lun
Hoat-ong, Koksu kerajaan Mongol.”
Tiba2 Kwe Yang berkata kepada Nyo Ko: “Sin-tiau-hiap, kumohon engkau suka pergi
mencari pangeran Mongol itu dan memberi ajaran setimpal padanya untuk
membalaskan sakit hati Su-samsiok ini “
“Untuk ini kami tak berani membikin repot Sin-tiau hiap,” kata Su Tiong-beng,
“Asalkan luka Samte kami sudah sembuh, kami akan mencari dia dan pasti dapat
menuntut balas, Hanya saja Lwe-kang kami ini lain daripada yang lain, luka yang
diderita Samte kami ini sangat sukar disembuhkan untuk ini harus minum darah,
segar Kiu-bwe-leng-hou itu.”
“Ah, kiranya demikian,” Kwe Yang dan Gerombolan Setan Se-san sama bersuara.
“Rase kecil itu adalah binatang yang sangat jarang, makhluk yang amat cerdik,”
tutur Su Tiong-beng pula, “Sudah lebih setahun kami bersaudara mencari ke mana2
dan baru kami kutemukan jejaknya di daerah Cinlam. Tempat sembunyi rase itupun
sangat aneh, yaitu di tengah sebuah kolam lumpur yang sangat luas yang terletak
kurang lebih 30 li dari sini.”
“Kolam lumpur besar? Maksudmu Hek-liong-tam (tambak naga hitam)?” Sat-sin-kui
menegas dengan heran.
“BetuI,” sahut Su Tiong-beng. “Kalian sudah lama berdiam di sini, tentu juga
mengetahui bahwa beberapa li sekeliling Hek-liong-tam itu hanya lumpur belaka,
manusia maupun khewan sukar berdiam di tempat seperti itu, tapi rase kecil ilu
justeru bersarang di sana. Dengan susah payah akhirnya kami berhasil
memancingnya ke tengah hutan ini.”
“Ah, pantas kalian marah dan melarang kami memasuki hutan ini,” kata Sat-sin-kui
menyadari kejadian tadi.
“Begitulah,” kata Su Tiong-beng pula, “Bahwasanya kedatangan kami ke sini adalah
tamu, betapapun kasarnya juga tidak pantas kami mengangkangi tempat orang lain,
soalnya cuma terpaksa saja, Harus dimaklumi bahwa rase itu sangat gesit dan
cepat larinya, sekejap saja lantas menghilang, hal ini telah kalian saksikan
tadi.
Karena itulah kami mengerahkan segenap binatang buas piaraan kami dan mengepung
rapat hutan itu, tampaknya dengan segera rase itu dapat kami tangkap, siapa tahu
kalian justeru membakar hutan sehingga kawanan binatang sama terkejut dan
memberi kesempatan lo!osnya rase itu.
Memalukan juga jika diceritakan meski kami sudah berusaha sepenuh tenaga tetap
tidak mampu menangkapnya, Namun luka Samte kami semakin hari semakin berat, kami
menjadi sedih sehingga tindak-tanduk kamipun menjadi berangasan, untuk ini
hendaklah kalian maklumi” Habis berkata ia terus memberi hormat se-keliling,
tapi pandangannya justeru menatap Nyo Ko.
“Urusan ini adalah karena kecerobohan kami dan Gerombolan Setan kami sekali lagi
minta maaf.” kata Hoan It-ong. “Tentang rase itu entah dengan cara bagaimana
Su-toako berlima telah memancingnya ke sini? Mengapa cara itu tidak dapat
digunakan lagi sekarang?”
“Sifat rase adalah suka curiga disamping cerdik, sukar sekali hendak
menjebaknya, apalagi Kiu-bwe-leng-hou ini, jauh lebih cerdik dan licin daripada
rase biasa,” demikian tutur Su Tiong-beng.
“Kami-telah mengorbankan ribuan ekor ayam jantan, dalam jarak setiap tombak
jauhnya kami- panggang seekor dan ber- turut2 kami pancing dia dengan bau sedap
ayam panggang, kami tidak mengusiknya dan membiarkan dia makan, setelah setiap
hari berhasil makan ayam panggang tanpa gangguan, sampai dua-tiga bulan lamanya
barulah curiga rase itu mulai berkurang.
Habis itu barulah kami pancing dia ke hutan ini, Tapi sekali ini dia telah
mengalami kaget luar biasa, biarpun seratus tahun lagi juga tidak mau tertipu
pula.”
“Ya, memang betul sulit,” kata Hoan It-ong. “Tapi kalau kita langsung masuk ke
Hek liong-tam dan menangkapnya, apakah tidak bisa?”
“Seluas beberapa li Hek-liong-tam itu hanya lumpur belaka yang beberapa meter
dalamnya, betapapun tinggi Ginkangmu juga sukar berpinjak di atas lumpur,” tutup
Su Tiong- beng. “Juga perahu, rakit atau getek dan sebagainya sukar berjalan di
sana. Namun tubuh Kiu-bwe-leng-hou itu sangat kecil dan enteng, telapak kakinya
tebal lagi, larinya juga cepat, maka dia mampu meluncur di permukaan lumpur itu
dengan cepat.”
Kwe Yang tiba2 ingat kedua rajawali di rumah, mereka kakak beradik sering naik
rajawali itu dan dibawa terbang ke udara, Kini dilihatnya rajawali sakti jauh
lebih besar daripada rajawali di rumahnya, blakan mustahil dua orang juga dapat
dibawanya terbang Maka dengan tertawa ia berkata “Sin-tiau-hiap, asalkan engkau
sudi membantur kuyakin pasti ada jalannya.”
Nyo Ko tersenyum, jawabnya: “Su-si-hangte adalah ahli penjinak binatang kalau
mereka angkat tangan tak berdaya, maka apa yang dapat ku lakukan seumpama aku
ingin membantu?”
Mendengar nada ucapan orang, ternyata bersedia menolong, urusan ini menyangkut
mati-hidup saudaranya, maka tanpa pikir lagi Su Tiong-btng, lantas bertekuk
lutut di depan Nyo Ko dan me-mohon: “Sin-tiau-tayhiap, jiwa adik kami hanya
menanti ajal, mohon engkau kasihan padanya.”
Sorot mata mengerling sekilas ke muka Kwe Yang, katanya kemudran: “Kau bilang
aku pasti dapat menolongnya, coba kuingin tahu-bagaimana pendapat adik cilik
ini.”
“Asalkan engkau naik rajawali raksasa itu, bukankah lantas dapat terbang masuk
ke Hek-liong-tam?” jawab Kwe Yang.
“Hahaha! Menarik juga saranmu ini,” kata Nyo Ko sambil tertawa.. “Tapi
Tiau.-heng kita berlainan dengan burung umumnya, karena tubuhnya teramat berat,
maka sejak kecil beliau tidak dapat terbang, Sekali sabet sayapnya mampu
membinasakan singa atau harimau, tapi justeru tidak dapat digunakan untuk
terbang.”
Sementara itu, kecuali Su Siok-kang saja, ke-empat saudara she Su itu sudah sama
berlutut di depan Nyo Ko. Segera Nyo Ko membangunkan mereka dan berkata: “Apa
boleh buat, biarlah kukerjakan sekuat tenagaku, cuma kalau tidak berhasil ya
kalian jangan menyesali”
Su-si-hengte menjadi girang, mereka pikir nama pendekar besar itu termashur,
sekali dia sudah menyanggupi pastilah akan dilaksanakannya. Kalau beliau juga
gagal, terpaksa pasrah nasib saja.
Begitulah Su Pek-wi menyembah beberapa kali pula dan berkata: “Jika demikian,
silakan Tayhiap dan para saudara dari Se-san mengaso dulu ke tempat kediaman
kami untuk berunding lebih lanjut.”
“Urusan ini berpangkal kesalahan kami, sudah tentu kami siap menerima tugas
apapun,” kata Hoan It-ong.
“Ah, tak perlu begitu,” ujar Su Pek-wi, “Tidak berkelahi takkan kenal kalau
kalian tidak menoIak, marilah mulai sekarang kita berkawan.”
Dari pertarungan tadi masing2 sudah sama tahu kelihayan pihak lawan, memangnya
kedua pihak tidak ada permusuhan apa2, soalnya cuma bertengkar mulut saja lalu
berkelahi, maka setelah bera-mah tamah sejenak, kedua pihak lantas seperti
kenalan lama saja dan bersahabat baik.
“Sekarang juga biarlah kupergi ke Hek-Iiong–tam, apakah berhasil atau tidak
pasti aku akan kembali lagi ke sini,” kata Nyo Ko tiba2.
Walaupun GeromboIan Setan Su-si hengte ingin mencurahkan tenaga, namun mereka
tidak mendengar Nyo Ko menghendaki pembantu, terpaksa mereka diam saja dan tidak
berani mencalonkan diri, setelah memberi salam kepada para hadirin, lalu Nyo Ko
melangkah pergi.
Maksud kedatangan Kwe Yang ini ialah ingin melihat Sin-tiau-hiap, kini tokoh
tersebut sudah dilihatnya, meski berwajah jelek, tapi ilmu silatnya mengejutkan,
suka membantu yang lemah dan menolong yang susah, nyata memang setimpal
mendapatkan sebutan “Tayhiap”, jadi tujuan kedatangannya ini tidaklah percuma,
Tapi demi teringat Sin-tiau hiap akan pergi menangkap Kiu-hwe-leng-hou,”
Caranya pasti sangat menarik, dasar anak muda, rasa ingin tahunya telah
menggelitik lubuk hatinya, tanpa terasa iapun melangkah ke sana mengintil di
belakang Nyo Ko.
Melihat itu, segera Toa-thau-kui bermaksud memanggilnya kembali tapi lantas
terpikir olehnya: “Dia bertekad ingin menemui Sin tiau-hiap, tentu ada sesuatu
hendak dikatakan padanya.”
Sedangkan Su si-hengte tdak tahu asal usul Kwe Yang, dengan sendirinya merekapun
tidak dapat ikut campur urusan nona cilik itu.
Kwe Yang terus mengintil di belakang Nyo Ko, jaraknya kira2 belasan meter, yang
dituju hanya ingin tahu cara bagaimana pendekar besar itu menangkap rase,
Dilihatnya jalan Nyo Ko makin lama semakin cepat, rajawali raksasa itu jalan
berjajar dengan dia dengan langkah lebar, cepatnya ternyata tidak kalah dengan
kuda lari. Hanya sekejap saja Kwe Yang sudah jauh tertinggal di belakang.
Sekuatnya Kwe Yang mengeluaikan Ginkang ajaran ibunya, tampaknya Nyo Ko
berlenggang seenaknya, tapi jaraknya ternyata semakin jauh, tak lama- kemudian
bayangan Nyo Ko dan si rajawali raksasa itu telah mengecil menjadi dua titik
hitam saja.
Kwe Yang menjadi cemas, serunya. “Hei, tunggu!” Karena sedikit meleng, mendadak
ia ter-peleset tanah salju yang licin dan jatuh terduduk, Ya malu ya gelisah,
maka menangislah dia.
Tiba2 sebuah suara yang halus mendenging di tepi telinganya: “Kenapa menangis?
Siapa yang nakal?”
Waktu Kwe Yang mendongak, ternyata Nyo Ko adanya, entah mengapa dia dapat putar
balik secepat ini. Kejut dan girang pula si nona, segera iapun merasa likat dan
cepat menunduk, ia bermaksud mengambil saputangan untuk mengusap air mata, tapi
karena berlari2 tadi, saputangan ternyata sudah hilang.
“lnikah yang kau cari?” tanya Nyo Ko tiba2 sambil menyodorkan sebuah saputangan.
Segera Kwe Yang mengenali saputangan yang ujungnya bersulam setangkai bunga
kecil itu adalah miliknya sendiri Mendadak ia menjawab pertanyaan Nyo Ko tadi:
“Ya, kau inilah yang nakal”
“He, bilakah aku nakal?” ujar Nyo Ko heran.
“Kau telah merampas saputanganku, apakah perbuatan ini tidak nakal?”
“Saputanganmu jatuh di sana, dengan maksud baik kupungut dan mengembalikannya
padamu, masakah kau tuduh aku merampasnya darimu?” kata Nyo Ko dengan tertawa.
“Aku berada di belakangmu, andaikan benar saputanganku jatuh, cara bagaimana
pula kau me-mungutnya? Hm, jelas kau mencolongnya dariku,” kata Kwe Yang.
Padahal sejak tadi Nyo Ko sudah tahu Kwe Yang mengintil di belakangnya, dia
sengaja percepat langkahnya untuk menjajal Ginkang si nona, ia merasa meski usia
nona cilik ini masih sangat muda, tapi ilmu silatnya sudah mempunyai dasar yang
kuat dan jelas mendapatkan ajaran tokoh ternama.
Maka begitu mengetahui Kwe Yang terpeleset jatuh, cepat ia meluncur balik.
Dilihatnya sebuah saputangan jatuh tidak jauh di sebelah sana, segera ia
memungutnya. Cuma gerakannya teramat gesit, pergi datang secepat terbang,
walaupun berada di depan, tapi dapat memungut saputangan yang jatuh di bagian
belakang, hal ini memang tidak masuk diakal.
Dengan tersenyum Nyo Ko lantas tanya: “Kau she apa dan siapa namamu? siapa pula
gurumu? Mengapa kau mengikuti aku?”
“She dan namamu yang terhormat harap diberitahukan lebih dulu padaku baru nanti
akupun memberitahukan namaku,” jawab Kwe Yang.
Selama belasan tahun ini Nyo Ko selalu menutupi wajah aslinya bagi umum, dengan
sendirinya juga tidak suka memberitahukan namanya sendiri pada seorang nona
cilik yang tidak dikenaInya. Maka katanya: “Nona cilik ini sangat aneh, kalau
kau tidak mau menerangkan ya sudahlah, Saputa-nganmu kukembalikan.”
Habis berbicara, dengan pelahan tangannya mcngebas, saputangan itu lantas mekar
merata dan mengembang di udara terus melayang enteng ke depan Kwe Yang.
Kwe Yang sangat teriank, cepat ia tangkap saputangan itu dan berkata:
“Sia-tiau-hiap, ilmu kepandaian apakah ini? Maukah kau mengajarkan padaku?”
Melihat si nona yang lincah ke kanak2an, sama sekali tidak takut kepada wajahnya
yang seram, tiba2 timbul pikiran Nyo Ko untuk coba menakut2inya, mendadak ia
lantas membentak bengis: “Berani benar kau, mengapa kau tidak takut padaku, hm?
Akan kuhantam kaul” Berbareng ia melangkah maju dan berlagak hendak menyerang.
Kwe Yang terkejut, tapi cepat iapun mengikik tawa, katanya: “Mana aku takut,
jika betul kau ingin mencelakai aku, masakah kau sendiri mau mengatakan lebih
dulu? Sin- tiau- tayhiap terkenal berbudi dan baik hati, mana mungkin mencelakai
seorang anak perempuan kecil seperti diriku ini?”
Di dunia ini tiada seorangpun yang tidak suka dipuji, apakah mendengar orang
memujinya dengan setulus hati, meski Nyo Ko tidak suka disanjung puji orang,
tapi mendengar ucapan Kwe Yang benar2 mengaguminya itu, mau-tak-mau ia tersenyum
dan berkata: “Kau baru kenal diriku darimana mengetahui aku takkan mencelakai
kau?”
“Meski sebelumnya aku tidak kenal kau, tapi semalam kudengar orang banyak
bercerita mengenai tindak-tandukmu yang terpuji. Maka di dalam hati aku bertekad
ingin melihat tokoh ksatria besar ini, sebab itulah aku lantas ikut Toa-thau-kui
ke sini untuk menemui engkau.”
“Ah, aku ini terhitung ksatria apa?” ujar Nyo Ko sambil menggeleng, “Dan setelah
bertemu kini, kau pasti kecewa bukan?”
“Tidak, tidak!” jawab Kwe Yang cepat “Jika engkau bukan pahlawan dan kesatria
besar, siapa lagi yang dapat dianggap pahlawan lagi?” – Habis berkaca demikian,
segera ia merasa tidak pantas kalau ayahnya sendiri tidak disebut pula, maka
cepat ia menambahkan.
“Sudah tentu, selain engkau, di dunia ini juga masih ada beberapa pahlawan dan
ksatria besar lagi, tapi engkau adalah satu diantaranya.”
Diam2 Nyo Ko pikir anak dara sekecil ini masakah tahu tokoh2 dunia segala,
dengan tersenyum ia lantas bertanya: “Coba katakan, siapa2 yang kau anggap
pahlawan dan ksatria besar?”
Karena nada ucapan orang terasa meremehkan dirinya, tiba2 terpikir sesuatu, oleh
Kwe Yang, katanya: “Akan kukatakan, kalau tepat, engkau harus berjanji akan
membawa serta diriku pergi menangkap Kiu-bwe-leng-hou, jadi?”"
“Baiklah, coba katakan,” jawab Nyo Ko,
“Nah, ada seorang pahlawan yang bertahan di kota Siangyang, gagah perkasa tanpa
menghiraukan keselamatan scndiri, sekuat tenaga melawan serbuan pasukan mongol,
membela negara dan melindungi rakyat, Tokoh demikian terhitung pahlawan atau
tidak?”
“Bagus!” ujar Nyo Ko sambil mengacungkan ibu jarinya, “Yang kau maksud ialah Kwe
Cing, Kwe-tayhiap. jelas beliau terhitung pahlawan besar.”
“Ada lagi seorang pahlawan wanita, beliau senantiasa membantu sang suami
mempertahankan Siangyang, tipu akalnya tiada bandingannya, dia terhitung
pahlawan besar atau tidak?”
“O, maksudmu Kwe-hujin Ui Yong? Ya, beliau juga terhitung pahlawan.”
“Masih ada seorang pahlawan tua, beliau mahir ilmu falak dan macam2 ilmu gaib,
baik ilmu silat maupun sastra jarang ada bandingannya, Beliau dapat dianggap
pahlawan besar tidak?”
“ltulah Tho-hoa-tocu Ui Yok-su, beliau adalah angkatan tua di dunia persilatan
dan adalah tokoh kekagumanku.”
“Ada lagi satu, pahlawan beliau memimpin kawanan orang jembel, menumpas orang
lalim dan menyerbu musuh, membela negara dan rakyat tanpa kenal lelah, dia
terhitung pahlawan besar tidak?”
“Maksudmu Loh-pangcu, Loh Yu-kah. ilmu silat orang ini tidak menonjol dan juga
tiada sesuatu tindakannya yang luar biasa, tapi mengingat semangat perjuangannya
membela negara dan rakyat serta menumpas penjahat dan menyerbu musuh, dapatlah
dia dianggap tokoh kelas satu.”
Kwe Yang pikir Sin-tiau-tayhiap sendiri sedemikian hebatnya, sudah tentu
penilaiannya terhadap orang lain juga tinggi, kalau kukatakan lagi mungkin akan
dibantah olehnya. Apalagi selain ayah-ibu, kakek dan paman Loh, rasanya juga
tiada tokoh lain yang dapat ditonjolkan.
Melihat air muka si nona mengunjuk rasa ragu2 untuk bicara pula, Nyo Ko lantai
berkata: “Asalkan kau dapat menyebut lagi seorang pahlawan lain dan tepat,
segera kubawa kau ke Hek-liong-tam untuk menangkap Kiu-bwe-leng-bou.”
ia pikir nama paman dan bibi Kwe serta Ui-tocu dan Loh-pangcu sangat terkenal di
dunia Kangouw, maka tidaklah heran jika nona cilik ini dapat menyebut nama
mereka.
Segera Kwe Yang bermaksud menyebut kakak iparnya, yaitu Yalu Ce, tapi rasanya
kurang cocok untuk dianggap sebagai “pahlawan besar” meski ilmu silatnya cukup
tinggi, Selagi serba susah, tiba2 timbul kecerdikannya, cepatlah ia berkata:
“Baik, ada seorang lagi, beliau suka membantu kaum lernah, menolong yang
sengsara, setiap orang selalu memuji nya, itulah dia Sin-tiau-tayhiapl Nah,
kalau beliau tak dapat dianggap sebagai pahlawan besar, jelas.kau sendiri yang
bohong.”
Nyo Ko bergelak tertawa, katanya: “Ha ha, cara bicara nona cilik sungguh lucu.”
“Jadi tidak kau membawaku ke Hek-liong-tam?” tanya Kwe Yang.
“Karena kau sudah mengatakan diriku ini pahlawan besar, maka pahlawan besar
tidak boleh mungkir janji pada seorang nona cilik, Marilah kita berangkat!”
Senang sekali hati Kwe Yang, segera tangan kanannya menggandeng tangan kiri Nyo
Ko. Sejak kecil dia berkawan dengan para ksatria di Siangyang dan semua
menganggap dia sebagai adik kecil, maka sekarang saking senangnya iapun anggap
Nyo Ko sebagai kenalan lama.
Nyo Ko sendiri menjadi rikuh, ia merasa tangan si nona lunak dan halus, kalau
dia melepaskan pegangan Kwe Yang, rasanya kurang sopan, ia coba melirik nona
cilik ini, terlihat dia me-loncat2 kegirangan dan sama sekali tiada pikiran
Iain.
Dengan tersenyum dia lantas menuding ke arah utara: “Hek-liong-tam terletak
tidak jauh di sana.” Dengan alasan menuding inilah dia dapat menarik tangannya
dari pegangan Kwe Yang.
Kiranya Nyo Ko merasa waktu mudanya sudah terlalu banyak membikin anak perempuan
tergila2 padanya, tapi sejak matinya Kongsun Lik-oh dan menghilangnya
Siao-liong-li, diam2 ia sangat menyesalkan tindakannya di masa lampau, selama
belasan tahun ini ia menjadi sangat alim sehingga tangan anak perempuan kecil
seperti Kwe Yang ini juga enggan disentuhnya lagi.
Sama sekali Kwe Yang tidak merasakan perubahan pikiran Nyo Ko itu, dia jalan
berjajar dengan Nyo Ko, ketika melihat muka rajawali sakti itu sangat jelek,
tapi tubuhnya kekar, tanpa pikir ia tepuk punggungnya sebagai tanda simpatik.
Sejak kecil dia sudah biasa bermain dengan sepasang rajawali di rumahnya itu,
siapa tahu rajawali ini ternyata tidak suka ditepuk, mendadak sayapnya
terbentang, “bret”, tangan Kwe Yang didorong pergi.
Keruan Kwe Yang menjerit kaget, Dengan tertawa Nyo Ko lantas berkata: “Jangan
marah, Tiau-heng! Buat apa mengurusi anak kecil?”
Kwe Yang me-lelet2 lidah dan menyingkir ke sisi Nyo Ko yang lain dan tak berani
berdekatan dengan si rajawali sakti lagi, ia tidak tahu bahwa sepasang rajawali
di rumahnya itu termasuk burung piaraan, sedangkan hubungan rajawali sakti ini
dengan Nyo Ko boleh dikatakan setengah guru dan setengah kawan, kalau bicara
tentang usia bahkan terhitung angkatan tua, jelas tidak sama kedudukan.
Begitulah mereka terus ke Hek-liong-tam. Tempat itu sangat mudah dikenali,
beberapa ii sekeliling sama sekali tiada tetumbuhan sebenarnya Hek-liong-tam itu
adalah sebuah danau, mungkin karena sumber airnya kering, lama2 dasar danau
mendangkal sehingga akhirnya berubah menjadi tambak besar dengan lumpur melulu
Tidak lama kemudian Nyo Ko dan Kwe Yang sudah berada di tepi tambak, sejauh mata
memandang, suasana sepi senyap dan menyeramkan. Hanya di tengah2 tambak sana
kelihatan tertimbun seongokan kayu dan rumput kering. Bisa jadi tempat sembunyi
Kiu-bwe-leng-hou adalah di bawah onggokan kayu dan rumput kering itu.
Nyo Ko ambil sepotong tangkai kayu dan dilemparkan ke tengah tambak, tangkai
kayu itu mula2 melintang di atas salju, tapi tidak lama kemudian kelihatan mulai
ambles ke bawah, meski tenggelam-nya sangat pelahan, tapi berjalan terus tanpa
berhenti, sedikit demi sedikit dan akhirnya timbunan salju di kedua sisinya
merapat sehingga tangkai kayu itu teruruk hilang tanpa bekas.
Tidak kepalang kejut Kvve Yang, tangkai kayu seenteng itu saja amblas ke dalam
lumpur, lalu cara bagaimana manusia dapat berpijak di sana? Dengan melenggong ia
pandang Nyo Ko dan ingin tahu orang mempunyai tipu daya apa?
Sejenak Nyo Ko berpikir, lalu ia cari lagi dua potong tangkai kayu yang agak
licin, masing2 panjangnya satu meteran, tangkai kayu itu lantas diikat di bawah
telapak kaki, Lalu katanya: “Akan kucoba, entah bisa tidak?”
Habis berkata, segera tubuhnya melayang ke tengah tambak, secepat anak panah
melesat dari busurnya ia terus meluncur di permukaan salju yang menutupi tambak
itu. Dengan melenggak-lenggok ke sana dan ke sini, sama sekali dia tidak
berhenti sedetikpun, ia terus meluncur sekeliling tambak, seperti orang main ski
jaman kini, kemudian dia meluncur balik ke tempat semula.
“Kepandaian hebat, kecakapan luar biasa!” sorak Kwe Yang memuji
Dari sorot mata Kwe Yang yang, penuh rasa kagum itu, Nyo Ko tahu nona itu sangat
berharap dapat ikut menangkap rase ke tengah tambak, tapi nona itu menyadari tak
memiliki kepandaian Ginkang setinggi itu. Maka Nyo Ko lantas berkata dengan
tertawa “Aku sudah berjanji padamu akan membawa kau ke Hek liong-tam untuk
menangkap Kiu-bwe leng hou. Soalnya kau berani tidak?”
“Aku tidak memiliki kepandaian setinggi kau, biarpun berani juga percuma,” sahut
Kwe Yang sambil menghela napas pelahan.
Nyo Ko tersenyum dan tidak menanggapi pu-la, ia mencari lagi dua potong kayu
yang lebih pendek sedikit daripada miliknya tadi dan disodorkan pada si nona,
katanya: “lkatlah di bawah telapak kakimu!”
Gugup dan girang pula Kwe Yang, ia menurut dan mengikat kencang kedua potong
kayu itu di bawah telapak kakinya.
“Tubuhnya mendoyong sedikit ke depan, kaki jangan menggunakan tenaga, biarkan
saja mengimbangi” pesan Nyo Ko. Lalu tangan kirinya memegangi tangan kanan Kwe
Yang terus berseru tertahan “Awas!”
Sekali angkat dan tarik, tanpa kuasa tubuh Kwe Yang terus melayang dan meluncur
ke tengah tambak, Semula dia rada gugup dan takut2, tapi setelah meluncur
beberapa meter jauhnya, terasa badan enteng dan melayang seperti terbang, kaki
tanpa merasa mengeluarkan tenaga sedikitpun ia menjadi cekikik senang, rasanya
lebih enak daripada terbang menumpang rajawali di rumah.
Sesudah main ski sekian lama mengelilingi tombak itu tiba2 Nyo Ko berseru heran
“He?”
“Ada apa?” tanya Kwe Yang, “Apakah kau melihat rase kecil itu?”"
“Bukan,” jawab Nyo Ko. “Kukira di tengah tambak sana ada penghuninya!”
Kwe Yang menjadi heran juga, katanya: “Di tempat begini mana mungkin dihuni
orang?”
“Akupun tidak paham,” kata Nyo Ko. “Tampaknya susunan onggokan kayu dan rumput
kering ini ada kelainan dan bukan barang yang tumbuh sendiri.”
Sementara itu mereka sudah dekat dengan onggokan kayu dan rumput itu, Kwe Yang
coba mengamati dengan teliti, lalu berkata: “Ya, memang benar. sebelah timur
diatur dalam hitungan Bok (kayu), sebelah selatan menurut Hwe (api), bagian
tengah menurut Tho (bumi) dan utara adalah Sui (air).”
Rupanya sejak kecil Kwe Yang juga ikut belajar hitungan Im yang-ngo-heng, yaitu
falsafat Tiong-hoa kuno mengenai unsur2 laki-perempuan di jagat raya ini.
walaupun belum banyak yang dipahami-nya, tapi dasarnya memang pintar, maka apa
yang dapat diketahuinya jauh lebih banyak daripada kakaknya, yaitu Kwe Hu.
Sifat Kwe Yang serba ingin tahu, macam jalan pikirannya dan tindak-tanduknya
acapkali di luar dugaan orang, kelakuannya itu rada2 mirip dengan sang kakek
luar, yaitu Ui Yok-su, sebab itulah di rumah dia diberi julukan “Siau Tang sia”
atau si Tang-sia kecil.
Misalnya tindakannya menukar tusuk kundai untuk menjamu orang2 yang baru
dikenalnya dan ikut Toa-thau-kui yang menakutkan itu hanya karena ingin melihat
Sin tiau hiap, kemudian ikut lagi Sin-tiau-hiap yang baru dikenalnya pergi
menangkap rase, keberanian ini jeias sangat berbeda daripada Ui Yong dan Kwe Hu
dahulu.
Begitulah Nyo Ko menjadi heran mendengar nona cilik ini dapat menyebut bentuk
bangunan onggokan kayu-rumput itu, ia coba bertanyar “Darimana kau tahu bentuk
Im yang-ngo-heng itu? Siapa yang mengajarkan kau?”
“Kubaca dari buku, entah tepat atau tidak ucapanku,” jawab Kwe Yung dengan
tertawa, “Kulihat pengaturan kayu-rumput itupun tiada sesuatu yang luar biasa,
agaknya juga bukan orang kosen yang hebat.”
“Ya, anehnya cara bagaimana orang itu dapat tinggal di atas lumpur dan tidak
tenggelam ke bawah?” kata Nyo Ko. Segera ia berseru lantang: “Sa-habat di tengah
Hek liong-tam, ini ada tamu datang!”
Selang sekian lama, keadaan tetap sunyi tanpa sesuatu suara, Nyo Ko berseru
sekali lagi dan tetap tiada jawaban orang.
Tampaknya orang sengaja menumpuk onggokan kayu rumput di sini dan tidak dihuni
di sini, marilah kita melihatnya ke sana,” kata Nyo Ko sambil meluncur ke tempat
onggokan rumput itu.
Se-kunyong2 kaki Kwe Yang merasa berpijak pada tempat yang keras, agaknya tanah
datar di bawah mereka. Rupanya Nyo Ko sudah mengetahui lebih dulu, dengan
tertawa ia berkata: “Tidak mengherankan kiranya di tengah tambak ini ada sebuah
pulau kecil.”
Baru habis ucapannya, mendadak bayangan putih berkelebat dari bawah onggokan itu
menerobos keluar dua ekor binatang kecil, ternyata sepasang “Kiu bwe-lenghou
yang dicarinya itu. yang seekor terus lari ke timur dan yang lain kabur ke
selatan dengan cepat luar biasa.
“Kau tunggu di sini nona cilik dan jangan sembarangan bergerak,” pesan Nyo Ko.
Habis itu ia terus meluncur dan menguber rase sebelah timur.
Kini ia tidak perlu menjaga Kwe Yang lagi sehingga dapat mengeluarkan segenap
Ginkangnya untuk meluncur, sungguh cepatnya melebihi burung terbang.
Akan tetapi lari rase itupun cepat dan gesit luar biasa, seperti angin saja
binatang kecil itu lantas memutar balik dan menyamber lewat di samping Kwe Yang,
Tapi Nyo Ko terus membayanginya, sekali lengan bajunya mengebas tampaknya rase
kecil itu pasti akan tersampuk jatuh, tak terduga binatang itu benar2 sangat
cerdik, mendadak ia meloncat ke atas dan berjumpalitan di udara, dengan demikian
sabetan lengan baju Nyo Ko itu menjadi luput.
Ber-ulang2 Kwe Yang menyatakan: “Sayang! Sayang!”
Begitulah satu orang dan satu hewan terus uber menguber di atas salju, Kwe Yang
sangat senang menyaksikan tontonan menarik itu. ber ulang2 ia berseru memberi
semangat kepada Nyo Ko agar mengudak lebih kencang.
Dalam pada itu rase yang lain juga terus berlari kian kemari. terkadang sengaja
mendekati Nyo Ko. Tapi Nyo Ko tahu binatang kecil itu sengaja mengacau untuk
membelokkan perhatiannya, maka dia tidak ambil pusing, yang diudak melulu rase
yang satu itu, ia sengaja hendak berlomba lari dengan rase itu agar binatang
kecil itu akhirnya kehabisan tenaga.
Tak tahunya rase yang kecil itu ternyata memiliki tenaga yang besar, rupanya
iapun tahu sedang menghadapi bencana, maka larinya seperti kesurupan setan tanpa
ada tanda2 lelah.
Semakin lari semakin bersemangat Nyo Ko, ketika dilihatnya rase yang lain ingin
menolong kawannya dan mendekat lagi untuk mengacau, diam2 ia mengomel akan
kenakalan binatang kecil itu. sekenanya ia meraup segenggam salju dan di remas
hingga keras menyerupai batu, habis itu terus ditimpukkan dan tepat mengenai
kepala rase pengacau itu, kontan binatang itu roboh terjungkal tapi ber-guling-2
beberapa kali rase itu terus berdiri lagi dan lari masuk onggokan kayu rumput
tadi dan tidak berani keluar lagi. Rupanya Nyo Ko tidak bermaksud membinasakan
rase itu, maka timpukannya tidak keras.
Sebenarnya dengan cara yang sama Nyo Ko dapat merobohkan dan menawan rase yang
diu-daknya ini, tapi dia sengaja hendak balapan lari, katanya, “Rase cilik,
kalau kurobohkan kau dengan batu salju, matipun kau penasaran, Seorang lelaki
sejati harus bertindak secara ksatria, jika aku tidak mampu menyusul kau, maka
jiwamu biar kuampuni.”
Segera ia “tancap gas” dan meluncur lebih kencang, tahu2 dia sudah berada di
depan si rase dan mendadak tangannya meraih untuk menangkapnya. Keruan rase itu
terkejut dan melompat ke kanan. Namun Nyo Ko sudah siap, lengan bajunya terus
mengebas sehingga rase itu tergulung, tangan kanan lantas pegang kuduk rase itu
dan diangkat ke atas, saking gembiranya ia bergelak tertawa.
Tapi belum lenyap suara tawanya, tiba2 dilihatnya rase itu menjadi kaku tanpa
bergerak lagi ternyata sudah mati. “Wah, celaka!” keluh Nyo Ko. “Mungkin tenaga
kebasanku terlalu keras, rupanya binatang ini sedemikian lemah dan tidak tahan.
Entah rase mati dapat digunakan menyembuhkan luka si Su-losam atau tidak?”
Dengan menjinjing rase mati itu ia meluncur kembali ke samping Kwe Yang dan
berkata: “Ra-se ini sudah mati, mungkin tak berguna lagi, kita harus menangkap
pula rase yang satunya itu.”
Berbareng iapun melemparkan rase mati itu ke tanah, tapi iapun tahu sifat rase
sangat licik, bisa jadi pura2 mati, maka diam2 iapun sudah bersiap bila rase itu
bergerak, segera akan digulungnya kembali dengan lengan baju. Namun rase itu
ternyata tidak bergerak sedikitpun tampaknya memang sudah mati betul2.
“Menyenangkan juga bentuk rase kecil ini, matinya mungkin karena terlalu lelah
di-uber2,” ujar Kwe Yang. Lalu ia jemput sepotong kayu dan berkata pula: “Biar
kuhalau rase lain itu supaya ke luar, engkau jaga saja di sini.”
Kwe Yang lantas memdekati onggokan kayu rumput itu. Kemudian dihantamkan ke
onggokan kayu itu, tapi sekali pukul, untuk menghantam kedua kalinya ternyata
tidak mampu lagi, sungguh aneh, seperti melengkat saja kayu yang dipegang Kwe
Yang itu tak dapat ditarik kembali, Keruan Kwe Yang berseru kaget dan berusaha
membetot sekuatnya, namun tangkai kayu itu malah terlepas dan jatuh ke dalam
onggokan kayu dan rumput kering itu.
Menyusul mana, mendadak onggokan kayu-rumput itu tersiak dan tahu2 menerobos
keluar seorang nenek beruban dengan muka penuh keriput dan pakaiannya
compang-camping.
Dengan bengis nenek itu memandangi Kwe Yang dan tangkai kayu yang dirampasnya
itu diangkat dengan lagak hendak memukul si nona.
Kwe Yang terkejut dan cepat melompat mundur ke samping Nyo Ko. pada saat itulah
rase yang menggeletak di tanah itu mendadak melompat ke atas dan masuk pelukan
si nenek, sepasang matanya yang bundar kecil ber-kilat2 memandangi Nyo Ko,
ternyata binatang kecil itu memang benar2 cuma pura2 mati saja.
Melihat itu Nyo Ko menjadi mendongkol dan geli pula, pikirnya: “Sekali ini aku
ternyata dikalahkan seekor hewan kecil ini, tampaknya rase kecil ini adalah
piaraan nenek ini, Entah siapakah gerangannya nenek ini, rasanya di dunia
Kangouw tak pernah terdengar ada seorang tokoh macam begini. Rasanya akan sulit
jika menghendaki rase kecil itu.”
Segera Nyo Ko memberi hormat dan menya-pa: “Maaf kelancangan Wanpwe masuk ke
sini tanpa permisi.”
Nenek itu memandangi tangkai kayu di telapak kaki Nyo Ko berdua, wajahnya
menampilkan rasa kejut dan heran, namun hanya sekilas saja perasaan itu lantas
menghilang, ia melambaikan tangannya dan berkata: “Orang tua mengasingkan diri
di tempat terpencil ini dan tidak suka menemui tamu, kalian boleh pergi saja!”
suaranya lembut, tapi menyeramkan kedengarannya, di antara mata-alisnya juga
menampilkan rasa yang benci kepada sesamanya.
Meski wajah nenek itu kelihatannya serarn, tapi raut mukanya bersih, waktu
mudanya jelas seorang wanita cantik, sungguh ia tidak ingat tokoh Kangouw
siapakah nenek ini. Segera ia memberi hormat pula dan berkata: “Cayhe mempunyai
seorang kawan terluka parah dan harus disembuhkan dengan darah Kiu-bwe-leng-hou,
maka- mohon locianpwe sudi memberi bantuan.”
“Hahahaha, haha, heheheeee!” mendadak nenek itu ter-bahak2 sambil menengadah,
sampai lama sekali ia terkakah dan terkekeh, tapi suara tawanya itu ternyata
penuh mengandung rasa pedih dan boleh Sesudah tertawa sekian latna barulah ia
berkata:
“Terluka parah dan harus menolongnya, hm? Bagus, tapi mengapa anakku terluka
parah dan orang lain sama sekali tidak sudi menolongnya?”
Nyo Ko terkejut, jawabnya: “Entah siapakah putera Locianpwe? Apakah sekarang
masih keburu ditolong?”
Kembali nenek itu ter-bahak2, katanya: “Apakah masih keburu ditolong? Dia sudah
mati berpuluh tahun, mungkin tulang belulangnya juga sudah menjadi abu, masakah
kau bertanya apakah masih keburu ditolong segala?”
Nyo Ko tahu si nenek jadi terkenang kepada kejadian masa lampau sehingga
merangsang emosinya, maka ia tidak berani bertanya pula, terpaksa berkata pula:
“Memang tidak pantas kami datang begini saja untuk memohon bantuan rase kecil
ini, sudah tentu kami tidak ingin menerimanya dengan cuma2, apabila Locianpwe
menghendaki sesuatu, asalkan tenagaku mampu mengerjakannya, pasti akan
kulaksanakannya dengan baik,”
Nenek itu mengerling sekejap ke arah Kwe Yang, lalu berkata: “Perempuan tua
berdiam terpencil di kolam lumpur ini tanpa sanak tanpa kadang, hanya sepasang
rase inilah teman hidupku Boleh juga jika kau ingin mengambilnya, tapi nona itu
harus ditinggalkan di sini untuk mengawani aku selama sepuluh tahun.”
Nyo Ko mengerut kening, belum lagi menja-wab, tiba2 Kwe Yang mendahului berkata
dengan tertawa: “Di sini hanya lumpur melulu, kurasa tidak enak hidup di sini,
Kalau engkau merasa kesepian, marilah tinggal saja di rumahku, apakah kau ingin
tinggal selama sepuluh tahun, ayah-ibuku pasti akan menghormati engkau sebagai
kaum locianpwe Lebih baik begitu bukan?”
Tiba2 nenek itu menarik muka dan mendamperat: “Ayah-ibumu itu orang apa?
Memangnya begitu saja aku dapat diundang ke sana?”
Watak Kwe Yang memang periang dan sabar, sekalipun orang lain bersikap kasar
juga dihadapinya dengan tertawa saja dan jarang marah. Kalau ucapan si nenek
yang menyinggung kehormatan Kwe Cing dan Ui Yong ini didengar Kwe Hu, pasti
seketika akan menjadi pertengkaran. Tapi Kwe Yang hanya tersenyum saja dan
meleletkan lidahnya pada Nyo Ko, lalu tidak bersuara pula.
Betapapun Nyo Ko memuji keramahan nona cilik ini, sedikitpun tidak menimbulkan
kesukaran baginya, maka ia balas mengangguk kepada Kwe Yang sebagai tanda
memuji, lalu berpaling dan berkata kepada si nenek: “Bahwasanya Locianpwe
menyukai adik cilik ini, sebenarnya ini adalah kesempatan bagus yang sukar
dicari, cuma sebelum mendapat idzin ayah-bundanya, betapapun Cayhe tak berani
mengambil keputusan sendiri.”
“Siapa ayah-ibunya? Kau sendiri siapa?” tanya si nenek dengan bengis.
Nyo Ko menjadi gelagapan dan takdapat menjawab tapi Kwe Yang lantas
menanggapinya: “Ayah ibuku adalah orang kampung, biar kukatakan juga Locianpwe
tidak kenal, sedangkan dia ini. dia, dia adalah Toakokoku!”
Sembari berkata nona itupun memandang kejaran Nyo Ko. Kebetulan saat itu Nyo Ko
juga memandang padanya, sorot mata kedua orang kebentrok. Tapi Nyo Ko memakai
kedok, air mukanya kaku tanpa emosi, hanya sorot matanya jelas menunjukkan rasa
akrab yang menghangatkan perasaan.
Tergerak hati Kwe Yang, terpikir olehnya: “Jika benar aku mempunyai seorang
toakoko(ka-kak tertua) seperti ini, tentu dia akan menjaga dan membantu diriku,
pasti tidak rewel dan selalu mengomeli aku seperti kakak Hu. gini salah, gitu
salah, ini dilarang, itu tidak boleh.” Berpikir sampai disini, air mukanya
lantas penuh rasa hormat dan kagum kepada Nyo Ko.
Didengarnya Nyo Ko lantas berkata: “Ya, adik ku yang kecil ini tidak tahu
urusan, maka kubawa dia keluar cari pengalaman Ketika dilihatnya
Kiu-bwe-leng-hou ini sangat aneh dan menarik, dia tahu pasti binatang piaraan
oaang kosen angkatan tua, sebab itulah dia minta Wanpwe membawanya berkunjung ke
sini dan sungguh beruntung sekali dapat bertemu dengan Locianpwe.”
“Hm kalian menguber dan memukuli rase piaraanku, apakah begini caranya kalian
menghormati kaum Cianpwe?” jengek nenek itu, “Hayo, lekas enyah dari sini dan
selamanya jangan menemui aku lagi!”
Habis itu kedua tangannya terus mengebas ke depan, tangan yang satu mendorong ke
arah Nyo Ko dan tangan lain mendorong Kwe Yang.
Jarak mereka ada dua-tiga meter jauhnya, sodokan tangan nenek itu jelas tak
dapat mencapai tubuh Nyo Ko berdua, tapi tenaga pukulannya ternyata keras dan
keji, serentak Kwe Yang merasakan angin dingin menyampuk tiba.
Tapi lengan baju Nyo Ko sempat bergerak sehingga angin pukulan si nenek dapat
dipatahkan, sebaliknya tenaga pukulan yang ditujukan kepadanya itu sama sekali
tidak dielakkannya.
Sebenarnya nenek itupun tidak bermaksud mencelakai Nyo Ko berdua, ia hanya ingin
mengusir mereka saja. sebab itulah hanya separoh tenaganya saja yang digunakan.
Tapi dilihatnya kedua orang itu ternyala tidak bergeming sama sekali, mau-tak
mau ia terkejut dan gusar pula.
Segera ia himpun tenaga, kembali kedua tangan menyodok ke depan dengan lebih
kuat, kini ia tidak pedulikan lagi mati- hidup pihak lawan.
Ketika merasakan angin pukulan nenek itu menyamber tiba, dada Kwe Yang terasa
sesak, namun lengan baju Nyo Ko mengebas lagi sehingga serangan si nenek di
patahkan pula, ia tahu Nyo Ko dan nenek itu sedang mengadu tenaga dalam,
tampaknya si nenek menjadi beringas dan menakutkan sebaliknya Nyo Ko berdiri
tenang2 saja, jelas berada di atas angin alias lebih unggul.
Se-konyong2 si nenek berkelebat maju, gerakannya sungguh cepat luar biasa,
“BIang” dengan tepat dan keras kedua tangannya menghantam dada Nyo Ko. Sekali
menyerang segera nenek itu melompat mundur pula tanpa memberi kesempatan Nyo Ko
untuk balas menyerang.
Keruan Kwe Yang terkejut, cepat ia menarik tangan Nyo Ko dan bertanya: “Ap….
apakah engkau terluka?”
Si nenek lantas berteriak bengis: “Dia sudah terkena pukulanku “Han-im-cian”
(tenaga panas dingin), ajalnya takkan lebih lama daripada satu hari saja, dia
menerima ganjarannya karena perbuatannya sendiri dan takdapat menyalahkan orang
lain.”
Dengan ilmu silat Nyo Ko 15 tahun yang lalu saja tak dapat ditandingi oleh si
nenek, apalagi sekarang luar-dalamnya sudah tergembleng sedemikian sempurna,
betapapun lihaynya tenaga pukulan si nenek juga takdapat melukainya.
Soalnya Nyo Ko tiada permusuhan apapun dengan si nenek kedatangannya ini juga
ingin memohon barang kesayangan orang tua itu, maka dia sengaja membiarkan si
nenek menyerang tiga kali tanpa balas menyerang.
Selama likuran tahun nenek itu giat berlatih ilmu pukulan “Han im cian” dan
sekaligus sudah dapat menghancurkan 17 potong bata dalam keadaan luar utuh dan
dalam remuk, tapi kini jelas Nyo Ko terkena pukulannya dengan telak, ia yakin
orang pasti akan remuk isi perutnya, tapi lawan justeru tetap berdiri tenang dan
tertawa seperti tidak terjadi sesuatu, ia pikir bocah ini benar2 kepala batu,
sudah dekat ajal masih berlagak gagah, segera ia berkata:
“Mumpung belum roboh binasa, lekas kau pergi membawa anak dara ini dan jangan
sampai mampus ditengah tambakku ini.”
Nyo Ko mendongak dan berseru lantang. “Hahaha, rupanya sudah lama Locianpwe
menyepi di tempat terpencil begini, tentunya Locianpwe tak dapat membayangkan
betapa kemajuan ilmu silat di dunia ini.” Habis berkata ia sengaja bergelak
tertawa, suara tertawanya nyaring keras menggelegar dengan tenaga dalam yang
kuat.
Mendengar suara Nyo Ko itu, si nenek tahu orang ternyata tidak mengalami luka
sedikitpun, seketika mukanya menjadi pucat, tubuhnya sempoyongan baru sekarang
ia menyadari bahwa Nyo Ko sengaja membiarkan diserang tiga kali, kalau bicara
kepandaian sejati, jelaslah dirinya bukan tandingannya.
Tiba2 si nenek angkat rase kecil dalam pelukannya itu, lalu ia bersuit, rase
yang lain juga lantas menerobos keluar dari onggokan rumput dan melompat ke
dalam pangkuan si nenek, Lalu ia ber-kata: “Kepandaianmu memang hebat, sungguh
aku sangat kagum. Tapi kalau engkau ingin merebut rase ini secara kekerasan, hm,
jangan kau harap. Asalkan kau melangkah maju setindak, seketika ku cekik mati
kedua ekor rase ini agar kau datang dan pergi dengan bertangan hampa.”
Melihat sikap dan ucapan si nenek yang tegas dan pasti itu, Nyo Ko tahu watak
orang tua itu sangat keras dan kaku, biarpun mati juga tidak mau menyerah.
Mau-tak-mau ia menjadi serba susah, kalau mendadak menubruk maju dan menutuk
Hiat-to si nenek, lalu merebut rase, rasanya si nenek bisa membunuh diri saking
gusarnya, jika demikian jadinya, maka biarpun Su Siok kang dapat diselamatkan
tapi harus korbankan jiwa orang lain.
Selagi Nyo Ko merasa ragu2, tiba2 dari jauh sana berkumandang suara orang
menyebut: “0mi tohud!” Menyusul orang itu berkata: “Loceng (paderi tua) It-teng
mohon berjumpa, sudilah kiranya Eng koh menemuinya!”
Kwe Yang memandang sekeliling tambak, tapi tidak tampak seorangpun padahal suara
orang itu tidak begitu keras, jelas datang dari tempat dekat saja, namun sekitar
situ jelas tiada tempat bersembunyi, lalu berada di manakah orang yang bersuara
itu?”
Dia pernah mendengar cerita dari ibunya bahwa Ii-teng Taysu adalah tokoh
angkatan tua, pernah menolong jiwa ibunya, juga terhitung kakek guru kedua
saudara Bu, hanya selama ini paderi sakti itu belum pernah dilihatnya. Kini
tiba2 didengarnya ada orang menyebut “lt-teng”, tentu saja ia terkejut dan
bergirang.
Nyo Ko juga sangat gembira mendengar suara It-teng, ia tahu yang digunakan
it-teng Taysu adalah Lwekang maha sakti, yaitu ilmu menyiarkan gelombang suara
dari tempat beberapa li jauhnya, semakin tinggi Lwekangnya, semakin halus pula
suaranya sehingga mirip orang bicara dari dekat saja.
Kagum sekali mendengar suara It-teng Taysu yang luar biasa itu, betapapun ia
merasa tenaga dalam sendiri tak dapat menandingi paderi sakti itu, pikirnya
pula: “Kiranya nenek ini bernama Engkoh. Entah ada urusan apa It teng Taysu
ingin menemui-nya? jika paderi itu suka tampil ke muka, mungkin sekali rase ini
akan bisa diperoleh.”
Kiranya nenek penghuni Hek-liong-tam ini memang betul bernama Eng-koh. Sewaktu
masih menjadi raja negeri Tayli, aslinya It-teng Taysu she Toan dan terkenal
sebagai tokoh Raja di Selatan di dunia Kangouw.
Sebagai raja, sudah tentu cukup banyak selir-nya, Eng-koh adalah salah satu
selir kesayangannya ketika itu, Tapi suatu waktu Toan-hongya (raja Toan)
kedatangan tamu yang terkenal, yaitu Ong Tiong-yang dari Coan-cin-kau beserta
Sutenya, yakni si Anak Tua Nakal Ciu Pek-thong.
Mungkin sudah suratan nasib, selama tinggal beberapa lama di negeri Tayli, dasar
watak Ciu Pek-thong memang suka keluyuran, maka secara kebetulan dia pergoki
Eng-koh sedang berlatih silat (ajaran Toan-hongya), karena sifatnya yang jahil
dan tidak sirik mengenai adat lelaki dan perempuan, Ciu Pek-thong telah
mendekati Eng-koh dan mengajaknya ngobrol tentang ilmu silat (Ciu Pek-thong itu
memang orang yang keranjingan ilmu silat).
Bicara punya bicara, akhirnya keduanya jatuh cinta dan “ada main” serta
membuahkan seorang anak laki2.
Ketika Toan-Hongya kedatangan musuh, yaitu Kiu Jian-yim yang kemudian terkenal
sebagai Cu-in Hwesio, secara licik Kiu Jian-yim telah melukai anak haram hasil
“semokel” antara Ciu Pek-thong dan Eng-koh itu, tujuannya untuk memaksa
Toan-hongya menyelamatkan orok itu dengao It-yang-ci, dengan demikian tenaga
dalamnya terpaksa harus dikorbankan dan sukar dipulihkan dalam waktu singkat,
pada saat demikian Kiu Jian-yim yakin pasti dapat mengalahkan Toan-hongya.
Tak terduga tipu muslihatnya ternyata diketahui Toan-hongya, pula dia cemburu
karena hubungan gelap Eng-koh dengan Ciu Pek-thong itu, maka dia bertekad tidak
mau menolongnya, akhirnya anak itupun mati.
Toan-hongya sangat menyesal, akibatnya ia cukur rambut dan menjadi Hwesio dengan
gelar It-teng. Kematian anaknya sudah tentu membuat Eng-koh juga sakit hati dan
merana, ia terus minggat dari negeri Tayli, suatu ketika di puncak Hoa-san
dipergokinya Kiu Jian-yim, tapi tidak berhasil membunuhnya, iapun bertemu dengan
Ciu Pek-thong dan ingin bicara dengan dia, tapi asal melihat bayangan Eng-koh
seketika si Anak Tua Nakal itu kabur lebih dulu, soalnya dia malu dan merasa
ber-dosa, maka tidak berani menemui bekas kekasih itu. Eng-koh lantas mengembara
tanpa tujuan dan akhirnya menetap di Hek-liong-tam ini.
Sebenarnya sudah belasan hari It-teng Taysu berada di tepi Hek- liong-tam dan
setiap hari selalu berseru untuk mohon bertemu, Namun Eng-koh masih sakit hati
karena dahulu bekas raja Tayli itu tega tidak mau menolong jiwa anaknya, maka
dia tetap tidak mau menemuinya.
Begitulah Eng-koh tampak lesu dan mundur berduduk di atas onggokan kayu, sorot
matanya kelihatan dendam dan benci.
Selang tak lama, terdengar It-teng berseru pula: “Dari jauh It-teng datang ke
sini, hanya untuk mohon bertemu sejenak dengan Eng-koh.”
Namun Eng-koh tetap tidak menggubrisnya.
Nyo Ko menjadi heran, ia pikir kepandaian It-teng jauh lebih tinggi daripada
Eng-koh, kalau dia mau menemuinya ke sini toh nenek ini tak dapat menolaknya,
mengapa dia mesti memohon dari kejauhan?
Dalam pada itu terdengar It-teng berseru memohon lagi, setelah Eng-koh tetap
tidak memberi jawaban, lalu tidak diulangi lagi, suasana kembali sunyi.
“Toakoko,” kata Kwe Yang, “It-teng Taysu itu adalah tokoh yang luar biasa,
maukah kita ke sana menemuinya?”
“Baik, memangnya aku ingin menemui beliau,”
“jawab Nyo Ko.
Terlihat Eng-koh berbangkit pelahan dengan sorot mata bengis, meski Nyo Ko
merasa tidak gentar padanya, tapi tidak enak juga perasaannya melihat sikap
orang ini, Segera ia pegang tangan Kwe Yang dan berkata: “Marilah pergi!” Sekali
melayang, segera kedua orang meluncur ke tengah tambak.
Setelah berpuluh meter di bawa meluncur Nyo Ko, Kwe Yang lalu bertanya:
“Toakoko, berada di manakah Taysu? suaranya seperti berada di sebelah sini
saja.”
Dua kali Nyo Ko dipanggil “Toakoko” dengan suara yang halus dan mesra, hatinya
terkesiap juga pikirnya “Cintaku kepada Liong-ji suci murni dan tak mungkin
bergoyah, betapapun aku tidak boleh terjerumus lagi kejaringan asmara.
Usia nona cilik ini masih muda dan ke-kanak2an, ada lebih baik selekasnya
berpisah dengan dia agar tidak menimbulkan hal2 yang tidak diharapkan” – Akan
tetapi berada di atas lumpur bcrselimutkan salju itu, sedetikpun tidak boleh
berhenti, lebih2 tidak mungkin mengendurkan pegangannya pada tangan si nona.
“Toakoko”, kembali Kwe Yang berkata, “ku-tanya kau, apakah engkau tidak
mendengar.”
“lt-teng Taysu berada di timur laut sana, kira2 dua-tiga li dari sini,” jawab
Nyo Ko. “Suaranya kedengarannya dekat, tapi sebenarnya berada cukup jauh. dia
menggunakan ilmu jian-li-toan- im” (me-ngirim gelombang suara dari jauh).”
“He, apakah engkau juga mahir ilmu itu?” tanya Kwe Yang. “Maukah engkau
mengajarkan padaku? Kelak kalau kita berpisah di tempat jauh agar akupun dapat
bicara denganmu dengan ilmu itu, kan menyenangkan bukan?”
“Namanya saja mengirim gelombang suara dari jauh, sebenarnya kalau dapat
mencapai dua-tiga li sudah luar biasa,” ujar Kwe Yang dengan tertawa, “Untuk
mencapai kepandaian setingkat lt-teng Taysu, biarpun secerdas kau juga harus
berlatih hingga rambut ubanan.”
Kwe Yang sangat senang karena orang memuji-nya cerdas, katanya pula: “Ah, aku
ini cerdas apa? Kalau aku mempunyai dua bagian kecerdasan ibuku saja aku sudah
merasa puas.”
Tergerak hati Nyo Ko, dari raut muka si nona ia melihat samar2 ada beberapa
bagian menyerupai Ui Yong, Pikirnya: “Tokoh2 yang kukenal selama hidup baik
lelaki maupun perempuan, kalau bicara tentang kepintaran dan kecerdasan rasanya
tiada orang lain yang mampu menandingi Kwe pekbo, apakah mungkin nona cilik ini
adalah puteri bibi Kwe?”
Tapi segera ia tertawa geli sendiri dan anggap jalan pikirannya itu terlalu
meng-ada2, masakah di dunia ini bisa terjadi sedemikian kebetulan? Kalau benar
nona ini puteri Kwe-pekbo, mana mungkin paman dan bibi Kwe membiarkannya
berkeliaran di Iuaran. Maka ia coba bertanya kepada Kwe Yang: “Siapakah ibumu?”
“lbu ya ibu, meski kukatakan juga kau tidak kenal,” jawab Kwe Yang dengan
tertawa “Eh, Toa-koko, kepandaianmu lebih tinggi atau kepandaian It-teng Taysu
lebih tinggi?”
Usia Nyo Ko sekarang sudah mendekati setengah baya, iapun kenyang mengalami
gemblengan kehidupan dan merasakan betapa pahit getirnya sejak berpisah dengan
Siao-liong-Ii, walaupun semangat ksatrianya tidak berkurang, tapi sifat
dugal-nya di masa mudanya sudah hampir lenyap seluruhnya, Maka ia menjawab:
“lt-teng Taysu sangat terhormat di dunia persilatan, berpuluh tahun yang lalu
namanya sudah sama tingginya dengan Tho-hoa tocu dan lain2, beliau adalah Lam-te
(raja di selatan), yaitu satu diantara lima tokoh terkemuka di jaman itu, mana
aku dapat dibandingkan beliau.”
“Wah, jika begitu, kalau engkau dilahirkan lebih dini beberapa puluh tahun yang
lalu, tentu tokoh tertinggi waktu itu bukan lagi lima orang, tapi enam jadinya.
Konon mereka disebut Tang-sia Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong, lalu
engkau berjuluk apa? Ah, pasti juga Sin-tiau-tayhiap. Oya, masih ada lagi
Kwe-tayhiap dan Kwe-hujin.”
Nyo Ko bertanya pula: “Apakah kau pernah melihat Kwe-tayhiap dan Kwe-hujin?”
“Sudah tentu aku pernah melihat mereka, malahan mereka sangat sayang padaku,”
sahut Kwe Yang, “Eh, Toakoko, apakah engkau juga kenal beliau2 itu? Nanti kalau
urusan di sini sudah beres2 maukah kita pergi menyambangi mereka?”
Nyo Ko benci pada Kwe Hu yang telah membuntungi lengannya, setelah lewat sekian
tahun, rasa benci itu semakin menipis. Tapi Siao-liong-li mengidap racun dan
terpaksa harus berpisah 16 tahun, persoalan ini takdapat tidak membuatnya sangat
dendam kepada Kwe Hu. Maka dengan hambar saja ia menjawab: “Tahun depan bisa
jadi aku akan berkunjung kepada Kwe-tayhiap dan isterinya, tapi harus tunggu
dulu setelah kuberjumpa dengan isteriku dan kami berdua akan pergi ke sana
bersama.”
Begitu menyebut Siao-Iiong-li, tanpa terasa timbul hasratnya yang menyala, Kwe
Yang dapat merasakan telapak tangan Nyo Ko yang mendadak menjadi panas. Segera
ia bertanya pula. “lsterimu tentu sangat cantik dan ilmu silatnya pasti pula
sangat tinggi.”
“Kukira di dunia ini tiada orang lain yang lebih cantik daripada dia,” kata Nyo
Ko. “Bicara tentang ilmu silat, saat ini dia tentu juga melebihi diriku.”
Kwe Yang menjadi sangat hormat dan kagum, katanya: “Toakoko, engkau harus
membawa diriku menemui isterimu, maukah kau berjanji?”
“Mengapa tidak?” ujar Nyo Ko dengan tertawa, “Kuyakin nyonyaku juga pasti suka
padamu, Saat mana barulah kau benar2 memanggil aku Toakoko.”
“Apakah sekarang aku tidak boleh memanggil demikian padamu?” t mya Kwe Yang
dengan melenggak.
Karena sedikit merandek itulah, sebelah kakinya lantas kejeblos ke dalam lumpur,
Untung Nyo Ko lantas menariknya melompat jauh ke depan. Tertampaklah di kejauhan
sana berdiri seorang dengan jenggot panjang dengan memakai jubah paderi warna
kelabu, siapa lagi kalau bukan It- teng Taysu.
Segera Nyo Ko berseru: “Tecu Nyo Ko memberi hormat kepada Taysu!” Sambil menarik
Kwe Yang sekaligus ia meluncur ke depan paderi sakti itu.
Tempat berada It teng itu di tepi kolam lumpur Hek-liong-tam itu, ia menjadi
girang ketika mendengar nama Nyo Ko. maka ia lantas membangunkannya ketika Nyo
Ko datang menyembah padanya, katanya dengan tertawa”
“Baik2kah selama ini, saudara Nyo? Pesat amat kemajuan ilmu sakti-mu, sungguh
menggembirakan dan mengagumkan.”
Waktu Nyo Ko berbangkit dilihatnya di belakang It-teng sana menggeletak seorang
dengan muka pucat lesi seperti mayat, ia melengak. Ketika ia awasi, kiranya
Cuin Hwesio adanya.
“Kenapakah Cu-in Taysu?” tanya Nyo Ko terkejut.
“Dia dilukai orang, meski sudah kutolong sepenuh tenaga tetap sukar menyembuhkan
dia,” tutur It-teng menyesal.
Nyo Ko coba mendekati Cu-in dan memeriksa nadinya, terasa denyutnya amat Iemah,
lama sekali barulah berdenyut pelahan sekali, kalau saja Lwe kang Cu-in tidak
kuat, mungkin sudah lama menghembuskan napas penghabisan.
“Kepandaian Cu-in Taysu sedemikian tinggi, entah siapakah yang mampu
melukainya?” tanya Nyo Ko heran.
“Kami bermaksud pulang ke Tayli waktu itu karena ada kabar bahwa pasukan Mongol
ada maksud menyerbu ke daerah selatan,” tutur It-teng. “Sebelum berangkat, Cu-in
telah keluar untuk mencari keterangan keadaan, di tengah jalan kepergok seorang
dan mereka bertempur selama tiga-hari-tiga-malam, akhirnya Cu in terluka parah.”
“Ah, kiranya keparat Kim-lun Hoat-ong datang ke Tionggoan lagi,” ujar Nyo Ko
sambil membanting kaki ke tanah.
“He, Toakoko, darimana engkau mengetahui orang itu ialah Kim-lun Hoat-ong?”
tanya Kwe Yang heran, “padahal It-teng Taysu tidak menyebut dia.”
“lt-teng Taysu bilang mereka bertempur selama tiga-hari-tiga-malam, maka jelas
luka Cu-in bukan disergap musuh yang licik,” jawab Nyo Ko. “Di dunia ini, orang
yang mampu melukai Cu-in Taysu rasanya jumlahnya dapat dihitung dengan jari, dan
di antaranya beberapa orang ini hanya Kim-lun Hoat-ong saja tergolong orang
jahat.”
“Toakoko, lekas engkau mencari bangsat itu dan hantam dia untuk membalaskan
sakit hati Toahwesio ini,” ujar Kwe Yang.
Tiba2 Cu-in yang menggeletak dengan kempas-kempis di tanah itu membuka matanya
sedikit dan menggeleng pelahan kepada Kwe Yang.
“Kenapa? Memangnya kau tidak ingin membalas dendam?” tanya Kwe Yang heran, “Ah,
barangkali maksudmu Kim-lun Hoat-ong itu terlalu lihay dan kuatir Toakoko tak
dapat menandingi dia?”
“Kau salah sangka, nona cilik,” sela It-teng. “Soalnya muridku ini telah banyak
berbuat dosa, selama belasan tahun ini dia berusaha menebus dosanya itu dan
ternyata tak pernah tercapai, hal inilah selalu mengganjal hatinya dan
membuatnya matipun tidak tenteram. Jadi bukan maksudnya ingin orang membalaskan
sakit hatinya, tapi justeru mengharapkan pengampunan dari seseorang agar dia
dapat mangkat dengan hati tenteram.”
“Apakah nenek di kolam lumpur ini yang dia inginkan?” tanya Kwe Yang, “Hati
nenek ini sangat keras, jika bersalah padanya, tidak nanti dia mengampuni orang
begitu saja.”
“Justeru begitulah,” kata It-teng dengan menghela napas, “Kami sudah memohonnya
di sini selama tujuh-hari-tujuh-malam dan sama sekali dia tidak mau menemui
kami.”
Tiba2 hati Nyo Ko tergerak, teringat olehnya ucapan si nenek tentang anaknya
yang terluka dan orang yang dimintai pertolongan tidak mau menyembuhkannya itu.
Segera ia bertanya: “Apakah berhubungan dengan anaknya yang terluka dan tak
tertolong itu?”
Badan It-teng tampak bergetar, sahutnya sambil mengangguk: “Ya, kiranya kaupun
sudah tahu?”
“Tecu tidak tahu,” jawab Nyo Ko. “Cuma tadi Locianpwe di tengah kolam itu
menyinggungnya sedikit.” Lalu iapun mengisahkan pengalaman-nya bertemu dengan si
nenek tadi.
“Dia bernama Eng-koh,” tutur It-teng pula, “dahulu ialah isteriku. wataknya
memang keras. Ai, kalau tertunda lebih lama lagi mungkin Cu in tidak tahan.”
Seketika timbul macam2 tanda tanya dalam benak Kwe Yang, tapi ia tak berani
bertanya.
Dengan gegetun Nyo Ko lantas berkata: “Setiap orang tentu pernah berbuat salah,
kalau menyadari salahnya, maka apa yang sudah lampau bisalah dianggap selesai,
Rasanya jiwa Eng-koh ini juga teramat sempit.” – Dilihatnya ajal Cu-in sudah
dekat, seketika timbul jiwa ksatrianya yang ingin menolong, segera ia
menambahkan: “Taysu, maafkan jika Tecu memberanikan diri memaksa Engkoh keluar
ke sini.”
It-teng termenung sejenak, ia pikir kedatangannya dengan Cu-in ini adalah untuk
minta ampun kepada Eog-koh, rasanya tidak pantas memakai kekerasan. Tapi
permohonan dengan sopan sudah sekian lamanya dan Eng-koh tetap tidak mau
menemuinya, tampaknya kalau tetap memohon begitu saja juga percuma. jika Nyo Ko
mempunyai caranya sendiri, rasanya boleh juga dicoba, seumpama tidak berhasil,
paling2 juga cuma gagal bertemu saja, Maka ia lantas menjawab:
“Jika Nyo heng dapat membujuknya keluar, tentu segala persoalan menjadi beres,
cuma sebisanya jangan sampai menimbulkan sengketa baru sehingga malah menambah
dosa mereka.”
Nyo Ko mengiakan, Lalu ia merobek sapu-tangan menjadi empat potong, dua potong
digunakan, menyumbat telinga Cu in, dua potong lain di si nona menyumbat lubang
kupingnya, Habis itu ia lantas menghimpun tenaga dalam dan minta maaf dulu
kepada It-teng lalu ia menengadah dan mengeluarkan suara nyaring panjang.
Suara suitannya ini muIa2 nyaring bening dan berkumandang jauh, lama2 suaranya
berubah melengking tajam, lalu berubah keras gemuruh laksana bunyi guntur. Meski
kupingnya sudah disumbat kain, tidak urung muka Kwe Yang berubah pucat karena
getaran suara yang membuat jantungnya ber-debar2.
Suara gemuruh itu terus berlangsung secara bergelombang sehingga mirip deburan
ombak samudera, Kwe Yang merasa dirinya seperti berdiri di tanah lapang dan
guntur terus berbunyi mengelilinginya, ia menjadi takut dan gelisah. “Toakoko,
lekas berhenti, aku tidak tahan,” teriaknya.
Akan tetapi suaranya ternyata tenggelam di tengah suitan Nyo Ko yang hebat itu,
bahkan ia sendiri tidak mendengar apa2, terasa pikiran menjadi linglung dan
pandangan kabur, Untung pada saat itulah It-teng telah mengulurkan tangannya
untuk memegangi telapak tangan Kwe Yang. segera terasalah hawa hangat tersalur
dari tangan paderi sakti itu.
Tahulah dia paderi sakti itu sedang membantunya dengan tenaga dalamnya yang
kuat, Segera iapun memejamkan mata dan mengerahkan tenaga dalam sendiri. Sejenak
kemudian, meski suara gemuruh tadi masih tetap memekak telinga, namun pikirannya
sudah tidak bergolak lagi.
Setelah bersuit panjang sekian lamanya, ternyata Nyo Ko tetap bersemangat dan
kuat, sedikitpun tiada tanda2 lelah. Diam2 It-teng merasa kagum, ia merasa
semasa mudanya dahulu juga tidak sekuat Nyo Ko sekarang ini, apalagi kini
usianya sudah lanjut, jelas takdapat dibandingkan anak muda itu.
Selang tak lama, tertampaklah sesosok bayangan meluncur dari Hek liong tam sana.
Sekali Nyo Ko mengebaskan lengan bajunya, suara suitan lantas berhenti.
Baru saja Kwe Yang menghela napas lega dan belum lagi pulih air mukanya,
terdengar bayangan orang tadi berseru melengking dan jauh: “Toanhongya, caramu
malang melintang memaksa aku keluar, sebenarnya ada urusan apa?”
“Adik Nyo inilah yang mengundang kau,” jawab It-teng.
Tengah bicara, tahu2 bayangan orang tadi sudah mendekat. Siapa lagi kalau bukan
Eng koh. Dia menjadi ragu2 mendengar jawaban It-teng ttu, ia heran di dunia ini
kecuali Toan-hongya ternyata ada lagi yang memiliki kekuatan sehebat ini padahal
orang yang mukanya sukar diketahui dengan pasti ini berambut hitam, umurnya
paling banyak juga belum ada 40 tahun, tapi Lwekangnya ternyata selihay ini,
sungguh luar biasa dan mengagumkan.
Sebenarnya Eng-koh bertekad tidak mau menemui Toan-hongya alias It-teng Taysu,
tapi suara Nyo Ko tadi telah membuatnya gelisah, ia tahu jika dirinya tidak
keluar, sekali tenaga dalam orang dikerahkan, maka pikirannya pasti akan
terguncang dan mungkin sekali akan roboh dan terluka dalam. Karena itulah
terpaksa ia keluar walaupun dengan sikap ogah2an.
“lni, rase ini kuberikan padamu, anggaplah aku menyerah padamu dan lekas pergi
dari sini,” kata Eng-koh kepada Nyo Ko dengan rasa dongkol. Habis itu dia pegang
leher seekor rasenya terus hendak dilemparkan ke arah Nyo Ko.
“Nanti dulu,” seru Nyo Ko, “urusan rase adalah soal kecil, ada urusan penting
yang hendak dibicarakan It-teng Taysu, harap engkau suka mendengarkannya.”
Eng-koh memandang It-teng dengan sikap dingin, katanya: “Baiklah, silakan Hongya
memberitahu.”
“Kejadian di masa lampau laksana impian belaka, sebutan diwaktu dahulu buat apa
digunakan lagi?” ujar It-teng dengan gegetun. “Eng-koh, apakah kau masih kenal
dia?” – Berbareng iapun menuding Cu-in yang menggeletak di tanah itu.
Kini Cu-in memakai jubah Hwesio, bahkan mukanya sudah banyak berbeda daripada
pertemuan di Hoa-san lebih 30 tahun yang lalu, Maka hakikatnya Eng-koh sudah
pangling, katanya setelah memandang sekejap ke arah Cu-in: “Mana ku kenal Hwesio
ini?”
“Dahulu siapakah yang menyerang anakmu dengan cara keji?” tanya lt-teng.
Seketika tubuh Eng-koh gemetar, air mukanya berubah pucat, lalu berubah menjadi
merah, katanya dengan suara ter-putus2: “Jadi…… jadi dia ini bangsat Kiu
Jian-yim itu? Biarpun… biarpun tulang belulangnya menjadi abu juga tetap
kukenali.
“Kejadian itu sudah berpuluh tahun yang lalu dan kau masih tetap dendam dan
tidak melupakannya,” ujar It-teng dengan menghela napas. “Orang ini memang betul
Kiu Jian-yim. Sedangkan mukanya saja kau pangling, tapi dendam lama itu belum
pernah kau hipakan.”
Mendadak Eng-koh menubruk ke sana, kesepuluh jarinya laksana kaitan terus hendak
ditancapkan ke dada Cu-in, ia coba meng-amat2i wajahnya, samar2 ia merasa rada
mirip Kiu Jian-yim, tapi setelah diawasi lebin teliti, rasanya seperti bukan.
Kedua pipi paderi ini cekung dan menggeletak tak bergerak, tampaknya sudah tiga
perempat mati.
“Apakah orang ini benar2 Kiu Jian-yim,” teriak Eng-koh bengis, “Untuk apa dia
menemui aku?”
“Dia memang betul Kiu Jian yim,” kata It-teng”
“Dia merasa dosanya terlalu besar dan sudah memeluk agama Buddha serta menjadi
muridku, nama agamanya ialah Cu-in.”
“Hm, setelah berbuat dosa, dengan menjadi Hwesio lantas segala dosanya akan
punah, pantas di dunia ini tambah banyak orang menjadi Hwesio,” jengek Eng-koh.
“Dosa tetap dosa, mana mungkin ditebas dengan menjadi Hwesio?” ujar It-teng.
“Kini Cu-in terluka parah, ajalnya tinggal beberapa saat saja, teringat olehnya,
dosanya mencelakai anakmu, dia merasa tidak tenteram, maka sekuatnya ia bertahan
hembusan napas terakhir dan dari jauh datang kesini untuk memohon ampun padamu
atas dosanya.”
Dengan mata melotot Engkoh memandangi It-teng hingga lama sekali, wajahnya
mengunjuk penuh rasa dendam dan benci, se-akan2 seluruh duka derita selama
hidupnya ingin dilampiaskannya dalam sekejap ini.
Melihat air muka Eng-koh yang menyeramkan itu, Kwe Yang menjadi takut. Terlihat
kedua tangan Eng-koh telah diangkat dan segera akan dijatuhkan atas tubuh Cu-in.
walaupun merasa takut tapi dasar pembawaan Kwe Yang memang berbudi luhur, segera
ia membentak: “Nanti dulu! Dia sudah tak bisa berkutik, tapi kau hendak
menyerangnya pula. sebab apa kau tega berbuat demikian?”
“Hm, dia membunuh anakku, selama berpuluh tahun aku menanti dengan menderita dan
akhirnya aku dapat mencabut jiwanya dengan tanganku sendiri walaupun rasanya
sudah agak terlambat tapi kau masih bertanya sebab2nya?” jengek Eng-koh.
“Kalau dia sudah menyadari kesalahannya dan mengaku berdosa, kejadian yang sudah
lampau, buat apa di-ungkat2 lagi?” ujar Kwe Yang.
“Hehehehe!” Eng-koh terkekeh sambil menengadah. “Enak saja kau bicara, anak
dara, Coba jawab andaikan yang dibunuhnya adalah anakmu, lalu bagai mana?”
“Dari… darimana aku mempunyai anak?” jawab Kwe Yang gelagapan.
“Atau yang dibunuhnya adalah suamimu, ke-kasihmu, atau Toakokomu ini?” jengek
Eng-koh pula.
Muka Kwe Yang menjadi merah, katanya: “Ngaco-be!o! Dari… darimana datangnya
suami atau kekasihku?”
Makin bicara makin meluap rasa gusar Eng-koh, mana dia tak mau banyak omong
lagi, sambil menatap Cu-in segera tangannya hendak menghantam ke bawah. Tapi
mendadak terlihat Cu-in menghela napas dengan menyungging senyum dan berkata
dengan perlahan: “Terima kasih Eng-koh sudi menyempurnakan diriku.”
Eng-koh jadi melengak dan pukulannya tidak jadi diteruskan, bentaknya:
“Menyempurnakan apa katamu?”
Tapi segera ia paham maksud orang, rupanya Cu-in yakin pasti dirinya mati, maka
dia ingin diberi satu pukulan agar dapat mati di tangannya, jadi pukulan yang
dahulu pernah menewaskan anaknya telah dibalas dengan pukulan maut pula, dengan
begitu dosanya menjadi tertebus.
Dengan tertawa dingin Engkoh lantas berkata. “Masakah begini enak bagimu? Aku
takkan membunuh kau, tapi akupun tak pernah mengampuni kau!” Kalimat2 ini
diucapkan dengan tegas dan seram sehingga membuat orang mengkirik.
Nyo Ko tahu watak It-teng Taysu welas asih dan tidak mungkin bersitegang dengan
bekas selirnya itu, sedangkan Kwe Yang adalah anak kecil, apa yang dikatakan
tentu tidak mendapat perhatian Eng-koh, kalau dirinya tidak ikut campur tentu
urusan ini takkan beres.
Maka dengan ketus ia lantas berkata: “Eng-locianpwe, persoalan suka-duka di
antara kalian sebenarnya tidak jelas bagiku, hanya saja ucapan dan tindak-tanduk
cianpwe terasa agak keterlaluan bagiku, betapapun aku menjadi ingin ikut campur
tangan urusan ini.”
Eng-koh berpaling dengan terkesiap, dia sudah pernah bergebrak dengan Nyo Ko,
dari suara suitan-nya tadi iapun tahu kepandaian orang ini jauh di atasnya dan
tidak mungkin ditandingi. Sungguh tak terduga dalam keadaan demikian ada orang
tampil ke muka dan main kekerasan padanya setelah dipikir dan pikir lagi, tanpa
terasa ia menjadi sedih dan merasa nasibnya teramat tidak beruntung, terus saja
ia duduk mendeprok dan menangis ter-gerung2.
Tangisnya Eng-koh ini tidak saja membuat bingung Nyo Ko dan Kwe Yang, bahkan
juga di luar dugaan It-teng Taysu.
Terdengar Eng-koh menangis sambil mengomeli “Kalian ini bertemu dengan aku, cara
halus tidak dapat lantas memakai kekerasan, tapi orang itu tidak mau menemui
aku, kenapa kalian tidak ambil pusing?”
“He, Locianpwe, siapakah yang tidak mau bertemu dengan kau?” tanya Kwe Yang
cepat “Bagaimana jika kami membantu kau?”
Tanpa menjawab Eng-koh melanjutkan keluhannya: “Kalian hanya dapat menganiaya
kaum wanita macam diriku, kalau ketemu tokoh yang besar2 lihay masakah kalian
berani mengutiknya?”
Kwe Yang lantas menanggapi lagi: “Anak kecil seperti diriku sudah tentu tak
berguna, tapi di sini sekarang kan ada It-teng Taysu dan Toakoko-ku, memangnya
kita ikut kepada siapa?”
Eng-koh termenung sejenak, mendadak ia berbangkit dan berseru: “Baik, asalkan
kalian mencari dia dan membawanya ke sini untuk menemui aku dan biarkan dia
bicara sebentar dengan aku, maka apapun kehendak kalian, ingin rase atau minta
aku berdamai dengan Kiu Jian-yim, semuanya kuterima.”
“Eh, Teakoko, apakah transaksi ini dapat diterima?” tanya Kwe Yang kepada Nyo
Ko.
“Siapakah yang ingin cianpwe temui, masakah begitu sulit?” tanya Nyo Ko.
“Boleh kau tanya dia.” jawab Engkoh sambil menuding It-teng Taysu.
Sekilas melihat air muka bersemu merah, Kwe Yang menjadi heran, masakah sudah
tua begitu masih bisa malu2 seperti anak perawan.
Melihat Nyo Ko dan Kwe Yang sama menatap ke arahnya, dengan pelahan It-teng
lantas menutur: “Yang dia maksudkan adalah Ciu-suheng, Lo-wan-tong Ciu
Pek-tong.”
“Ah, kiranya Lowantong yang dimaksudkan,” seru Nyo Ko girang, “Dia sangat baik
padaku, biarlah kupergi mencari dan membawanya ke sini untuk menemuinya.”
“Namaku Eng-koh, kau harus katakan jelas2 kepadanya bahwa dia akan dibawa ke
sini menemui aku,” kata Eng-koh. “Kalau tidak, begitu melihat bayanganku segera
dia kabur dan sukar lagi mencarinya. Asakan dia mau datang ke sini maka setiap
permintaan kalian pasti akan kupenuhi.”
Nyo Ko coba melirik It-teng, terlihat paderi itu menggeleng pelahan, maka
diduganya di antara Ciu Pek-thong dan Eng-koh pasti ada persengketaan berat dan
keduanya tidak mungkin dipertemukan. Tapi lantas teringat olehnya bahwa Ciu
Pek-thong itu berpikiran seperti anak kecil, bukan mustahil akan dapat
memancingnya ke sini dengan sesuatu akal aneh, Maka ia lantas berkata:
“Lo wan-tong itu berada di mana sekarang? Pasti akan kudayakan untuk mengajaknya
ke sini.”
“Kira2 lebih 200 li dari sini ke utara ada sebuah lembah Pek-hoa-kok (lembah
seratus bunga), dia mengasingkan diri di sana dan mencari kesenangan dengan
beternak lebah,” tutur Eng koh.
Mendengar kata2 “beternak lebah”, seketika Nyo Ko terkenang kepada Siao
liong-li. Teringat olehnya dahulu Ciu Pek-thong diajari oleh Siao-liong-li cara
memiara tawon dan menguasainya, tanpa terasa hatinya menjadi sedih dan mata
merah katanya kemudian:
“Baiklah, sekarang juga Wanpwe akan mencari Lo-wan-tong, harap kalian tunggu
saja di sini.” Habis itu ia tanya letak Pek-hoa-kok lebih jelas, lalu melangkah
pergi.
Tanpa bicara Kwe Yang lantas ikut di belakangnya, Nyo Ko lantas mengisiki anak
dara itu: “ilmu silat It-teng Taysu maha tinggi, orangnya juga welas asih, kau
tinggal sementara di sini dan mohon belajar sedikit kepandaian padanya, asalkan
beliau mau memberi petunjuk, maka beruntungan bagimu.”
“Tidak, kuingin ikut kau pergi menemui Lo-wan-tong itu,” kata Kwe Yang.
Nyo Ko mengernyit kening, katanya: “Sebenarnya inilah kesempatan yang sukar
dicari, mengapa kau sia2kan?”
“Aku tidak ingin belajar ilmu apapun,” ujar Kwe Yang, “Setelah ketemu
Lo-wan-tong tentu kau akan pergi, akupun harus pulang, maka biarlah aku ikut
pergi saja dengan kau.” Arti ucapan ini adalah merasa waktu berkumpul tidak
banyak lagi, kalau dapat berdampingan dengan sang toa-koko lebih lama lagi
inilah yang diharapkan.
Melihat anak dara itu marasa berat untuk berpisah dengan dirinya, diam2 Nyo Ko
merasa ter-haru, dengan tersenyum ia lantas berkata: “Semalaman kau tidak tidur,
apakah kau tidak letih kantuk?”
“Kantuk sih memang kantuk, namun aku tetap ingin ikut kau,” kata Kwe Yang.
“Baiklah,” segera Nyo Ko gandeng tangan anak dara itu dan melayang ke depan
secepat terbang dengan Ginkang yang tinggi.
Karena tarikan Nyo Ko ini, seketika tubuh Kwe Yang terasa enteng, langkahnya
tanpa mengeluarkan tenaga sedikitpun, dengan tertawa ia ber-kata: “Apabila tanpa
digandeng olehmu dan aku sendiri sanggup berlari secepat ini, maka puaslah aku.”
“Ginkangmu sudah mempunyai dasar yang baik, kalau berlatih terus, akhirnya kau
pasti mencapai tingkatan seperti ini,” ujar Nyo Ko. Mendadak ia menengadah dan
bersuit.
Kwe Yang kaget dan cepat mendekap kuping-nya, tapi Nyo Ko tidak bersuit lagi,
maka tertampaklah si rajawali raksasa itu muncul dari balik semak2 pohon.
“Tiau-heng, ada sesuatu urusan kita harus ke utara, mariah engkaupun ikut,” kata
Nyo Ko.
Rajawali itu lantas tegak leher dan berkaok beberapa kali, entah paham entah
tidak, yang jelas dia lantas ikut berangkat bersama Nyo Ko.
Kira2 dua tiga li jauhnya, lari rajawali itu semakin cepat, meski Kwe Yang
mengganduI Nyo Ko masih juga tidak mampu menyusul burung itu. Rupa-nya rajawali
itu menjadi tidak sabar lagi, tiba2 ia berhenti dan mendakkan tubuh di depan Kwe
Yang. “Tiau-heng bersedia menggendong kau” kata Nyo Ko dengan tertawa, “Kau
harus berterima kasih padanya.”
Kwe Yang tidak berani kasar lagi kepada rajawali itu, lebih dulu ia memberi
hormat, lalu mencemplak ke atas punggungnya.
Segera rajawali itu mengayunkan langkahnya yang lebar, seketika Kwe Yang merasa
seperti di-bawa- terbang, pepohonan di kedua samping sama melayang ke belakang,
meski belum secepat terbang kedua ekor rajawali di rumahnya, namun sudah lebih
cepat daripada kuda lari.
“Nyo Ko kelihatan mengintil di sebelah burung itu tanpa ketinggalan sedikitpun,
terkadang ia malah mengajak bicara dan bergurau.
Senang sekali hati si nona, ia merasa pengalamannya sekali ini jauh lebih aneh
dan menggembirakan, daripada pengalaman sebelumnya.
Menjelang lohor, sudah lebih 200 li mereka lalui, Nyo Ko terus melintasi bukit
menurut petunjuk Eng-koh, akhirnya pandangannya terbeliak, di depan sana sebuah
lembah menghijau permai dengan aneka macam bunga mekar mewangi, sepanjang jalan
mereka menyelusuri tanah salju melalu, sampai di sini se-akan2 memasuki suatu
dunia lain, serentak Kwe Yang bersorak gembira dan melompat turun dan punggung
rajawali sambil ber-teriak:
“Wah, pintar sekali Lo wan-thong menikmati hidup, sungguh suatu tempat ajaib
yang sukar dicari. Eh, Toakoko, coba katakan, mengapa tempat ini sedemikian
indahnya?”
“Lembah ini menghadapi selatan, gunung di belakangnya mengalingi angin dari
utara, mungkin di bawah tanah banyak tambang batu bara dan belerang atau
sebangsanya, makanya suhu tanah di sini cukup hangat, sebab itu pula suasana
selalu semarak seperti di musim semi dan bunga mekar serentak.”
BegituIah sambil bicara mereka terus memasuki lembah gunung itu. Setelah
membelok lagi beberapa kali, terlihatlah di depan sana sebuah selat diapit
tebing gunung di kanan kiri, di tengahnya tumbuh tiga pohon Siong tua menjulang
tinggi laksana malaikat penjaga pintu selat. Menyusul lantas terdengar suara
mendengung riuh ramai, banyak sekali, tawon putih beterbangan di sekitar pohon.
Nyo Ko tahu Ciu Pek-thong pasti berada di situ, segera ia berseru lantang: “Hai,
Lo-wan-tong, adik Nyo Ko membawa kawan cilik ingin bermain dengan kau!”
Sebenarnya tingkatan Nyo Ko selisih jauh dengan Ciu Pek-thong, menyebutnya kakek
juga belum cukup, namun ia tahu Ciu Pek-thong itu tua2 nakal, kocak dan suka
bermain seperti anak kecil, semakin blak2an dengan dia tanpa membedakan tua dan
muda, semakin senang dia.
Benar saja, baru lenyap suaranya, segera dari balik pohon sana menongol satu
orang, Sekali pandang, Nyo Ko berjingkat kaget.
Belasan tahun yang lalu ketika Nyo Ko pertama kali kenal Ciu Pek-thong, rambut
alis Anak Tua Nakal itu sudah putih seperti perak, sekarang wajahnya memang
tidak berubah sedikitpun tapi rambut, jenggot dan alisnya malahan berubah
menjadi sebagian putih dan sebagian hitam sehingga tampaknya jauh lebih muda
daripada dulu.
“Hahaha… adik Nyo, mengapa baru sekarang kau datang mencari aku?” demikian Ciu
Pek-thong lantas menyambut dengan bergelak tertawa.
“Aha, kau memakai kedok segala untuk me-nakut2i siapa sih?” – Berbareng itu
sebelah tangannya terus terjulur hendak meraih kedok tipis yang dipakai.
Cengkeraman Ciu Pek-thong itu mengarah sebelah kiri, tapi sedikit menarik pundak
kanan, kepala Nyo Ko berbalik miring ke kiri malah dan anehnya cengkeraman Ciu
Pek-thong itupun mengenai tempat kosong.
Kelima jarinya yang terpentang itu berhenti di sisi leher Nyo Ko, Lo-wantong
tampak rada melengak, habis itu lantas terbahak2 dan memuji: “Adik Nyo, hebat
benar kepandaianmu Mungkin sudah jauh melebihi waktu muda Lo-wan-tong dahulu”
Rupanya dalam satu kali cengkeram dan satu kali mengegos itu, kedua orang telah
sama2 memperlihatkan ilmu silat mereka yang tinggi luar biasa.. sebenarnya
cengkeraman Ciu Pek-thong itu mencakup sasaran cukup luas, jangankan Nyo Ko
menghindar dengan miringkan kepala, sekalipun melompat juga sukar menghindari
cengkeramannya itu, dalam keadaan terpaksa bisa jadi Nyo Ko menangkis dengan
keras lawan keras barulah dapat mematahkannya.
Tapi sedikit angkat pundak kanan tadi Nyo Ko lantas siap dengan lengan bajunya,
rupanya Ciu Pek-thong juga tahu kemungkinan itu, terpaksa ia siap menangkis dan
karena itu raihan tangannya menjadi kendur sehingga Nyo Ko dapat memiringkan
kepalanya dan bebas dari cengkeraman itu.
Sudah tentu Kwe Yang tidak tahu seluk-beluk gebrakan itu, ia merasa senang
mendengar Ciu Pek-thong memuji Nyo Ko, segera ia berkata: “Eh, Ciu-loyacu,
kepandaianmu sekarang lebih tinggi atau lebih tinggi waktu masih muda?”
“Waktu muda rambutku putih, kini rambutku hitam, dengan sendirinya sekarang
lebih hebat daripada dulu,” jawab Ciu Pek-thong.
“Tapi sekarang engkau takdapat mengalahkan Toakokoku, dengan sendirinya dahulu
lebih2 bukan tandingannya,” ujar Kwe Yang.
Ciu Pek thong tidak marah, ia hanya tertawa dan bertanya: “Hahaha, nona cilik
sembarangan omong!” – Mendadak kedua tangannya bekerja sekaligus, satu pegang
bagian kuduk dan lainnya mencengkeram punggung, tubuh Kwe Yang terus diangkat
tinggi2 dan diputar tiga kali, dilemparkannya pelahan ke atas untuk kemudian
ditangkap kembali, lalu diturunkan pelahan ke tanah.
Kwe Yang datang bersama Nyo Ko, rajawali sakti itu tahu si nona adalah teman Nyo
Ko, ia menjadi marah melihat Lo-wah-tong mempermainkan-Kwe- Yang, “Bret”,
mendadak sebelah sayapnya menyabet ke arah Lo-wan-tong.
Seketika Ciu Pek-thong merasakan angin keras menyamber tiba, ia pikir akan
kucoba betapa hebat kekuatan binatang ini. Segera ia mengerahkan tenaga, kedua
tangannya terus menghantam ke depan.
Rajawali sakti itu memang makhluk luar biasa, sayapnya yang terpentang itu ada
dua-tiga meter lebarnya, maka terdengarlah suara “blang”, kedua, tenaga saling
bentur, Ciu Pek-thong tetap berdiri tak bergeming, tenaga sabetan sayap rajawali
yang dahsyat itupun menyamber lewat ke samping.
Segera rajawali itu hendak menyusuIkan serangan lain, tapi Nyo Ko cepat
membentaknya: “Jangan, Tiau-heng! Kawan kita ini adalah orang kosen angkatan
tua!”
Rajawali itu lantas mengurungkan serangannya, tapi tetap bersikap angkuh.
“Besar juga tenaga hewan ini, pantas berani berlagak,” ujar Ciu Pek-thong dengan
tertawa
“Usia Tiau-heng ini entah sudah berapa ratus tahun, jelas jauh lebih tua
daripadamu,” ujar Nyo Ko. “He, Lo-wan tong, mengapa dari tua kau kembali muda,
rambutmu yang sudah ubanan semuanya kini malah berubah hitam.”
“Habis apa mau dikata?” jawab Ciu Pek-thong dengan tertawa. “Rambut dan jenggot
ini tidak mau dipimpin, dahulu dia lebih suka dari hitam menjadi putih, terpaksa
kubiarkan, sekarang dia ingin dari putih menjadi hitam, ya, akupun tak berdaya
dan masa bodoh.”
“Tapi kelak kalau kau semakin lama makin kecil, setiap orang yang ketemu kau
suka raba2 kepalamu dan memanggil kau adik kecil, nah, jika begitu barulah
menarik,” ujar Kwe Yang.
Sekelika Ciu Pek-thong benar2 rada kuatir, ia berdiri menjublek tanpa bicara
lagi.
Padahal di dunia inii tidak mungkin terjadi orang tua kembali muda, soalnya
sifat Ciu Pek-thong itu lugu, polos, selama hidup tidak kenal kuatir sedih.
Lwekangnya juga sangat tinggi, ditambah lagi dia suka makan tumbuh2an pegunungan
sebangsa Ho siu-oh, Hok-leng (bahan obat, kuat) dan madu tawon, semua itu besar
manfaatnya bagi kesehatan, sebab itulah rambut-alisnya yang tadi nya putih malah
kembali menjadi hitam.
Malahan juga sering terjadi orang tua yang sudah ompong tumbuh gigi lagi, tulang
yang sudah lapuk berubah menjadi kuat, apalagi Ciu Pek thong memang paham cara
merawat diri sehingga umurnya sudah dekat seabad masih tetap segar dan
bersemangat
Mendengar ucapan Kwe Yang yang membuat kuatir tidak perlu bagi Ciu Pek-tbong
itu, diam2 Nyo Ko merasa geli, segera ia berkata: “Ciu-heng, asalkan kau mau
menemui satu orang, kujamin kau takkan berubah menjadi kecil.”
“Menemui siapa?” tanya Ciu Pek-thong “Jika kusebut nama orang ini, jangan kau
terus pergi begitu saja,” kata Nyo Ko.
Bahwa watak Ciu Pek-thong hanya lugu saja, tapi sekali2 bukan orang bodoh, Kalau
tidak masakah dia mampu meyakinkan ilmu silat setinggi ini. Maka diam2 telah
dapat menangkap maksud kedatangan Nyo Ko, segera ia menjawab:
“Di dunia ini ada dua orang-yang takdapat kutemui, seorang ialah Toan hongya dan
yang lain ialah bekas selirnya, Eng-koh. Kecuali mereka berdua, siapapun aku mau
menemuinya.”
Diam2 Nyo Ko pikir harus menggunakan akal pancingan, segera ia berkata pula:
“Ah, kutahu, tentu kau pernah dikalahkan mereka, ilmu silatmu lebih rendah
daripada mereka, makanya kau kapok dan takut bertemu dengan mereka.”
“Tidak, tidak,” sahut Lo-wan tong sambil meng-ge!eng2. “Soalnya perbuatanku
terlalu kotor dan rendah, aku merasa bersalah kepada mereka, maka malu untuk
bertemu dengan mereka,”
Nyo Ko melengak, sama sekali tak terduga olehnya bahwa begitulah sebabnya Cui
Pek-thong tak berani bertemu dengan Eng-koh. Tapi dia dapat berpikir cepat,
segera ia menambahkan “Kalau kedua orang itu terancam bahaya dan jiwa mereka
sudah dekat ajalnya, apakah kaupun tidak sudi memberi pertolongan?”
Melenggong juga Ciu Pek-thong, dalam hati ia sangat menyesal dan merasa berdosa
terhadap It-teng dan Eng-koh, kalau kedua orang itu ada kesukaran, biarpun
mengorbankan jiwa sendiri juga dia akan menolong mereka tanpa ragu sedikitpun.
Tapi sekilas ia melihat Kwe Yang tersenyum simpul, sama sekali tiada rasa cemas
dan kuatir, segera ia menjawab dengan tertawa: “Aha, kau ingin menipuka ya?
Kepandaian Toan-hongya maha sakti, mana mungkin dia terancam bahaya? Andaikan
benar dia menemukan lawan maha lihay, kalau dia tidak sanggup menandingi ya,
maka akupun tidak mampu.”
“Terus terang kukatakan, sesungguhnya Eng-koh sangat rindu padamu, betapapun kau
diminta ke sana menemuinya.”
Seketika air muka Ciu Pek-thong berubah sambil meng-goyang2 kedua tangannya,
katanya: “Adik Nyo, jika kau mengungkat urusan ini sepatah kata lagi, segera
kusilakan kau keluar dari Pek-hoa-kok ini dan jangan menyalahkan aku jika aku
tidak kenal sahabat lagi.”
Setelah mengalami gemblengan selama belasan tahun, sifat latah Nyo Ko sudah
lenyap, tapi semangat jantannya tidak menjadi berkurang, sekali bajunya
mengebas, segera ia menjawab: “Ciu-Ioheng seumpama kau ingin mengusirku pergi
dari sini, kukira juga tidak begitu mudah.”
“Hehe, memangnya kau ingin berkelahi dengan aku?” kata Lo-wan-tong dengan
tertawa.
“Boleh juga jika kau ingin berkelahi,” jawab Nyo Ko. “Kalau aku kalah, segera
kupergi dari sini dan takkan menginjak tempatmu lagi, tapi kalau kau kalah, kau
harus ikut aku pergi menemui Eng-koh.”
“Tidak, tidak, salah!” seru Ciu Pek-thong. “Pertama, mana bisa kukalah daripada
anak muda seperti kau ini. Kedua, seumpama aku kalah juga aku takkan menemui
Lau-kui-hui (Lau, she Eng-koh)”
Nyo Ko menjadi marah, katanya: “Jika kau menang adalah hakmu untuk tidak menemui
dia, tapi kalau kau kalah juga tetap tidak mau, lalu apa taruhan kita?”
“Sekali aku bilang tidak mau menemui dia-ya tetap tidak mau, tidak perlu banyak
omong lagi, hayolah mulai!” seru Ciu Pek-thong sambil menyingsing lengan baju
dan gosok2 kepalan
Nyo Ko pikir Lo-wan-tong ini sukar dipancing dan ditipu, terpaksa harus memakai
kekerasan. Kalau benar2 harus bergebrak rasanya juga tidak yakin pasti akan
menang, tiada jalan lain, terpaksa harus melihat gelagat saja nanti.
Watak Ciu Pek-thong memang keranjingan ilmu silat, meski tinggal terpencil di
Pek-hoa-kok masin tetap berlatih setiap hari, tapi kepandaiannya sudah maha
tinggi, dengan sendirinya sukar mencari pamer berlatih.
Kini melihat Nyo Ko mau bertanding dengan dirinya, tentu saja ia menjadi gatal
tangan dan ingin coba2 selekasnya, ia pikir kalau tertunda Iama2, jangan nanti
Nyo Ko mencari alasan dan membatalkan niatnya, kan hilanglah kesempatan baik
ini? Karena itu, segera ia mendahului membentak, menjotos ke depan, yang
dimainkan adalah 72 jurus “Khong-beng-kun-hoat”, ilmu pukulan sakti.
Cepat Nyo Ko angkat tangan kiri dan balas menghantam satu kali, mendadak ia
merasa tenaga pukulan orang seperti ada juga seperti tidak ada, kalau dirinya
menghantam benar2 terasa per cuma, sebaliknya kalau tidak jadi diterusnya,
rasanya juga berbahaya. Diam2 ia terkejut dan menyadari benar2 ketemu tandingan
berat yang belum pernah ditemukannya.
Segera ia memainkan ilmu pukulan yang dilatihnya secara giat selama belasan
tahun di bawah damparan ombak samudera itu, ia balas menyerang dengan dahsyat.
Terdengar suara gemuruh, tiga kali ia melancarkan pukulan keras hingga pepohonan
di sekitarnya sama tergetar, seketika terjadilah hujan kelopak bunga beraneka
warna, Semula Nyo Ko rada kuatir kalau usia Ciu Pek-thong sudah lanjut dan tidak
tahan tenaga pukulannya yang semakin dahsyat ini, maka setiap pukulannya selalu
ditahan sedikit, tapi setelah beberapa kali bergebrak dan melihat tenaga dan
ilmu pukulan lawan bahkan di atasnya, kalau dirinya meleng sedikit saja mungkin
malah bisa dirobohkan oleh si Anak Tua Nakal, maka iapun tidak sungkan2 lagi dan
melayaninya dengan sepenuh tenaga.
Ciu Pek-thong menjadi semakin bersemangat, teriaknya: “Kepandaian hebat, ilmu
pukulan lihay! Wah, perkelahian ini benar2 menarik dan memuaskan!”
Lingkaran yang dicapai tenaga pukulan mereka semakin meluas, selangkah demi
selangkah Kwe Yang terpaksa mundur terus, sedangkan si rajawali tetap berdiri di
tempatnya dengan sayap setengah terpentang dan siap membela Nyo Ko bila perlu,
rupanya burung itupun tahu lawan yang dihadapi Nyo Ko sekarang teramat lihay.
Melihat ilmu pukulan yang dilatihnya selama berpuluh tahun itu tidak dapat
mengalahkan Nyo Ko, diam2 Ciu Pek-thong memuji kehebatan Iawannya, Mendadak ia
ganti siasat, kini tangan kiri mengepal dan tangan kanan pakai telapak tangan,
kedua tangan menyerang dengan cara yang berbeda, inilah ilmu silat ciptaan Ciu
Pek-thong-sendiri yang pernah diajarkan kepada Kwe Cing dan Siao-liong-li itu,
yakni dua tangan menyerang dengan cara yang berbeda,
Dengan demikian-seorang Lo-wan-tong seperti berubah menjadi dua orang, ia
menggempur Nyo Ko dari kiri-kanan.
Dengan melulu sebelah tangannya melawan serangan Ciu Pek-tbong yang hebat tadi
memangnya Nyo Ko merasa tak dapat menang, apalagi sekarang satu harus lawan dua
serangan berlainan, tentu saja ia tambah kewalahan. Diam2 ia terkejut dan
terpaksa lengan baju yang kosong itupun digunakan menyambut sebagian serangan
orang tua itu.
Meski Kwe Yang tidak dapat memahami di mana letak kehebatan tipu serangan kedua
orang itu, tapi dari sama kuat berubah menjadi Nyo Ko yang terdesak, betapapun
ia dapat melihat keadilan itu, tentu saja ia terkejut dan heran pula, tiba2
teringat olehnya waktu ayahnya mengajarnya pernah menggunakan kedua tangan
melayani dirinya dan adik lelakinya sekaligus dengan gerakan yang berbeda,
tampaknya apa yang dimainkan Ciu Pek-thong sekarang adalah kepandaian yang sama
seperti ayahnya itu.
Sudah tentu Kwe Yang tidak tahu bahwa ilmu silat aneh ini justeru Ciu Pek-thong
yang mengajarkan kepada Kwe Cing, dia malah menyangka mungkin si anak Tua ini
telah mencuri belajar kepandaian khas sang ayah. Karena itulah ia lantas
berteriak2: “He, berhenti, berhenti! Tidak adil, tidak adil, Lo-wan tong!
Toakoko, jangan mau lagi bertanding dengan dia!”
Ciu Pek thong melengak sambil melompat mundur, bentaknya: “Tidak adil bagai
mana?”
“Seranganmu yang aneh ini tentu kau curi dari ayahku, sekarang kau gunakan
berkelahi dengan toakokoku, huh, apa kau tidak malu?” omel Kwe Yang.
Ber-ulang2 mendengar Kwe Yang menyebut Nyo Ko sebagai “toakoko”, Ciu Pek-thong
menyangka anak dara itu benar2 adik perempuan Nyo Ko, tapi seketika ia tidak
ingat siapakah ayah Nyo Ko.
“Ah, nona cilik sembarangan omong,” katanya kemudian dengan tertawa, “ilmu aneh
ini adalah hasil-renunganku di dalam gua dahulu, masakah kau tuduh kucari
belajar dari ayahmu?”
“Baiklah, seumpama kau tidak mencuri belajar, kau mempunyai dua tangan,
sedangkan Toakokoku lanya sebelah tangan, perkelahian sudah berlangsung sekian
lama, apalagi yang dipertandingkan? Coba kalau Toakoko juga punya dua tangan,
tentu sejak tadi sudah kalah.”
Ciu Pek-thong melengak, katanya kemudian: “Ya, beralasan juga ucapanmu, tapi
biarpun dia mempunyai dua tangan juga tak dapat sekaligus memainkan dua macam
ilmu silat.” Habis berkata ia lantas bergelak tertawa.
“Huh jelas kau tahu lengan Toakokoku takkan tumbuh lagi, makanya kau bicara
seenaknya, jika kau benar2 laki2 sejati dan pahlawan tulen, cara bertanding ini
harus dilakukan dengan adil. dengan demikian barulah dapat dibedakan benar2
siapa yang lebih unggul atau asor.”
“Baik jika begitu ke dua tanganku akan memainkan semacam ilmu pukulan saja,”
kata Ciu Pek-thong.
“Hehe, masakah ada cara begitu? Kau benar2 tidak tahu malu,” ejek Kwe Yang.
Ciu Pek-thong menjadi kurang senang, omeInya: “Habis apakah aku harus meniru dia
dan membiarkan sebelah lenganku dikutungi perempuan,”
Kwe Yang melengak dan memandang sekejap ke arah Nyo Ko, pikimya: “Kiranya
sungguh kejam dia!” Segera ia menjawab: “Tidak pertu lenganmu dibikin buntung,
cukup asalkan sebelah tanganmu diikat pada pinggangmu, kalian bertanding lagi
sama2 satu tangan, kan jadi adil bukan?”
Karena merasa cara bertanding yang diusulkan Kwe Yang ini, cukup menarik, pula
yakin kepandaian sendiri cukup dikuasai dengan satu tangan maka tanpa tawar
menawar lagi segera ia menyelipkan lengan kanan ke ikat pinggang, lalu berkata
pada Nyo Ko: “Baiklah, kita mulai lagi, supaya kau kalah tanpa menyesal.”
Nyo Ko diam2 saja selama Kwe Yang bicara dengan Ciu Pek-thong, dia tidak pantang
orang menyebut lengannya buntung, tapi ia percaya pada dirinya sendiri dan
merasa tidak lebih lemah daripada orang yang bertangan lengkap, maka demi nampak
Ciu Pek-thong mengikat tangan sendiri untuk menghadapinya, jelas ini sikap
meremehkan dirinya, segera ia berkata dengan tegas!
“Lo-wan-tong, caramu ini bukankah memandang rendah pada diriku? Kalau dengan
lengan tunggal aku tidak mampu menandingi kau, biarlah nanti aku… aku…”
menuruti wataknya ia hendak mengatakan “aku membunuh diri di Pek-hoa-kok ini”,
tapi mendadak ia ingat janjinya bertemu dengan Siao–liong-li sudah dekat
waktunya, mana boleh diri-nya berpikiran pendek begini, maka ia tidak meneruskan
ucapannya itu.
Kwe Yang sangat menyesal, maksudnya ingin membela Nyo Ko, tak tahunya malah
menimbulkan suasana yang tidak mengenakkan ini, Cepat ia mendekati Nyo Ko dan
berkata: “Toakoko, akulah yang salah…” lalu ia mendekati Ciu Pek-thong dan
menarik tangannya yang terselip di ikat pinggang itu bahkan tali pinggangnya di
betotnya hingga putus, lalu katanya: “Meski dengan satu tangan saja pasti
toakokoku dapat menandingi kedua tanganmu, kalau tidak percaya boleh kau
mencobanya.”
Tanpa menunggu Ciu Pek-thong bicara lagi, sedikit melangkah ke samping, segera
Nyo Ko mendahului menghantam.
Cepat Ciu Pek-tong membalas dengan tangan kiri, Meski tangan kanannya tak
terikat lagi, tapi ia pikir takkan melayani Nyo Ko dengan dua tangan, maka
tangan kanan tetap dijulurkan ke bawah tanpa digunakan. Walaupun begitu, karena
tipu serangannya tetap lihay, maka Nyo Ko masih juga kewalahan.
Diam2 Nyo Ko penasaran, masakah dirinya yang lebih muda tak dapat mengalahkan
seorang kakek yang usianya sudah dekat seabad, lalu kepandaian yang terlatih
selama belasan tahun ini dikemanakan perginya?
Ia merasakan daya pukulan Ciu Pek-thong ini semakin keras dan kuat, sama sekali
berbeda dengan “Khong-beng kun-hoat” yang mengutamakan lunak tadi. Tiba2
pikirannya tergerak, teringat olehnya “Kiu im cin-keng yang pernah dibacanya di
dinding kuburan kuno di Cong-Iam-san dahulu itu, rasanya gerak serangan Cui
Pek-thong sekarang ini adalah sebagian daripada ilmu silat yang tercantum dalam
kitab pusaka yang terukir itu, kalau tidak salah ia ingat namanya
Hok-mo-kun-hoat (ilmu pukulan penakluk iblis).
Mendadak Nyo Ko membentak: “Apa artinya Hok mo kun hoatmu ini? Silakan kau
menggunakan kedua tanganmu dan sambut aku punya Im -jian-soh-hun-kun” ini!”
Ciu Pek-thong melengak karena nama ilmu pukulannya sendiri dengan tepat dapat
disebut oleh Nyo Ko, ia tambah melongo demi mendengar lawan hendak memainkan
“lm-jian-soh-hun-kun” (ilmu pukulan pengikat sukma) segala.
Sejak kecil Ciu Pek-thong sudah “gila silat” ilmu silat dari golongan dan aliran
manapun sudah hampir seluruhnya diketahuinya, tapi nama “lm jan-soh-hun-kun”"
baru pertama kali ini didengarnya, Dilihatnya lengan tunggal Nyo Ke terpanggul
di punggung, matanya memandang jauh, langkahnya mengambang dan bagian dada tidak
terjaga, gayanya itu sangat berlawanan dengan teori ilmu silat manapun juga.
Segera Ciu Pek-thong melangkah maju satu tindak, tangan kiri berlagak siap
menyergap, maksudnya ingin memancing reaksi lawan. Tapi Nyo Ko seperti tidak
tabu saja dan tidak menggubrisnya.
“Awas!” seru Ciu Pek-thong terus menghantam ke perut Nyo Ko, ia kuatir melukai
lawan, maka pukulan ini hanya memakai tiga bagian tenaga saja.
Tak terduga baru saja kepalan hampir mengenai tubuh Nyo Ko, mendadak terasa
perutnya seperti bergetar, dada mendekuk terus mental keluar lagi. Karuan Ciu
Pek-thong terkejut dan cepat melompat mundur, kalau orang mendekukkan perut
untuk menghindari serangan adalah kejadian biasa, tapi menggunakan kulit daging
dada untuk menyerang musuh, sungguh belum pernah terlihat dan terdengar.
Tentu saja Ciu Pek-thong ingin tahu, segera ia membentak: “Ilmu silat apa ini
namanya?”
“lnilah jurus ke-13 dari Im-jian-soh-hun-ciang, namanya “Sim-keng-bak-tiau”
(hati kaget daging kedutan)!”
Ciu Pek-thong menggumam mengulangi nama jurus itu: “Sim-keng bak-tiau? Tak
pernah dengar? tak pernah dengar!”
“Sudah tentu kau tidak pernah dengar,” ujar Nyo Ko, “soalnya
Im-jian-soh-hun-ciang adalah 17 jurus ilmu pukulan ciptaanku sendiri.”
Kiranya sejak di tinggal menghilang oleh Siao-liong-li, kemudian Nyo Ko bersama
si rajawali sakti menggembleng diri di bawah darnparan ombak samudera yang
dahsyat, beberapa tahun kemudian, kecuali Lwekangnya bertambah kuat rasanya
tiada apa-2 lagi yang dapat dilatihnya, tapi rindunya kepada SiaoliongIi tak
pernah pudar, bahkan semakin hari semakin menjadi sehingga tambah kurus dan
kehilangan gairah hidup.
Suatu hari dia gerak badan bebas di tepi pantai, saking isengnya ia ayun tangan
dan gerakkan kaki untuk melemaskan otot, mungkin tenaga dalamnya sudah mencapai
tingkatan yang sempurna sehingga sekali hantam saja ia telah menghancurkan
tempurung punggung seekor penyu raksasa, Dari sinilah ia mulai merenung dan
akhirnya menciptakan Im-jian-soh-hun-ciang-hoat yang meliputi 17 jurus dan
mengutamakan tenaga dalam yang kuat.
Bahwa Nyo Ko dapat berdiri dan menciptakan ilmu silat baru tidaklah perlu
diherankan. SeIama hidupnya telah mendapat ajaran mahaguru ilmu silat berbagai
aliran, seperti ilmu silat Coan cinkau Giok-li-sim-keng dari Ko-bong-pay
sendiri serta Kiu-im-cin-keng yang sudah diapalkannya di luar kepala itu, dari
Auyang Hong diperoleh ajaran Ha-mo-kang, ilmu weduk katak, Ang Jit-kong juga
mengajarkan Pah-kau-pang hoat, Ui Yok-su menurunkan Giok-siau-kiam-boat dan
Sian-ci-sin thong, kecuali It-yang-ci dari It-teng Taysu, hampir seluruh ilmu
silat paling disegani di dunia ini telah dipelajari, maka tidaklah sulit baginya
untuk meleburnya lalu menciptakan yang baru.
Hanya saja lengannya buntung sebelah, sebab itulah dia tidak mengutamakan tipu
serangan melainkan terletak pada tenaganya, bahkan sengaja dimainkan secara
berlawan daripada teori ilmu silat umumnya.
Ilmu pukulannya itu diberi nama “Im-jiansoh-im-ciang” dan selama ini belum
pernah digunakan, baru sekarang dia keluarkan setelah bertemu dengan lawan maha
tangguh seperti Ciu Pek-thong yang keranjingan ilmu silat ini.
Karuan Anak Tua Nakal ini sangat senang demi mendengar si Nyo Ko berhasil
menciptakan ilmu pukulan sendiri, segera ia berseru gembira: “Aha, kebetulan,
aku ingin belajar kenal dengan ilmu ciptaanmu itu,” Habis berkata segera ia
melangkah maju dan menyerang pula, yang digunakan tetap tangan kiri saja.
Nyo Ko juga tetap anggap tidak tahu saja, “brek”, ia memukul ke atas, tapi
tenaga pukulannya itu dapat menyebar ke bawah dalam lingkup yang cukup luas. Ciu
Pek-thong merasa sukar untuk menghindar segera ia angkat tangan menangkis,
“Plak”, kedua tangan saling bentur, tanpa terasa Ciu Pek-thong tergeliat oleh
getaran itu.
Kalau orang lain pasti sudah sesak napas dan roboh binasa oleh tenaga pukulan
Nyo Ko yang dahsyat itu, tapi cepat Lo-wan-tong dapat mengatur pernapasannya,
lalu bersorak memuji. “Bagus ! Apakah namanya jurus ini?”
“Namanya “Ki-jin-yu-thian” (si tolol menguatirkan runtuhnya langit )! ” jawab
Nyo Ko. “Dan awas, jurus berikutnya adalah ” Bu-tiong-seng-yu” i tidak ada tapi
meng-ada2 )!”
Ciu Pek-thong melengak sambil mengulang nama jurus itu, segera ia mengikik geii,
“Butiong-seng-yu”, nama ini sungguh aneh dan jenaka, bisa saja bocah ini
memberi nama jurus serangan ini,demikian pikirnya.
Segera ia meng-gosok2 kepalan dan menubruk maju lagi, Dilihatnya tangan Nyo Ko
melambai ke bawah, sedikitpun tidak pasang kuda2 dan siap ber-tempur, tapi
begitu serangan Ciu Pek-thong dilontarkan mendadak kaki dan tangan Nyo Ko
bergerak serentak, telapak tangan kiri, lengan baju kanan, kedua kakinya dan
juga gerak kepalanya, bahkan punggung dan perut, hampir semua tempat di sekujur
badannya dapat digunakan untuk melukai musuh.
Meski sebelumnya Ciu Pek-thong sudah menduga lawannya pasti mempunyai jurus
simpanan yang hebat, tapi tidak menduga bahwa sekujur badan lawan dapat
dikerahkan untuk menyerang hanya sekejap saja belasan macam gaya serangan
dilontarkan sekaligus.
Keruan Ciu Pek-thong kerepotan juga menghadapi serangan aneh itu, tangan kirinya
yang tidak digunakan mau-tak-mau terpaksa diangkat untuk menangkis dan dengan
sepenuh tenaga barulah serangan Nyo Ko dapat di patahkan.
“He, Ciu-loyacu, tampaknya dua tangan tidak cukup bagimu, paling baik kalau kau
mempunyai satu tangan lagi!” seru Kwe Yang.
Sama sekali Ciu Pek-thong tidak marah, ia hanya mengomel: “Brengsek! Memangnya
kau kira namaku si tangan tiga?”
Diam2 Nyo Ko juga kagum terhadap kelihayan Ciu Pek-thong yang dapat mematahkan
setiap serangannya dengan baik, segera ia berseru pula: “Awas, jurus selanjutnya
bernama “Do-ni-taysui (basah kuyup dan berlumpur)!”
Ciu Pek-thong dan Kwe Yang sama tertawa dan bersorak: “Haha, nama bagus!”
“Jangan memuji dulu, rasakan saja serangan ini!” seru Nyo Ko, lengan baju kanan
terus bergerak enteng, sedangkan telapak tangan kiri lantas menyodok ke depan
dengan kuat.
Tentu saja Ciu Pek-thong tidak berani ayal, segera iapun mengeluarkan
Hok-mo-kunhoat dengan tangan kanan dan tangan kiri menggunakan Khong-beng-kun
yang enteng, jadinya keras lawan keras dan enteng lawan enteng, kedua orang
sama2 membentak sekali, lalu sama2 mundur pula beberapa tindak.
Setelah mengadu pukulan lagi, kedua orang sama2 mengagumi pihak lawan, diam2 Nyo
Ko merasa tidak mudah untuk mengalahkan si Tua Nakal ini, kalau mesti mengadu
tenaga dalara, bukan mustahil akibatnya akan mati konyol bersama seperti halnya
Ang Jit-kong dan Auyang Hong dahulu, kiranya juga tidak perlu sampai berakhir
demikian.
Maka ia lantas menghentikan serangannya, dengan sikap rendah hati ia memberi
hormat dao berkata: “Ciu-locianpwe, sungguh aku sangat kagum padamu dan terima
mengaku kalah.” Lalu ia berpaling dan berkata kepada Kwe Yang: “Adik cilik,
Ciu-locianpwe jelas tidak terima undangan kita, marilah kita pergi saja.”
“Nanti dulu!”" tiba2 Ciu Pek-thong mencegah malah. “Kau bilang linu pukulanmu
ini meliputi 17 jurus, sedangkan kau baru mengeluarkan empat jurus, itu berarti
masih ada 13 jurus yang belum kau mainkan, Mengapa sekarang kau mau pergi begini
saja?”
“Selamanya kita tidak bermusuhan dan dendam apapun juga, buat apa kita mengadu
jiwa? Biarlah Wanpvve mengaku kalah saja,” kata Nyo Ko.
“Tidak, tidak bisa,” seru Ciu Pek thong sambil goyang2 kedua tangannya. “Kau
belum kalah, akupun tidak menang. Jika kau ingin keluar Pek-hoa-kok ini. kau
harus memainkan ke-17 jurus ilmu pukulanmu secara lengkap.”
Rupanya Ciu Pek-thong menjadi sangat terpikat oleh nama2 jurus serangan seperti
“Sim-keng-bak-tiau”, Ki jin-yu-thian”, “Bu-tiong seng yu” dan “Do-ni tay-sui”
segala, ia merasa namanya menarik dan permainannya juga aneh, biarpun orang
biasa juga ingin tahu permainan selengkapnya, apalagi dasar pembawaan si Tua
Nakal ini memang “gila silat”, tentu saja ia lebih2 ingin tahu ilmu pukulan
ciptaan Nyo Ko itu.
Tapi Nyo Ko sudah mempunyai perhitungan sendiri, ia sengaja jual mahal,
jawabnya: “Hah, sungguh aneh, Engkau menolak undanganku, terpaksa kupergi saja
dan habis perkara. Memangnya orang mengundang tamu malah hendak ditahan di
sini?”..
Dengan sikap memelas Ciu Pek-thong berbalik memohon: “O, adik yang baik,
betapapun sukar kubayangkan ke-13 jurus ilmu pukulanmu itu. Kumohon belas
kasihanmu, sudilah kau menguraikan namanya padaku, sebagai imbalannya,
kepandaian apa yang kau inginkan, tentu kuajarkan kepadamu”
Hati Nyo Ko tergerak, segera ia berkata: “Ku-kira tidak sulit jika kau ingin
tahu lengkap ilmu pukulanku ini, Akupun tidak ingin minta belajar kepandaianmu
sebagai imbalan cukup asalkan kau berjanji ikut pergi menemui Eng-koh.”
“Biarpun kau potong kepalaku juga aku tidak mau menemuinya,” jawab Ciu Pek-thong
dengan serba susah.
“Jika begitu, kumohon diri saja,” segera Nyi Ko hendak melangkah pergi pula.
Namun Ciu Pek-thong terus melompat maju mencegatnya, tangan bergerak, segera ia
menghantar sambil berkata: “Adik yang baik, coba mainkan lagi jurus seranganmu
selanjutnya!”
Nyo Ko menangkis serangan Lo-wan-tong itu, tapi yang digunakan adalah ilmu
pukulan Coan-cin-pay. Beberapa kali Ciu Pek-thong menyerang pula dengan pukulan
lain, namun Nyo Ko tetap dengan ilmu silat Coan-cin-pay dan apa yang per:nah
dipelajari dari Kiu-im-cin-keng, dengan demikian serangan Ciu Pek-thong selalu
gagal mencapai sasarannya.
Untuk mengalahkan Ciu Pek-thong memang juga tidak mudah bagi Nyo Ko, tapi kalau
cuma mempertahankan diri saja, betapa Anak Tua itupun takbisa berbuat apa?, Nyo
Ko tidak ambil pusing orang menyerangnya dengan cara2 memancing, ia justeru
tidak memperlihatkan lagi jurus serangan baru dari Im-jian-soh-hun-ciang, hanya
terkadang ia mengulangngi keempat jurus yang telah diperlihatkannya tadi dan hal
ini tentu saja semakin mengitik-ngitik rasa ingin tahu si Anak Tua Nakal.
Sampai lama sekali Ciu Pek thong tetap tak berdaya memaksa Nyo Ko memenuhi
harapannya betapapun usianya sudah lanjut, tenaga terbatas, lama2 iapun merasa
lelah, ia tahu sukar lagi memancing dan memaksanya, mendadak ia melompat mundur
dan berseru: “Sudahlah, sudahlah! Biarlah aku menyembah delapan kali padamu dan
memanggil guru padamu, dengan begitu sukalah kau mengajari aku?”
Diam2 Nyo Ko merasa geli bahwa di dunia ini ada orang yang “gila silat”
sedemikian rupa, cepat ia menjawab:”Ah, mana berani kuterima. Biar-lah
“kuberitahu saja nama ke-13 jurus sisanya dari Im jian-soh-hun ciang itu.”
Seketika Ciu Pek-thong berjingkrak kegirangan serunya; “Aha, sungguh adik yang
baik!”
Tapi Kwe Yang lantas menyela: “Nanti dulu dia kan tidak mau ikut kita ke sana,
maka jangan kau mengajarkan dia.”
Namun Nyo Ko justeru sengaja hendak membikin si Anak Tua itu kepingin tahu, jika
sudah tahu nama jurusnya, tentu akan semakin tertarik. Maka dengan tersenyum ia
menjawab: “Kukira cuma mengetahui namanya saja tidaklah menjadi soal.”
“Ya, hanya nama jurusnya saja, kan tidak soal?” cepat Ciu Pek-thong menukas.
Nyo Ko lantas duduk di bawah pohon, lalu berkata: “Dengarkan yang betul,
,Ciu-heng, sisa ke 13 jurus itu disebut: Bok-beng-ki-miau (bingung tidak paham),
Yak-yu-soh-sit (seperti kehilangan sesuatu), To-heng-gik-si (tindak terbalik dan
berbuat berlawanan), Keh-hoa-soh-yang (menggaruk gatal dari balik sepatu),
Lik-put-ciong-sim (keinginan besar tenaga kurang), Bin-bu-jin-sik (muka pucat
tanpa pcrasaan)”
Begitulah Kwe Yang sampai ter-pingkal2 geli mendengar nama2 yang aneh itu,
sebaliknya Ciu Pek-thong mengikuti dengan penuh perhatian sambil menggumam dan
mengulang nama2 jurus itu.
Ciu Pek-thong menjadi seperti orang linglung saking kesemsemnya pada nama ke-13
jurus itu, sampai lama sekali ia merenung, lalu berkata: “Coba, jurus
“Bin-bu-jin-sik” itu cara bagaimana menggunakannya menghadapi musuh?”
“Jurus ini memang banyak perubahannya,” tutur Nyo Ko. “Jurus ini intinya
terletak pada milik muka yang ber-ubah2, sebentar gembira, lain saat gusar,
mendadak sedih. tiba2 girang pula sehingga membuat perasaan musuh juga tidak
tenteram dan teratasi, akibatnya kalau kita gembira musuh ikut gembira, kita
sedih musuh juga sedih, dalam keadaan demikian musuhpun tunduk sama sekali di
bawah perintah kita, inilah caranya mengalahkan musuh tanpa tenaga dan tanpa
suara, lebih tinggi setingkat daripada cara mengatasi musuh dengan suara suitan
dan lain sebagainya.”
“Ah, agaknya jurus itu perubahan dari “Liap-sim-tay-hoat” ilmu pengaruhi
pikiran, sejenis ilmu hipnotis) yang terdapat dalam Kiu-im-cin-keng.”
“Benar,” jawab Nyo Ko.
“Lantas bagaimana dengan jurus “To-heng-gik-si”?”
Mendadak Nyo Ko menjungkir dengan kepala di bawah dan kaki di atas, lalu
tubuhnya berputaran tangan menghantam, katanya: “lnilah Co-heng giksi yang juga
banyak gerak perubahannya. ilmu ini bersumber dari ilmu silat Se- tok Auyang
Hong tentunya”
Ciu Pek-thong mengangguk, “Betul” kata Nyo Ko setelah berbangkit kembali, semua
ilmu pukulan ini masih banyak corak perobahannya, seringkali saling bertentangan
dan sukar dijelaskan.”
Ciu Pek-thong tetap tidak paham, tapi ia tidak berani tanya lagi, ia tahu biar
pun ditanyai juga Nyo Ko takkan menerangkan.
Melihat Anak Toa Nakal itu garuk2 kepala dan tampaknya kelabakan ingin tahu,
diam2 Kwe Yang merasa kasihan, ia mendekatinya dan berbisik padanya:
“Ciu-loyacu, sebenarnya apa sebabnya engkau tidak mau menemui Eng koh? Eh,
bagaimana kalau kita mencari suatu akal untuk memohon Toakoko mengajarkan
kepandaiannya ini padamu?”
Cin Pek-thong menghela napas, katanya “Tentang Eng koh, memang akulah yang
bersalah karena perbuatanku waktu masih muda, kalau kuceritakan rasanya tidak
enak.”
“Tidak apa2″ ujar Kwe Yang. “Kalau sudah kau ceritakan tentu terasa lebih enak
daripada selalu disimpan di dalam hati. Umpamanya aku juga pernah berbuat salah,
tapi kalau ditanya ayah dan ibu, tentu aku bicara terus terang dan selesailah
persoalannya kalau sudah diomeli ayah-ibu. Kalau tidak misalnya kita berdusta
atas perbuatan sendiri, tentu rasanya tidak tenteram.”
Melihat wajah si nona yang kekanak2an itu, Ciu Pek-thong memandang sekejap pula
pada Nyo Ko, lalu berkata: “Baiklah, akan kuceritakan perbuatanku yang tidak
senonoh di waktu muda itu, tapi jangan kau tertawakan diriku.”
“Tidak, tak ada yang akan menertawai kau, anggaplah kau sedang berkisah mengenai
diri orang lain, Nanti akupun akan bercerita kesalahan yang pernah kulakukan,”
habis berkata Kwe Yang lantas geser lebih mendekati si Tua Nakal dengan sikap
yang akrab sekali.
“Kau juga pernah berbuat salah?” Pek-thong memandangi wajah yang halus dan
cantik itu.
“Tentu saja, memangnya kau kira aku tak dapat berbuat salah?” ,
“Baiklah, coba kau ceritakan dulu sesuatu perbuatanmu itu.”
“Hah, tidak cuma sekali saja, bahkan beberapa kali pernah ku berbuat salah,”
tutur Kwe Yang. “Misalnya pernah satu kali seorang perajurit penjaga benteng
tertidur dalam tugasnya, ayah memerintahkan meringkus perajurit itu dan akan
kami penggal kepala, aku merasa kasihan padanya dan tengah malam kubebaskan
perajurit itu, Tentu saja ayah sangat marah, tapi aku mengaku terus terang dan
dipukul ayah, tapi lantas habis perkara, dan masih banyak lagi kejadian lainnya”
Ciu Pek-thong menghela napas, katanya. “Permasalahan itu belum apa2 kalau
dibandingkan perbuatanku ini-” – Lalu berceritalah dia hubungannya dengan
Lao-kuihui alias Eng-koh sehingga mengakibatkan kemarahan Toan-Ongya dan
meninggalkan tahtanya untuk menjadi Hwesio, sebab itulah ia merasa malu untuk
bertemu muka dengan kedua orang itu.
Kwe Yang mendengarkan cerita itu dengan asyiknya, sampai Ciu Pek-thong habis
berkisah dan wajahnya tampak merasa malu, lalu Kwe Yang bertanya. “Selain
Lau-kuihui itu, Toan-hongya masih mempunyai beberapa orang selir lagi?”
“Kerajaan Tayli tidak besar, dengan sendirinya tidak mempunyai ratusan atau
ribuan selir seperti raja Song kita, tapi puluhan selir kukira pasti ada,” jawab
Ciu Pek-thong.
“Nah, kalau dia mempunyai berpuluh orang selir, sedangkan kau seorang isteri
saja tidak punya, sebagai sahabat sepantasnya dia hadiahkan lau kuihui padamu
kan?” ujar Kwe Yang.
Nyo Ko mengangguk tanda setuju atas ucapan Kwe Yang itu, diam2 ia pikir jalan
pikiran si nona yang tidak suka terikat oleh adat kebiasaan umum itu sangat
cocok dengan seleranya.
Ciu Pek-thong lantas menjawab “Waktu itu Toan-hongya juga berucap begitu, tapi
Lau-kuihui adalah selir kesayangannya, untuk ini dia sampai meninggalkan tahta
dan rela menjadi Hwesio, suatu tanda perbuatanku itu sesungguhnya sangat berdosa
padanya.”
“Keliru kau” mendadak Nyo Ko menyela. “sebabnya Toan-Ongya menjadi Hwesio adalah
karena dia merasa bersalah padamu dan bukan kau yang bersalah padanya, masakah
kau belum tahu persoalan ini?”
“Aneh, dia berbuat salah apa padaku?” tanya Ciu Pek-thong ter-heran2.
“Soalnya ada orang mencelakai anakmu dan dia sengaja tidak mau menolongnya
sehingga bocah itu akhirnya meninggal” tutur Nyo Ko.
Selama berpuluh tahun ini Ciu Pek-thong tidak tahu bahwa hubungan gelapnya
dengan Eng koh telah menghasilkan seorang anak laki2, maka ia tambah heran
mendengar ucapan Nyo Ko, cepat ia menegas: “Anakku apa maksudmu”
“Akupun tidak tahu seluk-beluknya, hanya kudengar dari It-teng Taysu,” jawab Nyo
Ko. Lalu iapun menguraikan kembali apa yang didengarkan dari It-teng di tepi Hek
liong-tam itu.”
Mendadak mengetahui dirinya pernah mempunyai seorang anak laki2, seketika kepala
Ciu Pek-thong merasa seperti disamber geledek, ia melenggong kaget hingga lama
sekali, hatinya sebentar sedih sebentar girang, teringat kepala nasib Eng-koh
yang malang dan menderita selama puluhan tahun ini, ia menjadi tambah menyesal
dan merasa kasihan padanya.
Melihat keadaan Ciu Pek-thong itu, diam2 Nyo Ko merasa si Tua Nakal ini
sesungguhnya juga seorang yang berperasaan dan dirinya kenapa meski sayang
menjelaskan 17 jurus Imjiansoh-hun-ciang itu.
Segera ia berkata: “Ciu-locianpwe, baiklah ku perlihatkan secara lengkap ilmu
pukulan ini, kalau ada kekurangannya masih diharapkan petunjukmu.” Habis ini ia
memainkan ilmu pukulan ciptaannya sambil mulut mengucapkan nama2 jurus yang
bersangkutan.
Ciu Pek-thong paham isi Kiu-im-cin-keng, maka uraian Nyo Ko itu dengan mudah
saja dapat di terima dan dimengerti dengan baik, hanya dua-tiga jurus yang tetap
sukar dipahami letak intisarinya. meski sudah diulangi dan dijelaskan lagi oleh
Nyo Ko, namun Ciu Pek-thong tetap tidak paham.
Rupanya ilmu pukulan itu hasil ciptaan Nyo Ko setelah berpisah dengan
Siao-liong-li sehingga setiap jurus itu se-akan2 menggambarkan kisah cintanya.
Dengan menghela napas ia lantas berkata: “Ciulocianpwe. 15 tahun yang lalu
isteriku berpisah dengan aku, karena rindu timbul ilham dan terciptalah jurus
ilmu pukulan ini. Locianpwe sendiri tidak kenal apa artinya sedih dan duka,
engkau senantiasa riang gembira, dengan sendirinya engkau tidak dapat mengerti
apa rasanya orang yang sedih dan duka.”
“Ah, isterimu mengapa berpisah dengan kau??” tanya Ciu Pek-thong. “Dia sangat
cantik, hatinya juga baik, jika kau cinta dan merindukan dia adalah pantas.”
Nyo Ko tidak ingin mengungkat tentang kecerobohan Kwe Hu yang melukai
Siao-liong-li dengan jarum berbisa itu, maka ia cuma sekedarnya katakan
isterinya keracunan dan dibawa pergi Lam-hay-sin-ni dan baru dapat sehat lagi 16
tahun kemudian”
Habis itu ia lantas menceritakan rasa rindu sendiri dan berdoa siang dan malam
agar Siao-liong-Ii dapat pulang dengan selamat, Akhirnya ia menambahkan “Kuharap
dapat bertemu sekali lagi dengan dia, untuk itu biarpun tubuhku ini harus hancur
lebur juga aku rela.”
Sebegitu jauh Kwe Yang tidak tahu rasa rindu Nyo Ko kepada isterinya ternyata
begini mendalam, ia menjadi terharu dan mencucurkao air mata, ia pegang tangan
Nyo Ko dan berkata dengan suara lembut:
“Somoga Thian memberkahi dan akhirnya, kalian dapat berjumpa dan berkumpul
kembali.”
Sejak berpisah dengan Siao-liong-li, untuk pertama kalinya ini Nyo Ko mendengar
ucapan orang yang simpatik dan tulus, ia merasa sangat berterima kasih dan tak
pernah melupakan selama hidup ini, ia lantas berbangkit sambil menghela napas,
ia memberi hormat kepada Ciu Pek-thong dan berkata:
“Sekarang kumohon diri saja, Ciu-locianpwe!” Lalu ia ajak Kwe Yang dan melangkah
pergi.
Setelah belasan langkah, Kwe Yang menoleh dan berseru kepada si Tua Nakal:
“Ciu-locianpwe, Toakokoku sedemikian rindu kepada isterinya, Eng koh juga sangat
merindukan engkau, tapi engkau tetap tidak mau menemui Eng-koh tega benar kau
ini?”
Ciu Pek-thong terkesiap, air mukanya berubah hebat.
Nyo Ko lantas membisiki Kwe Yang: “Adik cilik, jangan menyinggung lagi, setiap
orang mempunyai cita2 masing2, tiada gunanya banyak bicara.”
Begitulah mereka lantas melangkah ke arah datangnya tadi,
“Toakoko,” tiba2 Kwe Yang berkata pula, “jika kutanya tentang isterimu, apakah
kau akan berduka lagi?”
“Tidak,” jawab Nyo Ko, “Toh beberapa bulan lagi dapatlah kuberjumpa dengan dia.”
“Cara bagaimana engkau berkenalan dengan beliau?” tanya Kwe Yang.
Nyo Ko lantas bercerita kisah hidupnya sejak kecil sebatangkara, lalu diantar
Kwe Cing ke Coan-cinpay untuk belajar sjlat, di sana dianiaya sesama saudara
seperguruan sehingga minggat dan masuk ke kuburan kuno, di sanalah dia berkumpul
dengan Siao liong-li, lama2 timbul rasa cinta antara mereka dan setelah
mengalami macam2 suka-duka akhirnya terikat menjadi suami isteri.
Kwe Yang mendengarkan cerita itu dengan penuh perhatian, diam2 ia terharu
terhadap cinta murni Nyo Ko yang suci dan mendalami itu, akhirnya ia berkata
pula. “Semoga Thian memberkahi pertemuan kembali kalian berdua dengan selamat!”
“Terima kasih, adik cilik, akan kuingat selalu kebaikan hatimu ini, kalau sudah
bertemu dengan isteriku kelak tentu juga akan kuberitahukan tentang dirimu,”
ujar Nyo Ko.
“Setiap hari ulang tahunku, ibu dan aku suka bersembahyang dan berdoa, ibu
menyuruhku menyebut tiga buah nazar, tapi setelah kupikirkan hingga lama, tak
pernah kutahu nazar apa yang harus kusebutkan. Tapi pada hari ulang tahun yang
akan datang sudah kusiapkan nazarku, akan ku katakan harapanku semoga Toakoko
berjumpa dan hidup bahagia dengan isterinya yang cantik.”
“Lalu apa kedua nazarmu yang lain?” tanya Nyo Ko,
Kwe Yang tersenyum, katanya: “Takkan ku katakan padamu.”
Pada saat itulah, tiba2 dibelakang sana ada orang ber-teriak2-, “Hai, adik Nyo,
tunggu! Nyo Ko, tunggu!” Dari suaranya dapat dikenali adalah suara Ciu
Pek-thong.
Nyo Ko sangat girang, cepat ia berpaling, benar saja dilihatnya Ciu Pek-thong
sedang berlari datang secepat terbang sambil berseru: “Adik Nyo, sudah
kupikirkan dengan baik, kuharap engkau lekas mambawaku menemui Eng-koh!”
“Nah, memang seharusnya begitu,” ujar Kwe Yang, “Kau tahu betapa orang
merindukan dirimu.”
“Ya, setelah kalian berangkat, kupikirkan ucapan adik Nyo tadi dan semakin
kupikir semakin tidak enak rasa hatiku,” tutur Pek-thong. “Kurasa kalau aku
tidak menemuinya, maka selama hidupku ini pasti tak dapat tidur nyenyak, soalnya
aku ingin tanya sesuatu padanya.”
Nyo Ko dan Kwe Yang tidak tanya soal apa yang hendak ditanyakan si Tua Nakal itu
kepada Eng-koh, yang jelas perjalanan mereka ini ternyata tidak sia2, maka
mereka sangat gembira.
Kalau menuruti watak Ciu Pek-thong yang tidak sabar, seketika juga ingin bertemu
dengan Eng-koh, namun malam sudah tiba, Kwe Yang merasa lelah dan lapar serta
kantuk pula, Maka tiga orang dan satu rajawali lantas bermalam dibawah pohon.
Esoknya pagi2 mereka sudah melanjutkan perjalanan, sebelum lohor mereka sudah
sampai di tepi Hek-liong-tam.
Melihat Nyo Ko benar2 dapat mengundang datang Ciu Pek-thong, sungguh girang
Eng-koh tak terlukiskan, hatinya ber-debar2 dan mulut melongo, seketika tak
dapat mengucapkan sekatapun.
Ciu Pek-thong mendekati Eng-koh, dengan suara keras ia bertanya: “Eng-koh, anak
kita itu punya satu atau dua pusar kepala?”
Eng-koh melengak, sama sekali tak terduga olehnya bahwa kekasihnya yang terpisah
sejak muda dan kini dapat berjumpa kembali setelah sama2 tua, tapi pertanyaan
yang diucapkan per-tama2 justeru adalah urusan yang tidak penting, yakni tentang
pusar kepala segala, Tapi ia lantas menjawab: “Dua pusar kepalanya.”
“Hahaha, jadi sama seperti aku, sungguh anak yang pintar,” seru Ciu Pek-thong
kegirangan. Tapi ia lantas menghela napas dan menambahkan: “Tapi, tapi sayang
sudah mati, sayang sudah mati!”
Rasa suka-duka Eng-koh tak tertahan Iagi, segera ia menangis keras2.
“Jangan menangis, jangan menangis!” demikian Pek-thong menghiburnya sambil
menggabloki punggungnya dengan keras. Lalu katanya kepada It-teng: “Toan-hongya,
kupikat isterimu, tapi kaupun tak mau menolong jiwa anakku, jadi kita anggap
saja seri, urusan dimasa lampau tidak perlu di-ungkap lagi.”
It-teng menuding Cu-in yang menggeletak di tanah itu dan berkata: “lnilah
pembunuh anakmu itu, sekali hantam boleh kau binasakan dia!”
Pek-thong memandang sekejap ke arah Cu-in, lalu berkata: “Kau saja yang turun
tangan, Eng-koh!”

kembalinya rajawali 21

Juni 24, 2010

“Apakah nona yang berperawakan langsing, bermuka putih dan pada ujung mulut ada
sebuak andeng2 kecil?” Siao-liong li menegas.
“Betul,” jawab Cu Cu-liu.
Siao-liongli tersenyum kepada Nyo Ko, lalu berkata pula kepada Cu Cu-liu: “Nona
itu adalah puteri Kokcu sini, nona Kongsun Lik-oh, ketika mendengar kalian
berdua datang mencari obat demi Nyo Ko, tentu saja dia melayani kalian dengan
istimewa, kecuali tidak berani membebaskan kalian, apapun yang kalian minta
tentu akan diturutinya.”
“Memang benar,” ujar Cu Cu-liu, “kettka susiok minta dia membawakan tangkai
bunga cinta dan kumohon dia bantu menyiarkan berita minta bantuan kepada Suhu,
semuanya telah dia laksanakan dengan baik, Caranya dia memanggang kami di tempat
ini juga dikurangi apinya sehingga kami dapat bertahan sampai sekarang, Sering
kutanya siapa dia, tapi dia tak mau menjelaskan, tak tersangka dia adalah puteri
sang Kokcu.”
“Malahan bisanya kami menemukan kalian di sini juga atas petunjuk nona itu,”
tutur Siao-Iiong-li.
“Gurumu It-teng Taysu juga sudah datang,” demikian Nyo Ko menambahkan.
“Aha, lekas kita keluar,” seru Cu Cu-liu kegirangan.
“Tiba2 Nyo Ko mengerut kening dan berkata pula: “pula Cu-in Hwesio juga ikut
datang, dalang urusan ini mungkin ada kesulitan.”
“Kalau Cu-in Suheng juga datang kan lebih baik?” ujar Cu-liu heran. “Pertemuan
kembali mereka kakak beradik, sedikitnya Kiu-kokcu akan memikirkan hubungan baik
persaudaraan mereka.”
Nyo Ko lantas menceritakan keadaan Cu-in yang kurang waras itu serta cara
bagaimana Kiu Jian-jio telah menghasut sang kakak.
“Jika Kwe hujin juga sudah berada di sini, maka segala urusan tentu akan beres,”
ujar Cu Cu-liu, “Kwe-hujin pintar dan cerdik, ditambah lagi Suhuku serta
kelihayan Nyo-heng, betapapun besarnya persoalan juga tidak perlu dikuatirkan
lagi. Yang kupikirkan sekarang justeru kesehatan Susiok.”
Nyo Ko juga merasa paderi Hindu itu perlu diselamatkan lebih dulu, maka ia
lantas mengusulkan. “Marilah kita mencari dulu suatu tempat yang aman untuk
menyegarkan pikiran paderi sakti. Biarlah kita menjagai dia.”
“Tapi mana ada tempat yang aman?” ujar Cu-liu sambil berpikir, ia merasa setiap
tempat di Coat-ceng-kok ini sama aneh dan berbahayanya. Tiba2 hatinya tergerak
dan berkata pula: “Kukira tetap berada di sini saja.”
Nyo Ko melengak, tapi segera ia paham maksud orang, katanya dengan tertawa.
“Ucapan Cu-toasiok memang sangat tepat. Tempat ini tampaknya berbahaya, tapi
sebenarnya adalah tempat yang paling aman di lembah ini, asalkan kita tawan
kedua orang berbaju hijau ini agar tidak membocorkan kejadian di sini, maka
bereslah segala urusan.”
“Urusan ini tidak sulit,” kata Cu Cu-Iiu dengan tertawa sambil menutukkan
jarinya dari jauh lalu ia pondong paderi Hindu itu dan berkata pula. “Tinggal di
rumah omprongan ini tentu aman dan tenteram bagiku, Nyo heng berdua lebih baik
pergi lagi ke sana untuk membantu guruku apabila perlu.”
Teringat kepada keadaan lt-teng Taysu yang masih terluka, sedangkan sifat
baik-buruk Cu in sukar diraba, kalau dirinya menunggui paderi Hindu itu rasanya
terlalu mementingkan dirinya sendiri. Sekarang Cu Cu-liu telah membawa paderi
itu ke dalam rumah garangan itu, segera iapun mengajak Siao-liong-li kembali ke
tempat semula.
Sementara itu di ruangan besar Coat ceng-kok sudah lain lagi suasananya.
Ber-ulang2 Kiu-Jian-jio berusaha memancing dan menghasut sang kakak, nadanya
semakin keras dan mendesak . It-teng Taysu diam saja dan menyerahkan kepada
keputusan Cu-in sendiri sedangkan Cu-in tampak bingung, sebentar ia pandang adik
perempuannya, lain saat dipandangnya sang guru, kemudian memandang pula kepada
Ui Yong.
Yang satu adalah saudara sekandung sendiri, seorang lagi adalah gurunya yang
berbudi, sementara itu yang seorang lain lagi adalah musuh pembunuh kakaknya,
seketika pikirannya menjadi kacau dan terjadi pertentangan batin yang hebat.
Menyaksikan sikap Cu-in yang aneh, sebentar bimbang dan lain saat beringas itu,
diam2 Liok Bu-siang menjadi kuatir, Dilihatnya Nyo Ko sejak tadi keluar dan
sampai sekian lama belum kembali, pelahan ia lantas menarik tangan Thia Eng dan
diajak keluar.
“Piauci, ke mana perginya si Tolol itu?” tanya Bu-siang sesudah di luar.
Tapi Thia Eng tidak menjawabnya melainkan berkata: “Dia terkena racun bunga yang
jahat, entah bagaimana keadaannya?”
“Ya,” Bu-siang ikut kuatir juga, Mendadak ia menambahkan: “Sungguh tidak nyana
akhirnya dia dan gurunya…”
“Tapi nona Liong itu memang cantik molek, orangnya juga baik, hanya gadis
seperti dia setimpal menjadi jodoh Nyo-toako,” ujar Thia Eng dengan muram.
“Darimana engkau mengetahui nona Liong itu orang baik? Bicara dengan dia saja
kau belum pernah” kata Bu-siang.
Tiba2 suara seorang perempuan menjengek di belakangnya: “Hm, kakinya kan tidak
pincang, dengan sendirinya dia orang baik,”
Cepat Bu-siang membalik tubuh sambil melolos goloknya, dilihatnya yang bicara
itu adalah Kwe Hu. Melihat Bu-siang melolos golok, segera Kwe Hu juga melolos
pedang yang tergantung di pinggang Yalu Ce yang berdiri di sampingnya, dengan
mata melotot ia menantang: “Hm, kau ingin bergerak dengan aku?”
Mendadak Bu-siang berkata dengan tertawa,: “Hihi, mengapa kau tidak menggunakan
pedangnya sendiri?”
Perlu diketahui bahwa sejak kakinya cacat, Bu-siang sangat menyesal terhadap
cirinya sendiri itu, orang lainpun tiada yang pernah menyinggung dihadapannya,
sekarang dia bertengkar dengan Kwe Hu dan beberapa kali nona itu selalu
menyindir kakinya yang pincang itu, tentu saja ia sangat gusar, maka kontan ia
balas menyindir pedang Kwe Hu yang dipatahkan oleh semprotan biji kurma Kiu Jian
jio.
Kwe Hu menjadi gusar juga, balasnya: “Biar pun dengan pedang pinjaman juga dapat
kulabrak kau,” Habis berkata pedangnya terus diobat-abitkan hingga mengeluarkan
suara mendengung.
“Nah, tidak tahu tua atau muda, rupanya anak keluarga Kwe memang tidak kenal
sopan santun dan menghormati orang tua,” jengek Bu-siang “Baik, biar ku-ajar
adat padamu agar kau mengerti cara bagaimana harus menghormati orang tua.”
“Huh, memangnya kau ini orang tua macam apa?” omel Kwe Hu dengan mendongkol.
“Haha, sungguh bocah yang tidak tahu adat!” Bu-siang meng-olok2 dengan tertawa,
“Piauciku adalah Susiokmu, kalau kau tidak memanggil tante padaku juga harus
memanggil bibi, Kalau tidak percaya boleh kau tanya Piauciku ini.” -Lalu iapun
menuding Thia Eng,
Ketika Thia Eng bertemu dengan Ui Yong, memang betul Kwe Hu juga mendengar
ibunya menyebut nona itu sebagai Sumoay, namun dalam hati ia merasa penasaran
dan anggap sang kakek agak keterlaluan masakah sembarangan memungut seorang
murid muda belia begitu, apalagi dilihatnya usia Thia Eng sebaya dengan dirinya,
rasanya juga tidak mempunyai kepandaian yang berarti.
Kini dia di-olok2 Liok Bu-siang, dengan gemas ia lantas menjawab “Hm, memangnya
siapa yang berani menjamin tulen atau palsu, Gwakong ( kakek luar ) termashur,
siapa yang tidak kenal nama beliau dan tentunya juga, banyak manusia yang tidak
tahu malu pengin mengaku sebagai anak-cucu murid beliau.”
Walaupun pembawaan Thia Eng berbudi halus dan pendiam, mau-tak mau ia merasa
keki juga mendengar ucapan Kwe Hu itu, namun saat ini perhatiannya hanya tertuju
kepada keselamatan Nyo Ko, ia tidak ingin bertengkar mengenai urusan tetek
bengek itu, segera ia berkata: “Piaumoay, marilah kita pergi mencari Nyo toako
saja.”
Bu-siang mengangguk, katanya pula kepada Kwe Hu: “Nah, kau dengar sendiri bukan
? Dia menyebut diriku sebagai Piaumoay! Memang nama Kwe-tayhiap dan Ui-pangcu
juga termashur di seluruh jagat, tentunya juga tidak sedikit manusia tidak tahu
malu yang ingin menjadi – putera-putri beliau2 itu”
Habis ini ia sengaja mencibir, lalu melangkah pergi- Sejenak Kwe Hu melengak, ia
tidak paham siapakah yang ingin mengaku sebagai putera-puteri ayah-bundanya?
Tapi segera ia dapat menangkap ucapan Liok Bu-siang itu, jelas secara tidak
langsung orang hendak memaki dia sebagai anak haram, menganggap dia bukan anak
kandung ayah-ibunya.
Sesungguhnya ucapan Bu-siang inipun rada keji, sedangkan watak Kwe Hu juga
memang pemberang, begitu mengetahui arti ucapan Bu-siang itu, ia tidak tahan
lagi, segera ia memburu maju, tanpa bicara pedangnya terus menusuk ke punggung
lawan.
Mendengar angin tajam menyamber dari belakang cepat Bu-siang memutar goloknya
menangkis “trang”, lengan terasa kesemutan.
“Hm, kau berani memaki aku anak liar?” bentak Kwe Hu murka, kembali ia menyerang
secara ber-tubi2.
Sambil menangkis Liok Bu-siang menjengek pula: “Hm, Kwe-tayhiap adalah orang
yang berbudi luhur, Ui-pangcu adalah puteri kesayangan Tho-hoa-tocu, mereka
betapa tinggi budi pekerti beliau itu.”
“Memangnya perlu kau jelaskan pula? Tidak perlu kau memuji ayah-bundaku untuk
membaiki aku” dengus Kwe Hu, disangkanya Bu-siang memuji ayah-ibunya dengan
setulus hati, maka daya serangannya menjadi rada kendur.
Tak tahunya Bu-siang lantas menyambung pula: “Tapi bagaimana dengan kau sendiri?
Huh, kau telah membuntungi lengan Nyo toako, tanpa cari keterangan lebih dulu
lantas memfitnah orang, tindak tanduk cara begini mana ada kemiripan dengan
kepribadian Kwe tayhiap dan Ui-pangcu, betapapun orang harus merasa sangsi.”
“Sangsi apa2″ tanya Kwe Hu.
“Hm, boleh kau pikir sendiri, buat apa tanya?” jengek Bu-siang ketus.
Pertengkaran kedua nona itu disaksikan Yalu Ce, ia tahu watak Kwe Hu lebih lugu
dan tidak secerdik Busiang, kalau adu mulut pasti kalah maka ia lantas menyela:
“Nona Kwe, jangan bicara lebih banyak lagi dengan dia.”
Dalam marahnya Kwe Hu ternyata tidak paham maksud anak muda itu, ia menjawab.
“Kau jangan ikut campur, aku justeru ingin tanya dia lebih jelas.”
Bu-siang juga melotot kepada Yalu Ce dan taerkata; “Huh, kelak baru kau tahu
rasa.”
Muka Yalu Ce menjadi merah, ia tahu arti ucapan Bu-siang itu, jelas si nona
dapat melihat dia telah jatuh cinta kepada Kwe Hu, maka Bu-siang sengaja ber
olok2, maksudnya jika mendapat isteri yang galak dan warok begitu kelak pasti
akan banyak mendatangkan kesukaran bagimu.
Melihat air muka Yalu Ce mendadak berubah merah, Kwe Hu menjadi curiga dan
bertanya: “Apakah kau juga menyangsikan aku ini bukan anak kandung ayah-ibuku?”
“Tidak, tidak,” cepat Yalu Ce menjawab, “Marilah kita pergi saja, jangan urus
dia.”
Tapi Bu-siang lantas menanggapi “Sudah tentu dia sangsi, kalau tidak mengapa dia
mengajak kau pergi?”
“Muka Kwe Hu menjadi merah padam, tangan memegang pedang, tapi takdapat
mendebatnya.”
Yalu Ce kuatir si nona salah paham, terpaksa ia bicara lebih gamblang, katanya:
“Cara bicara nona ini tajam dan menusuk perasaan, kalau mau ber-tanding boleh
bertanding saja, tapi jangan banyak omong.”
“Nah, tahu tidak kau? Maksudnya kau tidak pintar omong dan bodoh bicara, semakin
banyak bicara semakin memalukan saja,” sela Bu-siang pula.
Dalam hati Kwe Hu sekarang memang sudah timbul perasaan aneh terhadap Yalu Ce,
anak gadis yang baru merasakan madu nya cinta selalu timbul perasaan kuatir dan
cemas, setiap ucapan orang lain yang menyangkut sang kekasih, walaupun tidak
beralasan sama sekali, tentu akan dipikirkannya secara boIak-balik serta dimamah
dan dirasakannya.
Apa-lagi sejak kecil Kwe Hu selalu dimanjakan orang tua, kedua teman ciliknya,
yaitu kedua saudara Bu juga sangat penurut padanya, kecuali Nyo Ko yang
terkadang suka melawannya, hampir tak pernah dia bertengkar dengan siapapun,
kini mendadak dia menghadapi seorang lawan yang pintar putar lidah, seketika dia
terdesak di bawah angin, ia tahu kalau bicara lagi tentu dirinya akan lebih
banyak pula di olok2, dengan gusar dia lantas memaki: “Perempuan dingklang,
kalau sebelah kakimu tidak kubacok pincang pula, biarlah aku tidak she Kwe.”
“Hm, tidak perlu kau membacok kakiku juga kau tidak she Kwe lagi, memangnya
siapa tahu kau ini she Li atau she Ong,” jawab Bu-siang. Secara tidak langsung
ia selalu memaki Kwe Hu sebagai “anak haram”.
Keruan Kwe Hu tidak tahan lagi, segera ia melancarkan serangan dan terjadilah
pertarungan sengit.
Kepandaian yang diajarkan Kwe Cing dan Ui Yong kepada kesayangannya ini adalah
ilmu pilihan kelas wahid, cuma ilmu silat yang hebat ini harus dimulai dengan
memupuk dasar dan latihan yang tekun, sedangkan bakat pembawaan Kwe Hu justeru
lebih banyak menuruni sang ayah dari pada sang ibu, sebab itulah kemajuan ilmu
silat yang dilatihnya agak lamban, banyak jurus2 serangan lihay belum dapat
digunakannya dengan baik.
Walaupun begitu toh Liok Bu-siang tetap bukan tandingannya, ditambah lagi
sebelah kakinya pincang, gerak gerik nya tidak leluasa, sedangKan Kwe Hu
menyerang dengan beringas, pedangnya selalu mengincar bagian bawah dan ingin
menusuk lagi kaki sebelah lawan,
Diam2 Thia Eng mengernyitkan kening menyaksikan pertarungan mereka, pikirnya:
“Meski cara ber-olok2 Piaumoay agak tajam, tapi nona Kwe ini juga terlalu
garang, pantas lengan Nyo-toako tertabas buntung olehnya, Kalau berlangsung
lebih lama lagi mungkin sekali kaki Piaumoay juga sukar diselamatkan.”
Dilihatnya Bii-siang terus terdesak mundur dan Kwe Hu menyerang semakin gencar,
“bret” tiba2 gaun Bu-siang terobek,menyusul dia menjerit pelahan dan mundur
dengan sempoyongan dan muka pucat Kwe Hu terus melangkah maju, kakinya lantas
menyapu, dia sengaja hendak membikin Bu-siang terjungkal untuk melampiaskan rasa
gemasnya.
Terpaksa Thia Eng bertindak melihat keadaan itu, ia melompat maju mengadang di
depan Kwe Hu dan berseru. “Harap berhenti, nona Kwe!”
Waktu Kwe Hu angkat pedangnya dan tertampak ada setitik darah, tahulah dia kaki
Bu-siang telah dilukainya, dengan ber-seri2 ia lantas tuding nona itu dan
berolok: “Nah, nonamu sengaja memberi ajaran padamu agar selanjutnya kau jangan
sembarangan mengoceh!”
Padahal Bu-siang adalah nona yang berwatak keras, kepala batu, tidak takut
kepada apapun juga, Li Bok-chiu yang begitu kejam juga tidak membuatnya jera,
malahan dia berani kabur dengan mencuri kitab pusaka sang guru itu. sekarang
meski dikalahkan Kwe Hu dan darah merembes membasahi gaunnya namun ia tidak
menjadi jeri, sebaliknya ia tambah marah dan berteriak:
“Huh, hanya pedangmu saja mampu menyumbat mulut orang seluruh jagat?” ia tahu
Kwe Hu suka membanggakan ayah-ibunya, maka ia sengaja meng-olok2nya sebagai
“anak haram” dan bukan puteri kandung kedua orang tuanya itu.
“Kau mengoceh apa lagi?” bentak Kwe Hu dengan gusar sambil melarikan maju dan
pedangnya disurung pula ke depan dada orang.
Thia Eng berdiri di tengah mereka, melihat ujung pedang menyeleweng tiba, segera
ia gunakan jarinya menahan batang pedang Kwe Hu itu terus didorong pelahan ke
samping sambil melerai: “Piau-moay, nona Kwe, kita berada di tempat berbahaya,
janganlah kita cecok urusan tidak berarti ini.”
Kwe Hu terkejut dan gusar karena pedangnya, didorong ke samping dengan enteng
oleh tangan Thia Eng. segera ia membentak: “Hm, kau hendak membela dia bukan?
Baiklah kalian boleh maju bersama, aku tidak takut biarpun satu lawan dua.
Hayolah lolos senjatamu!”
Habis berkata ujung pedangnya terus mengacung ke dada Thia Eng dan menantikan
lawan melolos seruling kemala yang terselip di pinggang itu.
Namun Thia Eng tersenyum hambar saja, kata-nya: “Aku melerai perkelahian kalian,
masakah aku sendiri ikut bertengkar? Yalu-heng, hendaklah kaupun melerai nona
Kwe.”
“Benar, nona Kwe,” ucap Yalu Ce. “Kita berada di wilayah musuh, kita harus
waspada dan hati2.”
“Bagus, kau tidak bantu diriku, sebaliknya kau membela orang lain,” seru Kwe Hu
dengan mendongkol ia lihat Thia Eng cukup cantik dan manis, tiba2 timbul
pikirannya jangan2 anak muda itu menyukai nona itu.
Sedikitpun Yalu Ce tidak dapat menangkap jalan pikiran Kwe Hu itu, ia menyambung
ucapannya tadi: “Cu-in Hwesio itu rada aneh sikapnya, lekas kita ke sana untuk
melihat ibumu.”
Namun Liok Bu-siang teramat cerdik dan pintar, sepatah kata dan sedikit tingkah
Kwe Hu saja segera dapat diterka isi hati seterusnya itu, cepat ia berkata puIa:
“Hah Piauciku jauh lebih cantik daripadamu, pribadinya juga halus budinya, ilmu
silatnya juga lebih tinggi, hendaklah kau berhati-hati sedikit!”
Setiap kalimat Bu-siang itu cukup menusuk perasaan Kwe Hu, keruan ia menjadi
murka, tapi ia lantas pikirnya: “Aku harus ber-hati2 apa?”
“Huh, kecuali aku orang tolol, kalau tidak masakah aku tidak memilih Piauciku
dan sebaliknya menyukai kau,” jengek Bu-siang.
Ucapan ini jauh dari jelas dan gamblang, tentu saja Kwe Hu tidak tahan lagi,
begitu pedangnya bergerak, segera ia menusuk ke iga Bu-siang dengan mengitar ke
samping Thia Eng.
Diam2 Thia Eng mengerut kening melihat serangan Kwe Hu yang ganas itu, ia pikir
sekalipun ucapan Piaumoay itu menyinggung perasaanmu, betapapun kita kan bukan
musuh, mengapa tanpa kenal ampun kau melancarkan serangan mematikan sekeji ini?
Secepat kilat Thia Eng menghimpun tenaga pada jarinya, begitu pedang Kwe Hu
menyelinap lewat dan sebelum mencapai sasarannya, secepat kilat ia terus
menyelentik, “creng”, kontan pedang Kwe Hu terlepas dan jatuh ke tanah.
Selentikan Thia Eng itu adalah ilmu jari sakti ajaran Ui Yok-su, karena kekuatan
Thia Eng cuma setingkat dengan Kwe Hu, maka cara menyelentik-nya itu
dilakukannya secara mendadak, begitu pedang orang terlepas, langkah selanjutnya
juga sudah diperhitungkan o!ehnya, segera melangkah maju, pedang itu diinjak,
seruling kemala terus dikeluarkan di Hiat-to di tubuh Kwe Hu.
Karena didahului orang, keadaan Kwe Hu menjadi serba salah, kalau berjongkok
untuk rebut pedang, beberapa Hiat to itu pasti akan bertutuk, sebaliknya kalau
melompat mundur untuk menghindar, maka pedang itu berarti dirampas lawan. Karena
kurang pengalaman Kwe Hu- menjadi serba runyam, mukanya menjadi merah dan tidak
tahu, apa yang harus dilakukan.
“Hai, nona itu, mengapa kau menginjak pe-dangku?” tiba2 Yalu Ce membentak,
berbareng ia terus menubruk maju hendak mencengkeram seruling orang.
Naraun Thia Eng sempat menyurutkan tangannya, ia membalik tubuh dan menarik
Bu-siang terus diajak pergi.
Cepat Kwe Hu jemput kembali pedangnya dan berteriak : “Nanti dulu! Marilah kita
bertanding dengan baik!”
“Haha, masih mau bertanding ” sebelum Bu-siang meng-olok2 lebih lanjut, cepat
sekali Thia Eng telah menyeretnya melompat ke depan, hanya sekejap mereka sudah
berada jauh di sana,
Yalu Ce segera menghibur Kwe Hu, katanya : “Nona Kwe, hanya kebetulan saja dia
berhasil, sebenarnya kalah menang kalian belum jelas.”
“Memangnya,” kata Kwe Hu dengan penasaran “tadi pedangku sedang mengincar si
pincang, mendadak dia turun tangan, Tampaknya dia ramah tamah, ternyata
bertindak secara licik.”
Yalu Ce mengiakan saja, wataknya jujur, tidak biasa menyanjung puji orang,
katanya: “Kepandaian nona Thia itu tidak lemah, lain kali kalau bergebrak lagi
hendaklah kau jangan meremehkan dia,”
Kwe Hu kurang senang mendengar pujian Yalu Ce kepada Thia Eng itu, tanpa pikir
ia bertanya : “Kau bilang ilmu silatnya bagus?”
“Ya,” jawab Yalu Ce.
“Baiklah, kalau begitu jangan kau hiraukan diriku lagi dan berbaik saja dengan
dia,” kata Kwe Hu dengan gusar sambil melengos.
“He, maksudku agar kau jangan meremehkan dia, supaya kau hati2, itu tandanya
kubela kau atau membantu dia?” cepat Yalu Ce menjelaskan.
Kwe Hu pikir arti ucapan anak muda itu memang benar membela dirinya, maka
rianglah hatinya.
Segera Yalu Ce berkata pula. “Malah tadi akupun bantu kau merebut kembali
pedangmu, masakah kau masih marah padaku?”
“Ya, marah padamu!” omel Kwe Hu sambil berpaling kembali, namun dengan tertawa
gembira.
Yalu Ce menjadi girang juga, Pada saat itulah dari ruangan pendopo sana
berkumandang suara orang me-raung2 disertai suara nyaring benturan senjata.
“Ai, lekas kita melihat ke sana!” seru Kwe Hu.
Tadi dia merasa sebal oleh ocehan Kiu Jian-jio mengenai kejadian di masa talu,
ia tidak tahu bahwa setiap kata nenek itu mengandung ancaman bahaya maut bagi
ibunya, maka ia lantas mengeluyur keluar dan tanpa sebab telah bertengkar dengan
Bu-siang dan Thia Eng, kini ia menjadi kuatir bagi sang ibu demi mendengar suara
ribut itu, cepat ia berlari kembali ke sana.
Begitu dia masuk, dilihatnya It-tcng Taysu lagi berduduk di tengah ruangan,
tangan me-raba2 tasbih dan mulut mengucap Budha, air mukanya agung dan
welas-asih, sedangkan Cu-in Hwesio sedang ber-lari2 mengitari ruangan besar itu
sambil mengeluarkan suara raungan buas, belenggu pada tangannya sudah terbetot
putus dan saling bentur dengan suara gemerincing.
Kiu Jian-jio kelihatan duduk ditempatnya tadi dengan wajah membesi, mukanya
memang buruk, kini menjadi tambah bengis dan menakutkan sementara itu Ui Yong,
Bu Sam-thong dan lain2 berada di pojok sana sambil mengawal gerak-gerik Cu-in.
Setelah ber-lari2 sekian lama, dahi Cu-in tampak berkeringat ubun2nya
mengepulkan uap putih tipis dan makin lama makin tebal, lari Cu-in itupun
semakin cepat.
Mendadak It-teng Taysu membentak lantang: “Cu-in, wahai, Cu-in! sampai kini
apakah kau masih belum menyadari perbedaan antara bajik dan jahat?”
Cu-in tampak melengak, uap putih di atas kepalanya mendadak lenyap, tubuhnya
tergeliat, lalu jatuh terjungkal.
“Anak Oh, lekas bangunkan Kuku!” bentak Kiu Jian-jio.
Buru2 Kongsun Lik-oh berlari maju untuk membangunkan sang paman, Ketika Cu-in
membuka mata, dilihatnya wajah si nona hanya belasan senti di depan matanya,
samar2 terlihat alis yang lentik dan mulut yang mungil, wajah yang cantik molek
itu mirip benar dengan adik perempuannya dahulu, Tiba2 ia berseru: “Sammoay,
berada di manakah aku ini?”
“Kuku! Kuku! Aku Lik-oh!” ucap Lik-oh.
“Kuku? Siapa Kukumu?” – demikian Cu-in berguman, “Kau memanggil siapa?”
“Jiko, dia adalah puteri adikmu!” teriak Kiu Jian-jio, “dia minta kau membawanya
menemui Kuku tertua.”
Cu-in terkejut mendadak, katanya: “O, Kuku tertua? Kakakku? Ah, kau tak dapat
melihatnya lagi, dia sudah terjatuh hancur lebur ke jurang Tiat ciang hong.”
Teringat kepada kejadian masa Ialu, seketika mukanya menjadi beringas, ia
melompat bangun, Ui Yong ditudingnya dan membentak: “Ui Yong, kau yang membunuh
Toakoku, Kau… kau harus mengganti jiwanya!”
Setelah masuk lagi ke ruangan situ. Kwe Hu berdiri di samping sang ibu dan
memondong adik perempuannya. ketika mendadak melihat Cu-in mencaci-maki ibunya
secara bengis, dia orang pertama yang tidak tahan, segera ia melangkah maju
beberapa tindak dan balas mendamperat: “Kau jangan kasar kepada ibuku Hwesio,
nonamu ini takkan membiarkan kau main gila.”
Kiu Jian-jio lantas menjengek: “Hm, berani benar anak perempuan ini…”
“Siapa kau?” segera Cu-in bertanya.
“Sudah kukatakan sejak tadi, apa kau tuli?W jawab, Kwe Hu. “Kwe-tayhiap adalah
ayahku, Ui pangcu ialah ibuku.”
“Hm, jadi Kwe Cing dan Ui Yong malah sudah mempunyai dua anak,” teriak Cu-in
dengan beringas.
Melihat nadanya berubah buas, Ui Yong menjadi kuatir, cepat ia menyuruh Kwe Hu
mundur Akan tetapi Kwe Hu mengira Cu-in gentar kepada ibunya terbukti sejak tadi
tidak berani menyerang maka tanpa pikir ia malah melangkah maju dan mengejek:
“Huh, kalau kau mampu bolehlah lekas kau menuntut balas, kalau tidak becus,
sebaiknya kau tutup mulut saja!”
“Bagus ucapanmu, kalau mampu bolehlah lekas menuntut balas!” bentak Cu-in dengan
suara menggelegar sehingga cangkir sama bergetar di atas meja.
Sama sekali Kwe Hu tidak menyangka seorang Hwesio dapat mengeluarkan suara
sekeras itu, ia menjadi terkejut dan kebingungan Pada saat itulah telapak tangan
kiri Cu-in telah memukul, tangan kanan juga lantas mencengkeram sekaligus. Dua
rangkum tenaga maha dahyat terus membanjir tiba, pikir Kwu Hu hendak menghindari
akan tetapi sudah kasip.
Tanpa berjanji Ui Yong, Bu Sam-thong dan Yalu Ce bertiga melompat maju
berbareng, pandangan mereka-cukup tajam, mereka tahu cengkeraman tangan kanan
Cu-in itu tampaknya ganas, tapi tidak selihay pukulan tangan tangan kiri yang
mematikan ttu, Sebab itulah tangan mereka memapak bersama, “blang”, tiga arus
tenaga dahsyat menyentak tangan kiri Cu-in.
Terdengar Cu-in bersuara tertahan dan tetap berdiri di tempatnya, sebaliknya Ui
Yong bertiga tergetar mundur beberapa langkah, Kekuatan Yalu Ce paling cetek,
dia tergentak mundur paling jauh, berikutnya adalah Ui Yong.
Sebelum berdiri tegak kembali dia mengawasi puterinya lebih dulu, dilihatnya Kwe
Yang cilik sudah dicengkeram oleh Cu-in, sedangkan Kwe Hu berdiri mematung,
rupanya Saking kagetnya hingga lupa menghindar.
Ui Yong menjadi kuatir kalau2 Kwa Hu dilukai, tenaga pukulan lawan, Cepat ia
melompat maju pula dan menarik mundur anak gadisnya itu sembari mengeluarkan
pentung penggebuk anjing tmtuk bela diri, sekali pentung pusakanya itu sudah
siap, betapapun dahsyat tenaga pukulan Cu-in juga takkan melukainya lagi.
Sebenarnya Kwe Hu tidak terluka sedikitpun, cuma pikirannya menjadi kacau, dia
baru sempat menjerit kaget setelah bersandar di tubuh sang ibu, sementara kedua
saudara Bu, Yalu Yan, Wanyan Peng dan lainnya segera meloIos senjata juga ketika
melihat Cu-in akhirnya melancarkan serangan.
Be-ramai2 anak buah Kiu Jian-jio juga menyebar dan siap siaga, asalkan sang
Kokcu memberi aba-2, serentak merekapun akan menyerbu. Hanya It – teng Taysu
saja yang tetap duduk bersila di tengah ruangan dan anggap tidak mendengar dan
tidak melihat apa yang terjadi di sekitarnya, dia tetap mengucapkan doa, meski
tidak keras suaranya, namun cukup jelas terdengar
Mendadak Cu-in mengangkat tinggi2 Kwe Yang cilik dan berteriak: “lnilah puteri
Kwe Cing dan Ui Yong, setelah kubunuh anak ini barulah kubinasakan kedua orang
tuanya.”
Dengan girang Kiu Jian-jio menanggapi “Bagus, Jiko yang baik, dengan begitulah
engkau baru benar2 ketua Tiat-ciang-pang yang tiada bandingannya.”
Dalam keadaan demikian, jangankan seorang-pun yang hadir ini mampu mengalahkan
Cu-in, sekalipun ada yang berkepandaian lebih tinggi dari dia juga akan mati
kutu dan sukar menyelamatkan Kwe Yang kecil dari tangan orang yang sudah kalap
itu.
“Nyo toako! Nyo-toako! Di mana engkau? Lekas kemari menolong adikku!”
se-konyong2 Kwe Hu berseru. Menghadapi bahaya begini tiba2 dia ingat kepada Nyo
Ko.
Maklumlah, beberapa kali Kwe Hu mengalami kesukaran dan tiap kali Nyo Ko yang
berhasil menyelamatkan dia di luar dugaannya, kini adiknya terancam dan
tampaknya tiada seorangpun yang mampu bertindak, secara otomatis lantas timbul
harapannya agar Nyo Ko datang menolongnya.
Akan tetapi saat itu Nyo Ko sedang bergandengan tangan dengan Siao-Iiong-li
menikmati pemandangan senja indah pegunungan ini, sama sekali tak terpikir
olehnya di ruangan besar sekarang sedang timbul adegan yang mendebarkan itu.
Begitulah dengan tangan kanan mengangkat Kwe Yang ke atas dan tangan kiri siap
membela diri, Cu-in mengejek seruan Kwe Hu tadi: “Huh, Nyo Ko apa? siapakah Nyo
Ko itu? Saat ini biar-pun Tang-sia Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong
datang ke sini sekaligus paling-2 juga jiwaku Kiu Jian-yim saja yang dapat
diganggunya, tapi jangan harap akan dapat menolong anak dara cilik ini.”
Pelahan Itteng mengangkat kepalanya dan menatap Cu-in, terlihat kedua matanya
merah membara penuh napsu membunuhi segera ia berkata: “Cu-in kau hendak
menuntut balas pada orang, kalau orangpun hendak menuntut balas padamu, lalu
bagai mana?”
“Siapa yang berani boleh coba maju!” bentak Cu-in.
Sementara hari sudah dekat magrib, cuaca mulai remang2 dan air muka Cu-in juga
semakin seram tampaknya.
Pada saat itulah mendadak Ui Yong bergelak tawa, suara tawanya mendadak meninggi
dan lain saat merendah laksana suara tawa orang gila. Begitu seram suara
tertawanya hingga membikin orang merinding.
“lbu!” seru Kwe Hu kuatir. Bu Sam-thong, Yalu Ce dan lain2 juga serentak
memanggil “Kwe-hujin!”
Semua orang kuatir jangan-2 karena memikirkan anaknya berada dalam cengkeraman
musuh, mendadak pikiran Ui Yong menjadi tidak waras.
Terlihat Ui Yong membuang pentung bambu, lalu melangkah maju dengan rambut
terurai serawutan, suara tawanya melengking tajam dan menyeramkan, berbeda sama
sekali daripada sikapnya yang ramah se hari-2
“lbu!” seru Kwe Hu sambil menarik lengan Ui Yong. Tapi sekali mengibas, kontan
Kwe Hu terpelanting jatuh, habis itu Ui Yong terus pentang kedua tangan hendak
merangkul tubuh Cu in dengan ter-bahak2.
Kejadian ini juga sama sekali diluar dugaan Kiu Jian-jio, ia mengawasi tingkah
laku Ui Yong itu dengan mata mendelik dan sangsi.
“Jangan kuatir Kwe-hujin, kita pasti dapat merampas kembali puterimu,” seru Bu
Sam-thong.
Namun Ui Yong tidak menggubrisnya, kedua tangan tetap terpentang sembari
melototi Cu-in, katanya: “Lekas kau cekik mati anak itu! Cekik lehernya yang
keras, jangan kendur!”
Wajah Cu-in tampak pucat sebagai mayat, sambil merangkul Kwe Yang dalam
pangkuannya, Cuin berkata dengan tergagap: “Sia…siapa kau?”
Mendadak Ui Yong tertawa ter-kekeh2 terus menubruk maju. Meski tangan kiri Cu in
sudah bersiap namun sebegitu jauh tidak berani me-nyerang, ia hanya menggeser
kesamping menghindari tubrukan Ui Yong itu, lalu ia tanya pula: Kau… kau
siapa?”
“Apakah kau sudah lupa semuanya?” jawab Ui Yong dengan suara seram, “Malam itu
di atas istana kerajaan Tayli kau memegang seorang anak… ya, ya, seperti
inilah kau memegangnya, bocah itu kau siksa hingga setengah mati, akhirnya
jiwanya sukar tertolong pula, dan aku… aku adalah ibu bocah itu, Nah, lekas
kau mencekik mampus dia, lekas, kenapa tidak lekas kau lakukan?”
Mendengar sampai di sini, sekujur badan Cu-in lantas menggigil peristiwa
beberapa puluh tahun yang lalu mendadak terbayang olehnya, Tatkala itu dia
sengaja melukai putera Lau-kuihui, yaitu selir kesayangan Lam-ie (raja di
selatan) Toan Hong-ya, yang kini berjuluk It-teng Taysu, tujuannya supaya Toan
Hong-ya mau mengorbankan tenaga dalamnya yang dipupuk selama berpuluh tahun itu
untuk menyelamatkan jiwa anaknya (yang sebenarnya adalah hasil hubungan gelap
antara Lau-kuihui alias Eng Koh dengan Ciu Pek- thong, si Anak Tua Nakal), namun
Toan Hong ya tega benar tidak mau mengobati anak itu sehingga anak itu akhirnya
meninggal.
Kemudian beberapa kali Eng Koh bertemu dengan Cu-in dan secara kalap
melabraknya, kalau perlu siap untuk gugur bersama. Dalam keadaan begitu, biarpun
ilmu silat Cu-in jauh lebih tinggi daripada Eng Koh juga merasa jeri, maklumlah,
merasa berdosa, maka tidak berani melawan dan lebih suka kabur saja.
Ui Yong tahu itulah kelemahan terbesar selama hidup Cu-in, dilihatnya cara Cu-in
mengawasi Kwe Yang mirip benar kejadian dahulu, maka dia menjatuhkan taruhan
terakhir dengan sengaja menyerukan Cu-in mencekik mati Kwe Yang saja.
Tentu saja Bu Sam-thong, Yalu Ce dan Iain2 tidak tahu maksud tujuan Ui Yong,
mereka menyangka ketua Kay-pang itu mendadak gila sehingga ucapannya tidak
karuan juntrungannya. Padahal tindakan Ui Yong ini sesungguhnya teramat cerdik
dan berani, biarpun kaum lelaki juga belum tentu sanggup bertindak demikian. Dia
telah mengetahui benar kelemahan musuh, inilah kecerdikannya, iapun berani
menyuruh orang mencekik anaknya, inilah keberaniannya yang luar biasa.
Begitulah seketika Cu-in menjadi ragu2 dipandangnya Ui Yong, lalu memandang pula
ke arah It-tcng Taysu, kemudian mengamat-amati anak yang dipegangnya itu.
Se-konyong2 ia tidak mampu menahan rasa penyesalannya sendiri, tiba2 ia
berteriak: “Mati, sudah mati! Ai, anak baik2 begini telah kucekik mati.”
Pelahan ia mendekati Ui Yong dan menyodorkan bayi itu sambil berkata pula.
“Akulah yang membikin mati anak ini, boleh kau membinasakan diriku sebagai
pengganti jiwanya.”
Girang Ui Yong tak terhingga, segera ia hendak menerima kembali anaknya,
mendadak terdengar It-teng membentak: “Balas membalas, tuntut menuntut, sampai
kapan berakhirnya? Golok jagal di tangan, kapan akan kau lemparkan ?”
Cu-in terkejut, pegangannya jadi kendur, Kwe Yang terus terjatuh ke lantai,
Namun Ui Yong cukup cekatan sebelum badan anak bayi itu menyentuh lantai,
sebelah kakinya tahu2 sudah diayunkan dan tepat mengenai tubuh Kwe Yang hingga
mencelat ke sana, berbareng itu Ui Yong lantas berteriak dan ter-kekeh2: “Ah,
anak ini telah dibunuh olehmu. Bagus, bagus sekali!”
Padahal tendangannya tadi tampaknya agak keras, namun sesungguhnya cuma punggung
kakinya saja yang menjungkit pelahan di punggung ,anak itu terus ditolak ke sana
dengan enteng. ia tahu keselamatan anak bayi itu bergantung dalam sedetik itu
saja, kalau dia berjongkok menyamber anak itu, bisa jadi pikiran Cu-in mendadak
berubah lagi dan meraih kembali si Kwe Yang cilik.
Tubuh Kwe Yang mencelat dengan anteng ke arah Yalu Ce, maka dengan tepat anak
muda itu dapat menangkapnya, dilihatnya sepasang biji mata Kwe Yang yang hitam
itu terbelalak, mulut terbuka hendak menangis, keadaannya segar bugar tanpa
cidera apapun.
Yalu Ce paham sebabnya Ui Yong sengaja mengirim Kwe Yang ke arahnya itu adalah
karena watak Kwe Hu suka gegabah, maka sang ibu tidak berani menyuruh menerima
bayi itu. Cepat Yalu Ce lantas mendekap mulut Kwe Yang untuk mencegah tangisnya,
berbareng iapun ber-teriak2: “Wah, anak ini telah dibinasakan Hwesio ini!”
Muka Cu-in pucat seperti mayat, seketika dia sadar dan bebas, ia memberi hormat
kepada lt-teng dan berkata: “Terima kasih banyak2 atas bantuan Suhu!”
It-teng membalas hormat dan menjawab: “Selamatlah engkau telah mencapai
kesempurnaan!”
Kedua orang berhadapan dengan tertawa, lalu Cu-in melangkah pergi. Cepat Kiu
Jian-jio berseru:
“He, Jiko, kembali…”
Cu-in menoleh dan berkata “Kau suruh aku kembali, aku justeru hendak menyuruh
kau kembali juga.” Habis itu ia lantas bertindak pergi tanpa berpaling lagi.
“Bagus, bagus!” ber-ulang2 It-teng menyatakan syukurnya, lalu ia mengundurkan
diri ke sudut ruangan dan duduk semadi tanpa bicara lagi.
Ui Yong mengikat kembali rambutnya yang kusut tadi, dari Yalu Ce ia terima
kembali si Kwe Yang cilik. Cepat Kwe Hu merangkul sang ibu, serunya dengan
kejut2 girang: “O, kukira ibu benar-benar telah kurang waras!”
Kemudian Ui Yong mendekati It-teng Taycu dan memberi hormat, katanya: “Taysu,
karena kepepet sehingga Siautit terpaksa mengungkat kejadian masa lampau, mohon
Taysu sudi memaafkan.”
“Yong ji, Yong-ji. kau benar2 Khong Bengnya kaum wanita,” ujar It-teng dengan
tersenyum.
Di antara hadirin itu hanya Bu Sam-thong saja yang lapat2 mengetahui kejadian
dahulu, orang lain sama melongo heran karena tidak tahu apa yang dimaksudkan
percakapan It-teng dan Ui Yong.
Bahwa akhirnya menjadi begini, hal inipun di luar dugaan Kiu Jian-jio, ia tahu
sekali kakaknya sudah pergi, selanjutnya jelas sukar bertemu lagi, Melihat
bayangan Cu-in sudah lenyap, perasaannya menjadi pilu, tapi terasa bimbang dan
menyesal pula ketika ingat ucapan Cu-in sebelum pergi tadi:
“Kau suruh aku kembali, justeru akupun hendak menyuruh kau kembali.” Jelas
ucapan itu bernada memberi nasehat agar lekas menahan diri dan kembali ke jalan
yang baik.
Akan tetapi rasa menyesal itu hanya sekilas saja lantas lenyap, dengan angkuh ia
lantas berkata: “Silakan kalian duduk saja disini, aku tidak dapat menemani
lama2.”
“Nanti dulu!” seru Ui Yong tiba2, “Kunjungan kami ini adalah untuk memohon
Coat-ceng-tan.”
Kiu Jian-jio lantas mengangguk kepada mu-rid-murid berseragam hijau di
sebelahnya, serentak anak murid seragam hijau itu bersuit, dari setiap sudut
lantas muncul empat orang berseragam hijau dengan membawa jaring ikan berkait
dan meng-adang jalan ke luar semua orang.
Dalam pada itu empat pelayan lantas angkat kursi yang diduduki Kiu Jian-jio dan
dibawa masuk ke ruangan dalam. Melibat kelihayan barisan jaring berkait itu,
diam2 Bu Sam-thong, Yalu Ce dan lain2 sama terkejut mereka menjadi bingung pula
cara bagaimana membobol barisan jaring musuh itu.
Karena sedikit ragu itulah, tahu2 pintu depan dan belakang ruangan pendopo itu
berkeriutan dan merapat, semua orang berseragam hijau lantas menyelinap ke luar
lebih dulu.
Cepat kedua saudara Bu cilik menerjang keluar dengan pedang terhunus, akan
tetapi sudah terlambat “blang”, pintu telah merapat, kedua batang pedang Bu
Tun-si dan Bu Siu-bun yang sempat diselipkan ke tengah daun pintu itu patah
seketika terjepit Tampaknya daun pintu besar itu terbuat dari baja yang kuat.
“Tidak perlu kuatir” cepat Ui Yong mendesis. “Untuk keluar dari sini tidaklah
sulit, cuma kita harus memikirkan suatu akal cara bagaimana membobol barisan
jaring musuh yang berkait itu dan cara bagaimana mencuri obat untuk
menyelamatkan kawan kita.”
Sementara itu Kongsun Lik-oh juga ikut sang ibu masuk ke ruangan dalam, di situ
ia bertanya tindakan apa pula yang akan dilakukan ibunya, Kiu Jian-jio sendiri
merasa sulit dengan perginya sang kakak, namun musuh pembunuh kakak kini berada
di depan matanya, betapapun ia tidak dapat tinggal diam.
Maka setelah berpikir, kemudian ia berkata kepada Lik-oh: “Coba kau pergi ke
sana, awasi apa yang dilakukan Nyo Ko dan ketiga anak dara itu.”
Perintah sang ibu sesuai benar dengan keinginan Lik-oh, segera ia mengangguk dan
berlari ke rumah garangan itu. Sampai di tengah jalan, tiba2 didengarnya ada
suara orang bicara di depan sana, jelas itulah suaranya Nyo Ko, menyusul
terdengar suara jawaban Siao-liong-li dan lapat2 seperti menyebut “nona
Kongsun.”
Waktu itu hari sudah gelap, cepat Lik-oh menyelinap ke semak pohon, ia ingin
tahu apa yang sedang dibicarakan kedua muda-mudi itu mengenai dirinya.
Dengan langkah pelahan ia lantas merunduk maju, dilihatnya Nyo Ko dan Siao-liong
li berdiri berendeng di sana, terdengar Nyo Ko lagi berkata:
“Kau bilang kita harus berterima kasih kepada nona Kongsun, kukira memang betul,
Semoga paderi sakti ini lekas siuman, permusuhan ini selekasnya dapat diakhiri
sisa racun dapat dibasmi seluruhnya, bukankah bagus begitu?… Aduuh!” jeritan
mengaduh secara mendadak ini membikin. Lik-oh kaget karena tidak diketahui apa
yang mengakibatkan Nyo Ko menjerit. ia coba mengintip dari tempat sembunyinya,
samar2 dilihatnya Nyo Ko tergeletak di tanah dan Siao-liong-li sedang memegangi
lengannya.
Bagian punggung Nyo Ko seperti berkejang dan tampaknya sangat sakit Terdengar
Siao-liong-li bertanya padanya: “Apakah racun bunga cinta kambuh lagi?”
“Iy.. .. iyaa . . ..” sahut Nyo Ko dengan gigi berkeretukan.
“Pedih hati Kongsun Lik- oh dan kasihan pula melihat penderitaan Nyo Ko itu,
pikirnya: “Dia sudah minum separoh Coat-ceng tan, kalau separoh-nya dimakan lagi
tentu racunnya akan punah, separoh obat yang tersisa itu betapapun harus
ku-mintakan kepada ibu.”
Selang sejenak, pelahan Nyo Ko berbangkit dan menghela napas panjang.
“Ko-ji, kumatnya penyakitmu semakin kerap dan jaraknya juga semakin pendek,
malahan kelihatan juga tambah parah.” kata Siao-liong-li. “Padahal harus sehari
lagi barulah paderi Hindu itu akan siuman, seumpama dia dapat meracik obat
penawarnya rasanya juga tidak…. tidak mengurangi penderitaanmu ini.”
Sebenarnya dia hendak mengatakan “juga tidak keburu lagi menolong kau”, tapi
akhirnya ia ubah ucapannya itu.
Dengan tersenyum getir Nyo Ko menjawab “Nenek Kongsun itu sangat kepala batu,
obat penawarnya juga tersimpan dengan rapat, kalau dia tidak suka-rela mau
memberikan obatnya padaku, biarpun senjata mengancam di lehernya juga belum
tentu dia mau menyerah dan memberikan obatnya.”
“Aku mempunyai akal,” ujar Siao-liong-li.
Nyo Ko sudah dapat meraba jalan pikiran isterinya itu, katanya: “Liong-ji,
jangan lagi kau mengemukakan kehendakmu ini. Kita suami-isteri saling mencintai
dengan segenap jiwa raga, kita akan bersyukur kalau kita dapat hidup sampai
kakek-kakek dan nenek2, kalau tidak dapat, ya anggaplah memang sudah takdir, di
antara kita berdua sekali2 tidak boleh diselingi dengan orang ketiga.”
Dengan suara terguguk Siao-Iiong li berkata:
“Tapi… tapi nona Kongsun itu kulihat pribadinya sangat baik, hendaklah kau
menurut perkataanku.”
Tergerak hati Kongsun Lik-oh mendengar percakapan mereka itu, ia tahu
Siao-liong-li sedang menganjurkan Nyo Ko menikahi dirinya untuk mendapatkan obat
penawar.
Segera terdengar Nyo Ko berseru lantang: “Liong ji, nona Kongsun itu memang
orang baik. sesungguhnya di dunia ini memang banyak nona2 yang baik, Misalnya
itu nona Thia Eng, nona Liok Bu-siang, semuanya juga gadis yang baik budi dari
setia kawan. Namun kita berdua sudah saling cinta mencintai mana boleh timbul
lagi pikiran lain.
Umpamanya kau sendiri, jika ada seorang lelaki yang sanggup menyembuhkan racun
dalam tubuhmu dengan syarat kau harus menjadi istrinya, apakah kau juga mau?”
“Aku kan perempuan, sudah tentu lain soal-nya,” jawab Siao-liong-li.
“Hah, orang lain berat lelaki dan enteng perempuan, aku Nyo Ko justeru berat
perempuan dan enteng lelaki,” kata Nyo Ko dengan tertawa.
Sampai di sini, tiba2 terdengar suara kresekan di semak pohon sana, cepat Nyo Ko
berseru: “Siapa itu?” Lik-oh tahu jejaknya telah diketahui orang, baru saja mau
menjawab, tiba2 suara seorang lain menjawab: “Aku, ToloI!”
Menyusul Liok Bu siang dan Thia Eng lantas muncul dari semak2 pohon sana.
Kiranya tidak cuma Kongsun Lik-oh saja yang mengintip di situ, Bu-siang dan Thia
Eng juga berada di dekatan sana, Kesempatan itu segera digunakan Lik-oh untuk
menyingkir pikirannya lantas bergolak juga tak menentu: “Jangankan berbanding
nona Liong, meskipun nona2 Liok dan Thia saja juga sukar bagiku untuk
menandinginya, baik ilmu silat maupun lahiriah, apalagi bicara mengenai hubungan
baiknya dengan Nyo-kongcu.
Sejak kenal Nyo Ko, tanpa kuasa Kongsun Lik-oh kesemsem kepada pemuda itu, meski
sejak mula iapun mengetahui Nyo Ko sangat mencintai Siaoliong-li, tapi selalu
diharapkannya semoga dapat bertemu sekali lagi dengan dia, sebab itulah ia terus
menanti di Coat-ceng-kok, kini setelah mendengar percakapan mereka, ia menjadi
lebih tahu bahwa cinta dirinya cuma bertepuk sebelah tangan saja dan tidak
mungkin terkabul
Kedua orang tuanya adalah manusia2 yang culas dan sukar bergaul dengan orang
luar, sebab itulah sejak kecil Kongsun Lik-oh menjadi sangat pendiam dan
tersiksa batin, kini hancur pula segala harapannya, ia bertekad takkan hidup
lagi, dengan langkah limbung ia lantas berjalan ke sana.
Dengan pikiran melayang, jalannya menjadi tanpa arah tujuan dan tidak menyadari
dirinya berada di mana, cuma dia cukup apal jalanan sekitar situ, maka biarpun
di malam gelap juga tidak sampai terperosot ke jurang atau jatuh-ke sungai,
suatu suara se-akan2 mengiang dalam benaknya:
“Aku tak ingin hidup lagi, aku tidak ingin hidup lagi!”
Begitulah ia terus berjalan tanpa tujuan, entah sudah berapa Iama, tiba2
didengarnya dibalik dinding karang sebelah sana sayup2 ada suara orang sedang
bicara. Waktu ia memperhatikan keadaan setempat lebih cermat ia terkejut.
Kiranya dalam keadaan ling-lung, tanpa terasa ia teIah berada di suatu tempat di
sebelah barat lembah yang jarang dikunjungi manusia. Waktu ia menengadah
tertampak sebuah puncak gunung menjulang tinggi di depan itulah Coat-ceng-hong
(puncak putus tinta) yang sangat curam di lembah ini.
Pada pinggang Coat-ceng-hong itu adalah suatu tebing yang menyerupai dinding dan
entah-sejak kapan ada orang mengukir tiga huruf besar di situ, bunyinya
“Toan-jong-kah” (tebing putus usus), tebing itu halus licin dan selalu
dikelilingi awan dan kabut, sekalipun burung juga sukar hinggap di puncak gunung
itu.
Di bawah puncak gunung itu adalah jurang yang tak terperikan dalamnya dengan
tumbuhan yang lebat walaupun pemandangan alam di situ sangat indah permai, namun
karena curamnya dan mungkin akan terjerumus ke dalam jurang jika kurang hati2,
maka penduduk setempat jarang yang datang ke situ, sekalipun anak buah Kongsun
Ci yang memiliki ilmu silat tinggi juga jarang menginjak tempat itu. Tapi
sekarang ternyata ada orang bicara disitu, entah siapa gerangannya?
Selain ingin mati saja memangnya Kongsun Lik-oh tidak mempunyai kehendak lain
lagi, Tapi sekarang timbul rasa ingin tahunya, segera ia menempel di belakang
batu karang dan coba mendengarkan dengan cermat.
Tapi setelah mengenali suara orang yang bicara, hatinya lantas berdebar Kiranya
pembicara itu ialah ayahnya.
Meski ayahnya berbuat salah terhadap ibunya dan juga tidak sayang padanya, namun
ibunya sudah membutakan sebelah mata ayahnya dengan sempritan biji kurma serta
telah mengusirnya pergi dari Coat-ceng-kok, betapapun Lik,-oh masih menaruh
belas kasihan seorang anak terhadap ayahnya, ia menjadi heran setelah mendengar
suara sang ayah, ternyata ayahnya tidak meninggalkan Coatceng kok melainkan
masih sembunyi di tempat yang jarang didatangi manusia.
Terdengar ayahnya sedang betkata: “Matamu diciderai oleh si bangsat cilik Nyo
Ko, mataku juga buta juga boleh dikatakan akibat perbuatan bangsat cilik itu,
jadi kita boleh dikatakan se… senasib dan setanggungan, hehehe!” Meski ia
terkekeh, namun orang yang diajak bicara itu ternyata tidak menanggapinya.
Lik-oh menjadi heran siapakah gerangan yang diajak bicara sang ayah itu?
seketika iapun tidak ingin siapakah yang matanya pernah diciderai Nyo Ko,
sedangkan nada ucapan sang ayah kedengaran rada2 bangor, apakah lawan bicaranya
itu adalah seorang perempuan?
Di dengar nya Kongsun Ci berkata pula: “Kita bertemu di sini juga boleh
dikatakan ada jodoh, bukan saja senasib dan setanggungan”. bahkan juga… juga
sama2 bermata… bermata…”
“Huh, kau mentertawakan aku ini buruk rupa bukan?” tiba2 seorang perempuan
mendamperat.
“O,walah, janganlah kau marah, bukan begitu maksudku.” jawab Kongsun Ci cepat
“Aku justru sangat senang bertemu dengan kau.”
“Aku telah terluka oleh bunga cinta dan kau sama sekali tidak menghiraukan,
malahan kau menggodai diriku saja,” omel pula perempuan itu.
Baru sekarang Kongsun Lik-oh ingat siapa orang ini, Kiranya adalah Li Bok-chiu,
iapun heran bahwa mata Li Bok-chiu katanya juga diciderai oleh Nyo Ko.
Memang betul lawan bicara Kongsun Ci itu ialah Li Bok-chiu, dia terkena racun
bunga cinta dan ingin mendapatkan obat penawarnya, tapi jalanan di Coat-ceng-kok
berliku-liku dan ruwet, dia kesasar kian kemari dan akhirnya sampai di tebing
curam itu dan kebetulan mempergoki Kongsun Ci juga sembunyi disitu.
Dengan sembunyi disitu Kongsun Ci sedang menunggu kesempatan agar dapat membunuh
Kiu Jian-jio untuk merebut kembali kedudukan Kokcu, sedangkan kedatangan Li
Bok-chiu ke situ hanya kebetulan.
Keduanya pernah bergebrak dan sama2 tahu lihaynya masing2, maka pertemuan ini
lantas menimbulkan pikiran yang sama pula akan bergabung untuk tujuan bersama,
setelah bicara sebentar ternyata kedua orang merasa cocok satu sama lain.
Usia Li Bok-chiu sebenarnya tidak muda lagi, tapi sejak kecil dia berlatih
Lwekang sehingga wajahnya masih halus dan cantik. Kongsun Ci telah gagal
mengawini Siao-liong-li, kemudian gagal pula menculik Wanyan Peng, kini bertemu
dengan Li Bok-chiu, kembali timbul pikirannya:
“Setelah kubunuh perempuan jahat she Kiu itu, biarlah kunikahi nona ini saja,
Baik wajahnya maupun ilmu silatnya adalah kelas pilihan, meski buta sebelah,
tapi sangat setimpal menjadi jodohku.”
Tak tahunya bahwa jiwa Li Bok-chiu yang jahat itu ternyata juga disertai cinta
yang suci, sebabnya dia banyak berbuat kejahatan juga akibat gagalnya
percintaan. Kini didengarnya cara bicara Kongsun Ci semakin tidak senonoh, diam2
ia menjadi marah. Tapi mengingat masih perlu mendapatkan obat penawar, terpaksa
ia melayani percakapan orang sekadarnya.
Begitulah Kongsun Ci lantas berkata pula: “Aku adalah Kokcu di sini, cara
membuat obat penawar bunga cinta tiada diketahui orang lain kecuali diriku ini.
Cuma membuatnya memerlukan waktu, air di tempat jauh tak dapat memadamkan api di
dekat sini. Untung obat itu masih tersisa satu biji di tempat kediamanku, tapi
sekarang dikangkangi perempuan jahat itu, terpaksa kita harus membinasakan dia,
habis itu apapun juga adalah milikmu.”
Kalimat ucapannya yang terakhir itu mengandung makna berganda, artinya tidak
cuma obat penawarnya saja akan Kuberikan padamu, bahkan kedudukan nyonya rumah
Coat-ceng-kok inipun akan menjadi bagianmu.
Bahwa di dunia ini hanya Kongsun Ci sendiri saja yang tahu cara membuat obat
penawar, hal ini memang tidak salah, Bahkan resep obat itu hanya dari ayah
diturunkan kepada anak dan tak mungkin diajarkan kepada orang luar, sekalipun
Kiu Jian-jio juga tidak tahu tentang resep obat itu, dia menyangka obat itu
adalah simpanan dari leluhur keluarga Kongsun dan tidak tahu kalau Kongsun Ci
masih menyimpan resepnya, sebaliknya mengenai sisa obat yang tinggal setengah
biji pada Kiu Jian-jio itu Kongsun Ci juga tidak tahu, disangkanya masih satu
biji.
Begitulah Li Bok-chiu menjadi ragu2, katanya kemudian: “Jika begitu kan percuma
saja omonganmu ini. Obat penawar berada di tangan isterimu dan isteri mu telah
menjadi musuhmu, umpamanya tidak sulit bagimu untuk membunuhnya tapi cara
bagaimana kau dapat memperoleh obatnya?”
Kongsun Ci terdiam sejenak, lalu berkata: “Li-sumoay, baru kenal kita lantas
cocok, demi menolongmu biar mati bagiku juga tidak sayang”
“Wah, aku harus berterima kasih padamu,” ujar Li Bok-chiu hambar.
“Aku mempunyai akal untuk rebut obat dari tangan perempuan jahat itu,” kata
Kongsun Ci pula. “Cuma ku harap engkau menyanggupi suatu permintaanku.”
Dengan tegas Li Bok-chiu menjawab: “Selama mengembara kian kemari di Kangouw,
belum pernah kuterima ancaman orang dengan persyaratan apapun juga tidak menjadi
soal. Aku Li Bok-chiu bukanlah manusia yang sudi mohon belas kasihan orang
lain.”
“Ah, Li-sumoay salah memahami maksudku.” cepat Kongsun Ci menjelaskan “maksudku
hanya sekedar berbuat sesuatu bagimu, mana aku berani mengancam segala, Cuma
untuk rebut obat itu rasanya harus mengorbankan jiwa puteri kandungku sebab
itulah mungkin ucapanku menjadi rada kaku.”
Tergetar hati Kongsun Lik-oh mendengar kalimat “harus mengorbankan jiwa puteri
kandungku!”
Li Bok-chiu juga merasa heran, ia menegas: “Memangnya obat penawar itu berada di
tangan puterimu?”
“Tidak, biarlah kukatakan terus terang padamu,” jawab Kongsun Ci “Watak
perempuan jahat itu teramat keras dan pemberang, obat penawar itu tentu
disimpannya di tempat yang dirahasiakan untuk memaksa dia menyerahkan obatnya
jelas sukar, jalan satu2nya harus dipancing dengan akal. Terhadap siapapun dia
tidak kenalampun, hanya puteri satunya itu masih dapat mempengaruhi pikirannya.
Maka nanti akan kupancing puteriku si Lik-oh kesini dan mendadak kau menawannya
serta dilemparkan ke semak2 bunga cinta. Dengan begitu terpaksa perempuan jahat
itu harus mengeluarkan obat untuk menolong jiwa puterinya, kesempatan itu lantas
kita gunakan untuk rebut obatnya.”
Sejenak kemudian ia menambahkan pula: “Cuma sayang obat ku hanya sisa satu biji
saja, kalau sudah diberikan padamu berarti jiwa puteriku itupun takkan
tertolong.”  Berkata sampai di sini tiba2 suaranya menjadi parau dan
mengucurkan air mata.
“Demi menyelamatkan jiwaku harus mengorbankan puterimu, kukira urusan ini
batalkan saja” kata Li Bok-chiu.
“Tidak, tidak, meski aku sayang mengorbankan dia, tapi aku lebih2 berat
kehilangan kau,” kata Kongsun Ci cepat.
Li Bok-chiu terdiam, ia merasa selain cara yang di usulkan Kongsun Ci ini memang
tiada jalan lain lagi.
“Kita tunggu saja di sini, lewat tengah malam nanti akan kupanggil puteriku
keluar, betapapun pintarnya tentu dia takkan menduga akan tipu muslihat ayahnya
ini,” kata Kongsun Ci pula.
Percakapan mereka itu dengan jelas dapat didengar oleh Kongsun Lik-oh, makin
mendengar makin takut hatinya. Tempo hari Kongsun Ci telah menjebloskan dia dan
Nyo Ko ke kolam buaya, maka dia sudah tahu sang ayah sama sekali tidak mempunyai
kasih sayang kepada puterinya sendiri, sekarang secara licik malah berkomplot
dengan seorang perempuan yang baru dikenalnya untuk mencelakai puterinya
sendiri, betapa keji hatinya sungguh melebihi binatang.
Memangnya Lik-oh sudah putus asa dan tidak ingin hidup lagi, tapi demi mendengar
muslihat keji yang sedang direncanakan kedua orang itu, dengan sendirinya timbul
pikirannya untuk melarikan diri. Untunglah sekitarnya batu karang belaka,
pelahan2 ia lantas melangkah mundur di bawah aling-batu karang sesudah agak jauh
barulah ia mempercepat tindakannya.
Sesudah jauh meninggalkan Coat-ceng hong, ia tahu tidak lama lagi ayahnya akan
datang mencarinya, maka ia tak berani pulang ke kamarnya, duduk dengan sedih di
atas batu karang, bulan sabit mengintip di tengah cakrawala, angin malam meniup
sepoi2, ia merasa hampa dan hdup ini sama sekali tidak ada artinya, Gumamya
sendiri:
“Memangnya aku tidak ingin hidup lagi, mengapa engkau merencanakan akal keji itu
untuk mencelakai diriku? Baiklah, jika kau ingin membunuh diriku boleh bunuh
saja. Tapi aneh juga buat apa aku melarikan diri?”
Se-konyong2 terkilas suatu pikiran dalam benak nya : “Meski keji sekali rencana
ayah ini, tapi akalnya ini juga sangat bagus, Aku memang sudah bertekad akan
membunuh dri, mengapa tidak kugunakan akal ini untuk menipu obat dari tangan ibu
untuk menyelamatkan jiwa Nyo-toako? jika mereka suami-isteri dapat diselamatkan
dan hidup bahagia betapapun mereka pasti akan berterima kasih kepadaku si nona
yang mencintai dia dengan setulus hati dan bernasib malang ini.”
Berpikir sampai di sini ia menjadi girang dan berduka pula, tapi semangatnya
lantas terbangkit, ia coba memandang sekelilingnya untuk mengetahui lebih jelas
dirinya berada di mana, lalu ia melangkah menuju ke kamar tidur sang ibu.
Ketika lewat di semak2 bunga cinta, dengan hati2 ia memetik dua tangkai besar
bunga itu dan di-bungkus dengan ikat pinggang agar duri bunga cinta tidak
mencocok tangannya. Setiba di luar kamar ibunya dengan suara pelahan ia
memanggil : “lbu, apakah engkau sudah tidur?”
“Ada urusan apa, anak Oh?” jawab Kiu Jian-jio di dalam kamarnya.
“lbu, o, ibu, aku… aku telah luka tercocok duri bunga cinta,” seru Lik-oh
dengan suara tergagap sambil merangkul tangkai bunga yang dibawanya itu.
Tanpa ampun lagi beribu2 duri bunga itu tercocok ke dalam kulit dagingnya.
Keruan sakitnya tidak kepalang, sekuatnya dia bertahan dan melepaskan ikat
pinggang yang membungkus tangkai bunga itu, lalu memanggil lagi: “O, ibu! Ibu!”
Kiu Jian-jio terkejut mendengar suara keluhan Lik-oh itu, cepat ia menyuruh
pelayan membuka kamar dan memayang Lik-oh ke dalam.
“Ditubuhku masih ada duri bunga, kalian jangan mendekat,” seru Lik-oh.
Kedua pelayan menjadi kaget dan membiarkan Lik-oh masuk sendiri ke dalam kamar
Kiu Jian-jio terkejut juga melihat wajah Lik-oh yang pucat, badan gemetar dan
dua tangkai bunga bergantungan di dadanya, cepat ia tanyai “Kenapa kau?”,
“Ayah… ayah…” seru Lik-oh terputus-putus, ia tahu sinar mata sang ibu sangat
lihay maka ia menunduk dan tak berani beradu pandang.
“Kau masih memanggilnya ayah? Memangnya kenapa bangsat tua itu?” kata Kiu
Jianjio dengan gusar.
“Dia .dia…”
“Coba angkat kepalamu,” bentak Kiu Jian-jio.
Waktu Lik-oh angkat kepalanya dan melihat sorot mata ibunya yang kereng itu,
tanpa terasa ia bergidik. Katanya dengan tergagap: “Tanpa sengaja
kupergoki….kupergoki dia sedang bicara dengan….dengan To-koh cantik yang
siang tadi mengacau ke sini itu, kudengar… kudengar…” sampai di sini ia
menjadi ragu2 untuk meneruskan, maklumlah dia tak pernah berdusta, kuatir isi
hatinya diketahui sang ibu, kembali ia menunduk lagi.
“Apa yang dibicarakan mereka?” Kiu Jian-jio menegas dengan tak sabar.
“Katanya mereka se…. senasib dan setanggungan, sama2…sama2 bermata satu
dan… dan sebab itupun matanya buta sebelah. Mereka… mereka sama memaki ibu
sebagai… sebagai perempuan jahat dan macam2 lagi, sungguh anak sangat…
sangat gemas.” sampai di sini ia lantas menangis terguguk.
“Jangan menangis,” kata Kiu Jian jio dengar gregetan.” Kemudian apa lagi yang
mereka katakan?”
“Tanpa sengaja anak menerbitkan suara sedikit dan diketahui mereka,” tutur
LiK-oh lebih lanjut “To-koh…. To-koh itu lantas menangkap diriku dan didorong
ke semak bunga cinta.”
Merasa suara Lik-oh itu rada kurang mantap, segera Kio Jian-jio membentak:
“Tidak benar, kau berdusta? sesungguhnya bagaimana? jangan kau membohongi aku.”
Lik-oh berkeringat dingin, cepat ia menjawab: “Anak tidak berdusta, bukankah
tubuhku ini ter-cocok oleh dini bunga?”
“Nada ucapanmu tidak tepat, sejak kecil kaupun begini bicaranya dan tak dapat
berdusta, masakah ibumu tidak kenal watakmu?”
Seketika tergerak pikiran Lik-oh, dengan nekat ia berkata pula: “Ya ibu, memang
benar aku telah berdusta padamu, Yang betul ayahlah yang mendorong diriku ke
semak2 bunga, dia marah padaku, katanya aku mengeloni engkau, membantu kau
melawan dia. Katanya aku lebih condong kepada ibu dan tidak sayang kepada ayah.”
Sebenarnya kata2 ini hanya karangan Lik-oh sendiri, namun Kiu Jian-jio sudah
kadung sangat benci pada suaminya, ucapan Lik-oh itu masuk diakal atau tidak
bukan soal baginya, yang penting adalah hal ini dengan jitu mengenai lubuk
hatinya. cepat ia pegang tangan anak perempuannya dan menghiburnya: “Jangan
susah anak Oh, biarlah ibu nanti melayani bangsat tua itu dan pasti akan
melampiaskan dendam kita ini.”
Lalu ia menyuruh pe layan mengambilkan gunting dan capitan untuk membuang
tangkai bunga serta mengeluarkan duri2 kecil yang masih melekat di tubuh Lik-oh
itu.
“lbu, anak sekali ini pasti takkan hidup Iagi.” kata Lik-oh dengan menangis
sedih.
“Jangan.” ujar Kiu Jian-jio, “Kita masih menyimpan setengah biji Coat-ceng-tan
dan untung belum diberikan kepada bangsat cilik she Nyo yang tidak berbudi itu,
setelah kau minum setengah biji obat ini, meski racun bunga tak dapat ditawarkan
seluruhnya, asalkan selanjutnya kau mendampingi ibumu dengan prihatin dan tidak
gubris lelaki busuk manapun juga, jangan sekali2 memikirkan mereka, maka
selamanya kaupun takkan menderita apa2″
Kiu Jian-jio sudah sakit hati kepada suaminya, Nyo Ko juga tidak mau menjadi
menantunya, sebab itulah dia membenci setiap lelaki, kalau puterinya tidak
menikah selama hidup akan kebetulan baginya malah.
Lik oh mengerut kening dan tidak menanggapi Maka Kiu Jian-jio lantas bertanya
pula: “Sekarang bangsat tua dan To-koh itu berada di mana?”
“Waktu anak merangkak keluar dari semak bunga, lalu lari ke sini tanpa menoleh,
bisa jadi mereka masih berada di sana,” kata Lik-oh.
Diam2 Kiu Jian-jio memperkirakan Kongsun Ci pasti akan dalang merebut
Coat-ceng-kok setelah mendapatkan – bala bantuan Li Bok-chiu.
Anak murid di lembah ini sebagian besar juga orang kepercayaannya, kalau keadaan
mendesak mungkin anak muridnya akan berpihak pula kepada Kong-sun Ci, sedangkan
dirinya sendiri lumpuh, yang lihay dan diandalkan cuma senjata rahasianya
melulu, yakni biji kurma.
Akan tetapi kalau Kongsun Ci sudah siap siaga, mungkin semprotan biji kurma
sukar lagi melukai dia, kalau dia membawa perisai, malahan senjata rahasia
sendiri akan mati kutu dan tak dapat berbuat apapun juga.
Melihat ibunya termenung dengan sinar mata berkilau, Lik oh menyangka orang itu
sedang me-nimbang ucapannya tadi benar atau tidak, kuatir ditanyai pula sehingga
rahasianya terbongkar maka selain dirinya akan tersiksa, usahanya untuk Nyo Ko
juga akan sia2 belaka. Teringat kepada Nyo Ko, seketika dadanya menjadi sakit,
racun bunga cinta lantas bekerja, tanpa terasa ia menjerit.
Cepat Kiu Jian-jio membelai rambutnya dan berkata: “Baiklah, mari kita pergi
mengambil Coat ceng tan.” – Segera ia tepuk tangan, empat pelayan lantas
menggotongnya dengan kursi keluar kamar.
Sejak perginya Nyo Ko, selama itu Lik-oh ingin sekali mengetahui di mana ibunya
menyimpan setengah biji Coat-ceng tan. Menurut dugaannya ibunya yang lumpuh dan
tidak leluasa gerak-geriknya itu tentu tidak mungkin menyimpan obat itu di
tempat2 yang sukar didatangi besar kemungkinan disimpan di dalam rumah.
Cuma menurut pengamatan-nya selama belasan hari ini, rasanya semua tempat sudah
pernah ditelitinya dan ternyata tiada sesuatu tanda yang dapat ditemukan Maka ia
menjadi heran ketika mendengar ibunya memerintahkan pelayan membawanya ke
ruangan pendopo.
Padahal ruangan besar itu adalah tempat yang terbuka dan sukar menyembunyikan
sesuatu, apalagi sekarang musuh tangguh sama berkumpul di sana dan tujuan
merekapun justeru ingin mendapatkan setengah obat biji itu, apakah mungkin obat
itu sengaja ditaruh di depan mata musuh dan membiarkan mereka mengambilnya
begitu saja?
Sementara itu pintu muka- belakang ruangan pendopo itu tertutup rapat dan dijaga
oleh anak murid berseragam hijau dengan jaring berkait, melihat datangnya Kiu
Jian-jio, serentak mereka memberi hormat.
Murid yang menjadi pemimpin barisan lantas berkata: “Musuh tidak kelihatan
bergerak, agaknya mereka sudah mati kutu dan segera dapat ditawan.”
Kiu Jian-jio mendengus saja dan anggap ucapan anak buahnya itu terlalu gegabah,
musuh2 tangguh yang terkurung di dalam ruangan itu adalah tokoh2 kelas tinggi,
mana mungkin mereka menyerah begitu saja untuk ditawan. Segera ia memerintahkan
pintu dibuka, ber-bondong2 rombongan Kiu Jian-jio lantas masuk ke dalam
dilindungi dengan dua barisan jaring berkait di kanan-kiri, Terlihatlah It-teng
Taysu, Ui Yong, Bu Sam-thong, Yalu Ce dan lain2 sama berduduk di pojok ruangan
sana sedang bersemadi.
Setelah, kursinya diturunkan Kiu Jian-jio berseru. “Kecuali Ui Yong dan anak2nya
bertiga, yang lain takkan kuusut kesalahannya mereka yang telah berani menerobos
ke lembah ini. Nah, kalian boleh pergi saja.”
“Kiu-kokcu,” kata Ui Yong dengan tersenyum. “Engkau sendiri sedang terancam
bencana, engkau tidak lekas mencari jalan untuk menyelamatkan diri, tapi malah
beromong besar, sungguh lucu.”
Kiu Jian-jio terkesiap, ia heran darimana Ui Yong mengetahui dirinya sedang
terancam bahaya? Apakah bangsat tua itu sudah pulang lagi ke sini dan diketahui
olehnya? Namun dia tenang2 saja dan menjawab: “Ada bencana atau ada rejeki
sukarlah diketahui sebelum tiba saatnya, Apalagi diriku sudah cacat begini.
kenapa aku harus takut kepada bencana apapun juga?”
Padahal Ui Yong tidak tahu tentang halnya Kongsun Ci, hanya dari gerak – gerik
dan air muka Kiu Jian-jio dapat dilihatnya ada sesuatu urusan genting yang
sedang dihadapinya, maka ia menduga di lembah ini pasti sedang terjadi keributan
apa2.
Bantahan Kiu Jian-jio itu semakin memperkuat dugaan itu, segera ia berkata pula:
“Kiu-kokcu, kakakmu meninggal karena terperosot sendiri ke jurang ketika dia
menunggang rajawali piaraanku dan sama sekali bukan aku yang membunuhnya, Kalau
kau tetap dendam mengenai soal ini, baiklah aku akan menerima batas dendammu,
silakan kau menimpuk diriku dengan tiga biji kurma dan sama sekali aku takkan
menghindar. Cuma setelah seranganmu nanti, apakah aku akan mati atau tetap
hidup, kau harus berjanji akan memberikan obat penawar untuk menyembuhkan Nyo
Ko. jika beruntung aku tidak mati,maka bereslah segala urusan, andaikan mati,
maka kawan2 yang hadir di sini juga takkan menyesal dan dendam, mereka tetap
akan membantu kau mengatasi kesukaranmu untuk menghadapi musuh dari dalam. Nah,
bagaimana usulku ini, kau terima atau tidak?”
Syarat yang dikemukakan Ui Yong ini boleh dikatakan sangat menguntungkan Kiu
Jian jio. Maklumlah, selain senjata rahasia biji kurma yang diandalkan itu,
sesungguhnya Kiu Jian-jio tidak mempunyai kemampuan lain untuk menghadapi musuh,
sedangkan “musuh dari dalam” yang dikatakan Ui Yong lebih2 kena di hatinya. Maka
ia lantas menjawab “Sebagai ketua Kay-pang. tentu ucapanmu dapat dipercaya, jadi
kau rela kuserang dengan tiga biji kurma tanpa mengelak dan menghindar serta
tidak akan menangkisnya dengan senjata, begitu bukan?”
Belum lagi Ui Yong menjawab, cepat Kwe Hu menyela: “lbuku cuma menyatakan takkan
mengelak dan menghindar tapi tidak mengatakan takkan menangkis dengan senjata.”
Namun Ui Yong lantas menyambung dengan tersenyum: “Agar Kiu-kokcu dapat
melampiaskan rasa dendamnya, biarlah akupun takkan menangkis dengan senjata.” .
“Mana boleh jadi, ibu!” seru Kwe Hu. Rupa-nya dia benar2 telah merasakan betapa
lihaynya semprotan biji kurma nenek itu ketika pedangnya disemprot patah tadi.
Kalau ibunya benar2 tidak mengelak dan tidak menghindar tubuhnya yang terdiri
dari kulit-daging itu masa sanggup menahannya.
Namun Ui Yong menganggap Nyo Ko besar jasanya bagi keluarga Kwe, kini anak muda
itu keracunan dan sukar disembuhkan, kalau tidak berdaya agar nenek she Kiu ini
menyerahkan obat penawarnya, selama hidup keluarga Kwe berarti tetap utang budi
kepada Nyo Ko.
Sudah tentu biji kurma si nenek ini senjata rahasia maha lihay di dunia ini,
jelas sangat berbahaya jika membiarkan tubuh sendiri diserang tiga kali, sedikit
meleng saja jiwa pasti melayang, Tapi kalau tidak menyerempet bahaya, cara
bagaimana nenek ini mau memberikan obatnya?
Perlu diketahui bahwa ketika Ui Yong mengemukakan usulnya itu sebelumnya dia
sudah menimbang dengan masak2 keadaan Kiu Jian-jio serta sifat2nya, selain harus
melenyapkan dendam kesumat nenek itu, diberi janji lagi akan bantu dia mengatasi
ancaman bahaya dari dalam, sedangkan serangan tiga biji kurma adalah ilmu khas
satu2nya yang bisa digunakannya membinasakan lawan, sekalipun Kiu Jian-jio
sendiri juga tidak dapat mengemukakan cara yang lebih baik daripada usul Ui Yong
ini.
Tapi dasar Kiu jian-jio memang suka curiga, ia merasa tawaran Ui Yong ini
teramat menguntungkan pihaknya dan rasanya tidak masuk akal, maka dengan suara
parau ia menegas: “Kau adalah musuhku, tapi kau kuserang dengan tiga biji kurma,
sebenarnya tipu muslihat apa dibalik usulmu ini?”
Ui Yong sengaja mendekati dan membisiki: “Di sini banyak orang, mungkin tidak
sedikit orang yang bermaksud jahat padamu, betapapun kau harus ber-jaga2.”
Tanpa terasa Kiu Jian-jio mengerling anak buahnya, ia pikir orang2 ini memang
sebagian besar adalah orangnya tua bangka Kongsun Ci dan harus waspada terhadap
kemungkinan. Karena itu iapun mengangguk atas bisikan Ui Yong itu.
Lalu Ui Yong mendesis lagi: “Sebentar lagi lawanmu pasti akan turun tangan, aku
sendiripun menyadari berada di tempat yang berbahaya, karena itu sengketa kita
harus cepat diselesaikan tak perduli diriku akan mati atau hidup yang terang
nanti be ramai2 kita dapat menghadapi musuh bersama. Selain itu si Nyo Ko telah
banyak menanam budi padaku, sekalipun jiwaku melayang baginya juga harus
kudapatkan Coat-ceng-tan. Orang hidup harus tahu membalas budi, kalau tidak,
lalu apa bedanya antara manusia dan binatang?”
Habis berkata ia terus melangkah mundur kembali dan mengawasi gerak-gerik Kiu
Jian-jio.
Betapapun tipis budi Kiu Jian jio, namun ucapan Nyo Ko tentang “manusia yang
tidak tahu balas budi tiada bedanya seperti binatang” mau-tak-mau menyentuh juga
hati nuraninya, pikirnya: “Memang benar juga, kalau saja aku tidak ditolong si
Nyo Ko itu, saat ini aku pasti masih terasing dan tersiksa di kolam buaya di
bawah tanah itu.
Tapi pikiran itu hanya timbul sekilas saja lantas lenyap pula, serentak timbul
lagi pikiran jahatnya, katanya dengan dingin: “Hm, betapapun kau putar lidah
juga takkan mampu mempengaruhi hati nenekmu yang yang sekeras baja ini. Hayolah
mulai kau menyingkir duIu, dia harus rasakan tiga biji buah kurmaku.”
“Baiklah, akan kuterima seranganmu tiga kali, matipun aku tidak menyesal,” kata
Ui Yong sambil menggeser ke tengah ruangan dan berjarak sepuluh meter dari Kiu
Jian-jio? “Nah, silahkan mulai!”
Meski Bu Sam-thong dan lain2 cukup kenal kepintaran Ui Yong banyak tipu akalnya,
tapi betapa lihaynya senjata rahasia Kiu Jian-jio juga telah mereka saksikan
sendiri. Kini tanpa senjata Ui Yong hanya berdiri menunggu serangan saja betapa
hal ini membuat mereka ikut kebatkebit.
Yang paling kuatir adalah Kwe Hu, ia coba menarik lengan baju sang ibu dan
membisikinya: “lbu, kita cari suatu tempat sepi dan engkau dapat memakai kaos
kutang duri landak yang kupakai ini, dengan demikian tentu takkan takut lagi
kepada senjata rahasia musuh.”
“Jangan kuatir, boleh kau saksikan kelihayan ibumu nanti,” ujar Ui Yong dengan
tersenyum.
“Awas….” mendadak Kiu Jian-jio membentak belum lenyap suaranya, secepat kilat
satu biji kurma telah menyamber ke perut Ui Yong.
Biji buah kurma itu sangat kecil, akan tetapi daya sambernya begitu keras dan
membawa suara mendenging. Kontan Ui Yong menjerit satu kali sambil memegangi
perutnya dan setengah menungging.
Keruan Bu Sam-thong, Kwe Hu dan lain2nya terkejut, sebelum mereka sempat
bertindak, suara mendenging berbangkit puIa, biji kurma kedua telah menyamber ke
dada Ui Yong, Kembali Ui Yong menjerit dan mundur beberapa tindak dengan
terhuyung se-akan2 roboh.
Melihat Ui Yong benar2 menepati janji dan tidak berkelit serta menghindar kedua
biji kurma yang disemburkan juga tepat mengenai bagian mematikan di tubuh
sasarannya, begitu keras tenaga semprotan biji kurma itu, biasanya batu karang
keras juga dapat ditembusnya, apalagi cuma tubuh manusia, Namun Ui Yong hanya
sempoyongan saja meski jelas sudah terluka, tampaknya sekuatnya ingin bertahan
agar mampu diserang lagi satu kali.
Diam2 Kiu Jian-jio terkesiap, baru sekarang dia mengakui Ui Yong yang tampaknya
lemah gemulai itu ternyata memiliki kepandaian sejati dan benar2 seorang tokoh
persilatan terkemuka. Namun iapun bergirang melihat sasarannya sudah terkena dua
biji buah kurma dan jiwanya pasti suka dipertahankan itu berarti sakit hati
kematian kakaknya akan terbalas.
Segera biji buah kurma ketiga tersembur lagi dari mulutnya, Sekali ini yang
diarah adalah tenggorokan Ui Yong, asalkan kena sasarannya, seketika musuh itu
akan binasa.
Bahwa perut dan dada Ui Yong jelas sudah biji buah kurma yang disemprotkan Kiu
Jian-jio itu apakah benar Ui Yong yang pintar dan cerdik itu, akan dilukai
begitu taja? Rupanya persoalannya tidak begitu sederhana, sebelumnya Ui Yong
sudah mempunyai daya upaya ketika menyatakan siap di terang tiga kali dengan
biji kurma, Kiranya diam2 Ui Yong telah menyembunyikan pedang patah Kwe Hu itu
di dalam lengan bajunya, ketika biji kurma musuh tiba, sedikit angkat lengannya
dapatlah ia menutupi tempat yang diarah biji kurma dengan ujung pedang patah.
Cuma untuk melenyapkan suara benturan, maka ia sengaja menjerit agar orang lain
tidak memperhatikan suara benturan biji kurma dan pedang patah. Ternyata akal Ui
Yong benar2 dapat mengelabui Kiu Jian-jio, bahkan juga Bu Sam-thong dan lain2.
Tapi sebabnya Ui Yong tidak sampai terluka sesungguhnya juga sebagian besar
berkat kepandaian ilmu silatnya di samping sebagian kemujurannya.
Cuma dia sengaja berlagak terluka parah, dengan demikian dapat mengurangi rasa
gusar Kiu Jian-jio di samping menjaga kehormatannya sebagai Kokcu. Tapi sekarang
biji kurma ketiga itu menyamber tenggorokannya, kalau angkat lengan baju dan
menangisnya dengan kutungan pedang yang tersembunyi di balik lengan baju itu
tentu rahasianya ini akan diketahui Kiu Jian-jio dan itu berarti dirinya telah
melanggar janji.
Dalam keadaan kepepet, terpaksa ia menyerempet bahaya, kedua dengkul sedikit
bertekuk sehingga biji kurma yang menyambar. tiba itu tepat tertuju mulutnya,
Sekuatnya Ui Yong menghimpun tenaga murni di dalam perut, sekali mulutnya
terbuka, segera ia mendahului menyemburkan hawa murni, ia tahu samberan biji
kurma lawan yang hebat itu juga bergantung pada hawa murni yang disemburkan Kiu
Jian-jio itu, kalau hawa lawan hawa, jarak musuh lebih jauh dan dirinya lebih
dekat, hal ini sangat menguntungkan pihaknya, sekalipun biji kurma itu tidak
disembur jatuh sedikitnya juga akan mengurangi daya luncurnya.
Tak tahunya selama ber-tahun2 Kiu Jian-jio terkurung di gua bawah tanah, karena
kelumpuhan anggota badan, setiap hari dia cuma berlatih ilmu menyembur biji
kurma itu tanpa terganggu urusan lain, maka daya bidiknya menjadi kuat luar
biasa, sedangkan Ui Yong sudah cukup banyak melahirkan, mesti melayani suami dan
mendidik murid, dengan sendirinya kekuatannya tidak sehebat Kiu Jian-jio itu.
Sebab itulah ketika hawa murni disemburkan daya luncur biji kurma itu memang
teralang sedikit hingga rada lambat, namun kekuatan menyambernya masih tetap
dahsyat.
Keruan Ui Yong terkesiap, dalam pada itu Biji kurma itu sudah menyambar tiba di
depan bibirnya, dalam detik yang menentukan ini,tiada jalan lain terpaksa ia
membuka mulut, biji kurma itu digigit-nya mentah2. Tentu saja giginya tergetar
kesakitan dan tergetar mundur dua- tiga tindak.
Kalau tadi dia berpura2 tergetar mundur, sekali ini dia benar tergetar mundur
karena daya luncur senjata rahasia yang dahsyat itu. Untung juga dia dapat
bertindak menurut keadaan dan cepat luar biasa, kalau tidak beberapa giginya
pasti akan rontok tergetar oleh biji kurma yang lihay itu.
Semua orang sama menjerit, serentak merekapun merubung maju. Ketika Ui Yong
mendongak, “berr”, biji kurma yang digigitnya itu disemprotkan ke atas dan
menancap di belandar, lalu katanya dengan mengernyit kening: “Kiu-kokcu, setelah
menerima tiga kali seranganmu ini, jiwaku sudah mendekat ajalnya, hendak lah kau
menepati janji dan memberi obatnya.”
Kiu Jian-jio juga kaget melihat Ui Yong mampu mengigit biji kurmanya yang
menyamber dengan dahsyat itu. ia melirik Lik-oh dan membatin:
“Anakku sendiri terkena racun bunga cinta itu, jangankan si Nyo Ko menolak
mengawini anakku, sekalipun dia menjadi menantuku juga setengah biji obat ini
takkan kuberikan padanya.”
Padahal dengan jelas kedua biji buah kurma yang disemburkan itu tepat mengenai
tubuh Ui Yong, mengapa dia tidak roboh. Namun janji sudah diberikan dan didengar
orang banyak, betapa dirinya tidak boleh ingkar janji, Tapi segera ia mendapat
akal, katanya: “Kwe-hujin, meski kita berdua sama2 perempuan, tapi setiap
tindakan, kita harus dapat dipercaya sebagaimana kaum lelaki. Kau telah menerima
tiga kali seranganku, sungguh aku sangat kagum, obat akan kuberikan padamu, cuma
sebentar nanti aku ada urusan lagi, mohon kalian suka memberi bantuan.”
Kwe Hu menyangka ibunya benar2 terkena senjata rahasia orang, segera ia
berteriak: ” jika ibuku terluka, be-rama2 kami pasti akan melabrak kau.”  Habis
ini ia terus, bertanya pada ibunya: “Bagaimana, tubuh ibu yang terkena serangan
itu?”
Ui Yong tidak menjawab, sebaliknya ia berkata kepada Kiu Jian-jio: “Ucapan anak
muda, hendaknya Kokcu jangan hiraukan. Betapapun siaumoay pasti akan pegang
janji dan tentu akan membantu Kokcu menghalau musuh, sekarang mohon memberikan
obatnya.”
Suara Ui Yong itu nyaring dan bertenaga, sama sekali tidak menyerupai orang yang
terluka dalam, maka legalah hati Bu Sam-thong dan lain2, Hal ini juga dapat
dilihat Kiu Jian-jio, ia menjadi ragu2, pikirnya: “Dia memiliki kemampuan
sehebat ini, andaikan aku hendak ingkar janji juga tidak mudah, terpaksa harus
kuhadapi dengan muslihat.”
“Baiklah,” demikian kata Kiu Jian-jio kemudian. Lalu ia berpaling dan memanggil
puterinya: “Anak Oh, coba sini, ingin kukatakan sesuatu.”
Selama hidup Ui Yong sudah banyak menghadapi manusia2 licik dan licin, sorot
mata Kiu Jian-jio yang bertingkah itu tentu saja tak terlolos dari
pengamatannya, ia tahu orang pasti tidak mau menyerahkan obatnya begitu saja,
cuma cara bagaimana orang akan memberi alasan, seketika ia belum dapat
menerkanya.
Didengarnya Kiu Jian-jio sedang berkata kepada Lik-Oh: “Coba buka ubin di depan
sana, ubin kelima dihitung mulai dari depanku ini.”
Lik-Oh sangat heran, apakah mungkin Coat-ceng-tan itu disembunyikan di bawah
ubin? Ui Yong lantas paham urusannya dan diam2 memuji kecerdikan Kiu Jian-jio,
Betapa berharganya Coat-ceng-tan itu sudah jelas karena tidak sedikit orang yang
sedang diincarnya.
Kalau obat itu disembunyikan di tempat yang setiap hari didatangi orang, hal ini
justeru takkan terduga oleh siapapun juga, selain itu obat yang tersimpan di
bawah ubin ini pastilah obat tulen, tidak mungkin Kiu Jian-jio menyembunyikan
obat palsu di situ sebab sebelumnya takkan diketahui bahwa persoalannya akan
berkembang seperti sekarang ini, kalau Kiu Jian-jio menyuruh orang mengambil
obat ke kamarnya, betapapun Ui Yong sukar memastikan apakah obat itu memang
tulen atau palsu. Tapi sekarang obat itu dikeluarkan di depan orang banyak, maka
ketulenan obat itu tidak perlu disangsikan lagi.
Begitulah setelah menghitung sampai ubin kelima, Lik-oh lantas mengeluarkan
sebilah belati dan menyungkil ubin tersebut, dibawah ubin hanya pasir campur
kapur belaka dan tiada sesuatu tanda yang aneh.
“Tempat penyimpanan obat itu sangat dirahasiakan dan tidak boleh diketahui orang
luar, anak Oh, coba kemari, ingin kubisiki kau, K kata Kiu Jian-jio pula.
Segera Ui Yong mengetahui akal bulus Kiu Jian-jio itu, tentu ada sesuatu
muslihat yang akan diaturnya, Segera ia berlagak menjerit sakit sambil
menungging, ia pura2 kesakitan agar mengurangi kewaspadaan Kiu Jian-jio, dengan
begitu akan mudah meraba maksud tujuannya yang sesungguhnya.
Tak terduga bahwa Kiu Jian-jio juga sudah memikirkan hal ini, ia sengaja
membisiki Lik-oh, dengan suara lirih, biarpun Ui Yong mengikuti dengan penuh
perhatian juga cuma terdengar kata2, “Coat-ceng-tan itu berada di bawah ubin”,
selain itu tiada terdengar apa2 lagi.
Tentu saja kata2 yang didengarnya itu tidak mengherankan dia karena sebelumnya
sudah diketahui tempat penyimpanan obat itu, cuma sesudah kalimat itu, lalu
bibir Kiu Jian jio hanya kelihatan bergerak sedikit, suaranya teramat lirih dan
tidak terdengar Tertampak Lik-oh mengernyitkan kening dan ber-ulang2 mengangguk.
Selagi gelisah menghadapi detik yang gawat ini” tiba2 terdengar It-teng Taysu
berseru: “Coba ke sini, Yong-ji, ingin kuperiksa keadaan lukamu?”
Waktu Ui Yong berpaling, dilihatnya It-teng berduduk di pojok sana dengan wajah
penuh prihatin ia pikir setelah paderi agung itu memegang nadinya tentu akan
tahu dirinya sama sekali tidak terluka Segera ia mendekat ke sana dan
mengulurkan tangannya.
Sambil memegang nadi Ui Yong, pelahan It-teng Taysu menyebut “O-mi-to-hud ….
kata si nenek O-mi to-hud …. bahwa di situ ada dua botol… O-mi-to-hud botol
sebelah timur berisi obat tulen… O mi-to-hud… botol sebelah barat berisi
obat palsu dan O mi-to-hud… ia suruh puterinya mengambil obat palsu untukmu…
0-mi-to-hud” Waktu menyebut 0-mi-to-hud suaranya sengaja dikeraskan, tapi ketika
mengatakan soal obat itu suaranya sengaja dilirihkan hingga hampir tak
terdengar. Betapa cerdiknya Ui Yong, begitu mendengar kalimat “kata si nenck”
segera ia paham maksudnya.
Rupanya Lwekang It-teng Taysu sudah mencapai tingkatan tertinggi mata telinganya
jauh lebih tajam daripada orang lain, Maka kata2 Kiu Jian- jio yang dibisikkan
kepada puterinya itu dapat diikuti It-teng Taysu dengan jelas, ia tahu obat itu
menyangkut keselamatan jiwa Nyo Ko, maka lantas diberitahukannya kepada Ui Yong.
Sudah tentu Kiu Jian-jio tidak menduga bahwa rahasianya itu dapat diketahui oleh
lawan, disangkanya Hwesio tua itu benar2 lagi memeriksa keadaan- luka Ui Yong.
Dalam pada itu, setelah mendengarkan pesan sang ibu, kemudian Kongsun Lik-oh
mulai mengeruk tanah di bawah ubin yang dicungkilnya tadi, benar saja tangannya
menyentuh dua buah botol kecil di situ, Diam2 sedih perasaannya, ia sudah
bertekad akan mengambil obat yang tulen untuk menolong Nyo Ko, hanya usahanya
yang baik ini entah diketahui tidak oleh anak muda itu.
Segera ia keluarkan botol obat yang sebelah kanan dan berseru. “lnilah
Coat-ceng-tan, ibu!” Karena dia yang merogoh tanah di bawah ubin itu maka hanya
dia sendiri yang tahu bahwa yang di ambilnya itu adalah botol sebelah kanan yang
berisi obat tulen, sedangkan Kiu Jian-jio dan Ui Yong mengira botol yang
dikeluarkan itu adalah botol sebelah kiri.
Baik botol yang berisi obat tulen maupun botol yang berisi obat palsu berbentuk
dan berwarna putih porselen sama, setengah biji obat yang terisi itu juga
serupa, kalau Kiu Jian-jio tidak mencobanya dengan lidah juga sukar membedakan
tulen atau palsu.
Menurut keyakinan Kiu Jian-jio, betapapun Kongsun Lik-oh pasti akan mengeluarkan
botol berisi obat palsu untuk Nyo Ko dan obat tulen akan ditinggalkan untuk
menyelamatkan dirinya senditi. Karena jiwanya yang jahat, ia nilai orang lain
seperti dirinya sendiri, Sama sekali tak dipahaminya bahwa di dunia ini ada
orang yang rela mengorbankan diri sendiri untuk menolong orang lain.
“Berikan obat itu kepada Kwe-hujin,” demikian kata Kiu-jian-jio.
Kongsun Lik-oh mengiakan sambil mendekati Ui Yong. Lebih dulu Ui Yong memberi
hormat kepada Kiu-Jian-jio dan mengucapkan terima kasih. Di dalam hati ia pikir
setelah mengetahui tempat obat tulen itu disimpan, tentu tidak sukar untuk
mencurinya nanti.
Selagi dia hendak menerima botol obat dari Lik-oh, se-konyong2 atap rumah
berbangkit suara gemuruh disertai hamburan debu pasir, seketika atap rumah
berlubang dan dari atas udara melompat turun seorang, serentak botol obat yang
dipegang Kongsun Lik-oh terus direbutnya.
“Ayah!” Lik-oh menjerit kaget laksana orang melihat hantu di siang bolong.
Melihat perubahan air muka Kongsun Lik-oh yang kaget dan cemas itu, Ui Yong
menjadi terkesiap pikirnya: “Jelas obat yang direbut Kongsun Ci itu adalah
palsu, mengapa ini perlu merasa cemas?”
Pada saat itulah pintu gerbang ruangan pendopo itupun bergemuruh didobrak orang
sehingga api lilin ikut bergetar dan menambah seramnya suasana, setelah
terdengar lagi suara “blang-blang” dua kaii, palang pintu mendadak patah dan
terpental hingga merusak dua buah bangku porselen, menyusul daun pintu lantas
terbentang dan masuklah seorang lelaki dan 3 perempuan.
Yang lelaki adalah Nyo Ko dan yang perempuan adalah Siao-Iiong-li, Thia Eng dan
Liok Bu-siang.
“Nyo-toato, .”. .” tanpa terasa Lik-oh berseru menyongsong kedatangan Nyo Ko,
tapi segera ia merasa kurang pantas tindakannya itu dan urung bicara lebih
lanjut, langkahnya juga lantas berhenti.
Sejak tadi Ui Yong- terus memperhatikan sikap dan mimik wajah Kongsun Lik-oh,
dari tatapan si nona terhadap Nyo Ko yang penuh rasa cinta serta kuatir itu,
segera hati Ui Vong tergerak, pahamlah dia duduknya perkara, Pikirnya: “Ai,
sudah menjadi ibu tiga anak masakah belum kupahami perasaan anak gadis, ibu nona
Kongsun itu menyuruh dia memberikan obat palsu kepadaku, tapi dia kesemsem pada
Ko ji, maka obat yang dia serahkan ini adalah obat tulen, Jadi obat yang baru
direbut si tua bangka Kongsun Ci itu adalah Coat-ceng tan asli, tentu saja nona
itu sangat cemas dan bingung”
Kiranya waktu Nyo Ko dan Siao-liong-li hendak kembali ke ruangan pendopo,
mendadak mereka bertemu dengan Thia Eng dan Liok Bu-siang. Melihat Thia Eng yang
manis itu sangat lemah Iembut, Siao-liong-li menjadi sangat suka padanya,segera
mereka terlibat dalam percakapan yang mengasyikkan, sedangkan Liok Bu-siang
lantas ngobrol dengan Nyo Ko tentang pertarungannya dengan Kwe Hu tadi serta
bercerita cara bagaimana dia telah meng-olok2 Kwe Hu dan Thia Eng telah
mengalahkannya.
Sifat Liok Bu-siang periang dan lincah, sejak kenal Nyo Ko, walaupun diam2 benih
cintanya ber-semi, tapi mulutnya selalu menyebut Nyo Ko sebagai “si Tolol”
sebaliknya Nyo Ko juga suka berkelakar, iapun tetap menggoda Bu-siang dengan
sebutan “bini cilik”, Mereka mengobrol dengan gembira, sedangkan Siao-liong-li
dan Thia Eng yang memang pendiam hanya bicara sebentar saja lantas kehabisan
bahan cerita.
“Nyo toako, bagaimana keadaanmu sekarang?” sela Thia Eng suatu ketika.
“O, tidak apa2,” jawab Nyo Ko. “Kwe-hujin banyak tipu akalnya, tentu beliau
dapat mencarikan obat mujarab bagiku. Yang kukuatirkan justeru adalah lukanya.”
Sambil berkata iapun menuding Siao-liong-li..
Thia Eng dan Bu-siang sama terkejut dan tanya berbareng: “He, jadi Liong cici
juga terluka? Mengapa kami tidak melihat sesuatu tanda apa2″
“Ah, tidak apa2,” ujar SiaoIiong-li dengan tersenyum, “Dengan tenaga dalam
kutahan kadar racunnya agar tidak bekerta, dalam beberapa hari saja kukira tidak
beralangan.”
“Racun apakah? Memangnya juga racun bunga cinta- itu?” tanya Busiang.
“Bukan,” jawab Siao iiong-li, “racun Pengpok-gin-ciam Li-suciku.”
“O, kiranya perbuatan si iblis Li Bok-chiu lagi,” kata Bu-siang. “Nyo-toako,
bukankah engkau pernah membaca kitab pusakanya mengenai lima macam racun paling
jahat itu? Biarpun lihay racun jarumnya kan tidak sulit untuk disembuhkan?”
Nyo Ko menghela napas, katanya: “Tapi kadar racun jarum itu sudah meresap ke ulu
hati dan sukar disembuhkan dengan pengobatan biasa.” Lalu iapun menceritakan
cara bagaimana dia sedang mengobati Siao-liong-li dan mendadak Kwe Hu datang dan
keliru menyerangnya dengan jarum berbisa itu.
Dengan gemas Bu siang menghantam batu dengan telapak tangannya dan berseru:
“Kembali perbuatan anak she Kwe yang sok menang sendiri itu, Piauci, betapapun
kita harus bikin perhitungan dengan dia, Memangnya kenapa kalau ayah-ibunya
adalah pendekar besar jaman kini?”
“Urusan inipun tak dapat menyalahkan dia, malahan berbeda dengan terbuntungnya
lengannya,” kata Siao-1iong-1i. “Nanti kalau paderi sakti Thian-tiok itu sudah
mendusin, beliau pasti mampu mengobati diriku.”
“He, siapakah paderi Thian-tiok yang kau maksud? Mengapa mesti menunggu dia
mendusin? Apakah dia sedang tidur?” tanya Bu-siang heran.
“Ya, katakanlah dia sedang “tidur, harus tidur tiga hari tiga malam,” ujar Nyo
Ko dengan ter-senyum, ia kuatir rahasia paderi Thian-tiok yang menggunakan tubuh
sendiri sebagai kelinci percobaan untuk menyelidiki kadar racun bunga cinta
didengar musuh, maka ia pikir urusan ini belum perlu diceritakan kepada
Bu-siang.
Pada saat itulah tiba2 dari kejauhan sana ada suara tindakan orang. Cepat Nyo Ko
mendesis: “Ssst, jangan bersuara ada orang datang-”
Ucapan Nyo Ko sangat lirih, tapi orang di kejauhan itu agaknya juga sangat tajam
pendengarannya, seketika langkahnya juga berhenti Selang sejenak barulah
terdengar pula suara tindaknya, cuma sekarang telah berubah arah, yang dituju
adalah tempat sembunyi paderi Thian-tiok dan Cu Cu-Iiu itu.
“Wah, celakai Musuh hendak merunduk Cu susiok berdua,” kata Siao-liong-li dengan
suara tertahan.
“Ssst, jangan bersuara!” desis Nyo Ko. “Coba kita kuntit dia.”
Pada saat itu juga tiba2 semak2 pohon di belakang mereka ada suara kresekan
pelahan, agaknya ada orang lagi sembunyi di situ.
“Di mana2 ada tikus dan celurut!” ujar Bu-siang sambil pungut sepotong batu
kecil terus disambitkan ke tempat suara herkeresekan itu. Tak terduga batu yang
jatuh ke tengah2 semak pohon itu ternyata tidak menerbitkan suara, jelas karena
ditangkap orang dengan tangan.
“Piauci, coba kita periksa siapa yang sembunyi di situ?” ajak Bu-siang.
Sementara itu Nyo Ko dan Siao liong-li berdua sudah jauh berlari ke sana, cepat
Thia Eng menarik Bu-siang dan mendesis: “Marilah ikuti Nyo-toako saja, jalanan
di sini sangat ruwet, jangan sampai kita terpencar.”
Segera Bu-siang percepat langkahnya sambil berbisik: “Yang sembunyi di semak2
sana jangan2 Li Bok-cbiu.”
“Dari mana kau tahu?” tanya Thia Eng.
“Sejak kecil ku tinggal bersama dia, kukenal bau-nya,” tutur Bu-siang.
Thia Eng terkejut dan melangkah terlebih cepat, ia tahu mereka berdua sama
sekali bukan tandingan Li Bok chiu, namun iblis itu sudah keracunan duri bunga
cinta, diharap saja ajalnya sudah dekat.
Kaki Bu-siang pincang sebelah, kepandaian larinya jauh dibandingkan sang Piauci,
berkat bantuan Thia Eng barulah ia dapat menyusul di belakang Nyo Ko dan
Siao-liong-Ii. Di bawah cahaya bulan sabit yang remang2, tampaknya Nya Ko berdua
sedang menguntit seorang.
Orang itu berjalan melingkar ke sana dan membelok ke situ, agaknya sangat apal
jalanan di Coat-ceng-kok ini. Setelah berputar beberapa kali, mendadak orang itu
lenyap entah kemana.
Nyo Ko berdua lantas berhenti dan menunggu Thia Eng dan Bu-siang, sesudah dekat,
anak muda itu memberitahu: “Kongsun Ci telah pulang lagi ke sini, entah muslihat
keji apa yang hendak dilakukannya?”
Thia Eng berdua belum pernah kenal Kongsun Ci, maka tidak tahu seluk beluk
orang, sedangkan pikiran Siao-liong-Ii polos dan sederhana, dengan sendirinya
iapun tidak dapat menerka apa maksud tujuan manusia licin macam Kongsun Ci.
Setelah berpikir sejcnak, kemudian Nyo Ko berkata pula: “Entah bagaimana
Kwe-hujin dan It-teng Taysu sedang menghadapi Hwesio gila itu, marilah kita ke
sana melihatnya.”
Begitulah mereka lantas mencari jalan kembali ke pendopo itu, kira2 belasan
tombak, di luar pen-dopo, tiba2 terlibat bayangan orang berkelebat di atas
wuwungan, menyusul itu terdengarlah suara gemuruh yang keras, Kongsun Ci telah
membobol atap rumah dan melompat ke bawah.
“Celaka!” keluh Nyo Ko, ia kuatir di bawah lubang atap yang bobol itu oleh
Kongsun Ci telah dipasang jaring berkait untuk memancing dirinya masuk ke situ.
Karena itulah ia lantas keluarkan Hian-tiat-pokiam dan membobol pintu pendopo
dan menerjang masuk.
Begitu berada di dalam, dilihatnya tangan kiri Kongsun Ci sudah memegang sebuah
botol porselen kecil, tangan lain memutar golok menghadapi kerubutan orang
dengan sikap jumawa, rupanya Kongsun Ci bergirang telah berhasil merebut Coat
ceng-tan, kerubutan orang banyak itu dianggapnya soal kecil, andaikan kewalahan
juga dia yakin mampu melarikan diri.
Tapi sebelum ia angkat kaki, mendadak dilihatnya Nyo Ko membobol pintu dan
menerjang masuk, betapa lihaynya sungguh jauh berbeda dari pada ketika saling
bergebrak sebulan yang lalu, ia tidak berani menghadapi anak muda itu, segera ia
meloncat ke atas deagan maksud menerobos keluar melalui lubang atap yang
diboboinya tadi, ia pikir urusan paling penting sekarang adalah mengantar
Coatceng-tan kepada Li Bok-chiu, soal membunuh Kiu Jian-jio dan rebut kembali
Coat-ceng-kok adalah urusan lain hari dan tidak perlu ter-gesa2.
Namun baru tubuhnya mengapung ke atas, tahu2 Ui Yong telah menyamber pentung
bambunya yang dibuangnya tadi terus ikut meloncat ke atas, sekali pentungnya
berputar, segera ia sabet kedua kaki orang.
Kiu Jian-jio juga tidak tinggal diam. “Bangsat!” bentaknya murka, “ser-ser”,
susul menyusul dua biji buah kurma juga lantas disemburkan mengarah perut
Kongsun Ci.
Waktu Kongsun Ci melompat ke atas iapun sudah menduga bekas isterinya itu pasti
akan menyerangnya, maka cepat goloknya menyampuk jatuh satu biji buah kurma itu
dan daya loncatnya itu tetap mengapung ke atas, dalam pada itu dilihatnya biji
buah kurma kedua sudah menyamber tiba pula, sedangkan goloknya sudah disampukkan
dan belum sempat ditarik kembali untuk menangkis lagi.
Sebagian besar kepandaian Kongsun Ci adalah ajaran Kiu Jian-jio, apa lagi
sebelah matanya belum lama dibutakan istrinya itu, tentu saja ia terkejut
melihat serangan tiba pula. Dalam keadaan kepepet, agar perutnya tidak
beriubang, terpaksa ia miringkan tubuh dan membiarkan pahanya tersambit biji
kurma itu jika memang sukar dihindari pula.
Tak terduga cara Kiu Jian-jio menyemburkan biji kurmanya ini selain membawa gaya
yang indah juga amat keji tujuannya, tampaknya biji kurma itu menuju Kongsun Ci,
tapi ketika sudah dekat mendadak biji kurma itu berganti haluan dan menyambar ke
arah Ui Yong malah.
Sudah tentu siapapun tidak menyangka senjata rahasia yang sudah jelas menyambar
ke arah Kong-sun Ci itu mendadak bisa berubah sasaran, sampai orang yang maha
cerdik seperti Ui Yong juga sama sekali tidak menduganya, ketika tahu apa yang
terjadi dan ingin mengelak. namun sudah terlambat.
Untung juga Ui Yong dapat memberi reaksi yang cepat, waktu itu iapun teiapung di
udara, maka se-kuatnya ia bikin berat tubuhnya dan anjlok secepatnya ke bawah,
namun tidak urung biji kurma itupun menancap di bahu kanannya.
Meski berhasil mengelakkan tempat yang mematikan namun kekuatan sambitan Kiu
Jian-jio sungguh dahsyat, Ui Yong merasakan sekujur badannya tergetar, tangan
menjadi lemas, pentung bambu itupun jatuh ke lantai.
Sejak dia menjabat ketua Kaypang dan menerima pentung penggebuk anjing itu dari
Ang Jit-kong, walaupun tidak setiap pertempuran dimenangkan olehnya, tapi
pentung itu sampai terlepas dari cekalan boleh dikatakan baru pertama kali ini
terjadi
Melihat Ui Yong rada sempoyongan seperti terluka, Bu Sam-thong, Kwe Hu dan lain2
menyangka dia sengaja berbuat demikian, maka tidak menjadi kuatir seperti tadi
waktu dia pura2 terluka, Namun Nyo Ko dapat menyaksikan apa yang terjadi
se-sungguhnya, cepat ia memburu maju dan mengambilkan pentung bambu dan
diserahkan kembali kepada Ui Yong berbareng pedangnya yang berat itu terus
menabas ke kiri dengan membawa samberan angin yang dahsyat Belum lagi Kongsun Ci
sempat menggunakan goloknya, lebih dulu ia telah tergetar mundur tiga tindak.
Keruan Kongsun Ci terkejut, tak terpikir olehnya bahwa selang sebulan lebih saja
bocah she Nyo ini sudah buntung sebelah tangannya, namun ilmu silatnya ternyata
bertambah sepesat ini, Waktu ia melirik ke sana, dilihatnya air muka Kiu
Jian-jio putih pucat, jelas bekas isterinya itupun melengak kaget melihat ilmu
silat Nyo Ko yang hebat itu.
Sementara itu Kongsun Lik-oh berdiri diantara ayah dan ibu nya, biasanya dia
sangat takut kepada sang ayah, selamanya dia tak berani membantah sepatah-kata,
tapi sejak mendengar percakapan sang ayah dengan Li Bok-chiu di puncak gunung
itu, diam2 ia merasa sakit hati, ia pikir betapapun buasnya binatang juga tidak
makan anaknya sendiri, tapi sang ayah ternyata sampai hati mencelakai puterinya
sendiri demi seorang perempuan yang baru dikenalnya, terang tiada lagi perasaan
kasih sayang seorang ayah kepada anaknya.
Mengingat dirinya sudah bertekad untuk mati, rasa takutnya seketika lenyap,
segera ia mendekati Kongsun Ci selangkah dan berseru: “Ayah, dahulu kau telah
membikin cacat dan menjebloskan dia ke gua di bawah tanah, kekejian itu jarang
ada bandingannya di dunia ini. Malam ini di Coat-cenghong sana engkau telah
bicara apa dengan Li Bok chiu?”
Kongsun Ci terkesiap, dia bicara dengan Li Bok-chiu di tempat terpencil dan
sunyi sepi, sama sekali tak tersangka ada orang dapat mendengarnya. Biarpun dia
orang yang keji dan kejam, tapi merencanakan kejahatan terhadap puterinya
betapapun membuatnya kikuk, apalagi Lik-oh membongkar rahasianya itu di depan
umum, keruan air mukanya berubah, ia menjawab dengan tergagap: “Aku… aku tidak
bicara apa2″
“Engkau hendak mencelakai puterinya sendiri untuk membaiki seorang yang baru kau
kenal,” kata Lik-oh hambar, “Sebagai puterimu, kalau engkau menghendaki
kematianku sebenarnya juga tak kan kulawan. Tapi Coat-ceng-tan yang kau- ambil
itu sudah dijanjikan ibu akan diberikan padaku, sekarang kembalikan saja
padaku.”
Berbareng ia melangkah maju dan menyodorkan tangannya.
Cepat Kongsun Ci menarik tangan dan memasukkan botol kecil itu ke dalam bajunya,
lalu menjengek “Hm, kalian ibu dan anak lebih suka membela orang luar, yang satu
durhaka kepada suami, yang lain mengkhianati ayah sendiri, semuanya bukan
manusia baik2, biarlah sekarang takkan kurecoki kalian, kelak kalau datang
ganjaran setimpal barulah kalian tahu rasa.”
Habis berkata, begitu golok dan pedangnya saling bentur dan mengeluarkan suara
mendengung, segera ia menerjang keluar dengan langkah Iebar.
Nyo Ko tidak paham seIuk beluk damperatan Kongsun Lik-oh kepada ayahnya tadi,
tapi segera ia mengadang kepergian Kongsun Ci, lalu berkata kepada Lik-oh: “Nona
Kongsun, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
Mendengar ucapan anak muda ilu, serentak timbul rasa duka dan sesal diri dalam
benak Kongsun Lik-oh, pikirnya: “Soal usahaku dengan matian mengambilkan obat
baginya se kali2 jangan sampai diketahui olehnya. Kelak namanya akan termashur
di dunia ini dan pasti takkan ingat lagi kepada perempuan macam diriku yang
bernasib malang ini, buat apa membikin dia menyesal atas tindakanku ini?” – Maka
dengan suara pelahan ia menjawab:
“Apa yang hendak ditanyakan Nyo toako?”
“Baru saja kau mengatakan ayahmu hendak mencelakai kau demi membaiki seorang
perempuan yang baru dikenalnya, siapakah gerangan perempuan itu? Mengapa bisa
terjadi begitu, sudikah kau menjelaskan?” kata Nyo Ko.
“Perempuan itu ialah Li Bok-chiu, mengenai duduk perkaranya…” Lik-oh merandek,
lalu menyambung: “Meski aku diperlakukan secara begini oleh ayah, betapapun dia
adalah ayahku sendiri, urusan ini tidak pantas kuceritakan…”
“Anak Oh, hayo bicaralah!” mendadak Kiu Jian jio berteriak. “Kalau berani
berbuat, mengapa kau tidak berani bicara?”
Lik-oh menggeleng dan berkata pula dengan suara lemah: “Nyo-toako. setengah biji
Coat-ceng-tan itu berada di botol yang drebut ayahku itu. O, aku… aku adalah
anak yang tidak berbakti pada orang tua.”
Sampai di sini ia tidak tahan lagi, ia membalik tubuh sambil menangis dan
berjari ke arah Kiu Jian-jio seraya beiseru: “O, ibu!”

Ucapan “aku adalah anak tidak berbakti ke pada orang tua” bagi pendengaran Kiu
Jian-jio se-akan2 Lik-oh merasa berani membangkang dan me–lawan sang ayah,
padahal yang dimaksud Lik-oh sesungguhnya ada’ah karena dia tidak taat kepada
perintah sang ibu.
Semua orang dapat dikelabuhi oleh ucapan Lik-oh itu, hanya Ui Yong seorang saja
yang paham arti sesungguhnya.
Dalam pada itu diam2 Kongsun Ci bersyukur bahwa Ui Yong telah kena serangan biji
kurma Kiu Jian-jio, ia berharap kedua pihak akan terjadi pertarungan sengit
dengan begitu dirinya dapat menarik keuntungan dan sempat pula meloloskan diri.
Dengan berlagak tertawa ia lantas berseru: “Bagus, bagus! Tidak percuma ayah
sayang kepadamu, puteriku sayang! Kau dan ibumu jaga saja di situ, kita harus
melabrak semua orang yang berani menerobos ke Coat-ceng-kok kita ini, seorangpun
tidak boleh kabur.” Habis berkata mendadak ia menerjang ke arah Ui Yong yang
bersandar pada kursi itu.
Cepat Kwe Hu mengacungkan pedangnya untuk membela sang ibu, Yalu Ce berdiri di
sampingnya, pedangnya telah dipinjamkan kepada Kwe Hu, segera ia menyerang dari
samping dengan bertangan kosong.
Kongsun Ci melirik sekejap dan membatin:
“Buset, sudah bosan hidup barangkali bocah ini, berani menempur aku dengan
bertangan kosong?” Sekali goloknya menabas, ia desak mundur Yalu Ce, berbareng
itu pedangnya yang lentik berwarna hitam itu terus menusuk tenggorokan Kwe Hu.
Tanpa pikir Kwe Hu menangkis dengan pedangnya. “Awas, anak Hu!” seru Ui Yong
kuatir, Maka terdengarlah suara “creng” sekali, pedang Kwe Hu terkutung, malahan
pedang Kongsun Ci itu tidak latas berhenti melainkan terus memotong ke leher Kwe
Hu.
Ui Yong menjadi cemas, ia tahu sampai di mana kepandaian puterinya itu,
menghadapi detik berbahaya begini percumalah tipu akal yang dimilikinya, sama
sekali ia tak berdaya menolongnya.
Pada saat itulah se-konyong2 Liok Bu-siang berteriak: “Tangkis dengan tangan
kanan!”
Karena jiwanya terancam, serangan musuh begitu cepat datangnya dan sukar
mengelak, Kwe Hu tidak sempat membedakan lagi suara siapa yang berteriak padanya
itu, tanpa terasa ia menurut dan angkat lengan untuk menangkis serangan maut
itu.
“Piaumoay, mengapa kau…” bentak Thia Eng.
Ia tahu Bu-siang benci pada Kwe Hu telah membuntungi lengan Nyo Ko, maka
sekarang ia sengaja membingungkan Kwe Hu agar menangkis serangan Kongsun Ci
dengan lengan agar sebelah lengannya juga terbuntung.
Thia Eng berbudi halus, meski iapun sedih oleh buntungnya lengan Nyo Ko dan
menganggap perbuatan Kwe Hu keterlaluan, tapi sama sekali tak pernah timbul
pikirannya agar Kwe Hu menebus dosanya dengan sebelah lengannya.
Sebab itulah ia merasa maksud tujuan seruan Bu-siang tadi terlalu kejam dan
cepat berseru mence-gahnya. Namun sudah terlambat, pedang Kongsun Ci sudh
menyamber ke lengan Kwe Hu.
“Cret”,lengan baju Kwe Hu tergores robek pan-jang, berbareng itu iapun tergetar
sempoyongan dan jatuh kesamping, Tapi aneh juga, lengannya ternyata tidak
tertabas putus, bahkan darahpun tidak mengucur. Karuan Thia Eng dan Bu-siang
melongo heran, bahkan Kiu Jian jio dan Kongsun Ci juga terperanjat.
Segera pula Kwe Hu dapat berdiri tegak lagi, ia sangat berterima kasih kepada
Liok Bu-siang.
Dasarnya dia memang seorang nona yang berpikir secara sederhana, ia mengira
seruan Bu-siang tadi bermaksud baik untuk menolongnya maka tanpa pikir ia
berkata: “Terima kasih atat petunjuk Cici, cuma darimana engkau tahu…”
Nyo Ko pernah tinggal di Tho-hoa-to, ia tahu Ui Yong mempunyai jaket pusaka
“Nui-wi-kah” (jaket duri landak) yang tidak mempan ditabas senjata tajam, maka
ia tahu bisanya Kwe Hu menyelamatkan lengannya adalah berkat jaket pusakanya, ia
dengar nona itu bertanya “darimana engkau -tahu….” dan seterusnya tentu adalah
“aku memakai jaket pusaka?”, jika kata2 itu diucapkan berarti rahasia jaket
pusaka itu akan diketahui Kongsun Ci.
Padahal saat itu kelihatan Kongsun Ci dan Kiu Jian jio saling pandang sekejap
dengan heran dan terperanjat Maka cepat ia berkata: “Hehe, Kong-sun-siansing,
masakah kau tidak kenal nona kita ini?”
Sudah tentu Kongsun Ci sudah diberitahu sekadarnya oleh Li Bok-chiu mengenai
orang2 yang menyatroni Coat-ceng-kok ini, meski sudah tahu siapa Kwe Hu, tapi ia
tidak mau kalah pamor, dengan dingin ia sengaja menjawab: “Huh, anak dara
sekecil itu mana kutahu dia siapa?”
“Nona kita ini adalah puteri kesayangan Kwe Cing, Kwe-thayhiap, cucu perempuan
Tho-hoa-tocu Ui Yok-su, dia memiliki ilmu kekebalan khas ajaran keluarganya yang
tidak mempan dibacok segala macam senjata tajam, pedangmu yang mirip besi tua
itu tentu saja tidak dapat melukai dia.”
“Huh, tadi aku tidak menyerang sungguh2, memangnya kau kira aku tidak mampu
melukai dia?” jawab Kongsun Ci dengan gusar, berbareng pedangnya yang hitam itu
disendalnya pelahan hingga mengeluarkan suara mendengung.
Setelah lolos dari serangan maut musuh, diam2 ia berterima kasih kepada
Bu-siang, ia pikir untung Liok-cici ini memperingatkan, kalau tidak mungkin
jiwaku sudah melayang, tampaknya hati Liok-cici ini sebenarnya baik walaupun
kata2nya tajam dan suka menyindir
Dilihatnya Kongsun Ci sedang menjawab ucapan Nyo Ko tadi dan bersikap meremehkan
dirinya, secara timbul lagi kecerobohannya, pikirnya: “Jika aku tidak takut
kepada senjatanya, asal kuterjang dan serang dia, jelas aku pasti akan menang
dan tiada kalahnya, mengapa aka tidak melakukan hal ini?”
Karena pikiran itu, segera ia berseru kepada Bu Siu-bun: “Kakak Bu cilik, harap
pinjamkan pedangmu padaku, tua bangka Kongsun ini tidak percaya ilmu sakti
keluarga Tho.hoa-to, biarlah ku-perlihatkan sedikit padanya.”
Tanpa bicara Bu Siu-bun menyodorkan pedangnya dan diterima Kwe Hu. Nona itu
memutar pedangnya satu kali lalu berkata: “Nah, si tua Kongsun, silakan maju!”
Melihat lagaknya yang men-tang2 tanpa gentar sedikitpun, sungguh mirip benar
jagoan tulen yang menghadapi anak kecil saja.
Sudah tentu Kongsun Ci dapat menilai anak dara ini hanya dari gerakan pedangnya
saja, segera ia membentak: “Baik, akan kubelajar kenal lagi dengan
kepandaianmu.” Berbareng goloknya terus membacok ke muka lawan.
Cepat Kwe Hu mengelak dan balas menusuk dengan pedangnya, Tapi pedang hitam
Kongsun Ci mendadak melingkar tiba dan menyabet pedang Kwe Hu.
Sudah tentu Kwe Hu tidak berani mengadu sen-jata, cepat ia tarik kembali
pedangnya, Mendadak Kongsun Ci memegang golok dan pedang di tangan kanan,
sedangkan tangan kiri terus menghantam.
Diam2 Kwe Hu bergirang, ia pikir kalau tangan orang menggablok duri landak jaket
pusaka-kanya itu, maka celakalah musuh. Tapi kuatir tenaga pukulan musuh terlalu
lihay, bisa jadi ia sendiripun akan terluka dalam, maka ia sedikit miringkan
tubuh untuk mengelakkan sebagian tenaga pukulan musuh dan membiarkan pukulan itu
tetap-mengenai tubuhnya.
Di luar dugaan, belum pukulan Kongsun Ci itu mencapai sasarannya, mendadak ia
melompat mundur sambil berteriak: “Budak hina, menyerang orang secara
menggelap.”
Tentu saja Kwe Hu bingung, katanya: “Sama sekali aku tidak melukai kau!” ia
menjadi heran apakah jaket pusakanya begitu lihay, belum tangan musuh
menyentuhnya sudah dapat dilukainya?
Ia tidak tahu bahwa sebenarnya itulah akal licik Kongsun Ci, maka ia sengaja
pura2 terluka dan melompat mundur dengan sempoyongan terus berlari ke ruangan
belakang, Rupanya dalam waktu yang singkat itu ia sudah memperhitungkan keadaan
pihak lawan, di depan sana adalah Nyo Ko, Ui Yong dan lain2 serta si paderi tua
beralis putih, maka dia sengaja meloloskan diri melalui pintu belakang.
Saat itu Kongsun Lik-oh berdiri di sebelah ibu-nya. Melihat Kongsun Ci akan
kabur dengan membawa obat, cepat ia memburu maju sambil berteriak: “Tunggu dulu,
ayah!”
Pada saat itulah mendengar suara mendenging, dua biji buah kurma juga telah
menyamber ke arah Kongsun Ci. Rupanya Kiu Jian-jio kuatir senjata rahasianya itu
salah mengenai puterinya sendiri, maka semburan biji buah kurma itu ditinggikan
sedikit dan mengarah belakang kepala Kongsun Ci.
Namun gesit sekali Kongsun Ci menunduk kepala sehingga kedua biji kurma itu
menyamber lewat dan menancap di dinding, “Minggir!” bentaknya sembari menerjang
ke depan.
“Tinggalkan Coat-ceng-tan…” belum habis ucapan Koagsun Lik-oh, tahu2 Kongsun
Ci sudah menubruk tiba, sekali pegang segera urat nadi pergelangan tangan gadis
itu kena dicengkeramnya, menyusul tubuh berputar, Lik-oh digunakan sebagai
tameng di depan, lalu Kongsun Ci membentak “Perempuan bejat, apakah kau ingin
mengadu jiwa? Baiklah kita gugur bersama semuanya!”
sebenarnya biji kurma Kiu Jian-jiu sudah akan disemburkan lagi, ketika mendadak
nampak keadaan berubah dan untuk menahan semprotan juga tidak keburu lagi,
terpaksa ia miringkan kepala dan menyemburkan senjata rahasianya itu kesamping.
Dalam keadaan terpaksa begitu, yang diharapkan Kiu Jian-jio asalkan biji kurma
itu tidak tersemprot ke arah anak perempuan, sama sekali tidak terpikir siapa
yang menjadi sasarannya lagi, Maka terdengarlah suara jeritan dua kali, dua anak
murid berseragam hijau menggeletak binasa dengan kepala pecah dan yang lain dada
berlubang.
Kongsun Ci menyadari kalau ingin merebut kembali Coat-Ceng-kok, selain
memerlukan bantuan Li Bok-chiu juga anak buahnya harus dipuiihkan dulu
kesetiaannya, Apa yang terjadi sekarang jelas adalah kesempatan baik untuk
menarik simpatik anak buahnya itu, segera ia berseru: “Perempuan jahat, kau tega
membunuh anak muridku, pasti akan kubinasakan kau,”
Karena bicara dan sedikit merandek inilah tahu2 Nyo Ko telah mengadang jalan
larinya.
“Kongsun siansing, urusan kita perlu diselesaikan dahulu, jangan ter-buru2
pergi.” kata Nyo Ko.
Kongsun Ci mengangkat tubuh Lik-oh ke atas, katanya dengan menyeringai “Kau
berani merintangi aku?” Segera ia ber-putar2 dengan tungkak kaki sehingga makin
mendekati Nyo Ko.
Karena Kongsun Ci berputar dengan mengangkat tubuh Lik-oh, kalau Nyo Ko
merintanginya atau Kiu Jian-jio menyerang lagi dengan biji kurma, tentu yang
akan terluka adalah Kongsun Lik-oh. Dengan sendirinya Nyo Ko tidak berani
sembarangan bertindak,, betapapun ia tidak mau mengorbanknn jiwa nona itu demi
merebut obat bagi kepentingannya sendiri.
Dalam pada itu Kongsun Ci telah menggeser maju lagi dengan memutar tubuh Kongsun
Lik-oh, terpaksa Nyo Ko menyingkir ke samping.
Sama sekali Lik-oh takbisa berkutik berada dalam cengkeraman sang ayah, waktu
memutar ke sini dan tiba2 dilihatnya Nyo Ko menyingkir memberi jalan bagi
ayahnya dengan mata yang penuh prihatin baginya, hati Lik-oh tergetar, pikirnya:
“Demi keselamatanku ternyata dia rela mengorbankan obat yang dapat menyembuhkan
dia itu.”
Walaupun kaki dan tangannya takbisa bergerak namun kepala dan lehernya dapat
berputar, mendadak ia menjerit tertahan: “O, Nyo-toako!”
Tiba2 batok kepalanya ditumbukkan ke ujung pedang hitam yang dipegang Kongsun Ci
itu. Pedang itu sangat tajam, karuan tanpa ampun jiwa Kongsun Lik-oh melayang,
tewas di tangan ayahnya sendiri.
“Haya!” teriak Nyo Ko kaget, namun sudah kasip meski bermaksud menubruk maju
untuk menolong.
Kongsun Ci juga terkejut dan hati terasa pedih sedikit, namun iapun tahu keadaan
sangat berbahaya baginya, segera pihak lawan pasti akan menggempur nya dengan
mati2an. Didengarnya suara orang menggeram gusar, tiga biji buah kurma secepat
kilat telah menyamber tiba.
Tanpa pikir ia lemparkan mayat puterinya ke belakang sehingga ketiga biji kurma
itu seluruhnya mengenai tubuh Lik-oh yang sudah tak bernyawa itu.
Menyaksikan kekejaman Kongsun Ci itu, semua orang sangat murka dan benci
padanya, serentak mereka melolos senjata dan segera hendak mengerubut maju.
Cepat Kongsun Ci berseru: “Wahai para anak murid! perempuan jahat itu
bersekongkol dengan orang luar dan hendak membunuh segenap penghuni
Coat-ceng-kok kita ini. Hayolah lekas maju dengan barisan jaring berkait
kalian!”
Sejak kecil anak muridnya itu memujanya seperti malaikat dewata, Soalnya tempo
hari Kongsun Ci terpaksa melarikan diri setelah sebelah matanya di butakan oleh
Kiu Jian-jio.
Dalam keadaan kosong pimpinan, terpaksa mereka tunduk kepada perintah Kiu
Jian-jio. Kini seruan Kongsun Ci telah membangkitkan kembali ketaatan mereka,
serentak mereka merubung maju dengan membentangkan jaring berkait.
Setiap j’aring itu lebarnya enam-lima meter dan penuh kaitan dan piiau kecil
yang tajam, Biarpun kepandaian Bu Sam-tbong, Yalu Ce dan lain2 cukup tinggi juga
tidak tahu cara bagaimana menghadapinya. Apabila jaring itu mengurung rapat,
bukan mustahil tubuh mereka akan babak belur, Ta-pi karena kepungan barisan
jaring itu, Kiu Jian-jio sendiripun terkurung di tengah.
Segera ia ber-teriak2 “jangan tunduk pada ocehan bangsat tua itu, para anak
murid, lekas berhenti, lekas kalian mundur!”
Akan tetapi para anak murid berseragam itu anggap tidak mendengar. Bahkan
Kongsun Ci terus membentak lagi memberi perintah cara bagaimana barisan jaring
itu harus bekerja, Anak buahnya ternyata mengikuti perintahnya dan mendesak maju
dengan jaring terbentang.
Bahu kanan Ui Yong terluka, terpaksa ia gunakan tangan kiri untuk merogoh
segenggam jarum terus ditawurkan, berpuluh jarum lantas menyambar ke sebelah
sana. walaupun tenaga tangan kirinya tidak sekuat tangan kanan, tapi jaraknya
cukup dekat pula, jumlah jarum cukup banyak, sedikitnya beberapa orang
berseragam hijau akan terluka, dan kalau barisan jaring itu kebobolan segera
mereka dapat menerjang keluar.
Tak tahunya di atas jaring ikan itu banyak terikat batu semberani kecil yang
bisa digunakan untuk menyedot senjata rahasia musuh. Maka terdengarlah suara
gemerincing nyaring, berpuluh jarum Ui Yong serta paku lembut yang disemburkan
Kiu Jian-jio sama lengket pada jaring ikan.
“Celaka!” keluh Ui Yong. Segera ia membentak pula: “Anak Hu, jaga kepalamu
dengan pedang dan terjang maju bobolkan jaring musuh” Di antara rombongannya
hanya Kwe Hu saja yang memakai jaket pusaka dan tidak takut dilukai kaitan tajam
di atas jaring itu, maka Ui Yong menyerukan puterinya itu menerjang musuh.
Tanpa pikir Kwe Hu memutar pedangnya dan menerjang ke sebelah kanan, Empat orang
berseragam hijau membentang jaring terus dilemparkan ke-arahnya, Tapi begitu
pisau kecil dan kaitan diatas jaring itu mengenai tubuh Kwe Hu, kaitan jaring
itu terpental balik.
Tapi ber-turut2 barisan jaring itu lantas menubruk maju lagi dari kanan-kiri,
jika kepungan barisan jaring itu makin mendesak, betapapun sukar bagi Kwe Hu
untuk membobolnya sekalipun dia memakai jaket pusaka yang kebal senjata tajam.
Melihat keadaan berbahaya, Nyo Ko tidak tinggal diam, segera ia putar pedangnya
yang maha berat itu sekali tebas, kontan sebuah jaring musuh terobek menjadi
dua, keempat orang ini terbentang di-pegangi empat orang di kanan kiri..
seketika ke-empat orang itu jatuh terjungkal. Suasana menjadi kacau, mendadak
dari luar ruangan pendopo itu berlari masuk dua orang kejar mengejar.
Semua orang sama terkesiap demi nampak yang muncul-ini adalah Li Bok-chiu dan Cu
Cu-liu.
Kiranya Li Bok-chiu telah lama menunggu di puncak Coat ceng-hong dan belum
nampak Kongsun Ci kembali dengan obat yang dijanjikan itu, diam2 ia mendongkol
dan menyangka Kongsun Ci telah menipunya, Akhirnya ia turun dari puncak gunung
itu dan mencari jalan kembali ke Coat-ceng-kok tempat Kiu Jian-jio dengan tujuan
mencari kesempatan untuk merebut obat penawar racun bunga cinta menurut cerita
Kongsun Ci itu.
Karena tidak apal jalanan di situ, akhirnya Li Bok-chiu kesasar lagi ke tempat
yang penuh tumbuh bunga cinta yang melukainya itu. Pada saat itulah tiba2
didenganiya ada suara orang berjalan mendatangi, Cepat ia sembunyi di baiik batu
karang di samping semak2 bunga itu.
Ia coba mengintip diri tempat sembunyinya, dilihatnya kedua orang itu yang satu
berdandan sebagai sastrawan dan yang lain adalah Hwesio negeri asing. Kiranya
mereka itu adalah Cu Cu-liu dan paderi Hindu.
Tadinya Cu Cu-liu menunggui paman gurunya yang belum siuman itu di rumah
garangan, Sesudah siuman kembali, paderi Hindu itu lantas mengajak Cu Cu-liu ke
tempat bertumbuhnya bunga cinta untuk menyelidiki lebih lanjut.
Setiba di semak2 bunga itu, paderi Hindu itu lantas berjongkok dan mulai meraba
dan meneliti rumput di sekitar dan di bawah bunga cinta itu.
Maklumlah, barang yang satu biasanya menjadi penangkal barang yang Iain. Tempat
di mana ular berbisa berkeliaran, di situ pasti tumbuh obat bunga cinta itu juga
pasti tumbuh di bawah atau di sekitar bunga itu.
Sudah tentu tak diketahuinya bahwa Li Bok-chiu justeru sembunyi di balik batu
karang sana, ketika nampak paderi itu me-runduk2 semakin mendekat tanpa bicara
lagi Li Bok-chiu lantas menyerangnya dengan sebuah jarum berbisa.
Orang lain saja sukar untuk mengelak serangan menggelap Li Bok-chiu itu, apalagi
paderi Hindu itu tidak mahir ilmu silat, kontan saja jarum itu menancap di
dadanya dan binasa.
Cu Cu-liu mendengar suara mendesis pelahan itu, lalu paman gurunya menggeletak
tak bergerak lagi segera ia tahu apa yang terjadi. Hanya tak diketahuinya bahwa
paderi Hindu sudah mati, tanpa pikir ia memburu maju untuk menolongnya.
Kesempatan baik itu tidak sia2kan Li Bok-chiu, mendadak ia menubruk keluar dari
tempat sembunyinya dan pedang terus menusuk punggung Cu Cu-liu, karena tidak
menyangka musuh justeru sembunyi di belakang batu, sukar bagi Cu Cu-liu untuk
menghindari sergapan itu, sebisanya dia miringkan tubuh, karena itu ujung pedang
Li Bok-chiu hanya melukai bahunya saja dan tidak parah.
Segera Cu Cu-liu menggeser ke samping dan membalik, kontan ia balas menutuk
dengan It-yang-ci. Li Bok-chiu pernah merasakan It-yang-ci yang di mainkan Bu
Sam-thong, sekarang ilmu jari sakti. Cu Cu-liu ini ternyata lebih lihay, diam2
Li Bok-chiu terkesiap dan tidak berani gegabah.
Setelah bergebrak beberapa jurus, Cu Cu-liu melihat sang Susiok yang menggeletak
itu sama sekali tidak bergerak, cepat ia berseru: “Susiok! Susiok!”
Tapi sang paman guru tetap tidak menjawab. “Hehe, jika kau ingin jawabannya,
boleh kau ikut ke akhirat saja!” ejek Li Bok-chiu sambil menyerang lagi lebih
gencar, ia pikir kalau lawan berduka karena paman gurunya sudah mati, tentu
pikirannya akan kacau dan mudahlah dikalahkan.
Tak tahunya rasa duka Cu Cu-liu itu justeru menambah sakit hatinya kepada musuh,
serangannya malah bertambah lihay tanpa kendur sedikitpun.
Di bawah cahaya bulan sabit yang remang itu Li Bok-chiu melihat wajah Cu Cu-liu
berubah beringas, matanya membara, serangannya tambah kalap se-akan2 tidak segan
untuk gugur bersama bila perlu, diam2 Li Bok-chiu menjadi takut sendiri, setelah
bergebrak lagi beberapa jurus, mendadak ia membalik tubuh terus angkat langkah
seribu alias kabur.
Cepat Cu Cu-liu memeriksa keadaan sang Susiok, ternyata sudah tidak bernapas
lagi, sekali bersiul penuh duka, segera ia mengudak kearah Li Bok-chiu dan
begitulah susul menyusul mereka telah masuk ke ruangan pendopo.
“Susiok telah terbunuh oleh iblis ini, Suhu!” seru Cu Cu-liu begitu melihat
It-teng Taysu.
Melihat datangnya Li Bok-chiu, Kongsun Ci kaget dan girang, segera ia berseru:
“Ke sini saja Li-sumoay!” Berbareng iapun menyongsong ke sana.
Meski terluka, namun pikiran Ui Yong cukup jernih, melihat sikap Kongsun Ci itu
segera ia dapat menerka hubungannya dengan Li Bok-chiu, cepat ia berseru:
“Ko-ji, pisahkan kedua iblis itu, jangan sampai mereka bergabung!”
Namun Nyo Ko sudah putus asa demi mendengar berita kematian paderi Hindu itu,
kini semuanya tak berarti lagi baginya, sisa Coat-ceng-tan itu telah diambil
Kongsun Ci atau bukan sama sekali tak terpikir lagi olehnya. Maka seruan Ui Yong
itu hanya disambut dengan tersenyum dan tidak ikut turun tangan.
Cepat Yalu Ci jemput setengah jaring yang dirobek oleh pedang Nyo Ko tadi dan
berseru: “Bu-suheng, cepat pegang ujung sana!”
Beramai Bu Tun-si, Wanyan Peng dan Yalu Yan lantas memegangi ujung jaring itu
dan menghadang di antara Li Bok-chiu Kongsun Ci itu tidak berhasil mengurung
musuh, kini malah berbalik kena diperalat oleh musuh untuk merintangi dia
sendiri benar2 senjata makan tuan.
Sementara itu, suasana di ruangan itu menjadi gaduh, karena scbagaian jaringnya
bobol, anak buah Kongsun Ci menjadi kacau, kesempatan itu segera digunakan Kiu
Jian-jio untuk menyemburkan senjata rahaHanya, maka terdengarlah jeritan dan
teriakan di sana sini, ber-turut2 lima enam orang telah roboh binasa, barisan
jaring juga lantas kacau balau dan buyar.
Dengan gusar Kongsun Ci ayun goloknya membacok Yalu Yan, namun Thia Eng lantas
mendahului menutuknva dengan seruling kumalanya. Terpaksa Kongsun Ci menarik
kembali goloknya, diam2 ia terkejut oleh keiihayan Thia Eng itu. Ber-turut2 ia
menusuk dua kali dengan pedangnya dan semuanya dapat dipatahkan Thia Eng pula.
Cepat Bu-siang putar golok sabitnya mengerubut maju, Percumalah Kongsun Ci
menerjang kian kemari, maksudnya hendak bergabung dengan Li Bok-chiu selalu
dirintangi beberapa anak muda itu, malahan terkadang ia harus waspada terhadap
semburan senjata rahasia Kiu Jian-jio. ia pikir agar bisa bergabung dengan
leluasa harus terjang dulu keluar rumah sana.
Maka sambil memutar senjatanya ia lantas berseru: “Li-suamoay, terjang keluar
saja, kita bertemu lagi di tempat tadi!” Berbareng kedua orang lantas bersuit
dan melompat kekanan dan kiri, melayang lewat di samping Nyo Ko dan
Siao-liong-li terus menerobos keluar rumah.
Kalau Nyo Ko dan Siao-liong-li mau turun tangan, tentu kedua orang itu dapat
dicegah Tapi tangan kiri Nyo Ko menggenggam kencang tangan kanan Siao-liong-li
sambil melangkah keluar dengan pelahan, meski tahu jelas Kongsun Ci dan Li
Bok-chiu lewat di sebelah mereka juga tidak ambil pusing.
Cepat Ui Yong berseru: “Cegat Kongsun Ci itu, Liong-sumoay, Coar-ceng-tan berada
padanya!”
Siao-liong-li terkejut, ia pikir kalau paderi Hindu itu sudah mati, maka racun
dalam tubuh Ko-ji hanya dapat ditolong dengan sisa Coat-ceng-tan itu. Segera ia
melepaskan gandengan tangan Nyo Ko dan memburu ke sana.
“Biarkan saja, Liong-ji!” seru Nyo Ko.
“Mana boleh dibiarkan dia pergi?” ujar Siao-liong li.
Melihat Siao-liong-li tetap mengejar dengan cepat terpaksa Nyo Ko menyusulnya.
Kongsun Ci dan Li Bok-chiu lari ke jurusan yang berlawanan, maka semua orang
juga mengejar dengan terbagi dua rombongan. Siao-liong-li, Nyo Ko, Thia Eng dan
Liok Bu-siang berempat mengejar Kongsun Ci, sedangkan Bu Sam-thong dan kedua Bu
cilik, Cu Cu-liu dan Wanyan Peng berlima mengudak Li Bok-chiu.
Yalu Ce, Yalu Yan dan Kwe Hu tinggal di sana mendampingi Ui Yong untuk mengawasi
Kiu Jian-jio agar tidak melakukan kekejaman lain.
Di antara rombongan Bu Sam-thong itu, ilmu silat Cu Cu-liu terhitung paling
tinggi, tapi bahunya terluka, setelah ber-lari2 sekian lama, akhirnya ia merasa
tidak tahan, waktu semua orang berhenti dan memandang Cu Cu-liu, sedikit
merandek saja bayangan Li Bok-chiu lantas tak kelihatan lagi.
“Kalau iblis itu sampai lolos, sungguh kita berdosa terhadap Susiok,” ujar Cu
Cu-liu dengan gregetan, Mereka terus mencari kian kemari di semak2 pohon dan
batu karang, tapi jejak Li Bok-chiu tetap menghiIang.
“Tadi Kongsun Ci berseru padanya agar bertemu lagi di tempat semuIa,” kata
Cu-liu. “Kita tidak tahu tempat mana yang dimaksudkan, tapi asalkan kita
mengikuti Kongsun Ci, akhirnya iblis perempuan ini pasti akan ditemukan di
sana.”
“Benar ucapan Sute,” ujar Bu Sam-thong, “Marilah kita lekas menguntit Kongsun Ci
saja.”
Begitulah mereka lantas putar balik ke arah larinya Kongsun Ci tadi. Tidak lama,
benarlah di depan sana terdengar suara teriakan dan bentakan orang, Bu Sam-thong
memayang Cu Cu-liu agar dapat berlari lebih cepat Namun suara bentakan dan
teriakan itu sebentar mendekat lain saat menjauh lagi, sekejap kemudian lantas
lenyap dan keadaan sunyi senyap pula.
Ribut semalam suntuk, sementara itu fajar sudah hampir menyingsing, cuaca sudah
remang2. Tiba2 terlihat di depan ada jalan simpang empat, mereka menjadi bingung
jurusan mana yang harus dituju?
Mata Wanyan Peng lebih celi, tiba2 ia tuding sebatang pohon kecil di tepi jalan
yang kedua sana dan berseru: “He, Cu cianpwe, coba lihat, batang pohon itu, baru
saja dibacok orang.”
“Benar,” seru Cu-liu dengan girang, “Marilah kita coba mengambil jalan ini.”
Cepat mereka berlari ke sana. sesudah membelok kian kemari, kemudian terlihat
pula batang pohon di tepi jalan ada lagi bekas bacokan serupa pohon tadi.
semangat mereka terbangkit, mereka menyusur ke sana lebih cepat, pepohonan di
tepi jalan makin lama makin lebat, jalanan juga semakin rusak dan sukar
ditempuh. untunglah pada setiap belokan atau lintasan jalan selalu ada tanda2
bacokan golok di atas pohon atau di tanah.
Kiranya tanda2 bacokan itu adalah perbuatan Liok Bu-siang atas perintah Thia
Eng. Kedua nona itu mengikuti Nyo Ko dan Siao-liong-li mengejar Kongsun Ci,
karena sasarannya itu lari berputar kian kemari secara menyesatkan kuatir
ke-sasar, maka Thia Eng suruh Bu-siang meninggalkan tanda sepanjang jalan. Tak
terduga tanda2 itu akhirnya menjadi petunjuk jalan bagi rombongan Cu Cu-liu.
Begitulah setelah ber-lari2 sekian lama, hari pun sudah terang, namun pepohonan
lebat di sekitar mereka menambah suasana jadi suram. jalanan menanjak dan
terjal, terpaksa mereka melambatkan langkah.
Tengah berjalan, tiba2 terdengar suara orang tertawa panjang di bagian atas,
suaranya melengking tajam laksana burung hantu, serentak mereka berhenti dan
menengadah, tertampaklah di suatu tebing yang curam di depan sana berdiri
seorang sedang mendongak sambil tertawa, Siapa lagi dia kalau bukan Kongsun Ci.
Di bawah tebing curam itu adalah jurang yang tak terkira dalamnya, di atasnya
adalah puncak gunung yaag menjulang tinggi menembus awan.
Melihat keadaan Kongsun Ci yang menyerupai orang gila itu, diam2 Cu Cu-liu
berkuatir: “Kalau dia terpeleset dan jatuh ke jurang, mampusnya sih tidak perlu
disayangkan, tapi Coat-ceng-tan yang dibawanya itu akan ikut lenyap juga.”
Segera ia memburu ke sana secepat terbang.
Setelah membelok suatu tikungan, dilihatnya Nyo Ko, Siao-liong-li, Thia Eng dan
Liok Bu-siang berempat sudah berdiri di tepi tebing sana dan sedang menengadah
memandangi Kongsun Ci.
Melihat datangnya Cu Cu-liu, dengan suara pelahan Siao-liong li lantas berkata:
“Cu-toasiok, lekas engkau mencari akal untuk memancing dia turun.”
Cu Cu-liu coba mengamat-amati keadaan sekitar situ, dilihatnya tempat berdiri
Kongsun Ci itu hanya dihubungkan oleh sebatang balok batu yang lebarnya tidak
lebih dari 30 senti, jembatan dan tebing gunung sana penuh berlumut hijau,
berdiri sendirian di sana saja tak bisa bergerak dengan leluasa, apalagi kalau
dua orang berdesakan di sana.
Maka selain memancing turun Kongsun Ci rasanya memang tiada jalan lain. Tapi
Kongsun Ci adalah manusia licin dan licik, manabisa dia diakali? persoalan ini
benar2 rumit.
Teringat kepada budi kebaikan Nyo Ko yang telah menyelamatkan jiwa kedua anaknya
yang sekarang mati-hidup Nyo Ko sangat bergantung pada obat yang berada di
tangan Kongsun Ci, ia merasa sekarang inilah saatnya baginya untuk membalas budi
Nyo Ko, segera ia menyingsing lengan baju dan berkata: “Biar kupergi kesana
untuk menyeretnya ke sini.”
Tapi baru saja ia melangkah, tiba2 bayangan orang berkelebat tahu2 Thia Eng
sudah mendahului di depannya dan berkata: “Aku saja yang ke-sana!” Cepat sekali
ia terus melangkah ke jembatan batu yang sempit itu.
Akan tetapi cepatnya Thia Eng ternyata masih kalah cepat daripada Nyo Ko, tiba2
Thia Eng merasa pinggangnya mengencang, Nyo Ko telah membelit pinggangnya dengan
lengan baju yang kosong itu serta ditariknya kembali Malahan terdengar Nyo Ko
membisik di telinganya: “Apa artinya diriku ini, kenapa engkau perlu berbuat
begini?”
Wajah Thia Eng menjadi merah dan seketika tidak sanggup bicara, Pada saat itulah
suara Siao-liong-li berkata: “Tolong pinjam sebentar pedangmu!”
Mendadak sesosok bayangan melayang lewat di samping Bu Tunsi dan Wanyan Peng
dan tahu2 pedang mereka sudah di lolos orang, Gerakan itu sungguh secepat kilat,
ketika Bu Tun-si dan Wanyan Peng melengak bingung sementara itu Siao-liong-li
sudah melayang ke atas jembatan batu dan mendekati Kongsun Ci.
Terkejut juga Kongsun Ci melihat Siao-liongli berani mendekat ke tempat
berbahaya itu, Segera ia melangkah maju dan mengadang di ujung jembatan batu
sebelum Siao-Iiong-li menyeberang ke tempatnya, Bentaknya: “Apakah kau ingin
mampus?”
Sambil menghunus sepasang pedang, Siao-liong-li berdoa di dalam hati semoga
berhasil merebut kembali Coat-ceng-tan dan matipun ia rela, Dengan suara lembut
ia lantas berkata: “Kongsun-siansing, engkau pernah menyelamatkan jiwaku,
lantaran perempuan yang bernasib malang seperti diriku ini kau telah ikut
menderita, sungguh aku sangat menyesal dan sedih. Kedatanganku sekarang sama
sekali tidak ingin mengadu jiwa dengan kau.
“Habis kau mau apa?” tanya Kongcun Ci.
“Kumohon engkau suka memberi obat untuk menolong suamiku, obat itu tidak berguna
bagimu, kalau suka dihadiahkan padaku, sungguh takkan kulupakan budi
kebaikanmu,” tutur Siao-liong-li.
“Lekas kembali, Liong ji!” demikian Nyo Ko berseru di seberang sana, “Setengah
biji obat itu takkan menolong jiwa kita berdua, apa gunanya kau memintanya?”
Melihat perawakan Siao liong-li yang cantik dan lemah gemulai menggiurkan mana
Li Bok-chiu dapat menandinginya biarpun cuma tiga bagiannya, matanya yang
tinggal satu mengincar dengan terkesima, tiba2 timbul lagi pikiran jahat Kongsun
Ci, ia tanyai “Kau panggil bocah she Nyo itu suamiku?”
“Ya, kan dia sudah menikah dengan aku,” jawab Siao-liong-li.
“Asalkan kau menyanggupi suatu permintaanku, segera obat ini kuberikan,” kata
Kongsun Ci.
Melihat sorot mata tunggal orang yang licin itu, segera Siao-liong-Ii tahu
maksudnya, katanya sambil menggeleng: “Aku sudah bersuami, mana boleh kunikahi
kau lagi? Kongsun-siansing, kau tetap kesemsem padaku, namun aku sudah ada yang
punya, terpaksa mengecewakan maksud baikmu.”
Mata Kongsun Ci yang aneh itu mendelik, bentaknya: “Jika begitu lekas kau mundur
ke sana. Kalau kau tetap memusuhi aku, terpaksa aku tidak kenal ampun lagi.”
“Kan sia2 belaka perkenalan kita ini jika sampai kita bergebrak dan bermusuhan?”
ujar Siao-liong-li suaranya sangat halus, dalam hati ia benar2 masih merasa
utang budi kepada Kongsun Ci.
“Hm,” jengek Kongsun Ci, “aku justeru ingin menyaksikan bocah she Nyo itu
merintih-rintih karena racun dalam tubuhnya masih bekerja, ingin melihat dia
sekarat menghadapi elmaut, ingin tahu betapa cantiknya isteri setia seperti kau
ini akhirnya menjadi janda muda belia yang berkabung.”
Makin bicara makin keji kata2nya dengan menyeringai dan mengertak gigi.
Siao liong-li menyambut dengan tersenyum pedih, jawabnya: “Coba dengarkan kau,
bukankah dia sedang memanggilku kembali ke sana? Begitu kasih sayangnya padaku,
betapapun dia tak menghiraukan apakah racun dalam tubuhnya akan kumat atau
tidak.”
Benar juga terdengar Nyo Ko sedang berseru, katanya: “Liong-ji, lekas kembali
sini, buat apa banyak bicara dengan orang macam begitu? Kalau saja jembatan batu
itu tidak terlalu sempit dan sukar dipijak dua orang, tentu sejak tadi ia sudah
berlari ke sana dan menarik kembali isterinya.
Jarak Kongson Ci dengan Siao-liong- li saat itu hanya satu-dua meter saja,
asalkan melangkah maju setindak saja sudah dapat meraihnya. Cuma tempatnya
teramat berbahaya, bila nona itu sedikit meronta saja, maka kedua orang pasti
akan tergelincir bersama ke dalam jurang dan hancur lebur.
Kongsun Ci menjadi serba susah, kalau tidak menawan Siao-liong li sebagai
sandera, lalu cara bagaimana dirinya dapat lolos dari tebing yang buntu ini.
Di lihatnya di pihak lawan hanya Nyo Ko seorang saja yang lihay, kalau dirinya
menerjang mati2 an mungkin anak muda itupun takdapat mengalanginya, paling baik
kalau Siao-liong-li mau mundur sesuai seruan Nyo Ko itu, lalu dirinya ikut
menyeberang ke sana dan menawannya, kemudian bergabung dengan Li Bok-chiu.
Setelah ambil keputusan demtkian, segera Kongsun Ci membentur pedang dan
goloknya hingga menerbitkan suara mendering, bentaknya: “Lekas mundur!”
Berbareng pedangnya terus menusuk
Di luar dugaannya, sejak Siao-liong-li belajar ilmu berkelahi dua tangan dengan
dua cara dari Ciu Pek-thong itu, kepandaiannya serentak bertambah satu kali
lipat, kalaupun tubuh mengidap racun tenaga dalamnya banyak berkurang, tapi
betapa hebat Giok-li-kiam-hoat yang dimainkannya dengan kedua tangan sekaligus
manabisa ditandingi golok dan pedang Kongsun Ci.
Dalam sekejap saja sepasang pedang yang diputar Siao liong-li itu telah berubah
menjadi dua gulung sinar putih, kalau kiri bertahan, yang kanan segera menyerang
dan begitu seterusnya secara bergantian Keruan Kongsun Ci menjadi kelabakan dan
terdesak.
Makin lama makin heran dan gelisah hati Kongsun Ci, diam2 ia menyesal, kalau
tadi mengetahui orang telah berhasil meyakinkan ilmu pedang selihay ini, tentu
dia takkan bergebrak dengannya. Masih untung baginya karena Siao-liong-li tidak
bermaksud membunuhnya, maka untuk sekian lama Kongsun Ci masih sanggup bertahan.
Begitulah mereka terus bertempur dengan sengitnya di tebing yang curam itu,
tidak lama It-teng Taysu, Ui Yong, Kwe Hu, Yalu Ce dan Yalu Yari juga dan sama
terperanjat menyaksikan pertarungan sengit mereka di tempat yang berbahaya itu.
Kwe Hu berkata kepada Yalu Ce: “Lekas kita maju membantunya, sendirian mana
Liong-cici mampu mengalahkan dia?”
Biarpun watak Kwe Hu rada sembrono dan sejak kecil selalu dimanjakan sang ibu,
tapi pada dasarnya sebenarnya berhati bajik. Ketika menyaksikan keadaan
Siao-liong li sangat berbahaya, ia sendiripun pernah bergebrak dengan Kongsun Ci
dan diketahuinya kepandaian kakek bermata satu itu sangat lihay, bahkan ibunya
juga bukan tandingannya, apalagi sekarang Siao-liong li menempurnya sendirian.
Tapi Yalu Ce mengatakan jembatan batu itu tak muat lagi orang lain, hal inipun
memang nyata.
Saking cemasnya terpaksa ia berseru “Lekas mencari akal untuk membantu
Liong-cici ibu!”
Padahal tanpa seruannya itu, setiap orang juga berharap bisa membantu Siao-liong
li meninggalkan tempat berbahaya itu, tapi apa daya, andai kata bisa terbang ke
sana juga tiada tempat untuk berpijak.
Terdengar suara bentakan Kongsun Ci golok dan pedangnya menyerang serabutan,
kedua pedang Siao liong-li menyamber kian kemari dengan lemasnya seperti
kekurangan tenaga, kalau berlangsung, lama tampaknya dia pasti akan celaka di
tangan Kongsun Ci, Hanya Nyo Ko, Ui Yong dan It-teng Taysu saja yang dapat
melihat dengan jelas bahwa sesungguhnya Siao-liong-li yang lebih unggul.
Sejenak puIa, dapatlah Ui Yong melihat cara bertempur Siao-liong-li itu ternyata
adalah ilmu berkelahi dengan dua tangan dan dua cara. Kepandaian ini di seluruh
jagat tiada orang ketiga yang paham selain Ciu Pek-tong dan Kwe Cing, maka jelas
kepandaian Siao liong-li ini pasti ajaran Ciu Pek-thong.
Dilihatnya Kungfu yang dimainkan Kongsun Ci sesungguhnya teramat lihay,
sedangkan Siao-liong-li habis luka berat dan keracunan, tenaga dalamnya banyak
susut, meski jurus serangannya lebih unggul namun dalam waktu ratusan jurus juga
sukar menundukkan Kongsun Ci.
Tiba2 teringat satu akal oleh Ui Yong, segera ia berkata: “Ko-ji, kau dan aku
berbareng bicara pada Kongsun Ci, kau mengertak dan me-nakut2i dia, sebaliknya
aku membuatnya gembira, supaya dia lengah dan perhatiannya terpencar.”
Habis itu ia lantas mendahului berteriak: “Hai, Kongsun-siansing, ini kabar baik
bagimu, perempuan jahat Kiu Jian-jio itu sudah kubunuh tadi!”
Tergetar juga hati Kongsun Ci mendengar ucapan itu, ia menjadi ragu2, setengah
percaya setengah sangsi.
Segera Nyo Ko ikut berseru: “Kongsun Ci, Li Bok-chiu menganggap kau ingkar janji
karena tidak membawakan obat yang kau sanggupkan padanya, maka ia telah datang
hendak membikin perhitungan dengan kau.”
“Tidak, tidak!” cepat Ui Yong menambahkan, “Kata Li Bok-chiu, asalkan kau mampu
menyembuhkan racun dalam tubuhnya, maka dia rela menjadi isterimu”
“Ah, mustahil kami mau tinggal diam?” seiu Nyo Ko pula, “Kami pasti akan
berusaha menggagalkan angan2mu, kalau kau tertangkap kami, akan kami siksa kau
juga dengan duri bunga cinta itu supaya kau juga tahu rasa.”
“Persengketaan kita dapat didamaikan, tidak perlu kau kuatir, bagaimana kalau
sekarang juga kita mulai berunding?” seru Ui Yong,
“He, celaka! Pelayanmu yang kau bunuh dahulu itu telah menjadi hantu dan muncul
hendak menagih jiwa padamu!” teriak Nyo Ko. “Nah, nah, itu dia! Awas Dia berdiri
tepat di belakangmu, wah, kukunya panjang2 dan tampaknya kau akan diterkamnya”
Begituiah Ui Yong dan Nyo Ko berseru secara bergantian ucapan mereka sebentar
membikin takut hati Kongsun Ci dan lain saat membuatnya senang.
Sudah tentu Siao-Iiong-li juga dapat mendengar semua perkataan itu, cuma
lantaran urusannya tidak menyangkut kepentingannya, pula dia dapat membagi
pikirannya, dan dilaksanakan dengan dua tangan, serangannya sedikitpun tidak
menjadi kendur sebaliknya Kongsun Ci memang sudah terdesak di bawah angin,
karena pengacauan ucapan Nyo Ko dan Ui Yong itu, pikirannya semakin kacau.
Akhirnya ia menjadi gemas dan membentak: “Kalian mengoceh apa? Lekas tutup
mulut!”
“He, awas, Kongsun Ci!” seru Nyo Ko pula, “Siapa itu nona yang berambut
semerawut di belakang itu? Lidahnya menjulur panjang, mukanya penuh darah. Ah,
dia hendak mencengkeram lehermu, awasi Wah, celaka!”
Meski Kongsun Ci tahu anak muda itu sengaja hendak mengacaukan pikirannya, tapi
teriakan2 ngeri itu membuatnya merinding juga dan tanpa terasa ia melirik
sekejap ke belakang Kesempatan itu tidak di-sia-2kan Siao-Iiongli, pedangnya
menyamber tiba, dengan tepat pergelangan tangan kiri Kongsun Ci tertusuk.
Dengan sendirinya pegangan Kongsun Ci menjadi kendur, golok emasnya mencelat
jatuh ke jurang, sampai lama sekali barulah- terdengar kumandang suara pelahan,
sanu.. seperti suara kecebur dalam air, agaknya di bawah jurang itu adalah
sebuah kolajn atau sungai.
Semua orang saling pandang dengan melongo, begitu lama golok itu terjatuh ke
bawah barulah menerbitkan suara, maka betapa dalamnya jurang itu sungguh sukar
diukur.
Begitu kehilangan goloknya, jangankan menyerang lagi, untuk bertahan saja sukar
bagi Kongsun Ci. sebaliknya serangan Siaoliong-li semakin lancar dan gencar,
ber-turut2 ia menusuk lagi empat kali ke kanan dan ke kiri, tubuh Kongsun Ci
tergeliat, pedang hitamnya kembali terjatuh lagi ke jurang dan mati kutulah dia.
Sambil mengancam dada dan perut lawan dengan sepasang pedangnya, Siao-Iiong-li
lantas ber-kata: “Kongsun-siansing, silakan kau menyerahkan Coat-ceng-tan dan
jiwamu takkan kuganggu.”
“Tapi bagaimana dengan orang2 -itu?” tanya Kongsun Ci dengan suara gemetar
“Kujamin takkan membikin susah kau,” jawab Siao-liong-li.
Dalam keadaan demikian yang dipikir Kongsun Ci hanya menyelamatkan jiwa belaka,
segera ia mengeluarkan botol kecil itu dan disodorkan.
Sambil tetap mengancam dada lawan dengan sebelah pedangnya, tangan SiaoliongIi
yang lain menerima botol itu dengan perasaan girang dan pedih pula, pikirnya:
“Meski aku sendiri takdapat hidup lama, akhirnya Coat-ceng-tan ini dapat
kurampas untuk menolong Ko-ji.” – Segera ia berlari balik ke seberang sini.
Meski sebelumnya Bu Sam-thong, Cu Cu-liu dan lain2 sudah tahu ilmu silat
Siao-liong-li sangat lihay, tapi sama sekali tidak menduga dia memiliki
kepandaian sesakti ini, dapat sekaligus memainkan dua pedang dengan dua cara
yang berlainan.
Mereka pernah mendengar bahwa Ciu Pek-thong dan Kwe Cing mahir memainkan dua
cara bertempur yang berbeda dengan kedua tangan, tapi mereka cuma mendengar saja
dan belum pernah menyaksikan sendiri sekarang mereka dapat melihat betapa lihay
kepandaian Siao-liong-li itu, mereka menjadi kagum tak terhingga.
Tentu saja Yalu Ce, Yalu Yan, Thia Eng, Kwe Hu dan lain2 juga tidak kepalang
kagumnya menyaksikan betapa lihay ilmu silat Siao-liong-li itu, padahal usianya
sebaya dengan mereka, malahan kelihatan lemah gemulai, kalau tidak menyaksikan
sendiri tentu orang takkan percaya.
Sementara itu dengan gaya indah laksana bidadari turun dari kahyangan Siao-liong
li telah mc layang balik dari jembatan batu sana, serentak semua orang bersorak
gembira dan memuji. Cepat Nyo Ko memburu maju dan memegangi tangan sang isteri,
Semua orang juga lantas merubungnya untuk bertanya.
Cepat Siao-liong-Ii membuka botol porselen itu dan menuang keluar setengah butir
pil, katanya dengan tersenyum simpul: “Koji, obat ini tulen bukan?”
Tapi Nyo Ko memandang obat itu dengan tak acuh, jawabnya: “Memang tulen, Liong
ji, bagaimana keadaanmu? Mengapa kau begini pucat? Coba kau mengatur
pernapasanmu”
Namun Siao-liong-li tetap tersenyum saja, Ke-tika berlari balik tadi memang
sudah dirasakannya darah terasa bergolak dalam rongga dadanya, rasanya muak dan
ingin muntah, tapi sekuatnya ia telah bertahan, ia tahu racun yang diidapnya itu
terlalu dalam, untunglah dia telah berhasil merebut setengah biji Coat ceng tan,
lebih dari itu tak terpikir lagi olehnya.
Sambil menggenggam tangan Siao-liong-li yang terasa semakin dingin, dengan cemas
Nyo Ko ber-tanya: “He, Liong-ji, bagaimana perasaanmu?”
“Ah, tak apa2, lekas kau minum obat ini,” ujar Siao-liong-ii.
“Liong-ji,” kata Nyo Ko dengan suara gemetar, “setengah biji obat ini sukar
menyelamatkan jiwa dua orang, untuk apa lagi? O, Liong-ji, masakah kau belum
tahu perasaanku? jika engkau mati, masakah aku dapat hidup sendirian?”
Berkata sampai di sini, rasa dukanya tak tertahan, mendadak ia rampas botol
beserta obatnya terus dilemparkan ternyata setengah biji obat, satu2nya obat
yang dapat menyembuhkan racun yang diidapnya itu telah dibuangnya ke jurang yang
tak terhingga dalamnya itu..
Kejadian ini benar2 di luar dugaan siapapun juga semua orang melengak dan segera
sama berseru kaget.
Siao-liong-li tahu Nyo Ko bertekad akan sehidup dan semati dengan dia, hatinya
menjadi pedih, duka tercampur terima kasih pula. sehabis bertempur sengit dan
racun dalam tubuhnya mulai bekerja, ia tidak tahan lagi, ia tergeliat terus
jatuh pingsan dalam pelukan Nyo Ko.
Kedua saudara Bu, Kwe Hu, Wanvan Peng dan anak2 muda iain tidak paham duduknya
perkara, be-ramai2 mereka bertanya dan membicarakan kejadian ini.
Mendadak Bu Sam thong membentak: “Li Bok-chiu, sekali ini jangan kau harap dapat
lolos lagi!”
Serentak iapun memburu ke lereng gunung sebelah sana.
Waktu semua orang memandang ke sana, terlihat Kongsun Ci sedang berlari secepat
terbang dengan Ginkangnya yang tinggi, di tanjakan lereng gunung sana tiba2
berkumandang suara tertawa orang tua, menyusul seorang muncul dengan memanggul
sebuah peti besar, kiranya adalah Lo-wan-tong Ciu Pek-thong,si Anak Tua Nakal.
“He, Lo-wan-tong, lekas giring To-koh jubah kuning itu ke sini!” seru Ui Yong.
“Baik boleh kalian saksikan kepandaian Lo-wan-tong!” seru Ciu Pek-thong sambil
membuka tutup peti, kedua tangannya ber-gerak2, seketika segerombolan tawon madu
menyamber keluar terus menerjang ke arah Li Bok-chiu.
Ketika pasukan Mongol membumi-hanguskan Cong-lam-san, kawanan Tosu dari Coan
cin-kau sempat meninggalkan gunung dengan membawa kitab agama dan benda2
berharga lain, tapi yang dibawa Cui Pek-thong adalah sebuah peti yang berisi
sekawanan tawon putih piaraan Siao-liong-li dahulu.
Biarpun sifatnya jenaka dan tingkah- lakunya ugal2an tapi bakat Ciu Pek-thong
sebenarnya sangat pintar, tanpa kenal lelah ia terus mempelajari cara memimpin
kawanan tawon putih itu, akhirnya dia berhasil juga menemukan kuncinya. Sekarang
ia diminta Ui Yong menggiring Li Bok-chiu, kebetulan baginya untuk pamer
kepandaian yang baru berhasil dipelajarinya itu.
Begitulah Kongsun Ci menjadi kaget melihat kawanan tawon itu, ia tidak berani
lagi mendekati Li Bok-chiu melainkan terus menyelusup ke semak2 sebelah sana.
Li Bok-chiu juga kelabakan melihat terjangan kawanan tawon itu, terpaksa ia
berlari ke sini mengikuti jalanan pegunungan itu, segera Bu Sam-thong didahului
kedua puteranya serta Liok Bu siang dan Thia Eng memapak dengan senjata
terhunus.
Tiba2 Yalu Ce berteriak: “Lihay benar engkau Suhu! Lekas engkau simpan kembali
kawanan tawon itu ke dalam kandang!”
Segera Ciu Pek-thong ber-kaok2 ingin menggiring kembali kawanan tawon itu ke
dalam peti, tapi di tengah ribut2, mana kawanan tawon mau menuruti perintahnya?
Sambil tetap men-dengung2 gerombolan tawon putih itu tetap mengejar ke arah Li
Bokchiu.
Kuatir Li Bok-chiu kabur lagi, tanpa menghiraukan sengatan tawon, segera Bu
Sam-thong mengudak ke sana.
“Liong-ji. Liongji!” Nyo Ko merangkul Siao-liong-li dan memanggilnya pelahan.
Siao-liong-li membuka matanya sedikit2, telinganya mendengar suara mendengung
tawon hingga rasanya seperti sudah berada di kediaman lama di Cong-lam-san,
hatinya menjadi girang dan bertanya: “Apakah kita sudah berada di rumah?” Tapi
setelah tenangkan diri baru ingat apa yang terjadi tadi.
Segera ia bersiul pelahan beberapa kali, lalu membentak pula beberapa kali,
seketika kawanan tawon putih itu ber-putar2 di sekeliling Li-Bok chiu dan tidak
terbang serabutan lagi, “Suci.” katanya, “selama hidupmu telah banyak dosa,
apakah sekarang kau tidak menyesal?”
Wajah Li Bok-chiu pucat seperti mayat, jawabnya: “Mana itu Coat-ceng-tan?”
Siao-liong-li tersenyum pedih, katanyaj “Coat ceng tan itu sudah terlempar ke
dalam jurang, Mengapa kau membunuh paderi Hindu itu? Kalau dia tidak mati, bisa
jadi jiwaku dan jiwa Ko-ji dapat tertolong, bahkan kaupun dapat diselamatkan.”
Mendelong perasaan Li Bok-chiu, ia tahu Sumoay nya ini selamanya tidak suka
omong ko-song. Diam2 ia merasa menyesal bahwa jarumnya telah menewaskan paderi
Hindu itu sehingga dirinya sendiri juga ikut celaka.
Sementara itu Bu Sam-thong dan lain2 sudah merubung maju, sedangkan Ciu
Pek-thong masih sibuk ber-teriak2 dan berjingkrakan ingin memanggil kawanan
tawon.
“Kakek Ciu, begini caranya,” seru Siao-liong-li, lalu ia bersiut dan membentak
seperti tadi.
Ciu Pek-thong menirukan bersuit dan membentak, benar juga be-ribu2 tawon putih
itu lantas terbang menyusul kembali ke dalam peti, Karuan ia sangat girang,
serunya: “Terima kasih nona Liong.”
“Saudara Pek-thong, sudah lama tak berjumpa, kau ternyata sehat2 saja seperti
dulu” dengan tersenyum It-teng Taysu menyapa.
Untuk sejenak Ciu Pek-thong melengak karena tak disangkanya It-teng Taysu juga
berada di situ, cepat ia menutup peti dan berkata: “Ya, aku sehat, kaupun sehat,
semua juga sehat!” Habis ini ia panggul petinya terus mengeluyur pergi tanpa
berpaling lagi.
Melihat keadaan sekelilingnya, Li Bok-chiu menyadari kedudukannya yang suiit,
melulu Ui Yong, Nyo Ko dan Siao-liong-li salah seorang saja sukar dilawan,
apalagi sekarang kalau main kerubut ia menjadi nekat, teriaknya: “Hm, percuma
kalian menganggap diri sebagai kaum pendekar, tahunya, hehe, kalianpun suka main
keroyok, Siausumoay, sebagai anak murid Ko-bong-pay, betapapun aku tidak boleh
mati di tangan orang luar, Nah, silakan kau maju saja!” Sembari berkata ia terus
menyodorkan gagang pedang ke depan dan ujung pedang mengarah ke dadanya sendiri
Namun Siao-liong-li hanya menggeleng, kata-nya: “Urusan sudah terlanjur begini,
untuk apa kubunuh kau?”
“Li Bok-chiu,” bentak Sam-thong mendadak “Sekarang ingin kutanya kau, jenazah
Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun telah kau bawa ke mana?”
Mendengar nama Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun tiba2 di sebut, tubuh Li Bok-chiu
menjadi gemetar, mukanya ber kerut2, lalu menjawab: “Sudah kubakar menjadi abu.
Abu tulang yang seorang kutebarkan di puncak Hoa-san, abu tulang yang Iain
kubuang ke lautan timur, supaya mereka berdua takkan menjelma kembali dan tak
pernah berkumpul lagi.”
Melihat cara mengucap Li Bok-chiu yang gregetan dan penuh dendam itu, diam2
semua orang terkesiap dan gegetun.
Segera Bu-siang berkata: “Liong-cici adalah orang baik dan tidak tega membunuh
kau, tapi segenap keluargaku telah kaubunuh semua, hanya tersisa aku saja
seorang, hari ini aku harus menuntut balas, Piauci, hayolah kita maju!”
“Kau membunuh ibuku, betapapun kami tak dapat mengampuni kau,” seru kedua
saudara Bu.
“Orang yang tewas di bawah kebut dan jarumku tak terhitung banyaknya, jika
semuanya ingin menuntut balas padaku, darimana aku mempunyai nyawa cadangan
sebanyak itu? Bagaimanapun juga jiwaku cuma satu,” ujar Li Bok-chiu tak acuh.
“Jika begitu kemurahan bagimu,” seru Bu-siang dan Siu Bun berbareng dan segera
menubruk maju dengan senjata masing2.
Mendadak Li Bok-chiu angkat pedangnya, “pletak”, tahu2 pedang itu bergetar
patah, sambil tersenyum mengejek Li Bok-chiu bersikap menghina dan berdiri diam
tanpa melawan, ia tunggu serangan kedua anak muda itu dan tamatlah riwayatnya.
Pada saat itulah mendadak di sebelah timur sana ada asap tebal mengepul dan api
berkobar dengan hebatnya.
“Hah, perkampungan sana terbakar!” seru Ui Yong.
“Tunda dulu membunuhnya, selamatkan jenazah Susiok lebih penting,” kata Cu
Cu-liu sambil melompat maju, sekaligus ia tutuk tiga Hiat-to penting di tubuh Li
Bok-chiu agar tidak dapat kabur lagi.
“Juga jenazah nona Kongsun,” demikian Thia Eng menambahkan.
Semua orang membenarkan dan be-ramai2 mereka lantas berlari ke arah datangnya
tadi. Kedua saudara Bu cilik menggiring Li Bok-chiu, sedang Nyo Ko,
Siao-Iiong-li, Ui Yong dan It-teng Taysu menyusul dari belakang dengan pelahan.
Walaupun masih cukup jauh dari perkampungan kediaman Kongsun Ci itu, hawa panas
sudah menyerang dengan ganasnya, terdengar suara jeritan dan teriakan ngeri
disertai suara gemuruh ambruknya atap dan belandar rumah.
“Keparat Kongsun Ci itu benar2 terlalu jahat, nona Liong seharusnya membinasakan
dia saja,” ujar Bu Sam-thong.
“Api ini besar kemungkinan bukan dikobarkan oleh Kongsun Ci kukira perbuatan
nenek gundul Kiu-jian jio itu,” kata Cu Cu-liu.
“Kiu Jian-jio katamu?” Bu Sarn-thong melengong bingung, “Untuk apa dia membakar
kediaman sendiri yang sukar dibangun ini?”
Sembari berlari ke depan Cu Cu-liu menjawab: “Sebagian besar anak murid Kongsun
Ci tidak tunduk padanya, sekalipun kita membunuh Kongsun Ci juga nenek gundul
itu takdapat berdiam aman tenteram di sini, kulihat nenek itu berjiwa sempit
dan…” tengah berkata sampailah mereka di dekat semak2 bunga cinta yang rada
jauh dari kobaran api itu.
Terlihat jenazah paderi Hindu itu masih menggeletak di sana dengan wajah
tersenyum simpul seperti orang hidup, agaknya sebelum ajalnya paderi itu
menemukan sesuatu yang membuatnya kegirangan.
“Tampaknya Susiok mendadak meninggal sehingga sama sekali tidak menderita,” ujar
Bu Sam-thong.
Cu Cu-liu berpikir sejenak, lalu berkata, “Waktu itu Susiok sedang mencari
rumput yang dapat memunahkan racun bunga cinta.”
Sementara itu Ui Yong dan It-teng Taysu juga sudah menyusul tiba, demi mendengar
ucapan Cu Cu-liu itu, Ui Yong lantas memeriksa sekitar jenazah paderi Hindu itu,
tapi tidak menemukan sesuatu yang aneh, ia coba meraba baju paderi itu dan tetap
tiada menemukan sesuatu benda.
“Apakah susiokmu tidak meninggalkan sesuatu pesan?” tanyanya kepada Cu liu.
“Tidak,” jawab Cu-Jiu, “Kami keluar dari rumah omprongan itu dan tidak menyangka
akan disergap musuh secara mendadak.”
Tiba2 Ui Yong melihat air muka paderi Hindu yang mengulum senyum itu, pikirannya
tergerak cepat ia memeriksa tangan paderi itu Terlihat-lah kedua jari tangan
kanannya memegangi setangkai kecil rumput warna ungu, pelahan Ui Yong mementang
jarinya dan rumput kecil itu diambil-nya, lalu bertanya: “Rumput apakah ini?”
Cu-liu menggeleng karena tidak tahu, Ui Yong coba mengendus rumput itu, terasa
bau busuk dan memuakkan.
“Awas, Kwe-hujin, itulah Toan-jong-jau (rumput perantas usus) dan mengandung
racun hebat,” cepat It-teng berseru.
Ui Yong melengak dan sangat kecewa oleh keterangan itu.
Dalam pada itu kedua saudara Bu juga sudah tiba menggiring Li Bok-chiu,
mendengar rumput beracun itu, Siu-bun lantas berkata kepada Ui Yong: “Sunio (ibu
guru), suruh iblis maha jahat ini makan rumput itu saja.”
“Ai, anak kecil jangan berpikiran buruk begitu,” ujar It-teng.
“Cosuyaya (kakek guru), terhadap manusia jahat begini mengapa engkau juga
kasihan padanya?” ujar Siu-bun.
Sementara itu pepohonan di sebelah sana juga sudah terjilat api dan menerbitkan
suara pletak pletok yang keras, hawa panas juga semakin hebat, Cepat Ui Yong
berkata: “Marilah kita mundur ke atas bukit bukit di sebelah timur sana.”
Be-ramai2 mereka lantas lari ke lereng bukit sana, terlihatlah bangunan yang
ber-deret2 itu dalam waktu singkat telah musnah ditelan lautan api.
Karena Hiat-to tertutuk, meski dapat berjalan, tapi ilmu silat Li Bok-chiu tak
dapat digunakan sama sekali, diam2 ia mengerahkan tenaga dalam, maksudnya hendak
melancarkan Hiat-to yang ter-tutuk itu dan dapat meloloskan diri jika penjagaan
agak lengah. Tak terduga begitu ia mengerahkan tenaga, seketika dada dan
perutnya kesakitan ke-ras, tak tahan lagi ia menjerit.
Rupanya racun bunga cinta yang mengeram dalam tubuhnya itu semula terbendung
oleh tenaga murninya sehingga belum dapat bekerja, kini tenaga murninya
digunakan menembus Hiat-to yang tertutuk sehingga tenaganya terpencar, racun
lantas bekerja dengan ganasnya.
Dalam keadaan dada dan perut kesakitan hebat, dari jauh dilihatnya Nyo Ko dan
Siao-liong-li berjalan mendatangi, yang satu pemuda cakap ganteng, yang lain
nona cantik molek, pandangannya seketika menjadi kabur, samar2 kedua muda-mudi
yang dilihatnya se-akan2 Liok Tian-goan yang dirindukan nya selama hidup ini
beserta isterinya, yaitu Ho Wan-kun, tanpa terasa ia terus berteriak:
“Tian goan, kejam benar kau! Dalam keadaan begini kau tega benar menemui aku?”
Karena rangsangan cintanya itu, makin hebat racun bunga yang menyiksanya itu
hingga sekujur badan gemetar, kulit daging mukanya ber-kerut2 kejang, Melihat
sikapnya yang menakutkan seperti orang gila itu, tanpa terasa semua orang
melangkah mundur.
Selamanya Li Bok-chiu berwatak angkuh dan tak pernah mau tunduk kepada orang
lain, sekarang hatinya pedih dan tubuhnya menderita, saking tak tahan ia
ber-teriak2: “Aduh, sakiti Tolong! Lekas tolong!”
“Sebenarnya Susiokku dapat menolong kau, namun kau telah membunuhnya.” kata Cu
Cu-liu sambil menunjuk jenazah paderi Hindu.
Sambil mengertak gigi Li Bok-chiu menjawab: “Benar, memang akulah yang
membinasakan dia, Setiap manusia di dunia ini, baik atau buruk pasti akan
kubunuh, Aku akan mati, ya, aku akan mati! Untuk apa kalian hidup? Aku ingin
mati bersama kalian.”
Saking tak tahan sakitnya, mendadak ia menubruk ke ujung pedang yang dipegang Bu
Tun-si.
Setiap hari Bu Tun-si berusaha menuntut balas dan ingin membunuh musuh besar
ini, tapi sekarang mendadak musuh menubruk ke ujung pedang-nya, ia menjadi
terkejut malah dan tanpa terasa ia menarik kembali pedangnya Karena itu Li
Bokchiu telah menubruk tempat kosong, ia tergelincir ke bawah bukit terus
terguling ke tengah lautan api.
Semua orang sama menjerit kaget, dari atas mereka dapat melihat sekejap saja Li
Bok-chiu telah terbungkus oleh kobaran api, namun dia justeru merangkak bangun
dan berdiri tegak tanpa bergerak lagi dan sama sekali tidak menghiraukan
tubuhnya yang terbakar itu.
Teringat hubungan saudara seperguruan Siao-liong-li merasa tidak tega, ia
berseru : “Suci, lekas lari keluar, lekas!”
Namun Li Bok-chiu tetap berdiri tegak di tengah api yang ber-kobar2 itu, dalam
waktu singkat tubuhnya berubah menjadi sepotong tunggak hitam dan akhirnya
roboh. Siao-Iiong-Ii memegangi lengan Nyo Ko sambil menutupi mukanya seru
meneteskan air mata.
Melihat nasib Li Bok-chiu yang berakhir secara mengenaskan ini, biarpun Thia Eng
dan Liok Bu-siaog tidak pernah melupakan sakit hati terbunuhnya ayah-bunda
mereka serta segenap anggota keluarga, sekarang dendam itu sudah terbalas, namun
sedikitpun mereka tidak bergembira menyaksikan kematian Li Bok-chiu itu.
Ui Yong memondong Kwe Yang, teringat kepada kejahatan yang pernah diperbuat Li
Bok-chiu itu, ternyata iblis itu juga pernah berbuat suatu kebaikan, yakni
merawat Kwe Yang cilik selama beberapa hari. Ui Yong lantas pegang kedua tangan
Kwe Yang dan memberi hormat ke arah api sebagai tanda terima kasih kepada Li
Bok-chiu.
Semula Nyo Ko bermaksud menyelamatkan juga jenazah Kongsun Lik-oh, tapi api
kelihatan berkobar dengan hebatnya, segenap bangunan sudah tenggelam di tengah
lautan api sehingga tak berdaya lagi, diam2 Nyo Ko merasa sedih, ia menghela
napas panjang sambil memandang kobaran api dengan kesima.
Pada saat itulah se-konyong- di atas gunung sebelah timur-laut sana ada suara
tertawa melengking aneh laksana bunyi burung hantu, suaranya menusuk telinga
walaupun berkumandang dari jarak yang cukup jauh, dapat dibayangkan tenaga dalam
orang sesungguhnya sangat hebat.
“ltulah suara Kiu Jian-jio!” kata Nyo Ko. “Mengapa dia bisa berada di puncak
gunung sana?”
Tergerak hati Siao-liong-li, katanya: “Coba kita ke sana untuk menanyai dia
apakah masih menyimpan Coat-ceng-tan.
“Liong-ji, masakah sampai sekarang kau masih memikirkan hal ini?” ujar Nyo Ko
dengan tersenyum getir.
Maksud kedatangan Ui Yong, Bu Sam-tkong, Thia Eng dan lain2 ke Coat-ceng-kok ini
memang untuk mencarikan obat bagi Nyo Ko, maka mereka sama menyetujui usul
Siaoliong-li itu, mereka pikir kalau dari Kiu Jian-jio bisa dimintakan
Coat-ceng-tan lagi pasti Nyo Ko akan dipaksa meminumnya dan takkan membiarkan
anak muda itu membuang obatnya lagi secara sia2.
Karena pikiran mereka sama, berbareng mereka lantas berseru: “Marilah kita pergi
ke sana,” – Segera Bu Sam-thong dan kedua puteranya serta Yalu Ce dan Wanyan
Peng lantas mendahului berlari ke sana.
Nyo Ko menghela napas dan menggeleng kepala, pikirnya: “Apa gunanya usaha kalian
ini kecuali kalian dapat mencarikan obat mujijat yang mampu menghidupkan jiwa
kami suami-isteri sekagus,”
Sejak tadi Thia Eng hanya memandangi Nyo Ko dengan diam2 saja, kini mendadak
berkata: “Nyo-toako, janganlah engkau mengecewakan maksud baik orang banyak,
Marilah kita juga pergi ke sana?”
Selama ini Thia Eng sangat baik pada Nyo Ko, dalam hati anak muda inipun sangat
berterima kasih, walaupun cintanya sudah dicurahkan kepada Siao-liong-li seorang
dan tidak mungkin bergeser lagi, tapi terhadap nona yang berpribadi halus budi
ini biasanya ia sangat menghormatnya.
Sejak kenal Nyo Ko juga Thia Eng tidak pernah memohon sesuatu padanya, kini
mendadak mengutarakan kata2 itu, betapapun Nyo Ko sukar menolaknya, terpaksa ia
mengangguk dan berkata:
“Baiklah, coba kita lihat nenek itu main gila apalagi di puncak gunung sana,”
Begitulah be-ramai2 mereka lantas berlari ke atas gunung menurut arah datangnya
suara tertawa Kiu Jian-jio. Nyo Ko sudah pernah melihat pepohonan di atas gunung
ini, jelas inilah tempat yang pernah dilaluinya ketika dia dan Kongsun Lik oh
serta Kiu Jian-jio lolos dari gua di bawah tanah itu. sekarang pemandangan alam
masih tetap begitu, namun Kongsun Lik-oh sudah tidak ada, dirinya sendiri juga
tidak lama lagi tinggal di dunia fana ini, teringat semua itu, ia menjadi
terharu.
Kira2 beberapa ratus meter di bawah puncak gunung itu, dapatlah rombongan mereka
melihat jelas Kiu Jian-jio sendirian duduk di suatu kursi dan sedang tertawa
menengadah seperti orang gila.
“Dia tertawa sendirian di situ, mungkin otaknya kurang waras,” ujar Bu-siang.
“Kita jangan mendekati dia,” kata Ui Yong “Orang ini sangat kejam dan keji, kita
harus waspada kalau2 dia mengatur tipu muslihat untuk menjebak kita, Kukira dia
tidak gila sungguhan.”
Karena jeri terhadap senjata rahasia nenek gundul yang lihay itu, mereka
berhenti di kejauhan. Segera Ui Yong hendak bersuara menegur, tapi tiba2
terlihat seorang muncul dari balik karang di depan sana, siapa lagi dia kalau
bukan Kongsun Ci.
Mendadak Kongsun Ci menanggalkan jubahnya terus diputar dan dikebaskan hingga
lurus dan mengencang, begitu indah dan kuat gerakannya, sungguh lihay luar
biasa.
Diam2 semua orang memuji kehebatan tenaga dalam Kongsun Ci itu, Terdengar dia
menyeringai dan membentak: “Hm, nenek jahat dan keji, apimu sekaligus kau telah
memusnahkan perkampunganku yang dibangun leluhur kami, hari ini jiwamu tidak
mungkin dapat lolos dari tanganku!” Berbareng ia terus berlari ke arah
Kiu-Jian-jio sambil memutar jubahnya.
“Serrr!” terdengar suara mendesir keras satu kali, dari mulut K iu Jian-jio
tersembur satu biji buah kurma ke arah Kongsun Ci. Suara desiran itu
berkumandang dari puncak gunung, jarak sambaran senjata rahasia itupun cukup
jauh, sebab itulah suaranya menjadi lebih nyaring dan tajam.
Kelihatan Kongsun Ci mengebaskan jubahnya seketika pula buah kurma itu kena
dilibatnya, Tadinya Kongsun Ci tidak yakin jubahnya mampu menahan senjata
rahasia lihay itu, soalnya dia teramat murka, pula melihat Kiu Jian-jio duduk
sendirian di puncak gunung tanpa bala bantuan ia pikir itulah kesempatan bagus
untuk membinasakan bekas isterinya itu.
Sebab itulah dengan menyerempet bahaya ia terus menerjang ke situ, apalagi
setelah jelas senjata rahasia isterinya itu tak-dapat melukainya, segera ia
menerjang lebih cepat lagi ke depan.
Melihat Kongsun Ci sudah dekat, Kiu Jian-jio tampak ketakutan dan ber teriak2:
“Wah, celakai Tolong! Tolong!”
“Nenek itu hendak dibunuhnya, ibu,” kata Kwe Hu kepada Ui Yong.
Ui Yong merasa tidak paham, sebab jelas dilihatnya Kiu Jian-jio itu waras dan
segar bugar, mengapa sengaja bergelak tertawa dan memancing kedatangan bekas
sang suami itu?
Dalam pada itu Kiu Jian jio telah menyemprotkan dua biji paku buah kurma lagi,
karena jaraknya sudah dekat, daya samberan senjata rahasia itu jadi lebih keras,
Cepat Kongsun Ci putar jubahnya untuk menghalau.
Tapi mendadak ia menjerit satu kali, tubuhnya terus menghilang kejeblos ke bawah
tanah dan Kiu Jian jio lantas bergelak tertawa pula.
Tapi suara tertawanya cuma terdengar “haha…” dua kali saja, sekejap itu dari
bawah tanah menyamber keluar kain panjang yang melibat kaki kursi yang diduduki
Kiu Jian-jio itu sehingga kursi dan orangnya ikut terseret ke dalam tanah.
Suara tertawa Kiu Jian jio mendadak berubah menjadi jeritan melengking tercampur
teriakan ngeri Kongsun Ci berkumandang dari bawah tanah. Suara itu berkumandang
sampai lama untuk kemudian mendadak lenyap, keadaan menjadi sunyi kembali.
Dari kejauhan semua orang dapat menyaksikan dan mendengar kejadian itu dengan
jelas, mereka saling pandang karena tidak paham sebab musababnya, hanya Nyo Ko
saja yang tahu jelas seluk-beluk kedua suami isteri itu.
Segera mereka berlari ke atas puncak, tertampaklah empat pelayan perempuan
menggeletak tak bernyawa di situ, di samping ada sebuah lubang besar, waktu
mereka melongok ke bawah, keadaan gelap guita dan tidak kelihatan apapun.
Kiranya Kiu Jian-jio yang pernah tersiksa cukup lama di gua bawah tanah itu
kadung teramat sakit hati dan benci kepada Kongsun Ci, lebih dulu ia bakar habis
perkampungannya keluarga Kongsun yang bersejarah be-ratus2 tahun itu, kemudian
ia menyuruh empat pelayan menggotongnya ke puncak gunung. Melalui lubang gua di
puncak inilah tempo hari waktu dia diselamatkan dari gua bawah tanah oleh Nyo Ko
dan Kongsun Lik-oh.
Ia memerintahkan pelayan2 itu mengumpulkan ranting2 kayu, rumput kering dan
sebagainya untuk menutupi lubang gua, lalu pelayan2 itu dibinasakannya. Kemudian
ia sengaja bergelak tertawa untuk memancing kedatangan Konsun Ci. ia
menyemprotkan paku buah kurma serta menjerit minta tolong, semua ini cuma pura2
saja agar Kongsun Ci tidak curiga.
Kongsun Ci tidak tahu bahwa di puncak gunung terpencil ini ada lubang gua
sedalam itu, tanpa pikir ia menerjang ke arah Kiu jian-jio dan akhirnya
kejeblos, Tapi pada detik terakhir itu ia masih berusaha mencari hidup,
sekuatnya ia ayunkan jubahnya untuk membelit kaki kursi Kiu Jian-jio agar dia
dapat meloncat ke atas lagi, siapa tahu sekali tarik justeru kedua orang sama2
terjerumus ke bawah malah.
Ber-puluh2 meter dalamnya lubang di bawah tanah itu, keruan tubuh sepasang
suami-isteri itu hancur lebur menjadi bakso dan saling lengket tak terpisahkan
lagi, Tak terkira semasa hidupnya pasangan yang saling dendam dan benci itu
akhirnya mati berbareng pada hari dan detik yang sama, terkubur pada tempat dan
liang yang sama pula.
Setelah Nyo Ko menceritakan seluk-beluk kehidupan Kongsun Ci dan Kiu Jian-jio,
semua orang sama menghela napas gegetun, Yalu Ce dan anak2 muda lain lantas
menggali suatu liang untuk mengubur keempat pelayan itu, Melihat api masih
berkobar dengan hebatnya di lembah sana dan jelas tiada tempat tinggal lagi di
situ, apalagi setelah menyaksikan korban sebanyak ini, semua orang sama berharap
selekasnya dapat meninggalkan Coat ceng-kok itu,
“Penyakit adik Nyo Ko masih perlu disembuhkan kita harus lekas mencarikan tabib
sakti untuk mengobati dia,” ujar Cu Cu-liu.
Semua orang membenarkan usul itu. Tapi Ui Yong telah berkata: “Tidak, hari ini
kita belum boleh berangkat.”
“Apa Kwe hujin ada usul lain?” tanya Cu Cu-liu .
Ui Yong mengerut kening, jawabnya. “Bahuku terluka dan terasa kesakitan Kuharap
malam ini kalian sudi tinggal lagi di sini, kita berangkat besok saja.”
Bahwa kesehatan Ui Yong terganggu dengan sendirinya semua orang menurut untuk
bermalam di situ. Be-ramai2 mereka lantas pergi mencari gua dan tempat meneduh
lain dan sebagainya.
Siao-liong-li dan Nyo Ko lantas hendak melangkah pergi, Tiba- Ui Yong berseru:
“Liong-moaymoay, coba kemari, ingin kubicarakan sesuatu padamu.” Lalu ia
menyerahkan Kwe Yang kepada Kwe Hu dan mendekati Siao-liong-li, katanya pula
kepada Nyo Ko dengan tersenyum.
“Jangan kuatir, Ko- ji, dia sudah menikah dengan kau, tak kan kuhasut dia minta
cerai padamu.”
Nyo Ko tersenyum, jawabnya: “Boleh saja kau coba menghasutnya” Dalam hati ia
sangat heran apakah yang hendak dibicarakan sang bibi dengan Siao-liong-li.
Terlihat mereka menuju ke sana lalu berduduk di bawah sebatang pohon besar,
Meski penuh rasa ingin tahu, namun tidak enak untuk mendekati mereka. Segera
terpikir pula olehnya: “”Apakah Liong-ji pasti takkan merahasiakan pada-ku,
sebentar juga dia akan memberitahukan apa yang dikatakan bibi Kwe itu.”
Setelah berduduk di bawah pohon sana, Ui Yong lantas berkata: “Adik Liong,
sungguh aku sangat menyesal puteriku yang ceroboh dan sembrono itu telah banyak
membikin susah kau dan Ko-ji.”
“Ah, tidak apa2″ ujar Siao-liong-li dengan tersenyum. Tapi dalam hati ia pikir
dengan sebuah jarum berbisa puterimu telah mencelakai aku hingga tak bisa
disembuhkan lagi, sekalipun kau menyesal seribu kali juga tiada gunanya.
Ui Yong tambah melihat kemuraman Siaoliong-li, ia belum lagi tahu bahwa sebuah
jarum yang disambitkan Kwe Hu itu sesungguhnya telah menamatkan riwayat
Siao-liong-li. Disangkanya racun jarum itu tidaklah sukar disembuhkan seperti
dahulu Bu Sam-thong, Nyo Ko dan lain2 juga pernah terkena jarum berbisa itu dan
semuanya dapat di-sembuhkan, ia tidak tahu bahwa tatkala mana Siao-liong-li
sedang memutar balik jalan darahnya menurut ajaran Nyo Ko sehingga keadaannya
sama sekali berbeda ketika terkena jarum berbisa itu.
Tapi karena waktu itu Ui Yong sendiri tidak ikut masuk ke kuburan kuno itu, maka
ia tidak tahu duduknya perkara, segera ia berkata pula: “Ada sesuatu yang ingin
kumintakan penjelasanmu, Dengan susah payah adik berhasil rebut Coat ceng-tan,
tapi Ko-ji tidak mau meminumnya, bahkan dibuang ke jurang, Apakah sebabnya dia
berbuat begitu?”
Siao-liong-li menghela napas pelahan, ia tahu betapa cintanya Nyo Ko padanya dan
tidak mau hidup sendiri, tapi urusan sudah kadung beg’ni, buat apa dibicarakan
lagi sehingga menimbulkan gara2 pula? Maka ia lantas menjawab: “Mungkin sifatnya
memang aneh.”
“Ko-ji adalah seorang yang berperasaan dan berbudi, mungkin ia melihat nona
Kongsun rela mengorbankan jiwa sendiri demi mendapatkan obat itu, maka iapun
tidak tega dan tidak ingin minum obat itu untuk membalas kebaikan nona cantik
itu, Adik Liong, jalan pikiran Ko-ji itu harus dipuji, namun orang mati tak
dapat hidup kembali, pendiriannya yang kepala batu itu justeru malah berlawanan
dengan tujuan pengorbanan nona Kongsun.” Siao-liong li mengangguk dan tidak mau
menanggapi.
Lalu Ui Yong beikata pula: “Padahal dengan mati2an adik Liong menempur Kongsun
Ci di tebing curam itu kan juga tidak menghiraukan mati hidupnya sendiri? Di
dun’a ini Ko-ji hanya menurut pada perkataanmu, kuharap engkau suka menasehati
dia agar berpikir panjang.”
“Seumpama dia mau menurut perkataanku di dunia ini mana ada Coat-ceng-tan lagi?”
ujar Siao-Hong-li dengan pilu.
“Meski Coat-ceng-tan tidak ada lagi, namun racun di dalam tubuhnya bisa jadi
dapat disembuhkan yang sulit adalah karena dia tidak mau minum obat,” kata Ui
Yong.
Siao-liong-li terkejut girang, cepat ia berdiri dan bertanya: “Setiap orang
suka-memuji Kwe-hujin banyak tipu akalnya, nyatanya memang tidak omong kosong,
jadi engkau maksudkan ada. ada obat lain yang dapat menyembuhkan Ko-ji?”
Ui Yong memegangi tangan Siao-liong-li, katanya: “Duduklah,kau.” . Lalu ia
mengeluarkan setangkai kecil rumput warna ungu dan berkata puIa: “lni namanya
Toan-jong cau, Sebelum menghembuskan napasnya, paderi Hindu itu memegangi rumput
kecil ini, Dari Cu-susiok kudengar waktu itu mereka sedang mencari obat penawar
racun bunga cinta dan mendadak disergap hingga binasa oleh jarum berbisa Li
Bok-chiu. Bukankah engkau melihat air muka paderi itu menguIum senyum meski
orangnya sudah meninggalkan? Kuyakin waktu itu beliau sedang bergirang karena
berhasil menemukan rumput ini, Guruku Ang Cit-kong juga pernah bercerita padaku,
katanya di mana ular berbisa suka berkeliaran di situ pula pasti ada tumbuh
obatnya yang dapat memunahkan racun ular, begitu pula dengan makhluk2 berbisa
lainnya, itulah hukum alam, sedangkan Toan-jong-cau ini kebetulan ditemukan di
bawah semak2 bunga cinta, meski rumput ini terkenal berbisa, namun setelah
kurenungkan ber-ulang2, kuyakm dengan rumput ini dapat digunakan sebagai obat
racun menyerang racun, jadi rumput ini adalah obat anti racun bunga cinta itu.”
Uraian Ui Yong ini membuat Siao-liong-li manggut2 ber-ulang2.
Kemudian Ui Yong menyambung pula: “Sudah tentu minum rumput berbisa ini harus
menyerempet bahaya, tapi mau apa lagi? Toh tiada obat lain yang dapat
menolongnya, betapapun kita harus mencobanya, Menurut pikiranku, besar
kemungkinan khasiat rumput ini dapat menyembuhkan dia.”
Siao-Iiong li tahu Ui Yong memang pintar dan banyak tipu dayanya, jika dia
berkata secara begitu meyakinkan, maka urusannya pasti tidak salah, apalagi
memang tiada jalan lain kecuali itu. Setelah membulatkan tekad, lalu ia
menjawab: “Baiklah, akan kuminta dia minum obat ini,”
Segera Ui Yong mengeluarkan lagi segenggam Toan jong-cau dan diserahkan pada
Siao-Iiong-li katanya: “Sepanjang jalan kupetik sebanyak ini, kukira sudah
cukup. Untuk permulaan boleh kau suruh dia makan sedikit saja, suruh dia
mengerahkan hawa murni untuk melindungi jantung, lihat dulu bagaimana kerjanya
rumput ini, kemudian barulah ditambah atau dikurangi jumlah rumput yang harus
dimakan.”
Siao-liong-li simpan rumput itu dan menyembah kepada Ui Yong, katanya dengan
suara rada tersendat: “Kwe-hujin, selama hidup Ko-ji kenyang duka derita,
tindak-tanduknya memang rada kepala batu, tapi sudilah engkau suka menjaganya
dengan baik,”
Cepit Ui Yong membangunkan Siao-liong-li, katanya dengan tertawa: “Kau yang
menjaganya akan berpuluh kali lebih baik daripadaku Kelak kalau kepungan musuh
atas Siangyang sudah reda, biarlah kita berkunjung ke Tho-hoa-to dan istirahat
untuk beberapa lamanya di sana.”
Betapapun pintarnya Ui Yong juga tidak menyangka bahwa jiwa Siao liong li
tinggal tidak lama lagi, ucapannya tentang menjaga Nyo Ko benar2 permohonannya
dengan setulus hati, waktu ia berpaling, dilihatnya Nyo Ko berdiri jauh di sana
sedang memandangi Siao-liong-li walaupun apa yang mereka bicarakan sama sekali
tak dapat didengarnya.
Sementara itu semua orang telah mengatur tempat bermalam masing-2, ada yang
menemukan gua, ada yang di bawah pohon.
Melihal Ui Yong sudah pergi setelah bicara, Nyo Ko lantas mendekati Siao
liong-li. Dengan tersenyum Siao-Iiong-li berdiri memapaknya dan berkata:
“Setelah kita menyaksikan kejadian mengenaskan tadi, hari kita sendiri juga
bersisa tidak banyak lagi, Ko ji, kini urusan orang lain sama sekali takkan kita
urus, Marilah kau mengawani aku ber-jalan2,”
“Benar, akupun berpikir demikian,” jawab Nyo Ko
Kedua orang lantas bergandengan tangan dan berjalan melintasi lereng sana Tidak
lama kelihatanlah sepasang muda-mudi duduk berdampingan di atas batu asyik
bicara dengan pelahan, kiranya mereka adalah Bu Tun-si dan Yalu Yan, Nyo Ko
tersenyum saja dan mempercepat langkah melewati kedua anak muda itu.
Belum lagi jauh, tiba2 di tengah semak2 pohon sana ada suara ngikik tawa orang,
Wanyan Peng kelihatan berlari keluar dan di belakangnya mengejar seorang sambil
berseru: “Hayo, hendak lari ke mana kau?”
Kepergok oleh Nyo Ko dan Siao liong-Ii, air muka Wanyan Peng menjadi merah dan
menyapi: “Nyo-toako dan Liong-cici” Cepat pula ia berlari masuk ke hutan sana,
menyusul Bu Siu-bun lantas muncul dari semak2 pohon sana terus mengejar ke dalam
hutan.
“O, dunia, apakah cinta itu” demikian Nyo Ko berguman pelahan, Sejenak kemudian
iapun berkata: “Belum lama berselang kedua saudara Bu itu saling labrak mati2-an
demi memperebutkan nona Kwe, tapi hanya sekejap saja cinta kedua anak muda itu
sudah berganti sasaran. Ada orang yang selama hidupnya cuma mencintai seorang,
tapi juga ada orang yang sukar diketahui cintanya murni atau palsu, O, dunia,
apakah cinta itu? pertanyaan ini memang pantas dikemukakan.”
Sejak tadi Siao-liong-li hanya menunduk termenung dan tidak bersuara, Keduanya
berjalan pelahan hingga di kaki gunung, Waktu menengadah, sang surya di waktu
senja sedang memancarkan sinarnya yang cemerlang, salju di puncak gunung
kemilauan oleh cahaya matahari menambah keindahan alam yang sukar dilukiskan.
Teringat kepada hidup mereka yang bersisa tidak lama lagi, kedua orang menjadi
tambah kesemsem kepada pemandangan permai itu.
Siao-liong li ter-mangu2 sekian lama, tiba2 ia berkata: “Koji, konon orang mati
akan menuju ke akhirat, apakah benar ada akhirat dan rajanya?”
“Semoga begitu hendaknya, kalau tiada akhirat, ke mana kita akan menuju dan
tentu takkan berkumpul dan bertemu lagi,” ujar Nyo Ko.
Siao-liong-li sudah biasa mengekang perasaan sendiri, walaupun sedih, namun nada
ucapannya tetap tenang dan biasa saja, sebaliknya Nyo Ko tidak tahan lagi, ia
berpaling ke sana dan meneteskan air mata.
“Ah, soal akhirat masih tanda tanya, kalau bisa terhindar dari mati, tentunya
lebih baik tidak mati saja,” kata Siao-liong-li sambil menghela napas. “Eh,
Ko-ji, lihatlah alangkah indahnya bunga itu!”
Nyo Ko memandang ke arah yang ditunjuk, tertampak di tepi jalan sana tumbuh
setangkai bunga warna merah tua, kelopak bunganya lebar sehingga hampir sebesar
mangkuk, bentuknya seperti bunga mawar dan juga mirip bunga peoni.
“Sungguh jarang ada bunga semacam ini, entah apa namanya bunga yang mekar di
musim dingin ini? Biarlah kuberi nama Liong-li-hoa (bunga puteri Liong) saja,”
kata Nyo Ko sambil mendekati dan memetik bunga itu serta menyuntingkan-nya di
belakang telinga Siao-liong-li.
“Terima kasih, sudah kau hadiahi bunga bagus, diberi nama bagus pula,” kata
Siao-liong li dengan tertawa.
Mereka melanjutkan perjalanan sejenak pula, kemudian mereka berduduk di suatu
tanah berumput.
“Apakah kau masih ingat pada waktu kau menyembah dan mengangkat guru padaku
dahulu?” tanya Siao-liong li tiba2.
“Tentu saja ingat,” jawab Nyo Ko.
“Kau pernah bersumpah bahwa selama hidupmu kau akan tunduk pada perkataanku,
apapun yang kukatakan takkan kau bantah, sekarang aku telah menjadi isterimu,
menurut pendapatmu sepantasnya aku harus “setelah menikah tunduk kepada suami”
atau kau yang harus “tetap tunduk kepada perintah guru”?”
“Ah, apapun yang kau katakan, itu pula yang kukerjakan,” jawab Nyo Ko dengan
tertawa “Perintah guru tak berani kubantah, perintah isteri lebih2 tak berani
kubangkang.”
“Bagus, asal kau ingat saja,” kata Siao-liong-li.
Mereka duduk bersandar di tanah berumput itu, pemandangan sekeliling indah
permai sehingha rasanya berat untuk berpisah.. Dari jauh mereka dengar suara Bu
Sam-thong memanggil mereka ber-santap, Mereka saling pandang dengan tersenyum
dan sama2 berpendapat untuk apa bersantap dengan meninggalkan pemandangan indah
yang sukar dicari ini?
Sementara itu hari sudah mulai gelap, mereka sudah teramat lelah sehari semalam,
apalagi merekapun sama2 terluka, selang tak lama, tanpa terasa mereka sama
tertidur.
Sampai tengah malam, layap-layap Nyo Ko memanggil: “Apakah kau kedinginan,
Liong-ji!” – Bcrbareng ia hendak merangkul nya, siapa tahu rangkulannya telah
merangkul tempat kosong.
Keruan ia terkejut dan cepat membuka mata, ternyata Siao-liong-li sudah
menghilang entah ke mana. Segera ia melompat bangun, ia memandang sekitarnya,
bulan sabit menghias di angkasa menyinari bumi, suasana sunyi senyap, mana ada
bayangan Siao-liong-li?
Nyo Ko ber-lari2 ke atas gunung sambil berteriak2: “Liong ji! Liong-ji!”"
-seketika suaranya bergema, kata2 “Liong-ji” itu berkumandang dari lembah
pegunungan, namun tetap tiada jawaban Siao-liongli.
“Ke mana perginya?” tidak kepalang cemasnya Nyo Ko. ia tidak menguatirkan
Siaoliong-li dicelakai binatang buas, sebab diketahuinya di pegunungan ini
tiada sesuatu binatang buas yang menakutkan, andaikan ada juga takdapat
mengganggu Siao-liong-li, Jika ketemu musuh tangguh, mustahil dirinya tidak
mengetahuinya mengingat mereka berdua tidur berdampingan.
Karena teriakan Nyo Ko inilah, serentak It-teng Taysu, Ui Yong, Cu Cu-liu dan
lain2 terjaga bangun. Ketika mendengar Siao-liong li menghilang entah ke mana,
tentu saja semua orang merasa heran, be-ramai2 mereka lantas ikut mencari di
segenap pelosok lembah pegunungan itu, namun tetap tidak ditemukan jejak.
“Tentu dia sengaja tinggal pergi sehingga aku sama sekali tidak mengetahuinya,”
demikian pikir Nyo Ko, “Tapi mengapa dia pergi begitu saja tanpa pamit? Hal ini
pasti ada sangkut-pautnya dengan pembicaraannya dengan bibi Kwe siang tadi,
Ketika itu dia tampak sedih dan mengajak aku ke sini, tentu juga disebabkan
setelah berbicara dengan bibi Kwe.”
Karena pikiran ini, segera ia tanya Ui Yong dengan suara keras: “Kwe-pekbo, apa
yang kau bicarakan dengan Liong-ji siang tadi?”
Ui Yong sendiri tidak habis mengerti mengapa mendadak Siao-liong li menghilang,
ia lihat urat hijau di dahi Nyo Ko sama menonjol, cara bicaranya rada kasar,
segera ia tahu gelagat tidak enak, cepat ia menjawab: “Kuminta dia agar suka
membujuk kau minum Toan-jong-cau itu agar racun dalam tubuhmu bisa dipunahkan.”
Tanpa pikir Nyo Ko berteriak pula: “Jika dia tak dapat hidup larna lagi, untuk
apa aku hidup sendirian di dunia ini?”
“Jangan kuatir, Ko ji,” Ui Yong berusaha menghibur “Seketika nona Liong entah
pergi ke mana, tapi mengingat ilmu silatnya yang maha tinggi kukira dia takkan
beralangan apapun, masakah kau bilang dia tak dapat hidup lama lagi?”
Saking cemasnya Nyo Ko takdapat menguasai perasaannya Jagi, teriaknya gemas:
“Puteri kesayanganmu telah menyarangkan jarum berbisa di tubuhnya, ketika itu
dia sedang mengatur jalan darah secara terbalik untuk menyembuhkan lukanya, maka
racun jarum itu telah terserot seluruhnya ke jantungnya, dalam keadaan begitu
mana dia dapat hidup lama lagi, dia kan bukan dewa?”
Tentu saja Ui Yong tidak pernah menyangka akan kejadian itu, Meski dia mendengar
dari Kwe Hu bahwa Nyo Ko dan Siao-liong li telah keliru dilukainya dengan jarum
berbisa di kuburan kuno itu, tapi ia pikir Nyo Ko berdua adalah ahli waris
Ko-bong-pay, suatu aliran der:gan Li Bokchiu, tentu mereka memiliki obat penawar
perguruannya untuk menyembuhkannya, sekarang mendengar ucapan Nyo Ko ini,
seketika mukanya menjadi pucat terkejut.
Cepat sekali Ui Yong menggunakan otaknya, segera terpikir olehnya: “Kiranya
Ko-ji tidak mau minum Coat-ceng-tan itu adalah karena jiwa isteri nya sudah
pasti takkan tahan lama lagi, makanya dia tidak ingin hidup sendiri. Lantas ke
mana perginya nona Liong sekarang?” ia memandang ke puncak gunung yang bergua
dan telah menelan bulat2 Kiu Jian-jio dan Kongsun Ci itu, tanpa terasa ia
merinding sendiri.
Tanpa berkedip Nyo Ko memandangi Ui Yong, dengan sendirinya iapun dapat meraba
jalan pikiran nyonya cerdik yang gemetar memandangi puncak gunung sana, seketika
ia kuatir dan gusar, kata-nya: “Sudah jelas jiwanya sukar dipertahankan lantas
kau membujuk dia agar membunuh diri untuk menyelamatkan jiwaku, begitu bukan?
Mungkin kau mengira tindakanmu ini ada baiknya bagiku, tapi aku… aku O, betapa
benciku padamu…”
Sampai di sini dadanya menjadi sesak, ia terus roboh pingsan.
Cepat It-teng menurut gitok anak muda itu sejeuak, pelahan2 Nyo Ko siuman
kembali, Ui Yong lantas berkata: “Aku hanya membujuk dia supaya menyelamatkan
jiwamu dan sekali tidak meminta . dia bunuh diri. Kalau kau tidak percaya ya
terserah padamu!”
Semua, orang saling pandang dengan bingung,
Tiba2 Thia Eng berkata: “Lekas kita membuat tali panjang dari kulit pohon, biar
kuturun ke dalam gua sana untuk mencannya, barangkali… barangkali Liong-cici
tergelincir…”
“Ya, betapapun kita harus mencarinya hingga jelas persoalannya,” ujar Ui Yong.
Segera mereka bekerja keras mengupas kulit pohon untuk dipintal menjadi tali
besar, orang banyak tenaga kuat, tidak lama tali yang ratusan meter panjangnya
sudah jadi, Be-ramai2 para anak muda itu mengajukan diri untuk menyelidiki gua
di bawah tanah itu.
“Biarlah aku sendiri yang turun ke sana,” kata Nyo Ko.
Semua orang memandang Ui Yong untuk menunggu keputusannya, Ui Yong tahu dirinya
dicurigai Nyo Ko, kalau keinginan anak muda itu dicegah pasti juga takkan
digugu, sebaliknya kalau dibiarkan turun ke bawah, mungkin Siao liong-li betul
terjatuh dan meninggal di sana, maka pastilah anak muda itu takkan mau naik lagi
di sini.
Selagi Ui Yong ragu2, tiba2 Thia Eng berkata pula dengan iklas: “Nyo-toako, aku
saja yang turun ke sana. Dapatkah engkau mempercayaiku?”
Selain Siao-liong-li, hanya Thia Eng saja yang paling digugu oleh Nyo Ko.
Apalagi ia sendiripun sedih dan bingung, kaki tangan terasa lemas, terpaksa ia
mengangguk setuju.
Segera Bu Sam-thong, Yalu Ce dan lain2 yang bertenaga kuat memegangi tali
panjang itu untuk menurunkan Thia Eng ke dalam gua bawah tanah itu. Karena
lubang gua di bawah tanah itu terletak dipuncak bukit, maka dalamnya gua juga
sama tingginya dengan puncak itu. Tali panjang itu terus di ulur hingga
tertinggal beberapa meter saja barulah Thia Eng mencapai tanah.
Be-ramai2 semua orang berdiri mengelilingi lubang gua itu dan tiada seorangpun
yang bicara.
Ui Yong hanya saling pandang dengan Cu Cu-liu, apa yang mereka pikir adalah
sama, yakni kalau Siao-liong-li benar2 meninggal di bawah sana, pasti Nyo Ko
akan terjun juga ke dalam gua, hal ini harus di cegah sebisanya.
Begitulah dengan perasaan cemas dan gelisah semua orang memandangi lubang gua
itu dan menantikan berita yang akan dibawa oleh Thia Eng.
Sekian lama mereka menunggu dengan tidak sabar dan Thia Eng masih belum nampak
memberi tanda untuk naik kembali ke atas.
Tidak lama kemudian, tiba2 tali yang dipegang Bu Sam-thong itu ber goyang2
beberapa kali, Kwe Hu dan lain2 lantas berteriak: “Lekas kerek dia ke atas!”
Be-ramai2 mereka lantas menarik sekuatnya sehingga Thia Eng dapat di kerek ke
atas. Sebelum keluar dari lubang gua itu Thia Eng sudah berteriak2 :”Tidak ada,
tidak ada Liong-cici di bawah sana!”
Semua orang menjadi girang dan menghela napas lega, sejenak kemudian Thia Eng
menongol keluar dari lubang gua, lalu berkata pula: “Nyo-toako, sudah kuperiksa
dengan teliti, di bawah sana hanya ada mayat Kongsun Ci dan Kiu Jian-jio yang
sudah hancur dan tiada terdapat benda lain.”
“Kita sudah mencari rata segenap pelosok dan tidak menemukannya, kukira nona
Liong saat ini pasti sudah meninggalkan lembah ini,” kata Cu Cu-liu setelah
berpikir sejenak.
Tiba2 Bu-siang berseru: “He, masih ada suatu tempat yang belum kita longok, bisa
jadi Liong-cici sedang berusaha menemukan Coat-ceng tan yang terbuang…”
Tidak sampai habis ucapan Bu-siang, hati Nyo Ko tergetar dan segera ia berlari
ke tebing curam kemarin itu, sembari berlari iapun ber-teriak2: “Liong-ji! Liong
ji!”
Setiba di tebing itu, tertampak kabut membungkus permukaan jurang, awan
mengapung di udara, kicau burung saja tak terdengar apalagi bayangan manusia.
Nyo Ko pikir Siao-Iiong-li adalah orang yang berhati polos dan lugu, apapun yang
dia pikir pasti dikatakan padaku. Ketika berbaring di tanah rumput itu dia hanya
mengatakan agar aku ingat saja sumpahku akan patuh pada perkataannya, Sudah
tentu aku tidak pernah membantah kehendaknya, mengapa perlu ditegaskan lagi?
Namun dia kan tidak pernah memberi pesan apa2 padaku?”
Begitulah ia menengadah dan bergumam pelan.
“Liong ji, O, Liong-ji, ke manakah kau sesungguhnya? sebenarnya kau ingin
mematuhi perkataanku tentang apa?” – ia memandang ke tebing di depan sana,
samar2 tertampak bayangan nona berbaju putih dengan bunga merah tersunting di
sanggulnya, bayangannya yang mengambang itu seperti saling bertempur melawan
Kongsun Ci.
“Liong-ji!” Nyo Ko berteriak lagi, tapi setelah diperhatikan lagi, mana ada
bayangan Siao-liong-ii, hanya bunga salju belaka yang bertebaran tertiup angin,
tapi bunga merah yang dipetiknya kemarin itu memang benar berada di bawah tebing
sana.
Nyo Ko menjadi heran, padahal waktu Siao-liong-li menempur Kongsun Ci di situ
kemarin belum ada bunga merah itu. Tebing hanya batu karang belaka tanpa
tetumbuhan apapun, mengapa ada bunga di situ? Kalau bunga itu jatuh ke situ
tertiup angin, manabisa terjadi secara kebetulan begitu?
Segera ia tarik napas panjang dan berlari ke tebing sana melalui jembatan batu
yang sempit itu. Sesudah dekat, seketika hatinya tergetar hebat, jelas bunga itu
adalah merah yang dipetiknya untuk Siaoliong-li itu, kelopak bunga kelihatan
sudah layu dan dapat dikenalnya dengan jelas waktu itu ia sendiri memberi nama
“Liong-li-hoa” untuk bunga merah ini. Kalau bunga ini terjatuh di sini, maki
Siao-liong-ii pasti juga pernah datang ke sini.
Ia jemput bunga itu, dilihatnya dibawah bunga ada satu bungkusan kertas, cepat
ia membuka bungkusan itu, kiranya isinya adalah setangkai rumput warna ungu,
yaitu Toan-jong-cau yang tumbul di bawah semak2 bunga cinta itu.
Hati Nyo Ko ber-debar2 keras, ia coba meneliti kertas pembungkus rumput itu,
namun tiada sesuatu tulisan apa2.
“Nyo-toako!” terdengar Bu-siang memanggil di seberang, “apa yang kau lakukan di
sana?”
Waktu Nyo Ko menoleh, tiba2 terlihat di dinding tebing terukir dua baris huruf
dengan ujung pedang, huruf yang satu baris lebih besar dan tertulis: “16 tahun
lagi berjumpa pula di sini, cinta murni suami isteri, jangan sekali2 ingkar
janji”
Sedang baris huruf yang lebih kecil tertulis: “Dengan sangat Siao-liong-li
menyampaikan pesan ke pada suamiku Nyo Ko agar menjaga diri baik2 dan harus
berusaha berkumpul kembali”
Nyo Ko memandangi dua baris tulisan itu dengan ter-mangu2, seketika ia tidak
paham apa maksud Siao-liong li. Pikirnya: “Dia berjanji padaku untuk berjumpa
pula di sini 16 tahun kemudian, lalu ke mana perginya sekarang? Dia mengidap
racun jahat dan sukar disembuhkan mungkin sepuluh hari atau setengah bulan saja
tak tahan, mana bisa dia mengadakan janji bertemu 16 tahun lagi? sudah jelas dia
mengetahui Coat-ceng-tan yang dapat menyelamatkan jiwaku telah kubuang ke
jurang, manabisa pula dia menunggu aku sampai 16 tahun lamanya?”
Begitulah makin dipikir makin ruwet sehingga tubuhnya menjadi sempoyongan.
Melihat keadaan Nyo Ko yang linglung itu, semua orang menjadi kuatir kalau anak
muda itu tergelincir ke dalam jurang, Tapi untuk menyeberang ke sana dan
membujuknya juga sulit karena jembatan itu sangat sempit, kalau mendadak dia
menjadi kalap, ilmu silatnya sedemikian tinggi pula, lalu siapa yang mampu
mengatasinya dan pasti akan ikut kejeblos ke jurang.
Ui Yong mengerut kening, katanya kemudian kepada Thia Eng: “Sumoay, tampaknya
dia masih mau menurut perkataanmu.”
“Baiklah, coba kupergi ke sana,” jawab Thia Eng dan segera melompat ke atas
jembatan batu dan melangkah ke sana.
Mendengar suara tindakan orang dari belakang, segera Nyo Ko membentak: “Siapapun
tak boleh ke sini!” Cepat iapun membalik tubuh dengan mata mendelik.
“Akulah, Nyo-toako!” seru Tbia Eng dengan suara lembut “Aku ingin membantu kau
mencari Liong-cici dan tiada maksud lain.”
Sejenak Nyo Ko mengawasi Thia Eng dengan termenung, kemudian sorot matanya mulai
berubah halus.
Thia Eng melangkah maju dan bertanya: “Apakah bunga merah ini tinggalan
Liong-cici?”
“Ya,” Nyo Ko menjawab. “Mengapa harus 16 tahun? Mengapa?”
Sudah tentu Thia Eng tidak paham apa yang dikatakan Nyo Ko itu, setelah berada
di seberang-dapatlah ia membaca tulisan yang terukir di dinding tebing itu,
iapun merasa heran. Katanya kemudian: “Kwe-hujin banyak tipu dayanya, caranya
memecahkan persoalan juga sangat jitu, marilah kita kembali ke sana dan tanya
beliau, tentu akan mendapatkan keterangan yang memuaskan,”
“Benar,” ujar Nyo Ko. “Awas, jembatan itu sangat licin, kau harus hati2!” Segera
ia mendahului melompat ke seberang sana serta menceritakan kedua baris tulisan
itu kepada Ui Yong,
Uhtuk sekian lamanya Ui Yong merenungkan arti tulisan itu, tiba2 matanya
bercahaya dan ber-keplok tangan, katanya dengan tertawa: “Wah, selamat, Ko-ji,
selamat!”
Kejut dan girang Nyo Ko, cepat ia bertanya:
“Maksudmu maksudmu itu berita baik?”
“Ya, tentu saja,” jawab Ui Yong, “Rupanya adik Liong telah bertemu dengan
Lam-hay Sin-ni (Rahib sakti dari lautan selatan), sungguh penemuan yang sukar di
cari.”
“Lam-hay Sin-ni?” Nyo Ko mengulang nama ini dengan bingung, “Siapakah dia?”
“Lam-hay Sin-ni adalah nabi besar agama Buddha jaman kini,” tutur Ui Yong,
“Agama beliau sukar dijajaki, tingkatannya bahkan jauh lebih tinggi daripada
It-teng Taysu ini. Lantaran dia jarang ke Tionggoan sini, maka tokoh dunia
persilatan jarang yang kenal namanya, Dahulu ayahku pernah bertemu satu kali
dengan beliau dan beruntung mendapat ajaran sejurus ilmu pukulan dari beliau.
Yah 16, 32. 48, ya benar, kejadian itu sudah 48 tahun yang lalu.”
Nyo Ko merasa sangsi “48 tahun yang lalu? “ia menegas.
“Benar,” jawab Ui Yong, “Usia Sin-ni itu mungkin kini sudah dekat seabad,
Menurut cerita ayahku, tiap 16 tahun sekali ia datang ke Tionggoan ini.
Celakalah orang jahat yang kepergok olehnya, Tapi beruntunglah orang baik yang
berjumpa dengan beliau, Nona cantik seperti adik Liong itu pasti sangat disukai
oleh Sin-ni dan bisa jadi telah menerimanya sebagai murid dan dibawa ke Lamhay.”
“Setiap 16 th. satu kali?” Nyo Ko menggumam, tiba2 ia berpaling kepada It-teng
Taysu dan berta-nya: “Apakah betul begitu, Taysu?”
Belum lagi It-teng menjavvab, cepat Ui Yong menimbrung: “Meski agamanya tinggi,
tapi tabiat Sin-ni ini rada aneh. Apakah Taysu juga pernah bertemu dengan
beliau?”
“O, sayang, belum pernah kulihat dia,” jawab It-teng singkat.
“Benar2 orang tua yang agak kurang bijaksana,” kata Ui Youg pula. “Masakah orang
muda yang baru bersuami isteri diharuskan berpisah 16 tahun lamanya, bukankah
terlalu kejam? Padahal ilmu silat adik Liong sudah begitu tinggi, kalau belajar
lagi 16 tahun, memangnya supaya dia dapat mengatasi dan menundukkan sang suami?
Hahaha!”
“Ah kukira bukan begitu, Kwe-pekbo,” kata Nyo Ko.
“Bagaimana?” tanya Ui Yong,
Nyo Ko lantas mengulangi bercerita tentang Siao-liong-li yang sedang mengadakan
penyembuhan luka dalam sendiri dan mendadak terkena jarum berbisa yang
disambitkan Kwe Hu sehingga racun terseret ke jantung, akhirnya ia berkata:
“Jika benar Liong-ji mendapatkan perhatian Sin-ni, maka dalam 16 tahun ini
Sin-ni pasti akan menggunakan kesaktiannya untuk menguras racun yang berkumpul
dalam tubuh Liong-ji. Tadinya kukira… ku kira dia pasti takdapat disembuhkan
lagi.”
“Tentang secara semberono anak Hu mencelakai adik Liong juga baru kudengar dari
adik Liong semalam,” tutur Ui Yong. “Ko-ji, apa yang kau duga barusan ini memang
masuk diakal. Kukira untuk menyembuhkan adik Liong memang sukar dilakukan dalam
waktu singkat biarpun Sin-ni memiliki obat mujarab. Maka kita berharap saja
semoga Sin-ni tiba2 menaruh belas kasihan dan dapat mengirim kembali adik Liong
padamu sebelum waktu yang ditentukan.”
Selamanya Nyo Ko belum penuh mendengar tokoh sakti bernama “Lam hay Sin-ni”
segala, hatinya menjadi ragu2, hendak tidak percaya, namun bunga ditemukannya
dan tulisan juga terukir jelas, semua itu adalah bukti nyata yang tak dapat
di-bantah, jika Siao-liong-li mengalami sesuatu, mengapa dia menjanjikan
pertemuan 16 tahun kelak?
Setelah berpikir sejenak, tiba2 ia tanya Ui Yong: “Kwe-pekbo, darimana engkau
mengetahui Liong-ji dibawa pergi Lam-hay Sin-ni? Sebab apa pula dia tidak
menuliskan kejadian yang sebenarnya agar aku tidak berkuatir baginya?”
“KesimpuIanku ini kutarik dari kalimat “16 tahun lagi” itu,” tutur Ui Yong,
“Kutahu setiap 16 tahun sekali Lam-hay Sin-ni pasti datang ke Tionggoan sini,
kecuali dia rasanya tiada orang kosen lain yang mempunyai kebiasaan aneh begitu.
It-teng Taysu, apakah engkau teringat ada oran kosen lain pula?”
It-teng menggeleng dan menyatakan tidak ada. Maka Ui Yong berkata pula: “Malahan
Nikoh sakti itupun sungkan namanya di-sebut2 orang, dengan sendirinya dia tidak
mengizinkan adik Liong menulis namanya di atas batu, Cuma sayang Toan-jong-cau
ini entah dapat menawarkan racun dalam tubuh atau tidak, jika, . . .jika tidak,
ai, 16 tahun kemudian adik Liong akan pulang dan bila tidak dapat bertemu lagi
dengan kau, mungkin iapun tidak ingin hidup lagi.”
Air mata Nyo Ko ber-linang2 di kelopak matanya sehingga pandangannya menjadi
samar2. lapat2 seperti dilihatnya ada bayangan putih di seberang sana, se-akan2
16 tahun sudah lalu dan Siao liong li sedang mencarinya di situ, tapi tidak
bertemu sehingga sangat kecewa dan berduka.
Angin dingin meniup membuat Nyo Ko ter-gigil, segera ia berkata dengan tegas:
“Kwe-pekbo, biarlah kupergi ke Lam-hay untuk mencari Liong-ji, entah Sin-ni
berdiam di mana?”
“Ko ji,” jawab Ui Yong, “janganlah kau berpikir begitu, Tay ti-to yang menjadi
pulau kediaman Lam-hay Sin-ni itu mana boleh diinjak orang luar. Bahkan setiap
lelaki yang berani mendekati pulau itu akibatnya pasti akan binasa. Dahulu
ayahku telah mendapat anugerah beliau, tapi ayah juga belum pernah berkunjung ke
sana. Kalau adik Liong sudah diterima oleh Sin-ni, janji bertemu 16 tahun kelak
dengan cepat akan lalu, mengapa engkau mesti ter-gesa2 mencarinya?”
Dengan mata membelalak Nyo Ko menatap tajam Ui Yong dan menegas: “Ucapan Kwe-
pekbo ini sesungguhnya betul atau tidak?”
“Terserah kau mau percaya atau tidak,” jawab Ui Yong. “Boleh coba kau memeriksa
lagi ukiran tulisan di dinding sana, kalau bukan tulisan tangan adik Liong, maka
apa yang kukatakan mungkin juga tidak betul.”
“Gaya tulisan itu memang betul tulisan tangan Liong-ji,” ujar Nyo Ko. “Setiap
kali menulis huruf Nyo, pada titik kanan itu selalu dia tarik agak panjang, hal
ini tidak mungkin dipalsukan orang.”
“Bagus jika begitu,” seru Ui Yong sambil keplok, “Terus terang kukatakan, aku
sendiripun merasa kejadian ini teramat kebetulan dan semula akupun mencurigai
Cu-toako yang sengaja mengatur sandiwara ini untuk mengelabuhi kau.”
Nyo Ko termenung sejenak, katanya kemudian: “Baiklah aku akan coba2 minum
Toan-jong-cau jni, jika tidak berhasil, 16 tahun yang akan datang tolong
Kwe-pekbo memberitahukan kejadian ini kepada isteriku yang bernasib buruk itu.”
Lalu ia berpaling dan tanya Cu Cu-liu: “Cu-toasiok, bagaimana caranya minum obat
rnmput ini?”
Cu Cu liu sendiri hanya tahu Toan-jong-cau itu mengandung racun yang keras,
bagaimana caranya menggunakan racunnya untuk mengobati racun belum pernah di
dengannya. Terpaksa ia bertanya kepada lt teng: “Suhu, soal ini harus minta
petunjuk engkau.”
It-teng Taysu segera menggunakan It-yang-ci dan menutuk empat Hiat-to di bagian2
yang menyangkut ulu hati, serentak Nyo Ko merasakan hawa hangat menyalur ke
dada, rasa sesak tadi lantas longgar.
“Karena racun bunga cinta ini berhubungan dengan hati dan perasaan, maka waktu
Toan-jong-cau menawarkan racunnya pasti juga akan menyerang bagian hati, sebab
itulah kututuk empat Hiat-to untuk melindungi urat nadi jantung hati, sekarang
kau boleh coba minum satu tangkai dulu rumput rantas usus itu,” demikian kata
It-teng.
Nyo Ko lantas mengucapkan terima kasih. Waktu dia mendengar paderi Hindu itu
dibinasakan Li Bok-chiu, ia merasa putus harapanlah usaha menyembuhkan Siao
liong-li, maka ia sendiripun bertekad akan mati saja bersama sang isteri
sekarang dia dijanjikan bertemu lagi 16 tahun kemudian, segera hasrat ingin
hidupnya berkobar kembali cepat ia mengeluarkan setangkai Toanjong-cau atau
rumput rantas usus itu terus dikunyahnya, ia merasa pahitnya luar biasa melebihi
bratawali.
Tapi baik airnya maupun ampasnya Nyo Ko telan mentah2. Kalau sebelum ini dia
tidak ingin hidup sendirian tanpa Siao-Iiong-li, sekarang dia justeru kuatir
akan mati lebih dulu sehingga 16 tahun kemudian Siao-liong-li takdapat menemukan
dia di puncak gunung ini.
Ia lantas duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi urat nadi
jantung hati, selang tak lama, mendadak perutnya mulas, menyusul itu lantas
kesakitan seperti di-iris2 dan laksana dicocok be-ribu2 jarum sekaligus, Tapi ia
bertahan sekuatnya tanpa merintih sedikitpun selang tak lama rasa sakit itu
hampir merata di seluruh badan, ruas tulang seakan2 terlepas semuanya.
Rasa sakit itu berlangsung hingga lama, kemudian mulai berkurang dan cuma bagian
perut saja yang masih mulas, mendadak ia menumpahkan darah warna merah segar
seperti darah orang sehat.
Thia Eng dan Bu-siang sama menjerit kaget melihat anak muda itu tumpah darah.
Tapi It-teng tampak bergirang malah dan menggumam pelahan: Wah Sute, meski sudah
wafat engkau tetap meninggalkan pahala.”
Serentak Nyo Ko melompat bangun dan berseru: “Jiwaku ini adalah pertolongan
paderi Thian -tiok, It teng Taysu dan Kwe-pekbo bertiga.”
“He, apakah kadar racun dalam tubuhmu sudah punah seluruhnya?” tanya Bu-siang
dengan girang.
“Mana bisa begitu cepat?” ujar Nyo Ko. “Cuma sekarang sudah jelas kemanjuran
obat ini, asalkan setiap hari minum satu tangkai tentu kadar racun akan semakin
berkurang pula setiap hari.”
“Tapi kalau tak dapat diketahui kapan berhasilnya racun dalam tubuhnya, jika
engkau masih terus makan rumput rantas usus itu, jangan2 isi perutmu nanti ikut
hancur semua?” kata Bu-siang.
“Hal ini tentu dapat kurasakan sendiri,” kata Nyo Ko. “Jika kadar racun belum
bersih, bila timbul… timbul rasa cintaku, segera dadaku akan kesakitan.”
“Semoga engkau jangan banyak pikir dulu,” ujar Bu-siang.
Sejak tadi Kwe Hu hanya mendengarkan saja, mendadak ia menimbrung: “Hm, yang
dipikirkan Nyo-toako tentulah Liong-cici, masakah dia memikirkan dirimu?”
Cepat Ui Yong membentaknya: “Kau mengoceh apa, anak Hu!”
Muka Bu-siang menjadi merah. Malahan Kwe Hu terus menambahkan lagi: “16 tahun
lagi Liong-cici pasti akan pulang, sebaiknya kau jangan sembarang mimpi.”
Bu-siang tidak tahan lagi, “sret”, mendadak ia melolos goloknya terus membentak
sambil menuding Kwe Hu: “Jika bukan gara2mu, masakah Nyo-toaku sampai terpisah
selama 16 tahun dengan Liong-cici? Coba renungkan, betapa hebat kau membikin
susah Nyo-toako?”
Segera Kwe Hu hendak membantah, tapi Ui Yong lantas membentaknya: “Hu-ji, jika
kau bersikap kurang adat lagi kepada orang, lekas kau pulang saja ke Tho-hoa-to
dan sekali2 jangan kembali ke Siangyang.”
Kwe Hu tidak berani bersuara lagi, ia hanya mendelik belaka kepada Liok
Bu-siang.
Nyo Ko menghela napas panjang, katanya kepada Bu-siang: “Kejadian itu memang
juga sangat kebetulan dan nona Kwe sendiri juga tidak sengaja hendak mencelakai
Liong-ji. Maka urusan ini selanjutnya tidak usah diungkat lagi, adik Liok.”
Mendengar dirinya dipanggil “adik”, sebaliknya anak muda itu menyebut Kwe Hu
sebagai “nona,” jelas sekali bedanya antara orang sendiri dan orang luar. Hati
Bu-siang menjadi girang, segera ia masukkan golok ke sarungnya sambil mencibir
pada Kwe Hu.
“Nyo-sicu telah makan Toan-jong-cau tanpa terganggu apapun, tampaknya rumput ini
memang mujarab untuk menawarkan racun bunga cinta ini.” kata Itteng kemudian,
“Cuma sebaiknya jangan diminum terus menerus, bolehlah tujuh hari kemudian baru
minum untuk kedua kalinya.”
Nyo Ko memberi hormat dan menerima saran itu.
Melihat hari sudah terang benderang, Ui Yong lantas berkata: “Sudah cukup Iama
kita meninggalkan Siangyang, entah bagaimana situasi di sana, aku menjadi sangat
kuatir dan sebentar juga akan berangkat pulang, Ko-ji kaupun ikut pulang saja ke
sana, paman Kwe tentu sangat kangen padamu.”
“Aku tinggal di sini saja untuk menunggu… menunggu dia,” jawab Nyo Ko.
“He, kau hendak menunggu dia selama 16 ta-hun di sini?” tanya Kwe Hu heran.
“Entahlah,” jawab Nyo Ko. “Rasanya akupun tidak tahu harus pergi ke mana?”
“Baiklah, boleh juga kau menunggu dulu sepuluh hari atau setengah bulan lagi di
sini,” ujar Ui Yong, “Andaikata adik Liong benar2 tiada kabar beritanya,
hendaklah segera kau datang ke Siangyang saja.”
Nyo Ko memandang tebing curam di seberang sana dengan ter-mangu2 tanpa
menjawabnya lagi, Semua orang lantas mohon diri kepada Nyo Ko untuk berangkat
Melihat Liok Bu-siang tiada tanda2 mau ikut pergi, Kwe Hu tidak tahan dan
bertanya: “He, Liok Bu-siang, apakah kau hendak tinggal di sini menemani
Nyo-toako?”
“Peduli apa dengan kau?” semprot Bu-siang dengan muka merah.
Tiba2 Thia Eng berkata: “Nyo-toako belum sehat, biarlah aku dan Piaumoay
merawatnya beberapa hari lagi di sini.”
Ui Yong tahu Sumoay cilik ini wataknya lembut di luar dan keras di dalam, jika
puterinya sampai membikin sakit hati dia, kelak pasti akan banyak mendatangkan
kesukaran, Maka cepat ia melototi Kwe Hu agar jangan banyak bicara lagi. Lalu
berkata:” Ko-ji mendapatkan perawatan Sumoay, tentu takkan beralangan apapun,
Nanti kalau sudah sembuh hendaklah kalian bertiga datang ke Siangyang.”
Begitulah Nyo Ko, Thia Eng dan Liok Bu-siang memandangi kepergian It-teng Taysu,
Ui Yong dan rombongannya hingga makin jauh dan akhirnya menghilang di balik
pepohonan sana.
Api yang berkobar semalaman kini sudah mulai padam, Nyo Ko lantas berkata:
“Kedua adik, ada suatu pikiranku yang kurang pantas, jika kukatakan hendaklah
kalian jangan marah.”
“Katakan saja, siapa akan marah padamu?” ujar Bu-siang.
“Sejak berkenalan, rasanya kita bertiga sangat cocok satu sama lain,” tutur Nyo
Ko, “Aku sendiri tidak mempunyai saudara, maka kuingin mengikat persaudaraan
angkat dengan kalian berdua, selanjutnya kita benar2 menjadi kakak beradik
seperti saudara sekandung Entah bagaimana pendapat kalian dengan usulku ini?”
Pilu rasa hati Thia Eng, ia tahu cinta Nyo Ko kepada Siao-liong-li tidak pernah
buyar, lantaran ada janji bertemu 16 tahun lagi, maka dia mengajak mengangkat
saudara agar hubungan mereka tidak menjadi kikuk. Kelihatan Bu-siang menunduk
dengan mengembeng air mata, cepat ia berkata: “Jika begitu kehendak Toako, tentu
saja kami setuju, Mempunyai Toako sebaik engkau, apalagi yang kami harapkan?”
Bu-siang lantas membubut tiga tangkai rumput dan ditancapkan di tanah serta
berkata: “Di sini tidak ada Hiosoa (dupa sembayang), biarlah kita menggunakan
rumput sebagai gantioya.” ia berkata dengan tersenyum, tapi kemudian suaranya
menjadi ter sendat2 dan sebelum Nyo Ko menjawab ia sudah mendahului berlutut dan
memberi hormat.
Cepat Nyo Ko dan Thia Eng ikut berlutut dan saling memberi hormat delapan kali
sebagai tanda pengikatan kakak beradik secara resmi.
Kata Nyo Ko kemudian: “Jimoay dan Sammoay, barang yang paling jahat di dunia ini
kukira tak lebih dari pada pohon bunga cinta ini. Bagaimana kalau kita
membabatnya hingga akarnya supaya hancur dan lenyap seluruhnya?”
Tanpa pikir Thia Eng dan Bu-siang menyatakan setuju. Be-ramai2 mereka lantas
mencari cangkul dan sekop di perkampungan yang sudah menjadi tumpukan puing,
dengan bersemangat mereka terus membabati dan mendongkel setiap pohon bunga
cinta yang mereka lihat.
Karena tumbuhan bunga itu cukup banyak, pula berduri, mereka harus hati2
bekerja, setelah sibuk enam hari barulah tumbuhan berbisa itu dibasmi habis.
Sejak itu tumbuhan aneh yang membikin celaka manusia itupun tak pernah bersemi
pula dan lenyap dari permukaan bumi ini.
Besoknya pagi2 Bu-siang sudah memberi setangkai rumput rantas usus kepada Nyo Ko
dan ber-kata: “Toako, hari ini kau harus minum lagi rumput berbisa ini.”
Karena sudah berpengalaman tujuh hari yang lalu, Nyo Ko tahu rumput rantas usus
itu berbisa, tapi dirinya mampu bertahan, maka begitu dia minum sebatang rumput
itu segera ia mengerahkan tenaga dalam. Karena sekarang kadar racun dalam
tubuhnya sudah berkurang, rasa sakitnya juga ti -dak sehebat tempo hari lagi.
Selang agak lama, ia muntahkan darah segar puIa, lalu hilanglah rasa sakitnya.
Nyo Ko berdiri coba melemaskan kaki dan tangannya, dilihatnya Thia Eng dan
Bu-siang ikut bergirang bagi kemajuan penyakitnya itu. Pikirnya: “Kedua adik
angkat ini sungguh baik sekali pada-ku, cuma sayang aku tidak dapat membalas
kebaikan mereka.” Setelah berpikir pula sejenak, timbul lagi pikirannya: “Jimoay
mempunyai guru kosen, asal berlatih lebih lania lagi tentu dia akan mencapai
tokoh tingkatan atas. sedangkan nasib Sammoay jelas kurang beruntung dari pada
Jimoay.”
Karena itulah ia lantas berkata kepada Bu-siang: “Sammoay, gurumu dan guruku
adalah saudara seperguruan, jadi kita berdua sebenarnya masih sesama saudara
seperguruan juga, ilmu silat tertinggi dari Ko-bong-pay kita tercantum semua di
dalam Giok-li-sim-keng, sedangkan kitab itu telah direbut Li Bok-chiu dan ikut
terkubur di lautan api. Untung aku masih ingat isi kitab itu, daripada iseng
biarlah kuajarkan sedikit ilmu silat perguruan kita itu, bagaimana pikiranmu?”
Tentu saja Bu-siang kegirangan, jawabnya: “Terima kasih, Toako, lain kali kalau
ketemu Kwe Hu tentu aku tidak takut dia bertindak kasar lagi padaku.”
Nyo Ko tersenyum, segera ia mulai menuturkan permulaan dari ajaran
Giok-li-sim-keng beserta-kunci2nya, dimulai dari yang cetek dan kemudian
mendalam. Kemudian ia memberi pesan pula: “Hendaklah kau apalkan dulu kunci2nya,
waktu latihan bila perlu boleh minta bantuan jimoay, di lembah ini sangat
tenang, sungguh suatu tempat latihan yang baik.”
Begitulah selama beberapa hari Bu- siang tekun mengapalkan ajaran Nyo Ko itu,
memangnya ilmu yang pernah dipelajarinya adalah aliran Ko-bongpay, dengan
sendirinya mudah baginya untuk menerima dan memahaminya. jika ada bagian2 sulit
yang sukar dipecahkan, Nyo Ko menyuruh Bu-siang mengapalkan saja untuk diulangi
lagi lain hari. Dengan begitu selama hampir sebulan dapatlah Bu-siang mengingat
seluruh isi Giok-li-sim-keng di luar kepala.
Suatu hari, pagi2 dia dan Thia Eng sudah menyiapkan sarapan, tapi ditunggu
sampai lama sekali tidak nampak munculnya Nyo Ko. Mereka lantas mendatangi gua
tempat tinggal Nyo Ko, terlihat di tanah sana tertulis huruf2 besar yang
berbunyi “Berpisan untuk sementara, biarlah bertemu lagi kelak. Hubungan baik
kakak beradik tetap kekal dan abadi.”
Bu-siang melonggong dan bergumam: “Akhir-nya dia. . . dia telah pergi.” ia
ber-lari2 ke puncak gunung dan memandang jauh ke selatan.
Thia Eng segera menyusulnya, mereka memandang jauh ke sana, tapi yang kelihatan
hanya awan mengambang diudara, pepohonan menghijau permai, mana ada bayangan Nyo
Ko?
Dengan rasa pilu Bu-siang berkata dengan ter-guguk2: “Jici, kau kira dia… dia
pergi ke mana? Apakah kelak kita dapat… dapat berjumpa pula dengan dia?”
“Sammoay,” jawab Thia Eng, “lihatlah gumpalan awan itu yang bergerombol menjadi
satu untuk kemudian terpancar lagi. Hidup manusia juga begitu, buat apa kau
merasa susah?” Meski begitu ucapannya, tapi dalam hati sendiri iapun bersedih.
Kiranya selama hampir sebulan Nyo Ko merasa sudah cukup mengajarkan isi
Giok-lisim-keng kepada Bu-siang. tapi selama itu tiada kabar berita
Siao-Iiong-li, ia tahu menunggu lagi lebih lama juga tiada gunanya, Maka ia
lantas meninggalkan tulisan di tanah dan pergi, ia pikir kalau pulang
Cong-lam-san, tentu akan menambah rasa duka, maka seorang diri ia lantas
mengembara di Kangouw.
Dengan cepat beberapa bulan telah lalu, dari musim dingin telah datang musim
semi, suatu hari ia sampai di dekat Siangyang, dilihatnya bangunan di tepi jalan
yang dahulu dibakar oleh pasukan Mongol kini sudah banyak yang dibangun kembali
dalam bentuk rumah2 gubuk, walaupun tidak se-makmur dahulu, namun penduduk sudah
mulai ramai lagi, agaknya selama ini pasukan Mongol tidak pernah menyerbu lagi
ke sini.
Walaupun Nyo Ko juga terkenang kepada Kwe Cing, tapi ia tidak ingin bertemu lagi
dengan Kwe Hu, maka ia sungkan mampir ke Siangyang, pikirnya: “Sudah lama
berpisah dengan Tiau-heng (kakak rajawali), biarlah aku menjenguknya ke sana.
Segera ia mencari jalan menuju ke arah, lembah pegunungan dahulu itu.
Hampir seharian, akhirnya dekatlah dia dengan tempat pengasingan Tok-ko Kiu-pay
dahulu. Segera ia bersuit panjang sembari berjalan ke depan, tidak lama kemudian
di lereng bukit di depan sana berkumandang suara kaokan burung.
Waktu Nyo Ko memandang ke sana, terlihatlah rajawali sakti itu mendekam di bawah
pohon besar, kedua cakarnya mencengkeram seekor macan tutul. Berada dalam
cengkeraman cakar rajawali yang hebat itu, sama sekali macan tutul itu tak bisa
berkutik dan hanya mengeluarkan suara raungan belaka.
Melihat kedatangan Nyo Ko, rajawali itu lantas melepaskan macan tutul itu,
keruan cepat sekali binatang buas- itu memberosot ke semak2 pohon dengan
mencawat ekor. Segera Nyo Ko merangkul leher rajawali itu dengan mesra dan
gembira.
Mereka, seorang manusia dan seekor burung, lantas kembali ke gua itu. Teringat
pengalaman sendiri selama beberapa bulan yang penuh duka derita itu, sayang
rajawali tidak dapat bicara diajaknya berbincang sekedar pelipur lara.
BegituIah selama beberapa hari Nyo Ko berdiam saja di lembah pegunungan sunyi
itu bersama rajawali sakti, Suatu hari, saking isengnya Nyo Ko mendatangi pula
tebing tempat makam pedang Tokko Kiu-pang itu.
Hian-tiat-pokian, itu pedang yang maha berat yang diambilnya dari sini, sudah
dibuangnya di Coat-ceng-kok, segera ia melompat lagi ke atas tebing itu dan
membaca kembali tulisan yang terukir di batu kuburan pedang kayu yang sudah
lapuk itu dan berbunyi “Sesudah berusia 40 tahun, sungkan membawa senjata lagi,
setiap benda dapat kugunakan sebagai pedang. Sejak itu latihanku semakin
sempurna dan mendekati tingkatan tanpa melebihi memakai pedang”,
Nyo Ko coba merenungkan maksud tulisan itu, jgikirnya: “Waktu aku membawa
Hian-tiat-pokiam, boleh dikatakan hampir tiada tandingannya di seluruh jagat
Tapi menurut pesan tinggalan Tok-koj Kiupay ini jelas pedang kayu lebih hebat
daripada waktu dia menggunakan Hian-tiat-pokiam itu, masa lahan akhirnya tanpa
menggunakan pedang menjadi lebih lihay daripada memakai pedang kayu, Kalau
Liongji berjanji akan bertemu lagi 16 tahun kelak selama belasan tahun ini
biarlah kugunakan untuk mempelajari dan meyakini ilmu pedang kayu melebihi
pedang berat dan akhirnya tanpa pedang melebihi menggunakan pedang kayu sesuai
ajaran Tok ko Kiu-pay.
BegituIah ia lantas memotong setangkai kayu dan dibikin menyerupai pedang, ia
pikin “Hian tiat-pokiam itu beratnya hampir 70 kati, bahwa pedang kayu yang
enteng ini dapat mengungkulinya hanya ada dua jalan. Kebangunan ilmu pedang,
dengan cepat mengalahkan kelambanan, Cara lain adalah menang kuat tenaga dalam,
dengan keras mengatasi kelemahan.”
BegituIah sejak itu iapun memupuk Lwekang dan meyakinkan ilmu pedang, setiap
habis hujan deras ia lantas menggembleng diri di bawah air terjun untuk menambah
kekuatan serangannya, Tanpa terasa musim berganti musim dan kembali datang lagi
musim dingin, perpisahannya dengan Siao-liong-li sudah hampir setahun.
Nyo Ko merasa kemajuan tenaga dalam dan ilmu pedangnya selama setahun ini sangat
lambat, mau-tak-mau ia menjadi kesal, Dalam pada itu bunga salju sudah mulai
bertebaran Tiba2 rajawali itu berkaok kegirangan dan melompat ke tanah lapang
pesta pentang sayap sehingga membangkitkan angin teras, bunga salju tersapu
berhamburan.
Tergerak hati Nyo Ko melihat kelakuan burung itu, pikirnya: “Musim semi tiada
air bah, kalau ku latih ilmu pedang di tanah bersalju, rasanya juga suatu cara
yang bagus.”
Sementara itu dilihatnya si rajawali masih terus menyabet-nyabetkan kedua
sayapnya sehingga membawa tenaga semakin keras, biarpun hujan salju lebat, namun
tiada sepotong bunga salju yang jatuh di atas badannya. semangat Nyo Ko
terangsang juga, segera ia pegang pedang kayu dan dimainkan juga di bawah hujan
salju, berbareng lengan laju tangan kanan juga dikebaskan, setiap ada bunga
salju yang melayang turun, segera ia menyambutnya dengan angin putaran pedang
atau tenaga kebasan lengan baju, Dengan begitu tanpa terasa hampir setengah hari
telah berlalu, ia merasa tenaga dari pedang kayu dan lengan bajunya telah
bertambah banyak sekali.
Hujan salju itu terus berlangsung hingga tiga hari lamanya, setiap hari Nyo Ko
selalu menari pedang di bawah hujan salju itu bersama si rajawali sakti, Sampai
petang hari ketiga, salju turun semakin lebat, selagi Nyo Ko mencurahkan segenap
perhatiannya pada pedang kayu untuk menggempur bunga salju, mendadak sebelah
sayap rajawali itu di sabetkan ke arahnya. Karena tidak ber-jaga2, hampir saja
Nyo Ko tersabet, cepat ia melompat minggir sehingga sabetan itu dapat dihindari
walaupun begitu dahinya sudah ketetesan dua biji bunga salju.
Segera teringat olehnya dahulu rajawali sakti ini juga pernah main gempuran
denganku di atas tebing itu sehingga ilmu pedangku maju pesat, sekarang jelas
rajawali ini mengajak latihan bersama lagi.
Karena itu ia lantas putar pedang kayu dan balas menusuk satu kali, tapi lantas
terdengar suara “krak” sekali, begitu kebentur sayap rajawali, seketika pedang
kayu itu patah, Rajawali itupun tidak menyerang lagi, tapi berdiri tegak dan
mengeluarkan suara ber-cicit2, sikapnya se-akan2 sedang mengomeli kecerobohan si
Nyo Ko.
Diam2 Nyo Ko merenungkan cara bagaimana harus menghadapi rajawali sakti itu,
pikirnya: “Jika, kugunakan pedang kayu melawan tenagamu yang maha kuat, jalan
satu2nya hanya mengelak dan menghindar, lalu balas menyerang pada setiap ada
peluang,”
Setelah menentukan siasat itu, segera ia membuat lagi sebatang pedang kayu, lalu
mulai menempur si rajawali pula di tanah salju itu, Sekali ini dia mampu
bertahan hingga belasan gebrakan barulah pedang kayu terpatah.
BegituIah ia terus berlatih dengan tekun tanpa berhenti diam2 Nyo Ko sangat
berterima kasih kepada si rajawali sakti yang telah menjadi teman berlatihnya
tanpa mengenal lelah serta penuh disiplin itu, Pikirnya: “Kalau aku tidak
berhasil meyakinkan ilmu pedang kayu ini tentu akan mengecewakan harapan
Tiau-heng ini. Apalagi kesempatan bagus yang sukar dicari ini mana boleh
ku-sia2-kan pula?”
Dengan tekad itulah, meski dalam mimpi juga dia mengeraskan otak memikirkan
gerak-gerik setiap jurus serangan, cara bagaimana menyerang dan mengelak serta
cara bagaimana memperkuat tenaga,
Karena kegiatan, latihan ilmu silatnya, rasa rindunya kepada Siao-liong-li
menjadi rada berkurang sementara itu racun bunga cinta dalam tubuhnya sudah
punah seluruh nya, tenaga dalamnya bertambah kuat, badan juga tampak sehat,
kelesuan dan wajahnya yang pucat2 kurus dahulu kinipun sudah tidak kentara lagi.
Hawa semakin dingin, saju turun tiada henti2nya, sudah genap setahun
perpisahannya dengan Siao-liong-li. Berkatalah Nyo Ko kepada rajawali sakti itu:
“O, Tiau-heng, biarlah kita berpisah untuk sementara, kuingin pergi dulu ke
Coat-ceng-kok.” Lalu dengan membawa pedang kayu ia meninggalkan pegunungan itu.
Dengan rasa berat rajawali itu mengikuti di belakang Nyo Ko, setiba
dipersimpangan jalan Nyo Ko memberi hormat untuk mohon diri, lalu hendak
melangkah pergi ke arah utara, Tak terduga mendadak rajawali itu menggigit ujung
bajunya dan menyeretnya menuju ke selatan.
Tentu saja Kyo Ko heran, sayangnya di antara dia dan rajawali itu tidak saling
mengerti bahasa masing2. Tapi ia tahu burung itu sangat cerdik dan tiada ubahnya
seperti manusia, maka tanpa rewel lagi ia lantas mengikutinya ke arah selatan,
Melihat Nyo Ko menuruti kehendaknya, rajawali itu tidak menggigit lagi ujung
bajunya dan membiarkannya jalan sendiri Tapi kelihatan Nyo Ko ragu2 dan hendak
memutar balik, segera ia meng-gendoli lagi ujung bajunya.
Nyo Ko pikir kalau rajawali sakti ini ngotot mengajaknya ke selatan, tentu ada
maksud tujuan tertentu Maka iapun membatalkan niatnya ke Coat ceng-kok dan ikut
burung itu terus ke selatan. Tiba2 hati Nyo Ko tergerak, pikirnya: “Burung ini
sangat pintar, jangan2 dia memberi petunjuk jalan padaku ke lautan selatan untuk
menemui Liong ji?”
Teringat kepada Siao-liong-li, seketika ia bersemangat, segera ia melangkah
lebar dan ikut rajawali itu berlari cepat ke tenggara, Tiada sebulan kemudian
sampai mereka di pantai laut, Nyo Ko berdiri di atas batu karang dan memandang
jauh ke lautan bebas sana, tertampak ombak men-dam-par2 dengan hebatnya, sedih
dan girang bercampur, aduk dalam benaknya.
Selang tak lama, terdengar suara gemuruh di kejauhan seperti bunyi guntur meru,
Karena waktu kecilnya dahulu ia pernah tinggal di Tho hoa-to, ia tahu itulah
suara gelombang laut pasang, setiap hari antara lohor dan tengah malam air laut
tentu pasang dua kali. Kini sang surya sedang memancarkan sinarnya di tengah
cakrawala, tentu tiba waktunya laut naik pasang.
Suara gemuruh air pasang itu makin lama makin keras dan berkumandang laksana
be-ribu2 ekor kuda berderap serentak, Tertampaklah, dari jauh selarik garis
putih menerjang ke arah pantai, suara gemuruh itu jauh lebih hebat daripada
bunyi geledek dan samberan kilat. Menyaksikan kedahsyatan alam itu, tanpa terasa
air muka Nyo Ko berubah pucat.
Hanya sekejap mata saja gelombang air pasang sudah menerjang tiba dan mendampar
ke batu karang tempat berdiri Nyo Ko. Cepat ia melompat ke belakang, tapi
mendadak punggungnya seperti di tubruk oleh suatu tenaga yang maha dahsyat,
tanpa kuasa tubuhnya yang terapung di udara itu kecemplung ke laut, jatuh di
tengah gelombang laut yang bergulung2, mulutnya terasa asin, tanpa kuasa ia
telah minum dua ceguk air laut.
Ia menyadari keadaannya yang berbahaya, syukur ia sudah pernah di gembleng di
bawah gerujukan air bah, maka sekuatnya ia tancapkan kaki di dasar laut dengan
“Jian-kin tui”, ilmu membikin berat tubuh.
Di permukaan air laut berombak, bergemuruh dengan hebatnya, tapi di dasar laut
jauh lebih tenang.
Setelah merenungkan sejenak ia paham maksud rajawali itu mengajaknya ke pantai
laut ini yakni agar dia berlatih pedang di tengah damparan gelombang laut itu.
Segera ia meloncat ke permukaan air, tapi segera segulung ombak laksana bukit
menghantam kepalanya puIa. Tiada jalan lain, terpaksa ia menarik napas panjang2,
lalu selulup lagi menghindar ke dasar laut.
Begitulah ber-ulang2 Nyo Ko timbul dan selulup lagi ketika air laut mulai pasang
surut sementara itu Nyo Ko sudah lelah, muka juga pucat namun ia bertambah
semangat, tengah malam waktu pasang naik lagi, kembali ia membawa pedang kayu
dan menceburkan diri ketengah amukan ombak samudera yang hebat itu, ia putar
pedangnya di dalam air, terasa berat sekali karena damparan ombak yang membukit
itu, jika terasa payah dan tidak mampu bertahan, cepat ia menyelam ke dasar laut
untuk menghindar.
Ia terus berlatih secara begitu dua kali sehari, tidak sampai sebulan ia merasa
tenaga dalamnya bertambah banyak, jika pedang kayu diputar di daratan sayup-2
menerbitkan suara seperti ombak mendampar. Setiap kalau berlatih dengan rajawali
itu, kini burung itu tak berani lagi menyambut serangannya dari depan, Suatu
kali saking semangatnya Nyo Ko menusukkan pedang kayunya dengan sepenuh tenaga,
Rajawali itu berkaok karena kaget dan melompat ke samping.
Karena tidak keburu menahan tenaga serangan-nya, pedang kayu itu menabas batang
pohon di samping, pedang itu patah, batang pohon juga terkutung menjadi dua. Nyo
Ko melenggong sambil memegangi kutungan pedang kayu itu, pikirnya: “Pedang kayu
ini adalah benda lemah, tapi dapat mengutungi pohon, sudah tentu karena tenaga
seranganku yang hebat Kalau nanti pohon patah dan pedang tidak patah, itulah
baru mendekati ilmu sakti yang dicapai Tokko-Iocianpwe dahulu.”
Musim semi berlalu, musim rontok tiba, sang tempo lewat dengan cepatnya, setiap
hari Nyo Ko terus berlatih pedang di tengah gelombang laut tanpa mengenai lelah
dan membedakan musim, Suara gemuruh yang dterbitkan pedangnya setiap kali ia
menyerang menjadi semakin keras, sampai akhirnya telinga serasa pekak tergetar.
Tapi setelah beberapa bulan lagi, suara pedangnya mulai berkurang dan akhirnya
lenyap tanpa suara lagi.
Ia berlatih lagi beberapa bulan, ternyata suara pedang kembali mendengung pula.
BegituIah terjadi perubahan sampai tujuh kali, akhirnya dapatlah ia menguasai
pedangnya, ingin berbunyi lantas mengeluarkan suara, ingin tak bersuara lantas
tanpa suara.
Ketika mencapai tingkatan setinggi ini, hitung punya hitung ternyata sudah enam
tahun lamanya dia berdiam di pantai laut itu. Kini dengan pedang terhunus
dapatlah Nyo Ko bergerak bebas di tengah gelombang laut yang dahsyat itu,
kekuatan yang timbul dari gerakan pedangnya sudah mampu menyampuk ombak laut
yang mendampar dari depan.
Meski hidup terpencil di pantai laut dan selama itu tak pernah bergebrak dengan
jago silat, namun tenaga si rajawali sakti yang luar biasa itu sudah tidak mampu
menahan dua-tiga kali gebrakan pedang kayunya lagi, baru sekarang dia memahami
perasaan Tokko Kiu-pay yang tidak pernah menemukan tandingan itu, waktu usianya
sudah lanjut, pantaslah Tokko Kiu-pay bertambah terharu dan kesepian karena
tiada seorangpun yang sanggup melawan ilmu pedangnya, akhirnya orang dan ilmu
pedangnya terkubur semua di lembah sunyi itu.
Terpikir oleh Nyo Ko. “Jika Tiau-heng dahulu tidak menyaksikan sendiri cara
Tokko-locianpwe meyakinkan ilmu pedangnya yang maha sakti itu, mana bisa
Tiau-heng mengajarkan lagi ilmu sakti ini padaku? walaupun kusebut burung Tiau
heng tapi sesungguhnya dia adalah guruku, Bicara tentang umur, entah sudah
berapa puluh tahun atau mungkin sudah ratusan tahun usianya, jadi umpama aku
menyebut dia kakek atau buyut rasanya juga pantas.”
Begitulah sembari berlatih ilmu pedang di pantai Iaut, iapun tiada hentinya
mencari kabar berita tentang Nikoh sakti yang berdiam di lautan selatan sana.
Namun selama beberapa tahun itu ternyata tiada seorangpun pelaut atau pedagang
seberang yang ditanyai itu dapat memberi keterangan sesuatu.
Lambat laun iapun putus harapan, ia pikir kalau belum tiba waktunya 16 tahun
tentu sulit untuk bertemu lagi dengan Siao-liong-li.
Pada suatu hari, hujan rintik2, angin meniup keras timbul sesuatu perasaan Nyo
Ko, segera ia membawa pedang kayu dan pakai mantel, bersama si rajawali sakti
ditinggalkanlah pantai laut itu dan mulai mengembara menjelajahi setiap pelosok
daerah Tionggoan dan terutama daerah Kanglam yang terkenal indah permai itu
* * *
Sang tempo berlaku dengan cepat beberapa tahun telah lampau pula. Waktu itu
adalah tahun pertama kaisar Song-li-cong yang bertahta di kerajaan Song Selatan
dan terhitung tahun ke sembilan kaisar Goan-hian-cong (dinasti Yuan) dari
kerajaan Mongol atau lebih terkenal dengan Kubilai Khan.
Ketika itu baru permulaan musim semi, pada Hong-Jeng-toh, sebuah kota tambangan
di tepi utara Hong-ho (Sungai Kuning) tertampak sangat ramai dengan suara orang
diseling ringkik kuda dan gemuruh roda kereta.
Rupanya selama beberapa hari ini cuaca berubah2 tidak menentu, terkadang dingin
dan kemudian suhu menjadi hangat, mula2 air sungai Kuning itu sudah cair, tapi
sejak semalam turun salju dengan lebatnya sehingga air sungai membeku lagi,
sebab itulah kapal tambangan tidak dapat berjalan, keretapun tidak berani
menyeberangi permukaan sungai yang beku itu.
Sebab itulah banyak saudagar yang hendak menyeberang ke selatan sama tertahan di
kota tambangan kecil ini. Meski di Hong-leng toh ini juga ada beberapa buah
rumah penginapan, tapi karena pendatang dari utara masih tak ter-putus2nya,
tiada setengah hari semua rumah penginapan sudah penuh sehingga banyak tetamu
yang tidak mendapatkan pondokan dan tidak sedikit timbul ribut mulut antara tamu
dan pemilik hotel.
Hotel yang paling besar di kota itu bernama “An toh Io-ttam” artinya hotel
selamat menyeberang, Lantaran halaman hotel ini dan kamarnya terlebih luas
daripada hotel lainnya. maka tetamu yang tidak mendapatkan tempat pondokan
lantas membanjiri An-toh-lo-tiam ini dan karena itulah suasana menjadi ramai dan
berjubel menyebabkan kesibukan pengurus hotel, banyak kamar yang mestinya buat
dua orang terpaksa diisi tiga orang, bahkan masih kelebihan belasan tamu yang
tidak mendapatkan kamar, terpaksa duduk berkerumun saja di ruangan tengah,
pelayan menyingkirkan meja kursi dan membuat api unggun di tengah2 ruangan untuk
menghangatkan badan tetamu.
Menyaksikan bunga salju yang beterbangan dengan lebatnya di luar, para tetamu
sama bersedih karena besok merekapun belum tentu dapat melanjutkan perjalanan.
Cuaca mulai gelap, tapi hujan salju semakin lebat tiba-2 terdengar suara derapan
kaki kuda, tiga penunggang kuda mendatang secepat terbang dan terhenti di depan
An-toh- lo-tiam. “Kembali ada tamu lagi!” gumam seorang tamu yang berduduk di
tepi api unggun.
Benar juga lantas terdengar suara seorang perempuan berseru: “He, pengurus
berikan dua kamar kelas satu!”
Kuasa hotel menjawab dengan mengering tawa: “Maaf, sudah sejak pagi kamar hotel
kami terhuni penuh, sama sekali tiada kamar kosong lagi.”
“Boleh satu kamar saja,” ujar perempuan tadi. “Be ribu2 maaf, nyonya, sungguh
sudah penuh semua,” jawab pengurus hotel.
Tiba2 perempuan itu ayunkan cambuknya ke udara hingga menerbitkan suara
“tarrrrr” sekali, lalu mengomel: “Omong kosong! Memangnya kau tak bisa menyuruh
orang mengalah sebuah kamar? Biar kutambahi sewanya.” sembari bicara ia terus
menerobos ke dalam hotel.
Pandangan para tamu sama terbeliak melihat perempuan itu, Usianya kira2 lebih 30
tahun, matanya jeli pipinya merah, mukanya cantik, perawakannya montok, berjaket
kulit warna biru, bagian leher baju berlapiskan kulit berbulu halus, dan
badannya sangat perlente.
Di belakang nyonya muda itu mengikut seorang lelaki dan seorang perempuan lagi,
keduanya masih remaja, usianya antara 16-17, yang lelaki beralis tebal dan
bermata besar, sikapnya kasar2 gagah, sebaliknya perempuan muda itu sangat
cantik.
Ke-duanya sama memakai jaket satin hijau pupus, leher si anak dara memakai
sebuah kalung mutiara, setiap biji mutiara itu sebesar jari dan bercahaya.
Para tamu sama terpengaruh oleh lagak lagu ketiga tamu baru, orang2 yang tadinya
sedang bicara sama berhenti dan memandangi ketiga orang ini. Dengan sigap
pelayan hotel lantas memberi hormat dan menjelaskan kepada si nyonya muda:
“Lihatlah, nyonya, para tamu inipun tidak mendapatkan kamar. jika kalian tidak
merasa kotor, silakan ikut duduk di sini sekedar menghangatkan badan dan
lewatkan malam ini, besok kalau air sungai tambah keras membeku mungkin sudah
cukup kuat untuk diseberangi.”
Tampaknya nyonya muda itu tidak sabar, tapi keadaan memang begitu, terpaksa ia
hanya mengerut kening dan tidak bersuara pula.
Seorang perempuan setengah baya yang ikut duduk mengelilingi api unggun lantas
berkata: “Silakan duduk di sini, nyonya, hangatkan badan dulu, hawa sungguh
dingin.”
“Terima kasih,” jawab nyonya cantik itu Segera tamu lelaki yang duduk di samping
perempuan setengah umur itu lantas bergeser untuk memberi tempat kepada si
nyonya muda.
Duduk tidak lama, pelayan lantas mengantarkan daharan yang dipesan, ada daging
ada ayam, arakpun tersedia, Nyonya muda itu sangat kuat minum arak, semangkok
demi semangkok ditenggaknya hingga habis, lelaki muda itupun mengiringi minum,
hanya si anak dara cantik itu saja setitikpun tidak minum arak.
Dari sapa menjaga mereka dapat diketahui bahwa mereka adalah kakak beradik, Usia
pemuda itu tampaknya lebih tua daripada si anak dara, tapi ternyata memanggilnya
“Cici”,
Habis makan semua orang berkerumun pula di sekitar api unggun, Suara angin yang
menderu2 di luar membuyarkan rasa kantuk semua orang.
“Cuaca begini sungguh membikin susah orang,” demikian seorang lelaki berkata
dengan logat daerah Soasay, “sebentar hujan salju, sebentar membeku jadi es,
lain saat mencair lagi, Thian benar2 ingin menyiksa orang.”
“Sebaiknya kau jangan mengomeli Thian dan Te (langit dan bumi),” ujar seorang
lelaki pendek dengan logat Ouw-pak. “Adalah untung kita masih dapat
menghangatkan badan dengan api dan makan enak di sini, Coba kalau kau pernah
berdiam di kota terkepung Siangyang, kukira tempat yang paling sengsara di dunia
ini juga akan berubah menjadi sorga bagimu.”
Mendengar “kota terkepung Siangyang”, nyonya cantik tadi memandang sekejap
kepada kedua saudaranya.
Lalu terdengar seorang tamu yang bcrlogat Kwitung bertanya: “Numpang tanya
saudara, bagaimana keadaan di kota Simgyang yang terkepung itu?”
“Keganasan orang MongoI kiranya sudah kalian dengar dan tidak perlu kujelaskan
lagi,” tutur tamu Ouwpak tadi, “Tahun itu pasukan Mongol menyerang Siangyang
secara besar2an, panglima yang menjaga kota itu Lu-tayjin adalah manusia yang
tidak berguna, syukurluh Kwe-tayhiap dan isterinya telah membantu dengan sepenuh
tenaga.”
Mendengar nama Kwe-tayhiap dan isterinya disebut, tampak airmuka nyonya cantik
tadi berubah riang pula.
Sementara itu tamu berlogat Ouwpak tadi sedang menyambung ceritanya: “Beratus
ribu penduduk siangyang juga bersatu padu menghadapi musuh dan bertahan dengan
mati2an, seperti diriku ini, aku hanya pedagang gerobak surungan, tapi akupun
ikut berjuang dengan mengangkut pasir dan mengangkat batu untuk memperkokoh
benteng kota, lihat ini, codet pada mukaku ini adalah bekas luka kena panah
orang Mongol.”
Waktu semua orang mengawasi, benar juga terlihat pipi kirinya ada bekas luka
panah sebesar gobang, Tanpa terasa semua orang sama menaruh hormat padanya.
“Negeri Song kita sedemikian luas dengan penduduknya begini banyak, kalau setiap
orang berjiwa patriot seperti saudara, hah, biarpun Tartar Mongol lebih ganas
sepuluh kali lipat juga takkan mampu menginjak tanah air kita,” demikian kata si
orang Kwitang dengan bersemangat.
“Tepat!” ujar si orang Ouwpak, “Lihatlah, sudah belasan tahun pasukan Mongol
menggempur Siangyang, tapi selama ini selalu gagal, sebaliknya tempat2 lain
selalu dibobolnya dengan mudah.
Kabarnya belasan negeri di benua barat sana juga sudah ditumpas oleh orang
Mongol, sedangkan Siangyang kita masih tetap berdiri dengan tegaknya, walau-pun
raja mongoI Kubilai sendiri yang memimpin penggempuran juga tetap tidak
berhasil.”
“Ya, kalau saja Siangyang jatuh, tentu sudah lama tanah air Song Raya kita sudah
lama dicaplok orang Mongol,” kata orang Kwitang,
Begitu semua orang penuh semangat bicara tentang pertahanan Siangyang, orang
Ouwpak itu telah menjunjung Kwe Cing dan Ui Yong setinggi langit se-akan2
malaikat dewata dan semua orang juga tiada hentinya memberi pujian.
Tiba2 seorang tamu berlogat Sucoan ikut bicara dengan gegetun: “Sesungguhnya
pembesar yang menjaga benteng di-mana-2 juga ada, soalnya pemerintah kerajaan
tidak dapat membedakan antara yang baik dan jahat, seringkali kaum dorna justeru
menikmati segala kejayaannya, sedangkan pembesar setia malahan mati penasaran
Seperti Gak Hui pujaan kita yang sudah almarhum itu tidak perlu dibicarakan,
sekarang saja di daerah Sucoan kami sudah ada beberapa pembesar pembela rakyat
telah menjadi kaum dorna.”
“Hei pembesar siapakah itu mohon penjelasan,” tanya orang Ouwpak tadi.
“Sudah belasan tahun juga pasukan Mongol menggempur wilayah Sucoan, berkat
perlawanan Sia Kay yang bijaksana itu, segenap rakyat jelata di Sucoan sama
tunduk di bawah pimpinannya dan memujanya se-akan2 Budha penolong,” demikian
tutur si orang Sucoan.
“Siapa tahu raja kita yang berkuasa sekarang telah mempercayai laporan si dorna
Ting Tay-coan. katanya Sia-tayjin menyalah gunakan kekuasaan dan membangkang
perintah pusat, maka perlu diambil tindakan dan dikirimlah racun untuk memaksa
Sia-tayjin membunuh diri lalu kedudukannya diganti seorang pembesar tak becus
yang menjadi komplotan kaum dorna itu.
Ketika kemudian pasukan Mongol menyerbu tiba pula, hanya sekejap saja Sucoan
lantas jatuh, pihak kerajaan tidak menyesali dirinya sendiri yang salah membunuh
pembesar baik, sebaiknya malah menuduh panglima tentara Ong Wi-tiong Ciangkun
yang bertahan mati2-an itu bersekongkol dengan musuh dan menangkapnya bersama
segenap anggota keluarganya ke ibukota, di sana Ong-ciangkun telah dihukum
penggal kepala.” Bicara sampai di sini suaranya menjadi rada tersendat
Semua orang sama menghela napas terharu mendengar kisah sedih, orang Kwetang
tadi berkata dengan gusar “Hancurnya negara selalu menjadi korban kaum dorna
begitu, Kabarnya kerajaan selatan sekarang ada tiga ekor anjing dan pembesar
dorna Ting Tay-coan itu adalah salah seekor di antaranya.”
Seorang pemuda berwajah putih yang sejak tadi hanya mendengarkan saja kini
mendadak menimbrung: “Benar, kaum dorna kerajaan selatan dikepalai Ting
Tay-coan, Tan Tay-hong dan Oh Tay-jiang. Karena nama mereka sama2 memakai “Tay”,
maka orang2 di Liman (ibukota Song Selatan) menambahkan nama mereka itu dengan
satu coretan sehingga menjadi “Khian” (anjing) dan mereka bertiga dianggap tiga
ekor anjing.”
Sampai di sini, semua orang sama tertawa puas.
Orang Sucoan tadi lantas bertanya: “Dari logat saudara cilik ini, tampaknya
engkau orang dari Lim-an?”
“Benar,” jawab si pemuda.
“Jika begitu, waktu Ong Wi-tiong Ciangkun menjalani hukuman mati, apakah saudara
juga mengetahuinya?”
“Ya, malahan ikut menyaksikan sendiri,” jawab pemuda itu. “Menghadapi ajalnya
Ong ciangkun tanpa gentar, dengan gagah berani beliau malah mencaci Ting
Tay-coan dan Tan Tay-hong sebagai pembesar dorna penjual negara dan bangsa,
Bahkan terjadi pula sesuatu yang aneh.”
“Kejadian aneh apa?” tanya orang banyak.
“Yang memfitnah Ong-ciangkun jelas adalah Tan Tay-hong”, tutur si pemuda, “Waktu
menuju kelapangan hukuman, di tengah jalan Ong-ciang-kun berteriak-teriak dan
mencaci maki Tan Tay-hong, katanya setelah mati pasti akan mengadu kepada Giam
lo-ong untuk merenggut nyawa dorna she Tan itu.
Anehnya tiga hari sesudah Ong ciang-kun menjalani hukuman, Tan Tay-hong itu
benar2 mati mendadak di rumahnya dan kepalanya telah dipenggal dan tergantung
tinggi di menara lonceng di pintu gerbang timur Lim an.
Begitu tinggi menara itu, jangankan manusia, monyet sekalipun sukar merambat ke
sana, Coba pikir, jika bukan Giam lo-ong yang merenggut jiwa menteri dorna itu,
perbuatan siapa lagi, peristiwa itu diketahui setiap penduduk Lim-an dan sekali2
bukan dongeng belaka.”
Semua orang sama bersuara mengatakan heran mereka. Orang Sucoan itu berkata:
“Kejadian itu memang bukan dongengan, cuma yang membunuh Tan Tay-hong itn
bukanlah Giam-!o-ong melainkan perbuatan seorang ksatria sejati.”
“Di rumah menteri doma itu tidak sedikit pengawalnya, penjagaan tentu sangat
ketat, orang biasanya manabisa membunuhnya, bahkan menggantung kepalanya di
tempat setinggi itu, apa memangnya orang itu bersayap?” si pemuda sambil
menggeleng.
“Di dunia ini tidak kurang orang kosen, jika aku tidak menyaksikan sendiri
menang juga tidak percaya,” kata orang Sucoan itu.
“Kau menyaksikan sendiri memanjat ke tempat setinggi itu? Cara bagaimana kau
dapat menyaksikan nya?” tanya si pemuda.
Orang Sucoan itu ragu2 sejenak, akhirnya ia menutur pula: “Ong-ciangkun
mempunyai seorang anak lelaki yang berhasil kabur waktu keluarganya ditangkap.
Demi membabat sampai akar2nya kawanan dorna telah mengirim begundalnya menguber
mencari putera Ong-ciangkun itu.
Meski putera Ong-ciangkun juga mahir ilmu silat, namun dia cuma sendirian dan
tidak mampu melawan orang banyak, ketika dia dikejar dan hampir tertangkap tiba2
datang seorang penolong yang berhasil mengocar- kacirkan pasukan pengejar itu.
Lalu putera Ong-ciangkun itu menuturkan apa yang terjadi atas keluarganya, Tentu
saja Tayhiap (pendekar besar) yang menolongnya itu tidak tinggal diam dan
menyusul ke Lim-an dengan maksud hendak menolong Ong-ciangkun, tapi sayang,
beliau terlambat satu hari, Ong-ciangkun sudah dipenggal kepalanya.
Dalam gusarnya Tayhiap itu lantas mendatangi kediaman Tan Tay-hong serta
memotong kepalanya, Meski menara lonceng itu sangat tinggi dan sukar dicapai
manusia, namun bukan soal bagi Tayhiap itu, hanya sekali loncat saja dapatlah
beliau naik ke situ.”
“Siapakah Tayhiap itu? Bagaimana bentuknya?” tanya si orang Kwitang.
“Aku tidak tahu nama pendekar besar itu, yang jelas dia tidak mempunyai lengan
kanan, wajahnya cakap, sikapnya gagah, dia selalu membawa seekor burung raksasa
yang berbentuk aneh dan buruk.”
Belum habis ceritanya, seorang laki2 lain lantas menanggapi “Betul, itulah
“Sin-tiau-hiap” yang termashur di dunia Kangouw.”
“Ya, pendekar besar itu suka membantu yang lemah dan menolong yang miskin, tapi
selamanya tidak mau menyebutkan namanya sendiri,” tutur laki2 itu, “Karena dia
selalu membawa burung yang aneh itu, kawan2 Kangouw lantas memberi nama julukan
“Sin-tiau-tay-hiap” (pendekar besar rajawali sakti) padanya, Tapi beliau
mengatakan arti “Tay-hiap” terlalu berat baginya, maka tidak berani menerima,
terpaksa orang hanya menyebutnya “Sin-tiau-hiap” saja. padahal berdasarkan
tindak perbuatannya yang luhur budi itu, sebutan Tayhiap juga pantas diterima
olehnya, Kalau dia takdapat disebut pendekar besar, lalu siapa lagi?”
“Huh, di sini Tayhiap, di sana juga Tayhiap, kan bisa kebanjiran Tayhiap nanti,”
tiba2 si nyonya cantik tadi menimbrung.
“Ah, kenapa nyonya ini bilang begitu?” bantah-orang Sucoan itu dengan tegas.
“Meski urusan Kangouw kurang kupahami, tapi demi menolong Ong-ciangkun,
Sin-tiau-tayhiap itu telah berangkat dari Hopak ke Lim-an, selama empat hari
empat malam tanpa berhenti padahal beliau tidak pernah kenal siapa Ong-ciangkun,
hanya karena kasihan padanya panglima yang difitnah menteri dorna itu, maka
beliau telah bertindak tanpa menghiraukan bahaya sendiri. Coba, perbuatan begitu
apakah tidak pantas disebut Tayhiap?”
Nyonya cantik itu mendengus dan baru hendak mendebat, tiba2 anak dara
disampingnya me-nyela: “Cici, perbuatan kesatria yang terpuji itu kan tidak
salah kalau diberi gelaran Tayhiap?”
Suara anak dara itu sangat nyaring dan merdu, enak didengar, segar rasanya bagi
pendengaran setiap orang.
Nyonya cantik tadi lantas mengomeli adiknya: “Huh, kau tahu apa?” Lalu ia
berpaling kepada orang Sucoan tadi dan berkata pula: “Darimana kau dapat
mengetahui sejelas itu? Bukankah kaupun mendengar dari obrolan orang di tepi
jalan atau berita angin di dunia Kangouw? Huh, sembilan bagian pasti takdapat
dipercaya.”
Orang Sucoan itu termenung sejenak, akhirnya ia berkata dengan sungguh: “Aku she
Ong, Ong Wi-tiong Ciangkun itu adalah ayahku almarhum. jiwaku sendiri
diselamatkan oleh Sin-tiau-tayhiap. walaupun saat ini diriku menjadi buronan
pemerintah, tapi soalnya menyangkut nama baik tuan penolongku, terpaksa
kujelaskan asal usul diriku ini.”
Semua orang melengak mendengar ucapan orang Sucoan ini, serentak orang Kwitang
tadi mengacungkan ibu-jarinya dan berseru: “Ong-ciangkun cilik, kau memang
seorang laki2 sejati, Kalau di sini ada manusia rendah yang berani melaporkan
dirimu kepada yang berwajib, biarlah kita be-ramai2 menghadaprnya.”
Maka bergemuruhlah orang banyak menyatakan setuju, Terpaksa nyonya cantik tadi
tidak dapat membantah pula.
Dalam pada itu si anak dara jelita tadi sedang ter-mangu2 memandangi salju yang
bertebaran di luar itu sambil bergumam pelahan: “Sin-tiau tayhiap,
Sin-tiau-tayhiap ” mendadak ia berpaling kepada si orang Sucoan dan bertanya:
“Ong-toako, kalau Sin-tiau-tayhiap itu mempunyai kepandaian setinggi itu, sebab
apa pula sebelah lengannya buntung?”
Air muka si nyonya muda tampak berubah demi mendengar persoalan lengan buntung
Sin-tiau-tayhiap disinggung bibirnya tampak ber-gerak2 ingin bicara, tapi urung.
Si orang Sucoan she Ong itu menjawab sambil menggeleng: “Entah, nama asli
Sin-tiau-tayhiap saja takdapat kuketahui, seluk-beluk pribadi beliau tentu saja
lebih2 tidak tahu,
“Tentu saja kau tidak tahu,” jengek si nyonya muda.
Tiba2 si pemuda Lim-an berkata pu!a: “Tentang menteri dorna Ting Tay-coan itu,
sekarang mukanya mendadak berubah hijau gosong dalam semalam, tentu kejadian ini
karena hukuman Allah.”
“Aneh, mengapa dalam semalam mukanya berubah menjadi gosong?” tanya si orang
Kwitang,
“Memang aneh, karena kulit mukanya berubah mendadak, sekarang penduduk Lim-an
memberi nama Ting Je-bwe (Ting si kulit hijau) padanya,” tutur pemuda Lim-an.
“Asalnya kulit muka Ting Tay-coan itu putih mulus, maklum, hidupnya mewah dan
makannya enak Tapi semalaman mendadak kulit mukanya berubah jadi hijau gosong,
biarpun sudah diobati oleh tabib paling pandai juga takdapat menghilangkan warna
kulitnya yang lucu itu, Konon Sri Baginda pernah menanyakan hal ini, tapi
menteri dorna itu malah melapor, katanya lantaran sibuk mengurusi pekerjaan
sehingga beberapa malam tidak tidur, maka kulit mukanya menjadi hijau. Akan
tetapi setiap penduduk Lim-an sama anggap perubahan kulit muka menteri dorna itu
adalah karena kutukan Allah.”
“Sungguh aneh kejadian itu,” ujar si orang Kwitang,
“Hahaha!” mendadak si lelaki kekar tadi bergelak tertawa dan bersemi “Ketahuilah
bahwa kejadian itupun atas tindakan Sin-tiau-tayhiap. sungguh menyenangkan
sungguh menarik.”
“He, bagaimana bisa jadi perbuatan Sin-tiau tayhiap lagi?” tanya semua orang.
Laki2 kekar itu hanya bergelak tawa saja dan tidak bercerita lebih lanjut,
tampaknya ia sengaja tahan harga, ingin jual mahal.
Lantaran ingin tahu duduk perkaranya lebih jelas, si orang Kwitang lantas
memanggil pelayan agar membawakan dua kati arak Ko-tiang yang enak untuk lelaki
kekar itu, setelah dicekoki arak, semangat orang itu lantas terbangkit, segera
ia bercerita lagi:
“Tentang peristiwa ini, bukan aku sengaja membual, tapi aku sendiri ikut
berjasa, Malam hari itu Sin-tiau-hiap tiba2 datang ke Lim-an dan suruh kupimpin
para kawan meringkus semua opas yang dinas jaga di kantor walikota, seragam
mereka dicopot dan disuruh pakai para kawan.
Kami merasa tertarik dan juga heran entah apa yang akan dilakukan Sin-tiau-hiap,
tapi kami yakin permainan menarik pasti sedang menanti maka segala perintah
beliau selalu kami laksanakan. Kira2 lewat tengah malam, Sin-tiau-hiap tiba di
kantor walikota, beliau sendiri lantas memakai jubah kebesaran walikota dan
duduk di meja sidang, sekali palu diketok, beliau lantas membentak
“Bawa hadir menteri berdosa Ting Tay-coan!” – Sampai di sini ia lantas angkat
mangkuk arak dan menenggaknya hingga habis.
“Tatkala mana saudara kerja apa di Lim-an sana?” tanya si orang Kwitang.
“Kerja apa?” lelaki itu menegas dengan mata mendelik “Memangnya apa lagi? Minum
arak pakai mangkuk besar, makan daging enak, bagi rejeki dengan timbangan,
itulah kerjaku, berusaha tanpa pakai modal.”
Orang Kwitang itu terkejut dan tidak berani bertanya pula, ia tahu apa artinya
berusaha tanpa pakai modal itu. Yakni merampok, membegal dan sebagainya.
Orang itu lantas bercerita pula: “Aku melenggong ketika mendengar nama Ting
Tay-coan disebut, bukankah pembesar anjing ini adalah perdana menteri sekarang,
mengapa Sin-tiau-hiap dapat menyeretnya ke sini?
Terdengar palu diketok lagi, dua petugas benar2 mengiring seorang ke depan
sidang, mungkin saking ketakutan, orang itu menjadi gemetar, ingin berlutut,
tapi enggan pula. Seorang kawan lantas mendepak belakang dengkulnya hingga dia
jatuh bertekuk lutut. Haha, sungguh lucu dan mcnarik. Sin tiau-hiap lantas
menanyai dia:
“Ting Tay-coan, apakah kau mengetahui dosamu?”
Ting Tay- coan menjawab: “Tidak tahu.”
Sin-tay-hiap membentak: “Kau korupsi dan main kekuasaan, memfitnah dan membunuh
menteri setia serta membikin sengsara rakyat, bersekongkol dengan negara musuh,
semua perbuatanmu yang jahat lekas kau mengakui.”
Ting Tay-coan menjawab: “Engkau ini siapa? Berani menculik pembesar negeri,
apakah kau tidak tahu undang-undang kerajaan?”
Sin-tiau-hiap menjadi marah dan membentak pula: “Hah, kau juga tahu
undang-undang segala? Bagus, hayo anak buah, rangket dia 40 kali lebih dulu!”
Memangnya setiap orang sangat benci kepada menteri dorna ini, kini diperintahkan
merangketnya, keruan mereka sangat bersemangat cara merangketnya juga
diperkeras, tentu saja menteri dorna itu ber-kaok2 minta ampun dan jatuh pingsan
beberapa kali, ia tidak berani kepala batu lagi, apa yang ditanya Sin-tiau-hiap
lantas diakuinya semua.
Sin-tiau hiap lantas menyuruhnya menulis sendiri pengakuan dosanya, jika dia
ragu2 menulisnya, segera Sin tiau hiap menyuruh menggebuk pantatnya lagi atau
menempeleng dia.”
Si anak dara cantik tadi mengikik tawa senang, desisnya: “Hihi, sungguh
menarik!”
Laki2 itu menenggak habis pula semangkok arak, katanya dengan tertawa: “Ya,
memang sangat menarik, Rupanya Ting Tay-coan itu sangat ketakutan, apalagi Sin
tiau hiap ber-ulang2 mendesak agar cepat menulisnya, kalau sedikit merandek
segera para kawan disuruh menggebuknya, akhirnya Ting Tay coan sampai
terkencing2 dan ter-berak2.
Untung baginya, tidak lama fajarpun menyingsing dan di luar kantor walikota itu
sudah ramai dengan petugas yang datang dinas pagi, malahan menyusul ada pasukan
yang datang pula, mungkin kebocoran berita dan ada orang yang melapor
Sin-tiau-hiap menjadi gusar dan berteriak: “Penggal saja kepalanya!”
Kutahu Sin-tiau-hiap tidak suka sembarangan membunuh orang, tapi kulolos juga
golokku terus kuayunkan ke batang leher Ting Tay-coan, ketika golok terangkat ke
atas telah ku-putar sekali, lalu dengan tepat mengetuk kuduk Ting Tay-coan,
kontan saji menteri dorna itu roboh terguh’ng, tapi tidak mati melainkan jatuh
pingsan.
Rupanya yang mengenai adalah punggung golok yang tidak tajam, tapi sudah cukup
membuatnya ketakutan setengah mati. Sin-tiau-hiap bergelar tertawa dan suruh
kami mengundurkan diri melalui pintu belakang agar tidak kebentrok dengan
pasukan pemerintah.
Konon besoknya Sin-tiau hiap telah mengirim sendiri pengakuan dosa Ting Tay coan
itu kepada si tua kaisar, tapi entah ocehan apa Ting Tay-coan telah membuat si
kaisar tetap percaya penuh padanya dan tetap menyuruhnya menjabat perdana
menteri hingga sekarang.”
“Kalau saja Sri Baginda tidak ngawur dan lemah, tentu kaum dorna takkan
berkuasa, tampaknya tanah air kita yang jaya ini sukar dipertahankan lagi.” ujar
Ong ciangkun cilik.
“Ya, kecuali Sin-tiau hiap yang menjadi perdana menteri barulah pasukan musuh
dapat dikalahkan dan dunia inipun aman,” kata lelaki tadi.
“Huh, dia sesuai menjadi perdana menteri?” tiba2 si nyonya cantik menyeletuk.
Laki2 tadi menjadi gusar dan menjawab: “Dia tidak sesuai, memangnya kau yang
sesuai?”
Nyonya cantik itu naik pitam dan membentak “Kau ini kutu macam apa, berani kasar
padaku?” – Dilihatnya laki2 itu sedang memegang sepotong besi pengaduk api dan
lagi menyurung kayu bakar ke orggokan api unggun agar berkobar lebih keras,
sekenanya ia jemput sepotong kayu dan menyeruk ke besi pengaduk api itu.
Seketika tangan lelaki itu tergetar kesemutan, “trang”, pengaduk api itu jatuh
ke lantai dan memercikkan lelatu dari unggun api itu sehingga beberapa
jenggotnya terbakar hangus.
Semua orang berteriak kaget, waktu mereka memandang besi pengaduk itu, ternyata
sudah bengkok. Biarpun watak lelaki tadi rada berangasan, tapi demi melihat
kelihayan si nyonya cantik, ia menjadi mengkeret dan tidak berani bersuara lagi,
bahkan arakpun lupa diminum lagi.
Si anak dara cantik lantas ikut bicara: “Cici, orang sedang bercerita tentang
Sin-tiau-hiap yang baik budi itu, mengapa kau seperti tidak suka mendengarkan
nya?” Lalu ia berpaling pada lelaki tadi dan berkata dengan tersenyum manis:
“Toasiok, jangan kau marah ya!”
Sebenarnya laki2 tua itu sangat mendongkol tapi karena senyuman manis anak dara
ini, seketika api amarahnya sirna tanpa bekas, iapun membalasnya dengan tertawa,
mestinya ingin mengucapkan beberapa patah kata rendah hati, tapi urung,
“Toasiok,” demikian si anak dara berkata pula. “silahkan engkau berkisah pula
mengenai Sin-tiau-hiap itu. Apakah engkau kenal dia?”
Laki2 itu memandang sekejap ke arah si nyonya cantik dan ragu2 untuk bicara.
Anak dara itu lantas berkata: “Silahkan bercerita saja, asalkan engkau tidak
membikin marah Ciciku tentu takkan terjadi apa2. Cara bagaimana engkau kenal
Sin-tiau-hiap? Beberapa umurnya kira2? Apakah burungnya rajawali itu sangat
bagus?” tanpa menunggu jawaban lelaki itu, ia berpaling kepada si nyonya muda
dan bertanya: “Cici, entah bagaimana kalau rajawalinya itu dibandingkan dengan
sepasang rajawali kita?”
“Dibandingkan sepasang rajawali kita?” tukas si nyonya muda, “Hah, di dunia ini
mana ada burung lain yang dapat menandingi kedua rajawali kita itu?”
“Ah, juga belum tentu,” ujar si anak dara, “Ayah sering mengatakan kita bahwa
orang belajar silat harus tahu bahwa di atas langit masih ada langit, di atas
orang pandai masih ada yang lebih pandai, sekali2 tidak boleh bangga dan puas.
Kalau manusia saja begitu, kukira burung yang lebih daripada rajawali kita itu
pasti juga ada.”
“Huh, anak kecil tahu apa?” Omel si nyonya wuda, “Waktu berangkat, ayah ibu
menyuruh kau menurut pada perkataanku, apakah kau sudah lupa?”
“Menurut ya menurut, tapi kan kudu tahu apa yang kau katakan itu betul atau
tidak?” jawab si anak dara. “Eh, adik, coba katakan, ucapanku yang betul atau
ucapan Cici yang betul?”
Pemuda di samping anak dara itu ragu-2 sejenak, kemudian menjawab: “Entahlah,
aku tidak tahu. Yang jelas ayah bilang kita harus menurut perkataan Taci dan
suruh kau jangan adu mulut dengan Taci.”
“Nah, benar tidak?” kata si nyonya muda dengan senang.
Tapi si anak dara juga tidak marah meski adiknya mengeloni sang Taci. dengan
tertawa ia berkata: “Ah, adik memang tidak paham apa2″ -Lalu ia berpaling dan
tanya laki2 kekar tadi: Toasiok, silakan kau bercerita lagi tentang
Sin-tiau-hiap.”
Lelaki itu menjawab: “Baik, jika nona senang mendengarkan, tentu akan
kuceritakan. Meski kepandaian orang she Song ini rendah, paling tidak akupun
seorang Iaki2, satu bilang satu dua ya bilang dua. sepatah katapun tidak
berdusta, Tapi kalau nona tidak percaya, ya lebih baik tidak kuceritakan saja.”
“Mana aku tidak percaya? Lekas engkau bercerita lagi,” kata si anak dara sambil
mengangkat poci arak dan menuangkan satu mangkok lagi bagi orang itu, malahan ia
terus memanggil pelayan: “He, pelayan, tambah lagi sepuluh kati arak dan 20 kati
daging rebus, Taciku menjamu para paman dan bibi ini minum arak sekadar menolak
hawa dingin.”
Pelayan mengiakan dan berteriak menyampaikan pesanan itu, Semua orang sama
tertawa gembira dan mengucapkan terima kasih kepada si anak dara. Tidak lama,
tiga pelayan lantas mengantarkan arak dan daging yang dipesan.
Tapi si nyonya cantik tadi menjadi tidak senang, katanya dengan cemberut: “Hm,
umpama aku ingin menjamu tamu juga takkan menjamu orang yang suka mengaco belo
ini. He, pelayan, rekening arak dan daging itu tidak boleh diperhitungkan
padaku.”
Si pelayan melengak bingung, ia pandang si nyonya cantik sebentar, lalu pandang
si anak dara lagi.
Anak dara cantik itu lantas mengambil tusuk kondai emasnya dan disodorkan kepada
pelayan, katanya: “lni tusuk kondai dari emas murni, sedikitnya bernilai
beberapa puluh tahil perak, Nah, tukarkan saja bagiku, Lalu bawakan lagi sepuluh
kati arak dan 20 kati daging kambing rebus. “
Nyonya cantik tadi menjadi marah, omelnya: “Jimoay, Kau sengaja membikin keki
aku, bukan? Melulu mutiara yang terbingkai di tusuk kondai itu saja bernilai
beberapa ratus tahil perak, tapi benda berharga begitu sembarangan kau berikan
untuk mentraktir minum arak sembarangan orang. Nanti kalau pulang dan ditanyakan
ibu, coba cara bagaimana kau akan menjawab?”
Anak dara itu melelet lidah, lalu berkata dengan tertawa: “Akan kukatakan hilang
di tengah jalan, sudah kucari tapi tidak ketemu.”
&#